Hiruma, mendekam di apartemennya, berusaha tidak menghancurkan kamarnya. Berusaha tidak mengamuk karena perasaannya itu. Berusaha supaya tidak kalah dari Riku.

"Shit, this damn feeling really... troublesome..." gumam Hiruma sambil mengacak rambutnya, frustasi.

Apa sebaiknya besok aku mengikuti mereka?

Dan rencana Hiruma pun dimulai...


MISUNDERSTANDING

Disclaimer: Eyeshield 21 belongs to Riichiro Inagaki and Yusuke Murata

Summary: Empat orang dengan karakteristik yang berbeda tanpa sadar saling terkait satu sama lain… Dimana mereka mengagumi dari jauh dan merasa tidak bisa mendapat orang yang mereka cintai. Tapi ketika orang ketika muncul, bisakah mereka meneguhkan hati dan mengejar apa yang mereka impikan?

Hiruma/Sena, Shin/Sakuraba, slight Mizumachi/Kakei, one-sided Riku/Sena, Hiruma/Mamori and OMC/Sakuraba

A/N: Sedikit fast-paced mungkin, dalam masa peng-edit-an, sedikit OOC (Out of Characteristic) Hiruma dan Shin, Timeline sedikit membingungkan… mungkin setelah Christmas Bowl? Take your pick. Obviously YAOI or GuyxGuy.

Baru baca ulang Eyeshield 21 dan teringat akan fic gue yang ini… jujur bukan bermaksud meng-abandoned fic-fic gue tapi terkadang… yah… begitulah ._.

And y'all previously known this fic as 'Miss Understand'.Gue pikir kurang sreg aja judulnya... dan gue ganti jadi 'misunderstanding'.Still... ini natsu-BlackCat yang berganti nama menjadi ScarletSky153 ._.

ENJOY!


Apaperasaan ini benar-benar harus dihilangkan?

Tanpa bisa berharap lebih?

Tentunya, melupakan itu lebih baik daripada tersakiti...

Tapi… apa ia rela?


Chapter 3 –A chain reaction…?

"Sena! Ayo bangun!" seru Ibu Sena dari bawah tangga.

SET!

Reflek, Sena terbangun dari tidurnya dan terduduk di atas kasur. Mimpinya semalam membuatnya gelisah. Tubuhnya berkeringat dingin, jantungnya berdegup lebih kencang.

"Huft… Sena mengacak rambutnya frustasi. Kesal. Bingung. Putus asa. "Semoga, itu hanya mimpi…"

Menghela nafas, ia menggelengkan kepalanya. Mencoba melupakan mimpinya semalam. Wajahnya berputar, mencari jam dinding yang menggantung manis di dinding. Pukul tujuh tiga puluh.

"Hemm, masih ada banyak waktu sebelum Riku datang…"

Dengan gerak cepat, Sena memasuki kamar mandi dan membersihkan diri di sana. Lalu keluar, mengganti pakaian menjadi baju yang biasa ia pakai di rumah. Kemudian ia menuruni tangga dan langsung menuju ruang makan, tempat ibu dan ayahnya menunggu.

"Ah, Sena. Ohayou."

"Ohayou, otou-san" Sena menyapa, walau masih sedikit lesu.

"Hari ini mau ke mana, nak?"

"Err…" Sena menjawab bingung, memutar otak. Apa perlu, ia berkata kepada kedua orangtuanya bahwa ia akan pergi kencan? "Ah! Hari ini mau pergi bersama teman-teman amefuto, mau main yah, hehehe…"

Ayah Sena hanya mengangguk, dan meminum kopinya. "Baik. Jangan pulang kemalaman, ya."

"Hai*!"

Sena memakan sarapannya dalam diam, menjadi pendengar antar ibu dan ayahnya. Sementara ia memikirkan mimpinya semalam…

Ah, sudahlah. Tidak baik memikirkan hal yang sudah terjadi.

"Tou-san, Kaa-san, sudah selesai." Setelah berkata hal itu, Sena pergi keluar.

"Mau kemana, nak?"

"Lari pagi bu!"

Dengan cepat Sena memakai sepatunya, jogging.

.

.

.

Pukul sembilan dua puluh, Sena kembali ke rumah.

"Sudah, nak?"

"Ya, bu."

"Ibu masih tidak percaya kaulah Eyeshield 21 itu, nak…" gumam ibu Sena sambil mengusap kepala anaknya. Ya, dulu ia masih tidak percaya. Anaknya tipe yang suka dijahili dan menjadi pesuruh. Namun, saat SMA, ia langsung melejit menjadi seorang atlet amefuto. Walau awalnya ia dan suaminya khawatir, terutama karena Sena berbadan kecil, tapi melihat semangat dan prestasinya, mereka tenang juga.

"Hehehe… maaf bu, waktu itu Sena tidak bilang…" Sena menundukan wajahnya. Memang selama ini, sebelum kenyataan bahwa Eyeshield 21 adalah dirinya diketahui secara luas, ia tidak pernah berkata yang sebenarnya kepada orangtuanya.

"Yah, tidak apa-apa, asal kau bisa mengatur waktu…"

"Hai, Kaa-san!"

"Nah, mandi sana! Bau keringat!"

"Hehehe… siap!"

Sena berlari ke atas, dan segera memasuki kamar mandi. Setelah mandi dengan benar-benar bersih, ia kembali ke kamar dan kemudian bingung memilih pakaian apa yag akan dipakainya.

"Hem… apa ya?" ia kemudian meraih bawahan jeans berwarna hitam, kaus putih print, ia juga meraih jaket berwarna biru tua, dengan garis abu-abu.

"Hem, kupikir ini saja…" dengan cepat Sena memakai baju itu. Sebagai tambahan, ia memakai topi Adidas berwarna hitam abu-abu, hadiah saat ia berhasil memenangkan Christmas Bowl. Hadiah dari anggota Deimon. Tapi, Kurita membisikinya kalau hadiah itu dipilihkan dan dibelikan sendiri oleh Hiruma. Mengenang itu, Sena tersenyum.

"Apa, memang sudah tidak ada harapan?"

Lamunannya, dan senyum sedihnya pudar saat didengarnya ibunya berteriak, "Sena! Ada yang menunggumu di luar!"

Bergegas Sena turun ke bawah, tapi tidak sebelum meraih ponsel dan dompetnya.

"Apa sudah lama menunggu?" Sena segera menuju pintu depan, saat dilihatnya ibunya sedang berbincang dengan Riku.

"Ah, Sena, kau tidak bilang Riku-san juga atlet amefuto!" kata ibu Sena sambil tersenyum. Walau Riku hanya sebentar di Jepang dan juga hanya sebentar berteman dengan Sena, tapi ibu Sena tahu bahwa Riku-san lah yang mengajarkan Sena berlari.

"Hehehe…"

"Ah, kalian akan pergi bersama ya? Ayo cepatlah!" dengan cepat, ibu Sena pergi ke dalam, tapi sedetik kemudian beliau kembali lagi. "Ah, dan Riku, titip Sena ya!"

Riku hanya tersenyum, sementara wajah Sena memerah. "Kaa-san! Aku bukan anak kecil lagi!"

Riku mengacak rambut Sena, "Tapi bagiku, kau masih kecil lho!"

"Aaah, Riku! Kita kan seumuran, lagi pula perbedaan tinggi kita hanya sedikit!"

"Hahaha… oh ya, ini helm-nya." Riku melempar sebuah helm, yang ditangkap dengan tepat oleh Sena. "Tumben, kau memakai topi."

Sena memegang topi itu, lalu tersenyum sedih.

"Sena?"

Sena mengerjapkan matanya. Ah, sedetik tadi rasanya ia ingin menangis saja.

"Ya?"

"Kau kenapa?"

"Tidak, tidak apa-apa."

Riku tahu Sena berbohong, tapi setidaknya ia akan meminta Sena untuk bercerita. Walau bukan sekarang.

"Ya sudah, ayo naik!"

Pemuda berambut cokelat itu mengangguk, lalu duduk di belakang Riku. RunnerBack dari Seibu itu menjalakan motornya menuju salah satu café langganannya.

"Nah, ke sini dulu ya!"

"Hm…"

.

.

.

Sementara itu, Hiruma terbangun dengan tampang super kusut. Kesal, frustasi.

"Aaargh! Mimpi sialan!"

Semalam, ia bermimpi bahwa ia sedang berjalan di suatu pusat perbelanjaan, dan kemudian ia melihat si cebol sialan sedang duduk dengan si putih sialan, wajah mereka sangat dekat, dan mereka…

Bahkan untuk mengingat mimpinya saja Hiruma tidak mau.

Frustasi, Hiruma pergi ke kamar mandi, mencuci mukanya. Sekedar untuk menjernihkan isi kepalanya yang seperinya mau meledak saking kesalnya.

Entah mengapa, sekelebat bayangan dari percakapan yang ia tangkap dari penyadapnya tadi malam memasuki kepalanya.

"Sena, besok ingin jalan?"

"Ma-maksudmu?"

"Yah, kau tahu, kita berdua, lalu..."

"Ma-maksudmu kencan?"

Memang, setelah itu, Hiruma tidak menangkap jawaban dari Sena. Karena memang yang ia pasang bukan kamera, melainkan penyadap hanya untuk mendengar.

Tapi, perkataan setelahnya dari Riku membuat Hiruma tahu jawaban dari Sena itu apa.

"Baiklah, besok oke! Aku akan menjemputmu di sini, pukul sepuluh!"

PRANG!

Tanpa sadar, Hiruma menonjok kaca di depannya. Tentu saja kaca itu pecah, dan tetesan darah turun dari kepalan tangan kanannya.

"Cih, sialan!"

Berusaha untuk mengabaikan baik rasa sakit di hatinya, di kepalanya dan juga di tangannya, Hiruma mencuci lukanya. Lalu ia membebat lukanya itu dan berganti pakaian.

Diliriknya sekilas jam tangannya. Pukul sepuluh lewat sepuluh.

"Mereka berdua pasti berada di suatu tempat, entah melakukan apa," gumam Hiruma. Ia pergi menuju dapur, dan mendapati beberapa bahan makanan yang habis. Termasuk kopi dan permen karetnya.

"Che, sialan."

Akhirnya ia memakai jaket kulit warna hitam favoritnya, senada dengan celana yang dipakainya. Hanya bajunya saja yang berwarna putih bergaris abu-abu. Bazooka kesayangannya menenteng di bahunya. Tak lupa Hiruma mengambil salah satu ponsel dan juga dompetnya.

"Sepertinya aku harus mampir ke café dulu."

Hiruma segera keluar. Ia menuju parkiran, dan menjalankan mobilnya. Tujuan pertamanya, café tempat ia biasa duduk termenung saat SMP dulu.

Tanpa mengetahui sesuatu yang menunggunya di sana…

.

.

.

Shin bersiap pergi keluar, mengingat hari ini ia tidak ingin latihan. Percakapannya dengan Sakuraba semalam sudah membuat mood-nya untuk berlatih hancur. Jadi, ia memutuskan mengabiskan seharian di luar,berjalan entah kemana.

Berjalan tanpa arah, Shin akhirnya sampai di sebuah café tempat dulu Sakuraba sering memaksanya mampir. Dulu, saat SMP. Sekarang, sepertinya mereka berdua sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga sulit untuk pergi bersama di akhir pekan.

'Mungkin aku akan mampir sebentar untuk sekedar membeli kopi…' batin Shin. Berbalik arah, ia akhirnya melangkah masuk.

Diedarkan pandangan sekeliling, lalu ia segera memesan kopi untuk dibawa. Cukup Mocca Latte, salah satu kopi kesukaan Sakuraba. Mengingat hal itu membuat Shin hampir tersenyum, tapi akhirnya tidak jadi mengingat percakapan mereka…

Sebuah suara mengagetkannya.

"Shin-san!"

Lho, bukannya itu suara Kobayakawa Sena**?

Shin menengok kearah sumber suara yang memanggilnya. Benar di salah satu tempat duduk dekat jendela, duduk Sena Kobayakawa, dan…

"Ah, hai, Shin-san."

Dan… bersama dengan Kaitani Riku**?

.

.

.

"Shin-san!" Sena berseru, memanggil sosok yang sudah lumayan akrab dengannya.

"Ah, Sena-san."

"Sudah kubilang, panggil Sena saja, hehehe…" Sena menggaruk kepalanya.

Shin tersenyum tipis. "Kalau begitu, panggil saja aku Shin."

"Eh, tapi… baiklah…"

"Ehm, kupikir aku akan ke kamar mandi dulu, " Riku berdiri, lalu berjalan menuju kamar mandi di café itu.

"Ya."

Shin lalu duduk di seberang Sena, menaruh kopinya.

"Eh, tumben tidak bersama Sakuraba-san?"

DEG!

Shin tersentak kaget mendengar nama sahabatnya itu disebutkan. Dengan cepat wajahnya memerah. "Eh, anu… itu…"

Sena memicingkan matanya, lalu sejenak terdiam. Kemudian ia tersentak kaget.

"Shin-san suka sama Sakuraba-san ya?"

Yap. Tepat menusuk langsung.

"Err… anu… itu…" Shin bisa merasakan wajahnya memerah. Kenapa orang yang biasa disebut si manusia dingin bisa bereaksi seperti ini? Out of characteristic banget!

"Tidak apa-apa kok Shin-san, rahasiamu aman di tanganku, hehehe," Sena tersenyum, membuat Shin menghembuskan nafas.

"Jangan, bilang siapa-siapa…"

"Shin-san, kenapa wajahmu sendu seperti itu? Ada masalah dengan Sakuraba-san ya?"

Shin terdiam. Apa bisa ia bercerita seperti ini? Tapi, entah mengapa, setelah bertemu dan bertanding melawan Sena, ia merasa ia bisa mempercayakan orang di depannya itu.

"Eh, itu..." lalu, tanpa bisa diberhentikan, Shin menceritakan masalahnya.

Setelah selesai, Sena termangut-mangut. "Oh... jadi Shin-san cemburu karena Sakuraba-san diajak kencan oleh orang lain? Kenapa Shin-san tidak mengajaknya saja nanti?"

Shin terdiam. Betul juga ya?

"Ah, betul juga ya..."

WUSH!

Tiba-tiba, angin kencan bertiup, membuat mata Sena kelilipan.

"Aw..." keluhnya, sambil mengucek mata kanannya. Sepertinya terkena debu.

"Jangan dikucek begitu!" kata Shin sambil menahan lengan Sena, "Lebih baik di tiup saja," perlahan, Shin meniupkan mata kanan Sena.

Begitu dekat, sampai banyak orang yang mengira mereka berciuman.

"Nah, sudah."

Tanpa disadari mereka, ada sepasang mata yang mengawasi adegan tadi...

"Shin..."

.

.

.

Beberapa menit sebelumnya...

"Thanks buat tiketnya ya, Rei!" Sakuraba tersenyum senang setelah mereka keluar dari lapangan basket sekolah swasta lain.

"Ya, kuharap kau senang," Rei tersenyum. Walau begitu, ia merasa gugup. Kenapa Sakuraba ganteng sekali sih? Yah, kalo misalnya gak ganteng ya si Sakuraba gak akan pernah jadi model sih…

"Eh, kita mau ke mana dulu?"

Rei terlihat berfikir. Kalau misalnya pulang dulu, masa 'kencan' cuma setengah hari? "Hem… bagaimana kalau misalnya kita nonton film?"

Sakuraba mengangkat alisnya. Nonton film? Tadi nonton pertandingan basket, sekarang mau nonton film. Memang ini… kencan?

Memikirkan hal itu membuat wajah Sakuraba memerah.

"Kau kenapa, Sakuraba? Demam?" Rei menggoyangkan tangannya di depan wajah Sakuraba yang membatu.

Tersadar dari renngannya, Sakuraba mengangguk ragu. 'Yah, sepertinya ini keputusan yang baik… Supaya mengalihkan pikiran dari Shin…' tapi, memikirkan hal itu membuat Sakuraba tersenyum sedih.

'Tidak, tidak apa-apa. Biarkanlah perhatianku kepadanya menghilang sejenak…'

"Ya, boleh. Ayo!" Sakuraba tersenyum, walau tidak selebar sebelum-sebelumnya. Dan Rei menyadari hal itu.

"Em… kau benar-benar tidak apa-apa?"

"Yah… mungkin segelas kopi bisa membuatku segar…"

"Ah, kopi ya. Mau beli di mana?"

"Em…" Sakuraba berfikir. Sepertinya café favoritnya saat SMP, café yang sering dikunjunginya dengan Shin masih buka sekarang… Ah Shin lagi. "Aku tahu café yang enak, tempat langgananku."

Rei mengangguk. "Yah, boleh juga. Ayo kalau begitu!"

Mereka berdua berjalan beriringan, tapi anehnya, sekarang tanpa suara sedikitpun.

Sekitar beberapa meter di depan mereka, terlihat dua sosok yang dikenali Sakuraba.

Dua orang dari tim Poseidon, berjalan bersama, dan yang mencengengkan: Mereka berpegangan tangan.

"Kakei-san? Mizumachi-san?"

Kedua orang yang dipanggil menengok. Menetahui siapa yang memanggil mereka –dan kebetulan sekali mereka berdua kenal- sontak wajah pemuda berambut hitam kebiruan –rambutnya seperti itu kan?- memerah. Berusaha menyembunyikan kedua tangan mereka yang bertaut. Tapi, si rambut pirang sepertinya tenang-tenang saja.

"Ah, hai Sakuaba-san!" sosok berambut pirang dan sangat tinggi melambaikan tangannya.

"Siapa dia?" tanya Rei heran.

"Hem… temanku, atau rival? Hehehe, ayo ke sana!" Sakuraba menarik tangan Rei, membuat wajah pemuda itu memerah.

"Hai Mizumachi-san, Kakei-san," Sakuraba membungkuk, menyapa ramah. "Sedang apa kalian di sini?" matanya melirik kedua tangan pemuda di depannya yang masih bertaut, dan juga wajah Kakei yang masih memerah.

"Hehehe… rahasia!" seru Mizumachi.

Tapi, percuma menyembunyikan hal itu dari Sakuraba. Wide Receiver itu sudah tahu apa yang mereka berdua lakukan.

"Ah, siapa dia, Sakuraba-san?" Tanya Kakei setelah ia berhasil meredam blushing di wajahnya.

"Dia," Sakuraba menarik Rei ke depan, "Shibuya Rei**. Temanku. Dan Rei, ini Mizumachi-san dan Kakei-san, mereka berdua anggota Poseidon,"

"Amefuto juga?"

"Yup!"

"Ah, sudah pukul segini," Kakei mengecek jam tangannya. "Kami duluan ya, Sakuraba-san, Shibuya-san."

"Iya!"

Lalu, setelah itu kedua pasangan itu berlalu.

"Kau kenal banyak orang ya?"

"Yah," Sakuraba menggaruk kepalanya, "Mungkin karena mereka juga atlit. Kalau misalnya mengikuti pertandingan seperti Turnamen Musim Gugur, banyak tim yang berkumpul. Dan di sana bisa mengenal banyak orang. Yah, kebetulan juga, aku dan mereka berada di satu tim saat pertandingan dunia itu…"

"Kalian memang hebat. Kau memang hebat! Bisa sampai pertandingan internasional. Entah kapan tim basket kami." Kata Rei memuji, sambil menyindir timnya sendiri.

"Ahaha… arigatou."

"Katanya kau ingin beli kopi? Ayo!"

Mereka berdua berjalan beriringan sambil bercerita mengenai pengalaman masing-masing. Perhatian Sakuraba teralih saat mereka sudah sampai di sepanjang jalan di pinggir café. Café itu tidak mempunyai teras, tapi pinggirnya dibatasi kaca bening. Sehingga Sakuraba dan Rei bisa melihat apa yang terjadi di dalam.

Saat itu mata Sakuraba tertuju pada sesuatu, atau seseorang.

Seseorang yang dikenalnya.

Dan, adegan yang sedang berlangsung membuat Sakuraba membelalak kaget.

Lututnya melemas, bahunya terasa berat.

Hatinya terasa tertusuk duri yang sangat tajam dan terkoyak.

'Shin dan… Sena?'

Dari sudut Sakuraba berdiri, ia tidak bisa melihat kedua wajah mereka dengan jelas. Tapi, ia bisa melihat bahwa mereka berdua sangat dekat… seperti berciuman.

Pemikiran yang muncul di kepalanya itu membuat hatinya sakit, sangat sakit.

Perih.

Cemburu kah ia?

Ya. Sakuraba tahu jawabannya. Ia juga tahu perasaan apa yang melandanya, sekarang, dan sedari dulu.

Ia, entah sejak kapan, telah jatuh cinta kepada sahabat jeniusnya itu.

"Shin…" dirasakannya matanya memanas. 'Tidak. Aku tidak boleh menangis. Tidak boleh!'

'Jadi, Sena? Orang yang membuatmu menikmati amefuto, Shin. Karena, saat kau melawannya, itu pertama kali aku melihatnya, di matamu, kau menikmatinya.'

'Mungkin, aku memang tidak berarti bagimu…'

Tidak melihat Rei, dan mengabaikanya, Sakuraba berjalan menjauh. Dengan cepat.

Takut, takut perasaannya menguasai hatinya, pikirannya.

Jadi, sebelum itu terjadi, sebaiknya ia pergi dari sana.

"Sakuraba?" tanpa berkata apa-apa, dan karena Rei sendiri telah menebak perasaan Sakuraba, ia memilih untuk mengikuti pemuda itu, kemanapun.

Dan menemaninya.

.

.

.

"Kalau begitu, aku duluan ya."

"Ya. Sampai bertemu kembali, Shin-san."

Shin berjalan keluar sambil membawa kopinya, sementara itu Riku kembali dari kamar mandi.

"Shin-san sudah pergi?"

"Ya, sepertinya ia terburu-buru."

"Hem…" Riku menyeruput kopinya, dan menyantap sesedikit cake-nya. "Sepertinya ada yang kau sembunyikan dariku, Sena…"

"Maksudmu?" walau sudah bisa menebak maksud Riku, Sena tetap tidak mau mengatakannya. Setidaknya belum mau.

"Beberapa hari ini, tingkahmu aneh. Sering lesu. Dan lagi, tadi, saat kau memegang topimu, raut wajahmu meenjadi sedih. Sepertinya kau ada masalah?"

Sena tertegun. Apa segitu kelihatannya kah?

"Yah… memang akhir-akhir ini ada yang menggangguku… dan juga mimpiku semalam…"

"Memang apa mimpimu?"

"Semalam… aku berada di kerumunan orang. Orang-orang yang tidak kukenal. Dan di sana, ada…" glek. Apa Sena harus menyebutkan namanya?

"Ada siapa?"

Wajah Sena memerah. "Er… itu… Hiruma-san…"

Riku menaikan alisnya. Hiruma? Berarti, memang…

"Lalu?" Riku menekan rasa penasarannya, meminta Sena melanjutkan. Menanyakan rasa sang Runneback kepada si Quarterback bisa diurus nanti.

"Em… ia menengok kearahku, memberikan sebuah tatapan entah apa… Dan tiba-tiba ia berbalik dan meninggalkanku. Di sana, kerumunan orang makin banyak, kami berdua terpisah. Aku memanggil namanya, memintanya untuk menungguku, tapi tetap saja… ia tidak pernah berbalik. Ia meninggalkanku. Lalu, tiba-tiba semuanya menjadi gelap…" Sena mulai berkeringat dingin. Diseruput minumnya sedikit, lalu memijit keningnya. Mengingat mimpinya membuatnya sakit.

"Lalu?"

"Lalu… aku mendengar suara. Suara yang menyuruhku pergi, menghilang. Suara yang mengusirku. Suara itu terdengar lirih, rapuh, gemetar. Dan, suara itu milik…"

"Hiruma." Riku melanjutkan, tahu bahwa Sena tidak kuat mengatakan nama kaptennya.

Sena mengangguk. Lidahnya kelu saat ia akan menyebutkan nama kaptennya.

"Dan lalu?"

"Tiba-tiba ada sosok yang memelukku. Mengatakan agar aku jangan pergi. Bahwa ia meminta maaf… entah untuk apa. Tapi kemudian, sosok itu menghilang…"

"Kau tahu sosok itu siapa?" Tanya Riku.

Sena menggeleng kepalanya lemah. "Tidak, aku tidak tahu siapa."

"Sena, tolong jawab yang jujur."

Sena diam mendengarkan.

"Bagimu, siapakah Hiruma Youichi itu?"

Lidak Sena kelu. Siapa? Menurutnya, siapakah sosok Hiruma baginya? Hanya sekedar kapten? Atau…

"Aku…" suara Sena terdengar rapuh, serak. Lirih. "Aku… tidak hanya melihatnya sebagai kaptenku, Riku… Aku juga tidak hanya melihatnya sebagai kakak kelasku, seniorku. Bagiku, dia hanya… Hiruma…"

Riku mengangguk. Memang dari awal dirinya telah kalah. Kalah telak.

"Tapi… aku takut. Siapakah aku dimatanya? Hanya seorang budakkah? Hanya seorang anggota timnya? Apa hubungan kami berdua hanya bisa selalu menjadi seorang kapten dan angota?" suara itu terdengar lebih lirih, sedih. Matanya memanas. Hanya tekadnya untuk tidak terlihat lemah di depan Riku yang membuatnya tidak menangis.

Riku menghela nafas. Dasar, Hiruma dan Sena sama saja. Keduanya tidak saling menyadari bahwa perasaan mereka berdua itu sama.

"Apa kau ingin mencoba menanyakan hal itu kepadanya?"

Sena tersentak kaget. Ha?

"Apa menurutmu itu baik, Riku? Kupikir, Hiruma-san-" –akhirnya Sena bisa mengatakan nama itu- "-menyukai Mamo-nee…"

"Coba saja dulu, Sena…"

"Tapi… tapi aku takut… Bagaimana-bagaimana kalau dia membenciku? Menjauhiku? Aku…" tumpah juga air mata itu, sekuat apapun Sena mencoba menahannya.

"Sena…" Riku akhirnya pindah ke sebelah Sena, memeluknya. "Jangan takut, aku mendukungmu…"

"Riku… thanks…"

Riku sekarang benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium Sena. Perasaannya sudah ia tahan, tapi melihat Sena yang menangis…

Dan hatinya sakit mendengar pernyataan Sena.

Wajah Riku mendekat, membuat Sena reflek menutup matanya.

Wajah itu makin dekat…

Dan…

.

.

.

"Cih! Untungnya permen karetnya ada. Tapi di supermarket sialan itu kopi hitamnya habis! Fuck!" memaki, Hiruma berjalan menjauhi supermarket dekat café langganannya. Belanjaan berada di tangan kirinya, bazooka di punggungnya. Niatnya sih, tangan kanan membawa bazookanya. Tapi, karena ia sedang benar-benar ingin bebas tidak membawa senjata.

Hiruma berjalan mendekati café, memasuki pintu. Ia langsung menuju pantry, memesan kopi hitam. Ia berniat meminumnya di café itu, tapi mengingat ia membawa belanjaan –ia risih melihat orang-orang yang memperhatikannya menatapnya heran. Iblis belanja? Kenapa gak suruh orang aja?- maka ia memesan untuk di bawa pulang.

Tepat saat pesanan selesai dan ia berbalik untuk melihat ruangan café, matanya langsung tertuju pada dua sosok yang dikenalnya.

'Sialan! Kenapa dari banyaknya café di dunia ini harus di sini sih, mereka berdua ada! Hell!'

Tapi, adegan kemudian membuat Hiruma membeku di tempat.

Riku, berpindah ke sebelah Sena, memeluknya erat.

Hati Hiruma panas.

Sena tersenyum lega, menggumamkan sesuatu.

Rasanya Hiruma mau meledak saja melihatnya.

Dan, yang terakhir, yang membuat Hiruma rasanya mau mati saja…

Riku, mendekatkan wajahnya, dan reflek Sena menutup matanya.

Wajah Riku makin dekat…

Kesal. Benar-benar kesal.

Rasa marah menyelimuti Hiruma. Bukan marah lagi malah. Rasanya ia bisa menghancurkan seisi café, kalau perlu seisi kota untuk menyalurkan rasa marahnya.

Hatinya sakit. Mimpinya menjadi kenyataan.

Fuck! DAMN IT!

Sakit hati sudah menderanya, membuatnya berjalan cepat –hampir berlari malah- ke arah pintu, membukanya, dan membantinya.

Hatinya sudah tidak kuat lagi untuk melihat kelanjutan adegan itu.

Dengan cepat ia berlari menuju apartemennya. Membanting pintu, mebanting bazookanya, menaruh belanjaan sekenannya di lantai, lalu kopi yang sepertinya sudah jatuh saat ia berlari tadi, dan lalu iblis itu menjatuhkan diri di sofa. Lengannya menutup matanya.

Sakit. Perih.

Hatinya sekaran remuk, hancur melihat adegan tadi.

Sakit.

Dan, sepertinya, melihat ketiadaan harapan, Hiruma memilih mundur.

Dengan tingkat keberatan sampai 1000%

Tapi, mau apa lagi?

Memaksa?

Tidak, Hiruma tidak mau Sena bersamanya hanya karena ia mengancam.

Tidak, untuk kali ini saja, sebejad-bejadnya Hiruma, ia tidak mau memaksa perasaan seseorang.


Dalam setiap kisah cinta, selalu ada yang terluka.

Tapi, untuk kali ini, siapa?

Apa Riku, Hiruma, atau Sena?

Lalu, siapa yang akan menyampaikan perasaannya?

Shin, atau Sakuraba?

Apa akan ada seseorang yang menyadarkan mereka akan perasaan mereka?

TBC


*Hai: Ya, atau Baik.

**Custom Jepang adalah nama keluarga terlebih dahulu yang disebutkan.

Edited: 5/17/2014