Disclaimer: I own nothing here. All names and characters, places, all of them, belong to JK Rowling, Warner Bros company, Electronic Arts, and many others. I just own the plot. There's no money making here.
Tiga hari telah berlalu.
Tiga hari sejak dia datang ke Godric's Hollow dengan Portkey ilegal yang diberikan oleh Aberfoth kepadanya. Dia telah memutuskan untuk menginap di salah satu penginapan terdekat. Dia adalah satu-satunya tamu di hotel tersebut, karena nyaris tak pernah ada pengunjung ataupun pelancong datang ke desa Godric's Hollow.
Yang menjadi masalah bagi Harry, pada awalnya, adalah uang.
Dia memiliki sekantung uang Galleon di dalam tas ranselnya, namun dia tak memiliki uang Muggle sama sekali.
Jadi, untuk pertama kalinya sepanjang hidup Harry, dia melakukan hal yang tak pernah dia sangka akan dilakukannya: Dia mencuri uang.
Caranya sederhana. Dia tinggal mengeluarkan tongkat sihirnya, mengacungkannya pada orang secara acak yang berjalan di jalanan desa, dan memanggil dompet mereka dengan menggunakan mantra panggil. Dia mengambil satu Pound, atau kadang hanya beberapa sen, kemudian melemparkan dompet tersebut ke jalanan. Beberapa menit, atau jam kemudian, si pemilik dompet akan datang kembali, jelas mencari-cari dompetnya. Si empunya hanya akan berpikir bahwa dompetnya jatuh. Aman.
Harry tidak pernah mencuri banyak-banyak, karena pastilah akan mengundang kecurigaan bila banyak orang desa yang kehilangan uang bersamaan dengan datangnya seorang pelancong ke desa tersebut.
Uang yang didapatnya sebagian besar digunakannya untuk makan di bar penginapan itu. Makanan yang disediakan bukanlah makanan terbaik, namun setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya.
Satu hal yang Harry sadari, yaitu enam tahun di Hogwarts telah memberinya sesuatu yang tak pernah didapatnya di hidupnya sebelumnya: Makanan yang berlimpah.
Dia memang tidak separah Ron dalam konsumsi makanan, namun dia makan cukup banyak untuk bisa sadar bahwa dia menjadi tergantung. Karena itu dia merasa kelaparan jauh lebih cepat dibandingkan dulu saat dia kecil. Dulu, di rumah Privet Drive nomor empat, dia sanggup tidak makan seharian penuh. Kadang-kadang malah dua hari. Namun sekarang, dia bahkan sudah merasa lapar hanya dalam waktu dua jam.
Dia makin mengerti apa yang dirasakan Ron. Ron terbiasa dimanjakan akan makanan di rumahnya, lalu di Hogwarts... Wajar baginya jika mengeluh kelaparan dalam perjalanan mereka.
Tadinya...
Harry berkeinginan sangat besar untuk langsung mencari tempat pemakaman orangtuanya. Tadinya dia berniat untuk mencarinya di hari pertama dia tiba di Godric's Hollow, namun dia batal melakukannya karena, di hari pertama tersebut, dia melihat seseorang dengan jubah serba hitam, khas penyihir, berjalan di jalanan desa. Dia beruntung karena dia melihat orang tersebut dari jendela kamarnya... Sangat riskan bila sampai diketahui siapapun bahwa Harry Potter ada di desa Godric's Hollow. Dia tak memiliki ramuan Polijus untuk menyamar. Dia memang bisa menggunakan jubah gaib, namun jalanan desa yang becek pasti akan memberitahu posisinya dengan segera jika dia berjalan di atasnya.
Maka dia memilih untuk menunggu, dan mengawasi.
.
Sialnya, hari keempat ini, hari di mana tadinya dia berniat untuk keluar dari penginapan dan mencari pemakaman tersebut, hujan turun dengan sangat deras. Angin juga sangat kencang, pertanda badai akan tiba.
Jadi, dengan menggerutu dalam hati, Harry menerima nasibnya dan duduk di bar penginapan. Hanya ada dua orang di penginapan sekarang, selain Harry sendiri: Si bartender, merangkap resepsionis, yang sedang melakukan Merlin-Tahu-Apa di dapur, dan seseorang yang duduk memunggunginya, tampak sedang meminum sesuatu yang berasap dari gelasnya.
Harry menggeleng, bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke meja bar. Dia melongokkan kepalanya ke dapur, agar bisa bertemu mata dengan si bartender. Si bartender, pria paruh-baya bernama Mr. Wright, berjalan ke meja bar dengan sedikit menggerutu.
Dan sepertinya hari ini semua orang sedang PMS, batin Harry, menggerutu dalam hati juga.
"Ada apa?" tanya Mr. Wright, dengan nada yang jelas mengatakan 'kau-mengganggu-kerjaku-cepat-selesaikan-keperluanmu-dan-bawa-pantatmu-pergi-dari-sini!'
"Ya, sir. Tolong, aku membutuhkan segelas air mineral," kata Harry, menahan emosinya.
Mr. Wright mengangkat sebelah alisnya, kemudian menghela nafas dengan lagak sebal. Dia berkata, "Air mineral... Suplai terakhir sudah dihabiskan kemarin..."
"Habis?" tanya Harry tak percaya. Mana mungkin air habis? Memangnya dia sedang ada di negara mana sih?
"Masih ada simpanan di gudang bawah tanah," gerutu Mr. Wright. Dia menatap Harry tajam, dan berkata sinis, "Kenapa tak beli Bir saja? Sekalian bisa menghangatkan tubuhmu, anak muda."
"Tidak, air mineral saja, terima kasih. Bisa anda ambilkan?" kata Harry tenang.
"Tentu bisa," jawab Mr. Wright, menyeringai penuh arti. Dan Harry, memandang punggung Mr. Wright berjalan menjauh, mengerti apa maksud seringaian itu. Mr. Wright tahu bahwa uangnya terbatas, dan alasan bahwa dia selama tiga hari ini hanya meminum air mineral, adalah karena dia tak memiliki cukup uang untuk membeli minuman selain air mineral tersebut. Dia bisa saja mencuri lebih banyak, namun pertimbangan dan kerugiannya besar juga. Sangat riskan.
"Sabar, Harry," gumamnya pada dirinya sendiri. Dia menarik nafas, dan membuangnya perlahan. Dia tak boleh kehilangan kesabaran dan meledak di sini... Dia butuh tempat berteduh, selama mungkin malah... "Sabar, begitu ini semua selesai, aku akan pergi..."
"Berbicara pada diri sendiri adalah salah satu tanda kegilaan, kamu tahu kan."
Harry berjengit kaget akan suara tersebut, hingga kursi yang didudukinya berderit keras. Dia berbalik badan, dan melihat siapa yang baru saja berbicara.
Ternyata orang yang dari tadi duduk memunggunginya. Dia, entah sejak kapan, telah berjalan dari mejanya dan duduk di kursi bar di sebelah Harry.
Sekarang, setelah jantungnya berhenti berdegup kencang, dia bisa menyadari bahwa ternyata orang tersebut adalah perempuan. Perempuan muda, yang tampaknya berusia dua puluhan tahun. Dari tadi dia mengenakan jaket tebal berwarna merah marun, lengkap dengan syalnya, sehingga Harry tak menyadari bahwa dia perempuan. Rambutnya cokelat agak berombak, potongan wajah dan logat khas Irlandia, membuat Harry teringat akan Seamus Finnigan. Secara keseluruhan, dia tampak lumayan cantik.
Namun dibandingkan dengan...
Harry memotong pikirannya sendiri, karena si perempuan tersenyum makin lebar, jelas mengira bahwa dia telah membuat Harry terpana. Harry menghela nafas, dan mengambil jarak sedikit secara non-fisik.
"Sori," kata perempuan itu. Dia menyandar di meja bar, dan berkata, "Namaku Ann."
Harry menatapnya dengan intens. Kenapa perempuan ini memulai perkenalan?
"Dan kamu, Mr...?" kata Ann, mengangkat sebelah alisnya.
Harry memutuskan cara terbaik dalam kondisi seperti ini adalah menjawab dengan sesingkat mungkin, untuk menunjukkan bahwa dia tak berminat dalam pembicaraan. Namun si Ann ini menanyakan namanya. Jadi, dia memutuskan untuk memberinya nama pertama yang muncul di pikirannya:
"Dudley," ujar Harry. "Vernon Dudley."
"Dudley... Hmmm..." gumam Anna, mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bukan nama yang familiar. Cukup aneh."
Harry sebenarnya sangat setuju, namun memilih tak menyuarakannya. Alih-alih itu, dia bertanya, "Dan kamu? Nama lengkapmu?"
"Oh. Wright," jawab Ann, nyengir.
Ann Wright... Jangan-jangan- "Kamu anaknya -"
"Bukan," kata Ann, memotong kalimat Harry. "Aku keponakannya."
Mendengar kata 'keponakan', entah bagaimana yang muncul di kepalanya adalah dirinya, berdiri di ruang keluarga Privet Drive, memandangi Dudley yang membuka puluhan kado satu per satu.
Ann memandanginya selama beberapa saat, sebelum akhirnya berkata lagi, "Kamu bukan tipe talkative, eh, Mr. Dudley?"
Harry menoleh agar bisa menatapnya lebih jelas. Dari posisinya sekarang, dia menyadari bahwa mata Ann berwarna abu-abu. Dia menjawab, "Tidak... Tidak juga."
"Sepertinya ya," kata Ann, bergeser sedikit sehingga dia bisa menyandar ke meja bar dengan lebih nyaman. Dia terus memandangi Harry seolah dia objek yang sangat menarik dalam percobaan eksperimen. Orang biasa akan merasa tak nyaman dipandangi seperti itu, dan bahkan beberapa akan mengatakan bahwa itu tak sopan. Namun Harry sudah terbiasa dipandangi seperti itu selama enam tahun hidupnya di Hogwarts, jadi dia bisa menahan perasaan tak nyamannya dengan cukup baik.
Ann menghela nafas, dan berkata, "Coba, katakan padaku, Mr. Dudley... Kamu bukan berasal dari desa ini, kan? Darimana kamu berasal? Dan kenapa kamu mendatangi desa ini?"
Harry baru mau menjawab dengan kasar, 'bukan urusanmu', ketika bagian otaknya, yang terdengar seperti Hermione, memperingatkannya bahwa berkata kasar pada salah satu penduduk desa hanya akan membuat dirinya tampak tidak bagus di desa tersebut. Jadi, dia menjawab, "Aku berasal dari Wales, dan aku sedang berada di sini untuk mencari makam seseorang."
"Oh..." gumam Ann, tampak tertarik. "Makam siapa?"
"Bukan urusanmu," kata Harry kasar, tanpa bisa mencegah dirinya. Dia tak mau memberitahu siapapun bahwa dia berniat mencari makam orangtuanya.
"Hei, tenang, sir," kata Ann, mengangkat sebelah tangannya. "Aku hanya bertanya, siapa tahu aku bisa membantumu mencari."
"Yang bisa kamu lakukan untuk membantuku, adalah memberitahuku di mana lokasi pemakaman di desa ini," ujar Harry, dengan nada setenang mungkin yang bisa digunakannya. Ann terlalu riang, dan tampak tak begitu perasa, membuat Harry sebal.
"Oke, sir," kata Ann, dengan nada sinis. "Pemakaman desa ada di belakang gereja, beberapa meter dari bundaran utama Desa. Bundaran di desa ini ada beberapa buah, namun bundaran utama bisa kamu temukan dengan mudah, karena di sana berdiri tugu perang."
Harry teringat tugu perang tinggi yang tampak seperti setengah-obelisk yang dilihatnya dari jarak jauh saat dia baru datang ke desa ini. Cukup, dia tahu di mana lokasinya.
"Trims," ujar Harry, memalingkan wajahnya. Dia tak mau berlama-lama bersama orang asing ini, pengalamannya yang sudah-sudah setiap kali bertemu orang asing membuktikan bahwa tidaklah bijak menjalin hubungan cukup dalam dengan mereka. Harry merasa sebal akan Mr. Wright, karena dia menghabiskan waktu sangat lama hanya untuk mengambil air yang katanya ada di 'Gudang Bawah Tanah'. Apakah gudang bawah tanahnya Mr. Wright ada di balik bumi?
Setelah beberapa detik dalam keheningan yang tidak nyaman, Ann berkata mendadak,
"Kamu tahu, saat kamu memasuki penginapan ini untuk pertama kalinya sekitar tiga-empat hari lalu, aku sejenak mengira kamu adalah kakekku."
Kalimat tersebut membuat Harry menoleh menatapnya kembali. Dia mengangkat alisnya perlahan, tak mengerti kenapa Ann mendadak berkata begitu. Bagaimana bisa dia mengingatkan Ann akan kakeknya?
"Kok bisa?" tanya Harry.
Ann tampak lebih senang karena Harry merespons. Dia tersenyum, dan menjulurkan kepalanya sedikit ke arah Harry, seraya menjawab,
"Dari caramu berjalan memasuki penginapan ini... Aku melihat bahumu yang sedikit tertekuk namun tetap kamu tegakkan, berusaha tegar; dari caramu berjalan, kakiku yang melangkahi satu sama lain, dalam langkah yang mantap namun lelah. Tanganmu yang kamu masukkan ke dalam sakumu, berusaha menghangatkan diri dari hujan yang turun deras dan dingin yang menerpamu, juga sebagai gestur perlindungan diri, karena perasaan akan diserang kapan saja."
Ann berhenti berbicara sejenak, sementara Harry memandanginya dengan diam.
Merasa bahwa Harry tak marah, Ann melanjutkan, "Kamu tampak seperti sudah bertempur sangat lama, dan pertempuran yang sangat keras pula. Tatapan mata yang indah... Namun redup karena debu peperangan. Punggungmu yang tegak namun capai, kepalamu yang sedikit tertunduk karena semua hal yang dilemparkan dunia ke atas pundakmu."
Harry masih diam, dia tak bisa memikirkan apapun untuk membantah Ann.
"Kakekku adalah tentara," kata Ann dengan lembut.
Tentara?
Ann nyaris nyengir melihat ekspresi Harry. Dia melanjutkan, "Dia biasa menceritakan hal-hal tersebut padaku sebagai cerita pengantar tidur. Cukup mendidik, eh?"
Harry menatapnya selama beberapa detik lagi, sebelum berkata pelan, "Aku bukan tentara."
"Aku tahu," jawab Ann, mendekat lagi. Dia menatap Harry dengan intensitas yang lebih dalam, dan berkata, "Dan tidak ada perang yang sedang berlangsung, Mr. Dudley. Jadi beritahu aku, apa yang sedang kamu perjuangkan? Dan siapa saja temanmu dalam pertempuran ini?"
Menunduk sedikit, sehingga kontak mata di antara mereka terputus, Harry menjawab, "Freedom."
"Kemerdekaan?"
"Untuk banyak orang..." desah Harry. Dia menggeleng pelan, dan melanjutkan, "Dan ini adalah pertempuranku. Tanpa teman di sisiku."
Lama sekali mereka diam. Bahkan hujan di luar terdengar mereda. Tak ada yang bergerak di ruangan bar penginapan tersebut, tidak bahkan seekor semut pun.
Ann lagi-lagi berbicara lebih dahulu. Dia berkata, "Kamu masih bertempur, tanpa teman, demi sebuah dunia, sendirian..."
Harry mendongak menatapnya, dan Ann tersenyum. Dia melanjutkan, "Ternyata aku salah. Kamu bukanlah tentara, Mr. Dudley. Kamu adalah Hero."
Harry mendengus pelan. "Lucu kamu berkata begitu. Aku selalu ingat akan panggilan itu... Yang dulu biasa mereka kumandangkan untukku."
Hujan semakin reda di luar, dan Ann tertawa kecil. Dia menggeleng, dan mendekatkan wajahnya ke Harry, lalu berkata dengan suara pelan bagai bisikan,
"Aku tahu ini agak ortodoks, Mr. Dudley... Tapi kamarku ada di lantai dua, jika kamu mengerti."
Mendengar itu, Harry menoleh padanya dengan setengah-kaget dan setengah-shock. Tidak pernah, dalam 17 tahun hidupnya... Sama sekali tak pernah seorangpun...
Dia menoleh menatap Ann, dan kini, setelah bisa berpikir jernih karena rasa dongkolnya sudah hilang, dia melihat wajah Ann yang cukup cantik, rambutnya yang menggantung dengan lembut, dan bahkan tubuhnya yang cukup... Bukan cukup. Melainkan sangat menggairahkan, setidaknya untuk sebagian besar pria. Tambahkan dengan tawaran Ann barusan, maka bisa nyaris dipastikan pria pelancong manapun akan mau...
Namun Harry bukanlah salah satu dari mereka.
Dia berdiri, mendorong kursinya dengan tegas. Kemudian dia mengambil jubahnya dari meja bar, dan mengenakannya, berjalan mantap menuju pintu.
Dia melangkah ke dalam guyuran air hujan, tanpa menoleh ke belakang lagi sedikitpun.
-XXXXXXX-
Langit terus menerus menurunkan hujan sepanjang hari.
Namun Harry sedang tidak ingin kembali ke dalam kehangatan penginapan tersebut. Tidak walaupun di dalamnya terdapat seorang perempuan muda yang mau menemaninya sepanjang hari hingga malam berganti nanti. Tidak.
Dia sudah dalam kondisi emosional yang tidak stabil, bahkan dia sendiri pun bisa menyadari hal itu. Tangannya agak gemetar, kepalanya serasa berputar perlahan, dan jantungnya masih berdegup dengan tak teratur. Bukan semata-mata karena pembicaraannya dengan Ann, namun juga karena banyak hal.
Harry memikirkan yang dikatakan oleh Ann, terutama yang bagian terakhir.
"Kamu bukanlah tentara. Kamu adalah Hero."
Hero.
Bayangan akan saat dia ada di kementrian sihir merasuki benaknya. Dia teringat selebaran-selebaran, pamflet-pamflet yang sedang dibuat oleh sekelompok penyihir yang mengayunkan tongkat sihir mereka dengan gerakan-gerakan sangat terlatih. Semuanya bertuliskan mengenai dirinya, foto dirinya dengan tulisan 'Yang Tak Diinginkan No. 1'. Dia tak tahu apa yang dipikirkan masyarakat sihir sekarang, mengenai dirinya... Mungkin saja mereka juga sudah termakan oleh omongan-omongan kementrian, termakan hasutan dari Voldemort, sehingga mereka menganggap bahwa dialah penjahatnya...
Dan dia juga sendirian, ditinggalkan teman, tak memiliki rumah, jauh dari cinta...
Namun dia masih ada di sini, terus bertahan hidup, terus berusaha berjuang demi mereka semua di dunia luar sana.
"Kamu adalah Hero."
Masyarakat sihir pernah menganggapnya sebagai pencari perhatian di tahun keempatnya... Begitu juga dengan nyaris seisi Hogwarts. Barulah saat mereka melihat bahwa dia nyaris mati, setelah mereka melihat apa yang dia hadapi, saat mereka melihat dia menyelesaikan tugas dengan keren, mereka mau percaya padanya, dan mendukungnya...
Orang-orang yang bodoh... Layakkah dia perjuangkan?
"Kamu adalah Hero..."
"Kamu sanggup mencintai, tidak seperti Voldemort, Harry..."
Ron dan Hermione pergi meninggalkannya di dalam tenda, sendirian...
Harry mengerjap.
Dia tak sadar bahwa dia sudah berjalan jauh, cukup jauh hingga dia yakin sudah mengitari Godric's Hollow. Dan sekarang dia berdiri di depan sebuah bangunan besar, yang puncak menaranya nyaris tak kelihatan... Namun Harry bisa mengenalinya sebagai gereja, karena lambang salib di pucuknya yang masih tampak, menjulang tinggi di atas, tak tertutup oleh derasnya kucuran hujan.
Mantra impervius bukanlah mantra permanen, sehingga Harry bisa merasakan bahwa perlahan baju di dalam jubahnya mulai basah sedikit demi sedikit. Celana Jinsnya juga mulai basah, dan sepatunya bahkan sudah basah kuyup sejak tadi. Akal sehatnya menyuruhnya untuk berteduh di dalam gereja, namun dorongan besar untuk mencari makam orangtuanya di pemakaman gereja itu sangat besar...
Tanpa berbasa-basi dalam pikirannya lagi, Harry berjalan menelusuri jalan setapak yang membawanya ke pemakaman di belakang gereja.
Dia mengeluarkan tongkatnya, dan menyalakan Lumos dalam hati. Ujung tongkatnya menyala, menerangi makam-makam yang tadinya nyaris tak terlihat karena air hujan yang terus turun. Dia mengecek beberapa makam terdepan.
Harry mendapati beberapa makam bertuliskan Abbott, Bones, dan bahkan Jones... Seingat dia itu adalah anak-anak Hufflepuff angkatannya. Abbott dari Hannah Abbott, Jones dan Megan Jones, Bones dari Susan Bones dan Amelia Bones...
Apakah ini makam sanak saudara mereka? Apakah dulu keluarga mereka juga tinggal di desa ini?
Dia melihat satu makam yang sudah tampak sangat tua, namun masih tampak kokoh juga. Tulisan di atasnya tertutup oleh daun-daun dan kotoran. Harry menggeleng, dan mengacungkan tongkatnya ke batu nisan tersebut. Dengan satu ayunan tongkatnya, semua kotoran di atasnya lenyap begitu saja, termasuk kerak-keraknya.
Dia membaca tulisan di makam tersebut. Ignotus Peverell... Nama yang tidak dia kenal sama sekali, namun entah bagaimana rasanya pernah dia dengar. Dia memeriksa makam itu lebih teliti lagi, dan, menemukan sebuah lambang di atas nama tersebut.
Sebuah segitiga, dengan lingkaran di dalamnya dan garis yang membagi dua lingkaran tersebut simetris.
Seperti bangun datar matematika...
Lambang tersebut tampak sangat tua, dan sangat kuno. Tampaknya lambang tersebut ada di situ sudah sejak awal. Apa sebenarnya...?
Dalam sekejap, Harry berputar dan mengacungkan tongkatnya lurus-lurus.
Seseorang telah memasuki pemakaman dengan sangat diam-diam, tanpa suara sama sekali, dan seseorang itu berdiri di belakang Harry.
Jarak di antara mereka terpisah oleh empat baris nisan, namun menurut Harry itu masih sangat tidak nyaman. Harry mengacungkannya lurus-lurus pada sosok orang itu, yang tampak tidak begitu jelas karena hujan, namun cukup jelas untuk bisa memberitahu Harry bahwa ada orang di sana, dan seseorang itu tampaknya adalah perempuan.
"Siapa di sana?" seru Harry.
Orang itu melangkah mendekat ke Harry, melewati satu baris nisan dengan agak terhuyung. Harry langsung menghadap orang itu penuh-penuh, memasang kuda-kuda duelnya. Dia mengerti bahwa mungkin orang itu hanya Muggle, dan tak mengerti sama sekali kenapa ada orang mengacungkan tongkat kayu untuk mengancam, alih-alih pistol atau pisau. Namun dia tetap merasa ada yang sangat aneh dengan orang ini, tidak wajar.
"Berhenti di sana, atau kamu akan menyesal," seru Harry, mengatasi bunyi derasnya hujan.
Orang itu benar-benar berhenti, dan Harry mengangkat sebelah alisnya sedikit. Kini dia bisa melihat lebih jelas lagi profil orang itu, dia tampak tua, perempuan tua, dengan jas hujan yang menutupinya, basah kuyup habis-habisan. Cahaya dari ujung tongkat Harry menyinari wajah orang tersebut, namun Harry tak bisa mengenalnya.
"Siapa kamu?" seru Harry.
Perempuan itu mengangkat sebelah tangannya dalam gestur menyerah, atau... menyapa?
Dan tersenyum kecil.
Harry mengerjap. Kenapa -
"Namaku..." kata perempuan tua tersebut, dengan suara bisikan yang terdengar nyaris seperti desahan belaka, "Bathilda Bagshot."
