I should be over all the butterflies, but I'm into You...
.
.
"Aku gak nyangka bang, kamu kok tega sama aku!"
Jonghyun yang baru saja sampai kos, dan belum sempat mencopot helmnya cuma bisa bengong saat Hyungseob menghampirinya dengan mata yang berkaca-kaca dan ekpresi yang didramatisir, udah gitu pake nunjuk-nunjuk lagi.
Jonghyun bingung, apa anak itu baru saja menonton drama lalu mempraktekkannya pada Jonghyun?
Jonghyun baru saja mau menanyakan maksud dari tingkah ajaib Hyungseob, sebelum Euiwoong dan Seonho datang.
"Ah, abang datang juga akhirnya. Ciye ciye, akhirnya kos kita pecah telur, sekarang udah gak bisa dibilang kosnya jones lagi dong."
"Traktir makan dong bang."
Jonghyun jadi tambah bingung.
"Kalian ngomong apaan sih?"
"Bang Jonghyun udah punya pacar kan sekarang, kok abang tega sih sama aku.."
Pacar? Jonghyun tidak punya pacar kok. Anak-anak ini dapat gosip dari mana?
"Eh, bentar, apaan sih?"
"Ituloh, ada pacar abang nungguin tuh di ruang tamu. Mantap bang, carinya yang daun muda."
"Udah gitu Anak SOPA lagi. "
Anak SMA, mengaku pacarnya Jonghyun..
Gawat!
Jonghyun langsung lari menuju ruang tamu. Ia bahkan lupa mencopot helmnya. Dan benar dugaan Jonghyun, pacar Jonghyun yang dimaksud geng anak-anak ayam itu adalah Jihoon. Jonghyun cuma bisa facepalmed. Untungnya Jihoon pakai masker dan topi, jadi anak-anak tadi tidak menyadari identitas sebenarnya idol itu. tapi, kenapa Jihoon harus ngaku jadi pacarnya Jonghyun?
Jonghyun menghela nafasnya, bakalan banyak yang harus ia jelaskan ke orang-orang sekitar kosnya nanti.
Lihat Jonghyun datang, Jihoon langsung lari terus meluk Jonghyun. Padahal udah dibilangin dilarang peluk di tempat umum, Jihoon tetap lupa, soalnya refleks kalau lihat Jonghyun, bawaannya mau peluk, apalagi kalau udah lama ga ketemu. Jihoon kan kangen.
Pas Jonghyun dipeluk Jihoon, geng anak ayam dibelakang mereka langsung memekik dengan hebohnya.
Jonghyun langsung bawa Jihoon masuk ke kamarnya dan menutup pintunya. Ia lalu menyuruh Jihoon untuk menunggunya, sementara ia keluar untuk klarifikasi dengan anak-anak SMA yang jelas-jelasan bakal menyebarkan kejadian ini ke semua orang di lingkungan kos nya. Kalau begini gawat, dia bakal jadi perbincangan hangat di lingkungan ibu-ibu kompleks. Dan mereka bakal lebih kepo dengan hubungannya dengan 'pacar anak SMA' nya. Kalau sampai begitu identitas Jihoon bisa saja terbongkar. Jangan pernah meremehkan kemampuan investigasi ibu-ibu gosip di kompleks ini. Sekalinya bertindak, Dispatch saja bakalan kalah cepat mengungkap fakta.
Pas keluar anak-anak itu masih ditempat sebelumnya. Euiwoong sama Seonho masih melongo, sepertinya mereka masih mencerna kejadian yang baru saja terjadi dengan begitu cepat di hadapan mereka, sedangkan Hyungseob masih cemberut nahan nangis.
"Anak-anak. Abang mau klarifikasi."
"Kalau cuma mau konfirmasi beneran pacaran mah gak usah bang, namanya menaburkan garam di lukaku." Hyungseob ngomongnya sambil sok terisak. Euiwoong sama Seonho sih gak peduli sama Hyungseob. Tapi sekarang ada Justin yang nepuk-nepuk punggung Hyungseob buat nunjukin simpati aja, walaupun sebenernya Justin baru datang dan gak ngerti duduk permasalahannya sama sekali.
"Gak kok Hyungseob, abang cuma mau jelasin sama kalian kalau anak SMA itu bukan pacar saya."
Seonho sama Euiwoong langsung ngeliatin Jonghyun dengan tatapan curiga. "Bukan pacar kok peluk-peluk bang?"
Iya juga sih.
"Abang kalau cuma mau bohong buat nyenengin perasaan aku mending gak usah, ngomong aja yang sebenarnya. Aku tuh capek bang diginiin terus."
"Hyungseob ga usah alay, plis." Si Euiwoong yang udah gak tahan sama dramanya Hyungseob mulai protes.
"Hyungseob ga usah sedih, kan masih ada kak Hyunbin. Kemaren dia nitip salam buat Hyungseob ke aku." Justin mencoba menghibur.
"Ih najis. Mana mau aku sama tiang listrik kaya dia!" Justin jadi ikut sedih, maksud dia kan baik, kok malah dimarahin.
Jonghyun geleng-geleng aja lihatnya. Si Hyungseob beneran kaya artis telenovela deh, lebaynya udah satu-dua. "Beneran dia bukan pacar abang, gak usah sebarin berita yang enggak-enggak apalagi sama ibu-ibu kompleks ya."
"Kalau bukan pacar kenapa harus disembunyiin bang, kok aku jadi curiga." Seonho yang biasanya iya-iya aja kalau dikasih tau, sekarang malah ikutan gak percayaan kaya Euiwoong.
"Ngaku aja deh bang dia siapa?" Euiwoong nambahin.
"Aku calon pacar mas Jonghyun tau!"
Jonghyun menepak jidatnya, sekarang Jihoon keluar dari kamarnya dan tiba-tiba datang ikut nimbrung. Ini mah bakalan bikin lebih ribet.
"Ooh calon pacar."
"Ciye calon pacar tapi mesra."
"Calon pacar kok udah dibawa ke kamer aja bang?"
Duh Jihoon kenapa sih pake keluar segala. Padahal Jonghyun baru mau bohong kalau Jihoon itu sepupunya. Sekarang udah terlanjur, mau ngomong apa saja juga gak bakal percaya lagi mereka.
Hyungseob harusnya heboh tapi dia malah diem aja. Dia mandangin Jonghyun matanya berkaca-kaca lagi.
"Heh kamu, yang kaya kelinci!"
Hyungseob nunjuk dirinya sambil nanya 'aku?'
"Iya kamu, kamu tuh ga usah kecentilan ya, mas Jonghyun tuh udah janji mau nikahin aku kalau dia udah mapan. Jadi kamu jangan goda-godain dia!"
Duh si Jihoon malah semakin memperkeruh suasana. Make ngomong yang enggak-enggak lagi. Jonghyun sih udah siap-siap mental deh kalau itu anak berdua ujung-ujungnya berantem. Si Hyungseob tuh anaknya drama. Dipancing gini ya bakalan lebih meledak.
Dan ternyata apa yang dibayangkan Jonghyun tidak sesuai dengan yang terjadi. Si Hyungseob gak bales apa-apa, dia cuma bolak-balik mandangin muka Jihoon terus Jonghyun terus Jihoon lagi dengan wajah yang sedih. Abis itu dia nunduk, kecewa kayanya.
Jonghyun dan temen-temen Hyungseob yang lain saling berpandangan. Seperti Jonghyun, mereka juga gak nyangka kalau Hyungseob bakal kaya gitu. Sekarang Hyungseob malah nangis beneran. Jonghyun jadi tambah bingung. Euiwoong sama Seonho juga kasihan sama Jonghyun, kan bukan salah Jonghyun sebenarnya. Euiwoong sama Seonho saja gak nyangka kalau Hyungseob suka beneran sama mahasiswa itu. Kedua anak SMA itu langsung rangkul si Hyungseob dan mengisyaratkan Jonghyun untuk pergi bawa Jihoon dari situ. Jonghyun mengerti maksud mereka, ia pun menggandeng tangan Jihoon yang masih memandangi Hyungseob dengan tatapan penuh curiga, dan membawanya masuk ke kamarnya.
"Dek, kok ngomong begitu sama mereka. Jadi tambah runyam kan."
Jihoon malah cemberut. "Bilang aja maksud mas tuh aku gak boleh ngomongnya cuma sama yang kaya kelinci itu kan."
"Dia gebetan mas juga ya? iya sih dia imut. Terus putih banget, mulus lagi. Matanya besar. Pantes aja kalau mas suka."
"Hubungan kalian udah sampe mana emangnya? Pasti lebih dari hubungan mas sama aku ya? Dia sampe nangis kaya gitu..."
Tuh kan nangis lagi Jihoonnya. Jonghyun pusing banget, kepalanya udah berasa mau pecah. Bukannya Jonghyun gak mau ngakuin Jihoon. Dia cuma takut kalau dampaknya bakal ke Jihoon nanti. Kalau idol kaya dia sampai ketahuan ada hubungan sama orang biasa bisa hancur karirnya. Jonghyun cuma mau lindungi reputasi dia kok.
"Nggak kok Jihoon. Hyungseob itu bukan apa-apanya mas. Dia cuma anak tetangga kok. Mas gak ada perasaan apa-apa sama dia."
Jihoon masih diem aja. Air matanya masih ngalir deras di pipinya. Jonghyun tuh bagaimana sih, dia kok kerjaannya nangisin anak orang terus. Jihoon iya, Hyungseob diluar juga iya.
Kalau sama Hyungseob Jonghyun bener-bener ga ada perasaan. Selama ini dia ngira si Hyungseob yang flirting sama dia itu cuma bercandaan aja. Eh tapi anaknya sekarang malah baper. Jonghyun jadi ngerasa bersalah, soalnya kadang-kadang dia suka meladeni godaan si Hyungseob. Kalau jadinya begini sih dari awal ditegasin aja kalau Jonghyun emang gak ada perasaan apa-apa sama dia.
"Disini mas ga ada maksud buat gak ngakuin Jihoon atau gimana, mas cuma mau lindungin Jihoon aja."
Idol remaja itu masih nunduk, dia sepertinya menghindari tatapan Jonghyun. Jonghyun menghela nafasnya, lalu ia memegang ujung dagu Jihoon dan menengadahkan wajah yang lebih muda untuk melihat ke arahnya. Jonghyun jadi gak tega lihat Jihoon, bibirnya bergetar menahan tangis. Jonghyun mengusap air mata Jihoon dengan ibu jarinya perlahan dan menatapnya dalam-dalam.
"Adek jangan nangis kaya begini ya, mas juga jadi sedih liatnya. Kan tau sendiri dari kemarin mas bilang kenapa mas gak mau kita pacaran karena mas gak mau kalau sampai orang lain tau, khususnya media. Nah yang sekarang adek bilang ke mereka soal adek ini calon pacar mas, itu sama aja. "
"Kalau sampai orang lain tau terus tersebar bakal bahaya. Belakangan ini aja contohnya, banyak idol yang ketauan punya pacar mereka jadi dibenci, sekalipun ia adalah idol papan atas. Bukan hanya itu saja bahkan haters sampai mengirim death threat pada idol itu."
"Dan mas gak yakin kamu bisa menghandle itu semua sendiri. Sekarang ini mas masih bukan seseorang yang bisa melindungimu, bukan orang yang punya kekuasaan untuk menghentikan orang untuk benci padamu."
"Sekarang kamu kan sedang naik daun, banyak yang menyukaimu. Tapi tidak ada yang menjamin semua fans itu akan berbalik membencimu di kemudian hari kan?"
"Selama kamu bisa mempertahankan cinta dari fans mu, ya usahakanlah. "
"Mas sebenarnya takut kalau sampai fansmu tahu tentang kita, yang jelas hubungan ini tidak dapat dilanjutkan lagi. Semua gerakanmu pasti akan semakin diawasi media, dan mungkin manajemenmu akan melarangmu dengan tegas agar tidak menemui mas lagi. Dan mas sendiri mungkin tidak bisa menepati janji mas untuk membiarkanmu memperjuangkan hubungan kita sampai kontrak Wanna One-mu berakhir. Tentu Jihoon gak mau ini terjadi kan? Jadi tolonglah mengerti ya."
Jihoon mengangguk kencang, air matanya masih berjatuhan di pipinya. Jonghyun lalu menarik yang Jihoon dalam pelukannya, yang lebih muda itu sekarang menangis sesenggukan dan semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam dada Jonghyun. Jonghyun mengusap-usap punggungnya dan membisikkan kata-kata yang menghibur agar anak itu tidak menangis lagi.
"Mas.."
Jonghyun berhenti mengusap punggung Jihoon dan menunduk untuk menatap langsung idol itu.
"Maafin aku ya mas, aku emang kekanakan, lakuin semua hal gak pake pikir panjang. Aku janji aku gak bakal kaya begini lagi. Aku bakal rahasiain hubungan kita, soalnya aku gak mau kalau kita berakhir. Aku gak kebayang bagaimana hari aku kalau aku gak bisa ketemu sama mas lagi."
Jonghyun tersenyum mendengar perkataan Jihoon. Ia mengacak rambutnya dan memeluknya sekali lagi. "Iya mas maafin kok, tapi janjinya dipegang ya, lagipula itu semua buat kebaikan adek kok. Untuk masalah anak-anak diluar tadi, biar mas yang handle."
Jihoon mengangguk sambil tersenyum, ia sudah tidak menangis lagi dan hanya tersisa jejak air mata di pipinya.
"Mas, aku lapar."
Jonghyun dan Jihoon saling bertatapan dan tersenyum sebelum Jonghyun akhirnya tertawa, ia lalu mencubit pipi remaja itu dengan gemas. "Jadi adek mau makan apa?"
"Aku lagi pengen masakan cina deh,"
"Oke, kalau gitu kita keluar yuk."
Jonghyun membuka lemarinya dan mencari jaket untuk Jihoon.
"Kenapa makan diluar mas? Gak delivery aja?" Jihoon bertanya tapi tetap sambil memakai jaketnya yang membuat Jonghyun gemas lihatnya, soalnya jaketnya kegedean banget di Jihoon, tangannya aja sampe gak kelihatan.
"Gak apa-apa, sekali-sekali kita makan diluar ya.. eh tapi, tunggu dulu.."
Jonghyun mencari sesuatu dari laci lemari bukunya dan mengambil kaca matanya. Ia lalu memakaikannya pada Jihoon. " Pakai ini juga buat nyamar deh. Pusing gak pakenya?"
Jihoon menggeleng. " Nggak kok biasa aja.. emang ini kacamata minus ya?"
"Iya, tapi minusnya mas gak besar sih, cuma 0,75 makanya mas jarang pake juga. Tapi kalau pusing bilang ya.."Jonghyun membetulkan letak kacamata Jihoon. Dan tersenyum saat melihat yang lebih muda itu terlihat sangat imut dengan kacamatanya. Jonghyun lalu menyeleting jaket Jihoon dan memakaikan tudungnya. "Oke, tinggal pakai maskermu, lalu kita berangkat!"
Sekarang Jihoon sudah benar-benar tertutup dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bahkan mata indah yang menjadi signature-nya pun tersamarkan dengan kacamata. Nah kalau sudah begini Jonghyun sudah agak tenang, semoga saja tidak ada yang mengenalinya di jalan.
-0-
Jonghyun menghentikan sepeda motor mereka di suatu wilayah di pinggiran kota seoul. Kalau lihat areanya, sepertinya ini adalah kompleks Chinatown dan wilayahnya sendiri tidak terlalu luas. Jihoon sama sekali belum pernah kesini, bahkan ia baru tahu ada tempat seperti ini di Seoul.
Jihoon sangat takjub melihat betapa hidupnya suasana malam di sepanjang jalanan tempat ini. Beberapa vendor makanan berjejer menjajakan makanan ringan maupun berat khas tiongkok, dengan lampu-lampu dan lampion kertas warna-warni yang menghiasinya. Keadaannya sangat riuh dari pedagang yang saling bersahutan menawarkan dagangannya. Jihoon tidak bisa menahan air liurnya saat melihat bakpau, chinese barbeque, kebab, gula-gula dan makanan ringan lain yang menggiurkan. Jihoon jadi mau semuanya.
"Dek, Sebenernya mas mau bawa adek ke restoran langganan mas, jajjangmyeon dan mandu nya enak banget."
"Tapi kalau mau coba jajanannya juga boleh, itung-itung buat ganjel perut, soalnya restorannya masih jauh lagi, adanya di paling ujung. Nanti adek pingsan duluan lagi. Katanya kan tadi kelaparan."
"Pokoknya adek mau makan apa aja hari ini mas yang traktir."
Mendengar tawaran Jonghyun, Jihoon langsung sumringah. "Beneran apa aja?"
Jonghyun tersenyum melihat Jihoon yang sepertinya sudah lupa dengan kejadian sebelumnya. "Iya apa aja. Tapi harus dimakan semuanya ya."
Jihoon mengangguk senang, ia lalu menarik tangan Jonghyun dan membawanya ke vendor penjual berbagai sate makanan laut.
"Paman, aku mau sate cuminya ya, jangan pedas ya."
"Mas mau juga?"
Jonghyun menggeleng. Ia tidak terlalu suka ngemil, apalagi sebelum makan. "Gak, adek aja."
"Oke deh, satu aja paman."
Jihoon terlihat seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah ulang tahun pertamanya saat ia menerima sate cumi pesanannya, matanya berbinar-binar, sangat senang. Jonghyun bahkan bisa menggambarkan bagaimana senyumannya dibalik maskernya. Jonghyun tanpa sadar pun ikut tersenyum melihatnya.
Saking senangnya, Jihoon dengan semangat langsung ingin menyuapkan sate itu sebelum Jonghyun menarik tangannya.
"Ini masih panas dek, ditiupin dulu." Lutut Jihoon rasanya meleleh saat Jonghyun yang masih memegangi tangannya meniupi satenya yang masih panas, lalu mahasiswa itu membuka bagian bawah masker Jihoon dan menyuapkan sate yang sudah tidak panas lagi dengan hati-hati kepada yang lebih muda. Jihoon tahu wajahnya pasti sangat merah saat Jonghyun mendekatkan wajahnya pada Jihoon demi menutupi wajahnya yang setengah terbuka ketika memakan sate cumi itu.
Jihoon tidak pernah menyangka kalau berdekatan dengan Jonghyun itu berbahaya. Soalnya Jihoon harus menyiapkan dirinya, kalau tidak jantungnya tidak akan tahan karena perlakuan manis dari Jonghyun.
"Udah mas aku aja." Jihoon merebut sisa sate cuminya dari tangan Jonghyun, berjalan cepat meninggalkan Jonghyun. Ia takut Jonghyun menyadari wajahnya yang sangat merah karena begitu malu.
Ditinggal sang idol, Jonghyun langsung setengah berlari mengejarnya. Saat sudah dekat ia menarik tangan remaja itu dan menautkan jemari mungilnya dengan miliknya. "Dek jalannya jangan cepat-cepat nanti kalau hilang bagaimana?"
Jihoon tambah salah tingkah karena digandeng Jonghyun. Dia jadi gak bisa ngomong apa-apa.
"Pokoknya pegang tangan mas ya, rame banget soalnya disini."
Jihoon ngangguk aja. Dia udah ga bisa berkutik lagi. Jonghyun kalau gak mau pacaran sama Jihoon kenapa sih harus sweet banget kaya gini. Kan Jihoon jadi tambah baper.
Jihoon diam saja sepanjang perjalanan sampai ke restoran yang dituju. Dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi, soalnya pikirannya udah terganggu banget sama perasaan hangat yang ia rasakan pada jemarinya. Belum lagi jantungnya yang berdetak tambah kencang, Jihoon pun jadi tidak bisa lanjut makan soalnya rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Jadi, cuminya hanya ia pegang sampai tiba di restoran tujuan mereka.
"Nah udah sampe, ayo masuk."
Restoran itu tidak seperti restoran pada umumnya. Lebih berasa seperti rumah menurut Jihoon. Didalamnya cuma ada beberapa meja, tanpa kursi. Jadi konsepnya seperti lesehan. Pada saat masuk bibi pemilik restoran langsung menyapa Jonghyun. Jihoon masih terpaku di belakang Jonghyun dan memandangi interior sekeliling restoran itu. Benar-benar tidak ada yang istimewa, tidak ada ornamen-ornamen cina yang menghiasi ruangan. Hanya ada foto keluarga pemilik restoran yang sepertinya sudah dari beberapa generasi. Pokoknya jika kau tidak melihat betapa banyak orang yang memenuhi meja-meja dan mencium harumnya beragam masakan cina yang disajikan kau tidak akan tahu kalau rumah sederhana ini adalah sebuah restoran.
"Hai adik manis.."
Jihoon membuka maskernya setelah sebelumnya diberi isyarat oleh Jonghyun bahwa disini aman untuk membuka samarannya. Ia membalas sapaan bibi pemilik restoran yang ramah itu. Bibi itu tersenyum sangat lebar saat melihat Jihoon, dan ia pun mencubit pipi remaja itu.
"Ah, pacarmu imut sekali."
Jihoon senyum-senyum sendiri saat Jonghyun tidak menyangkal, mahasiswa itu hanya tertawa menanggapi ucapan bibi yang sangat ramah itu.
"Bi, diatas bisa kan?"
"Tentu saja, kalau untukmu selalu ada tempat disini."
Jonghyun memberikan jempolnya pada bibi itu yang dibalas wanita paruh baya itu dengan kedipan.
"Ayo, tempat kita diatas."
Jonghyun menyodorkan tangannya pada Jihoon. yang Jihoon raih dengan bahagia. Jonghyun lalu menggandeng tangan remaja manis itu dan mengarahkannya menuju tangga naik ke atas. Jihoon tidak dapat menahan senyumnya lagi walaupun rasanya pipinya sakit sekali karena terlalu banyak tersenyum malam ini. Salahkan Jonghyun yang bersikap begitu manis padanya.
Tempat diatas yang dimaksud oleh Jonghyun ternyata adalah rooftop, disana cuma ada semacam pondokan dengan meja di tengahnya. Dipinggirnya dihiasi lampion kertas yang temaram. Sebenarnya sederhana saja, tapi suasananya menurut Jihoon jadi romantis. Mungkin karena hatinya sedang berbunga-bunga saat ini sehingga semuanya terlihat begitu indah.
"Kalau dibawah pengap sekali, dan saya takut ada orang yang akan mengenalimu. Makanya mas bawa kamu makan diatas."
"Diatas ini bukan untuk umum sih, biasanya kalau keluarga bibi sedang kumpul-kumpul mereka suka makan disini. Bikin barbeque atau makan semangka di malam musim panas."
"Nah, mas pernah diajak makan bareng mereka, makanya tau tempat ini.. bagaimana? Lumayan kan?"
Jihoon mengangguk dengan semangat. "Aku suka banget tempatnya mas, makasih ya!"
Jonghyun hanya tersenyum melihat Jihoon yang dengan semangat berlari ke pinggiran rooftop itu untuk melihat pemandangan dibawah. "Wah mas, rame sekali ya, lihat, orang-orang berdesakan seperti itu, tadi kita seperti mereka pasti.."
"Mas sini, sini, lihatlah itu paman penjual sate cumi yang tadi!"
"Wah, asapnya!"
Jonghyun menghampiri Jihoon yang sekarang sedang dengan semangatnya mengoceh tentang apapun yang ia lihat. Jonghyun lega, setidaknya sekarang Jihoon senang, ia sendiri sangat bingung setiap melihat Jihoon menangis. Ia sangat suka Jihoon yang ceria. Jonghyun sangat menyukai matanya yang berbinar saat menatapnya. Ketika menangis mata itu berubah menjadi redup, yang sangat tidak cocok untuknya. Karena Jihoon paling cocok jika ia tersenyum. Dan senyumnya itu sangat contagious, membuat siapapun yang melihatnya ingin ikut tersenyum.
Jonghyun berdiri disebelah Jihoon dan mengusap ujung kepalanya lembut, "yang mana paman tadi memang?"
Jihoon dengan semangat menunjuk arah vendor sate makanan laut yang tadi mereka datangi. Jihoon saat ini bertingkah seperti umurnya, sangat enerjik dan ceria, Jonghyun jadi gemas melihatnya.
"Kita duduk ya, bentar lagi makanannya datang." Ia mencubit pipi Jihoon dengan lembut. Yang lebih muda mengerutkan sebelah matanya karena pipinya yang dicubit oleh Jonghyun.
"Oke.."
Jonghyun membiarkan Jihoon merangkul tangannya sampai ke pondokan. Mereka duduk berseberangan, walaupun suasananya yg temaram, Jonghyun masih dapat menggambarkan senyum yang menghiasi wajah member Wanna One tersebut.
"Mas.."
"Kenapa dek?"
"Mas pernah gak ngajak orang lain kesini?"
"Kenapa emangnya?"
Jihoon tiba-tiba cemberut lagi. "Kok mas malah balik tanya, jangan-jangan mas pernah ngajak si kelinci ke sini juga ya."
Jonghyun menghela nafasnya. "Duh dek, jangan mulai lagi deh."
"Soalnya aku cemburu sama dia. Dia pasti kenal sama mas udah lama. Aku kalah sama dia, aku belum kenal mas banget." Pandangannya berubah jadi sedih.
"Jihoon, coba dengerin baik-baik. mas gak pernah ngajak siapapun selain kamu kesini. Mas aja selama kuliah gak sempat pacaran. Dan perlu mas buktiin gimana lagi buat kamu percaya kalau mas ga ada perasaan apa-apa sama Hyungseob. Kalau nganggep dia adik mungkin iya.."
"Kalau aku mas anggep apa?"
Aduh dek, Pertanyaannya susah banget ya. Jonghyun menggaruk belakang kepalanya, ia masih bingung mencari kata yang tepat untuk mendeskripisikan Jihoon.
"Mas gak tau, tapi yang pasti kamu spesial. Dalam artian cuma kamu yang mas sempetin buat ketemu di tengah sibuknya aktivitas mas, cuma kamu yang mas bolehin nginap di kamar mas, dan kamu orang pertama yang mas bawa makan ke sini."
Jihoon yang tidak siap dengan pernyataan Jonghyun sekarang terpaku, pipinya benar-benar merah seperti apel yang masak. Rasanya ia ingin melompat-lompat dan menari di atas meja saking bahagianya. Tapi karena Jihoon ingat ia masih harus menjaga image didepan pujaan hatinya, jadi sekarang dia hanya bisa senyum-senyum sendiri. Jihoon sangat menyukai bagaimana Jonghyun tidak berbicara dengannya dengan nada yang manis seperti seorang playboy yang menggombal. Cara bicaranya biasa saja, nadanya lebih seperti menjelaskan fakta, dan itu malah membuat Jihoon lebih tersentuh.
"Udah puas sama jawaban mas?"
Jihoon senyum dengan begitu manisnya pada Jonghyun dan mahasiswa itu pun tidak dapat menolak pesonanya.
"Nah, Mas paling suka liat kamu kaya begini. Park Jihoon tuh paling cocok kalau tersenyum."
Jihoon menunduk malu saat ia mendengar pujian Jonghyun. Sekali lagi, cara bicaranya Jonghyun itu tidak dibuat-buat. Kata-katanya manis karena ia ucapkan begitu tulus. Jihoon sendiri bisa melihatnya dari mata Jonghyun yang seolah-olah ikut berbicara mendukung perkataannya.
"Ngomong-ngomong hari ini mas punya kabar bahagia."
Jihoon yang masih menunduk langsung mendongakkan kepalanya dan memandang Jonghyun ingin tahu. "Berita bahagia apa mas?"
Jonghyun tersenyum. " Hari ini proposal skripsi mas udah di-acc sama dosen mas. Jadi mas udah bisa lanjut deh ngerjain skripsinya."
"Kemaren-kemaren sih mas udah sempat nyicil bikin bab I dan II nya, jadi tinggal lanjut bab III nih, kalau lancar tahun ini mas udah bisa ikut sidang."
"Wah, selamat mas!" Jihoon bersorak, ia tersenyum begitu lebar pada Jonghyun. Ia pun begitu bahagia mendengar kabar ini, saking bahagianya ia sampai menitikkan air matanya.
"Eh kok malah nangis."
"Apa, gak kok?" Jihoon meraba wajahnya, dan air mata malah menjadi semakin deras mengalir di pipinya. "Eh kok aku nangis."
Jonghyun pun berdiri untuk menghampiri yang lebih muda, ia mengusap air mata di pipinya dengan lembut. "Aku kok bikin kamu nangis terus ya.."
Jihoon nenggelengkan kepalanya kencang, bukan, bukan.. ia menangis bukan karena ia tidak suka berita ini, dia sangat terharu dengan perjuangan Jonghyun selama ini, yang bekerja keras mengerjakan proposalnya, dan tidak bosan-bosannya menyempurnakannya tiap hari disaat harus bekerja keras untuk mencari uang untuk membiayai kuliahnya sendiri. Jihoon benar-benar bangga padanya. Sekarang ini ia sangat bahagia karena ia sudah lama menunggu kabar ini, makanya saking bahagianya ia sampai tidak menyadari air matanya mengalir dengan sendirinya.
"Tidak, tidak.. aku menangis sekarang karena bahagia.."
Jihoon memeluk Jonghyun dengan sangat erat. "Selamat mas, kamu berhak mendapatkan ini semua." Ia membisikkan kata-kata itu di dalam pelukan Jonghyun yang hangat. Mahasiswa itu pun tersenyum mendengarnya.
"Terima kasih dek, doakan mas ya supaya lebih lancar kedepannya.."
Jihoon mengangguk dengan semangat. "Tentu saja mas. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu!"
"Ehem, permisi.. maaf menganggu."
Keduanya sama-sama refleks melepaskan pelukannya saat mendengar bibi pemilik restoran datang untuk mengantarkan pesanan mereka. Jonghyun segera kembali ke tempat duduknya. Ia dan Jihoon saling melemparkan pandangan dan tersenyum malu-malu saat bibi itu terkekeh akibat melihat tingkah mereka sebelumnya.
"Tenang saja, bibi langsung turun setelah ini. Bisa dilanjut kok.. silakan.."
"Ah, bibi bisa saja.."
Jihoon tidak bisa berkata apa-apa seperti Jonghyun, ia masih tersipu malu mendengar perkataan bibi pemilik restoran itu. Biasanya sih Jihoon tidak pernah malu memeluk Jonghyun walaupun di tempat umum. Tapi sekarang waktu ke gap sama bibi itu Jihoon jadi salah tingkah. Mungkin karena wanita paruh baya itu mengira Jihoon adalah pacar Jonghyun. Makanya Jihoon jadi sangat malu. Rasanya jadi kaya kepergok orang tua kamu pas lagi mojok. Ya, rasanya seperti itu.
"Ayo makan.."
Jonghyun menyodorkan jajjangmyeon yang telah ia aduk pada Jihoon. Ia pun menempatkan beberapa mandu di piring terpisah dan tidak lupa daging asam manisnya. Mata Jihoon berbinar melihat makanan yang tersaji di depannya. Ia pun mengambil sumpit dan langsung menyuapkan sesumpit besar jajjangmyeon.
"Waah. Enak sekali mas."
Jonghyun tertawa melihat bibir Jihoon yang berlepotan dengan saus kedelai hitam, bukan hanya di bibirnya, entah kenapa saus itu sampai pada pipi gembil remaja itu.
"Iya, tapi makannya pelan-pelan.. nanti kamu tersedak dek.."
Jonghyun mengambil tissue lalu mengelap bibir dan pipi Jihoon. "Lucu banget, kok bisa sampe ke pipi kaya gini."
Jihoon hanya nyengir lebar menanggapi ucapan Jonghyun. Jihoon lalu mengambil mandu dan menyuapkannya pada yang lebih tua. Ia pun tersenyum dengan riangnya saat Jonghyun menerima suapan darinya.
"Enak mas?"
"Enak banget."
"Pasti karena aku suapin jadi rasanya jadi lebih enak." Jihoon berbicara dengan begitu percaya diri. Jonghyun tertawa dan mencubit pipinya sekali lagi. Sebenarnya Jihoon benci jika ada orang yang mencubit pipinya. Bukan hanya mencubit sebenarnya, orang memegang pipinya saja ia sudah begitu kesal. Soalnya dari mitos yang ia dengar, pipi itu bakalan semakin tembam jika sering dicubiti. Tapi tentu saja berbeda rasanya jika Jonghyun yang melakukannya. Setiap yang lebih tua itu menyentuh pipinya, ia serasa akan terbang, karena saking bahagianya.
"Makan yang banyak ya, supaya sehat.. adek bakal lebih sibuk lagi kan setelah ini?"
"Iya mas, lusa kami akan memulai syuting variety show baru.. dan tiga bulan lagi kami akan comeback. Jadi harus sudah mulai latihan deh."
Jihoon menghela nafasnya. "aku bakalan jarang ketemu mas deh."
Raut wajah idol itu berubah menjadi sedih. Jonghyun mengangguk. Ia mengerti perasaan Jihoon. Sebenarnya anak-anak seumuran dia normalnya masih punya waktu untuk bermain, sekolah ataupun berpacaran. Tapi karena Jihoon adalah idol itu semua adalah hal yang tidak mungkin bisa ia lakukan.
"Tenang saja. Kita masih bisa bertemu kok. Kalau kamu gak bisa keluar ya mas yang nyamperin. Terus kalau emang ga bisa banget kan kita bisa kirim pesan atau video call?"
"Kamu harus semangat, ingat ini adalah mimpimu kan?"
"Mas juga gak mau kalah nih sama adek, mas juga mau berjuang keras meraih mimpi mas."
Jonghyun mengelus rambut Jihoon yang akhirnya tersenyum setelah mendengar ucapan semangat dari yang lebih tua.
"Iya mas, aku harus semangat. Mas juga ya, semangat supaya cepet sukses. Kalau mas udah sukses kan bisa nikahin aku nanti hehehe."
Jonghyun hanya bisa tertawa mendengar perkataan idol itu. "Iya, iya deh.. ayo dilanjut makannya."
"Mas, aku tuh sayaaaaaaaang bangeeeet sama mas."
Jonghyun gemas sekali melihat tingkah Jihoon yang benar-benar penuh dengan aegyo. Jonghyun mencubit pipi yang lebih muda dan tertawa saat Jihoon mengerucutkan bibirnya karena tidak dapat respon yang ia inginkan dari yang lebih tua. Harusnya jawab sayang balik kek, eh malah cubit-cubit.
"Iya, aku tau kok. "
"Yaudah makan lagi, itu nanti mienya dingin loh."
Jihoon menghela nafasnya. Sepertinya ia masih harus usaha lebih keras lagi supaya Jonghyun bisa membalas perasaannya. Ia sendiri kan sudah pernah bilang bahwa untuk bisa bersama Jonghyun nantinya adalah salah satu dari mimpinya saat ini. jadi iaharus tetp berjuang! Tapi walaupun begitu ia tetap senang karena walaupun Jonghyun tidak secara lisan mengatakan bahwa ia suka pada Jihoon, tapi setidaknya sikap Jonghyun sudah sangat manis padanya. Dan Jonghyun sendiri bilang bahwa Jihoon adalah orang yang spesial baginya. Untuk sekarang ini, semua itu sudah cukup bagi Jihoon, lagipula waktu kedekatan mereka kan masih belum terlalu lama. Karena waktu yang singkat itu, Jihoon menjadi lebih percaya diri, bahwa ia bisa membuat Mahasiswa itu suka padanya kedepannya.
"kenapa kok ketawa-tawa sendiri dek?"
Aku merasa beruntung aja bisa ketemu mas di hidup aku.. Makanya aku bahagia banget sekarang.
Terima kasih ya mas udah hadir di kehidupanku
"Gak apa-apa kok.." Jihoon memutuskan untuk menyimpan kata-kata itu untuk dikemudian hari, ketika mereka sudah benar-benar bersama tanpa harus menyembunyikannya dari semua orang.
Jonghyun tertawa. dan mengusak rambut Jihoon gemas. "dasar anak aneh.."
-end of ch 3-
.
.
seneng banget sekarang anak-anak P101 banyak yang memulai debutnya, yonggukxsihyun, youngminxdonghyun dan bahkan JBJ! semoga semuanya sama-sama sukses ya.
btw, akhirnya update chapter 3..
terima kasih untuk semua yang baca ff ini, yang ngereview juga, baca respon dari kalian bikin aku ketawa-ketawa dan tambah semangat lanjutinnya deh, makasih yaaa :'')
dan Selamat membaca semuanyaaaa, semoga suka dengan chapter ini 3 3
