MARK X RENJUN

.

I'M OKAY, BABE

.

AUTHOR SIDE

.

.

Satu persatu anggota NCT Dream menuruni panggung. Renjun turun setelah Jeno. Matanya memandang Mark yang sudah memegang payung sambil merangkul Chenle. Renjun ingin mendekat namun lebih dulu dirangkul Jeno. Sedangkan di belakang, Haechan dan Jaemin tampak khawatir dengan Jisung yang memegangi punggungnya.

"Senyum, Injun-a. Ingat kalian merahasiakan hubungan ini.." Jeno dengan cepat berbisik pada Renjun.

Renjun melepas rangkulan Jeno. "Menurutmu akan ada yang mencurigai kami jika aku bersikap khawatir dengan leader group?"

"Tatapan khawatirmu berbeda dengan milik Jaemin pada Jisung. Setabu apapun hubungan kalian, beberapa orang tetap bisa menyimpulkan hubungan kalian sebenarnya. Hargai kami yang berusaha untuk tetap merahasiakan hubungan kalian.." Jeno menarik pundak kecil itu kembali. "Tersenyum!" seperti perintah mutlak dari Jeno.

Renjun menghela napas kasar, mengikuti langkah Jeno untuk menuju ruang ganti NCT. Renjun merubah ekspresi wajahnya. Tidak terlihat amarah yang tertahan, senyumnya merekah indah dan melambai kepada penggemar. Renjun terlihat seperti anak kecil dan Jeno seorang penjaga balita paruh waktu.

Jeno membuka pintu ruangan mereka. Renjun masuk lebih dulu disusul Jeno.

"Bukankah sudah ku katakan untuk memperhatikan sepatu mereka. Lantainya pasti licin. Haruskah kami jatuh berkali-kali dulu baru kalian menyadari kesalahan kalian lagi?!" Doyoung sudah mengamuk kepada salah satu penata pakaian NCT.

"Yang lain tidak memliki masalah. Ini kesalahan pada cuaca yang tidak terprediksi, Doyoung-a.."

Doyoung menghela napas. "Tapi setidaknya noona bisa mengatasi dengan sepatu kami.." suara itu terdengar frustasi.

Jaehyun mendekati Doyoung, menarik pundak Doyoung dan berjalan menjauh. "Noona, mian.."

Wanita itu tersenyum membalas nada bersalah Jaehyun. "Santai saja, Jae.."

Di sisi lain, Tayeong, Taeil dan Johnny sedang merapatkan sesuatu dengan beberapa maneger mereka. Pembicaraan yang sedikit lebih tenang dari Doyoung.

"Kau baik-baik saja?" Ten mendekati Mark yang kini duduk di salah satu kursi.

"Aku baik.." Mark menjawab, sekilas menatap Ten. Kini tatapannya terpusat pada Renjun yang mengkhawatirkan Jisung bersama Jaemin dan Haechan.

"Kita kehilangan pasangan.." Ten menyikut lengan Mark.

Mark terkekeh pelan, tangannya tanpa sadar mengusap lutut dan meregangkan tangannya.

"Sakit?"

Mark menoleh pada Ten. "Tidak. Aku baik-baik saja. Ini juga kesalahanku. Sepertinya Jisung lebih parah. Berhati-hatilah di panggung nanti, Hyeong.."

Di bagian lain, Jisung sudah mendorong Renjun menjauhinya. "Pergilah ke sana. Hyeong tidak mengkhawatirkanku sama sekali.."

"Bagaimana aku tidak khawatir padamu, hah?! Kau memegangi pinggang dan bahumu. Ingin rasanya aku menarikmu langsung turun panggung!" Renjun tidak bisa menurunkan nadanya sekarang.

Jisung menganggukkan kepalanya sambil menahan tawa "Sudah ada Nana dan Donghycuk hyeong di sini. Sana pergi…" Renjun mendorong Renjun. "Lagi pula aku hanya terpeleset.."

"Kau urus anak ayam nakal ini, Na.." mata indah Renjun menatap kesal Jisung yang tersenyum lebar.

Ten menepuk pundak Renjun "Dia memintamu ke sana.."

"Ten hyeong menurut disuruh Mark hyeong?" Jisung berseru heboh.

Ten manatap malas si kecil yang menyengir tak bersalah ini. Ten menepuk pinggul Renjun. "Pergi ke sana.."

Renjun berjalan mendekati Mark, berhenti tepat di depan pemuda itu duduk. Mark menepuk sisi kosong di sampingnya, Renjun balas dengan menggeleng.

Mark meraih jemari kurus Renjun, menyelipkan jemari itu pada sela jarinya. Kepalanya terangkat untuk menatap Renjun yang menunduk.

"Boleh aku memelukmu?" tanya Mark.

Renjun menggeleng.

"Kau tidak suka PDA (Public Display Affection).."

Renjun mengangguk. Matanya kini memperhatikan Mark yang memainkan jarinya.

"Sampai kapan aku harus menunggu suara kekasihku?"

Kini kedua mata itu kembali bertemu pandang. "Maaf.."

Mark yang lelah dengan posisi seperti ini untuk berbicara, menarik Renjun untuk duduk di sampingnya. "Apalagi kesalahan yang kau buat sampai mengatakan maaf padaku. Aku yang bersalah, membuatmu khawatir.."

Renjun menunduk, tangannya menyentuh lutut kiri Mark. "Seharusnya aku membantumu berdiri.."

"Oh sayang, aku bahkan bisa langsung berdiri setelahnya.." Mark mengusap sebelah pipi Renjun lalu menarik tangannya.

"Aku justru malah mentertawakanmu. Itu gejala mendadak yang tidak disengaja.." Renjun panik menjelasakan alasannya yang justru tertawa melihat kekasihnya terjatuh.

"Kau melakukan hal yang benar. Kau melakukan kesalahan jika kau malah membantuku berdiri. Itu tidak profesional, dan itu bukan Huang Renjun sekali.."

Renjun tertawa kecil. "Yakin baik-baik saja?"

Mark mengangguk. "Ya. Aku baik-baik saja. Itu tidak sampai membuatku cedera.."

"Mark?!" tanpa sadar suara itu meninggi. Melihat beberapa mata memperhatikan mereka, Renjun sedikit menajuh dari Mark.

Mark sudah tertawa di tempatnya.

"Tidak lucu.." suara itu seperti peringatan.

"Itu lucu. Wajah kesalmu langsung berbuah panik.."

Renjun pada dasarnya yang memliki sifat perhatian dan memikirkan semuanya, kini malah tanpa sadar merapikan rambut Mark.

Mark menahan tangan Renjun. Sedikit bingung dengan tingkah kekasihnya yang berbuah cepat. Sebenarnya ini bukan pertama kali Renjun tiba-tiba menunjukan perhatian berlebih. Ingat, saat Renjun tiba-tiba ingin mencium Mark? Yah, di dalam van menujur asrama 127, Mark memarahi tingkah menggemaskan kekasihnya itu yang dibalas tawa lepas Renjun.

"Kenapa?"

Renjun menarik tangannya. "Rambutmu basah.." tatapan Renjun turun ke bawah. "Bajumu juga. Apa kau tidak menggunakan payung dengan benar?" Renjun mulai mengoceh.

"Bahu kanan Chenle tidak terlindungi, jadi aku memberikan payung kepadanya.."

"Lalu kau yang kebasahan. Tuan Lee, kau itu akan menjadi robot malam ini. Ingat kau selalu ada di setiap penampilan NCT. Tolong pikirkan kondisimu, jangan membuatku mengingatkanmu terus menerus.."

"Bukahkan itu salah satu mengapa kau menjadi kekasihku?" lihat lah alis itu dinaik turunkan.

"Sepertinya memukul mukamu bukan masalah.."

Mark justru mendekatkan wajahnya. Menggoda si manis sesekali tidak ada salahnya. "Aku baik-baik saja selama kau tersenyum.."

"Berhentilah menjadi keju.." Renjun mendorong wajah itu menjauh.

"Aku berhenti jika kau tak suka. Tapi sepertinya kau menyukainya.." Mark memilih bersandar pada kursi. "Boleh aku meminjam pundakmu? Ini tidak akan menimbulkan penilaian buruk.." Mark berusara tanpa melihat ke arah Renjun.

Tanpa balasan suara, Renjun menggeser tubuhnya mendekati Mark. Tangan kekasih Renjun itu mengepal seolah menyuarakan dia memenangkan sesuatu. Mark langsung menjatuhkan kepalanya di pundak sempit Renjun.

"Bolehkan lengan kananku di pinggangmu dan kiriku di perutmu?" Mark kembali bernegosiasi.

"Singkatnya kau ingin memelukku?" Tanya Renjun.

"Ya.."

"Berjanji padaku setelah itu tidur sejenak. Kau bahkan pergi terburu-buru setelah sarapan tadi.."

"Aku sudah lelah.."

Tangan Renjun mengusap pipi tirus Mark sesaat. "Tidurlah.."

"Memelukmu?"

"Lakukan.."

Benar saja, tak lama dari Mark menyamankan posisi memeluk kekasihnya, dia tertidur.

"Dia tidur?" Taeyong mendekat.

Renjun mengangguk.

Taeyong tersenyum dan mengusap rambut Mark dan Renjun. "Kalian manis.."

.

.

Kedelapan belas anggota NCT sudah berkumpul untuk menyerukan slogan penyemangat. Anggota NCT U terlihat masih terengah. Mark menggeser Jeno yang berada di samping Renjun. Tersenyum konyol dengan napas memburu saat melihat Renjun.

Kecelakaan kecil yang dialami Mark dan Jisung di penampilan awal juga dialami seluruh pengisi acara lainnya. Untuk anggota NCT sendiri, korban lainnya Jeno, Doyoung, Jungwoo, Jaehyun, dan cukup kuat untuk Winwin. Membuat Renjun panik menghampiri gege nya itu.

Mereka menyerukan dengan keras slogan NCT. Satu persatu anggota naik ke atas panggung membentuk formasi. Mark menahan tangan Renjun, menariknya mendekat.

CUP

"Hati-hati. Jangan sampai terjatuh.." ucapnya sebelum bergegas saat Taeyong memanggilnya.

Renjun menggeleng pelan dan menerima rangkulan Kun.

Penampilan Black on Black tidak mengecewakan. Namun kecelakaan kecil seperti tak dapat dihindari karena panggung licin. Jeno yang terjatuh cukup keras. Hampir semua anggota yang tidak stabil berdiri. Terakhir, Renjun melihat sendiri bagaimana kerasnya Jisung dan Kun terjatuh. Bahkan Renjun seperti ingin berlari mengejar Kun yang membuat tubuhnya sedikit tak seimbang.

Untung saja sang kekasih dengan cepat merangkul pundaknya. Kun juga sudah dibantu Yuta. Jisung aman bersama Taeyong.

Keluar dari panggung, Mark berjalan sejajar dengan Renjun. Tidak ada genggaman ataupun rangkulan.

"Sayang, kau baik-baik saja?"

"Kau seharusnya mengkawatirkan Jisung.."

"Aku juga mengkahwatirkannya dan anggota lain. Sekarang aku bertanya padamu, kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja. Aku bahkan tak sampai jatuh.."

"Kau meremehkan semuanya.."

"Oh katakan itu pada dirimu sendiri.."

"Hei.." Winwin yang berada di belakang mereka langsung merangkul keduanya. "Kalian ribut hanya karena memperhatikan satu sama lain? Aneh.."

Mark dan Renjun tidak menjawab.

"Setibanya di ruang ganti. Bicarakan tanpa membuat ada yang curiga. Waktu kita tak banyak untuk kalian bicara bertatap muka. Mark tidur di asrama 127 malam ini.." Winwin melepas rangkulannya.

Mark dan Renjun saling tatap dan menahan tawa. Sedikit terkejut melihat kakak mereka yang polos bisa seperti itu. Tingkah Winwin seperti merubah mood yang ada pada sepasang kekasih itu.

Setibanya di ruang ganti. Saran Winwin seolah lenyap dari kepala Renjun saat melihat semua anggota mengerubungi Jisung dan Kun. Bahkan Yuta dan Taeil sudah menerjang Winwin.

Mark berdiam di depan pintu, ditinggal kekasihnya begitu saja.

"Sepertinya dia tidak ingin bicara.." Mark mendesah pelan.

Tapi si mungilnya kembali berbalik dan mengecup singkat pipinya.

"Aku baik-baik saja, Simba. I love you.."

CUP

Kali ini Mark yang mendapatkan ciuman di pipi. Renjun memberikan senyum manisnya sebelum kembali berlari mendekati Kun dan Ten. Mark bahkan tak sadar saat tubuhnya dihimpit dua orang dan satu orang lagi sedang mengibaskan tangan di depannya.

"I love you more.." bisiknya lirih masih memandang punggung sempit Renjun.

"Kau mecintaiku hyeong?"

"Menyingkir dari hadapanku Lee Jeno!"

"Lalu aku?"

"Youngho hyeong aku tak bisa bernapas!"

"Mark mencintaiku.."

"LUCAS MENJAUH DARIKU!"

.

.

.

END

.

.

.

Balas-balas Review :

Guest : Lagi dalam proses penulisan kok FF nya. Sabar menunggu. Makasih sarannya. Dan, aku sebenernya sedikit sensitif sama marga Luhan. Marga Luhan itu ya LU bukan XI. Nama dia cuma dua suku kata kok.. hehehe..

Aliyasepti : Hhhmmm. Karena komentar kamu, aku edit sedikit FF nya. Iyasih, berasa itu bibir Njun dikunyah sama Mark.. heheheh

Jahro : Aku juga gemes bikinnya.. Siap, kelarin dulu yah, baru aku publish.

Byeolie : Jangan baper dong.. jangan nangis dong.. kok nangis sih kamunya.. makasih udah suka..

Honeydew96 : Makasih buat masukannya. Aku pertimbangin nanti. Noona nya Renjun banyak emang. Yah kurang lebih begitu mungkin perasaan orang-orang yang bepernyakit sama.

Choco : Karena mereka emang gemesin.. aduh nikah.. ini aja direstuin member NCT udah lega.. ntar, di FF lain dinikahin… hehehe

Zaara13 : Kamu kenapa nangis bacanya? Hallo, sebenarnya sebagai Mama nya Renjun nama aku juga Alice. Mama Renjun dan mantan istri Lu Han. Mantan istri karena Lu Han selingkuh ama pacar mudanya. Sama sama. Yeay, aku juga seneng baca komen kamu. Makasih udah dijadiin fav.

.

.

A/N : Aku UP lagi. Padahal baru kemarin UP. Kemarin juga bilang mau bikin reaksi Njun nonton MV CHAIN. Tapi itu belum ketulis, hehehe.. yang ketulis malah ini.

Terima kasih atas komentar kalian yang sama banyak nya ama moment Markren. Duh hati mama bahagia banget ngelihat Markren di Dream Concert. Ada moment ternyata. Dan baru ngeh, ending Black On Black itu anak mantu sebelahan. Terus yang foto di Upload Nana di twitter, kirain yang rangkul Renjun itu Nana, ternyata Morkli.

Maaf kalau mengecewakan ya part ini. Ngetiknya sambil bolak balik twitter. Mantau siapa aja member NCT yang keserimpet. Oia, kalian kalau mau ada yang ngusulin moment Markren terus dibikin FF, boleh kok.. Semoga dibikinin.. Heheheh

Sampai ketemu di chapter depan.

Salam, Mama nya Huang Renjun.