Annyeong...

Aku hbis perbaiki hingga chapter 10 seperti sedia kala. Alur tdak berubah pula... hnya ad bbrapa yg aku bnerin hurufnya saja.

Ada satu akun punyaku yg munculin tanda-tand nyaris kna hacker. Itulah alasannya aku sita sebentar ff ini. -_- Akupun tdak ingin mlakukannya. Tidak tega dg readerdeul yg cinta damai...

Ada juga notifikasi jika fbook punyaku ad yg coba buka ktika q lgi on. -_- Itu mengerikan...

Tapi. Ada tuh hater yg merecokiku hingga k akar2nya. Sllu ganti akun yg ntah knpa aneh skali untuk aku cari tau detailnya. Molla... Aku capek juga klau ad teror-teror bgitu. Hufff #SabarkanHati

Pikirku... kan selera itu berbeda-beda. Ada yg suka romance, brothership, ad yg suka fantasy, horor, atau sad. Well... Stiap orang punya pmikiran yg berbeda. Itu hak kalian. Tpi ada baiknya jika menghargai karya orang lain dg tdak mlakukan bashing hingga k akar-akarnya.

Btw... next chapter 11 kmungkinan update tahun baru. Aku kebut nih mumpung liburan jdi ngajar Cuma setengah dari jadwal biasanya. Oia... Aku mau kirim ff MSOI k penerbit. Melalui seleksi... bukan PO. Klau lolos brarti dibukukan. Klau tdak lolos. Brarti ttap bersemayam (?) d ffn.

Kamsahamnida... mianhae klau terkesan mempermainkan klian. Akupun bingung krena e-mail, fbook, dan akun ffn susah dibuka. Aplagi mndapat argument tdak relevan dari readers yg semi haters atau apalah itu istilahnya.

.

.

.

.

.

HAPPY READING!

Chapter 3

Seorang guru yang tak lain adalah Im seongsaengnim, memandang sendu siswanya yang terkapar tidak sadarkan diri diatas ranjang UKS. Siswa itu nampak pucat, peluh membajiri tubuhnya, dan gerakan dada yang samar saat bernafas, menandakan kondisinya yang memprihatinkan.

"Eughh..." Lenguhan kecil itu membuat Im seonsaengnim mendekat, mendudukkan dirinya di kursi lalu mengusap lengan siswanya dengan pelan.

Sentuhan ringan tersebut membuat Kyuhyun terusik, dengan perlahan ia membuka matanya yang terasa berat. "Kim Kyuhyun, bangunlah." Bisikan halus itu merasuk dalam pendengaran Kyuhyun. Im sensaengnim tersenyum saat melihat anak didiknya yang menyipitkan mata untuk melihat ke arahnya, mungkin sinar dari jendela terlalu terang hingga menyulitkan pandangan.

"Im saem." Kelopak itu mengerjap, Kyuhyun sedikit terkejut mendapati tubuhnya terbaring lemah di UKS. Ia melihat Im seonsaengnim yang menatapnya dengan khawatir. Inikah akhir dari rahasianya? Membayangkan semuanya terkuak semakin membuat rasa nyeri itu menguat tak tertahankan.

"Kim Kyuhyun, katakan apa kau punya penyakit jantung?" Im seonsaengnim bertanya dengan suara pelan, sangat pelan hingga nyaris menyamai bisikan.

"Ne seonsaengnim." Terpaksa Kyuhyun mengangguk, ia masih agak sulit untuk bernafas. Rasa nyeri yang selalu mencengkram jantungnya setiap kali ia kelelahan maupun banyak pikiran.

Im seonsaengnim terkesiap mendengar kebenaran itu, ia menatap Kyuhyun penuh penuntutan. "A-apa kau juga butuh do-donor?" Ia butuh kejelasan lagi.

"Ne..." Kyuhyun memejamkan mata, sekarang ia tahu tak ada gunanya mengelak. Im seonsaengnim adalah guru sekaligus dokter di Seoul High School, jika ia berbohong pasti guru itu akan mengetahuinya juga.

Im seonsaengnim berdiri, mengusap kepala siswanya dengan lembut. Tangannya sedikit bergetar, fakta ini membuat rasa kepeduliannya menyeruak hingga hatinya berdesir. "Aigoo... Aku sungguh terkejut ketika mendapati detak jantungmu sangat lemah, pernafasanmu juga tidak normal." Itulah yang sedari tadi membuatnya cemas luar biasa, menangani siswa yang tergeletak dengan detak jantung abnormal.

"Mianhae saem."

Guru cantik itu mencoba tersenyum meskipun di mata Kyuhyun terlihat aneh, itu merupakan senyuman miris. Sepertinya guru Biologi yang merangkap dokter sekolah itu berusaha terlihat tegar didepannya. "Gwenchana Kyu, tapi aku akan memberitahu Youngwoon agar tidak mengikut sertakanmu dalam olahraga."

Kyuhyun terkejut, tangan kananya berusaha menggapai tangan kanan gurunya. "Im seonsaengnim, to-tolong jangan beri tahu siapapun selain Youngwoon saem."

Guru cantik itu balas mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Kyuhyun dengan erat. "Kau tenang saja Kyu. Saem akan menjaga rahasia ini, tapi berjanjilah kau tidak akan melukai dirimu sendiri hingga mendapatkan donor itu!" Dia paham, dulu mendiang sahabatnya juga selalu menyembunyikan penyakit jantungnya. Berusaha tetap terlihat kuat karena tak ingin membebani siapapun.

Kebanyakan penderita penyakit parah tidak ingin dipandang lemah dan dikasihani, mereka ingin dianggap mampu dan kuat meskipun reaksi tubuh bertolak belakang dengan pemikiran mereka. Hal itu dilakukan untuk menghindari perlakuan diskriminasi, cemoohan, maupun pengucilan. Ingin dianggap sama serta diperlakukan sama, hanya itulah yang selalu diinginkan oleh mereka yang merasa lemah karena ujian berupa penyakit parah.

"Ne saem. Saya berjanji." Maknae Kim mengangguk kecil, merasa lega karena Im seonsaengnim mengerti keinginannya. Rahasia ini haruslah tertutup serapatnya, bahkan jika ia harus meninggal karena penyakit ini. Ia pun rela...

"Kalau begitu rilekskan lenganmu! Saem akan menyuntikkan sedikit obat tidur agar kau beristirahat. Lagi pula ini masih pukul 9 pagi, sekolah baru berakhir pukul 6 sore. Jadi tidak masalah kau ijin seharian, aku akan mengirimkan surat ijinmu ke kelas. Atau kau memilih pulang? Jika iya, berikan nomer telfon orangtuamu agar mereka menjemput."

"Aniya saem. Saya ingin di sini saja." Kyuhyun menggeleng, ia tidak menyukai opsi terakhir. Pulang sama saja dengan membongkar rahasianya, appa-nya bukanlah orang yang mudah ditipu. Dengan segera Kyuhyun meluruskan tangan kanannya, sementara Im seonsaengnim mengambil suntikan lalu memasukkan obat tidur kedalamnya dengan dosis rendah. Menyuntikkan obat itu dengan cepat dan hati-hati, agar anak didiknya tidak merasa kesakitan.

Mimik wajah serta reaksi tubuh itu sangat santai seolah jarum yang menusuk kulit adalah hal biasa, tanpa ketegangan maupun ringisan.

"Kau tidak keberatan jika diinfus juga kan?"

"Ne, saem lakukan saja." Kyuhyun mengangguk, matanya mulai terasa berat.

Istirahat memang yang dibutuhkannya saat ini, tiga hari terakhir ia harus begadang untuk merampungkan tugas skripsi hyung tertua. Ada satu bagian yang harus dirombak, nah berhubung bagian itu berakar, Kyuhyun harus mengetik ulang demi merevisi bagian itu. Ia tidak ingin hyung-nya telat lulus karena skripsi yang tertunda-tunda.

Membalas kejahatan dengan kebaikan. Itulah yang selalu Kyuhyun lakukan, mengesampingkan rasa ketidak adilan yang seringkali didapatinya. Berharap suatu hari es yang membeku segera mencair karena kehangatan dari setiap kebaikan yang dicurahkannya.

"Tidurlah Kyuhyun. Nanti saem akan kemari jika waktunya makan siang tiba." Im seonsaengnim mengusap puncak kepala itu hingga muridnya terlelap. Pandangannya berubah sendu, ia tak menyangka memiliki seorang murid yang menderita penyakit parah.

Selama ini ia selalu menghindari Rumah Sakit, memilih bekerja sebagai dokter UKS agar ia tidak merasakan kesedihan mendalam saat menjumpai pasien dengan penyakit serius. Tapi Tuhan memang adil, meskipun ia menghindar, pada akhirnya ia tetaplah harus menangani. Bahkan kondisi Kyuhyun bisa dikatakan kritis. Hanya masalah waktu, apakah muridnya bisa bertahan hingga mendapatkan donor, atau meninggal karena kondisinya yang kian melemah.

Ia membenahi letak selimut Kyuhyun, memastikan keadaannya stabil sebelum meninggalkan UKS. Berjalan lunglai menyusuri koridor sekolah yang sepi dengan sesekali menyeka air matanya.

Cklek

Tak lama setelah Im seonsaengnim pergi. Pintu itu terbuka, menampilkan sosok siswa yang mulai berjalan memasuki ruang UKS. Datar tanpa ekspresi, itulah deskripsi yang paling tepat untuk menyimpulkan mimik wajah dari pengunjung itu.

Sreek

Siswa itu menyingkap sebuah korden pembatas, tertegun saat mendapati kondisi seseorang yang tak lain adalah -Kyuhyun- sedang tergolek lemah. Walau sedikit ragu akhirnya ia mulai berjalan mendekat, 'Kenapa ada infus?' keadaan ini terlalu janggal menurutnya.

'Sebenarnya apa yang terjadi?' Dahinya mengernyit, -Ringer Asetat- setahu Kibum infus yang dipasangkan pada Kyuhyun merupakan jenis yang digunakan pada kondisi tertentu saja. Awalnya ia kira anak Amerika ini hanya mengalami dehidrasi atau kelelahan, tapi keadaan justru mengatakan yang sebaliknya.

Anak Amerika itu terlalu pucat, nafasnya juga terlihat lemah dan berat, apakah ia sakit? Tetapi kenapa tidak memilih pulang saja? Istirahat dirumah dan berbaring di atas ranjang pribadi, dirasa jauh lebih nyaman daripada di dalam ruangan beraroma obat yang menyengat.

'Apa kau kelelahan Mengerjakan seluruh tugas dari kami? Tapi kenapa sampai pingsan?' Pertanyaan itu hanya bisa berkelebat dalam hati, entah sampai kapan Kibum bertahan dengan ego dan sifat dinginnya.

"Bum hyung..." Terkesiap mendengar suara itu, Kibum menarik nafas dalam kala namanya dipanggil dengan lirih. Onixnya beralih mengamati wajah itu yang ternyata masih terlelap, Kyuhyun hanya mengigau dan itu membuatnya lega.

'Kau bahkan mengigaukan diriku. Seharusnya kau tak menuruti semua perintahku! Seharusnya kau tidak pernah kembali ke Korea! Seharusnya kau tak terlahir ke dunia! Maaf Kyu, aku masih terluka, masa lalu itu telah membuatku membencimu. Jadi, jangan salahkan aku karena tak mengakuimu!' Dengan langkah lebar Kibum keluar dari UKS. Ia tidak ingin dipergoki oleh Im seonsaengnim ataupun murid lain, tak ada yang boleh mengetahui fakta jika ia adalah kakak kandung dari Kim Kyuhyun.

Perasaannya sudah cukup kacau hari ini, ketenangan di tempat sunyi adalah pilihan paling tepat.

Hanya deretan kata -seharusnya- yang mampu ia teriakkan dalam hati, entah sampai kapan hatinya mampu menyimpan kata itu. Melihat tubuh ringkih itu terbaring lemah membuat nalarnya berkecamuk, sisi egois tetaplah yang menang dalam keadaan seperti ini.

Kibum yang awalnya sedikit tersentuh hingga merasa pertahanannya goyah, memilih menutup mata dan hatinya lalu membagun benteng yang lebih kuat. Ia terlalu buta akan reaksi tubuhnya yang digerakkan oleh Tuhan agar ia tidak menyesal di kemudian hari.

.

.

.

.

.

Krystalaster27

Langit senja itu bagaikan atap yang memayungi para murid Seoul High School, bel pulang sekolah sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Mereka berhamburan menuju tempat parkir atau halte bus, berusaha secepat mungkin tiba di kediaman masing-masing. Bergelut seharian dengan tumpukan soal bukanlah hal yang menarik, mereka butuh mengistirahatkan otak yang panas dengan berkumpul bersama keluarga.

"Kim Kyuhyun, ireona!" Im saem menguncang bahu Kyuhyun pelan, berusaha membangunkannya. Jam sekolah sudah berakhir 15 menit yang lalu, koridor sudah nyaris kosong karena ditinggal oleh penghuni gedung ilmu ini.

"Oh, Im saem." Kyuhyun mengerjapkan mata, mengangkat tubuhnya sedikit untuk duduk. Rasa nyeri yang menderanya sudah tidak bersisa lagi, reaksi obat memang hebat meskipun bahan kimia itu tidaklah baik dipakai terus-menerus.

Guru cantik itu tersenyum, tangannya mengulurkan sesuatu yang sedari tadi dibawanya, meletakkan benda itu diatas pangkuan Kyuhyun. "Sudah sore, sebaiknya kau segera pulang. Ini tas dan jas milikmu, tadi Lee Hyukjae yang memberikannya padaku."

Heran, Kyuhyun memang mengenal Hyukjae sebagai teman sekelasnya yang berisik dan trouble maker, tapi ia bersyukur karena teman sekelasnya itu mau membereskan barangnya. Ini sudah lebih dari cukup dibandingkan mengharapkan Kibum, entahlah sampai kapan sikap dingin itu bertahan. Kyuhyun tak ingin ambil pusing masalah sepele yang sebenarnya sangat menyakiti hatinya.

"Kamsahamnida saem."

Im seonsaengnim mengangguk, membalikkan badan untuk mengambil plester, gunting, dan kapas. "Ulurkan tanganmu, aku akan mencabut infusnya." Kyuhyun mengulurkan tangannya, matanya memperhatikan Im saem yang sedang mencabut jarum infus.

Sekali lagi tak ada ringisan, dahi yang mengernyit, maupun geraman samar karena menahan rasa sakit. Im saem berpikir mungkin Kyuhyun bisa menjadi dokter di masa depan, ia adalah siswa jenius yang pasti bisa mengantongi beasiswa kedokteran dengan sekali melewati tes seleksi.

"Sudah, ayo saem antar pulang!" Segera saja im saem membuang botol infus ke tempat sampah medis, meraih tas selempang lalu membantu anak didiknya turun dari ranjang.

Sebenarnya Kyuhyun tak ingin merepotkan siapapun, tapi tubuhnya masih lemas sehingga tak memungkinkan untuknya pulang dengan bus. Sebelah lengannya bahkan melingkar di bahu Im saem agar ia tidak limbung, lagipula Im seonsaengnim terus memaksa agar memapah dirinya yang bahkan jauh lebih tinggi dan berat daripada gurunya.

Kyuhyun duduk di kursi penumpang, nafasnya sedikit tersengal karena kelelahan berjalan menyusuri koridor sekolah. Beruntung jantung itu tidak berulah lagi.

Selama perjalanan di dalam mobil, Kyuhyun memilih tetap diam sambil menyandarkan punggungnya di kursi. "Saem, bisa berhenti di apotik farmasi depan?" Ia ingat jika persediaan obatnya sudah menipis.

Im saem mengangguk, memperlambat laju kemudian menghentikan mobil di pelataran parkir. Ia mencekal lengan Kyuhyun, mencegah muridnya yang ingin keluar. "Kau disini saja, biar saem yang belikan."

"Tapi-" Kyuhyun mendesis pelan, gurunya itu sudah melenggang pergi begitu saja.

Tak lama kemudian, Im seonsaengnim sudah keluar dari apotik sambil meneteng sebuah kantung plastik. Masuk ke dalam mobil, lalu menyerahkan kantung itu pada Kyuhyun.

Sepasang kelopak mata itu mengerjap, memandang kantung plastik berukuran sedang yang berisikan obat. Namun ada yang aneh di sana, botol-botol kaca kecil dan beberapa suntikan yang tidak seharusnya ada.

"Aku membelikan obat dalam bentuk injeksi juga. Reaksinya akan cepat jika menggunakan injeksi daripada obat telan. Kau bisa menyuntik?" Ya, ia memang mendapati anak didiknya mempunyai keahlian yang jarang dimiliki sorang pasien.

Kyuhyun mengangguk, "Ne saem, dokter saya di Amerika sudah mengajarkan caranya." Ia mengalihkan pandangan ke arah jendela mobil, berusaha menghindari tatapan Im seongsengnim.

Yang masalah disini adalah, di mana Kyuhyun bisa membuang suntikan bekasnya nanti. Tidak mungkin ia membuang di tong sampah dapur, bisa-bisa seluruh maid melapor pada appanya.

"Baguslah, jika obatmu habis hubungi saem saja. Aku bisa membelikanmu obat dengan harga yang jauh lebih murah, juga beberapa obat injeksi yang tidak bisa kau dapatkan jika membelinya sendiri." Im seonsaengnim menyalakan mobilnya, menyusuri jalanan yang sedang ramai, bergabung dengan ratusan mobil lainnya.

"Eum, Ne." Kyuhyun memasukkan kantung plastik itu kedalam ransel, memakai jas sekolah juga membenahi penampilannya. Menepuk-nepuk pipinya pelan dan mengigit bibirnya sesekali, ia harus menghilangkan raut pucatnya.

"Oh, rumahmu di sebelah mana?" Pertanyaan itu diucapkan Im seonsaengnim saat mobilnya memasuki kawasan perumahan elit.

Kyuhyun menunjuk sebuah perempatan, "Saem berhenti saja di perempatan depan, rumah saya sudah dekat." ia memutuskan untuk turun di persimpangan jalan daripada berhenti di depan rumah. Sekali lagi tidak ingin Kibum marah jika Im seonsaengnim mengetahui identitasnya sebagai putra bungsu dokter Kim Jongwoon.

"Eo, baiklah." Im saem menepikan mobilnya di dekat perempatan, mengawasi setiap gerak tubuh muridnya yang sedang keluar dari mobil. Punggung itu masih lemas tetapi dipaksa untuk menegak, semoga Kyuhyun bisa sampai di kediamannya dengan selamat. Ya, sebagai guru dan dokter hanya itu yang mampu diucapkannya, sebuah doa tulus agar Tuhan berkenan mengabulkan.

"Hati-hati Kim Kyuhyun. Jangan lupa minum obatmu." Kyuhyun mengangguk, menunggu sejenak hingga mobil Im seonsaengnim melaju dan hilang dari jarak pandangnya.

Sepi, hatinya terasa kesepian. Dulu saat di Amerika, Kyuhyun tidak pernah pulang dari sekolah sendirian. Daddy selalu menjemput tepat waktu, juga mengantarkannya ke sekolah setiap hari. Sikap protektif ayah asuhnya memang sangat berlebihan, padahal Kyuhyun sudah mengantongi SIM di usia 14 tahun. Surat Ijin Mengemudi khusus yang diperolehnya dari markas.

Kepala itu menunduk memandang kosong setiap pijakan lantai trotoar yang dilewatinya. Perasaan rindu itu semakin menyesakkan untuknya, ia tidak tahu sampai kapan bisa bertahan di Korea mengingat sikap Kibum dan Heechul yang jelas-jelas tak menyukainya.

Kabur? Ia tidak yakin dengan hal itu. Bagaimana jika di tengah aksi kaburnya ia harus merenggang nyawa tanpa ada siapapun yang mengurus jenazahnya. Tubuhnya begidik ngeri ketika sekelebat pikiran liar itu melintasi otaknya.

.

.

.

.

.

My Secret of Identity

Suara gemuruh terdengar, sepertinya sebentar lagi langit Seoul akan menumpahkan ribuan liter air. Sapuan angin bahkan sudah menggeser dedaunan yang terongok di tanah, membuat dedaunan itu menjauh dari tempat asalnya.

Gelisah, Jongwoon tidak bisa tenang. Ia begitu khawatir pasalnya Kyuhyun belum pulang dari sekolah, padahal sekarang sudah hampir pukul 6 sore. Kibum bilang, ia tidak tahu kemana Kim Kyuhyun padahal jelas-jelas ia menyuruh putra keduanya untuk terus mengawasi adiknya.

Mungkinkah putranya tersesat? Diculik? Kecelakaan? Atau tertidur di sekolah?

Berbagai dugaan buruk membuat kegelisahannya semakin memuncak, kebiasaannya yang selalu negatif thingking selalu terjadi saat gelisah. Tapi untuk opsi terakhir sepertinya itu mustahil karena satpam sekolah pasti menelisik setiap ruangan sebelum menguncinya.

"Arrrggh... Kim Kyuhyun, kau di mana?" Tuan Kim Jongwoon mengacak rambutnya frustasi. Melempar tubuhnya pada sofa ruang tamu, bersandar tuk merilekskan kekalutannya. Ia terlampau sibuk hingga lupa meminta nomer telfon, ayah macam apa yang tidak memiliki nomer telfon putranya sendiri.

Bagaimana dengan Kibum dan Heechul? Tak perlu ditanya lagi, kedua putranya itu pastinya tidak memiliki nomer telfon Kyuhyun. Mereka masih kekeuh melakukan aksi penolakan atas keberadaan Kyuhyun dengan bersikap dingin, meski tidak separah dulu.

Cklek

Suara pintu utama terbuka, maknae Kim yang ditunggu muncul juga dari balik pintu dengan kepala yang menunduk. Jongwoon berdiri, matanya memicing mengamati tubuh putra bungsu-nya. Rambut berantakan, baju seragam kusut, ransel yang terlihat penuh, serta keringat yang menempel di leher dan dahi. Kesimpulan singkat yang diperolehnya yakni Kyuhyun berjalan kaki dari halte bus di dekat perempatan, tempat itu memang lumayan dekat dari rumah. Yang mengherankan, kenapa nafas putra bungsunya terlihat berat? Apa lagi adanya keringat yang mengucur deras. Udara di luar sangat dingin untuk bisa menghasilkan keringat, namun yang terlihat bulir keringat malah membasahi wajah itu.

"Kenapa pulang telat?" Langkah Jongwoon berjalan menghampiri, tangannya bersedekap, menuntut penjelasan atas keterlambatan. Ia harus bersikap tegas, menunjukan pada Kyuhyun bahwa keterlambatan tanpa alasan adalah kesalahan yang fatal. Meskipun sisi lain hatinya tidak tega, penampilan putra bungsu yang sudah mengisyaratkan betapa beratnya hari ini.

Kepala itu masih menunduk, ia tak berani menatap wajah ayah kandung yang sudah pasti tengah marah. Cukup dua ekspresi marah dari hyungdeul, Kyuhyun tidak ingin semakin sakit dengan melihat kemurkaan appanya.

"Emm, tadi Kyu ada tugas dan harus meminjam buku di perpustakaan." Beruntung ia sudah mempersiapkan alasan untuk berdalih saat dalam perjalanan menapaki trotoar, biarlah kali ini ia berbohong, hatinya belum siap untuk menceritakan kebenaran mengenai penyakitnya. Dan mungkin takkan pernah siap.

"Jadi begitu." Kalimat datar itu membuat Kyuhyun terkesiap, ia kira akan mendapatkan bentakan atau mungkin sebuah tamparan keras.

"Mianhae... Lain kali Kyu akan mengabari jika pulang telat."

"Heum... Masuklah, lalu cepat turun untuk makan malam." Jongwoon memutuskan mengakhiri sesi introgasi singkatnya. Melenggang pergi memasuki dapur untuk memasak makan malam.

"Ne appa." Maknae Kim menghela nafas, berusaha menetralkan ketegangan yang dirasakannya sembari berjalan menapaki tangga.

10 menit kemudian...

Maknae keluarga Kim bergabung paling akhir di meja makan, ia langsung duduk di kursinya seperti biasa. Tanpa bicara ataupun menyapa hyungdeul juga appanya, membiarkan semuanya berjalan dengan semestinya.

Grep

Mendadak Jongwoon menarik pergelangan tangan Kyuhyun yang sedang menyendok nasi. "Tanganmu kenapa?"

Si bungsu menengguk ludah, matanya bergerak gelisah, sementara pikirannya merutuki kebodohan yang lupa melepas plester. "Oh, i-ini terluka saat olahraga." Bagus Kim Kyuhyun, penjelasanmu sangat tidak masuk akal.

Heechul hanya melirik sekilas, lalu dengan acuh melanjutkan acara makannya yang terjeda karena gangguan kecil. Sedangkan Kibum menatap datar punggung tangan anak Amerika, cukup lama sebelum memutuskan untuk menunduk melanjutkan acara menyantap makanannya. Memasang telinga dengan baik, berusaha tetap fokus mencuri dengar perbincangan yang akan terjadi.

"Boleh appa lihat?" Jongwoon menarik tangan itu agar semakin mendekat.

Kyuhyun yang panik, sontak menarik tangannya cepat. "Andwae appa, tangan Kyu sudah diobati Im seonsaengnim."

Jongwoon mencebikkan bibir, ia tahu putra bungsunya sedang berbohong. Tapi ia tidak ingin memaksa jika memang putranya tidak ingin jujur saat ini. "Im Yoona hanya dokter biasa yang merangkap menjadi guru karena kuliah gandanya, sedangkan appa adalah dokter spesialis bedah jantung Kyu. Jadi jika tanganmu terluka, appa bisa mengobatinya jauh lebih baik." Kalimat yang tujuannya menyombongkan diri itu malah membuat reaksi Kyuhyun semakin mencurigakan. Tubuhnya menegang sempurna dengan tangan yang saling meremas karena bergetar.

Bibir itu tergagap dengan mata yang membulat. "Mwo? Spe-spesialis bedah ja-jantung?" Sial, ini diluar prediksinya. Pantas saja appa-nya sangat kaya, dokter spesialis bedah jantung bisa membeli sebuah mobil hanya dengan melakukan 3 kali operasi. Good job!

Tuan Kim mengacak rambut putra bungsunya dengan gemas. "Aigoo... kenapa ekspresimu sangat terkejut seperti ini? Appa dari dulu memang hanya dokter umum, tetapi 15 tahun lalu appa melanjutkan study. Hahaha... Denis tidak tau kalau appa menjadi dokter, nyatanya dulu appa memang kuliah mengambil jurusan musik, tapi appa berhenti di semester dua dan beralih mengambil kuliah kedokteran. Saat itu Denis sudah tinggal di Amerika dengan istrinya."

Maknae Kim memilih diam, melanjutkan kegiatannya mengambil makanan lalu menyantapnya sesantai mungkin. Padahal pikirannya tidak bisa fokus sama sekali.

'Kenapa bisa begini? Daddy, seharusnya kau menyuruhku ke negara lain saja bukannya mengirimku pulang ke Korea.' Penyesalan memang selalu datang terlambat, ia hanya mampu menggerutu. Kali ini perjuangan untuk menyembunyikan penyakitnya bertambah sulit. Lebih sulit dibandingkan menyembunyikan bangkai kelinci ke dalam sebuah tong sampah.

.

.

.

.

.

Krystalaster27

Kring

Kring

Kring

Dering ponsel yang nyaring membuat remaja itu terjaga dari tidur siangnya. Ini minggu kedua ia bisa bersantai karena appanya memiliki jadwal praktik malam hari. Jadi meskipun seluruh maid diliburkan, kedua hyungnya tidak akan bisa menyuruh mengerjakan seluruh pekerjaan rumah.

Melihat ID penelfon, Kyuhyun mendadak bersemangat melupakan rasa kantuk yang masih dirasakannya. Secepat kilat bangun dari sesi rebahan menjadi duduk. "Daddy?"

"Kyu, are you okay?" Suara disebrang telfon terdengar cemas. Sepertinya feeling sebagai seorang orangtua asuh sedang mendera daddy-nya.

Kyuhyun mengangguk, "Yes, im fine. What's wrong dad?" Ia mulai menapakkan kakinya menuju balkon.

"Nothing Kyu, aku hanya merasa khawatir. Beberapa hari ini Dokter Max menelfonku untuk menanyakan kondisimu, jika jantungmu kambuh berulang kali dalam sehari, segera hentikan seluruh aktivitasmu. Pergilah ke rumah sakit untuk menjalani rawat inap hingga donormu tersedia. Dokter Max sudah menemukan 2 calon pendonor yang mempunyai kecocokan diatas 70% dengan jantungmu Kyu. Salah satu dari mereka dalam keadaan sakit, jika ia mengalami kritis hingga nyaris meninggal maka kau harus segera menjalani operasi!" Dugaannya benar, daddynya pasti menelfon karena mengkhawatirkan kondisi kesehatannya.

Memang tidak baik mendoakan seseorang cepat meninggal, tetapi daddy-nya akan menjadi manusia tolol jika itu sudah menyangkut dirinya. Kyuhyun sadar akan hal itu, Denis bahkan pernah memukuli seorang senior yang pernah mengusilinya hingga patah tulang. Sejak saat itu ia memilih bungkam, tak berani mengadukan beberapa perlakuan buruk yang dilakukan temannya.

Andai kata Kyuhyun mengadukan hyungdeul, pasti Daddy-nya langsung terbang ke korea Selatan tanpa berganti baju. Menghajar mereka dengan jurus bela diri yang sudah mencapai level sabuk hitam, membayangkan saja sudah membuat Kyuhyun takut.

"Hemm..." Senyuman miris itu terukir. Tidak bisakah untuk sehari saja hatinya merasa bebas tanpa memikirkan kondisi jantung yang kian berulah.

"Bertahanlah sedikit lagi, daddy akan terus mencari pendonor lain. Kau harus tetap hidup Kyu!" Suara disebrang telfon mulai bergetar. Oh, pasti sebentar lagi daddynya itu akan menangis sesenggukan. Meskipun Aiden dijuluki King of tears tetapi daddy-nya juga tak jauh berbeda, ayah dan anak tentu memiliki kesamaan bukan.

"Yes, dad." Walau sulit, Kyuhyun mencoba untuk tersenyum, mengubah nada suaranya sedikit menjadi ceria. Ia tidak ingin membuat daddynya sedih karena jarak yang terbentang terlalu menyulitkan untuk merengkuh tubuh itu.

"Masalah agen biarkan Aiden dan daddy yang mengurusnya sementara ini, selama kau tidak mengungkap identitas, maka semuanya akan aman. Kami sudah menemukan beberapa bukti dan kelemahan server agen, kita tinggal mengatur strategi penyerangan langsung ke markas." Betapa kuat ikatan batin mereka, keterikatan yang terbentuk dari belasan tahun hidup bersama meskipun sekarang tidak bisa saling menatap. Walaupun hanya sedikit senyuman yang diberikan Kyuhyun, tapi suara daddy-nya langsung berubah menjadi lebih stabil.

Mengubah posisi, Kyuhyun menyandarkan pinggulnya pada pembatas balkon, untuk kesekian kali membelakangi pemandangan indah halaman depan rumah yang terawat. "Dad, kirimkan file itu ke e-mailku. Aku akan menganalisisnya dan membuat prototipe untuk dikembangkan menjadi software." Rentetan kalimat itu tanpa sadar terucap dengan nyaring.

Kibum yang awalnya ingin menuju balkon, menghentikan langkahnya. Memutuskan untuk bersembunyi di balik tirai jendela sembari menajamkan pendengarannya.

"Baiklah, minggu depan aku kirim filenya."

"Okey dad." Senyuman itu semakin mengembang, tak sabar menanti kiriman file rahasia yang akan membatu mereka menyelesaikan misi.

"Kyu, kau tidak menggunakan otak jeniusmu terang-terangan kan?" Denis bertanya dengan ragu. Khawatir jika Kyuhyun menjadi incaran oknum lain yang memiliki niatan buruk, putra asuhnya itu seperti parfum yang menarik perhatian. Sekali saja seseorang berhasil mengendus, pasti orang itu ingin memilikinya.

"Tidak dad, aku sering tidur di sekolah." Kyuhyun tidak berbohong, beberapa hari terakhir ia memang sering tidur di UKS saat jam istirahat. Im seonsaengnim selalu memberinya bekal makan siang 4 sehat 5 sempurna + injeksi beberapa obat, juga vitamin jantung untuknya. Gurunya terlalu baik hingga Kyuhyun pernah lancang membayangkan Im saem menjadi ibunya, berfantasy bukanlah hal yang dilarang selama itu positif.

"Hahhh... baiklah kalau begitu. Sampai jumpa lagi." Denis menghembuskan nafas lega, perasaannya sudah tenang sekarang setelah memastikan kondisi putra asuhnya.

"Oh, see you dad."

Pip

Sambungan telfon terputus, Kyuhyun kembali memasuki kamar untuk melanjutkan tidur siangnya. Ia butuh istirahat lebih banyak mengingat beberapa hari kedepan aktifitas sekolah mulai padat.

'Mengirimkan file itu ke e-mail? menganalisisnya dan membuat prototipe?' Kening Kibum mengernyit, otaknya berpikir keras berusaha memahami maksud perkataan itu.

Putra kedua Kim Jongwoon akhirnya berbalik, mengurungkan niat untuk menuju balkon, memilih untuk membuka laptop dan mencari sesuatu untuk menjawab rasa penasarannya. Ada hal yang mencurigakan, ia tidak suka sebuah rahasia karena itu mengganggu pola pikirnya yang selalu penasaran.

.

.

.

.

.

Krystalaster27

Jam pelajaran olahraga untuk murid kelas 3-A1. Youngwoon seonsaengnim sudah meniup peluit 'kode agar para siswa-siswi segera berkumpul', berdiri di tengah lapangan outdoor menunggu semuanya berkumpul.

"Bagi menjadi dua sama banyak!" Dengan cepat mereka saling tarik-menarik membawa temannya untuk berada di barisan yang sama.

"Mulai berhitung!" Youngwoon mengamati catatan olahraga yang dibawanya, mengabsen kehadiran muridnya sambil mendengarkan suara lantang yang bergantian menghitung.

"Satu."

"Dua."

"Tiga."

Hitungan itu terus berlanjut hingga berhenti pada bilangan.

"Dua puluh tiga."

Jumlah yang ganjil untuk membentuk dua regu sama banyak. Youngwoon seonsaengnim berjalan mengitari barisan, memandang satu-persatu muridnya dengan teliti.

"Harus ada seseorang yang mundur! Kim Kyuhyun, kau keluar!" Kyuhyun mengangguk patuh, ia berjalan pelan menuju tepi lapangan untuk memisahkan diri dari barisan.

Para murid saling berbisik, kejadian ini sungguh langka. Biasanya jika jumlah murid yang hadir adalah ganjil, Youngwoon seonsaengnim selalu mengeluarkan seorang siswi untuk membantunya mencatat laporan hasil olahraga. Tapi kali ini Kim Kyuhyun, siswa yang dikenal paling berbakat dalam segala mata pelajaran, harus keluar dari barisan. Adakah yang bisa menjelaskan kejadian aneh ini?

Padahal beberapa minggu sebelumnya, Kim Kyuhyun selalu mendapat nilai tertinggi saat olahraga. Penampilannya tampak mengagumkan, membuat banyak siswi memekik gemas karena ekspresinya yang begitu alami.

"Barisan kanan regu merah, barisan kiri regu kuning. Siapkan diri kalian! Kali ini kita akan bermain sepakbola." Penjelasan itu membuat seluruh murid berhenti berbisik, mereka mengangguk paham lalu mulai berpencar untuk menempati posisi masing-masing.

"Kim Kyuhyun, kau bertugas mengawasi stopwatch ini! Catatlah siapa saja yang melakukan pelanggaran." Youngwoon seonsaengnim menyerahkan sebuah buku catatan dan stopwatch pada Kyuhyun.

"Aku turut prihatin tentang kondisi kesehatanmu. Kau harus kuat dan bertahan lebih lama lagi!" Dengan pelan Kyuhyun mengangguk, membalas raut kekhawatiran Youngwoon seonsaengnim dengan senyum yang tulus.

Tanpa mereka berdua sadari, Kim Kibum mendengar pembicaraan itu tanpa sengaja saat ia mengambil bola yang menggelinding ke arah tepi lapangan.

'Anak Amerika, sebenarnya apa yang kau sembunyikan?'

Mulai hari itu Kim Kyuhyun tak pernah sekalipun terlibat dalam pelajaran olahraga. Berbagai alasan kuat yang mendukung ketidak hadirannya di lapangan, sedikit banyak membuat para siswi kecewa dan saling bertanya.

Im seonsaengnim dan Youngwoon seonsaengnim dengan kompak selalu memberikan Kim Kyuhyun berbagai tugas diluar kegiatan olahraga. Menimbulkan spekulasi berbeda bagi mereka yang memperhatikan.

Hal itu membuat kecurigaan Kim Kibum bahwa anak Amerika itu menyembunyikan sesuatu semakin menguat, apalagi sikap Kyuhyun yang beberapa minggu terakhir sering mengurung diri di dalam kamar dengan alasan lelah dan belajar.

.

.

.

.

.

My Secret of Identity

Byuur!

Guyuran air itu membasahi tubuh Kyuhyun, sepertinya ada yang iseng mengerjainya dengan menaruh ember berisi air kotor di atas pintu. Tentu saja ini aksi pembullyan, otaknya cukup pintar mengenali ini tetapi ia tak ingin mencari tau pelakunya, meskipun setiap ruang kelas di pasang CCTV.

Jika dihitung, ini adalah kejadian ke 16 yang menimpanya. Belum terhitung aksi pembully-an lain seperti buku yang hilang, sepatu yang digantung di tiang bendera, tas yang disembunyikan di tong sampah, kotak pensil yang diceburkan ke selokan air, layar tablet yang pecah, juga laptop yang terbelah.

"Hahhh..." Beginilah Kyuhyun, dia hanya menghela nafas lalu memutar tumitnya menghampiri loker. Mengambil seragam cadangan adalah jalan keluar yang baik, bell masuk akan berbunyi 60 menit lagi. Tadi ia segaja berangkat pagi untuk menghindar tetapi yang ada ia justru mandi air kotor, beruntung koridor masih sepi. Hanya ada sedikit murid kutu buku yang pastinya terlalu malas untuk memperhatikan kondisi Kyuhyun yang mengenaskan.

Cklek

KOSONG? Astaga! Ini keterlaluan!.
Ia bisa sabar meskipun pelaku mengguyurnya air setiap hari tapi tidak untuk menyembunyikan seluruh isi lokernya.

Tap

Tap

Tap

Maknae Kim berlari, melupakan kondisi jantungnya yang bisa saja kambuh setelah ini. Pikirannya terus bekerja, mempresdiksi di mana isi lokernya di buang. Sudah sewajarnya kan jika pelaku membuang barangnya, tak ada maling yang ingin tertangkap basah di dunia ini.

"Aigoo... Di mana barang-barangku? Di dalam kotak itu ada obat dan flashdisk data. Aku harus menemukannya."

Tiga puluh menit waktu yang terbuang hanya untuk mengitari seluruh kompleks sekolah. Hanya tersisa 3 tempat yang belum diperiksanya yaitu ruang guru, UKS, dan halaman belakang sekolah.

"Hahhh... hahhh.. hahhh..." Nafas itu tersengal dengan bulir-bulir keringat yang menetes dari dahi. Kyuhyun menunduk, menumpukan kedua tangannya pada lutut sembari menstabilkan pernafasannya.

Halaman belakang, di sinilah ia sekarang. Berdiri di depan sebuah tempat sampah besar yang menampung seluruh sampah menjijikkan dari tiap koridor.

'Ya Tuhan... Haruskah aku mengais sampah? Tapi jika aku tidak mencari obat itu, Im saem pasti kecewa karena aku menyia-nyiakan pemberiannya. Obat itu cukup mahal dan aku tidak ingin membiarkan orang lain membuangnya. Biarlah jika seragam, buku, alat tulis, maupun flashdisk dataku hilang. Tapi tidak untuk obat itu...'

Tuk

Kyuhyun melepas ranselnya, menyandarkan benda itu di dinding tak lupa juga melepaskan sepatu, kaos kaki, jas sekolah, dan kemejanya.

Srakk

Srakk

Srakk

Tangannya mengais tumpukan sampah yang nyaris menyamai luas ruang kelasnya, ini lebih mirip kolam sampah daripada tempat sampah besar. Miris sekali sekolah sekeren Seoul High School menimbun sampah sebanyak ini setiap bulannya, truk sampah memang hanya datang sebulan sekali.

Srakk

Srakk

Kyuhyun tak perduli celananya kotor, ia terus mencari di sertiap jengkal tumpukan sampah.

Srakk

Ketemu!

Ingin sekali ia berteriak girang saat mendapati satu kantung plastik besar yang membungkus semua barang-barangnya. Plastik itu kotor, tetapi sang pelaku masih berbaik hati melapisinya dengan kantung plastik sebanyak 4 rangkap.

Tap

Tap

Tap

Tanpa ragu Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju UKS, ia harus mandi dan mengganti bajunya segera. Letak UKS memang berada di koridor belakang dan ini masih sangat pagi sehingga koridor itu tentunya sedang sepi.

Cklek

"ASTAGA! KIM KYUHYUN!" Teriakan itu tentunya berasal dari penghuni UKS yang terkejut melihat kedatangan Kyuhyun dengan kondisi mengenaskan. Seluruh tubuh itu kotor bukan main, tangan kanannya meneteng sepatu dan seragam sedangkan tangan kirinya membawa bungkusan plastik besar dengan aroma menyengat.

"Im saem, bolehkan kalau saya mandi di toilet UKS?" Takut-takut Kyuhyun bertanya, meskipun ia tau jika gurunya itu pasti mengijinkan.

"Mandilah, setelah ini jelaskan semuanya pada saem. Kau bisa bolos jam pertama, biar saem yang menghubungi guru di kelasmu."

"Ne... Gomawo saem." Dengan langkah sedikit terseret Kyuhyun memasuki toilet. Sebelumnya ia meletakkan sepatunya di samping pintu toilet, membuka kantung plastik itu dan membuang bungkus yang paling luar.

"Uhhh... Ini menjijikkan!" Ya, sikapnya sebagai anak sok bersih tetaplah ada. Kyuhyun menyalakan kran dan mengguyur tubuhnya sebanyak mungkin dengan air, ia benci kotor tetapi situasi memaksanya untuk mengais tumpukan sampah.

15 menit kemudian...

"Jelaskan sekarang!" Ini waktunya sesi introgasi yang sangat ingin di lewati oleh Kyuhyun. Im saem itu tipikal orang yang akan menuntut penjelasan jika melihat tindak pembully-an, beberapa murid bahkan bilang jika Im saem lebih menyeramkan daripada guru BK.

To be continue