Lagi-lagi, ia berada di tempat ini lagi.

Tempat yang sama dengan malam-malam sebelumnya—gelap dan dingin. Tak ada hawa eksistensi selain dirinya seorang.

Diselimuti gelapnya malam, ia hanya bisa melafalkan satu nama yang terbersit di otak, "Tetsuya?"

Ia berharap ada cahaya. Ada sesuatu yang datang—dengan aroma vanilla, dan dengan eksistensi yang hanya bisa dirasakan oleh Akashi seorang. Ia mengekspektasikan lelaki mungil berambut biru yang langsung menyambut.

Ia sama sekali tidak mengharapkan mendengar gaung suaranya sendiri. Apa maksudnya ini—terjebak sendirian?

"Tetsuya?" panggilnya lagi. "Ini tidak lucu. Keluar sekarang, atau kau kuhukum."

Benar-benar menyebalkan—lagi-lagi ia hanya mendengar gema suaranya lagi. Apakah Kuroko sengaja mempermainkannya? Atau Midorima sengaja membungkam lelaki kesayangannya itu?

Ketika ia berteriak untuk ketiga kalinya, dan tetap saja tak ada sahutan, Akashi mulai panik.

Apakah Kuroko tiba-tiba menghilang?

Apakah Kuroko lelah—karena terus-menerus didekam di dalam rumah?

Apa Kuroko tidak lagi mencintainya?

Napasnya sesak. Kakinya lemas. Ia harus mencari Kuroko sekarang. Entah apa kesalahannya, ia harus meminta maaf. Ia harus—

"Sei-kun?"

Dalam hitungan detik, matanya yang sejak tadi menutup membuka. Membelalak saking kagetnya.

"Kau baik-baik saja, Sei-kun?" suara lembut itu menyapa pendengaran—secara otomatis meredakan degup Akashi yang berlomba ingin menjebol rusuk. "Wajahmu pucat. Apa aku perlu mengambilkan minum?"

Bahkan suara Akashi terdengar begitu jauh di telinganya sendiri. "Tidak," gumamnya. "Ini hanya—mimpi buruk. Aku hanya terkejut karena mimpiku mengerikan sekali."

"Mimpi?" alis Kuroko bertaut. "Mimpi apa?"

"Mimpi kau meninggalkanku."

Iris biru itu membola, namun tidak berkata apa-apa

"Aku mimpi… semuanya gelap," bisik Akashi. "Kau tidak ada di sana, padahal aku sudah memanggilmu berulang kali. Semakin keras aku memanggilmu, semakin keras pula gema yang berbalik meneriakiku—seolah-olah menegaskan kalau—kau—"

Wajah Kuroko berubah prihatin. "Sebaiknya Sei-kun kembali tidur."

Tapi lawan bicaranya tidak segera membaringkan punggung. "Tetsuya."

"Hmm?"

"Kau tidak akan pergi, kan?" Ia coba menggapai jemari kecil nan pucat itu—namun meleset. "Kau akan tetap bersamaku, kan?"

Ketika Kuroko mengulas senyum, Akashi merasa semua ketakutannya menguap begitu saja. "Aku hidup untuk Sei-kun. Sei-kun sendiri yang memutuskan aku ini akan tetap bersama denganmu atau tidak."

Akashi mendengus. "Aku tahu."

"Ini masih pukul dua pagi," Kuroko memperingatkan. "Sebaiknya Sei-kun kembali tidur sebelum menyelesaikan naskah untuk bulan ini—"

Alih-alih berbaring, kekasihnya malah beranjak. "Aku mau merokok sebentar. Aku butuh sedikit nikotin untuk melegakan otak."

Dalam hati, batinnya berdoa—mudah-mudahan ini mimpi buruk yang terakhir.

.

.

Siang itu, mobil hitam sudah menderu di pekarangan apartemen Akashi. Bahkan tanpa melongok dari jendela saja ia sudah tahu: sang editor datang berkunjung.

"Tumben-tumbennya kau datang ke sini pada siang hari," ujar Akashi, terpaksa membukakan pintu di tengah keasyikan mengeksplorasi ide.

Editornya mengernyit sedikit. Akashi tidak berganti pakaian—masih setelan yang sama dengan kemarin, ia ingat betul—ditambah lagi aroma rokok bercampur kopi menguar tajam ketika pintu dibuka semakin lebar. Ia tidak mau repot-repot bertanya apa yang terjadi, atau kenapa Akashi tidak mau menyewa seorang pengurus rumah tangga untuk membereskan kekacauan itu.

Lebih baik tidak tahu apa-apa ketimbang mengetahui kenyataan yang justru ingin ia tolak.

"Ya." Midorima tidak berniat untuk melepas jas, atau bahkan melangkah melewati keset pintu masuk. "Kau sedang sibuk?"

Dijawab dengan gelengan. Pria yang lebih tinggi mengangguk puas, walau tersirat. "Aku baru saja mendapat telepon untuk mengajakmu pergi."

Akashi menautkan alis. "Ke mana?"

"Ikut saja. Tidak akan lama kalau kau tidak menunda-nunda."

Mau tidak mau, ia terpaksa menurut. Antara penasaran dan ingin segera kembali ke rumah (dan segera menggauli Kuroko lagi), ia berujar, "Tunggu sebentar. Shintarou masuk saja dulu. Biar aku ganti pakaian."

Mungkin rencananya 'bermain' dengan Kuroko Tetsuya perlu ditunda sampai nanti malam. Permintaan maaf diucapkan lewat benak, separuh berharap laki-laki kesayangan menguasai telepati.

.

.

"Masih lama?" tanya Akashi, menguap sedikit. Satu-satunya pemecah keheningan selama perjalanan itu hanya alunan suara penyanyi jazz berkebangsaan Jepang, Coco D'or.

"Tempatnya agak jauh." Midorima menyahut singkat. "Dan untuk yang kesekian kalinya, Akashi—tolong pakai sabuk pengamanmu."

Dijawab sinis. "Tidak ada polisi di sini. Jangan sok baik begitu, Shintarou."

Menjalani nyaris tiga per empat hidupnya di dalam ruangan membuat Akashi menatap apapun yang ada di sekitar sebagai sesuatu yang asing. Parasol lebar yang memayungi kru terlalu norak—mana sudah luntur lantaran terlalu lama berada di luar. Desing mesin dan bisikan tim produksi membuat kupingnya terbakar—tidak bisakah mereka tenang sedikit?

Sungguh, kalau bisa Akashi ingin pulang saat itu juga.

Midorima menuntunnya di sepanjang koridor (untuk sekali ini saja Akashi membiarkan editornya berjalan di depan), melewati ruangan penuh aktor yang sibuk berkaca, mengecek minyak di wajah setiap sepuluh detik, dan menyeberangi lapangan luas penuh piranti dan layar hijau sebagai latar.

Dalam perjalanan mereka sudah berbincang singkat. Katanya, seorang produser tertarik untuk mempublikasikan karya Akashi dalam versi audiovisual. Tawarannya cukup tinggi, dan pihak produksi membutuhkan Akashi sebagai penulis naskah sekaligus pemeran utama.

"Namanya Nash Gold," Midorima memperkenalkan. "Produser yang akhir-akhir ini sering kubicarakan."

Memang, nama itu begitu sering meluncur keluar dari mulut Midorima dalam waktu beberapa bulan terakhir. Intinya, Akashi tidak bisa mengingat kapan kata 'Nash' dan istilah perfilman tidak saling bersanding.

Lahir dan besar di Amerika, laki-laki itu sengaja berinvestasi di Jepang dan membuat rumah produksi sendiri. Hanya dalam kurun waktu dua tahun, usahanya merambat secepat lumut di atas bebatuan lembab.

Akashi tercenung sejenak sebelum akhirnya membungkuk. Lawan bicaranya hanya mengangguk sebagai respons dengan senyum sempurna terbentuk di wajah. "Kau penulis tersohor itu, ya. Aku salah satu penggemarmu."

Pertanyaan retoris. Enggan berdiri lebih lama–entah aura mencekam macam apa yang memancar dari orang asing itu–Akashi langsung menuding. "Katakan saja."

Nash bersilang lengan, memasang wajah puas. "Aku punya penawaran menarik untukmu," ujarnya persuasif.

Akashi memilih untuk diam dan menunggu. Apa yang menarik dari perspektif seorang Nash tidak mungkin sesuai dengan seleranya.

Sederhana saja–pilihan pakaian mereka saja berbeda. Nash lebih suka mengenakan pakaian berwarna cerah dan mencolok. Tambahan lagi tindik berkilauan di sepanjang kuping, entah apa motifnya. Laki-laki bule itu berusaha melakukan apa saja untuk menonjolkan eksistensi diri. Akashi sendiri memiliki preferensi pakaian berwarna gelap, atau setidaknya monokrom. Sesimpel itu sudah cukup untuk menunjukkan seberapa kontras jalan pikir kedua lelaki itu.

"Kau tahu sendiri kalau penjualan bukumu meledak." Si produser mencondongkan tubuh. "Sudah berapa sejak pertama kali bukumu rilis–lebih dari setahun, kan?"

Dijawab kaku. "Nyaris dua tahun."

"Nah, buku se-booming itu akan sangat disayangkan kalau tidak diberdayakan dengan baik," ujar lelaki pirang itu. "Bayangkan kalau bukumu difilmkan. Bayangkan berapa banyak orang yang akan jatuh cinta dengan visualisasi ceritamu."

"Ceritaku sudah cukup untuk memberikan gambaran yang jelas." Ia membantah. "Pembacaku cukup cerdas untuk membiarkan para tokoh di dalam sana bergerak dan bicara. Tidak usah sok berbaik hati menambah isi rekeningku, Nash."

Kedua alis itu bertaut. "Padahal aku serius." Nash mendecakkan lidah. "Bukumu fenomenal, Akashi. Kalau kau khawatir tentang interpretasi keliruku saat memproduksi videonya, jadilah rekanku. Ikut aku saat menentukan tokoh, syuting, bahkan dalam proses editing. Bahkan aku membutuhkanmu sebagai pemeran utama—menjadi dirimu sendiri. Bantuanmu sangat–"

"Aku menolak," kata Akashi, menyipit jengkel. "Kekasihku itu hanya bisa diperankan oleh dirinya sendiri. Jangan meracau soal 'mencarikan orang yang mirip dengan Kuroko Tetsuya', karena orang itu tidak akan ada."

"Kau akan kehilangan banyak sekali keuntungan." Nash bersikeras. Matanya berkilat kesal. "Sebuah film yang diadaptasi dari novel nomor satu akan menambah isi saldo bankmu. Bayangkan berapa juta yen yang bisa kauraup dari mahakarya itu. Aku dan kau akan menjadi kombinasi yang luar biasa."

"Sudah kubilang, tidak usah bersusah-susah menjejali lebih banyak uang ke dalam rekeningku." Nada Akashi ditekan sedemikian rupa hingga terdengar sopan. "Maaf Nash, aku tidak ingin novelku diubah menjadi film murahan. Kalau aku harus memilih antara bersenggama dengan laki-laki asing atau bunuh diri, jawabanku sudah jelas."

Midorima menyentak. "Akashi!"

Suasana di studio berubah mencekam. Jason menahan diri untuk tidak berganti profesi jadi tukang pukul. Di sudut ruangan, Sakurai menggumamkan, "Ini salahku. Harusnya aku tidak–" lalu terpaksa berhenti gara-gara kakinya terinjak Hayama yang sibuk mengabadikan momen diam-diam ("Kita butuh berita panas untuk menaikkan popularitas rumah produksi ini, kan?").

"Dengar." Ia menghela napas. Otaknya terus merapal kata yang sama—sabar, sabar. "Aku tidak peduli dengan tawaran uangmu–lembaran sebanyak itu aku juga punya. Mau memberiku iming-iming ketenaran? Semuanya juga sudah kumiliki. Fans lebih menyukai karya orisinal daripada adaptasi."

Di kursinya, Nash terdiam geram. Berusaha berargumen, namun tidak mampu menelurkan sekalimat pun.

"Tapi kalau aku harus menggantikan Tetsuya dengan orang lain, aku menolak dengan tegas. Dan jangan harap Tetsuya juga bersedia menjadi bintang di filmmu itu."

Editornya menyeletuk gusar, lelah harus meyakinkan si penulis berkali-kali. "Akashi, dengar dulu–"

"Apa lagi?" pertanyaan itu menyambar kasar. "Kalau kau masih berusaha merecokiku dengan tetek bengek yang lain, lebih baik aku pulang saja."

"Egomu sudah kelewat batas."

"Tidak semelenceng Nash, paling tidak. Apa-apaan dia–modusnya membantu tapi hanya ingin mengeruk harta." Sadar sepenuhnya kalau korban gunjingan ada di depan mata, dua pasang mata berbeda warna saling tatap dengan sengit. "Aku tidak mempermasalahkan uang. Sama sekali tidak. Biar saja Si Pirang sialan itu mati overdosis harta."

"Akashi." Rasa-rasanya mulut si penulis perlu dicuci sedikit biar tidak kelewat memaki.

Mengabaikan protes Midorima, ia mendengus. "Dia melecehkan Tetsuya. Itu yang membuatku marah."

Nash tergesa bangkit dari kursinya. "Aku sama sekali tidak melecehkan tokohmu. Sama sekali tidak. Makanya aku memintamu mencari pemeran yang paling sesuai dengan Kuroko Tetsuya-mu–"

"–yang tidak mungkin kautemukan di penjuru manapun." Nada suara itu final. "Kuroko Tetsuya hanya satu. Tidak mungkin diperankan sebagai orang lain, karena ia diciptakan berbeda. Ia diciptakan karena dia ada, bukan sebagai hasil modifikasi karakter orang lain."

Mulut sang produser separuh terbuka. Mati kutu.

"Kaukira aku mau duduk berlama-lama di baris terdepan bioskop dan menontong orang yang sama sekali tidak kukenali memerankan sosok yang paling berharga dalam hidupku?" ia memberondong ketus. "Kalau ada orang yang bersedia keluar dari teater bahkan sebelum filmnya dimulai, orang itu adalah aku sendiri."

Suara cekrekan kamera tidak lagi terdengar. Dua belah pihak entah tuli atau sudah tidak peduli mencegah dokumentasi yang kemungkinan besar akan menghiasi headline majalah entertainment. Mungkin sebentar lagi nama Hayama Kotaro akan dicoret dari daftar pekerja Nash. Tapi itu nanti.

Sekarang, masih ada hal lain yang lebih penting: melunakkan kepala penulis yang satu ini. "Bahkan film-film adaptasi realita kebanyakan tidak memakai tokoh aslinya." Nash berusaha melunakkan nada bicara.

"Hanya karena tokoh yang dimaksud sudah meninggal," tukas Akashi. "Tetsuya-ku masih hidup."

Kenapa berat sekali bagi orang lain untuk percaya? Apa mereka sebegitu cemburunya pada seorang laki-laki—yang jelas-jelas menjadi prioritas hidup Akashi? Apakah begitu sukar bagi mereka, termasuk juga Midorima, untuk menerima kenyataan bahwa Kuroko Tetsuya adalah sosok yang solid dan ada?

"Silakan memasukkanku ke dalam daftar hitam, atau membalas dendam." Ia tersenyum tipis. "Jawabanku sudah mutlak."

Mungkin Nash mengamuk. Atau barangkali ada kursi yang sengaja dibanting untuk memecah ketegangan—ia tidak lagi peduli. Akashi memutar tubuh, ingin segera pulang daripada membuang waktunya yang seharusnya bisa dihabiskan untuk mengasah otak—atau mengasah miliknya di bawah sana.

Siapapun itu, tidak ada yang boleh merusak hubungan di antara mereka berdua.

.

.

"Dia harus diperiksa, Midorima."

Helai-helai hijau yang semula tersisir rapi diacak hingga tak beraturan. Midorima menyahut frustrasi, "Aku tahu." Ekspresinya campur aduk—emosi, cemas, ketakutan—saat menatap sang psikolog. "Tapi dia luar biasa keras kepala. Mana mungkin aku membawanya ke sini dengan paksa."

Keduanya duduk berhadapan, dengan meja sebagai tumpuan lengan. Secangkir kopi panas menanti disesap, tapi tidak kunjung dicicip juga. Para pria itu terlalu larut dalam obrolan.

"Jangan bilang kalau kau akan membawanya ke seorang terapis. Kemungkinan besar ia pasti menolak." Mayuzumi menyahut. Di balik nada datar itu, ada keprihatinan yang amat sangat. Kasihan benar Midorima, harus berurusan dengan orang seperti itu selama bertahun-tahun. "Bilang padanya aku adalah salah seorang penggemar bukunya—karena memang benar begitu. Jangan buat dia curiga."

"Masalahnya," tukas Midorima. "Dia sudah kepalang curiga. Sejak insiden dengan Nash, Akashi semakin menjadi. Dia jadi—bagaimana mengatakannya—luar biasa protektif."

"Pengaruh Kuroko Tetsuya padanya besar sekali, ya?"

"Terlalu besar. Aku tidak pernah melihatnya begitu berdedikasi kecuali kalau sedang membahas—membahas—" tangan berbalut perban itu mengepal. Ia tidak boleh emosi di saat seperti ini. Tidak boleh. "Akashi menganggap Kuroko Tetsuya adalah bagian dari hidupnya, ketika semua orang berusaha meyakinkannya kalau sosok itu tak lain dari bagian kecil di dalam ceritanya. Berkali-kali pula dia mengelak, melontarkan beribu alasan yang mengatakan kalau Kuroko adalah kekasihnya."

"Yah," Mayuzumi membolak-balik buku karya Akashi. "Secara teknis, Akashi dan Kuroko memang berpacaran—tapi hanya sebatas di sini. Di dalam buku."

"Aku juga bilang begitu. Tapi Akashi jauh lebih keras kepala dari apapun dijadikan satu. Selama orang-orang menyukai karyanya—selama semua orang mendukung Akashi dan Kuroko berhubungan mesra di dunia fiktif—Akashi akan tetap bersikeras mencintai Kuroko Tetsuya."

Psikolog itu menjentikkan jari. "Itu dia," katanya, "Pikiran halusinatif seseorang akan bertahan nyata kalau orang-orang di sekitarnya memperkuat. Dalam kasus ini, Akashi Seijuurou—atau perlu kusebut, Akaro Seishi—adalah salah satu tokoh influental. Menghilangkan kemampuannya berimajinasi sama saja menghilangkan keinginan Akashi berproduksi."

"Lantas, apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus mengorbankan profesinya—atau kewarasannya?"

Mayuzumi mengetuk meja dengan ujung pena. "Setidaknya, izinkan aku bicara dengannya. Tidak perlu lama-lama—setengah jam sudah lebih dari cukup untuk mengukur tingkat obsesivitas seorang Akashi Seijuurou pada Kuroko Tetsuya."

Wajah Midorima jauh lebih mendung dari langit sore itu ketika mereka berjabat tangan dan menggumamkan kalimat perpisahan.

"Ingat, Midorima," gumam Mayuzumi—tenang, tapi dalam, "Tak ada yang lebih mengerikan dari manusia hidup yang jiwanya sudah mati."

Bisikan Midorima terasa begitu jauh di telinganya sendiri. "Aku tahu—" karena Akashi sudah hampir mencapai fase itu. Sebentar lagi—kalau matanya tidak lagi bisa terbuka.