Gadis berparasol itu duduk di bawah bayangan pohon seraya memandang arus sungai yang cukup deras pagi itu. Sepasang permata biru bergulir, mengawasi dua orang laki-laki yang tengah berbincang-bincang akrab sambil berjalan menaiki tangga teras.
"Mulus..." bisiknya. Gadis berambut merah membiarkan parasolnya jatuh ke rumput saat ia membuka satu sarung tangannya. Jari-jemari lentik nan putih itu terangkat.
Meraba sebagian wajah yang tertutupi oleh jaring topinya.
"Aa, aa!" gumamnya geram.
Rasanya kasar.
Rasanya kasar.
Ini tidak mulus!
Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"OPEN THE HEAADD! BODOOOHH!"
Teriakan Pansy Parkinson menggema dari jendela menara. Gadis berambut merah mengintip dari sela-sela jarinya. Air mata yang menetes perlahan mengering. Ia memutuskan untuk kembali. Perlahan ia memakai kembali sarung tangannya dan memungut parasolnya.
Gadis berambut merah berbalik dan berjalan menjauhi cahaya pagi di halaman depan manor Malfoy. Masuk lebih dalam ke rimbunan pepohonan hijau musim semi.
Ada air yang menjadi jejaknya.
Ujung bawah gaun merahnya masih basah.
Ginny Weasley menyalahkan sungai yang dipenuhi bebatuan terjal di sana.
.
.
MAD/ The Malevolence of Ginny Weasley
Rozen91
Harry Potter © J. K. Rowling
.
.
Gaunku basah. Masih basah sampai hari ini. Padahal hari sangat cerah. Bahkan tak ada awan yang menghalangi sinar matahari ke arahku, jika saja aku mau berdiri tepat di bawah sang surya. (Tapi, aku tetap memilih bayangan pohon yang gelap.)
Ah…terlalu terang. Orang-orang bisa melihatnya. Mereka pasti akan melihatnya. Satu hal mengerikan yang tergambar di sisi wajahku, di balik jaring yang gelap. Aku tidak ingin terlihat aneh, tapi topi berjaring ini tampaknya membuat orang-orang berpikir aku ingin ke pemakaman.
Aku tidak suka.
Jari-jariku meraba dan relief yang tidak sesuai harapan bisa tergambar langsung dalam pikiranku.
"Aa, aa! !" geramku tak tahan. Hermione tidak tahu kenapa aku sering marah-marah dan suka menyendiri. Pansy tidak tahu kenapa aku sering menggumam dan bersedih saat menyendiri jauh di halaman samping di tepi sungai. Aku tidak suka sungai, tapi aku harus terus berada di sana. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku harus membasuh wajahku dan berharap semua akan baik-baik saja.
"Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan! ?" Aku kembali menggeram sambil berjalan tak tentu arah. Begitu gelisah dan frustasi. Cacatnya tidak mau hilang dan matahari sudah tinggi. Pansy berkali-kali membunyikan pendulum. Aku khawatir. Aku cemas.
Hari ini berawan. Hari tidak lagi cerah. Mungkin sebentar akan hujan. Mungkin akan hujan.
Malam ini pasti adalah pesta ulang tahunku.
Dan si Malfoy membawakan tamu untukku.
"AA, AA! !"
Teriakan histeris tak bisa kutahan. Aku takut. Sesuatu di wajahku tidak mau hilang. Aku tidak normal. Batu-batu itu tajam. Sampai-sampai merobek kulitku. Aku menatap garang bebatuan terjal di tengah-tengah aliran sungai yang deras. Air mataku hampir keluar mengingat rasa sakitnya.
Ah, apa yang kupikirkan? Bukankah si Malfoy bersedia mengundang satu temannya untuk hari ulang tahunku? Oh, well, aku harus bersiap! Gaunku basah, tapi Hermione yang baik akan meminjamkan satu gaunnya yang cantik untukku. Ya, 'kan?
"Hermione,"
Hari terlalu terang, aku harus bersembunyi di samping lemari yang bayangannya paling gelap. Hermione mengalihkan matanya dari arah pintu. Sedari tadi ia masih menanyakan jam pada Pansy. Hermione menelengkan kepalanya, menatapku penuh tanya.
"gaunmu…aku mau satu," pintaku penuh harap. Hermione terdiam sejenak, lalu melirik gaunnya sendiri. Ia kemudian menepis dan menepuk-nepuk permukaan kainnya, seolah itu akan menghilangkan bercak-bercak noda yang entah sejak kapan mengotori gaunnya.
"Hermione," panggilku lagi, "apa yang kau lakukan?"
Hermione tidak memberiku satu gaunnya. Ia malah mengambil pisaunya dan mencoba mencongkel pintu lagi. Ia memutar kepalanya dan memandangku dari ujung matanya. Raut wajahnya menunjukkan kegembiraan.
"Aku akan mengambilnya dari kamar Draco!"
"Aku tidak pakai pakaian laki-laki, 'Mione! !"
TRANG!
Hermione melempar pisaunya dengan kesal. "Aku punya lemari di kamar Draco! Sudah kubilang, 'kan, kalau kami tidur di satu kamar yang sama! ?" bentaknya tidak terima. Hermione tersinggung. Tapi, aku mau gaunku. Hermione menendang-nendang pintu dengan gusar.
"Ckckck." Ron menggeleng-gelengkan kepalanya dengan seringai mengejek. Harry menutupi senyum kecil di bibirnya; kedua matanya yang menyipit.
"Apa yang kalian tertawakan! ?" tanyaku galak. Aku tidak suka Harry dan Ron. Mereka laki-laki. Tapi, wajah mereka lebih bagus dari wajahku. Aku sangat membenci mereka berdua.
"Sudahlah, Ginny." Ron mengibas-ngibaskan tangan, mengabaikan pertanyaanku sembari berjalan ke arah lemari.
"Masih ada gaun lain di lemari yang itu, 'Mione." Harry menepuk pundak Hermione sambil menunjuk lemari di sampingku. Ron langsung membuka pintunya.
"Aah, lihat apa yang kita temukan di sini!" katanya heboh bercampur nada sarkastik, "boneka! !"
Harry terkejut. "Astaga, 'Mione. Sudah kubilang untuk membuang boneka-boneka itu."
Hermione mendelik kesal. Ia terlihat ingin melemparkan pisaunya. Aku melongok ke dalam lemari, melihat dua boneka berwarna putih tulang memakai gaun pesta yang dulu Hermione pakai ke pertemuan bangsawan yang terakhir ia hadiri di mansion Greengrass.
"Ah, Harry, katakan," seru Ron bersemangat, "tengkorak siapa yang paling modis di antara kita berdua? Ahahaha!"
Aku mendelik. Hermione sepertinya tertarik dengan ucapan Ron. Ia hendak beranjak, ketika suara yang sangat familiar di telinga kami mendekat dan merayap dari celah pintu. Hermione sangat senang. Pipinya merona merah lantaran semangat. Ia mengintip dari lubang kunci.
Aku tidak mengerti.
Tadi dia senang, tapi sekarang Hermione malah mengutuk berkali-kali dan mencongkel pintu dengan marah.
Ah, tunggu dulu?
Alice?
Rasanya pernah kudengar dulu, di suatu hari ketika si Rambut Putih datang dan bercerita untuk Hermione. Dia mendongeng tentang Alice yang rakus. Aku tidak tertarik. Aku memilih ke sungai tepat sebelum laki-laki itu datang berkunjung ke kamar Hermione. Lalu, suatu hari Pansy menarik lehernya ke jendela, menjatuhkannya dari menara. Sayangnya, wajahnya tidak rusak sepertiku.
Aku ingin mengirim Alice untuk orang ini.
Pansy kembali menggerakkan pendulum. Bunyinya keras dan menggema. Hermione belum mengambilkan gaun yang baru. Dia pasti lupa. Dia pasti lupa.
Hermione memekik kencang sambil mengelilingi kamar dengan kaki telanjang. Dia menendang cangkir tehku.
"HERMIONEEE!"
"OPEN THE HEEAAAADDD! !"
Aku ingin marah, namun saat itu Hermione berhenti bergerak dan diam untuk beberapa saat. Pisau di tangannya jatuh berdenting di lantai. Suaranya seperti kerupuk garing dan nyaring. Pasti kena pecahan-pecahan cangkir kesayanganku.
Ah! Dasar Alice! Kaulah si rakus itu!
Aku lantas mendorong Hermione dan segera memunguti sisa-sisa cangkir China yang dihadiahkan Billy padaku dulu. Aku sangat suka lukisan nelayan di pinggiran cangkir putih porselen itu. Hermione sudah memecahkannya. Aku tak akan segan untuk mengutuknya seandainya saja aku bukan temannya, dan tidak tahu apa masalahnya. Gigiku bergemeretak geram, namun aku belum juga mendengar Hermine minta maaf padaku.
Hermione sibuk sendiri. Kedua tangannya mencengkeram rambut keritingnya yang berantakan. Tatapannya liar dan marah. Dia mengucapkan satu nama berklai-kali dengan kedengkian yang jelas.
Hermione tidak senang lagi. Ia terus mengutuk Dorothy. Dorothy...gadis kecil menyebalkan yang selalu mementingkan diri sendiri. Pansy pernah menceritakannya padaku ketika suatu malam aku berjalan-jalan di menara. Aku ingin mengirim Dorothy untuk Hermione, dan berharap agar gadis kecil itu bisa mempersulit hidup Hermione. Biar dia tahu akibat dari memecahkan cangkir teh cina kesayangan Ginny Weasley.
Hermione seharian duduk memeluk lutut di sudut ruangan sambil terus menggumamkan nama Dorothy. Aku benci ini. Dia akan menghancurkan suasana pesta yang gembira. Padahal, Pansy sudah menyelamatiku dengan nada tinggi andalannya. Seharusnya Hermione tidak melakukan hal-hal yang menyusahkan untuk saat ini. Aku tidak ingin ada cngkir lain yang pecah. Dan lagi, dia belum memberiku gaun yang baru.
PRANGG!
"Seriously, Ron! ?"
Aku marah. Cangkirku pecah lagi dan Ron tak mau mengaku kalau dia sudah menjatuhkannya dari meja. Harry beringsut sambil membawa satu cangkir keluar kamar. Aku marah. Cangkirku dibawa pergi.
BRUUAK!
TRANG!
PRANNNGG!
Aku marah.
Kubanting meja dan topiku terlepas. Udara dingin menghembus sisi wajahku. Aku ingin menangis. Hermione kegirangan melihat kehebohan kami. Dia bahkan tidak sadar kalau kakinya berdarah-darah. Saat itu, ia melewati meja dan berlari ke arah pintu.
"Hermione," tanyaku heran, "apa yang kau lakukan?"
Hermione berbalik menatapku dengan sorot mata bersinar di dalam kegelapan.
krak
krak
krak
Ia tidak memedulikan pecahan-pecahan tajam di lantai saat ia menghampiriku dan menggenggam kedua tanganku.
"Draco!" serunya nyaring, "Draco sudah datang!"
Si Malfoy datang. Sinar lilinnya mengintip dari celah pintu. Spontan aku melangkah mundur dan tersudutkan di pintu lemari. Hermione tersenyum lebar. Ia berputar-putar dan meloncat ke pintu.
Cahayanya terlalu terang. Kuharap Pansy mau meniup mati cahaya itu. Ah...cahayanya terlalu terang...
Kututup mukaku.
"Aa, aa! !"
Wajahku! Wajahku!
Alice!
Ini ulah Alice!
Sesuatu berwarna perak berkilat di dekat kakiku. Segera kuraih dan berlari menarik pundak Hermione yang masih mengintip dari lubang kunci dengan tidak sabar. Keningnya berkerut tidak suka.
"Hermione—"
Kutaruh benda berwarna perak dan berkarat itu di tangannya. Hermione menatap diam sebelum senyum menakutkan mengembang di bibirnya. Tangannya lantas menggenggam erat ganggang berwarna perak.
"—apa yang akan kau lakukan?"
Aku bertanya. Dan sesuatu berkilat di kedua permata coklat miliknya. Dengan binar-binar kegilaan yang nyata. Yang untuk saat itu, begitu menyenangkan untuk dilihat. Kupikir, aku mengerti apa yang Hermione pikirkan. Karena itulah, aku mundur ke dalam kegelapan. Dan menunggu. Bersama Ron. Bersama Harry. Dengan senyum kecil yang tidak bisa kutahan lebih lama.
krek
BRAAK!
"AHAHAHA! ! SELAMAT MAKAAANNN! !"
Aah... tidak mungkin—
PRANNG!
—cangkir teh kesayanganku pecah lagi.
"OPEN THE HEEAAAADDD! !"
Tapi, aku akan tetap senang.
Aku sudah mengirim Alice ke luar.
Mata pisaunya bersinar ditimpa cahaya bulan.
Kurasakan senyumku tertarik lebih dalam.
Ah,
Alice sudah keluar.
.
.
Alice yang baik,
ayo, cabik wajah pemuda itu.
Sampai ke tulang-tulangnya.
.
.
_The End_
REPlying rEvIEW time~
guest : iya, makasih udah mampir. Fic ini memang gak ngikutin aturan apapun, jadi memang gak nyambung. Makasih atas kritikan dan nasihatnya,,, :D
galuhtikatiwi : Keadaan Draco masih rahasia. Hermione is Hermione. Pansy is Pansy. Cuman kamar biasa, kok, dengan sedikit (ehem) kekacauan yang belum dibersihkan. 'tentang leher' itu maksudnya Pansy suka narik-narik orang. Mati? Yaah, belum pasti, sih. Kecuali kalau orangnya jatuh dan benar-benar mati. Iya, makasih, senang juga ada yang bersedia nebak-nebak alur cerita, jadi gak usah minta maaf karena pertanyaannya,, :3,, yosh, makasih atas review-nya, galuhtikatiwi-san,, ^v^/
Crystal Rotgelle : Fufufu, yup, memang versi Pansy. Yup, dia udah meninggal. Yup, itu monolognya sebelum dieksekusi. No, Pansy bukan pelayan. No, tidak hanya strata bawah yang memanggil mereka Lady n Lord,, di pesta-pesta dansa pun Lady Astoria memanggilnya 'Lady Narcissa'. :D,, 'Bener ga?' Bener gak yaaaa? XD,, Yosh! Makasih udah mampir, Lady Rotgelle of Crystal Palace. :3 (versi Harry? sabar aja, yaaaa,, #senyum mistis *eh?)
Nha Chang : Fic ini bercerita tentang Hermione. Yang diceritakan dari sudut pandang berbeda. Yang menyangkut satu kejadian yang sama. #udah itu aja. #Maaf, saya gak bisa ngebocorin banyak hal di sini. m(_ *_)m. Yossh, makasih udah mampir, Chang-san! ! :3
