OwyeahEonnie first Fanfiction
.
.
.
"BETWEEN TWO HEARTS AND TWO LIPS"
.
.
.
Main Cast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Do Kyungsoo
Oh Sehun
Luhan
Kris Wu
Other Cast :
Other EXO's member
SM Ent artist
.
Gender Switch for all 'uke' Character
.
.
WARNING!:
RATE M! NC
Maybe full of Dirty Talk and Sorry for Typo(s), OOC, abal abal story and other
.
.
.
.
From Author
Oke biarkan gue memberi salam diawal Chapter.
Hai semuanya. Maaf telat banget :')
Banyak insiden kemarin. Salah satunya updatean ff ini ada di HP. Dan hp error dan harus di reset pabrik :') untungnya ff ini aku masukin ke SDCard. Jadi ga kehapus.
Ada yang masih nunggu ff ini? Nggak? Yaudah :'(
Gue mau menjawab review review kalian di Chapter 2 XD
Oke cekidot!
.
Clarissa Afternoon : wkwkwk terima kash sudah membaca :* . konflik sudah mulai muncul sedikit disini :') sedikit. Gue lebih suka bikin konflik muncul pelan pelan. Bahagia diawal, dan nyakitin diakhir.
CussonsBaekby wkwkwk iya gue juga sadar BHH kok centil bgt di chap kemaren. Maklum lah napsu :'v
Selenia Oh : Chanyeol baik kok. Mungkin :'( FF hunhannya sudah dipublish yaa semoga sukaa
Chanbaekhunlove : yatuhan makasih banyak loh ya :'( padahal aku ga pd publish ff ini :''). Tapi alhamdulilah kalau bagus. Jawaban soal Kyungsoo silahkan baca Chapter ini XD
Seravin509 : Syudah diupdate yaa :****
msluhan87 : samaa gue juga gereget pengen nc-in luhan. Tapi Chanbaek dulu ya NC nya
ChanBMine : Sepertinya baek kebelet sama si Chanyeol. Btw tebakan kamu bener loh wkwkwk selamaat
Rly. : Semoga aja :'((( gue mewek pas ngetik bagian Luhan yg dibully itu #curhat
Oohme614 : Baca saja di Chapter ini XD udah dibeberkan kok
.
.
.
.
Gue sempet labil sama cerita ini. Tapi labilnya udah ilang kok, makanya gue apdet XD
Btw ini beneran rate M loh. Meski NC nya lama. Gue lebih suka NC nya pelan pelan. :'''(
.
.
.
Jangan lupa review ya~ silent reader? Gue sumpahin lo nikah sama bias! :'v
.
.
.
Please Enjoy, my lovely dovey Readers~
.
.
.
.
.
.
CHAPTER 3
.
.
.
.
.
.
.
Baekhyun dengan kesadarannya menunduk saat ada dihadapan tubuh Chanyeol yang bertelanjang dada. Tangannya gemetar, sepertinya dia sadar dari kabutan nafsu dimata, otak dan perlakuannya. Chanyeol mengelus surai Baekhyun dengan lembut.
"Gwaenchana... kalau kau belum siap jangan memaksakan dirimu sayang. Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa kau tidak ingin sex tanpa cinta?"
Baekhyun menutup mata dengan kedua tangannya. Gemetar. "Aku.. seperti iblis"
Chanyeol memeluk tubuh gemetar itu, dan dengan perlahan menjatuhkan diri bersama diatas kasur. Chanyeol menciumi kening Baekhyun, menenangkan gadisnya.
"Aku.. terlalu.." Baekhyun mulai menitikkan air mata menyadari betapa bodohnya ia.
"..oppa.. mianhae.." Baekhyun terisak.
"..Aku... nafsuku... Ah... oppa.. mianhae." Baekhyun terisak dan menangis semakin kencang. Chanyeol tidak berkata apapun. Dan dengan sekali tarik, Chanyeol merubah posisi mereka, Baekhyun menimpa tubuhnya dan menangis di dada telanjangnya.
"Menangislah jika kau memang ingin menangis.. tapi kau tidak perlu menyesalinya. Kita berdua tidak perlu munafik Baekhyun.. aku dan kau sama sama menikmatinya. Jadi biarkan pikiranmu tenang dulu." Chanyeol mengusap punggung Baekhyun dengan lembut dan penuh sayang sampai isakan itu tak terdengar lagi.
"sudah selesai?" Chanyeol mencoba melihat wajah Baekhyun
Baekhyun mendongak dan air matanya masih menetes disana. Chanyeol membawa tubuh Baekhyun agar terduduk, kemudian menatap wajah cantik itu. Menghapus air mata Baekhyun sambil tak berhenti tersenyum. Dan ia melayangkan sebuah ciuman lembut dibibir Baekhyun. lalu naik ke dahinya.
Chanyeol menyandarkan Baekhyun didadanya dan punggung Chanyeol bersandar pada head board. Chanyeol terus mengelus elus rambut Baekhyun, kemudian mengelus wajahnya, beralih ke punggungnya dan terus saja seperti itu. Sampai Baekhyun tertidur. Melihat wajah gadis itu tersenyum Chanyeol tak bisa menahan senyumannya juga. Chanyeol sedikit beruntung Baekhyun tersadar dari kilatan nafsunya. Chanyeol tahu Baekhyun belum siap secara mental. Bagaimanapun Chanyeol bukan lelaki yang merebut keperawanan wanita yang diinginkannya secara paksa dan menyiksa. Dia bukan tipe seperti itu. Dia tipe laki laki yang lembut dan hanya akan melakukan itu bila wanitanya memberi persetujuan. Meskipun terkadang Chanyeol akan lost control ketika mendapat persetujuan itu. Tapi ia akan berhenti melakukannya saat wanita itu sudah kelelahan. Ia tidak melakukannya jika wanitanya sudah kelelahan, terlelap atau sedang sakit. Dia tidak seperti Sehun yang penuh gairah membara ketika berada di keintiman cinta. Dia bukan Sehun yang berani melakukan itu dalam keadaan apapun tanpa mempedulikan si wanita. Sekalipun wanitanya dalam keadaan lelah, sakit, bahkan hingga tidak bernyawa. Chanyeol bukan Sehun. Ya, Chanyeol tidak sama dengan Sehun.
...
Dijauh sana Kyungsoo sedang memeluk lutut sambil meneguk Wine yang sengaja ia beli untuk merayakan diangkatnya Chanyeol sebagai direktur perusahaan kakeknya. Kyungsoo sangat cantik saat ini. Ia mengenakan lingrie berwarna hitam beserta stockingnya. Dia mengirim pesan dan menelepon Chanyeol, tapi tak satupun ditanggapi. Saat Kyungsoo menengok kearah jam, ia dengan otomatis merasa sedih. Sudah jam satu dini hari. Chanyeol tak mungkin pulang. Kyungsoo menekan tombol call pada kontak bernama Joy.
"yeoboseyo?" Suara mengantuk dari jauh sana.
"Ah Soo Youngie.. kau sudah tidur? Maaf menganggumu"
"Aah.. Kyungsoo eonnie? Eonniee. Kenapa tadi tidak datang? Eonnie pasti menyesal melewatkan pesta tadi.." gadis itu terdengar sehat dan manja seperti biasanya.
"Nde .. ini aku Soo Youngie, ah, aku tidak enak badan. Dan kau tidak lupa kan kalau aku tidak terbiasa ada di kerumunan orang?"
"Aku selalu ingat itu. Jadi ada apa eonnie?"
"Apa kau pulang dengan Chanyeol?"
"Tidak. Aku pulang duluan dengan Eomma"
"Lalu Yoora Eonnie?"
"Mungkin dengan suaminya. Kenapa Eonnie?"
"Chanyeol tidak pulang kerumah. Dia tidak merespon telepon dan pesan ku"
"Ah.. mungkin dia pesta dengan staff staff kantornya!"
"Kurasa kau benar.. kututup ya. Selamat tidur Soo Youngie"
"Joy saja Eonnie" dan suara itupun tertawa
"Ah mianhae. Aku lupa kau sangat ingin dipanggil Joy. Kalau begitu, selamat tidur Joy.."
"Bye Kyungsoo Eonnie"
Telepon terputus. Kyungsoo merasa sangat kecewa kala itu. Kyungsoo ingin meluapkan kekecewaannya. Namun mata dan tubuhnya sudah tidak mendukung lagi. Kyungsoo kembali kekamarnya dan terlelap.
...
Sunday 9th February / 05:30 AM / Seoul, South Korea
Luhan membuka matanya saat kedua kucingnya naik ketempat tidur. Luhan terduduk dan mengelus kedua kucingnya. Kelihatannya kedua kucing gembul itu belum terbiasa dengan rumah besar milik Sehun. Luhan melirik kearah sofa dikamar Sehun, Wendy sedang tidur disana. Entah kenapa Sehun memberikan kamarnya untuk ditinggali Luhan, padahal Luhan yakin banyak kamar kosong mengingat begitu besarnya rumah kediaman tuan Oh Sehun itu.
Dipesta tadi Luhan menghindar dari keluarga Sehun. Dia terus menolak saat Sehun ingin mengenalkannya pada keluarganya. Dia takut. Meskipun dia bertemu dengan kakak perempuan Sehun, Irene. Luhan sempat mengira Irene yang dibicarakan Wendy itu adalah mantan kekasih Sehun, tapi ternyata bukan. Irene adalah kakak perempuan Sehun yang lebih tua empat tahun. Luhan benar benar lelah setelah pulang dari peata itu. Banyak orang orang menatapnya takjub dan mengklaim bahwa ia adalah kekasih baru presedir Oh. Namun Luhan tidak mengiyakan semua pernyataan pernyataan itu.
"..nona.." Wendy terbangun mendapati nonanya sedang terduduk mengusap kedua kucingnya.
"Tidurlah kembali Wendy.." Luhan tersenyum
"Nona, pukul berapa sekarang?"
"Lima lebih tiga puluh Wendy"
"Ah aku harus bersiap-siap." Wendy bangkit dari tidurnya.
"Wendy.."
"Ya nona?"
"Biar kubantu.."
"Tapi nona harus beristirahat" Wendy mencegah Luhan bangkit dari kasurnya.
"Tidak apa apa Wendy. Aku akan membantumu memasak. Kau bisa bersih bersih dengan tenang. Mengerti?" Luhan masih dengan senyuman lembut khasnya.
"Ta-tapi nona.."
"Aku ingin air hangat. Bisa kau siapkan? Badanku lengket.."
"Dengan senang hati nona. Saya akan kembali setelah berganti pakaian"
"Terima Kasih Wendy"
"Apapun untukmu, nona Luhan" Wendy tersenyum dan berlalu.
Luhan berjalan keluar kamar. Kedua kucingnya tertidur pulas dikasur Sehun. Luhan tersenyum saat mendapati Sehun tertidur di sofa didepan TV yang masih menyala. Luhan berjongkok tepat dihadapan wajah Sehun. Lalu ia berbisik
"Terima kasih Sehun.."
Wendy kembali dengan pakaian rapi dan wajah segarnya. Ia tersenyum melihat Luhan yang berjongkok dihadapan Sehun, namun bukan senyum bahagia. Tapi senyum takut. Senyum takut kehilangan.
"Nona.." Wendy memanggil Luhan
"Air hangatnya sudah siap." Wendy tersenyum
"Ah iya." Luhan bangkit dan mengikuti Wendy kesebuah ruangan yang cukup luas. Luhan sedikit tercengang dengan sebuah kolam cukup besar berisikan air hangat dan bunga mawar putih yang ia yakini bentuk lain dari Bathtub yang biasa ia lihat.
"Ini kamar mandi kan? Bukan pemandian air panas?" Luhan bertanya polos.
"Iya nona. Ini kamar mandi." Wendy tersenyum lagi.
"Mari saya bantu menggosok punggung anda. Setelah itu berendamlah nona"
"ah baik. Terima kasih Wendy"
Wendy membantu Luhan mengeramasi rambutnya, dan tentu saja menggosok punggungnya dengan sabun dengan wangi yang menenangkan. Setelah itu Wendy membantu Luhan membilas semuanya, walau Luhan kelihatan sangat canggung dan malu malu.
"Nona bisa berendam disini. Saya akan beres beres sebentar. Setelah itu, Saya akan membawakan nona pakaian ganti. Saya permisi Nona"
"ah terima kasih banyak Wendy"
Luhan turun kedalam bak air panas itu. Hangat dan aroma mawar putihnya menenangkan pikiran. Luhan membawa rambut panjangnya menutupi dada. Ia malu dengan tubuhnya sendiri.
Diluar sana Wendy gemetar menghadapi tuannya yang sudah terbangun dan duduk diatas sofa sambil menyilangkan tangannya.
"Luhan tidur dikamarku?"
"Ya tuan"
"Kau menemaninya?"
"Ya tuan."
Sehun menatap Wendy sinis
"Saya pastikan dia tidak keluar kamarnya tuan. Saya terjaga hingga pukul satu malam. Dan saya sangat yakin nona Luhan tidak kemanapun"
"Bagus"
"Anu.. tuan? Kenapa tidak mengunci saja pintunya saat nona Luhan tertidur?"
"Pria seperti apa yang mengunci tamunya didalam kamar hah?"
Wendy menunduk. "Maaf tuan"
"Sudahlah. Kembali bekerja"
"Baik Tuan." Wendy membungkuk. Sehun tidak mengindahi perlakuan maidnya itu, dia hanya berjalan santai menuju kamarnya.
"Wendy.."
Wendy bergidik dan menjawab tuannya. "Iya tuan?"
"Bisa kau lupakan masa lalu?"
Wendy bisu. Dia tak sanggup melupakannya
...
Pukul tujuh pagi Baekhyun membuka matanya, dia merasakan hangat tubuh Chanyeol menguar di sekujur tubuhnya. Baekhyun tertidur beralaskan badan Chanyeol. Dan dada Chanyeol sebagai tumpuan kepalanya. Juga dengan selimut diatas tubuh keduanya. Baekhyun mendongak dan bertemu dengan iris Chanyeol juga dengan bibirnya yang mengumbar senyum cerah kearah Baekhyun.
"Pagi." Chanyeol menyapa Baekhyun dan mengecup keningnya.
"Kau tidur sangat pulas sampai aku tak tega untuk bergerak dan membuatmu terbangun. Kau tahu? Punggungku sepertinya mati rasa." Chanyeol terkekeh membuat Baekhyun langsung menarik diri.
"Mian oppa, aku pasti berat." Baekhyun terduduk dan sedikit menunduk.
Setelah memastikan tidak ada sepatah kata lagi yang akan dikeluarkan Baekhyun, Chanyeol bergerak cepat dan mencium bibir Baekhyun dengan sekali kedip. Baekhyun memejamkan matanya. Dia selalu suka dengan Ciuman Chanyeol yang tiba tiba. Perlahan Chanyeol mulai membuka mulutnya, lidahnya bermain dengan lidah Baekhyun. Chanyeol menjatuhkan tubuh Baekhyun keatas kasur sambil terus mencumbu bibir merah gadis itu. Bibirnya yang dipoles lipstick merah tadi malam membuat gairah pagi Chanyeol harus terpuaskan sesegera mungkin. Chanyeol mulai menggigit bibir bawah Baekhyun, kemudian menghisapnya. Baekhyun membalasnya, menghisap bibir bawah Chanyeol yang tebal, menggigitnya dan menjilatnya. French kiss favorit keduanya terjadi dan terjadi lagi. Chanyeol melepas pagutan mereka, dan beralih menggoda leher Baekhyun. Baekhyun dengan lututnya tidak sengaja menyentuh dan bergesekan dengan selangkangan Chanyeol membuat sang lelaki menggeram dengan suara beratnya yang sexy. Chanyeol bangkit dan menatap Baekhyun yang terengah dibawahnya.
"Kau memang seharusnya ada dibawahku. Mendesah dan merasakan nikmatnya diriku. Aku tidak ingin orang lain merasakannya. Kau hanya ditakdirkan untuk ada dibawah kendali dari gairahku." Perkataan Chanyeol sukses membuat Baekhyun menggigit lagi bibir bawahnya.
"Apakah Chanyeol oppa juga ditakdirkan untukku? Apa hanya aku yang bisa menyentuh indahnya tubuhmu? Apa hanya aku yang ada dipikiranmu setiap saat?" Baekhyun bertanya dengan debaran kencang didadanya. Membuat dadanya naik turun.
Chanyeol bisu. Alih alih menjawab pertanyaan Baekhyun ia lebih memilih meremas payudara Baekhyun yang sedari tadi menggodanya. Puting Baekhyun yang menegak timbul dari kemeja Chanyeol yang ia pakai. Terlihat sangat menggoda. Baekhyun seakan akan hilang ingatan soal pertanyaannya tadi. Ia kembali mendesahkan nama Chanyeol sembari menggigit jari telunjuknya. Saliva Baekhyun mengalir dari sudut bibirnya berkat desahan itu.
...
Chanyeol mengenakan sweater v neck yang ia bawa dari mobilnya kemarin. Sementara Baekhyun mengenakan kemeja merah yang Chanyeol pakai kemarin di pesta itu. Kemeja itu sampai dipaha Baekhyun. Gadis itu menggulung lengan kemejanya, kemudian membubuhkan rantai kecil di pinggangnya yang ia dapat dari tas kecilnya.
"Mian oppa. Aku hanya bawa parfum didalam tasku."
"Tak apa. Aku suka melihatmu mengenakan pakaianku. Apalagi pakaian itu baru kupakai kemarin. Rasanya kita seperti bercinta." Chanyeol menekankan kata 'bercinta' sembari berbisik ditelinga Baekhyun.
"Ki-kita akan sarapan bukan? A-ayo." Baekhyun canggung.
"Mmm.. manisnya. Malu malu begitu."
"Oppa bisakah tidak usah menggodaku terus?"
"Ah. Aku baru ingat. Sebaiknya kita kerumahmu. Kau harus ada dirumah sebelum Kris Hyung pulang." Chanyeol mematikan handphonenya
"Memang oppa tidak dirumah?"
"Aku baru membaca pesan dari Jongdae. Bahwa mereka berpesta dan tidur dikantor."
"Kurasa aku benar benar harus pulang"
"Aku ikut"
Baekhyun menarik tangan Chanyeol untuk pulang kerumahnya sesegera mungkin.
Untungnya tuhan masih memihak kepada Chanyeol dan Baekhyun. Mereka sampai di kediaman Baekhyun dan untungnya si tiang listrik berjalan itu belum pulang. Rumah Baekhyun masih sepi dan gelap.
"Ayo masuk." Ajak Baekhyun setelah membuka kunci
"Ah iya." Chanyeol masuk dengan menundukkan kepalanya, kalau tidak dia tak akan bisa masuk. Tubuhnya melebihi pintu.
"Bagaimana bisa pintu ini begitu pendek." Chanyeol bermonolog merutuki pintu kecil itu dan Baekhyun tertawa keras.
"Hei hei kau mulai menertawakanku hah?!" Chanyeol berkacak pinggang.
"Oppa terlalu tinggi! Pasti lucu kalau tadi terbentur pintu!" Baekhyun masih tertawa memegangi lutut untuk menahan tubuhnya.
"Cukup Baekhyun." Chanyeol menatap Baekhyun dengan sedikit senyum.
"Mi..mian oppa. Kris oppa sudah terbiasa dengan pintu kecil itu." Baekhyun kembali berdiri dan menepuk pundak Chanyeol dengan berjingkit.
"Ayo sarapan." Baekhyun mengeluarkan dua buah mangkuk cukup besar dan sekotak sereal coklat. Tak lupa ia membuat dua gelas susu hangat.
"Kau ingin aku makan itu?" Chanyeol menunjuk box sereal itu
"Ah aku selalu makan ini setiap pagi. Oppa tidak mau?"
"Apa Kris Hyung memakannya juga?"
"Iya. Dia menghabiskan satu kotak tiga hari sekali untuk dirinya sendiri"
Kali ini Chanyeol yang tertawa. "Aku tak menyangka Kris Hyung punya sisi kekanak kanakan"
"Oppa harus tahu dia sangat kekanak kanakan" Baekhyun menaruh dua mangkuk sereal dan susu hangat itu ke meja makan.
"Whoa. Aku tidak pernah makan makanan ini sebelumnya"
Baekhyun menatap Chanyeol kaget. "Jinjja?"
"Jinjjayo. Aku jauh dari makanan manis dan instan sejak kecil"
"Daebak. Pantas tubuh oppa-" Baekhyun menghentikan ucapannya, ia sendiri bingung kelanjutannya
"Apa? Indah? Menggairahkan? Memicu debaran didadamu? Membuat kedua putingmu mengeras? Membuat vaginamu berkedut tiap kali melihatnya? Atau membuatmu mendesah dan ingin menyentuhnya setiap saat?"
"Oppaa! Bisakah tidak melibatkan hal mesum! Kita bahkan hanya membicarakan sereal! Oh tuhan!"
"Ahahahaha. Lihat wajahmu! Merah padam seperti seorang lelaki menahan ereksinya!"
"Oppa! Hentikaaan!" Baekhyun menutup mulut mesum Chanyeol dengan kedua tangannya. Membuat tubuhnya condong kearah Chanyeol.
Tangan Chanyeol menunjuk sesuatu. Mata Baekhyun mengikutinya dan sampai pada dada Baekhyun yang terekspos akibat kemeja kebesaran milik Chanyeol. Belahan dada Baekhyun membuat mata Chanyeol tak berhenti memandangnya. Baekhyun yang sadar dengan tatapan Chanyeol langsung menutup dadanya dengan kedua tangan disilangkan.
"Aku lebih baik ganti baju." Baekhyun dengan wajah merah padamnya berbalik.
"Oppa tunggu disini." Sambungnya sambil berjalan kearah pintu kamarnya.
Chanyeol tak berhenti tersenyum melihat begitu lucunya Baekhyun. Dia memakan Sereal coklat yang sudah ditumpahi susu plain tanpa rasa.
"Wow. Aku merasa kampungan mengetahui begitu enaknya makanan ini" Chanyeol bermonolog.
"Baekhyun memakan ini setiap hari? Pantas dia tidak tumbuh dengan baik."
"Ekhm.. menjelek jelekanku tuan Park?"
"Apa itu terdengar seperti. Menjelekanmu?"
"Kupikir begitu." Baekhyun kembali duduk berhadapan dengan Chanyeol.
"Kau cantik."
"Merayuku?"
"Tidak sayang. Aku serius. Kau cantik."
Baekhyun merona dan memalingkan wajah.
"Apalagi dengan pakaian ketat seperti itu. Dadamu terlihat lebih besar. Rasanya ingin kuremas agar lebih besar dari itu"
"Mesumm!" Baekhyun menunduk nenyantap sereal coklatnya.
Chanyeol menopang dagu dengan sebelah tangannya. Jam tangan rolexnya terpampang jelas. Membuat pesona kedewasaannya memancar. Ya , lelaki dengan jam tangan itu keren bukan?
Chanyeol menghabiskan separuh harinya dikediaman Baekhyun. Membantu Baekhyun memasak, beres beres sembari mendekatkan hati dengan Baekhyun. Hari ini Chanyeol penuh tawa, wibawanya menghilang. Chanyeol lebih terbuka dan menyenangkan hari ini. Tapi Baekhyun tau kalau Chanyeol akan terus bersikap seperti ini padanya. Besok, lusa dan selamanya.
Chanyeol pamit dari rumah Baekhyun sekitar pukul empat sore. Chanyeol harus membereskan seluruh barang barangnya dikantor. Karena dia sudah mulai bekerja besok. Sebuah ciuman dikening Baekhyun menjadi perpisahan untuk hari itu.
...
Tuesday 11th February / 02:00 PM / Seoul, South Korea
Wendy berdiri dibelakang ayunan. Luhan sedang duduk sambil mengelus kucingnya diatas ayunan yang bergoyang pelan. Luhan melihat kearah Wendy. Kemudian memberi isyarat agar Wendy mendekat. Wendy berdjalan dengan kedua tangan didepan.
"Ada yang bisa saya bantu nona?"
"Ah. Maukah kau duduk disini?" Luhan menunjuk kursi disebelahnya.
"Di ayunan ini?" Wendy bertanya lagi
"Iya. Aku merasa seorang diri kalau kau terus dibelakang." Luhan masih dengan tutur katanya yang lemah lembut. Wendy senang diperlakukan seperti ini. Dia berharap Luhan tinggal dirumah ini. Biar bagaimanapun Wendy adalah pelayan satu satunya yang dipercaya keluarga Oh sebagai pelayan tuan muda dari keluarga terhormat itu. Wendy merasa kesepian, tentu saja. Maka dari itu, dia sangat senang bisa diperlakukan seperti adik oleh Luhan.
Wendy menurut dan duduk di sebelah Luhan. Satu ayunan dengan Nona Luhan yang tak berhenti membuatnya terkagum kagum karena tutur kata dan sifatnya.
"Berapa usiamu?" Luhan menatap Wendy dengan mata rusanya yang bening dan cerah.
"Tahun ini dua puluh nona"
"Ah tahun ini usiaku dua puluh tiga. Kupikir kau masih belasan."
"Ah. Saya tidak semuda itu Nona." Wendy menunduk.
"Kalau kau tidak keberatan panggil saja aku Eonnie. Anggap aku seperti kakakmu sendiri. Arraseo?"
"Ah. Tidak nona. Saya terlalu rendah untuk diperlakukan seperti adik"
"Kurasa tidak begitu. Lagipula aku bukan orang terhormat. Panggil saja Eonnie." Luhan masih dengan senyum lembut diwajahnya.
"E..Eonnie" Wendy mengatakannya dengan suara yang sangat pelan. Bahkan nyaris tidak terdengar.
Luhan mengelus puncak kepala Wendy kemudian memeluknya. "Aku harap kita bisa akrab ya"
"nde.. Eonnie."
"Aku ingin sekali punya saudara dari dulu." Luhan melepas pelukannya dan bersandar dipundak Wendy.
"Kurasa saya juga nona.."
"Nona?"
"Eh maksudku. Eonnie."
Luhan menahan tawa. "Kau harus terbiasa memanggilku begitu ya."
"Iya Eonnie."
"Wendy tidak punya saudara? Apa kau tinggal sendirian?"
"Saya bahkan tidak tahu siapa orang tua saya. Saya dibuang saat masih berusia dua tahun. Lalu ditemukan oleh Nyonya besar. Saya dirawat olehnya selama di Kanada."
"Kau bukan orang Korea? Pantas saja, wajahmu asing. Ah maksudku tidak seperti orang Korea." Luhan diam selama beberapa detik. "Lalu bagaimana kau bisa ada disini?"
Wendy tersenyum sekilas. "Setelah menetap selama beberapa tahun disana bersama Nyonya besar. Saya dibawa kesini untuk menjaga Tuan Muda."
"Sehun?" Luhan mengengok kearah Wendy.
"Iya. Saya sadah menjadi pelayannya sejak ia lulus sekolah menengah pertama"
"Mereka mempekerjakanmu saat usiamu masih sekecil itu? Apa kau tidak masalah?"
"Karena Nyonya besar menyekolahkan saya. Saya rasa itu bukan masalah."
"Sepertinya Nyonya besarmu sangat berjasa ya?"
"Begitulah. Apa Eonnie juga tidak punya keluarga?"
Luhan menunduk sedikit. "Ya. Keluargaku meninggal karena kecelakaan. Aku dirawat oleh tetanggaku sampai akhirnya aku bisa hidup sendirian."
"Eonnie perempuan yang kuat ya."
"Kurasa kau juga. Hei, semua perempuan kuat dan tangguh bukan?"
"Saya rasa begitu"
"Apa kau tidak merasa kesepian disini?"
"Saya sudah biasa, mengingat Tuan muda jarang sekali ada dirumah."
"Apa kau pelayan satu satunya? Aku hanya tidak melihat ada pelayan lain disini."
Wendy menunduk sangat lama. Luhan merasa kalau pertanyaannya salah. "Kau tidak harus menjawabnya Wendy. Maafkan aku sudah ikut campur"
"Tidak nona. Saya baru saja akan menjawabnya"
"Dulu sempat ada pelayan selain saya. "
"Kalau aku boleh tahu. Kemana pelayan itu sekarang?"
"Yang pertama Ki-Kim Yerim, dia meninggal dunia tiga bulan setelah bekerja disini. Lalu digantikan oleh Kang Seulgi. Satu setengah tahun kemudian dia jatuh sakit dan tidak bekerja lagi disini. Lalu digantikan oleh Zizi. Zizi yang peling bertahan lama. Tapi sayangnya Zizi..." Wendy terdiam. Tangan Wendy gemetar. Wendy tegang, jantungnya berdegup terlalu cepat. Wendy melihat kekanan, kekiri dan kebelakang. Luhan sedikit bingung dengan tingkah Wendy.
"Wendy kau tidak apa apa? Kau tidak perlu melanjutkan ceritamu kalau itu membuatmu teringat masa lalu. Mungkin mereka teman yang berharga bagimu, maaf sudah lancang bertanya begitu padamu. Sekarang tenanglah."
"Nona Luhan.. boleh saya bertanya satu hal?"
"Jangan panggil aku Nona lagi Wendy."
"Eonnie.."
"Nah begitu. Silahkan, apa petanyaanmu? Tanyakan saja apapun. Tidak usah sungkan."
Wendy gugup, dia memutuskan untuk memutar otaknya dan mengganti pertanyaannya yang untung saja belum ia lontarkan. "Apa Eonnie akan tinggal disini?"
"Tentu saja tidak Wendy. Aku punya tempat tinggal dan pekerjaan. Kurasa besok pagi aku akan pulang."
"Aku ingin sekali Nona.. ah, maksudku Eonnie. Aku ingin sekali Eonnie tinggal disini." Wendy menatap Luhan dengan tatapan penuh arti, meskipun Luhan tak bisa mengartikan tatapan itu. Sedih? Takut? Minta pertolongan? Entahlah.
"Kita masih bisa bertemu Wendy. Ayo bertukar nomor ponsel, agar kita masih bisa dekat."
"Saya tidak punya ponsel."
"Ah. Kalau begitu, kau bisa menghubungiku lewat telpon Rumah. Bagaimana?"
"Baik Nona."
"Jangan Nona Wendy.."
"Ah , maksudku... Eonnie"
...
"Kyungsoo tidak hadir dari hari senin." Baekhyun melepas ikatan rambutnya, membiarkan rambutnya tergerai acak acakan.
"Aku tahu itu." Jongin tersenyum dan menyisir rambut Baekhyun dengan tangannya.
"Mwo?! Kalian bertukar nomor ponsel?"
"Sudah sejak dulu Byunku yang cantik."
"Kau menyukainya?"
"Apa aku harus menjawab jujur atau bohong?"
"Yang manapun asal jawabannya 'iya'."
"Kalau begitu kujawab jujur. Iya."
"Mwo?! Licik sekali kau. Pacaran denganku tapi menyukainya!"
"Hei hei, bukankah tujuanmu mempertahankan hubungan ini agar aku bisa dekat dengan Kyungsoo? Sekarang aku sudah dekat dengannya. Dan kau malah marah?"
"Ah tidak bodoh. Bukan begitu."
"Kau ingin mengakhiri hubungan ini?" Jongin menebak-nebak.
"Kalau kau mau." Baekhyun menatap Jongin dengan wajah imutnya yang dibuat buat.
"Oke saja. Sejak awal hubungan kita memang tidak ada perubahan. Kita lebih seperti.. Sahabat?"
"Ya ya ya! Aku suka itu. Punya sahabat laki laki. Wow! Aku merasa punya kesatria!"
Jongin tertawa dan menepuk kepala Baekhyun. Jongin merasa akhirnya Baekhyun bisa lebih nyaman dan terbuka saat bersamanya.
"Ah Bagaimana kalau kita makan siang?"
"Kemana?" Jongin berhenti dari langkahnya.
"Xiubaby Cafe! Kau tahu? Aku sangat suka dengan tempatnya"
"Kau bisa pesan apapun dengan setengah harga jika kau bersamaku! Atau bahkan tidak perlu membayarnya"
"Kau bukan presiden Kkamjong!"
"Kita lihat saja nanti." Jongin dan Baekhyun berjalan bersama menuju area dimana Jongin menyimpan motor besarnya. Namun seorang Dosen dengan rambut pendek datang menghampiri mereka.
"Jongin!" Dosen itu berteriak
Jongin membalikkan punggungnya dan menghampiri dosen itu. "Eomma?"
"Itu ibumu?" Baekhyun terkejut.
"Ya. Tunggu sebentar." Jongin
Jongin menghampiri dosen cantik itu. Baekhyun tersenyum dan membungkuk saat dosen itu melihat kearahnya.
"Siapa gadis itu?" Ibunya Kim Hyoyeon, tidak berhenti memandangi Baekhyun.
"Itu Mantan pacarku."
"Eum. Mantan? Pasti karena kau telat menyandang gelar magister. Makanya ia memutuskanmu"
"Ck.. sok Tahu. Sudahlah, ada apa Eomma?"
"Ah Eomma ada seminar. Jadi tidak bisa pulang kerumah. Ini kuncinya. Pastikan kau tidak party party lagi seperti waktu itu. Arrasseo?!"
"Iya Eomma. Lalu bagaimana dengan Wisudanya?"
"Tentu saja aku akan tetap datang!" Hyoyeon berubah sedikit ketus
"Tidak sabar melihat anak bungsunya menyandang gelar Magister?" Jongin tersenyum menggoda ibunya.
"Mwo? Kau terlalu percaya diri! Aku tidak sabar melihat Mahasiswi kesayanganku membacakan pidato wisudanya! Oh! Dia pasti sangat cantik nanti!"
"Eomma, sebenarnya anakmu itu aku atau Luhan?"
"Kalau aku boleh memilih. Kurasa Luhan"
"Tck.. aku pergi." Jongin mengambil kunci dari tangan ibunya kemudian berjalan kembali mendekati Baekhyun. Baekhyun tersenyum dan membungkuk pada Hyoyeon. Hyoyeon membalasnya kemudian berlalu.
...
"Aigoo~ kau lagi?" Xiumin menyambut kedatangan Baekhyun. dan dibalas kekehan oleh si gigi kelinci itu.
"Aku bersama temanku, Xiu Eonnie~" Baekhyun menarik kursinya dan duduk disana.
"Nugu?"
"Ah itu dia~!" Baekhyun menunjuk Jongin yang baru saja masuk kedalam Cafe itu.
Jongin terkekeh sambil melihat kearah Xiumin yang sudah kehabisan kata kata.
"Omo.." Xiumin menutup mulut dengan kedua tangannya.
"long time no see"Jongin sedikit tertawa melihat wajah Xiumin. Jongin duduk disebelah Baekhyun, masih menatap Xiumin.
"Kalian saling mengenal?" Baekhyun bertanya polos.
"Dia adikku Bakhyun." Xiumin akhirnya tersenyum juga
"Mwo?! Jinjja? Kukira Xiu Eonnie orang China" Baekhyun melongo
Jongin tertawa lepas mendengar pernyataan itu. "Tidak tidak Bunny! Namaku Kim Minseok. Nama panggilanku Xiumin, itu pemberian sahabatku. Dan aku menyukai panggilan itu. Jadi kupakai sampai ketempat kerja. Tulis saja pesanan kalian disini. aku ada perlu sebentar. lima menit." Xiumin sedikit berlari menjauh dari mereka.
"Jadi ini yang kau maksud bisa mendapat setengah harga huh?"
"Yup."
"Xiu Eonnie kelihatan kaget saat melihatmu. Wae?"
"Ah. Noona merantau. Saat lulus SMA dia memisahkan diri dari keluarga, karena Eomma dan Appa menentang cita citanya untuk membuka Cafe. Jadi dia pergi dari rumah. Aku memang beberapa kali bertukar email dengan Noona. Tapi kita baru kali ini bertemu lagi. Setelah sekian lama. Dia bahkan ingkar janji"
"Janji?"
"Dulu dia bilang, kalau cita citanya tercapai dia akan pulang kerumah. Tapi nyatanya dia tidak pulang."
"Kalau kau baru bertemu dengannya lagi. Bagaimana kau tahu dia bekerja ditempat ini?"
"Email dan Sehun. Si albino keparat itu mendonasikan dana untuk Cafe ini. Karena pekerjanya adalah anak anak panti asuhan."
"Oh begitu. Aku lupa kau sahabat si Sehun itu."
"Yepp."
Tak lama setelah itu Xiumin kembali untuk mengambil kertas pesanan mereka dan pergi lagi kedapur. Dia bilang akan ikut berbincang dengan mereka. dia sangat merindukan adiknya.
"Ah aku baru ingat kau mengajakku makan siang. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dan harus kau ceritakan."
"AH~! Iya aku baru ingat! Kau dekat dengan Kyungsoo kan?"
"Cukup. Kami sering bertukar pesan. Dan beberapa kali jalan jalan."
"Kau tahu soal kakaknya?"
"Kakak?" Jongin mengerutkan dahinya. "Dia punya kakak?"
"Tch.. babo"
Jongin kembali memutar otaknya kemudian membuka handphonya. Dan tak lama dia mematikannya lagi.
"Ah! Iya aku ingat! Dia pernah bilang kalau dia sedang menunggu oppa! Siapa ya namanya. Chanlie? Chanyeop?"
"Chanyeol." Baekhyun mengoreksi.
"Ah itu dia! Ada apa dengan Chanyeol itu?"
"Sepertinya aku jatuh cinta"
"Kau jatuh cinta? Pada kakak Kyungsoo?"
"Sepertinya. Ah mungkin. Ah entahlah. Tapi kurasa begitu. Ah tapi firasatku mengatakan bahwa Kyungsoo dan kakaknya sangat dekat. Mungkin terlalu dekat?"
"Kurasa aku bisa membantumu. Tapi kau harus membantuku juga."
"Menjadikan Kyungsoo kekasihmu?"
"Wow Daebak! Kau peramal!" Kemudian Jongin terkekeh
"its a piece of cake Brother. Aku hanya tinggal mengatakan bahwa aku berakhir denganmu~"
"Dan aku akan membuat dia dan kakaknya tidak sedekat dulu. Maka dari itu kita impas. Deal?" Jongin mengulurkan tangan kanannya.
"Deal~" Baekhyun menyambutnya tanpa ragu.
Xiumin datang membawa pesanan mereka, namun ia masih harus mengurusi beberapa hal. Jadi tidak bisa berbincang dengan keduanya. Padahal dia sangat merindukan adiknya. Jongin bilang ia akan menunggu sampai Xiumin sedikit santai.
"Bagaimana bisa kau bertemu dengan Kakak Kyungsoo?" Jongin menyendok makaroni panggangnya.
"Saat aku membantu Kyungsoo membereskan rumah barunya. Kau tahu? Pertemuan pertama kami sangat fantastis!"
"Kau berhutang banyak cerita padaku Byun!"
"Oke oke dengarkan baik baik. Karena aku akan bercerita dengan volume sangaaat kecil."
Jongin mengangguk dan Baekhyun memulai ceritanya. Tanpa ada yang dipotong sama sekali. Entah kenapa Baekhyun bahkan mengingat bagian bagian kecil dari pertemuannya.
"Wow. Kau gila."
"Aku harap kau tidak 'berdiri' atau sejenisnya"
"Tenang saja. Aku sudah kebal dengan hal seperti ini" Jongin melahap suapan terakhirnya.
"Ah ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan padamu."
"Tentang apa?"
"Oh Sehun"
"Dia dua bersaudara dan memiliki satu kakak perempuan. Namanya Oh Joo Hyeon. Panggilannya Irene. Nama Ibunya Boa. Dan Ayahnya Oh Yunho. Dia tinggal sendirian. Ada lagi?"
"Bukan itu yang ingin aku tahu bodoh!"
"Lalu?"
"Entah kenapa Kris oppa bersikeras agar aku tidak dekat dekat dengannya"
"Oh itu." Kai menyeruput juicenya.
"Um. Memang dia semengerikan itu?"
"Ya. Sangat."
"Whoa- jinjja?"
"Yep. Tapi biar kupastikan dulu. Kim Yerim, Kang Seulgi, Zizi, Sulii, atau Wendy. Mana yang kau kenal?"
"Tidak satupun"
"Kalau begitu pertanyaanmu cukup sampai disitu. Dia sahabatku dan aku menghargai Privasinya."
"Tapi Luhan Eonnie dekat dengannya"
"Luhan? Mahasiswi Psikologi Anak? Kesayangan eommaku? Yang selalu kau sebut sebut?"
"Iya. Sepertinya Sehun menyukainya."
"Mustahil."
"Kenapa?"
"Bukankah sudah kukatakan pertanyaanmu sampai disini saja? Kau bahkan tak mengenal satupun perempuan yang kusebut tadi. Jangan membuatku marah Byun"
"Baik. Aku takkan bertanya lagi." Dan suasanapun menjadi sedikit canggung. Namun mencair kembali saat Xiumin bergabung dengan Keduanya.
...
Friday 14th February / 08:00 PM / Seoul, South Korea
Baekhyun menatap dirinya dicermin. Dia memoles lipgloss pinknya. Setelah kakaknya mengirim pesan bahwa ia tidak akan pulang, Chanyeol mengirim pesan bahwa ia ada didepan rumah Baekhyun. Baekhyun terlalu panik untuk memastikannya lewat jendela. Jadi disinilah ia, dikamarnya. Padahal baru saja mau bermalas malasan. Baekhyun berjalan menuju pintu depan dan membukanya. Dia disambut dengan sebuket mawar merah, dan boneka tangan kepala kelinci. Siapa yang membawanya? Tentu saja Park Chanyeol. Masih dengan setelan kantor lengkap dengan dasinya.
"Happy Valentine Bunny Baekhyunku" Chanyeol dengan senyumnya yang menghangatkan hati. Baekhyun tertawa.
"Ini untukku?"
"Kalau kau masih bertanya. Ini akan jadi milik Kris Hyung."
"Baik aku tidak akan bertanya lagi. Gomawo~" Baekhyun mengambil kadonya dan menaruhnya disofa. dia memeluk Chanyeol tanpa mempersilahkan si tinggi itu masuk.
"Kau benar benar pendek kalau tidak memakai alas kaki." Chanyeol berkomentar sambil mengelus puncak kepala Baekhyun.
"Terima kasih atas pujiannya Tuan Park. Ayo masuk."
"Bagaimana bisa aku masuk kalau kau terus bergelantungan dileherku?" Mendengar Chanyeol mengatakan itu Baekhyun malah tersenyum. Chanyeol menghembuskan nafas berat dan membawa Baekhyun dalam gendongan Bridal Stylenya.
"Oke sekarang turunkan aku." Kini mereka telah sampai diruang keluarga di rumah Baekhyun tentu saja.
"Tidak mau memberiku hadiah kecil? Ini kan hari Valentine?"
"Apa kita sepasang kekasih? Kurasa tidak perlu." Baekhyun mengalihkan pandangan dari wajah Chanyeol.
"Apakah butuh sebuah status untuk merayakan Valentine?"
"Tentu saja. Kalau tidak punya status apapun seharusnya aku merayakan Black Day."
"Mengharapkan sebuah status atas hubungan kita ini?"
"Ten—" Baekhyun terdiam dari kata katanya. "Ma..maksudku.. Tidak juga. Ah, tidak perlu." Baekhyun menunduk, masih dipangkuan Chanyeol.
"Apa perasaan cintaku saja tidak cukup?" Chanyeol mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun yang masih tertunduk.
"Kurasa obrolan kita terlalu serius." Baekhyun kembali diam. "Ah biar kubuatkan sesuatu."
Baekhyun turun dari pangkuan Chanyeol. Lelaki itu masih mematung dan berfikir. Melihat itu Baekhyun tahu, dia bukan perempuan satu satunya yang hinggap dihati lelaki itu. Baekhyun rasanya ingin menangis saat melihat Chanyeol dengan gerak geriknya yang menurut Baekhyun sedikit aneh.
Mungkin Chanyeol oppa hanya menganggapku sebagai selir. Atau wanita simpanan sementara? Tidak apa apa. hatiku terlanjur mencintainya. Apa perasaanku terlalu cepat? Kalian berfikir begitu? Aku tidak peduli.
"Mau Ramyeon?" Baekhyun melihat kearah Chanyeol. Lelaki itu hanya menatap Baekhyun dengan mata sayunya yang terlihat seperti sedikit marah.
"Baik. Akan kubuatkan." Baekhyun menunduk lagi. Dia sedikit takut dengan tatapan Chanyeol.
Baekhyun mulai melangkah menuju dapur. Namun Chanyeol menahannya. Chanyeol menarik Baekhyun dengan cepat. Membawa Baekhyun kepelukannya. Baekhyun kaget bukan main.
"Baekhyun... Aku.." Chanyeol sedikit terbata bata
"Aku mencintaimu Oppa." Kalimat itu terbebas begitu saja dari mulut Baekhyun. Baekhyun mendongak dan menatap iris Chanyeol. "Saranghae.. Maaf kalau perasaanku terlalu cepat." Baekhyun tersenyum. Mata sipit dan gigi kelincinya yang manis membuat Chanyeol ikut tersenyum.
"Nado.." Chanyeol mempererat pelukannya.
Baekhyun spontan berjingkit untuk memberi kado kecil untuk Chanyeol. Sebuah ciuman singkat dari bibirnya.
...
Seakan akan tidak ada yang terjadi sebelumnya. Mereka memakan dua bungkus Ramyeon ukuran besar yang dimasak dan disajikan dalam panci. Dan mereka melahapnya bersama sama, seakan akan tak ada mangkuk atau wadah lainnya. Mereka tengah bercanda satu sama lain. Menertawakan hari hari mereka.
"Oppa harus bertanggung jawab kalau Kris oppa pulang dalam keadaan sakit!"
"Maaf karena membuat Kris Hyung menjadi sekertarisku. Kau tahu? Perpindahan jabatan itu membuat ia harus menyelesaikan pekerjaannya sebelumnya."
"ya aku tahu. Oppa selalu mengeluhkan pekerjaannya padaku."
"Yeah. Dia kakak yang baik."
"Pftt—" Baekhyun menahan tawa. "Iya kuakui itu. Kurasa Oppa juga kakak yang baik."
"Gamsahamnida. Oh iya, setelah lulus nanti kau bagaimana?"
"Sepertinya aku akan menjadi Penerjemah. Diperusahaan oppa."
"Saking inginnya melihatku setiap hari?"
"Bukan! Kris oppa yang memintaku agar satu Perusahaan dengannya! Lagipula ini cita citaku sejak masuk kuliah."
"Ah kau kuliah sastra dan bahasa kan?"
"Yup. Aku sekelas dengan Kyungsoo. Oppa lupa?"
"Tidak tidak, aku ingat."
"Ah oppa. Kyungsoo bagaimana? Apa dia sehat?"
"Mwo? Kalian kan satu kelas?"
"Kyungsoo tidak masuk sejak hari senin. Dia tidak membalas pesanku. Dan tiap kali kutelepon. Nomornya tidak pernah aktif. Bukankah Oppa serumah? Kenapa sampai tidak tahu?"
"Semenjak menggantikan posisi kakek, aku pulang saat Kyungsoo sudah terlelap. Dan berangkat kerja sebelum Kyungsoo bangun dari tidurnya. Kupikir dia baik baik saja. Ternyata.."
"Aku benar benar Khawatir padanya."
"Kau sahabat Kyungsoo?"
"Entahlah. Tapi Kupikir iya"
"Aku akan pulang kerumah setelah menghabiskan ini. Terima kasih sudah mengkhawatirkannya. Baru kali ini dia punya sahabat."
"Benarkah?" Baekhyun membulatkan matanya.
"Sungguh. Aku mengenalnya sejak kecil. Dan dia tak pernah punya teman dekat."
"Tentu saja oppa mengenalnya sejak kecil." Baekhyun tertawa remeh Mereka kan adik kakak. Begitulah pikirnya.
"Ah kurasa aku harus cepat pulang."
"Kalau begitu habiskanlah dulu."
"Dengan senang hati Bunny Baekhyunku"
"Semua orang selalu memanggilku Bunny." Baekhyun mempoutkan bibirnya.
"Itu karena gigimu. Seperti kelinci." Chanyeol mash asik menyumpit Ramyeonnya.
"Apa aku tonggos?" Baekhyun menyentuh bibirnya sendiri.
Chanyeol tertawa ringan. "Kurasa bukan tonggos."
"Lalu?" Baekhyun masih sedikit takut, takut giginya benar benar tonggos dimata orang lain.
"Sedikit maju kedepan? Ya kurasa begitu." Chanyeol tertawa kemudian.
"Oppa! Itu tidak lucu!" Dan tawa Chanyeol meledak lebih keras.
"Aku bercanda sayang. Kau manis dengan gigi kelincimu itu."
"Bohong." Baekhyun ketus.
"Kau tidak percaya?"
"Kalau oppa menertawakanku sampai seperti itu. Mana bisa aku percaya bahwa itu bercanda?"
"Hmmm Nona Kelinci sedang marah rupanya.." Chanyeol tersenyum menggoda Baekhyun, lagi.
"Ah demi tuhan. Semirip itukah aku dengan kelinci?"
"iya" Chanyeol menjawab penuh senyuman.
"Haruskah aku memakai kuping kelinci dan memakan wortel? Ah ya tuhan!" Baekhyun mengusap wajahnya kasar.
"Aku akan memberikanmu pakaian Bunny Girl. Pasti kau sangat cocok menggunakannya."
"B-Bunny Girl?" Baekhyun memiringkan kepalanya kekanan dan kekiri.
"Yup. Bagaimana?"
"Apa itu cute?" Baekhyun sepertinya benar benar tidak tahu apa itu Bunny Girl.
"Sangat! Kau yang manis dan lucu seperti ini sangat cocok mengenakannya." Yap, Chanyeol sedang menjebak Baekhyun.
"Kurasa boleh juga."
"Oke. Dipertemuan selanjutnya aku akan membelikannya untukmu. Dan kau harus memakainya. Deal?" Tawar Chanyeol dengan nada dan wajah serius.
"Deal"
"Kau tidak tahu bagaimana rupa pakaian Bunny Girl?"
"Tidak tahu sama sekali."
"Baiklah. Jangan berani merubah kesepakatan. Deal?" Tawar Chanyeol meyakinkan si Gadis.
"Deal~" Baekhyun menjawab dengan polos.
...
Setelah melayangkan tiga sampai empat ciuman dibibir Baekhyun, Chanyeol pamit mengendarai mobilnya. Dia harus pulang kerumah. Mengingat perkataan Baekhyun bahwa Kyungsoo tidak masuk kuliah sejak hari senin. Dan ini hari jumat. Sudah satu minggu. Wow.
Chanyeol memarkirkan mobilnya dan berlari menuju pintu. Saking sibuknya ia bahkan belum sempat mempekerjakan maid. Chanyeol masuk kedalam rumah dengan nafas memburu. Dia melihat jam dinding dengan ukuran cukup besar, pukul sebelas malam. Dia terlalu berlama lama dikediaman Baekhyun.
"Kyungsoo?" Chanyeol membuka pintu kamar itu pelan. Kyungsoo tidak menjawab.
"Ini aku Chanyeol."
"Oppa?" Suara Kyungsoo dari balik selimutnya.
"Iya Sayang. Ini aku Chanyeolmu." Chanyeol masuk dan berdiri tak jauh dari ranjang Kyungsoo.
"Oppa.." Kyungsoo bangun dengan suara lirihnya.
"Kemana saja? Aku merindukanmu." Kyungsoo memeluk Chanyeol erat.
"Aku selalu disini. maaf karena pulang larut malam, dan pergi sebelum fajar tiba." Chanyeol mengelus rambut Kyungsoo.
"Sejak pesta itu aku tak bertemu denganmu lagi. Kupikir Oppa meninggalkanku.." Suara Kyungsoo semakin lirih.
"Tentu saja tidak sayang. Aku terlalu sibuk dengan urusan perusahaan. Setelah pesta itu, aku menghabiskan waktuku dikantor."
"Iya. Joy memberitahuku."
"Oh ya? Kau menghubunginya?" Chanyeol menunduk untuk melihat wajah Kyungsoo. Kyungsoo hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Chanyeol. Chanyeol dengan senyumannya membuat Kyungsoo luluh.
Dan itulah yang terjadi, ya, mereka berpagutan lagi. Saling bergelut dalam ciuman mesranya. Dan berlanjut dengan Chanyeol membanting tubuh Kyungsoo keranjang. Dengan Gerakan cepat pula Chanyeol membuka Jas dan kemeja yang ia pakai, menarik dress tidur Kyungsoo. Dan saling menyentuh satu sama lain.
Dan berakhir dengan Penis Chanyeol didalam vagina Kyungsoo. Saling melepas rindu dengan tubuh masing-masing. Erotis.
...
Saturday 15th February / 05:00 PM / Seoul, South Korea
Acara Wisuda berlangsung cukup lama, dan mundur beberapa jam. Setelah acara wisuda untuk Pascasarjananya selesai Jongin menemani Ibunya untuk melihat anak emas ibunya. Ya, mahasiswi paling dipuja puja oleh ibunya, Luhan. Luhan benar benar membuat seluruh isi ballroom terkesiap. Dia benar benar memukau dengan pidatonya. Semua dosen di universitas tak ada yang tak mengenal Luhan. Ia Mahasiswi dengan otak paling cemerlang dan sikap yang patut diacungi jempol. Meski acara harus mundur beberapa jam. Tak ada yang megurangi kepercayaan dirinya berdiri diatas podium.
Pukul lima sore. Setelah seluruh acara selesai dan semua berhamburan untuk keluar Ballroom dan pulang ke kediamannya masing masing. Luhan masih setia disini, berbincang dengan Kim Hyoyeon, dosennya dan anak bungsunya Jongin.
"Selamat atas kelulusanmu sayang."
"Ah terima kasih songsaenim." Luhan sedikit membungkuk
"Pasti orang tuamu sangat bangga melihatmu. Kalau saja mereka masih ada di dunia ini." Hyoyeon terdiam sebentar. "Ah, apa walimu datang?"
"Ah iya. Itu sedang berjalan kesini." Luhan menunjuk Sehun dengan sedikit ragu.
"Omo!" Hyoyeon menarik jas Jongin dan anaknya hanya mengumpat. "Jongin. Bukankah itu temanmu?"
Sehun datang dengan gestur angkuhnya. Memakai kemeja biru dongker, serta Jas dan bawahan berwarna Hitam kelam. Dengan rambut hitamnya disisir kebelakang dan kacamata bertengger sempurna diwajahnya.
"Wow. Hai bung" Jongin menyapa Sehun. "Tak kusangka kau mengenal Luhan."
"Omo Omo! Sehunnie?" Hyoyeon masih terkaget kaget. "Sejak kapan kau menjadi seorang Ayah?" Sambung dosen blak blakan itu.
"Ah. Sehun hanya menggantikan waliku yang tidak bisa hadir." Luhan memberi klarifikasi.
"Ah begitu rupanya. Sudah lama sekali aku tidak melihat dia. Dia semakin tampan saja. Apa mungkin kau kekasihnya?" Hyoyeon menatap Luhan sambil tersenyum kecil.
"Ah bukan bukan." Luhan menggeleng cepat.
"Padahal kalian sangat cocok. Aku harap kalian menikah nanti."
"Eomma! Berhenti bergurau!" Jongin menyikut ibunya.
"Hahaha baiklah. Aku duluan. Banyak pekerjaan. Selamat sukses Luhanku sayang." Hyoyeon memeluk Luhan yang wajahnya masih merah akibat dosen dengan bibir ceplas ceplos itu.
"Eomma tidak pulang denganku?"
"Tidak. Kupikir kau mau pergi merayakan kelulusanmu dengan Sehun. Ibu permisi ya"
"Hati hati tante." Sehun tersenyum seraya membungkuk pada Hyoyeon. Dan dosen cantik itupun pergi.
"Jadi..." Jongin menatap Sehun dn Luhan bergantian.
"Simpan semua pertanyaanmu. Kita rayakan kelulusan kalian." Sehun menjawab singkat
"Baik baik. Kita rayakan di restoran kakakmu."
"Oke."
"Kau yang membayar semuanya. Ini pesta kelulusan kita. Jadi kita seharusnya tak mengeluarkan uang sekoinpun. Benar begitu Luhaan~?"
"A-ah. I-iya." Luhan terbata bata dan Jongin tertawa keras sekali.
"Karena Luhan mengatakan 'iya' kurasa tidak masalah. Ayo." Sehun merangkul pundak Luhan den berjalan meninggalkan Jongin yan masih sibuk tertawa.
"Kau punya mobilmu sendiri bukan?" Sehun bertanya tanpa memalingkan badannya.
"Yep. Kalian nikmatilah momen berdua didalam mobil."
Perkataan Jongin membuat wajah Luhan semakin panas dan memerah. Sehun tersenyum melihat begitu manis gadis disampingnya ini. Mereka sampai didepan mobil Audi rs7 milik Sehun.
Seseorang memperhatikan Sehun dan Luhan. Ya itu Yoona. Dengan tatapan emosi seolah olah ia harus membunuh Luhan detik itu juga.
"Untukmu." Sehun mengambil sebuket bunga mawar putih dari dalam mobilnya.
"Ah. Terima kasih. Maaf sudah merepotkanmu Sehun." Luhan tersenyum lembut, seperti senyuman yang biasa ia tunjukkan. Namun entah kenapa ia lebih manis, ia lebih lembut dan ia lebih cantik dari biasanya.
Orang itu masih memperhatikan keduanya. Seolah sadar sedang diperhatikan Sehun dengan sengaja menarik Luhan kedalam pelukannya, ia mencium bibir merah muda milik Luhan.
Setelah mendengar suara langkah kaki berlari menjauh Sehun melepaskan pagutannya dengan sedikit merasa puas. Puas karena akhirnya si Jalang Yoona bisa melihat kebenaran diantara Sehun dan Luhan.
"Pipimu merah Luhan." Sehun membelai pipi Luhan dengan lembut.
"Sehun.." Mendengar Luhan memanggilnya dengan lembut dan suara lirihnya, rasanya Sehun akan meleleh detik itu juga.
"Boleh kuminta sesuatu?" Luhan menatap Sehun dengan tatapan Sendu. Rasanya Sehun tidak tega melihat tatapan itu.
"Apapun untukmu. Asal jangan memintaku menjauh darimu."
"Boleh kuminta kau memelukku seperti tadi?"
Sehun mengambil buket bunga Luhan dan menaruhnya kembali di dalam mobil. Dan setelah itu, dengan satu tarikan dia menarik Luhan. Dan memeluknya erat. Sangat erat.
"Terima kasih sudah hadir dihidupku Luhan."
Luhan mengangguk didalam pelukan Sehun.
"Sehun.."
"Ya?" Sehun mengelus elus kepala Luhan. Dan mengecup puncak kepala Luhannya yang manis itu.
"Terima kasih."
"Untuk apa? aku tidak melakukan apapun."
Luhan memegang dan sedikit mencengkram kedua bahu Sehun, ia berjingkit dan memberi Sehun sebuah ciuman manis dan singkat. Sehun terpaku dengan ciuman manis itu. Luhan hanya tersenyum dan kembali membenamkan diri di dada Sehun.
"Ekhm! Maaf mengganggu romansa kalian berdua. Tapi bisakah kita pergi sekaarng?!" Itu Jongin dengan kaca mobilnya yang terbuka.
...
Irene keluar dari kantornya. Untuk hari ini ia akan memasak untuk tamu spesial di restorannya.
"Ah biar saya saja nona." Ujar salah satu koki pekerjanya.
"Tidak tidak. Biarkan aku memasak untuk tamu spesialku. Adikku akan datang bersama gadisnya. Dan sahabatnya. Merayakan kelulusan. Jadi kau bisa memasak untuk pelanggan lain." Irene penuh senyuman hari ini.
"Baik nona." Pekerjanya itu membungkuk kemudian pergi.
...
"Mana Noona mu?" Jongin masih celingak celinguk
"Dia memasak untuk kita."
"Hei aku bahkan belum memesan apapun!"
"Bukankah aku sudah bertanya padamu apa yang ingin kau makan?"
"Jadi itu kau anggap sebagai pesananku?"
"Yeah. Agar kita tak menunggu lama."
"Kau pengertian bung. Kemana Luhan?"
"Toilet."
Jongin menatap Sehun dalam. "Kau jatuh cinta dengannya? Luhan maksudku"
"Iya."
"Sehun, dia bukan wanita yang pantas untukmu. Dia wanita baik baik dan tidak berdosa. Kalau kau hanya main main lebih baik jauhi dia."
"Main main katamu?" Sehun menatap Jongin kesal.
"Iya, jika kau hanya ingin membuatnya berakhir seperti Zizi, Kim Yerim atau Kang Seulgi. Lebih baik kau lepas dia!"
"Apa aku bilang kalau aku hanya main main?" Sehun menatap Jongin tajam
"Dengar Sehun! Sekali lagi kuingatkan! Jika kau hanya ingin membuatnya menjadi gadis rusak. Lebih baik kau lepas saja dia. Dia juga bukan gadis seperti Sulli kan?"
"Yang rela menungging dihadapanmu kapanpun kau merasa butuh pelampiasan atas hasratmu yang bejat itu." Sambungnya.
Sehun tertawa, kedengaran seperti tawa jahat menurut Jongin. "Kau memberiku ide."
Dan Jongin menatap Sehun penuh amarah.
"Tenanglah Jongin. Aku tak akan sekejam itu. Aku tahu gadis seperti Luhan harus diperlakukan seperti apa."
"Kupegang kata katamu." Jongin kembali tenang.
Irene datang dengan sebuah nampan besar ditangannya. "Ini pesanan kalian."
"Whoaa—terima kasih Noona" Jongin menyambutnya dengan ceria. Seakan akan lupa dengan amarahnya pada Sehun.
"Sehunnie. Mana gadis yang kau bilang? Jangan bilang bahwa Jonginlah gadismu." Irene menatap Sehun jijik.
"Dia ke toilet Noona. Dan Jongin bukan gadisku." Sehun menjawab dingin.
"Noona mana minumanku?" Jongin mengabsen makanan makanan yang ada di mejanya.
"Ah itu dia! Gadis itu menolongku membawa nampan! Lihat! Dia cantik bukan? Baik sekali. Suaranya sangaaat lembut." Irene menunjuk kearah gadis itu.
"Noona.." Itu suara Jongin
"Ya?"
"Itu gadis yang Sehun maksud."
"Itu gadisku Noona. Yang akan kukenalkan padamu."
"Omo! Kau pacaran dengan gadis itu?!"
"Bukan. Mungkin 'Akan Pacaran'." Sehun mengoreksi dan mendapat tinju ringan dari Irene.
Luhan hanya berdiri diam ditempat saat menyadari dia membawa nampan untuk mejanya sendiri.
"Ah maaf merepotkanmu ya." Irene mengambil alih nampan itu kemudian menyimpan semuanya diatas meja.
"Duduklah. Kita makan malaam~" Jongin memberi isyarat agar Luhan duduk kembali.
Luhan tersenyum pada Irene dan dia duduk dikursinya, disebelah Sehun.
"Luhan ini kakakku, Irene." Saat Sehun mengatakannya, Irene langsung mengulurkan tangannya.
"Oh Joo Hyun. Panggil saja Irene." Irene tersenyum sumringah melihat betapa hebat adiknya membawa wanita seperti Luhan.
"Xi Luhan. Panggil saja Luhan. Salam kenal Irene Eonnie."
"Aigoo. Kau sangat cantik. Ah kau adalah adik ipar idamanku."
Luhan terkejut dan wajahnya lagi lagi memerah. "Aigooo lihat bagaimana wajahmu memerah! Ah Eomma harus melihat ini!" Irene merogoh saku celana dan celemeknya.
"Aku akan kembali dengan handphoneku!" Irene berlari untuk mencari dan mengambil ponsel pintarnya itu.
Jongin tertawa melihat aksi kakak perempuan Sehun itu. "Keluargamu tidak ada yang waras!"
Sehun dan Jongin mengobrol sambil melahap makan malam mereka, khas laki-laki. Mengobrol tanpa tahu waktu, tempat dan keadaan. Luhan hanya mendengarkan sambil memakan makanannya dengan pelan dan sopan.
"Kau tahu? Setelah aku datang kepesta kerabatku dia bilang sudah menemukan calon untukku. Dia bersikukuh agar aku menikah dengan gadis yang ia temui. Dan kau tahu siapa dia?"
"Nugu? Ah! Bukan kenalanku kan?" Jongin menyumpit udangnya.
"Sayangnya dia kenalanmu."
"Siapa?" Tanya Jongin lagi. Dengan udang dimulutnya.
"Baekhyun."
Jongin nyaris memuntahkan udangnya. Dia tertawa keras. Sehun menatap jongin dengan jijik tetapi masih tertawa.
"Dan saat kukatakan bahwa Baekhyun adalah kekasihmu dia sepertinya menyerah. Dan mengurung diri dikamar seharian penuh."
"Hanya karena Baekhyun kekasihku?"
"Yeah."
"Keluargamu memang aneh!"
Mereka kembali pada makan malam mereka, Luhan yang mendengar mmereka menyebut Baekhyun hanya tersenyum dan kembali pada makanannya.
"Ngomong ngomong soal Baekhyun. Kita berakhir."
"Sudah kuduga."
"Dan kau tahu? Sepertinya dia jatuh cinta dengan seseorang. Dan kebetulan adik dari lelaki incaran Baekhyun itu sangat dekat denganku." Selesai dengan nasi panasnya Jongin menyeruput supnya.
"Wow. Kalian bisa saling membantu kalau begitu. Dan kalau boleh kutahu siapa kakak beradik itu?"
"Sehunnie!" itu suara Irene. Dia datang lagi dengan Handphone ditangannya. Dan tanpa permisi, Irene duduk disamping Jongin, berhadapan dengan Luhan.
"Ada apa lagi Noona?!" Sehun yang merasa makan malamnya terusik menatap Irene sebal.
"Ah apa kau sudah selesai makan Luhan?" Irene tidak menghiraukan adiknya.
"Ah sudah Eonnie. Ada yang bisa kubantu?"
"Ah kemarilah! Kita ketaman belakang! Aku harus mengambil fotomu! Ayo ayo!" Irene berdiri dan menarik tangan Luhan.
"Tapi diluar sudah mulai gelap Eonnie."
"Ah, tenang saja. Banyak lampu ditaman belakang~. Jadi tak akan terlalu gelap."
"Baik Eonnie. Ayo." Luhan berdiri dan mengikuti Irene.
Luhan berbalik pada Sehun dan Jongin. "Maaf, aku permisi sebentar." Luhan membungkuk pada kedua pria itu. Sehun melepas jasnya dan menggantungkannya dipundak Luhan.
"Pakailah. Udara mulai dingin, aku tidak ingin kau sakit lagi. Arrasseo?"
"Nde.." Luhan mengangguk dan berbalik lagi pada Irene.
Irene tersenyum melihat Sehun memperlakukan Luhan seperti itu. Rasanya detik itu juga Irene ingin menikahkan mereka berdua.
"Ayo Luhan." Irene mengulurkan tangannya. Luhan menyambutnya dan mereka berjalan menjauh.
...
Irene sedang sibuk mengambil potretnya dengan Luhan. Hampir lima puluh foto selfie yang dia ambil. Dia tidak lupa mengambil foto Luhan. Foto Luhan sedang berdiri dan tersenyum, dengan jas Sehun menggantung dipundaknya. Irene tanpa izin mengirimkan foto itu pada Ibunya. Boa.
"Lihat. Difoto ini kau sangat manis. Ah dimana Sehun menemukan wanita sepertimu?"
"Kami bertemu di Cafe, Eonnie."
"Bagaimana bisa?" Irene antusias.
"Saat itu aku ada janji dengan kerabatku. Untuk membicarakan Wisudaku. Aku meminta kakak kerabatku itu untuk menjadi waliku saat wisuda."
"Wali? Kemana orang tuamu?"
"Orang tuaku meninggal dunia Eonnie."
"Ah mianhae Luhan. Kapan?"
"Sudah lama sekali Eonnie." Luhan tersenyum
"Ah maafkan aku. Lanjutkan ceritamu." Irene mengelus punggung Luhan.
"Aku punya janji dengan kerabatku. Kebetulan kerabatku itu sedang berbincang dengan Sehun di Cafe. Sehun mendengar pembicaraan kami saat itu."
"Lalu?"
"Kerabatku itu, namanya Baekhyun. Aku berniat meminta kakak Baekhyun untuk menjadi waliku tapi ternyata kakaknya sibuk. Dan Sehun menawarkan diri menjadi waliku."
"Anak bodoh itu! Kalian bahkan baru pertama kali bertemu saat itu. Kau pasti sempat ketakutan bukan? Aku tahu wajahnya memang jahat!"
"Sedikit. Tapi Sehun sempat menolongku dan kami jadi sering bertemu."
"Tunggu. Apa kau gadis yang menubrukku dipesta Chanyeol? Kau gadis dengan gaun babydoll itu?"
Luhan mengangguk ragu. "Sehun yang memintamu memakai gaun itu kan?"
"Bagaimana Eonnie bisa tahu?"
"Karena sibodoh itu memintaku mengantarnya untuk membeli gaunmu. Maaf ya, seleranya pasti membuatmu tidak nyaman."
"Tidak apa apa Eonnie. Sehun sudah terlalu baik padaku."
"Kau tahu, Aku sempat meminta Baekhyun agar menjadi adik iparku. Padahal aku baru pertama kali bertemu dengannya saat dipesta Chanyeol."
"Iya tadi Sehun menceritakannya pada Jongin. Dan aku mendengarnya."
"Ternyata Baekhyun dan Sehun sudah saling mengenal rupanya. Baekhyun kerabatmu. Dan Baekhyun pacar Jongin. Benar kan? Dunia memang sempit."
"Iya." Luhan tersenyum lagi.
Irene duduk disebelah Luhan. Memandangi Luhan yang sedang menatap Langit. Irene menggenggam tangan Luhan yang sedikit gemetar karena udara dingin.
"Luhan.."
"Ya Eonnie?" Luhan mengalihkan pandangan pada Irene.
"Apa kau mencintai Sehun?"
Luhan membatu. Dia menunduk. "Aku belum tahu Eonnie. Aku tidak yakin ini cinta. Tapi aku.. mungkin menyukainya."
"Kenapa kau menyukainya?" Irene bertanya dengan nada lembut.
"Aku tidak tahu Eonnie."
"Apa Sehun pernah menciummu?"
Wajah Luhan tidak karuan sekarang. "Katakan saja Luhan. Tidak apa apa." Irene menyelipkan rambut Luhan di telinga. Irene melihat anting yang menggantung ditelinga Luhan, ia tersenyum. Irene tahu, pasti Sehun yang memberikan Luhan anting cantik ini. Seleranya benar benar selera Sehun.
"Dua kali."
"Dibibir ?"
"I-iya."
"Apa Sehun pernah membawamu kerumahnya? Katakan saja." Irene semakin melembut
"Pernah. Saat aku sakit dan pingsan."
"Sakit?"
"Iya. Tekanan darah rendah."
"Sehun tidak macam macam?"
Luhan menggeleng pelan. "Dia hanya mengusap kepalaku dan menyentuh keningku. Memastikan bahwa demamku sudah turun atau belum."
"Jinjja? Kau tidak sedang berbohong kan?"
"Tidak Eonnie, aku tidak berbohong." Luhan menggeleng lagi. Dia benar benar jujur.
"Luhan. Boleh aku percaya padamu?" Irene berubah serius.
"Eh?"
"Bolehkah aku berharap agar kalian menjalin hubungan serius?"
"Aku tidak yakin. Kurasa aku bukan—"
"Bukan gadis yang pantas untuk Sehun? Begitu?" Irene menebak dengan cepat. Dan Luhan menunduk lagi.
"Aku tidak percaya diri. Sehun terlalu sempurna untuk gadis sepertiku. "
"Lagipula aku belum mengenal Sehun lebih dalam." Lanjutnya.
Irene spontan memeluk Luhan. Sangat erat. Luhan hanya mengedipkan matanya berkai kali.
"Maaf aku terdengar memaksamu. Tapi pertimbangkanlah.."
Luhan hanya diam.
"Apapun yang kau dengar soal Sehun. Dan apapun yang akhirnya kau tahu soal Sehun. Kumohon Luhan.."
Luhan masih diam.
"Kumohon jangan tinggalkan dia."
Luhan membalas pelukan Irene.
"aku ingin kau menjadi orang yang pertama kali kupercaya soal Sehun."
"iya Eonnie.. akan kupertimbangkan" Luhan memeluk Irene lebih erat lagi.
"terima kasih Luhan." Keduanya tersenyum dan tertawa kecil
...
"Wow. Kau selalu seromantis itu padanya?" Jongin takjub setelah melihat perlakuan Sehun pada Luhan.
"Apa itu romantis?" Sehun kembali duduk setelah Luhan pergi bersama kakaknya.
"Tentu saja bodoh!"
"Baru kali ini aku bersikap seperti itu pada gadis disampingku."
"Yeah. Dia mampu meluluhkan hati lelaki manapun. Kurasa."
"Jadi berikan jawabanmu. Siapa kakak beradik yang kau maksud?"
"Baekhyun menyukai Park Chanyeol. Dan aku menyukai adiknya, Kyungsoo."
Sehun meminum beernya. Dan mendengar perkataan Jongin ia nyaris menyemburkan beer dimulutnya.
"Park bersaudara?"
"Yep." Jongin menjawab cepat
"Tapi kenapa Kyungsoo?"
"Tentu saja. Dia adik dari Park Chanyeol bukan. Aku sebenarnya tidak tahu siapa itu Park Chanyeol. Baekhyun memberi tahuku."
"Baekhyun?"
"Iya."
"Ah. Jadi Baekhyun menyukai Park Chanyeol dan Kau menyukai Kyungsoo. Dan Baekhyun memberi tahumu bahwa mereka berdua kakak beradik begitu?"
"Yup! Kau pintar Oh Sehun!"
"Jongin. Biarkan aku menjelaskan padamu. Park Chanyeol adalah kerabatku. Dia baru saja menggantikan posisi kakeknya untuk perusahaan.."
"Lalu? Apa itu penting?"
"Aku belum selesai Kkamjong!" Sehun emosi.
"Oh Kalau begitu lanjutkan."
"Park Chanyeol anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak perempuannya Park Yoora, dan adiknya.."
"Park Kyungsoo?" Jongin menebak
"Bukan. Adiknya Park Soo Young. "
"Hah?" Jongin terbelalak.
"Ah aku tahu! Nama asli Kyungsoo adalah Soo Young. Benar bukan?" Jongin menebak
"Jongin Park Soo Young masih berusia tujuh belas tahun. Dia bahkah masih sekolah menengah atas."
"Hah? Lalu siapa Kyungsoo? Mereka tinggal serumah bukan?!" Jongin sedikit emosi.
"Kau tahu nama depan Kyungsoo?" Sehun bertanya, dan membuat Jongin memutar balik ingatannya.
"Dia memperkenalkan diri dengan Kyungsoo. Aku tidak pernah tahu nama depannya selama hampir empat tahun mengenalnya."
"Namanya Do Kyungsoo. Dia anak tunggal dari keluarga Do yang terhormat."
"Jadi mereka bukan adik kakak?!"
"Mereka tidak sedarah dan punya orang tua masing masing!"
"Mereka bertunangan sejak Kyungsoo lulus sekolah menengah atas." Lanjut Sehun
"Mereka akan menikah saat Kyungsoo lulus kuliah."
Saking terkejutnya Jongin tidak sadar bahwa puluhan tetes keringat telah membingkai wajahnya.
"Mereka tinggal bersama untuk simulasi pernikahan keduanya nanti."
"Lalu?! Kenapa Kyungsoo bisa kelihatan tertarik padaku?! Aku yakin ia menyukaiku!"
"Mereka dijodohkan sejak kecil. Chanyeol tidak pernah memiliki kekasih. Begitu pula Kyungsoo. Mereka menjalin hubungan atas paksaan kedua orangtua mereka masing masing saat Kyungsoo masuk sekolah menengah pertama. Dan mereka mulai mencintai satu sama lain. Sampai Kyungsoo lulus sekolah menengah atas. Mereka akhirnya bertunangan. Mereka tidak pernah tertarik pada orang lain. Kau mengerti maksudku?"
"Jadi Aku dan Baekhyun hanya ketertarikan sesaat?"
"Yeah"
"Dan mereka hanya ingin merasakan hubungan dengan orang lain sebelum mereka berdua menikah begitu?"
"Tepat sekali."
"Berarti Aku dan Baekhyun hanya pelampiasan?!"
"Mungkin iya. Mungkin juga tidak."
"Keparat!"
"Hei tenanglah kawan. Kenapa kau harus semarah itu?!"
Jongin tidak menjawab. Jongin terdiam dan Larut dalam kata kaat Sehun.
Jongin takut. Ia takut kalau Baekhyun sudah menyerahkan diri sepenuhnya pada Chanyeol. Tidak seharusnya Baekhyun yang polos terjebak dalam Cinta rumit seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be Continue
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan Review ya~!
.
.
.
.
.
.
.
.
Kedip manja
OwyeahEonnie
