Hari telah malam, rembulan mencuat keluar dari balik cirrostratus yang kini telah sempurna membentuk lingkaran, memenjarakan bulan untuk berada pada daerah teritorialnya. Sepeda berwarna putih dituntun oleh sang pemilik, memilih melakukan hal demikian karena ia terlampau lelah untuk mengayuh pada landasan yang menanjak. Tidak luput dari apapun seragam bagian atas telah lolos sempurna, meninggalkan kesan yang sangat jauh dari definisi rapih.
Ketika ia mencapai puncak jembatan yang tentunya sangat ramai dengan kendaraan bermotor, Chanyeol memilih berhenti sejenak untuk menengadahkan kepala. Melihat bagaimana bulan adalah yang paling terang dari semua yang dapat ia lihat. Chanyeol tidak perduli dengan teori yang berkata bahwa bulan adalah terbatas, hanya mampu untuk memantulkan cahaya yang berasal dari sumber lainnya. Bulan itu cantik, dengan segala bentuk dan perubahannya disetiap tanggal. Lalu mengapa teori hanya menjadikannya seolah ia sangat memiliki keterbatasan?
Senyuman simpul itu terpahat tanpa cela pada wajah memuja Chanyeol, ketika ia menyadari bahwa terdapat sekumpulan awan berwarna gelap disekitar; dan itu membuatnya tampak lebih cantik. Setidaknya bulan memiliki seorang pendamping.
Singkatnya, Chanyeol menyukai bulan, karena itu mengingatkannya pada seseorang yang ia puja.
Mendapati keadaan rumah yang masih gelap menyadarkan Chanyeol bahwa ayahnya belum pulang. Chanyeol telah menempatkan sepeda di tempat yang seharusnya. Ia mengambil sebuah handuk dan mengabaikan fakta bahwa beberapa bulir peluh masih membasahi indera perasa.
Hoy,
Pesan masuk dari Jongin membuat Chanyeol memperlambat usapan handuk pada rambut yang basah seusai mandi. Beberapa detik kemudian Chanyeol mendapati sebuah gambar ayahnya yang sedang duduk dengan tenang dan menghadap kepada seseorang yang Chanyeol yakini adalah Joonmyeon. Senyum manis yang terpatri pada wajah sang ayah berdampak pada bagaimana Baekhyun terlihat; sangat indah. Jelas mengetahui itu adalah simbol keakraban serta ruang yang temaram membuat kesan menjadi lebih intim.
Dan tanpa disadari pemiliknya rahang kokoh itu mengeras.
.
.
Beau;daddy [[ SEQ ]]
Chanbaek/Baekyeol – Romance, Family, Friendship – M
The caracters belongs to themselves, and the plot is mine
Warning; Male x Male, INCEST, OOC
.
.
Selama ia hidup ini adalah kali pertama ia membiarkan Chanyeol berpergian jauh seorang diri. Baekhyun tidak begitu khawatir mengingat alamat tuan Park yang hanya berjarak beberapa desa dari desa dimana ia berasal. Mereka pernah mengunjungi sanak keluarga di Boseong beberapa tahun silam, dan itu pertanda bahwa Chanyeol hanya perlu menempuh beberapa kilometer lagi dengan menggunakan kereta.
Lemari terbuka dan Baekhyun menggapai sebuah bantal leher dengan motif harimau. Ia melangkah menuju ruang pribadi Chanyeol dan memasukkannya ke dalam sebuah tas, "Ayah memasukkannya, pastikan kau akan merasa nyaman selama perjalanan". Tutur Baekhyun perlahan yang menatap Chanyeol sedang memetik sebuah gitar berwarna cokelat.
Anak itu mengangguk, memberikan jawaban yang tidak begitu berarti.
"Apakah barang yang kau butuhkan sudah masuk semua?" Kembali Baekhyun bertanya sambil menoleh ke arah tas jinjing berukuran sedang. Yang kemudian di balas anggukan oleh Chanyeol.,
"Jaket dan beberapa syal?"
"Aku hanya beberapa hari, bukan untuk selamanya".
Lalu dengan lancangnya Chanyeol berkata demikian.
.
.
Pintu gerbang berbahan kayu borneo tertutup rapat-rapat ketika Chanyeol sudah memijakkan kaki di depan. Itu teba dan Chanyeol yakin bahwa memerlukan tenaga yang besar untuk mendorong dengan paksa. Akan tetapi niat untuk membuka pintu seorang diri itu ia urungkan begitu netranya menangkap sebuah tombol yang mungkin berfungsi sebagai bell. Chanyeol menolehkan ke arah kanan dan kiri, tidak menemukan apapun selain pagar batu yang tinggi. Rumah tipe tradisional sekali, batinnya.
"Siapa?" Lalu Chanyeol tersentak begitu sebuah suara menginterupsinya melalui speaker kecil di bagian atas pintu.
"Chanyeol, menemui Tuan Park" Begitu ia menjawab.
Tidak lama setelah itu pintu terbuka dengan sendirinya. Chanyeol tidak cukup bodoh untuk menyadari bahwa seseorang diujung sana adalah yang mengambil kendali. Setelah ia menapakkan kaki beberapa langkah, ia menemukan seorang laki-laki yang seperti hanya berada beberapa tahun lebih tua tengah berdiri dan menatap ke arahnya.
"Tuan muda Chanyeol," kemudian ia merendahkan tubuhnya begitu Chanyeol semakin dekat.
Chanyeol terkesiap karena tidak menyangka akan disambut oleh seorang yang ia yakini sebagai pelayan rumah; bagaimanapun ini adalah desa dan Chanyeol merasa terlalu diistimewakan. Ia berjalan mengikuti pelayan tersebut, mengamati setiap aksen rumah milik keluarga dari sisi ibu. Lantai yang beralaskan kayu kokoh membuat siapapun nyaman untuk berpijak, pilar-pilar yang dihiasi oleh pahatan dan tak ada satupun dari mereka yang Chanyeol mengerti, serta sebuah kolam ikan yang terlihat saat ia sudah berada di depan sebuah pintu.
Pelayan tersebut meminta Chanyeol untuk menunggu sebentar sedangkan ia melangkahkan kaki untuk memasuki ruangan tersebut.
"Tuan muda, silakan masuk. Tuan besar sudah menunggu di dalam." Dan akhirnya pelayan tersebut undur diri dengan membungkukkan tubuh.
Begitu Chanyeol memasuki ruangan yang sepertinya difungsikan sebagai tempat bersantai, netranya langsung terfokus pada seseorang yang tengah duduk di tengah, menggunakan pakaian sederhana dan terlihat tradisional. Chanyeol sendiri telah menebak bahwa ia sedang bertatapan dengan kakek kandungnya, melihat fakta bahwa surai orang tersebut telah mengabu dan kerutan yang terukir pada wajah yang terlihat lelah.
Orang yang jauh lebih tua dari Chanyeol tersebut memberikan sebuah gestur yang bermakna mempersilakan Chanyeol duduk. "Bagaimana perjalananmu?" Ia bertanya untuk memulai pembicaraan.
Si cucu berdeham barang sebentar untuk memantapkan bagaimana ia akan bersuara, "menyenangkan," ia menjawab dan berhasil membuat kakek tersenyum. Satuhal yang dikatakan oleh Jongin; kunci membuat orang tua merasa puas adalah menyenangkannya. Sedikit bualan tak apa, asal kau tidak berlebihan. Begitulah yang Chanyeol ingat.
Sebuah ketukan terdengar dan seseorang memasuki ruangan tersebut, ia membawa sebuah nampan yang berisi dua cangkir teh hitam. "Sepertinya kau tumbuh dengan baik," Kakek berbicara setelah pelayan tersebut undur diri. Pandangannya memerhatikan setiap lekuk tubuh sang cucu. Perawakan yang begitu tegap membawa pikirannya mengenai bagaimana ia terlihat ketika muda. Jelas sekali bahwa Chanyeol turut membawa gen 'Park' miliknya.
"Begitulah," Jawab Chanyeol seraya mengusap tengkuk beberapa kali. Ia benci bersikap formal dan kikuk seperti ini, sangat berbeda dengan suasana dari keluarga sisi ayah yang jauh lebih santai. Tetapi mau bagaimana lagi, sebelum Chanyeol berangkat Baekhyun memberinya pesan untuk bersikap sopan ketika berhadapan dengan Tuan Park.
"Jadi namamu Park Chanyeol?" Pria tua tersebut menatap dalam-dalam ke manik sang cucu dan kemudian beralih pada paras Chanyeol. Tegas, kelak akan penuh dengan wibawa, ia membatin.
Hampir saja Chanyeol merotasikan bola matanya dan beruntung ia tidak melakukan hal demikian. "Terakhir aku membaca akta kelahiranku, namaku adalah Byun Chanyeol" ia berkata sesopan yang ia bisa, menyunggingkan senyuman yang sedikit dipaksakan.
Tanpa perlu berpikirpun Chanyeol mengetahui bahwa tersirat arti tidak suka dari pandangan sang kakek, air wajahnya tetap tenang namun sedikit mengeras. Chanyeol tidak bodoh untuk menyadari betapa kakek ini tidak menyukai sang ayah begitu mengingat bagaimana Baekhyun dulu bercerita. Akan tetapi tak lama kemudian wajahnya kembali melembut. "Perjalananmu begitu jauh, ada baiknya kau istirahat terlebih dahulu, nak. Akan ku suruh salah satu dari mereka untuk mengantarmu ke kamar."
.
.
Sudah lama sekali sejak terakhir Chanyeol memiliki perasaan semacam ini. Berhadapan dengan seseorang yang jelas asing lalu orang tersebut menilik ke dalam tubuhnya dengan pandangan yang sayu. Chanyeol menghela napas, mungkin sudah dua puluh menit berlalu dan mereka hanya menghabiskan itu dengan saling menatap sementara mulut tetap bungkam.
Wanita di hadapan Chanyeol setia menatap Chanyeol tidak percaya, tidak ada satu sekonpun ia lewatkan untuk memaku pandangan pada sang anak. Begitu mendengar kabar mengenai anak pertamanya, Taeyeon dengan tergesa menuju rumah utama.
"Aku ibumu," Akhirnya ia berkata dengan serak seakan sedang menahan ekskresi dari netra yang ingin keluar. Perasaannya mendadak memuncak, rindu yang tertahan selama delapan belas tahun terbayar dengan tubuh tinggi Chanyeol yang tengah menghadapnya.
Chanyeol berdeham di tempat, bingung untuk mengatakan apa karena memang sebelumnya ia tidak pernah berpikir situasi ini akan terjadi. "Aku Chanyeol," Lalu ia hanya memperkenalkan diri.
"Apakah dia merawatmu dengan baik?"
Dan pertanyaan demi pertanyaan terlontar untuk mengetahui anaknya lebih dalam.
BEAU;DADDY
Beberapa hari telah berlalu dan Baekhyun menghabiskan malam seorang diri. Tidak benar-benar sendirian sebenarnya karena Joonmyeon akhir-akhir ini sering mengajak keluar. Joonmyeon akan lebih sering berkunjung dan menemani Baekhyun ketika yang lebih muda memiliki waktu luang. Bahkan beberapa kali ia menawarkan diri untuk menginap ataupun mengajak Baekhyun bermalam di tempatnya.
Namun kesendirian Baekhyun akan segera berakhir karena sang anak akan tiba beberapa saat lagi. Pria kecil ini bersiul saat ia memutar kenop kompor untuk mematikannya. Senyuman mengembang sempurna mendapati semuanya telah matang. Oh, tolong ingatkan Baekhyun bawa sekarang bukanlah sedang menyambut tahun baru. Lantas mengapa makanan di atas meja sangatlah berlebih?
Dentingan bell mengalihkan perhatian Baekhyun yang segera melesat menuju pintu utama, menemukan Chanyeol yang tersenyum kering seperti idiot. "Kau pulang!" Ia sumringah dan memberikan pelukan selamat datang kepada sang anak.
Baekhyun membawa Chanyeol menuju ruang makan karena ini sudah melewati jauh dari jam makan siang. Dia pasti lapar, begitu pikirnya.
"Sepertinya ini semua terlalu banyak," Baekhyun mengambil semangkuk nasi dan memberikan itu kepada sang anak. "Atau kau dapat mengundang teman-temanmu datang, Chanyeol." Kemudian iapun mengambil mangkuk nasi untuk dirinya sendiri.
Dengan menatap ayahnya Chanyeol menggeleng, mengisyaratkan bahwa ia sanggup untuk menghabiskan semua. Sudah beberapa hari ia lewatkan dengan tidak berjumpa dengan Baekhyun. Tentu saja ia merindu, itulah mengapa ia tidak ingin siapapun datang ke rumah.
.
Angin berhembus tidak menentu menyebabkan surai Baekhyun ikut terbawa mengikuti arah kemana ia melaju. Jelas saja terasa dingin karena hari telah malam. Baekhyun menumpu kedua siku pada teralis pagar di beranda kamar miliknya dan melepas semua letih yang ada dengan mengedarkan pandangan ke arah atas. Sebenarnya ia tidak mengerti sama sekali mengenai ilmu yang berfokus pada perbintangan dan tata ruang angkasa; tetapi Baekhyun yakin bahwa langit itu indah. Ciptaan Tuhan yang paling indah setelah anaknya.
Ia merasa lega karena letih yang ia rasakan menghilang begitu saja. Angin yang menerpa seakan membawa pergi itu entah kemana. Baekhyun memang sedang dalam suasana hati yang baik, ia mulai menjalankan hubungan kerja dengan beberapa perusahaan yang membutuhkan jasa kedainya. Siapa yang tidak senang untuk meraup keuntungan? Maka Baekhyun mengucapkan banyak terimakasih kepada Joonmyeon.
Kenop pintu kamar terputar dan tanpa harus menolehpun Baekhyun sungguh mengerti bahwa itu adalah Chanyeol. Suara tempat tidur yang berdecit menandakan bahwa Chanyeol telah membawa tubuhnya ke atas sana. Baekhyun memutar tubuh, memasuki kamar dan menutup rapat-rapat pintu yang menghubungkan antara kamar dengan beranda.
"Apakah bantal leher itu tidak berfungsi?" Itulah yang dikatakan Baekhyun begitu ia melihat Chanyeol tengah memijat-mijat tengkuknya sendiri.
Chanyeol memasang muka masam dan dengan tetap memberikan pijatan pada tengkuk ia mendongak untuk mendapati Baekhyun, "Entahlah, rasa-rasanya masih terasa pegal" Ekspresinya seperti anak anjing yang ingin menyusu.
Nakas di sebelah tempat tidur Baekhyun terbuka dan ia mengambil sesuatu; krim pereda letih yang biasa ia gunakan. Ia duduk di sebelah Chanyeol dan mengeluarkan krim tersebut sedikit. Jemarinya menggantikan sang anak untuk memberikan tekanan pada daerah tengkuk Chanyeol. Hangat yang perlahan menjalar jelas-jelas dirasakan Chanyeol tatkala pijatan sang ayah benar mengenai sela-sela tulang lehernya.
"Kau ini, mungkin karena tidak terbiasa pergi jarak jauh," Tidak ada nada mengejek yang terdengar dari Baekhyun. Memang benar, pada kenyataannya ia memang sangat jarang mengajak Chanyeol berpergian jauh.
Di tempat duduknya Chanyeol mencebik dan menghadap Baekhyun, menganggap sang ayah sedang memberi sebuah gurauan, "Aku lelah, ayaaaah~" Bahkan sekarang ia merajuk dan membaringkan tubuh di sana.
Baekhyun terkekeh mendapati Chanyeol yang seperti itu, ia mengusap kening Chanyeol dan menepikan anak-anak rambut Chanyeol yang setengah basah, "Maka kembali ke kamarmu dan pergi tidur."
Tidak ada jawaban yang Baekhyun dapatkan selain ekor mata yang menangkap bayangan Chanyeol tengah beranjak untuk ke tempat tidur yang seharusnya, "Aku mau di sini saja," Anak itu mengkonfirmasi seraya membenarkan letak bantal yang ia gunakan.
Alih-alih menanggapi, Baekhyun lebih tertarik untuk menanyakan sesuatu yang lain. Ia merebahkan tubuh tepat disebelah Chanyeol dan memandang lurus-lurus ke arah televisi yang berjarak satu meter dari tempat tidur. "Jadi," Televisi itu menyala karena Baekhyun menekan tombol power pada remotenya, suaranya sangat pelan lantaran pengaturan yang lebih dekat pada mode mute. "Apakah di sana baik-baik saja?"
Chanyeol mengangguk tidak berarti. Pertemuan singkat dengan sang ibu memang cukup memberikan kesan tersendiri. Ia bahkan mengetahui bahwa kini ia memiliki 3 saudari tiri yang manis dan menggemaskan. Mengingat itu semua menyimpulkan Chanyeol bahwa ia tidak menyesal karena pernah berkunjung ke sana.
Kecuali, mengenai sang kakek.
"Aku mau bertanya," Ia menoleh dan mendapati wajah Baekhyun tampak dari samping. "Kenapa ayah membiarkan aku bertemu dengan kakek? Padahalkan dia orangnya seperti itu."
Senyuman hambar yang Baekhyun suguhkan merupakan pertanda bahwa ia mengerti jelas bagaimana maksud Chanyeol. Tuan Park memang seperti itu, sampai kapanpun ia akan menjadi subjek yang dibenci seakan Baekhyun adalah biang keladi. Baekhyun mengakui kalau ia memang salah, tapi ia juga bukan satu-satunya yang mengambil andil didalamnya. "Bagaimanapun ia adalah kakekmu," Hingga itulah yang ia jawab. "Dan aku sudah merebutmu dari mereka selama delapan belas tahun terakhir." Tutupnya.
Merasa tidak setuju dengan apa yang dikatakan sang ayah, Chanyeol mengibas sebelah tangan pertanda ia menolak. "Kau ayahku, dan tidak ada orang tua yang menculik anak mereka sendiri."
"Ya, tapi aku mengambil anak dari seorang perempuan yang mengandung dan melahirkannya. Bahkan kau belum genap sebulan waktu itu." Baekhyun mendesah dan mengusak rambut ke belakang. Jika menyinggung hal ini seakan ia akan menjadi super sensitif.
"Aku bahkan sudah bertekad untuk menikahi ibumu, Chanyeol." Tidak ada gurauan yang terselip di dalamnya. Ia kembali mengingat bagaimana dahulu dengan kaki yang gemetar berhadapan dengan Tuan Park. Siapa yang tidak tahu Tuan Park? Banyak kerabat dari keluarga Baekhyun bekerja untuknya. Dan wajar saja jika Tuan Park menolak untuk menikahkan Baekhyun dengan Taeyeon. Memangnya siapa Baekhyun? Hanya seorang pemuda yang bahkan belum lulus sekolah. "Kalau saja Tuan Park tidak menentang." Baekhyun tersenyum masam dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Chanyeol. "Tidurlah, sayang."
Tapi setidaknya Baekhyun tidak pernah menyesal karena telah mengambil Chanyeol secara sepihak.
"Lalu apakah kau akan membiarkan jika aku kembali pada mereka?" Jujur saja Chanyeol penasaran untuk hal tersebut. Ia menggeser tubuhnya agar lebih merapat kepada sang ayah.
Baekhyun terdiam, keningnya mengkerut seperti sedang berpikir berat. "Jika itu memang kemauanmu, Chanyeol. Aku tidak dapat melakukan apapun." Ia sudah mengeluarkan suara serak untuk kesekian kalinya.
BEAU;DADDY
Jam makan siang telah berlalu dan itu berarti Baekhyun dapat sedikit bersantai karena pengunjung kedai sudah mulai berkurang. Baekhyun tersenyum dan duduk di balik meja kasir sementara pandangannya berfokus pada Chanyeol. Anak itu kembali merajuk untuk tidak bersekolah hari ini dan berkata ingin membantu Baekhyun di kedai.
Senyuman tipis itu tanpa sadar terpatri pada wajah manis Baekhyun, suasana hati Chanyeol yang baik secara otomatis membuat moodnya baik pula. Ia pikir Chanyeol akan tetap menjadi lebih pendiam seperti sebelumnya saat Baekhyun menyambut si anak di pintu utama, dan ternyata dugaannya salah. Liburan selama beberapa hari mampu mengembalikan mood Chanyeol dan Baekhyun mensyukuri itu.
Mungkin Baekhyun terkesan berlebihan, tapi pada kenyataannya Chanyeol memang bukan tipikal yang mudah bad mood.
Jumlah pengunjung dikedai dapat dihitung dengan jari dan itu membuat Chanyeol bersantai dengan duduk di sebuah meja yang kosong. Ia mengeluarkan ponsel, membuka sebuah group chat room begitu ponsel tersebut bergetar.
Kim Jongin : Yo, man! Kata ayahmu kau sudah pulang dan malah membolos.
Oh Se : Si hitam modus~!
Kim Jongin : Hehe, aku hanya chat sedikit ke paman kok. Kan aku khawatir pada Chanyeol.
Kim Jongdae : Kaus kaki ku aromanya enak loh Jong~
Kim Jongin : Teman macam apa kau hah? ╥_╥
Chanyeol mendengus ditempat duduk. Jelas-jelas ia juga memiliki ponsel, tetapi pemuda tan tersebut lebih memilih untuk menghubungi Baekhyun. Dasar berandal sialan.
Kim Jongdae : Chanyeol masuk dan hanya read kkkkkk~
Kim Jongin : Chanyeol rindu aku?
Kim Jongdae : Diam atau terima tendangan pada bokongmu.
Chanyeol : Guys, please -_-
Kim Jondae : Yo brada~ kabar apa eh?
Kim Jongin : Oleh-olehnya mana?
Chanyeol : Leherku sakit
Kim Jongin : Minta pijat paman Baekhyun pasti langsung sembuh ( o )/
Kim Jongdae : Tunggu di kursimu, Jong!
Oh Se : =_=
Oh Se : Abaikan saja. Eh Chan, selamat ya!
Chanyeol : Apa?
Oh Se : Katanya paman sudah punya pacar?
Oh Se : Kata Jongin, sih.
Kim Jongin : Paman keren yang waktu itu loh Chan, ingat kan?
Kim Jongdae : Kebetulan aku menemani kakakku ke acara milik koleganya dan aku bertemu dengan ayahmu, Chan. Saat ku sapa ternyata dia sedang menemani seseorang.
Kim Jongin : Nah! Pasti paman yang waktu itu.
Group chat room itu ditutup oleh Chanyeol begitu ekor matanya mendapati Joonmyeon yang baru saja melewati pintu masuk. Paman tersebut mengenakan kemeja hitam dengan dasi kelabu bergaris serta celana bahan yang senada dengan atasan. Terlihat sangat dewasa dan matang. Juga sangat cocok ketika Baekhyun berada disebelahnya.
Shit.
Akhirnya Chanyeol mengumpat dalam hati lalu melengos menuju meja kasir. Ia duduk di sebelah karyawan Baekhyun dan enggan menatap ke arah depan. Chanyeol kembali mengeluarkan ponsel dan berusaha tidak perduli. Bermain game nampaknya akan lebih menyenangkan.
Tapi belum ada sepuluh menit berlangsung ia tidak tahan untuk tidak melirik kepada sang ayah. Chanyeol tidak mengetahui topik apa yang sedang mereka perbincangkan sehingga mampu menimbulkan gelak tawa Baekhyun. Ia mengendikkan bahu dan mencoba untuk mengalihkan perhatian pada game online yang masih berjalan.
Helaan napas yang berasal dari Minseok menyadarkan Chanyeol bahwa pria tersebut sedang berdiri di dekatnya. Minseok meminta karyawan di situ untuk mengurus beberapa pesanan sementara ia akan menggantikannya di meja kasir.
"Sudah lama, ya." Entah berbicara kepada siapa, yang jelas Chanyeol dapat mendengar itu. "Sudah lama sekali sejak terakhir aku melihat Baekhyun dekat dengan seseorang." Ia memandang Baekhyun dengan damai, Minseok sendiri tidak ingat kapan terakhir Baekhyun pergi berkencan. Bahkan ketika mereka masih berada pada bangku sekolah pun Baekhyun seakan tidak tertarik dengan hal seperti itu. "Ya'kan, Chanyeol?" Akhirnya Minseok menoleh dan menepuk bahu Chanyeol.
.
Kegemaran Chanyeol adalah bermain gitar dan ia menyebut si cokelat kesayangan tersebut dengan Patrick. Terinspirasi dari sebuah karakter pada animasi yang dulu sering ia tonton dan sialnya Chanyeol menyukai si merah jambu yang super bodoh.
Heh, tidak nyambung.
Ia tidak sangat handal dalam bermain gitar, sebenarnya. Tetapi kenyataan bahwa gitar dapat membuat moodnya menjadi lebih baik membuat Chanyeol semakin menyukai aktivitas tersebut.
Seseorang membuka pintu kamar dan kepala Baekhyun melongok dari luar. "Makan malam?" Ia memberitahu tapi seolah sedang bertanya. Sayangnya ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari sang anak dan melihat Chanyeol yang masih memetik-metik senar gitar.
Baekhyun membuka pintu lebih lebar dan menghampiri Chanyeol lalu menempatkan bokongnya pada tempat tidur milik anaknya. Mendengar petikan gitar Chanyeol yang sebenarnya Baekhyun ketahui itu adalah irama apa, mengigat-ingat bagaimana syair lagu itu berbunyi.
"i have love you for a thousand years, i'll love you for a thousand more." Mulutnya mengatup rapat bersamaan dengan petikan gitar yang berhenti.
Patrick diletakkan oleh pemiliknya kemudian Baekhyun menangkap Chanyeol yang merentangkan tangan kepadanya, membuat ia sedikit kaget karena tindakan Chanyeol yang tiba-tiba.
"Lihat, ada apa sekarang?" Yang memiliki tubuh lebih kecil bertanya seraya memberi tepukan pelan pada kepala Chanyeol. Ia dapat menghirup aroma pencuci rambut yang maskulin pada kepala sang anak.
Tetapi bukannya menjawab Chanyeol memilih untuk mendekap Baekhyun lebih erat. Hidung yang berada pada perpotongan leher sang ayah membuatnya leluasa menghirup berry khas milik Baekhyun. Sweater tebal yang Baekhyun kenakan tidak menghalangi Chanyeol untuk merasakan bagaimana hangat tubuh sang ayah. Ia menghirup napas dalam-dalam seakan esok dikenakan biaya untuk bernapas.
Dan karena Baekhyun cukup sensitif pada daerah situ, ia mengangkat sebelah bahu sambil berharap itu dapat mengusir rasa geli yang ada.
"Chanyeol?" Baekhyun bertanya dan kembali terkejut ketika ia menyadari Chanyeol sudah menempelkan bibir tebal itu kepadanya. Mengecup dan menyesap itu beberapa kali membuat Baekhyun seakan lupa daratan. Belahan yang mengeluarkan lingua yang mengeksplorasi rongga mulutnya membuat jantung memompa lebih cepat. Tidak berasa namun mengasyikan; itulah bagaimana Baekhyun mendeksripsikan. Ia terbuai dengan belah bawah tebal Chanyeol yang sungguh menanti untuk di gigit, gigi-gigi yang tidak sengaja bertubrukan, dan suara indah khas orang berciuman. Terhanyut dalam kondisi seperti itu membuat Baekhyun menyukai bagaimana sensasi itu terasa; dan tanpa sadar ia telah berbaring di dalam kungkungan sang anak.
Pandangan Chanyeol lurus-lurus menatap sang ayah yang sepertinya baru tersadar bagaimana posisi mereka sekarang; terlihat jelas saat pupil Baekhyun melebar. Terkadang ia ingin untuk tidak mengatakan apa yang hendak ditanyakan atau yang dirasakan. Terkadang pula rasanya ia ingin berteriak untuk menginformasikan apa yang hendak disampaikannya.
Tetapi entah mengapa saat ini Chanyeol tidak tahu sedang menginginkan yang mana.
Akhirnya Chanyeol merendahkan tubuh untuk berada lebih dekat pada sang ayah. Menikmati bagaimana sipit milik Baekhyun memandang ke arahnya. Ia tercekat; selalu merasa itu dapat menenggelamkannya pada dasar lautan; seperti aroma rum yang menyeruak penciuman ketika ia mencicip sepotong cake. Ia bersyukur karena telah mengenal orang yang sekarang tengah berada di bawahnya; walaupun fakta mengatakan karena Baekhyunlah ia terlahir di dunia.
Telapak Chanyeol yang besar berhasil menyentuh sebelah pipi Baekhyun; merasakan betapa lembut itu terasa dan suhu yang semakin menghangat. Kadang Chanyeol merasa terlalu percaya diri dengan berpikir bahwa sang ayah akan tersipu karenanya; seperti saat ini. Ia mengusap ibu jarinya pada permukaan kulit tersebut, lebih merendahkan wajah sehingga ia dapat menggapai pipi kenyal ayahnya.
Kecupan bertubi-tubi ia berikan seakan itu semua tidak memiliki limit. Aroma berry yang begitu kuat menambah semangatnya untuk berbuat lebih. Ia mengecup, menggigit, dan menyesap itu kembali.
"Berhenti, Chanyeol." Itulah yang dikatakan Baekhyun ketika kepala Chanyeol melesak pada ceruk lehernya.
Dan ini adalah kali pertama Baekhyun berkata demikian.
Baekhyun menolaknya.
"Ini semua salah, sayang."
Bahkan Chanyeol tidak mendengar apapun walau terselip kata sayang dalam kalimat tersebut.
"Chanyeol?"
Yang Chanyeol sadari bahwa Baekhyun akan mengakhiri ini semua.
Seakan fakta menamparnya untuk sadar bahwa mereka hanyalah pasangan ayah dan anak.
"Ini sudah terlalu jauh, Chanyeol."
Kenapa ia bahkan baru mengatakan setelah mereka sudah jauh?
Kenapa tidak menolak dari awal saja?
.
"Apakah ini semua karena dia?" Dan akhirnya Chanyeol bersuara.
.
.
.
ToBeContinued...
.
.
.
Hello guys~
Karena ini ternyata lebih panjang dari prediksi aku, jadi aku cut disini aja ya heheh (sori~)
Terimakasih untuk kalian yang sudah menyempatkan untuk memberikan review pada bagian satu sekuel ini
Dan yang sudah bersedia fol/fav fiksi ini ,,,
Kalau berkenan bisa langsung memberi masukan ya untuk bagian keduanya lol
btw, kalau kalian bersedia mungkin bisa coba membaca fiksi aku yang lain dengan judul El Libro de la Vida (baru di publish heheh)
.
.
Review as Respect :)
Thankyouuuu~
