Disclaimer: Masashi Kishimoto.

Main Pair: Naruto Uzumaki x Uchiha Sasuke.
Slight: Uchiha Sasuke x
secret.
Secret x Secret.

Rate: T semi M or T+.

Genre: Romance/Drama. Semi Humor.

Summary: Naruto seorang bartender berumur 22 tahun yang terjebak dalam pesona pemuda raven yang sedang mabuk di bar tempat kerjanya. Setelahnya, apakah yang akan terjadi?

Warning: Typo(s), abal, aneh, author newbie, alur berantakan, humor garing, bahasa kasar yang tidak baku, chapter yaoi, bad romance, adult content, NaruSasu, and many others.

DON'T LIKE? DON'T READ!
Merasa tidak suka? Tidak perlu dibaca. Cukup klik back atau close browser Anda. Terima kasih.

ENJOY

.

Chapter 2:

.

Bartender And Drunker
Created by: Kyoura Kagamine and Iztha Dark Neko

.

Episode Sebelumnya:

Tampak seorang wanita yang berdiri kaku di luar jendela cafe yang sempat didatangi Naruto dan Sakura tadi. Dia terlihat—oh, bukan. Sangat shock.

"Beraninya lelaki jalang itu mencium milikku! Akan kubunuh dia!" Ujarnya garang.

.

Setelah meninggalkan cafe tadi, Naruto dan Sakura bermain ke taman yang dulu sering mereka datangi saat mereka masih SMA. Tempat langganan waktu membolos.

Sebuah taman yang sangat sejuk. Menenangkan hati. Sangat asri dan sepi. Jarang didatangi pengunjung karena tempat yang cukup jauh dan terpencil. Ya. Taman bermain yang sudah sangat jarang didatangi anak-anak karena banyak gosip kalau taman itu sudah angker. Penuh makhluk halus.

Tapi itu tidak berarti bagi Naruto dan Sakura. Bagi mereka, ini adalah tempat yang pas untuk dijadikan pelarian. Tempat yang pas untuk menenangkan diri.

"Sudah lama, ya...," Sakura memulai pembicaraan.

"Iya. Sudah lama kita nggak kesini...," balas Naruto sambil duduk di salah satu ayunan tua yang masih kokoh. Ayunan yang cat-nya sudah banyak terkelupas. Dulu, ayunan itu sering dipakai mereka berdua untuk bersantai sambil mengobrol.

Sakura mengikuti tindakan Naruto dengan duduk di ayunan sebelahnya. Mereka memandang langit biru yang cerah. Dikelilingi awan-awan putih bersih. Sangat nyaman dan sepi.

Sungguh, ini tempat yang sangat cocok untuk menenangkan diri!

"Naruto!" Kata Sakura sambil menundukkan kepalanya. Sorot matanya sendu. Seakan menyimpan kepedihan yang dalam.

"Ya?"

"Elo serius?"

"Tentang apa, Sakura-chan?" Alis Naruto berkerut. Penasaran.

"Tentang Sasuke, elo serius tertarik sama dia?"

"Gua juga nggak tau. Nggak tau kenapa, tiap kali ngeliat dia, gua jadi ngerasa nyaman. Lebih nyaman daripada bersama dia."

"Ka—"

Perkataan Sakura terputus. Naruto menoleh ke arah Sakura yang makin menunduk menatap tanah. Sakura penarik nafas perlahan. Seakan apa yang akan dia katakan sekarang adalah hal yang sangat berat.

"Kalo dulu elo nggak ketemu dia, apa elo nggak bakal pernah jadi gay?" Tanya Sakura pelan.

"Sakura—elo—"

"Apa dulu, kalo elo nggak ketemu dengannya elo nggak bakal meno—" pertanyaan Sakura terputus ketika dia mendengar suara yang familiar. Dan sangat dia benci. Ingin rasanya dia menghancurkan pemilik suara itu. Melenyapkannya. Membunuhnya. Menyiksanya. Membelahnya menjadi dua. Memisahkan bagian-bagian tubuhnya. Dan—oke, cukup.

"Ah! Naruto dan Sakura-chan! Lama tak bertemu, apa kabar?" tampak seorang lelaki dengan rambut coklat berantakan dan tato segitiga di masing-masing pipinya. Dia tersenyum lebar, tampak sangat bahagia. Dan dia menggandeng seseorang yang belum Sakura atau Naruto kenal sebelumnya.

Orang itu. Orang yang sangat dibenci Sakura.

"Ki—ba?" gumam Naruto dengan wajah terkejut, bisa dilihat dari matanya yang membelalak. Ya. Siapa yang tidak terkejut kalau pacar—oh bukan. Mantan pacarmu tiba-tiba datang. Sambil menggandeng seseorang. Dengan wajah bahagia pula?

"Naruto, ternyata elo masih ingat gue, senangnya! Oh iya, kenalin dia Shikamaru Nara—" Kiba memberi jeda dan tangannya menunjuk lelaki berambut coklat yang dikuncir seperti nanas, yang sejak tadi digandeng Kiba. Lelaki yang bernama Shikamaru Nara itu hanya memasang tampang bosan sambil menatap langit.

"Dia—pacar gue..." sambung Kiba. Yang kini mengalungkan tangannya ke leher Shikamaru. Senyumnya melebar. Hingga tampak seperti sebuah seringai.

Wajah Naruto memucat. Terkejut? Tentu saja!

Siapa yang tidak terkejut bila mantan pacarmu memiliki pengganti dirimu. Hanya dalam waktu beberapa minggu setelah putus. Seakan kau tidak ada artinya bagi dia.

Tanpa menunggu lama, Naruto segera memasang 'topeng'nya. Wajahnya yang selalu ceria setiap saat.

"Ah. Selamat ya, Kiba! Gue ikut seneng tapi juga sedih ngedengernya...," balas Naruto sambil tersenyum dan menatap Kiba.

Kiba yang ditatap seperti itu hanya mengerutkan alisnya. Senang tapi sedih? Apa yang sebenarnya dia rasakan? Senang karena akhirnya sang mantan dapat pengganti dirinya? Atau sedih karena merasa tak ada artinya? Entahlah.

"Kok bisa?" tanya Kiba yang penasaran dan perlahan melepaskan pelukannya dari Shikamaru.

"Senengnya karena..., yaa siapa yang nggak seneng kalo temennya dapet pacar? Tapi gue juga sedih. Soalnya—" Naruto tiba-tiba berhenti dan memasang wajah sedih.

Semua menatap Naruto. "Soalnya?" Shikamaru yang sejak tadi diam, ikut bicara juga.

"Elo nggak ngasih pajak ke gua, sih! Jadi ngerasa nggak dianggap, nih! Hahaha!" Sambung Naruto yang kemudian tertawa walau dipaksakan. "Naruto...," gumam Sakura sambil menatap Naruto dengan sorot mata yang tidak dapat dijelaskan. Sedih, kasihan, khawatir. Bercampur jadi satu.

Tak lama, Naruto berdiri lalu memasang wajah 'baru inget'nya. "Eh iya. Gua lupa kalo gua belom beresin kamar. Gua cabut dulu, ya! Daah!" Dan Naruto pun berlari menjauhi mereka bertiga.

Sakura hanya bisa menatap Naruto lalu men-deathglare Kiba yang—oh! Apa itu? Kenapa Kiba menatap Naruto seakan merasa sangat kehilangan?

Dan deathglare Sakura pun makin tajam menusuk Kiba.

"Sudah puas kau membuatnya begini?" tanya Sakura dengan sarkastik. Kebenciannya akan pemuda di depannya ini makin membesar.

Kiba menatap Sakura dengan tatapan yang..., seperti dia tidak tahu apa-apa! "Apa maksudmu?" tanya Kiba yang kemudian memiringkan kepalanya ke kiri. Sungguh, ingin rasanya Sakura mematahkan kepala coklat itu!

"Sudahlah! Aku sudah muak melihatmu!" Sakura berteriak sambil berlari pergi. Menyusul Naruto, mungkin?

Kini hanya tinggal Kiba dan Shikamaru. Mereka berdua tetap diam. Tidak ada yang membuka pembicaraan.

Kiba pun duduk di ayunan yang ditinggalkan Naruto tadi. Dengan pikiran kacau, Kiba menatap langit. 'Naruto..., aku hanya ingin hubungan kita membaik. Tapi kenapa—' batin Kiba makin kacau. Entah apa yang dipikirkannya setelah itu. Shikamaru hanya menatap Kiba khawatir.

.

Tampak sepasang kekasih yang duduk di meja nomor 9.

"Pelayan! Aku pesan jus apel dan pudding!" pinta seorang wanita berambut merah panjang, dengan kacamata berbingkai hitam yang menutupi iris merahnya. Dialah Karin.

Pelayan itu segera mencatat pesanan Karin. "Baik. Dan Anda, tuan?" Tanyanya dengan senyum. Mungkin mencoba untuk flirting kepada pemuda yang sepertinya pacar wanita merah tersebut. Ya..., dia terus saja flirting tanpa menyadari deathglare dan aura membunuh dari belakangnya. Dari Karin.

"Jus tomat," jawab pemuda yang sedang di-flirting itu. Seorang pemuda beriris onyx dengan kulit putih yang..., andaikan dia perempuan, pasti menjadi perempuan tercantik! Dia adalah Sasuke Uchiha. Pacarnya Karin. Sekali lagi, pacarnya Karin.

Sang pelayan segera pergi untuk membuat pesanan kedua orang tersebut. Tak lupa dia nge-flirting lagi dan di-deathglare..., lagi.

Hening, tidak ada yang membuka percakapan antara Karin dan Sasuke. Aneh sekali. Seharusnya sepasang kekasih itu mesra, dekat. Tidak seperti ini! Canggung, seperti saling tidak mengenal. Padahal mereka sudah berpacaran lebih dari satu tahun.

"Hey, Sasuke-kun! Umm..., besok kan malam Minggu, kita ke Mall, yuk!" Kata Karin sambil tersenyum. Sangat berharap bahwa Sasuke akan bilang: "Oke, nanti kujemput."

"Tidak. Aku sibuk!" jawab Sasuke tanpa menatap Karin sama sekali. Tubuhnya memang di sini, tapi pikirannya telah melayang entah kemana. Dan, ya. Sepertinya Karin memang hanya bisa berharap.

"Err, kalau gitu gimana pas Minggu-nya?" tanya Karin masih berharap bahwa Sasuke akan menjawab sesuai dengan harapannya.

"Aku masih sibuk!" sudahlah, Karin. Sepertinya kau memang hanya bisa berharap.

'Cih, kenapa dia dingin gitu sih? Apa gara-gara lelaki jalang tadi?' batin Karin emosi. Hening kembali melanda.

Karin masih memikirkan mengapa Sasuke makin dingin kepadanya? Mengapa dia dan Sasuke tidak pernah bisa romantis seperti pasangan-pasangan lain? Sedangkan Sasuke, ia memikirkan bagaimana caranya agar bisa lepas dari wanita merah yang merupakan pacarnya ini.

"Maaf telah lama menunggu. Silahkan nikmati hidangannya...," akhirnya pesanan mereka datang. Setelah membayar, pelayan itu pun pergi. Dan flirting lagi, lalu di-deathglare lagi.

Setelah pelayan tersebut pergi, Karin memakan pudding pesanannya. Mencoba untuk meredam emosinya dengan menikmati pudding.

Tidak seperti Karin yang langsung makan, Sasuke hanya mengaduk-aduk jus tomatnya. Entah kenapa, selera makannya menghilang begitu saja. "Karin," Sasuke membuka percakapan.

"Ya, Sasuke-kun?" Jawab Karin dengan senyum di wajahnya. Mungkin dia mengira kalau suatu saat, Sasuke akan mengajaknya kencan ke sebuah tempat. Dan hanya berdua.

"Aku tidak bisa mengantarmu kemana-mana beberapa minggu kedepan...," kata Sasuke yang kemudian mengaduk-aduk jus tomatnya lagi. "EH? Kenapa 'suke-kun?" Tanya Karin yang kecewa—ralat amat sangat kecewa.

"Aku sibuk."

"Sibuk? Selalu saja itu alasanmu! Aku nggak percaya! Kamu—pasti kamu kencan sama lelaki jalang itu kan?" tuduh Karin setengah berteriak. Sudah cukup! Habis sudah kesabaran Karin. Mood-nya sudah terlanjur buruk.

'Lelaki jalang?' pikir Sasuke yang heran. Lelaki jalang dari mana?

"Kau pasti berkencan dengan lelaki yang menciummu tadi kan?" Karin berteriak. Matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis.

"Itu bukan urusanmu—"

"Sasuke..., kau—kau—JAHAT!" Dengan teriakan itu, Karin berlari menjauhi Sasuke yang kini menjadi pusat perhatian pengunjung cafe yang lain.

"Sial. Dia membuatku mengeluarkan uang lagi untuk makanan yang dia buang!" gumam Sasuke sebal.

Sasuke menghela nafas panjang, kemudian menatap langit biru yang cerah di luar sana. Melihat langit biru itu..., Sasuke jadi teringat—

'Tunggu dulu. Kenapa aku jadi ingat Si Dobe itu?' pikir Sasuke bingung.

.

Sesampainya di apartemen, Naruto langsung merebahkan diri di sofa.

Dia ingin sekali menangis. Menangisi nasib asmaranya yang sudah kacau. Hatinya pedih. Dia masih berharap mantannya—Kiba—mau kembali padanya. Memperbaiki hubungan diantara mereka.

Namun dia tidak bisa. Kiba sudah dimiliki pemuda yang rambutnya aneh itu.

Naruto terus memikirkannya. Kini ia berpikir ke depan. Terkadang, ia berpikir, apa orangtuanya senang dia seperti ini?

Dan dia terus memikirkannya. Hingga akhirnya dia terlelap di sofa nyaman miliknya.

.

Di Hidden Leaf.

Malam ini, Naruto tetap bekerja di Hidden Leaf bersama Sakura.

"Haaah..." Naruto yang menghela nafas lelah sambil terus membereskan botol-botol minuman beralkohol yang tersebar berantakan di setiap sudut bar.

"Elo kenapa, Naru?" tanya Sakura lalu menatap Naruto dengan heran.

Malam sudah semakin larut. Bahkan menjelang pagi. Dan mereka masih membersihkan tempat mereka bekerja part time.

"Gak kenapa-napa. Cuman mikirin kejadian kemaren aja..." jawab Naruto yang kemudian menyimpan botol-botol bekas itu ke dalam sebuah kotak kayu.

"Oh, tentang insiden ciuman itu?" tanya Sakura dengan sangat entengnya.

Naruto mengerutkan alisnya. Kemudian berteriak sambil menatap Sakura dengan tajam. "KENAPA ELO BISA BICARA DENGAN SANTAI GITU?" protesnya kesal.

"Kan elo yang ngalamin, bukan gue," jawab Sakura enteng. Lagi.

Mereka pun melanjutkan acara beres-beres, tiba-tiba muncul seseorang berambut perak dan masker yang menutupi setengah wajahnya.

"Kalian semangat sekali bersih-bersihnya!" katanya sambil tersenyum—yang walaupun tidak terlihat dengan jelas, tapi dari matanya yang menyipit, sudah dipastikan dia sedang tersenyum.

"Ah, Kakashi-san!" sapa Naruto dan Sakura bersamaan.

"Oh iya, Naruto. Tadi ada paket untukmu!" ujar Kakashi sambil tersenyum lagi dibalik maskernya.

Naruto membuka paketan tersebut dan tampaklah sebuah boneka—yang biasa dipakai untuk menyantet orang—bertuliskan namanya, dan secarik surat.

"Apa isinya?" tanya Sakura penasaran sambil mendekati Naruto. Mau ikutan baca suratnya.

"Hei kau lelaki jalang, jangan pernah sekali-kali kau mendekati SasukeKU! Atau kubunuh kau! Apa-apaan ini surat?" kata Naruto sambil membacakan surat tersebut.

Kakashi yang mendengar sepertinya mulai tertarik dengan masalah Naruto.

"Sasuke? Siapa itu? Pelanggan disini?" tanya Kakashi.

"Ya, dia datang kesini beberapa hari belakangan. Dia sempat bermasalah dengan Naruto." Jelas Sakura yang menekankan kata masalah.

"Shut the hell up, Sakura!" semburat merah samar-samar mulai muncul dikedua pipi Naruto.

"Hooh, jadi dia incaranmu, Naruto-kun? Kau nakal juga, ya!" goda Kakashi.

Setelah mereka selesai beres-beres, Naruto dan Sakura pamit pulang pada Kakashi.

Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengikuti mereka tadi semenjak datang ke bar.

Tsuzuku!

Maaf bila kami tidak sempat membalas review kalian semua. Arigatou buat review-reviewnya~