Saling membenci, saling mengejek, saling mengerjai. Tapi mereka tidak lupa untuk tetap saling memiliki.

-LOVELY HATE-

EPILOG

GENDERSWITCH

T

Like always, HUNHAN as main pair!

Sehun EXO is EXO-L's

Oh Sehun is Whirlwind's / Lu Han is Lufan's

Sehunnie is Luhan's / Luhannie is Sehun's

Warning! Typo(s) are detected! Be careful!

BRAK!

"PERHATIAN SEMUANYA!"

"Baek! Suaramu!"

Baekhyun memutar bola mata malas, menghiraukan puluhan tatapan tajam yang menjurus kepadanya akibat lengkingan suara miliknya. Semua kegaduhan khas siswa yang mengakhiri jam sekolah mendadak berhenti. Jongin berhenti menggoda Kyungsoo, Kyungsoo berhenti mengacuhkan Jongin, Jongdae berhenti konser solo di sudut kelas bersama teman sapunya, dan para siswi berhenti menggosip tentang adik kelas super tampan bernama Jeon Jungkook. Dan lainnya yang kebetulan masih berada di kelas juga ikut terdiam.

"Makanya dengarkan aku dulu!"

Setelah semuanya memasang telinga untuk mendengar ucapan Baekhyun, sialnya Baekhyun justru lupa membawa sesuatu yang masih berada dalam tasnya.

"Tunggu sebentar!", cicit Baekhyun dan berlari kecil menuju kursinya.

"Huuuuu!" Koor kompak tapi menyebalkan membuat Baekhyun cepat-cepat membongkar tasnya hingga berantakan diatas mejanya. Lalu kembali berlari ke depan kelas membawa sesuatu berbentuk persegi panjang.

"Ada yang ingin kukatakan pada kalian!"

Semuanya diam demi menunggu Byun Baekhyun menyampaikan perkataannya. Tidak ada yang berusaha menginterupsi, jika tidak ingin mendapat teriakan melengking seperti 'Diam! Dan dengarkan aku!' dan sejenisnya yang membuat telinga sakit parah.

Baekhyun semakin membuat berpuluh siswa dalam kelas menjadi penasaran tingkat akut. Baekhyun tersenyum misterius dan beberapa siswa mulai saling pandang serta berbisik-bisik.

"Teman sekelas kita ada yang menikah beberapa hari lagi.", ujarnya nyaring seraya mengibaskan sesuatu yang ternyata adalah kartu undangan dengan warna putih dan abu-abu.

"APA?!"

"BAEKHYUN?! KAU AKAN MENIKAH?!" Suara Jongdae ikut serta dalam proses perusakan pendengaran.

"WHOA!"

Jelas Baekhyun terkejut bukan main. Bukan dirinya yang akan menikah tapi semuanya beranggapan demikian. Padahal ia belum selesai menyampaikan berita menggemparkan itu dan semuanya sudah lebih dulu gempar. Apalagi kalau Baekhyun mengatakannya hingga selesai?

"Kapan Chanyeol Sunbae melamarmu, Baek?"

Pertanyaan itu sukses membuat Baekhyun tersadar untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Oh tidak! Bagaimana mungkin pipinya jadi merona hanya karena pertanyaan itu?

"T-tunggu sebentar!"

"Baekhyun! Kau sungguh beruntung!"

"YAK! AKU BELUM SELESAI BICARA!"

Suasana kembali sunyi senyap. Jika kalian ingin tahu bagaimana senyapnya, bangunlah tengah malam dan rasakan suasana itu. Semuanya memilih menutup mulut rapat-rapat daripada mendengar Baekhyun kembali berteriak dengan suara melengkingnya.

"Bukan aku yang akan menikah! Ck!" Baekhyun menyilangkan tangan di depan dada.

"Lalu?"

Suasana kembali gaduh saat semua berusaha menebak siapa nama pasangan dalam kartu undangan yang dibawa Baekhyun itu.

"Kau tidak bergurau kan?"

Jari telunjuk Baekhyun yang lentik terangkat dan bergerak ke kanan-kiri.

"Tentu saja tidak! Aku kan membawa buktinya!"

Baekhyun kembali tersenyum misterius dan menunjukkan kartu undangan itu sekali lagi.

Jadi memang akan ada pernikahan? Siapa? Jika kata Baekhyun yang menikah adalah teman sekelas mereka, maka seharusnya salah satu orang di dalam kelas. Tapi siapa?

"Siapa, Baek?"

"Cepat katakan, Baek!"

"Ah aku jadi penasaran!"

"Kalau bukan kau, lalu siapa?"

"Apa mungkin Sehun?"

Itu Kyungsoo. Si gadis bermata bulat yang tetap tenang dengan buku yang menempel di tangannya. Kontan semua di dalam kelas menatapnya dengan berbagai jenis pandangan. Sebagian besar adalah pandangan ketidakpercayaan, terkecuali Baekhyun yang tersenyum penuh arti.

"Dia tidak masuk. Mungkin saja sedang sibuk mengurus pernikahan.", tambahnya memperkuat pendapatnya.

"Bagaimana dengan Luhan? Dia juga tidak masuk, kan?"

"Atau jangan-jangan, mereka berdua yang menikah?!"

Gotcha, Nona Kim Yeri!, Baekhyun berseru dalam hati.

"Eyy! Itu tidak mungkin!"

"Mustahil! Itu-tidak-akan-pernah-terjadi!"

"Bagaimana mungkin anjing dan kucing bisa menikah? Tidak, tidak!"

"Yeri-ah, apa kau sedang mengigau?"

Sementara yang lain kembali gaduh sebab menurut mereka itu sangatlah mustahil. Well, Sehun dan Luhan memang terkenal sebagai pasangan namun dalam artian partner yang tidak pernah bosan bertengkar dan berdebat. Tapi bukan berarti bisa menjadi pasangan pengantin juga, kan?

"Jika kalian penasaran," Baekhyun kembali mengumpulkan perhatian. "Maka datanglah sebagai tamu untuk 'teman sekelas' kita itu. Besok malam, pukul tujuh, di WX Hotel. Jangan terlambat, oke?"

Baekhyun segera mengakhiri 'pidato'-nya saat menangkap tubuh menjulang milik kekasihnya. Ia cepat-cepat membereskan buku-bukunya, tidak lupa menyembunyikan kartu undangan itu di dalam tas agar tidak ada yang tahu tentang nama yang tertera dalam undangan itu. Ia harus cepat pergi sebelum semakin banyak yang bertanya penasaran dan Baekhyun tidak mau kelepasan bicara. Tidak apa-apa kalau mereka percaya, tapi kenyataan yang ada pasti membuat mereka kesulitan untuk percaya dengan apa yang Baekhyun katakan. Mereka pasti menyangka Baekhyun membual dan Baekhyun tidak mau mereka menolak datang ke pesta pernikahan itu.

Sekesal-kesalnya Baekhyun pada pasangan pengingkar janji itu, ia tetap menyayangi Luhan sebagai teman baiknya dan tidak mau menghancurkan pernikahan temannya sendiri.

Meski hingga saat ini hanya 70% dari diri Baekhyun yang percaya bahwa Luhan akan melangsungkan pernikahan, dengan musuh bebuyutannya pula! Selebihnya Baekhyun membiarkan itu hingga besok ia menyaksikan sendiri pasangan anjing dan kucing itu bersatu dalam ikatan pernikahan.

"Oh ya, sepertinya besok aku tidak masuk. Kalian bisa memintakanku ijin pada Lee Saem kan?"

Setelah itu Baekhyun melenggang pergi dan mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang nyaris sama.

"Sudah memberitahu mereka?", tanya Park Chanyeol, lelaki bertelinga lebar dan berpostur tinggi yang kontras dengan tinggi Baekhyun yang hanya sepundak lelaki itu.

Baekhyun mengangguk dan mengajak Chanyeol untuk segera pulang. "Dan aku membuat mereka penasaran tentang siapa yang kumaksud. Kkkkk!" Baekhyun terkikik.

"Dasar nakal!"

Chanyeol mengacak rambut kecoklatan Baekhyun hingga membuat pemiliknya menjerit kecil.

"Yang penting aku sudah mengundang mereka, kan?"

Chanyeol mengangguk sembari tersenyum. Manis sekali.

"Bee?"

"Hm?"

"Bagaimana menurutmu jika kita mengikuti jejak Luhan dan Sehun?"

"Apa maksudmu?"

Tentu Baekhyun tidak bodoh untuk mengetahui maksud ucapan Chanyeol. Lelaki bertubuh jangkung itu sedang memberi 'clue' bahwa dirinya sedikit tertarik dengan ikatan yang mampu membawanya dan Baekhyun berada dalam jenjang yang lebih serius.

"Tidak jadi!" Baekhyun sukses menghentikan langkahnya. "Mian, Bee. Sepertinya omonganku sedikit melantur gara-gara ulangan Song Saem tadi. Lupakan oke?"

Baekhyun mengiyakan saja. Namun melihat Chanyeol salah tingkah membuat Baekhyun tahu kalau Chanyeol tidak berbicara melantur melainkan berbicara sesuai dengan yang ia pikirkan. Karena itu ia melirik kanan kiri, lalu membuat Chanyeol terkejut oleh tingkahnya yang tiba-tiba berjinjit dan memberi kecupan di pipi Chanyeol.

"Aku tidak mau, atau lebih tepatnya 'belum' mau. Aku masih ingin menggapai cita-citaku, bukan untuk mengurus rumah tangga. Kau juga perlu meraih cita-citamu, bukan untuk menjadi kepala rumah tangga dan mencari nafkah. Biarkan hubungan kita mengalir seperti air di hulu yang nantinya akan sampai ke hilir. Kita masih sangat muda, masih banyak yang perlu kita lewati sebelum mencapai 'puncak' itu. Untuk Luhan dan Sehun, aku tidak perduli dengan alasan mereka menikah secepat itu, tugasku hanya membantu dan berdoa agar mereka tetap bersatu apapun yang terjadi. Aku minta maaf, bukannya aku tidak percaya dengan hubungan kita, tapi sungguh-"

"Bee?"

"Ya?"

Mata Baekhyun terlihat berkilau oleh air mata. Tapi bagi Baekhyun menangis adalah hal yang pantang ia lakukan di depan Chanyeol karena lelaki itu tidak suka melihatnya menangis.

"Aku mencintaimu."

Seharusnya biasa saja mengingat Baekhyun kerap mendapat pernyataan serupa. Namun dalam kondisi yang seperti tengah menolak Chanyeol membuat Baekhyun cukup sedih dan terharu.

"Aku juga.", cicit Baekhyun dan itu samasekali tidak memuaskan Chanyeol.

"Juga apa?"

"Mencintaimu."

"Mau berjanji kepadaku?"

"Apa?"

"Janji untuk tidak lelah menungguku menjadi Park Chanyeol yang 'pantas' untukmu."

Baekhyun mengulurkan jari kelingkingnya. Menegaskan bahwa dirinya berjanji pada Chanyeol dan dirinya sendiri. "Aku berjanji."

Chanyeol kembali tersenyum dan membawa jemari mungil Baekhyun dalam genggamannya.

"Ayo pulang!" Baekhyun berseru.

"Siapa bilang kita langsung pulang?"

"Lalu?"

"Tentu saja mencari sesuatu yang akan kita pakai ke pesta besok."

"O-oh!"

"Kenapa? Apa kau sudah membeli gaunmu?"

"Aku lupa! Sebenarnya Luhan sudah memberi kita pakaian lengkap dengan aksesorisnya. Aku sungguh lupa memberitahumu!"

"Benarkah? Kalau begitu ayo kita mencobanya. Tidak lucu kalau pakaiannya tidak muat ditubuhku."

"Baiklah! Kkaja!"

...

"Baekhyun gila!"

Umpatan itu keluar dari bibir tipis berlekuk sempurna. Luhan melempar ponselnya asal ke atas ranjang, diikuti dengan tubuh mungilnya hingga membuat ranjang bergerak pelan.

Baekhyun benar-benar mengumumkan pesta pernikahan itu pada semuanya tanpa memerlukan Luhan untuk menyebarkan undangan. Baekhyun mengumumkan dengan mengandalkan mulutnya, dan Luhan tidak bisa menolak keinginan Baekhyun yang aneh itu. Alasan sebenarnya, Baekhyun-lah yang memaksa karena menurutnya tidak akan ada yang percaya dengan isi undangan itu alih-alih menganggapnya sebagai candaan. Dan bisa saja tidak ada satupun yang datang karena hal itu.

"Sudah satu bulan, dan sepertinya Baekhyun masih dendam pada kita!" Sehun menyangga kepalanya dengan tangan dan memperhatikan Luhan yang terlentang di sebelahnya.

"Bukan 'kita', tapi KAU!"

"Kenapa jadi aku?", sahut Sehun tidak terima. Perasaan yang bersalah disini adalah Luhan, yang mengingkari janji pada Baekhyun untuk datang ke acara prom night satu bulan lalu.

"Kalau bukan karenamu, aku tidak akan mengingkari janjiku pada Baekhyun termasuk untuk membongkar hubungan kita di depan semuanya!"

"Oh ya?" Sehun merubah posisi menjadi duduk dan Luhan melakukan hal yang sama. Nyala api berkobar di mata masing-masing. "Lalu siapa yang mulanya ragu untuk memberitahu semuanya? Aku? Bukan! Dan kau tidak pantas menyalahkanku karena kau juga menikmati kegiatan kita waktu itu!"

"Kau-" Luhan memejamkan mata erat-erat mencoba menghalau air mata yang memaksa keluar. Entah kenapa Luhan sangat sensitif akhir-akhir ini. Dirinya menjadi mudah menangis dibandingkan membalas ketajaman Sehun dengan keahliannya.

"Terserah! Pergi kau! Aku mau tidur!", usir Luhan dan langsung menenggelamkan tubuhnya dengan bed cover.

"Yak! Rusa chin-"

"PERGI OH SEHUN!"

Berteriak, memanggil Sehun dengan nama lengkap, dan suara bergetar menahan tangis. Well, Sehun harus mengalah karena hal itu sudah menjadi petunjuk jika Luhan sedang tidak ingin di ganggu. Sehun cukup hafal karena sudah beberapa hari ini Luhan melakukan hal yang sama.

"Baiklah. Aku akan mandi."

Ranjang bergerak dan bunyi pintu kamar mandi tertutup sebagai bukti jika Sehun sudah melenggang untuk mandi. Luhan lalu membuka bed covernya dan tidur meringkuk seperti ulat. Tubuhnya lelah tapi matanya enggan untuk terpejam. Menyebalkan sekali.

Baru beberapa menit, ponsel di atas nakas berbunyi. Luhan membiarkannya karena itu ponsel Sehun. Luhan bukan tipe gadis yang mencurigai kekasihnya hingga tidak memperdulikan privasi kekasihnya. Namun bunyi yang enggan berhenti tentu membuat Luhan tidak bisa jatuh terlelap. Jadilah Luhan meraih ponsel itu dan mencari tahu siapa penelponnya. Mata rusanya membulat melihat nama Irene terpampang di layar.

"Hallo? Ada apa Irene-ah?"

Itu bukan suara Luhan melainkan Sehun yang datang tiba-tiba dan langsung menyambar ponsel miliknya. Lelaki itu masih menggunakan handuk putih yang melingkar di area pribadinya. Selebihnya ia membiarkan atasan semi berototnya terbuka dan dihiasi tetesan air yang berasal dari rambut basahnya.

"Aku tidak di apartment sekarang."

"..."

"Aku ada di rumah ayahku. Kenapa?"

"..."

"Mianhae. Aku tidak bisa pergi begitu saja."

"..."

"Jeongmal mianhae. Aku bisa mencobanya lain kali, oke?"

"..."

"Baiklah."

Klik!

"Apa aku belum mengatakan kalau kau tidak boleh seenaknya membuka ponselku, Nona Lu?"

Luhan bungkam, tidak seperti biasanya ketika ia langsung membalas pertanyaan Sehun dengan tajam. Luhan sungguh lelah, baik fisik dan psikis dan Sehun sama sekali tidak menaruh perhatian sedikitpun.

"Luhan! Aku bertanya pada-"

"YA. KAU PERNAH MENGATAKANNYA! KAU TIDAK SUKA AKU MEMBUKA PONSELMU TANPA IZIN! TAPI AKU HARUS BAGAIMANA SAAT PONSELMU ITU TERUS MERAUNG SEDANGKAN AKU BUTUH MENGISTIRAHATKAN TUBUHKU?! BADANKU LELAH, KEPALAKU PENING, DAN SEKARANG NAFASKU SESAK MEMDENGAR CALON MEMPELAIKU BERSIKAP ROMANTIS PADA GADIS LAIN DIDEPAN MATAKU! APA AKU HARUS PINGSAN DULU AGAR BISA ISTIRAHAT SEBENTAR, HAH?!"

Sehun terkejut bukan main. Luhan yang meledak masih akrab di diri Sehun, tapi lain ceritanya jika Luhan meledak dengan mata memerah dan isakan kecil di tengah nafasnya yang putus-putus. Luruh sudah kata-kata Sehun untuk meladeni ledakan Luhan seperti biasanya. Kini Sehun tidak menemukan kata yang tepat untuk menanggapi kebodohannya. Kebodohannya yang tidak peka dengan kondisi Luhan yang sensitif dan kecemburuan yang ditunjukan secara tersirat.

Irene. Haruskah Sehun menyalahkan Irene yang masih belum percaya dengan pernyataan bahwa dirinya sudah bertunangan dengan Luhan? Satu bulan lalu, Sehun sudah membongkarnya dengan mulutnya sendiri meski hanya melalui telepon. Esoknya, saat Sehun dan Luhan sudah siap dengan berbagai tanggapan yang warga sekolah tunjukkan padanya, ternyata semuanya masih berjalan normal. Tidak ada yang memberi tanggapan apapun dan Sehun curiga Irene tidak menyebarluaskan berita itu. Dan nyatanya benar, Irene masih bersikap 'sok' akrab dengannya dan membuat Sehun menanyakan kenapa Irene tidak menyebarkan berita yang pasti menggemparkan itu.

Dan jawabannya sungguh diluar logika Sehun. "Ah itu, ucapanmu sungguh tidak bisa masuk ke otakku semalam. Hingga akhirnya aku menyadari suaramu yang aneh dan ku pikir kau sedang mabuk dan pasti berbicara yang tidak-tidak. Jadi aku tidak mungkin menyebarkan gossip tak bernilai itu.", ucap Irene dengan nada kalemnya.

Sejak saat itu dan hingga detik ini, masih belum ada yang mengetahui hubungan sebenarnya Luhan dan Sehun yang akan melangsungkan pernikahan sebentar lagi. Terkecuali Baekhyun dan Chanyeol, dan pasti keduanya tidak akan menyebarkan berita itu dan membiarkan Luhan dan Sehun menyebarkannya sendiri. Dengan begitu tidak akan ada yang bertanya pedas seperti menganggap Luhan sebagai pihak yang patut dipersalahkan karena seperti pura-pura menjadi musuh Sehun agar bisa mendapatkan Sehun.

Tok! Tok! Tok!

Sehun menaruh perhatian pada pintu yang diketuk dari luar. Ia melirik Luhan sekilas dan ternyata gadis itu sudah membelakangi Sehun dengan bed cover yang kembali menyelimuti seluruh tubuhnya. Sehun tidak tahu apakah Luhan sudah tertidur atau belum di dalam sana, namun saat ingin memastikan pintu kembali diketuk. Sehun mau tidak mau harus beranjak dan mengganti handuknya dengan handuk kimono yang lebih pantas.

"Ada apa, Ibu?"

"Kenapa kau lama sekali?"

Nyonya Oh tanpa ijin langsung menerobos masuk dan meletakkan cangkir teh yang dibawanya ke atas nakas. Tangannya mengguncang bahu Luhan yang tertutup bed cover, mencoba membangunkan Luhan dan tidak berhasil.

"Apa yang telah kau lakukan pada Luhan?", tanya Nyonya Oh lengkap dengan tatapan intimidasi yang ia turunkan kepada Sehun. Sang putra hanya menghela nafas panjang dan tanpa butuh waktu lama Nyonya Oh sudah tahu jika keduanya baru bertengkar.

"Luhan sayang, bangunlah. Ibu membuatkan teh herbal untukmu. Minumlah untuk mengurangi sedikit lelahmu, hm?"

Luhan bergerak kecil dibawah selimut, menandakan bahwa dirinya sama sekali tidak tertidur tapi tetap tidak ingin membuka bed covernya. Luhan terlalu sulit untuk dibujuk, hal itu membuat Nyonya Oh menyerah dan membiarkan Luhan sendiri.

"Baiklah, ibu tidak akan memaksa lagi. Tidurlah, kau harus memulihkan tenagamu. Ibu tidak mau kau sakit di acara sakral besok." Nyonya Oh mengusap puncak rambut Luhan yang menyembul untuk yang terakhir kali. Ia lalu beralih pada Sehun yang duduk di tepi lain ranjang, tengah menatap Luhan dengan pandangan penuh rasa bersalah.

"Sehun, ikut ibu sebentar." Nyonya Oh beranjak pergi dan memberi waktu Sehun untuk berganti baju. Ada yang perlu beliau bicarakan, terlebih mengenai Luhan yang tidak dalam kondisi baik-baik saja.

Sehun menghampiri sang Ibu yang sedang berbincang dengan Pak Han, orang kepercayaan keluarga Oh. Begitu menyadari Sehun telah datang, Nyonya Oh membiarkan Pak Han pergi dan beralih menuju putranya.

"Luhan masih tidur?"

Sehun mengendikkan bahu. Jujur ia tidak melihat Luhan merubah posisinya dan teh herbal yang dibuatkan Nyonya Oh masih tetap penuh. Tapi ia yakin Luhan tidak mungkin tertidur dan kemungkinan terbesar adalah Luhan menangis dan menutupinya dengan selimut.

"Luhan sedang stress. Tidak seharusnya kau menambah bebannya dengan mengajaknya bertengkar.", ucap Nyonya Oh.

Sehun memainkan jemarinya, sedangkan mulutnya bungkam tanpa suara.

"Mempelai wanita cenderung lebih banyak merasakan stress dan tekanan dibandingkan mempelai pria. Mereka mengalami berbagai masalah batin yang tidak ingin diceritakan kepada siapapun termasuk orang terdekatnya sendiri. Mereka takut hal-hal buruk akan mengacaukan pernikahan yang sudah di depan mata, misalnya gangguan dari seseorang yang dekat dengan calon pengantinnya. Apalagi Luhan masih sangat belia, ia akan semakin sensitive dan takut menghadapi kekacauan itu."

Sehun merasakan tangan tak kasat mata tengah menampar keras pipinya. Luhan-nya stress dan tertekan namun Sehun tidak menyadari hal itu. Ditambah lagi pertengkaran mereka beberapa menit yang lalu adalah akibat dari Irene yang menelpon. "Ya Tuhan…", gumamnya seraya meremas rambut kelamnya kasar.

"Sehun, Ibu tidak berharap kau menjauhi teman gadis-mu itu. Tapi setidaknya, kau memiliki Luhan yang harus kau jaga perasaannya. Apalagi besok kalian sudah menikah, hanya ada kalian berdua bukan temanmu itu ataupun orang lain." Sehun menemukan mata Ibunya berkaca-kaca.

"Ibu…"

"Kembalilah ke kamarmu. Istirahatlah yang cukup demi kelancaran besok dan Ibu minta jangan menyerah untuk meminta maaf dari Luhan. Mana ada calon pengantin yang bertengkar menjelang pernikahan? Ibu harus mengurus urusan yang belum selesai. Ibu pergi!"

Sehun mengangguk dan tanpa membuang waktu langsung melangkahkan kaki panjangnya ke kamar pribadinya di lantai atas. Ia harus meminta maaf pada Luhan, dan ingatkan Sehun untuk tidak terbawa emosi seandainya Luhan kembali meledak.

Cklek!

Sehun melongokkan kepalanya sekilas dan tersenyum lega mendapati Luhan sudah keluar dari selimut dan kini bersandar di kepala ranjang seraya menatap layar ponselnya.

Hap!

Sehun melompat ke atas kasur hingga membuat Luhan memekik kaget. Sesaat kemudian, ia kembali sibuk dengan ponselnya tanpa menghiraukan Sehun.

Sehun kembali berulah. Diletakannya kepala di atas paha Luhan yang terekspose, membuat Luhan kegelian dengan rambut Sehun yang mendarat di pahanya.

"Sehun! Apa yang kau lakukan?!"

"Tidur. Ibu menyuruhku istirahat hari ini."

"Tapi kau memiliki bantal sendiri!"

"Tidak mau! Paha milik kekasihku lebih nyaman dibandingkan bantal apapun!" Sehun bersedekap dan memejamkan matanya. Menyadari tidak ada penolakan dari Luhan, ia malah merubah posisi ke samping dan berhadapan dengan perut datar Luhan. Sehun mengusak hidungnya disana.

"Sehun! Geli!" Luhan mencoba mendorong Sehun agar tidak menjahili perutnya.

"Maafkan aku!" Gerakan mendorong Sehun mendadak berhenti. Jemari Luhan masih tersampir di bahu Sehun dan Sehun membawa jemari itu untuk mengelus rahangnya. "Maafkan aku yang kurang peka dengan keadaanmu. Kau lelah, stress, dan tertekan, seharusnya aku menyadari itu lebih awal dan tidak membuatmu emosi. Maafkan aku, hm?"

Luhan terkunci oleh pandangan Sehun yang memperlihatkan dengan jelas bagaimana lelaki itu merasa bersalah luar biasa. Luhan tidak memungkiri jika dirinya terenyuh dengan permintaan maaf Sehun yang terdengar sangat tulus itu. Luhan mulai merasakan pandangannya mengabur dan dirinya harus menahan agar air mata haru itu tidak tumpah. Ya Tuhan! Bagaimana bisa Luhan menjadi secengeng ini?

"Hey! Kenapa malah menangis?" Sehun membenarkan ucapan ibunya jika wanita menjadi lebih sensitive menjelang pernikahannya. Ia telah membuktikan hal itu. Sehun bangkit dan membawa Luhan dalam pelukan eratnya.

"Dan juga, mulai sekarang tidak ada nama Irene yang akan membuatmu cemburu lagi." Luhan semakin terisak dan sepertinya Sehun perlu waktu yang lama untuk menenangkan rusa China yang kini tengah menangis sesenggukan.

Hingga beberapa menit berlalu, Luhan sudah berhenti menangis. Kini posisinya tengah berbaring, dengan tangan kanan Sehun yang menjadi alas serta tangan kiri terjatuh di pinggang Luhan.

"Sehun?"

"Hm?"

"Kenapa kau mau menikah denganku?"

"Karena kau mencintaiku."

"Alasan macam apa itu?"

"Kau mau alasan yang seperti apa?"

"Entahlah. Aku hanya tidak percaya, kau tahu sendiri kalau aku tidak cantik, tidak pintar memasak, dan aku tidak seanggun Irene." Sehun merapatkan tubuhnya dan Luhan begitu nama Irene disebut, hingga membuatnya mampu merasakan detakan jantung Luhan yang bertempo cepat, sama seperti miliknya.

"Tapi kau pintar."

"Irene juga pintar!"

"Nah, sekarang siapa yang mengangkat topik tentang Irene, hm?"

"Jujur Sehun, aku tidak tahu kenapa aku bisa menjadi kekasihmu sedangkan Irene lebih sempurna dibandingkan diriku."

"Itukah yang membuatmu cemburu pada Irene?"

"Ya. Tapi 80% alasannya adalah karena kau bertingkah lebih lembut dan gentle dibandingkan kepadaku."

Sehun mengangkat tangan kirinya untuk mengelus surai Luhan dengan lembut. Seolah ingin emmbuktikan bahwa Sehun juga bisa melakukan hal yang lembut kepada Luhan.

"Daripada membahas soal Irene, bukankah lebih menarik tentang kenapa kita bisa tetap berhubungan meski sering bertengkar?"

Luhan mengangguk menyetujui. "Kenapa?"

"Itu karena walaupun kita saling membenci, saling mengejek, dan saling mengerjai. Tapi kita tidak lupa untuk tetap saling memiliki."

...

"Hallo? Aku Sehun."

"…"

"Baekhyun, bisakah aku meminta tolong padamu?"

"…"

"Tolong berikan kartu undangan pernikahanku kepada Irene."

"…"

"Kalau dia tidak percaya kau bisa memintanya untuk datang dan membuktikan semuanya."

"…"

"Aku tidak ingin Irene menganggapku memberi harapan kepadanya."

"…"

"Ya. Baiklah. Terima kasih, Baek."

Sebuah gereja tampak sunyi dan khidmat saat pendeta mulai menjalankan tugasnya di depan altar untuk menyatukan dua insan yang bersatu dalam pernikahan. Tamu-tamu serempak menghembuskan nafas lega saat kedua mempelai berhasil mengucapkan 'saya bersedia' tanpa keraguan sedikitpun. Terlebih dua pasangan yang berada di barisan paling depan, merasakan beban di pundak mereka serasa melumer bagaikan coklat mengalami tempering. Tuan dan Nyonya Oh serta Tuan dan Nyonya Xi tampak saling memandang dan menunjukkan kebahagiaan di raut wajah masing-masing.

Oh Sehun dan Xi Luhan –yang kini telah mengganti marganya menjadi Oh Luhan-, resmi menjadi suami istri di umur mereka yang masih belum genap dua puluh tahun. Tapi tidak ada yang perlu dipermasalahkan karena besarnya cinta dan kedewasaan tidak ditentukan oleh umur. Untuk Sehun, dirinya memang sudah mendpat wewenang untuk mengurus cabang perusahaan sang ayah mengandalkan ilmu yang ia dapatkan selagi menempuh pendidikan di perkuliahan. Tidak berbeda dengan Luhan yang juga akan melanjutkan kuliahnya di jurusan Kedokteran, satu-satunya cita-cita yang Luhan inginkan dan sepertinya tidak akan sulit ia dapatkan mengingat prestasinya. Pernikahan, bukan berarti menutup lembaran kisah remaja mereka melainkan awal kisah dimana mereka menginjak usia dewasa.

Harapan yang pasti dipanjatkan adalah agar tidak ada perpisahan diantara keduanya oleh apapun itu, termasuk keegoisan.

"Kita sudah menikah." Sehun berbisik di telinga Luhan saat pendeta masih memanjatkan doa yang terbaik untuk pasangan pengantin baru itu.

"Ini bukan mimpi, kan?", balas Luhan dengan suara kecil.

"Tentu bukan, istriku."

Bugh!

"Jangan menggodaku!" Luhan memukul lengan Sehun dengan tinjunya, seolah lupa dengan dimana dan apa yang tengah mereka lakukan detik ini.

"Chan, apa benar mereka sudah resmi menikah?"

"Entahlah, Bee. Sepertinya telingaku tidak salah dengar saat pendeta mengatakan mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri. Tapi melihat kelakuan mereka, aku jadi ragu."

"Aku juga sama. Mereka sungguh pasangan teraneh yang pernah ku tahu!"

"Tapi aku terharu, akhirnya anjing dan kucing bisa menikah tanpa bertengkar terlebih dahulu."

Sebuah hotel di kawasan pusat keramaian kota Seoul nampak sibuk dengan banyaknya mobil berlalu lalang menuju basement. Orang-orang berjas seragam dengan ID menggantung di leher juga tak kalah sibuk untuk mengarahkan para tamu menuju tempat yang menjadi tujuan mereka. Satu persatu tamu datang dan langsung diarahkan menuju tempat acara.

Semuanya masih terkendali sebelum mobil-mobil yang tak terhitung jumlahnya memasuki basement yang disediakan. Satu persatu orang keluar dari mobil dan jika dihitung jumlahnya maka totalnya ada dua puluh satu kepala. Mereka berjalan bersama-sama, mirip sebuah kelompok pelajar yang akan melakukan tawuran dengan sekolah sebelah. Yang aneh disini adalah, mereka menghadiri pesta pernikahan tanpa tahu siapa yang akan menikah.

"Dimana Baekhyun? Katanya dia akan memberitahu kita?", tanya Yuri, salah satu gadis dalam 'komplotan' itu.

"Itu dia!" Sooyoung berseru saat menemukan tubuh mungil baekhyun berdiri di depan dengan tangan yang sibuk dengan ponselnya.

"Baekhyun-ah!"

Baekhyun segera tersadar dan melambaikan tangan ke arah teman-temannya. Jika dilihat, maka hampir semuanya datang kecuali Kyungsoo.

"Dimana Kyungsoo?", tanya Baekhyun.

"Dia menyusul. Katanya Jongin memaksa untuk menjemputnya."

"Ck! Awas saja kalau si hitam itu membuatnya datang terlambat!"

"Oh ya, Baek? Kau tidak lupa mengundang Luhan atau Sehun juga kan?"

Baekhyun menyeringai tipis. "Tentu saja! Aku sudah memberitahu mereka secara pribadi mengingat kemarin mereka tidak masuk sekolah."

"Lewat sini!" Baekhyun berjalan lebih dahulu dan diikuti yang lainnya.

Ballroom di dalam gedung telah disulap menjadi layaknya istana yang megah. Bunga mawar putih menyebar di seluruh ruangan, menebarkan aroma menyenangkan dari setiap kelopaknya dan berbaur dengan aroma mewah pengharum warna putih dan hitam terkesan unik dan tidak biasa, setidaknya itu adalah hasil dari perdebatan sepasang kekasih yang memiliki kepala sekeras batu karang demi pesta pernikahan mereka.

Segala perabotan, sajian, dan hal sekecil apapun dibuat sangat mewah, hingga membuat para tamu berdecak kagum di awal injakan kaki mereka. Tidak ada yang memperlihatkan kesuraman, semua datang dengan wajah sukacita luar biasa.

Tentunya, dengan rasa tidak percaya yang luar biasa pula.

"Astaga!"

"Ya Tuhan!"

"Omo!"

"Itu Sehun, kan?"

"Tuhkan! Aku bilang apa? Ini adalah hotel yang akan diwariskan kepada Sehun, tentu yang menikah adalah pemilik hotel ini sendiri!" Jongdae berujar dengan percaya diri.

"Tapi siapa mempelai wanita yang beruntung mendapatkan Oh Sehun?"

"Aku juga sangat penasaran!"

"Hai kalian! Terima kasih sudah datang ke pesta-ku, atau bisa dibilang resepsi pernikahanku." Sehun datang dengan segelas wine di tangannya. Tampak gagah dengan kemeja hitam dilapisi jas putih yang sempurna di tubuh jangkungnya. Rambut hitamnya disisir keatas dengan tambahan gel da berhasil menambah kadar ketampanan seorang Oh Sehun.

"Jadi sungguh kau yang menikah?"

"Siapa mempelaimu? Irene?"

"Ck! Tentu saja bukan! Kau tidak lihat tadi Irene seperti orang gila di sekolah! Sepertinya dia frustasi mengetahui Sehun menikah."

"Ah, benar juga!"

Sehun tersenyum tipis mengetahui teman-temannya begitu penasaran dengan mempelainya. Mereka harus bersabar karena Luhan masih sibuk dengan riasan wajahnya karena Sehun dengan tidak tahu malu menghancurkan make up itu demi melumat bibir Luhan yang selalu menggoda dimatanya. Walaupun harus menerima jeweran sayang dari sang Ibu, tidak membuat Sehun menyesali perbuatannya itu.

"LUHAN!"

Oh, sudah waktunya? Sehun membalikkan tubuh dan lagi-lagi terpesona dengan penampilan Luhan bak dewi kecantikan. Tubuhnya yang mungil dibalut dengan gaun mewah yang dibuat dengan tangan. Sementara rambutnya lebih terlihat santai dengan dibuat terurai dan bergelombang berhiaskan batu permata cantik di sisi kiri rambutnya. Wajahnya-pun kembali sempurna sebelum tadi Sehun merusaknya.

"Perkenalkan, dia adalah istriku. Namanya Oh Luhan."

Luhan mendadak gugup, tangannya saling menaut gelisah dan Sehun segera mengurainya untuk ia genggam.

"…"

Tidak ada yang berkomentar sedikitpun. Gerombolan siswa-siswi menengah atas itu hanya melongo dan memandang Luhan dan Sehun secara bergantian.

"Jongdae, kondisikan rahangmu agar tidak jatuh!", celetuk Baekhyun yang sudah tergelak parah melihat reaksi teman-temannya.

"A-aku tidak salah dengar kan? A-apa telingaku terkena gangguan?"

"Tidak, ini nyata. Kami memang sudah berpacaran cukup lama, tapi kami tidak pernah mengatakannya pada kalian. Jadi aku juga ingin meminta maaf.", ucap Luhan sembari menunduk.

"Jadi dugaanku benar?", tanya Yeri yang sedikit shock mengingat ucapannya kemarin memang benar adanya. "KYAAA! AKU YANG AKAN MENJADI PENDUKUNG KALIAN NOMOR SATU!"

Semuanya pandangan menjurus ke arah Yeri dan gadis itu tidak gentar sedikitpun. "Kalian berdua sangat cocok! Aku lebih bahagia daripada bersedih mengetahui hal ini. Chukkae!"

"Kau benar! Chukkae! Maaf kami hanya terkejut mengetahui hal ini."

"Yeri benar, kalian sangatlah cocok! Kalau begitu aku yang menjadi pendukung ketiga!"

"Selamat atas pernikahan kalian! Aku sangat kaget dan tidak percaya!"

"Selamat, ya! Ternyata anjing dan kucing bisa menikah juga? Haha!"

"Selamat! Jangan lupa memberi kami keponakan yang lucu untuk kami!"

"YAK! Jongdae!"

Semuanya tertawa dan itu sangat melegakan bagi Luhan maupun Sehun. Awalnya Luhan dan Sehun berfikir tidak akan ada yang mendukung tetapi kenyataannya sungguh diluar dugaan. Mereka bahkan terlihat jauh lebih bahagia dibandingkan dengan si pengantin baru. Tssk!

"Tapi kenapa kalian selalu bertengkar?" Pertanyaan dari Sooyoung membuat mereka kembali terdiam dan menunggu jawaban dari Sehun dan Luhan. Alih-alih yang menjawab adalah Baekhyun.

"Itu karena walaupun mereka saling membenci, saling mengejek, dan saling mengerjai. Tapi mereka tidak lupa untuk tetap saling memiliki."

"WHOAA!"

Sehun memberi tatapan 'darimana kau tahu' untuk Baekhyun dan Baekhyun hanya mengendikkan bahu. "Luhan yang memberitahuku."

Sehun beralih menatap istrinya untuk meminta jawaban. Dan Luhan ikut mengendikkan bahunya malas menjawab.

"TIDAK MUNGKIN!" Teriakan yang mampu membuat dada Luhan berdetak kencang saking terkejutnya.

Irene berdiri di belakang dan telah mendengar semua yang Sehun ucapkan. Luhan menggenggam tangan Sehun erat, menandakan dirinya takut akan ada sesuatu buruk yang terjadi setelah Irene mendengar hal itu. Inilah yang ditakutkan Luhan, ia tidak takut dengan reaksi teman-temannya karena mereka pasti akan menerima cepat atau lambat. Namun berbeda jika itu adalah Irene, seseorang yang menyukai Sehun dari awal sekolah hingga saat ini.

Irene mendekat dan yang lain menyingkir untuk memberi jalan. Ketegangan jelas menyelimuti sekitarnya, beruntung belum banyak tamu yang datang karena memang waktu belum menunjukkan pukul tujuh dimana acara akan dimulai.

"Katakan kalau ini semua adalah kebohongan, Oppa!"

"Maaf Irene-ah, tapi apa yang kau lihat adalah benar. Aku dan Luhan," Sehun mengangkat jemari Luhan yang tersemat cincin serupa dengan miliknya. "Kami sudah menikah."

"Lalu kenapa kau memberiku harapan?"

"Aku tidak! Aku tidak pernah memberimu harapan sedikitpun! Bagiku kau hanya adikku, Irene-ah. Mianhae!"

"I-ini adalah kebenaran, Irene-ssi!" Luhan mengumpulkan kekuatannya untuk ikut meyakinkan Irene.

"KAU-"

"Bawa pengacau ini pergi, Pak!"

Semuanya terkejut melihat Kyungsoo bicara, dan lebih terkejut melihat Irene yang diseret paksa oleh dua petugas keamanan.

"Kyungsoo…"

"Aku melihatnya berlari seperti orang gila di depan. Aku yakin ada sesuatu buruk yang terjadi, jadi aku meminta bantuan kepada petugas."

"Syukurlah. Terima kasih, Kyungsoo-ya! Berkatmu istriku jadi bisa bernafas tenang." Sehun menatap Luhan dan melepaskan tautan tangan mereka demi memeluk pinggang Luhan.

"Jadi kalian benar-benar menikah? Selamat ya!"

"Terima kasih, Kyungsoo! Jadi kapan kau akan menyusul?", tanya Sehun sembari mengedipkan sebelah matanya.

"Sehun! Jangan menggodanya!", bisik Luhan.

"Dua minggu lagi mungkin." Jongin datang dan langsung membawa Kyungsoo dalam rengkuhannya.

"Ada apa lagi ini?" Oh! Sehun lupa jika teman-temannya masih memperhatikan.

"Tanyakan sendiri pada Jongin." Pak Han mendatangi Sehun dan berbisik pada lelaki itu disaat semuanya sedang sibuk menginterogasi Jongin.

"Well, sepertinya kami harus segera pergi untuk mempersiapkan diri. Nikmatilah pesta ini, oke?" Semuanya mengangguk dan mulai berpencar mencari-cari makanan enak yang disediakan. Sedangkan Sehun dan Luhan berpamitan untuk pergi dan sesekali menyapa tamu undangan lain.

"Sayang."

"Hm?"

"Aku jadi kepikiran ucapan Jongdae tadi."

"Ucapan? Ucapan yang man- Yak! Mesum!"

Bugh!

"Aw!"

Sehun beruntung memiliki istri yang berotak cerdas seperti Luhan. Dan entah beruntung juga atau tidak memiliki istri yang suka memukul seperti Luhan.

Setidaknya Sehun beruntung memiliki sosok yang bisa mengimbangi dirinya. Mengimbangi keegoisannya, mengimbangi mulut tajamnya, dan mengimbangi segala kekurangan yang ia miliki.

"Oh Luhan?"

"Apa lagi?"

"Aku mencintamu!"

"Aku juga mencintaimu."

"Terima kasih, Rusa China nakal dan agresif di ranjang!"

Bugh!

Pukulan ke tiga di hari bahagia.

"Sama-sama, Tuan Oh albino idiot dan mesum!"

Keduanya tertawa bahagia. Untuk kali ini, biarlah pertengkaran tidak datang terlebih dahulu.

FIN!

Epilog updated~

Yehett~ akhirnya ff LOVELY HATE BENAR-BENAR END! Jangan ada yang minta sequel lagi yaa! Author udah gak ada ide lain buat after storynya kkkkk!

Terima kasih yang udah baca ff abal-abal ini sampe yang BENAR-BENAR END. Gak nyangka ternyata banyak yang favorite dan follow meskipun banyak yang nggak puas sama END yang kemaren, soalnya banyak yang penasaran sama reaksi temen-temennya.

Dan jadilah ini~ maaf kalo lagi-lagi gak memuaskan, karena bikinnya ngebut nih. Tapi jangan lupa tetep ninggalin review ya buat improving tulisan author. (y)

Untuk A CHANCE, masih di jalan dan kayaknya belum bisa di update akhir-akhir ini. Mianhaee *bow*. Alesannya seperti biasan, authornya lagi super sibuk dan gak nemu alur yang memuaskan hati *heleh*. Kan orangtua Luhan ceritanya mati, nah author lagi bingung bikin suasana sedih itu yang kayak gimana *curhat*

After all, terima kasih sekali lagi buat reader sekalian, baik yang review atau tidak, tapi author tetep baca review kalian kok. Karena menurut author itu sebagai apresiasi kerja keras author ditengah kesibukan. Bye bye~