MAAF KALAU UPDATE NYA LAMA!

Saya gak bisa update kilat, karena sibuk banget.

Malah hari senin mau ujian lagi, jadi gak bisa update dengan lancar…

Oh ya ada yang bilang kalau chapter dua gak terlalu bagus, maaf ya..

Saya akan usahakan buat sebagus bagusnya..

Ok happy reading ^^

.

.

.

.

"Kalian gak apa-apa kok, tak ada dari kalian yang salah.."kata seorang dokter yang memeriksa Boboiboy bersaudara,

"Masak gak ada apa sih dok? Pasti ada yang salah.." Komentar Gempa.

"Kalian gak apa-apa.." Ujar si Dokter lagi.

Halilintar melengos, bagaimana bisa tak terjadi apa-apa?

"Ya udah deh.. kita pulang aja.." Ajak Halilintar sambil buru-buru meninggalkan ruangan dokter itu,

Gempa dan Taufan mengekor dibelakang,

"Aduh.. sabar aja ya kak.. aku tau kok jadi Gempa itu susahnya gimana.." Kata Taufan dengan nada setengah mengejek.

"Gimana kau bisa tahu? Kau saja jadi aku, dan tingkah mu itu gak bener, bikin aku kesal setengah mati.." Balas Halilintar dengan wajah kesal.

Taufan terkekeh,

"Aku gak ngapa-ngapain kok, aku cuman nyapa teman-teman Kak Hali, terus ngegodain beberapa cewek.." Kata Taufan sambil tersenyum menyebalkan.

Mata Halilintar membelalak.

"APA KAU BILANG?! KENAPA LAKUKAN HAL BODOH MACAM ITU SIH..!" Ujar si kakak tertua dengan nada tinggi,

"Kak, udahlah ini dirumah sakit.." Gempa memperingatkan.

Halilintar hanya bisa mendengus kasar dan berjalan lebih cepat meninggalkan mereka berdua.

~…~

"Ukh.. sial banget sih..!" Gerutu Halilintar sambil membanting pintu kamarnya begitu sampai dikamar.

Halilintar mengacak-acak rambutnya dan membuat topi berwarna biru milik Taufan terlempar entah kemana.

Halilintar memandang dirinya yang sedang ada di tubuh Taufan dengan seksama.

Rasanya ada yang aneh dengan rambut pirang dan iris berwarna biru langit ini.

Ia tidak terbiasa dengan penampilan seperti ini.

Tiba-tiba handphone Taufan berbunyi. (Mereka juga bertukar handphone)

"Halo.." Ujarnya malas-malasan.

"Hei, kau jadi tidak kesini?" Tanya seseorang di seberang sana.

Halilintar melengos, apalagi sih dengan Taufan.

"Hmm? Memang kemana? Ada apa?" Halilintar balik bertanya.

"Kau ini pikun sekali, ya ke café Isola di perempatan sekolah, kau bilang ingin membeli barang ini?"

"Hn, ya sudah, tunggu aku disana."

Halilintar pun mematikan handphonenya dan turun ke lantai satu.

"Taufan, kau ada janji dengan orang di café dekat sekolah ya?" Tanya Halilintar.

"Hmm?" Taufan memandang kesamping, seolah ia sedang mencoba mengingatnya.

"Gak tau deh, mungkin ada tapi kayaknya aku lupa kak.." Gumam Taufan.

Halilintar mendesah,

"Ya sudahlah.." Halilintar melangkah dengan ogah-ogahan keluar pintu.

~… ~

"Ini barangnya.." Ujar orang yang didepan Halilintar, ia menggunakan pakaian yang aneh, bahkan kelihatannya orang itu pun tak dapat melihat Halilintar.

Sebenarnya Halilintar tak kenal siapa dia, tapi terserahlah..

Halilintar menerima barang yang berupa bungkusan kecil itu, orang itu pun buru-buru pergi.

"Baiklah, kau bawa saja uangnya besok.. aku gak bisa lama-lama disini, nanti ada polisi.." Orang itu pun buru-buru meninggalkannya,

Halilintar mengerjap, polisi?

Ia pun membuka bungkusan itu dengan hati-hati.

Betapa terkejutnya ia ketika ia tahu apa isi bungkusan itu..

"Astaga.. narkoba.." Desis Halilintar pelan sambil menutup mulut dan hidungnya agar tak terhirup bubuk jahanam itu.

Halilintar berlari secepat kilat ke rumahnya..

~….~

"BRAAK!"

Taufan dan Gempa yang tadinya sedang menonoton tv terperanjat dengan Halilintar yang datang tiba-tiba mendobrak pintu.

Dan juga wajah yang penuh amarah

Ia mendekati Taufan,

"Ada apa denganmu? Kenapa memebeli barang haram seperti itu? Kau mau mati?!" Tanya Halilintar dengan nada tinggi,

Taufan membelalakkan matanya,

"Hah? Barang apa kak? Aku gak tau.. sumpah.." Ujar Taufan, sampai ia merasa perlu bersumpah untuk meyakinkan kakaknya itu.

"Kalau begitu kenapa kau janjian dengan kurir narkoba di café itu?" Tanya Halilintar lagi, kali ini dengan nada yang sudah merendah.

"Udah lah kak.. aku rasa ada salah paham... gak mungkin kan kak Taufan makai yang gituan.." Gempa yang dari tadi diam melerai perselisihan itu.

Halilintar mengusap wajahnya, ia bingung setengah mati.

Siapa yang kira bertukar tubuh membuat segala sesuatu menjadi begitu rumit?

~…~

"Gempa, kamu sudah ngerjain pr MTK belum? Pinjam dong?" Gopal memelas pada Halilintar bak seorang pengemis.

Halilintar memutar bola matanya, ia pun mengeluarkan buku PRnya dari tas dan memberikannya ke sahabat Gempa itu.

"Makasih.. kamu memag teman ku yang paliing baiik.." Ujar Gopal sambil tertawa senang, ia membuka buku Halilintar.

"Wow.. tumben kamu bisa jawab dengan jawaban yang serumit ini.." Gopal takjub dengan kerja Halilintar.

Halilintar terdiam, ia tahu betul kenapa Gopal bilang begitu, karena nilai MTK Gempa itu biasa-biasa saja, tapi masih lebih bagus dari Taufan yang nilainya bagaikan jatuh dari lantai sepuluh.

Tiba-tiba Halilintar merasakan ada yang memeluknya.

"Pagi Gempa! Apa kabar? Rindu aku gak?" Ujar seorang gadis heboh,

Halilintar cepat-cepat menoleh, siapa? Jangan-jangan Gempa punya pacar lagi..

"Kau.. Siapa?" Tanya Halilintar dengan nada dingin,

Padahal ia sudah semalaman berdiri di depan kaca, belajar bagaimana caranya tersenyum seperti Gempa, dan bicara sopan seperti Gempa.

Tapi.. tidak berhasil!

"Kamu jahat.. masak sahabat sendiri gak ingat ya, mentang-mentang aku gak masuk kemarin." Keluh gadis itu sedih.

Halilintar menjerit dalam hati, mungkin kalau saat ini tidak ada teman-teman sekelas Gempa, ia akan menendangi meja-meja disitu.

"Ah gak kok, aku cuman bercanda, tapi aku mohon jangan ganggu aku hari ini.. aku lagi sakit.." Ujar Halilintar pelan, ia melipat tangannya dan bersiap untuk tidur.

Gadis itu hanya mengangkat bahu, merasa aneh dengan sifat Gempa yang tiba-tiba jadi aneh.

~…~

"It's nice to know that you were there, thanks for acting like you care.. and making me feel like I was the only one, it's nice to know we had it all, thanks for watching as I fall and letting me know we were done.." murid-murid di kelas Halilintar bertepuk tangan begitu Taufan (Taufan yang sedang dalam tubuh Halilintar) Selesai bernyanyi solo dengan gitar di depan kelas,

Sebenarnya itu pemandangan langka karena biasanya Halilintar itu penyendiri, bertemu tatap saja tidak mau, apalagi tampil di depan banyak orang?

Makanya mereka merasa ada yang aneh dengan dirinya.

Selesai bernyanyi ia pun keluar kelas dengan senyum puas karena sudah 'merusak' reputasi kakaknya.

"Haha Kak Hali.." Taufan terkikik.

Tiba-tiba ia dicegat sekumpulan gadis, yang kelihatannya anak kelas satu.

"Kakak.. boleh minta tanda tangannya gak?"

"Kak boleh selfie bareng gak?"

"Kak terima dong bunga dan cokelat ini sebagai media penyampaian rasa cintaku padamu.."

Taufan hanya mengulum senyum, enak ya jadi Halilintar, kemana-mana selalu diganrdungi fans, seperti selebritis saja.

"Oh boleh dong.." Jawab Taufan, ia pun memenuhi permintaan adik kelasnya itu satu persatu.

"Makasih kak.. kami cinta kakak!" Seru gadis-gadis itu sambil menjauh,

Baru saja Taufan ingin melanjutkan perjalanannya ke kanatin, ia dicegat lagi oleh seorang gadis, yang kelihatannya dari kelas tujuh juga.

"Kak.. aku mau.. menyampaikan sesuatu.." Kata gadis itu malu-malu.

Taufan memandangi gadis itu dari bawah keatas, lalu dari atas kebawah. Kelihatannya dia pemalu, tapi ia manis sekali dan hampir membuat Taufan mimisan.

"Oh ya? Ada apa?" Tanya Taufan sambil tersenyum,

"Anu.. aku..a-aku..su..ka..Ka-kakak, kakak mau gak jadi pacar aku?" Gadis itu mengatakannya dengan terbata-bata.

Taufan melengos, gimana ini, dia mana bisa memacari anak dibawah umur (Padahal dia sendiri pun masih dibawah umur)

"Aduh.. gimana ya.. maaf, kakak gak bisa aduh, maaf banget ya.." Kata Taufan hati-hati.

Wajah gadis itu yang tadi menunduk pun langsung mendongak, raut wajahnya kelihatan kecewa berat.

"Kenapa?" Tanya nya lirih, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.

Taufan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Gimana ya.. bukannya kakak gak suka kamu, tapi maaf, kakak gak bisa aja.." Jawab Taufan, alasan yang sebenarnya adalah, ia tak mau dibanting Halilintar nanti, kalu mereka sudah bertukar tubuh kembali, tiba-tiba Halilintar punya pacar kan gak lucu.

Gadis itu pun berlari menjauhi Taufan tanpa mengucapkan sepatah katapun dengan air matanya yang hampir membanjiri lantai koridor sekolah,

Hiperbolis memamg, tapi seperti itulah kira-kira kalau dikiaskan.

Taufan mendesah sedih, ia jadi merasa bersalah, ia pun kembali berjalan menatap lantai dengan perasaan campur aduk dan wajah kalut.

Seperti ini kah beban Halilintar setiap hari?

To be continue..

Hmm.. akhirnya siap juga, aduh, tangan saya sampai pegal karena ngetik terus.

Tapi kalau discontinued kan sayang, jadi dengan susah payah saya lanjutin.

Oh ya kalau readers ada usul tentang konflik atau apalah, kasih tahu saya ya.

See you in next chapter.. ^^