31 Maret 2017

.

Disclaimer:

Naruto ©Masashi Kishimoto™.

Rating : M.

.

Warning: Sebuah Fanfict Dari Imajinasi asli dari Otak Saya. Kosa Kata dan Aturan Menulis masih datar dan banyak kesalahan, Jadi saya mohon nilailah dengan bijak ... OOC!, Bashing!Chara, AU, Not!Shinobi, Military!theme.

.

.

.

Dengarkan saja lagu "Imagine Dragons - Demons" karena lirik makna lagunya sangat pas dengan kondisi keadaan di fict ini.

.

Chapter 3

.

At Torii Station.

Hampir dua jam perjalanan dari rumah orang tuanya dengan kendaraan dinas mewah, kini Naruto beserta tentaranya sudah sampai di Markas utama batalyon satu pasukan khusus, Torii Communication Station. Sampai disana semua tentara berseragam doreng abu-abu lengkap dengan baret hijau menyambutnya dan langsung membantu mengambil dan membawa persenjataan baru yang berada di muatan truk untuk dibawa ke gudang senjata, terakhir adalah satu Tank Abrams yang keluar dari truk besar tersebut dan berjalan menuju barak kavaleri dengan panduan seorang kapten.

Setelah semua selesai para prajurit kembali berkumpul ke lapangan dan melakukan upacara atas kedatangan perwira pemimpin baru mereka, dapat dilihat raut wajah mereka yang lelah dengan aktifitas seharian begitu juga dengan Naruto yang sama sekali tidak istirahat mulai saat dirinya terbang dari Amerika, walaupun seorang tentara tapi yang namanya manusia tentu harus istirahat. Untuk sekarang ia akan memimpin apel malam ini dengan cepat sebelum tidur.

"Terima kasih sudah menunggu dan menyambut saya, saya tahu kalian lelah, karena saya sendiri juga lelah," Ucap Naruto dan membuat semuanya tertawa pelan sembari mengangguk, tentu Naruto sendiri juga tidak menyembunyikan rasa lelahnya, "Untuk malam ini kita sudahi kegiatannya, Sekarang kalian boleh beristirahat, tidur yang nyenyak dan besok kita membantu pasukan lain dalam menyiapkan pameran di Joint base,"

"Siap!,"

Dengan beberapa prosedur Naruto langsung berbalik meninggalkan lapangan, setelah itu komandan peleton langsung membubarkan para prajurit, bagi yang mendapat tugas jaga malam pun langsung menuju pos masing-masing dengan bersenjata lengkap.

.

"Kolonel,"

Naruto yang hendak mengambil koper dalam mobil pun menoleh mendapati satu prajurit wanita cantik berambut hitam yang juga memakai seragam doreng abu-abu menghampirinya, ia menatap heran namun berbeda dengan prajurit perempuan itu yang selalu tersenyum kearahnya.

"Saya bertugas untuk menjadi asisten anda selama anda disini, mari saya akan mengantar anda ke rumah dinas yang akan anda tinggali,"

Naruto menatap perempuan itu dalam diam, dia melihat wajahnya yang ternyata terlihat masih muda dan mungkin berumur sama dengan Karin, kakaknya, Naruto juga melihat pangkat di pundak gadis itu.

'Second Lieutenant?,' batinnya, dan yang membuat Naruto agak takjub dan heran adalah gadis itu merupakan anggota pasukan baret hijau dan dinas di luar Negari, kuat sekali pikirnya karena hampir mustahil ada anggota pasukan khusus yang ada perempuannya akibat tes-tes brutal dalam perekrutan di sekolah pasukan khusus Kennedy.

"Baik, tolong antarkan saya." Naruto hanya menurut, ia tidak tahu siapa nama prajurit tersebut, matanya sudah sedikit mengabur untuk melihat name tag di dada gadis itu akibat sudah mengantuk dan ditambah penerangan lampu dilapangan yang cukup minim membuatnya sedikit sulit untuk fokus, untuk sekarang ia hanya ingin tidur.

"Tapi saya harus mengambil koper dulu."

"Baik," Dengan antusias gadis itu mengangguk,

Setelah mengambil dua koper besar miliknya di mobil Naruto pun mempersilahkan prajurit itu untuk memandunya, gadis itu langsung memimpin jalan dan dengan wajah lesu Naruto mengikuti kemana bawahannya itu berjalan.

Mereka berjalan melewati beberapa rumah dan asrama militer, ternyata base ini sangat luas dengan taman hijau yang cukup indah untuk kategori barak militer. Tak lama kemudian prajurit perempuan itu berbelok disebuah halaman dan berhenti tepat didepan rumah yang lebih besar dari rumah-rumah lainnya.

"Ini rumah dinas anda pak,"

Naruto mengangguk untuk menjawabnya, sedikit meringis dirinya sering dipanggil panggilan seperti itu padahal ia masih muda, "Terima kasih."

"You're welcome sir ... Good night sir!." Perempuan itu tersenyum dan meminta izin untuk untuk pergi dan tak lupa mengucapkan salam.

"Good night soldier," Naruto kembali mengangguk sambil tersenyum, setelah itu prajurit tersebut langsung pergi begitu saja dan entah kenapa dirinya merasa ada yang kurang.

Kolonel itu berjalan dihalaman yang cukup luas menuju teras rumah dan hendak membuka pintu rumah ini.

*Cklek cklek*

". . .?"

"Pantas saja, tidak diberi kuncinya." Gerutu Naruto, ia pun akhirnya duduk selonjoran di lantai dan punggungnya bersandar di dinding yang bercat putih bersih itu, tak peduli jika pakaian dinasnya kotor atau tidak karena yang penting dirinya bisa duduk nyaman.

Naruto duduk termangu, ia berharap bahwa tentara yang agak ceroboh tadi kembali dan memberi kunci rumah padanya, merasa gerah ia pun melepas baret hijau di kepalanya dan diletakkannya disamping, rambut pirangnya ia sibak-sibak leluasa.

Pikirannya kembali menerawang kejadian saat di rumah orang tuanya tadi, ia senang saat ayah dan ibunya masih sehat dan semuanya lengkap namun juga Naruto memang sudah tidak peduli lagi dengan mereka, jujur saja dia tetap membencinya, semuanya, lebih-lebih terhadap saudaranya.

"Tapi kenapa aku merasa aneh ketika Kaa-san memeluk Menma sambil menangis, apa aku iri?,"

Naruto merenung, ia tertawa pelan dan melihat dua telapak tangannya yang kasar.

"Sejak kecil aku bahkan tidak tahu apakah pernah Tou-san dan Kaa-san memelukku atau menangisiku seperti itu."

Naruto menyingkap bajunya lengannya dan terpampang jelas banyak bekas tebasan benda tajam dan kulitnya kering melepuh.

"Ketika Tank yang kutumpangi meledak dan terbakar." menerawang jauh ia teringat dengan salah satu misi yang hampir merenggut nyawanya dan membunuh rekan-rekannya, jika saja Naruto membuka semua bajunya. . .

"Seperti bocah saja minta diperhatikan, heh."

Namun akhirnya ia terbuai oleh semilir angin lembut yang menerpa dirinya dan membuat rasa kantuknya semakin menjadi-jadi, ia membenarkan kembali bajunya, yah Naruto sudah tak peduli, lagi dia bisa tidur dimana saja yang penting tidak mengganggu yang lain.

"Zzz. . ."

Dan akhirnya suara dengkuran halus pun terdengar, sang Kolonel tertidur di teras dengan posisi duduk menyandar di dinding dan di kanan kiri tubuhnya ada koper besar yang menghalau angin yang berlebih.

Hari yang melelahkan bagi dirinya.

.

*Dug dug dug dug*

Tak lama Naruto tertidur, tentara berjenis kelamin perempuan itu berlari dan memasuki area rumah dinas Naruto, ia kembali dan ia menggenggam sebuah kunci ditangannya. Dengan nafas sedikit menderu ia menghentikan larinya saat sudah didepan rumah tersebut dan mendapati pemimpinnya telah tertidur di teras rumah dengan kondisi ala kadarnya.

'Damn!, aku ceroboh.'

'Aku yakin dia akan menghukumku, ditambah dia Kolonel baru disini,' Gadis itu bergidik membayangkan apa hukuman baginya, ia merasa ngeri karena kebanyakan para atasan sebelumnya selalu bertangan besi.

Ia bingung, antara ingin membangunkan Kolonel-nya atau tidak, semua serba salah baginya. Gadis berpangkat Second Lieutenant itu berjalan pelan kearah Naruto, ia menunduk dan melihat perwira menengah itu dengan teliti.

"Astaga, dia masih muda sama sepertiku." Dia terkejut karena sekarang ia dengan jelas dapat melihat figur pengganti Kolonel sebelumnya, ia berpikir sebentar lalu kemudian mengangguk.

"Aku juga akan tidur disini,"

Pemikiran yang aneh sekali, namun dia melakukannya, ia benar-benar mencari posisi yang nyaman untuk tidur dan menemani atasannya di teras dengan berselimut jaket doreng miliknya.

'Lagi pula ini salahku.' Batinnya dan kemudian gadis itu tertidur lelap.

.

.

06.00 AM, kediaman Namikaze.

Pagi yang cerah, ini hari minggu dan semua orang bermalas-malasan dan kebanyakan dari mereka menambah jam tidurnya, namun dipagi hari ini di rumah mewah milik keluarga Namikaze itu sedang sibuk, beberapa maid perempuan yang sudah membersihkan sisa-sisa pesta besar ulang tahun tadi malam.

Kini Nampak Minato dan Kushina sudah berada di ruang keluarga dengan cemilan dan the di meja, bangun pagi adalah kebiasaan mereka sejak lama dan biasanya dihari libur ini Minato dan Kushina hanya bersantai-santai dan tidak memikirkan pekerjaan, namun kali ini Kushina yang membaca sebuah majalah dibuat heran dengan suaminya yang sibuk menyiapkan beberapa barang.

"Kau mau kemana Minato?,"

Minato menoleh, ia tersenyum saat istrinya bertanya, "Hmm yah aku lupa memberitahumu, aku, Kakashi serta istrinya akan melihat pameran senjata di wilayah Torii, kau mau ikut?"

"Torii? agak jauh dari sini dan dekat laut, tidak seperti biasanya, aku agak malas anata." Tanggap Kushina dengan nada agak malas, dokter profesional ini berniat ingin menghabiskan hari minggunya dirumah saja.

"Kau tidak ingin bertemu Naruto lagi?," Tanya balik Minato yang kembali sibuk dengan barang-barangnya.

"Naruto?,"

"Torii itu wilayah militer pasukan khusus Amerika yang sekarang dipimpin Naruto." Jelas Minato yang saat ini membersihkan sebuah kamera, Pria ini tahu tentang itu juga karena Kakashi sudah memberitahu letak dari pasukan AS di Jepang, "Dan kemarin Naruto bilang bahwa dia sebagai salah satu pengarah disana karena ada pameran senjata."

". . . .?" Tak ada jawaban dari sang Istri namun beberapa saat kemudian. . .

*Paaakkk*

Kushina melempar majalah yang dibacanya dan tepat mengenai wajah Minato.

"Kenapa tidak bilang dari kemarin, tentu aku ikut." Seru Kushina antusias.

Eksekutif terkenal itu hanya tersenyum meratapi wajahnya yang memerah karena lemparan majalah dari istrinya, tadi dalam hati ia berharap bahwa ini adalah awal yang baik bagi semuanya.

"Jika mau, ajak Karin dan Naruko, lalu Menma kita biarkan dirinya dirumah dulu untuk istirahat."

Kushina tersenyum sumringah, ia mengangguk menyetujuinya dan soal Menma ia sebagai ibu sebenarnya tidak tega meninggalkannya namun karena anaknya yang satu ini masih sakit akibat dihajar orang maka ia tak punya pilihan dan lagipula Menma sudah besar.

Jujur saja Kushina sangat merindukan Naruto yang dulu dirinya sia-siakan, ia rindu atau senang bukan karena Naruto sudah menjadi orang penting angkatan darat Amerika seperti sekarang tapi ia rindu karena sebagai Ibu, ibu yang dulu tak pernah memenuhi keinginan dari anak ke-duanya, Kushina ingin kembali merangkulnya dan akan memberi apapun yang akan diinginkan Naruto.

"Tapi sebelum itu aku akan membawa bekal banyak untuk kita disana, dan aku akan membuatnya sendiri, semoga ada yang disukai Naruto." Dengan semangat Kushina langsung menuju dapur, Minato serta para maid yang melihatnya pun hanya tersenyum, bagi mereka ini hal biasa saat melihat ibu empat anak itu masih sangat aktif.

.

.

Pagi juga menyelimuti Torii station, wilayah yang dekat dengan laut itu kini mulai kembali beraktifitas. Beralih ke rumah dinas Naruto yang terletak didalam wilayah markas besar batalyon satu.

Secara samar Naruto mulai terbangun dari tidur ketika kulitnya merasakan dinginnya pagi hari di Jepang untuk pertama kalinya dalam kurun puluh tahun terakhir, sejuk.

Matanya mengerjap beberapa kali dan hal pertama yang ia lihat adalah seorang tentara perempuan yang tidur dengan posisi meringkuk tertutupi baju doreng miliknya.

". . . .?" Naruto memiringkan kepalanya, ia heran kenapa perempuan yang ternyata asistennya ini juga tidur dirumahnya dan didepan pula.

Naruto menengok ke jalanan yang ternyata masih sepi, itu membuatnya bernafas lega.

'Untung tidak ada yang melihat, ngawur sekali orang ini.'

Kolonel itu berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang tubuhnya, setelah itu tanpa basa-basi Naruto mendekati gadis tersebut dan menendang kecil kaki si tentara yang masih tidur ini.

"Hmmh," gadis itu hanya berguman pelan.

"Soldier!," Ucap Naruto membangunkan.

". . . ."

Tak ada jawaban, dia masih lelap walaupun Naruto sudah sedikit mengeraskan tendangan di kakinya. Tentu hal ini cukup membuat Naruto sedikit memanas, ia pun menunduk dan menepuk-nepuk pipi putih tentara itu.

"Bangun!,"

". . . .,"

Hilang sudah kesabaran Naruto, ia tidak menyangka ada pasukan khusus dan dia wanita bisa tidur seperti kerbau, ia bisa mati jika ada serangan mendadak.

*Plaakk*

"Eeehh?"

Naruto menampar keras pantat tentara tersebut dan itu sukses membuat sang empunya langsung terbangun.

Gadis itu memposisikan diri untuk duduk lalu mengusap matanya, beberapa detik kemudian ia menemukan sosok tegap yang tengah berdiri didepannya dan sosok itu sukses membuat dirinya langsung membeku.

"Ko-kolonel," Cepat-cepat ia berdiri namun dengan wajah menunduk, sungguh dirinya tak berani untuk melihat wajah dari Naruto.

"Kunci," pinta Naruto tanpa basa-basi dan dengan tetap menunduk tentara itu langsung memberikan kunci rumah yang ia kantongi sedari kemarin.

Naruto menerima kunci tersebut, ia melihat jam tangannya lalu menuju pintu dan membukanya, membelakangi dan tanpa mempedulikan asistennya.

"Kembali ke barakmu, satu jam dari sekarang kembali kesini, kau dalam masalah!."

Bagaikan racun ucapan dari Naruto membuat gadis itu langsung lemas, ia sudah menyangka bahwa dirinya akan mendapat masalah dengan Kolonel ini, dalam hati ia yakin pemimpin yang satu ini punya sifat tak ada bedanya dengan Kolonel yang sebelum-sebelumnya, tangan besi.

"Siap."

Tanpa menghiraukannya Naruto mulai memasukkan barang-barang miliknya hingga tentara itu dengan sendirinya pergi dengan lesu.

.

.

1 jam kemudian.

Terlihat asisten Naruto berjalan sedikit lesu menyusuri jalanan yang menuju kerumah pemimpinnya, gadis yang berprofesi sebagai tentara itu sedikit melamun karena setiap ada tentara yang melewatinya dan memberi hormat pada pun ia hiraukan. Second Lieutenant itu sendiri cukup tinggi dikalangan tentara bawah maka itu hal biasa banyak prajurit yang rata-rata adalah bintara menengah bawah memberi hormat padanya.

Gadis itu melamun karena ia memikirkan apa yang akan terjadi dan hukuman apa yang akan diterima olehnya mengingat dirinya pernah dihukum oleh pemimpin batalyon sebelumnya dengan mengitari wilayah Torii yang sangat luas akibat ia tanpa sengaja menghilangkan kunci gudang logistik, jujur ia tahu bahwa dirinya teledor.

Walaupun begitu ini adalah kesalahannya dan sekarang ia pasti bertanggung jawab karena dirinya adalah tentara dan hatinya sudah terpatri rasa pantang mundur.

Gadis yang sekarang memakai seragam dinas lapangan yaitu doreng abu-abu itu menegakkan kepalanya dan tersenyum mantap, setidaknya jika dihukum mengitari Torii lagi paling ia akan pulang sore dan mengesampingkan tentara-tentara lain yang bersenang-senang dihari libur untuk pameran senjata nanti.

*Kryuuuk*

Memegang lambungnya, ternyata dia lupa sarapan akibat pikiran sedikit tegang, ceroboh.

.

.

*Tok tok tok*

"Masuk,"

Sebuah ketukan pintu terdengar, Naruto sendiri telah duduk santai dan berpakaian dinas resmi hijau dengan kedua lengan baju ia lipat sampai atas pergelangan dan seragam yang sama kemarin malam telah ia letakkan di tempat cucian.

Bicara soal pakaian sebenarnya Naruto sendiri punya banyak setel seragamnya, jujur dirinya agak gerah dengan jas dinas resmi ini yang lumayan tebal dan ia sendiri juga lebih ingin memakai seragam dorengnya yang longgar dan nyaman tapi karena nanti ada hal resmi maka sesuai prosedur ia harus memakai jas resmi pasukan khusus ini.

Kini nampak asistennya berjalan menghampirinya yang duduk di kursi keluarga, dengan tegap ia memberi hormat ke Naruto dan dibalas olehnya.

Dengan kedua tangan menyangga kepala Naruto memandang lurus asisten militernya itu dan yang dipandang sendiri hanya menundukkan kepala.

"Tegakkan wajahmu prajurit, sebutkan nama, umur, asal, Nomor Induk angkatan."

Sedikit lama terdiam setelah Naruto memerintahkan itu dan akhirnya perempuan itu menegakkan wajahnya yang cantik, mata biru agaknya hampir mirip dengan mata Naruto kini menatap terkejut, gugup dan tentunya Naruto sendiri tahu bahwa asistennya ini canggung dan takut dengannya.

Namun Naruto salah, gadis itu terkejut dengan banyaknya luka-luka di kedua lengan Naruto, ia belum pernah melihat banyak luka yang sudah mengering seperti itu, terlalu banyak.

"Siap ... Haruka morishima, New York, nomor Induk US army 2096001," Ia mengucapkannya dengan lantang dan tegas, ia mencoba menghilangkan berbagai pikiran.

Naruto yang mendengar informasi itu menaikkan satu alisnya,

"Kau blasteran?,"

"Itu benar, pak. Ayah dari Amerika dan Ibu dari Jepang."

Naruto mengangguk mengerti, oke setidaknya ia sudah mengetahui siapa asistennya ini ketimbang harus memanggilnya dengan panggilan 'Soldier', dan Naruto masih tertawa miris dalam hatinya karena kata 'pak'.

Naruto menyipitkan matanya, ia melihat rambut gadis itu yang tertutup oleh baret merah tua berlogo panah bayonet dengan tulisan kecil latin 'De Oppresso Liber' itu.

Dan bicara soal warna baret sendiri itu memang benar. 1st battalion di 1st Special force group jika memakai Seragam dinas lapangan maka baret yang dikenakannya adalah baret merah tua dan sedangkan baret hijau sendiri dipakai saat memakai seragam dinas resmi.

"Lepas baretmu."

"Eh?," Haruka sedikit terkejut dengan perintah tersebut.

"Lepas baretmu," perintah Naruto kembali sedikit tegas tanpa ada emosi berlebih.

Tanpa bicara asisten Naruto ini langsung melepas baretnya dan benar dengan kecurigaan Naruto tadi, rambut hitam panjang menjuntai indah di punggung Haruka.

"Rambutmu panjang, harusnya kau tahu standar tentara wanita." tegur Naruto sambil memiringkan kepalanya. Ini tentu tidak normal baginya, yah walaupun ia mengakui bahwa rambut asistennya memang indah.

"Maaf pak, tapi rambut saya tidak mengganggu mobilisasi saya." baik setidaknya Haruka sudah terkena dua pelanggaran namun ia masih tetap mengelaknya, ini rambutnya.

"Begitu, abaikan itu. Sekarang seharusnya kau tahu apa kesalahanmu? dan kenapa kau kupanggil kesini?," Naruto memijat-mijat kedua tangannya bergantian, sedikit meringis sakit ketika pijatannya mengenai bagian luka tertentu. "Aku harus memanggilmu apa? Haruka? Moris? Morishima? atau haru?,"

Haruka menatap Kolonelnya, setetes peluh jatuh di pelipisnya karena sebentar lagi ia yakin akan dihukum berat.

"Kolonel bisa memanggil saya apa saja," jawabnya agak pelan.

"Begitu, baiklah kupanggil tikus saja kalau begitu." ucap Naruto enteng.

Ia tergelak oleh ludahnya sendiri ketika mendengar panggilan seenaknya itu. Baik, ini salahnya sendiri karena tidak tegas dan kini disindir oleh Naruto.

"Haruka, panggil saya Haruka Kolonel, jangan tikus." Seru Haruka tegas, siapa yang mau terima dipanggil seperti itu, apalagi dirinya perempuan dan seorang tentara.

Naruto ber 'oh' ria saja, dan ditatap sebal oleh asistennya namun ia hanya acuh tak acuh.

"Baik, jadi tentara jangan plin plan dan lemas terus seperti itu, kau ku hukum."

Ia sudah bisa menebak jika Naruto akan bilang begitu, cukup tajam bagi dirinya namun itu ada benarnya.

"Siap."

Naruto mengambil sekotak kecil wadah plastik dari bawah, ia pun meletakkannya dimeja lalu membukanya dan didalamnya ada empat buat telur ayam,

Haruka yang melihat itu pun sedikit heran dan bingung, telur untuk apa? hukumannya?

"Kolonel?,"

"Masakkan semua telur ini, aku belum makan, itu hukumanmu,"

"Eh?," Ia tersentak mendengar hukumannya yang aneh, baik sekarang ia harus menerimanya ketimbang pemimpinnya berubah pikiran, "Siap."

Naruto menyodorkan kotak itu dengan tangan kanannya ke Haruka dan asistennya itu hendak menerimanya, namun apa yang dilihat Haruka? kotak tersebut bergetar pelan dan ia pun melihat tangan Naruto yang gemetar.

Sementara Naruto yang tahu asistennya menatap tangannya pun akhirnya ikut melihat tangannya dan ia pun menghela nafas.

"Kolonel, anda tidak apa-apa?" tanyanya dengan pandangan khawatir.

"Jangan dipikirkan, ini hal biasa." ucap Naruto memberitahu sambil tersenyum.

"Tapi Kolonel—," Ia tidak percaya dengan ucapan itu.

"Dapur ada di ruangan belakang, Letnan."

Mendengar selaan itu tanpa basa-basi dan tidak ingin mengganggu Haruka langsung mengambil kotak berisi telur tersebut dan menuju dapur dengan banyak pertanyaan dipikirannya tentang Kolonel barunya.

Dalam diam Naruto yang kini sendiri pun hanya memandang tangan kanannya yang gemetar cukup cepat, tangan kiri langsung menggenggamnya dan meremas lalu mencoba memijatnya dengan pelan dan melakukan kontrol pernafasan, penyakit tremor miliknya kambuh lagi. Miris ketika masih muda dirinya mendapat gangguan syaraf tangan seperti ini.

efek dari tremor miliknya ini jika kambuh adalah jantung akan terpacu agak cepat mengikuti getar ditangan kanannya, sangat tidak nyaman bagi Naruto.

Naruto mendapat penyakit ini akibat tangan kanannya ini sering memukul atau terhantam sesuatu yang keras, lebih fatal syarafnya terkena sekitar lima tahun lalu, tapi getar ditangannya ini akan sembuh sendiri jika dipijat, hanya sekali saja dirinya ke rumah sakit militer untuk mengetahui diagnosa, ia tak pernah mengecek ataupun berkonsultasi ke dokter dan sekarang tensi penyakitnya ini sering datang berulang kali ketimbang dulu-dulu yang jarang terjadi.

.

Beberapa menit kemudian Haruka datang dengan sepiring besar dengan telur dadar matang, ia pun meletakkannya dimeja didepan Naruto yang sibuk dengan tasnya

"Ambilah piring satu lagi." perintah Naruto yang mengambil sebuah botol dan ternyata itu adalah sebotol mayonaise putih, ia pun membukanya.

Tanpa bicara Haruka mengangguk dan langsung mengambilnya dari belakang, tak lama kemudian ia kembali dan meletakkannya dimeja.

"Ambil dua telur dan makanlah, aku tahu kau belum sarapan." Ucap Naruto seraya memulai acara sarapannya tanpa memandang asistennya yang hanya mematung diam.

"Tapi Kolonel—,"

"Kau suka sekali membantah, letnan." potong Naruto sembari memasukkan potongan telur kemulutnya dengan garpu, "Dan ada mayonaise sebagai tambahan."

Jujur Haruka terkejut dengan ini semua, ia tak menyangka jika Kolonelnya sangat baik dan sangat jauh dengan gambaran dikepalanya, namun tentu ia masih merasa tidak enak karena sudah memikirkan hal jelek sebelumnya.

'Selama aku bertugas disini, baru ini aku mendapatkan Kolonel seperti ini,' batinnya senang.

"Baik." Ia tersenyum canggung.

Malu atau tidak gadis itu mengambil dua telur dan mayonaise, Haruka sendiri memang belum mengisi perutnya dari pagi, mereka berdua pun memakan sarapan paginya dengan tenang.

"Mmm, enak ya haha." ucap Naruto sambil tertawa cerah dan Haruka sendiri mengangguk dan tersenyum canggung untuk menanggapi Naruto yang begitu ramah.

Adaptasi pagi pertama bagi Naruto di Jepang dengan asistennya yang memang sangat cantik namun sedikit ceroboh.

.

.

09.00 AM at Joint Base.

Ramai, itulah yang terlihat di tempat yang merupakan gabungan US Army dengan US Navy yaitu Joint base, namun faktanya angkatan darat di Jepang itu hanyalah 1st Battalion US army special force yang dipimpin oleh Naruto dan satu camp army di wilayah kota Naha sedangkan US Navy dan US Marine memiliki banyak serdadu disini bahkan satu divisi Marinir Amerika ditempatkan di Jepang yaitu 3rd Marine division, dari 51.000 tentara Amerika di Okinawa 47.000 lebih diantaranya adalah pasukan Navy dan Marine sementara army hanya sekian ribu saja, itu memiliki perbandingan 1:4 diseluruh jajaran.

Joint base memiliki tiga gedung sangat besar dengan sistem terbuka dan lapangan dengan pohon yang sangat luas, biasanya dipakai untuk rapat dan latihan kini terisi berbagai stand pameran senjata, artileri, rudal, Main battle tank dan beberapa heli. Tiap stand pun dijaga oleh dua tentara berpakaian jas hitam berkacamata.

Lebih dari ratusan senjata berbagai tipe dipajang, puluhan artileri besar kecil dan rudal terpasang, dan puluhan Tank berat terparkir rapi, semua dipakai untuk pameran dan saat ini sangat banyak warga domestik maupun asing yang melihat-lihat dari untuk menambah ilmu kemiliteran, berfoto maupun hal lain yang menurut mereka menyenangkan disini.

.

Minato beserta keluarganya sekaligus Kakashi dan istrinya kini sudah berada di Joint base setengah jam yang lalu, mereka kini asyik berjalan-jalan untuk melihat-lihat.

Mereka semua memakai pakaian formal dan sopan, tak terkecuali Kakashi yang saat ini juga hanya memakai pakaian normal karena dirinya libur bertugas.

Bagi Minato atau lainnya ini merupakan pertama kalinya mereka melihat pameran senjata-senjata pemusnah seperti ini, sering ketika melihat sebuah benda Minato maupun Kushina tak segan untuk bertanya secara rinci ke Kakashi yang notabene memang sudah paham dengan ini semua.

Bagi Kushina dan Karin ini adalah pertentangan dalam batin, mereka berdua adalah Dokter dan sekarang mereka melihat secara dekat teknologi yang sangat canggih dan sayangnya dipakai untuk menghilangkan nyawa manusia, hatinya semakin terpuruk ketika sadar jika Naruto berjibaku dengan hal bahaya seperti ini.

Sementara itu Naruko sendiri terlihat cuek namun tetap saja ia kagum dengan ini semua, sesekali banyak orang yang memintanya untuk berfoto bersama, wajar karena dirinya adalah model yang saat ini karirnya sedang meninggi.

Dan semuanya secara kompak mencari keberadaan Naruto yang sampai sekarang belum muncul, mungkin karena luasnya tempat pameran disini. Mereka yakin sebentar lagi mereka akan bertemu dengan Naruto kembali, lebih baik mereka melihat tank-tank yang saat ini mereka memang berada di area pameran Tank.

.

Tak jauh dari keluarga Namikaze sendiri, ternyata Naruto juga berada di area Tank dan dia tidak sendiri, Naruto kini berjalan berdampingan dengan dua perwira lain seperti dirinya dan beberapa asisten masing-masing dibelakang mereka, namun jika dilihat dari pakaian dan topi yang dikenakan mereka berasal dari Marine dan Navy.

Diantara dua orang yang mengapit Naruto sendiri juga seorang Kolonel dengan logo silver eagle di pundak, tiga Kolonel dari tiga matra darat, laut, dan amphibi kini berjalan berdampingan untuk mengontrol jalannya pameran. Mereka saling berbincang dan sesekali mengeluarkan candaan yang langsung dibalas gelak tawa oleh yang lain dan bahkan para asisten mereka juga ikut tertawa namun pelan.

Bedanya dari ketiga Kolonel itu hanya Naruto saja yang masih sangat muda dan yang lainnya susah terlihat seperti bapak-bapak, abaikan itu. Naruto sendiri selalu menghormati seniornya tanpa memandang pangkat.

.

Melihat tiga orang penting dengan para asistennya tentu membuat para mengunjung membuka jalan dan tersenyum, sementara Minato, Kushina, Karin, Naruko, Kakashi serta Shizune akhirnya menampakkan wajah sumringah ketika melihat Naruto berjalan berdampingan dengan perwira angkatan lain dan bahkan sering beberapa paparazi lokal atau internasional mewawancarai ketiga Kolonel ini.

Kushina ingin memanggil Naruto namun sebelum bersuara mereka berdua diinterupsi oleh suara Kakashi. . .

"Kushina-san sebaiknya jangan mengganggu Naruto dulu karena dia sedang sibuk mengawasi pameran dengan perwira lain."

Sebenarnya Kushina tahu akan hal itu tapi apa daya dirinya ingin segera mendengar kembali suara putranya, dan kemarin malam ia juga tidak membalas sapaan Naruto ataupun peduli, Kushina takut jika hal itu memberi sinyal bagi Naruto jika dirinya masih seperti dulu, ibu yang menelantarkannya dan membiarkannya.

"Aku mengerti Kakashi," Kushina berkata lirih dan agak menunduk.

Sementara Minato yang melihat itu pun tersenyum lembut, ia membelai pelan rambut istrinya, "Bersabarlah. Bukan kamu saja, aku, Karin, Naruko atau Menma semua sama-sama memiliki dosa besar pada Naruto."

Karin dan Naruko mengangguk, kakak adik ini sudah dewasa dan mereka tahu perselisihan rumit seperti ini akan lama berbaikannya, maka dari itu secara perlahan mereka akan melelehkan hati Naruto, dengan cara apapun.

Kakashi serta Shizune sendiri sudah tahu masalahnya dan hal itu mereka tak bisa banyak membantu karena itu merupakan masalah internal keluarga.

.

Beralih ke Naruto yang masih berjalan dan memang arah mereka mendekati tempat ayah ibunya,

Dan ketika Naruto berada tepat di samping Keluarganya pun dirinya masih belum sadar dengan keberadaan mereka karena mata fokus dengan perbincangan dan ini terlihat seperti Naruto mengacuhkan lainnya,

Namun Karin yang melihat itu pun memegang lengan kirinya dan sukses membuat Naruto tersentak kaget dan terhenti, ia melihat Karin Kakashi, Shizune serta Keluarganya kecuali Menma berada tepat disamping dirinya,

Bukan Naruto saja, kini semua rombongan juga ikut berhenti dan langsung menatap Keluarga Namikaze dengan heran.

Naruto sendiri pun menghela nafas pelas, ia tersenyum kearah dua Kolonel mitranya,

"Maafkan saya Kolonel, mereka tamu saya, bolehkah saya berpisah disini?." Naruto pun berinisiatif untuk tidak melanjutkan mengawasi pameran bersama kedua Kolonel laut dan marinir itu.

"Tidak apa-apa santai saja Kolonel Naruto. Baiklah, kami pergi dulu." jawab salah satu diantara mereka.

"Kita lanjutkan nanti cerita orang yang memakan sepatunya sendiri itu, hahaha." Celetuk Kolonel dari divisi Navy.

"Hahaha tentu, terima kasih," Naruto tersenyum dan para rombongan pun kembali berjalan menjauh.

Haruka yang berada di rombongan belakang pun secara otomatis juga berhenti dan dirinya berdiri disamping kiri Naruto dan menatap tegas keluarga Namikaze, Kakashi maupun Shizune secara bergantian, ini tugasnya sebagai mata protector Naruto.

"Aku yakin Kaka-nii pasti kesini, senang sekali," Naruto melempar senyum sapa ke Kakashi dan istrinya, ia kemudian memandang ayahnya dan lainnya, "Aku tidak menyangka Tou-san juga membawa seluruhnya kecuali Menma."

Kakashi tersenyum semangat, sementara Kushina, Karin maupun Naruko malah kembali canggung dengan hal ini.

"Tou-san tahu maksudmu Naruto, Menma masih sakit akibat kemarin." dengan nada menenangkan Minato menjawab perkataan Naruto yang terdengar biasa namun provokatif.

"Kaa-san ingin berbincang denganmu Naru," Ucap Kushina langsung dan dianggukkan oleh Naruko maupun Karin.

Sementara Naruto yang mendengar Ibunya berkata untuk pertama kalinya pun menuruti permintaannya, walaupun sebenarnya ia tidak mau.

"Tak jauh dari sini ada tempat untuk istirahat, bagaimana kalau semuanya kesana," ucap Naruto, lagipula berbicara di jalur lalu lalang seperti ini sangat tidak sopan.

"Begitukah? boleh itu, kebetulan perutku masih lapar." Kakashi setuju dengan hal itu, namun kemudian tatapannya beralih ke Haruka yang berdiri tegak dibelakang Naruto, "Sebelum itu, siapa tentara cantik dibelakangmu ini."

Semua mata teralih kearah Haruka yang terlihat tegas namun agak gugup malu karena ada yang memujinya, namun itu tertutupi oleh postur tegapnya. Sementara Naruto pun juga menoleh ke asistennya.

"Perkenalkan dirimu!," Perintah Naruto sambil tersenyum dan dijawab anggukan oleh Haruka.

"2Lt Haruka Morishima, 1st battalion SF, asisten pribadi Kolonel Naruto."

"Mayor Kakashi, 14th artilery division Japan, salam kenal, dan ini semua adalah keluarga naruto."

Semua tersenyum memandang Haruka, dengan ini mereka tahu siapa gadis tentara ini.

"Saya ayahnya, ini Ibu dan saudari-saudarinya Naruto." Ucap Minato sambil menjelaskan siapa saja disini.

"Siap, bagi saya ini adalah kehormatan bisa bertemu dengan keluarga atasan saya." Jawab Haruka mantab, ia merasa nyaman dengan suasana disini walaupun dirinya heran karena merasa ada nada tidak suka yang didengungkan oleh Naruto tadi pada keluarganya

Mereka pun berjalan menuju tempat yang dimaksud Naruto, sesekali mereka berbincang-bincang namun Naruto lebih banyak berdialog dengan Kakashi ketimbang keluarganya.

.

"Itu tempatnya."

Akhirnya mereka sampai di sebuah tempat istirahat dibawah pohon lengkap dengan kursi meja bundar permanen disana, cukup luas.

Mereka pun akhirnya duduk dengan santai untuk melepas lelah, terkecuali asisten Naruto yang tetap berdiri dan itu membuat Naruto sedikit jengkel.

Ia pun memerintahkan Haruka untuk duduk disampingnya dan seperti biasa Haruka merasa enggan namun ujungnya dirinya menuruti perintah Naruto, dengan hal itu saja membuat semua tertawa pelan dengan ulahnya.

"Naru-kun, bagaimana kabarmu?" Ucap Kushina membuka percakapan.

Sementara Naruto menatap Ibunya secara sopan, "Baik Okaa-san."

Naruto yang merasa sedikit penat pun melepas baret dikepalanya dan diletakkan dimeja.

Kushina tersenyum lembut ketika Naruto tidak menunjukkan rasa tidak sukanya, tapi dirinya tahu jika putranya ini membencinya.

"Syukurlah," entah kenapa Kushina merasa Naruto tidak berminat berbicara dengannya, ditambah ia merasa canggung berbicara dengan putranya sendiri.

Kushina menatap Kakashi serta Shizune dan mereka yang tahu arti tatapan itu pun langsung mengerti, namun Naruto yang paham betul dengan kode amatir maupun rahasia pun mengetahuinya.

"Ah aku lupa membeli manisan untuk Shizu, Minato-san, Naruto aku pergi sebentar, ayo Shizu!" Dengan santai Kakashi mengajak istrinya yang menurut saja dan mereka berdua menjauh.

Dan kini hanya ada keluarga kecil Namikaze yang duduk disini, menikmati semilir angin yang menyejukkan.

"Naru, apa kau membenci Tou-chan Kaa-chan?"

Suasana langsung hening ketika Kushina mengucapkan hal itu, semua terdiam tak terkecuali Haruka yang merasa seharusnya dirinya tidak berada disini karena hal pribadi, Kakashi dan Shizune sendiri sudah tahu karena sudah diceritakan oleh Minato maupun Kushina secara total dan maka dari itu mereka diam.

Tahu akan arah pembicaraan ini Naruto pun mengode Haruka agar ia memberi waktu pribadi dengan keluarganya, dan tanpa membantah Haruka pun pergi dari sana.

"Tidak, aku tidak membenci kalian." jawab Naruto lugas setelah melihat Haruka sudah jauh. tanpa menatap Kushina, Naruto kembali berucap, "Okaa-san, apa yang membuatmu menyangka begitu?,"

Naruto memainkan kedua telapak tangannya.

"Kau berbicara begitu dan itu malah membuat hati Kaa-chan lebih sakit," Kushina menatap nanar Naruto yang sama sekali tidak memandangnya, "Aku tahu kau marah dan benci, kau memanggil ibumu sendiri begitu formal seolah kita sama sekali tidak dekat."

Naruto melirik Kushina, "Maaf Okaa-san, yang kuingat dari awal aku sama sekali tidak dekat dengan semua yang ada disini kecuali Kaka-nii."

Dan kalimat itu menbuat Kushina maupun Minato tersenyum getir. Sementara Naruto kembali memainkan brevet miliknya.

"Onii-sama, kita semua adalah keluarga, tolong jangan seperti itu."

Naruto menoleh kesamping kiri dan kini disebelahnya sudah duduk Naruko yang menatab dirinya.

Agak lama Naruto memandang Naruko, ia tidak menyangka adiknya kini terlihat sangat cantik dengan pakaian semi-sport berwarna merah kehijauan yang kini dikenakannya, sudah lama ketika naruto pergi dari Jepang.

Dan Naruko yang ditatap lama seperti itu langsung menunduk, jujur dirinya takut dengan Naruto yang sekarang karena ia tahu dimata kakaknya kini tak ada lagi kata 'mengayomi' seperti dulu, dulu saat dirinya merendahkan Naruto.

"Seharusnya memang tidak begitu, yah senang sekali ini pertama kalinya kau memanggilku dengan hormat."

Naruko hanya diam dan tetap menunduk, apa yang dikatakan Naruto memang benar dan itu menyakitkan, ia tahu ia salah dan tidak seperti dulu Naruko tidak ada niat untuk membantah atas ucapan Naruto, ia harus menurut.

Naruto yang melihat semua itu merasa heran sendiri, ia merasa semuanya berubah terhadap dirinya, Naruto yakin bahwa dirinya sudah ketinggalan sesuatu terhadap keluarganya ini semenjak ia dijauhkan oleh mereka sendiri.

"Bagaimana dengan karir Otou-san dan Okaa-san? dan yang lain." tanya Naruto memecah keheningan yang terjadi.

"Semuanya baik-baik saja Naruto, ibumu sendiri sekarang sudah menjadi salah satu dokter terbaik di Jepang, kakakmu juga begitu, Menma di perguruan tinggi dan Naruko sama dengan Menma dan dia juga menjadi model perempuan." Minato menjelaskan semuanya yang kemudian dianggukkan oleh Kushina dan Karin.

"Hmm itu kabar yang baik, dan aku yakin semuanya bahagia." respon Naruto positif seadanya, ia tersenyum dengan itu semua.

"Tidak, kami kekurangan dirimu." tolak Kushina yang menatab Naruto dengan sendu, saat ini Kushina ingin sekali memeluk putranya agar ia bisa meluapkan semua kesalahannya, tapi itu sulit.

"huh?" Naruto bingung dengan itu.

"Bagaimana kabar Onee-san, Naruto?" tanya Minato balik.

"Obaa-chan? mm dia baik-baik saja dan sekarang sudah menikah dengan dengan seorang tentara sepertiku," ucap Naruto agak terkekeh, ia kemudian menatab Kushina dan tersenyum, "Obaa-chan sendiri juga menjadi Dokter sepertimu Okaa-san, dia profesional dan malah menjadi dokter khusus Departemen Pertahanan Pentagon."

Mendengar Naruto seantusias begitu saat menjelaskan bibinya membuat semuanya malah terpuruk karena Naruto hanya merespon biasa saja dengan keadaan mereka saat ini, terlebih Kushina yang merasa sakit saat putranya melebihkan kakaknya ketimbang dirinya, tapi ia tak mampu menyangkalnya.

Secara tak langsung sikap Naruto memberi serangan psikis pada keluarganya, Naruto membenci tapi ia memberontak dengan cara psikologis dan itu menyakitkan.

"Naru. . .-"

*Lit let lit let lit lit let*

Ucapan Karin terinterupsi oleh suara nada aneh.

"Ah sebentar, teleponku berbunyi." Naruto dengan cepat merogoh saku celananya dan mengambil sebuah handphone model jaman lama.

Sementara Karin atau Kushina tertegun melihat model alat komunikasi itu, mereka yakin itu ponsel Naruto disaat dirinya masih di Jepang dulu, ponsel yang hanya bisa dipakai untuk telepon dan berkirim pesan saja.

Sepintas masa lalu terngiang dalam pikiran mereka dimana Naruto meminta sesuatu dan selalu ditolak oleh Kushina dan dicemooh oleh Karin, hal itu membuat Naruto harus mencukupi kebutuhan dirinya sendiri.

"Halo?"

". . . . . ."

"Kadena airbase? kenapa Obaa-chan kesini?."

Kushina maupun Minato tersentak mendengar kata Naruto, mereka pun kembali mendengarkan.

". . . . . ."

"Oooo hahahaha aku lupa membawanya, ya ampun aku sudah menduga anak itu akan nekat kesini."

". . . . . . ."

"Paman andrew tidak ikut?"

Dan semua menebak jika andrew adalah suami dari bibi Naruto.

". . . . . . ."

"Oh.. Siap, Kadena dengan Torii paling hanya satu setengah jam kendaraan darat, aku tunggu Obaa-chan."

Naruto memutus sambungan teleponnya dan kemudian menghela nafas. Langsung saja Kushina pun ingin bertanya, bahkan Minato yang ingin berbicara pun langsung mengurungkan niatnya.

"Apa onee-san mau kesini Naru?"

Naruto mengangguk mantab, "Iya Okaa-san,"

"Kau tahu Naru, sikapmu seperti ini membuat hati kaa-chan sakit," ucap Kushina jujur, baru kali ini ia merasa seperti ini.

"Aku tidak merasa menyakiti Okaa-san." jawab Naruto simpel.

"Maafkan kami, Kaa-chan tahu kata maaf belum tentu membuat semuanya berubah." ucap Kushina lemah, setetes airmata turun ke pipinya.

Berbeda lagi dengan Naruko yang saat ini malah menangis sesenggukan disamping Naruto dan Karin yang hanya menunduk saja.

Sementara Naruto yang melihat itu hanya diam dan tak ingin menjawab apapun, jujur saja hatinya menolak semua penyesalan dari semuanya.

"Naruto, kau seorang pemimpin militer dan tou-san juga seorang pemimpin perusahaan, itu cuma beda instansi, kau di garis keras sementara Tou-san di garis lembut tapi semuanya sama dalam kepengurusan tou-san yakin kau bijak dalam permasalahan." Minato menengahi pembicaraan, ia juga sedih melihat keluarganya terkena hukum karma seperti ini, dan uang banyak yang dimiliki mereka pun sama sekali tak bisa membantu.

Naruto diam mendengarkan, ia tahu akan hal itu.

"Tolong pertemukan kami dengan Onee-san, Tou-san dan Kaa-san ingin meminta maaf padanya." tambah Minato secara serius, ia yakin kakaknya mungkin juga akan membencinya, bahkan lebih. Kushina pun akhirnya juga mengangguk setuju.

"Tentu, tapi mohon nanti dimengerti, Obaa-chan lebih tidak suka dengan kalian semua, kita bisa menunggu di rumahku." Naruto mengusulkan hal tersebut dan semuanya mengangguk.

"Tidak apa-apa, kami akan menanggung semua, dan Kaa-chan membawa banyak makanan yang Kaa-chan masak sendiri, Kaa-chan mohon kau mau memakannya nanti. Kita akan makan bersama Kakashi juga." ucap Kushina memberitahu Naruto dan ia sangat berharap putranya mau memakan dan merasakan masakannya untuk pertama kalinya, iya pertama kalinya.

"Baik, dengan senang hati aku akan memakan masakan Okaa-san." jawab Naruto tanpa menolak sedikitpun permohonan ibunya. Kushina sendiri tersenyum puas dengan respon Naruto.

.

Mereka kemudian berbincang-bincang santai, kebanyakan Kushina dan Minato yang bertanya ini itu ke Naruto dan dijawab ringkas olehnya dan sementara Karin serta Naruko hanya diam mendengarkan karena kalah dengan orang tuanya.

.

.

.

.

"ONII-SAMAAAAA!"

Semua orang memandang asal suara nyaring tersebut, begitu juga dengan Naruto sekeluarga.

Ketika Naruto menyipitkan matanya ia pun dapat melihat seorang gadis berambut pirang panjang dan sekitar berumur 20 tahunan yang membawa koper besar dan ia sendiri terkejut bahwa asistennya Haruka bersusah payah memegang orang tersebut.

ditambah gadis itu terus menunjuk-nunjuk arah Naruto dan hal itu membuat bingung bagi Minato dan lainnya namun itu berbeda dengan Naruto yang membalikkan posisi duduknya dan tertawa renyah melihat kelakuan itu.

"ONII-SAMA, KENAPA TERTAWA? TENTARA SOK CANTIK INI MENGGANGGUKU!"

"SIAPA YANG SOK CANTIK, PIRANG?!, MUNGKIN KAU SALAH ORANG, KOLONEL BUKAN KAKAKMU."

Dan hal itu malah dihadiahi gelak tawa oleh Naruto dan membuat semua heran melihat tingkahnya.

Naruto menghentikan tawanya, ia senang, terkejut dan setengah marah karena ternyata gadis yang memakai pakaian sopan dan membawa koper itu adalah adiknya dari Amerika yang nekat datang sendiri ke Jepang. Naruto tahu karena tadi diberitahu bibinya lewat telepon tadi, dan itu juga sebabnya dia mau kesini.

Naruto tidak menyangka jika adiknya tiba sangat cepat dan ia perkirakan adiknya berangkat dengan pesawat malam, kemungkinan setelah diberitahu oleh paman Andrew.

'Yah, kukira paman andrew mampu menahannya, ternyata tidak.' pikir Naruto

Haruka yang masih memegang erat gadis itu pun menatap Naruto dan ternyata Naruto menganggukkan kepalanya, mengetahui itu Haruka pun melepaskannya yang dengan cepat gadis itu berlari kearah Naruto dengan mengabaikan kopernya yang ditinggal begitu saja disamping perempuan berpangkat Letnan dua tersebut.

Mau tak mau Haruka pun mengambilnya dan membawanya mendekat.

*BUUGH*

Dengan cepat gadis itu langsung menerjang memeluk Naruto dan membuatnya hampir terjengkang kebelakang jika saja Naruto tidak kuat menahannya.

"Seperti anak kecil, teriak-teriak seperti itu." kata Naruto sambil membalas pelukan gadis itu.

"Hanya terhadap Onii-sama saja," jawabnya sembari kepalanya menelusup ke lekuk leher Naruto dan menghirup harum khas darinya.

Sementara itu semuanya hanya diam karena masih bingung dengan hal ini, saat ini mereka lebih baik melihat dan mendengar tanpa berkomentar soal pemandangan yang mereka lihat saat ini.

"Kenapa nekat kesini?, bagaimana sekolahmu." tanya Naruto ia ingin melepas pelukan adiknya namun ternyata pelukannya sangat erat, hal itu membuat Naruto memakluminya dan pasrah, "Astaga, kau membuat seragamku kusut."

"Aku tak peduli, sesuai janjiku sejak awal aku akan mengikuti langkah Onii-sama kemanapun Onii-sama pergi," jawabnya sambil menikmati rambut pirang panjangnya yang di elus lembut oleh Naruto, "Dan sekolah aku akan pindah disini juga."

"Seharusnya aku bisa menebak jika kau akan bilang begitu, jangan diulangi lagi hal seperti ini, kau membuat semuanya khawatir." tukas Naruto mengetuk-ngetuk punggung lalu dijawab deheman dan anggukan pelan oleh adiknya yang menikmati pelukan hangat ini, "Ayo perkenalkan dirimu pada semua yang ada disini, ini keluarga Onii."

Tanpa disadari oleh Naruto dan lainnya di leher Naruto ekspresi gadis itu langsung mengeras dan rasa senangnya memudar ketika mendengar itu. Ia melepas pelukannya dan menatap datar kearah sekeliling yang dimaksud.

"Perkenalkan, Shina Mashiro, 20 tahun, adik Onii-sama yang akan terus menyayanginya dan akan selalu berada disampingnya." ucapnya agak dingin.

Sementara Naruto yang melihat raut wajah dan mendengar perkenalan nyeleneh adiknya itu pun mengerutkan alisnya, bingung.

berbagai ekspresi ditunjukkan oleh Minato, Kushina dan lainnya akibat perkenalan yang entah disengaja itu menyindir mereka, yang lebih menonjol adalah Naruko dan Karin yang menatap Shina yang mengaku adik Naruto dengan tajam.

Terkejut

heran

dan lebih utama apa yang dirasakan Karin dan Naruko adalah iri, iri dengan kedekatan Naruto dan Shina yang begitu erat.

.

.

.

.

TBC

Profil:

Name: Shina Mashiro

Age: 20 th

gender: Female

Statue: Female student university.

.

Name: Haruka Morishima.

Age: 26 th.

Gender: Female.

Statue: US army SF / 2Lt assistant Colonel Uzumaki Naruto.

.

.

Author Notes: hallo, salam hangat dari saya. mohon maaf atas lamanya update. terima kasih atas review nya.

Baik untuk pertama adalah sifat Naruto yang normal namun secara psikologi dia menyampaikan kebenciannya terhadap keluarganya. saya buat begitu karena Naruto adalah pasukan khusus yang terlatih akan mental.

Kedua adalah asisten Naruto yaitu Haruka Morishima, ia adalah karakter dari anime Amagi SS dan itu adalah permintaan dari seseorang dan akan saya buat OOC sesuai porsi fict ini.

Dan ketiga adalah adik Naruto, Shina Mashiro. itu juga karakter dari anime sebelah yang saya buat menjadi adik angkat Naruto disini. Stories nya akan muncul di chapter depan.

Baiklah itu ulasan dasarnya, dan ini adalah awal dari konflik.

.

Soal review terima kasih atas masukan dan sarannya, itu sangat membantu. Namun saya tidak suka dipuji, pujian membuat orang tinggi rasa, pujian hanya untuk Dzat yang Agung.

Dan terima kasih atas review umpatan dan cemoohnya, saya senang sekali, itu sangat membantu mengurangi dosa saya. Saya tidak mau membalasnya, biar Allah SWT yang bertindak terhadap kalian.

Soal lama update saya mohon maaf, ini karena saya diuji Allah dengan suatu gejala penyakit bernama Defisiensi B12 dan gejala gangguan organ vital kedua bagi tubuh. saya tidak mau menjelaskan penyakit saya, silahlan cari sendiri maksudnya di mesin pencari.

Terima kasih sudah mau bersabar menunggu fict ini, saya usahakan untuk menyelesaikan semua fict saya. Do'akan saja yang baik.

itu saja, salam senyum hahaha.

.

Special thanks to Allah SWT

Sampai jumpa.