Title : Weeks of Love
Pairing : NamGi / SugaMon
Genre : Fluff ; Romance
[BOY x BOY –I've warned you!]
Rate : T
Lenght : Mini Series / Chaptered
Disclaimer : I own nothing but the plot
Foreword : My First Fiction in BTS Fandom, Please enjoy and I hope you'll like it ^_^
.
.
.
...oOOo...
.
.
.
C'est Samedi –Sabtu
Satu dari dua jarum itu telah berada tepat pada angka dua belas, sedang yang lebih pendek menunjuk angka yang hanya terpaut dua langkah sebelumnya, sepuluh. Sang surya hari ini memilih untuk tersenyum mengiringi nyanyian burung-burung gereja yang tengah sibuk mencari makan, awan-awan putih yang semula nampak berunding pun kini memutuskan untuk berpencar dan berbagi keindahan si langit biru kepada para penikmat dibawahnya.
Namjoon melirik Rolex di pergelangan tangannya sekali lagi, mencoba memastikan angka yang dilihatnya pada jam yang terpasang di salah satu pertokoan yang dilewatinya tadi sama dengan apa yang ditunjukan oleh jam tangan miliknya. Terlalu cepat tiga puluh menit sepertinya adalah sesuatu yang sedikit mengejutkan bagi Namjoon –di kampus, setiap ada kelas, dia selalu datang satu menit sebelum kelas dimulai dengan alasan efisiensi waktu. Tetapi karena ini adalah kali pertama dia kencan dengan Yoongi, Namjoon memutuskan bahwa kesan pertama begitu menentukan kelangsungan kisah asmaranya ke depan.
Keduanya sebenarnya memutuskan untuk makan malam bersama di Les Bateliers, namun karena sepupu Yoongi akan pulang dari Jerman malam ini, akhirnya mereka memutuskan untuk mengubah waktu kencan mereka menjadi makan siang. Mereka juga sepakat untuk bertemu lebih pagi agar bisa berjalan-jalan menelusuri kota Colmar terlebih dulu. Jadi, Namjoon mengusulkan bertemu di jembatan Rue Turenne, tak jauh dari restoran tempat makan siang mereka nanti. Sebenarnya, Namjoon ingin sekali menikmati keindahan kota ini saat malam dengan Yoongi, karena suasana malamnya sungguh sangat romantis. Tapi apa boleh buat, mungkin dewa-dewi keberuntungan akan berpihak pada Namjoon dikencan berikutnya. AMEEN! teriak Namjoon di dalam pikirannya.
Namjoon bersandar pada besi pembatas di pinggir jembatan, melihat perahu-perahu sederhana menelusuri kanal-kanal kecil dengan membawa orang-orang menikmati keindahan kota ini melalui alur sungai Lauch yang mengalir diantara dua deretan rumah-rumah tua dengan arsitektur setengah kayu bercat warna-warni. Aroma kopi dan tepung bercampur susu sesekali menggelitik hidung Namjoon, sedikit membuatnya lapar –karena pagi tadi Namjoon terlalu deg-degan, membuat perutnya mendadak melilit hebat sehingga dia memutuskan untuk tidak menyentuh sarapannya.
Memang hebat efek Min Yoongi pada kehidupan Kim Namjoon. Bayangkan saja, empat bulan berselang, kini pikiran Namjoon telah penuh sempurna olehnya. Hal-hal kecil yang bahkan dulu tidak pernah Namjoon perhatikan dari semua gadis-gadis yang pernah dekat dengannya, kini tanpa sadar dia tulis setiap detail dalam ingatannya. Seperti senyum kecil Yoongi yang sangat manis –seolah Namjoon baru saja makan cokelat terlalu banyak hingga membuat gusinya berdenyut. Suara khasnya menggelitik telinga Namjoon –yang selama ini yakin bahwa tidak ada yang lebih menarik daripada alunan Saint-Saens's Introduction dan Rondo Capriccioso Op. 28. Atau cara berbicaranya yang terdengar seperti menggumam ketika dia tersipu. Semua itu seolah telah menjadi sebuah prasasti hidup yang kini bersemanyam dalam ruang kecil disudut hati Namjoon. Terlindungi dari segala hal rasional yang berusaha menariknya keluar. Tersembunyi, namun Namjoon dengan sangat mudah dapat menemukannya.
"Maaf!" Seru sebuah suara yang belakangan ini secara ajaib selalu terdengar samar-samar dalam setiap mimpinya, membuat dagu Namjoon terjatuh dari tangan yang menopangnya. "Sudah lama menunggu?" tanya suara yang sama. Si pemilik suara kini tepat berada dihadapan Namjoon, namun dia nampak sedikit terengah, kedua tangannya bertumpu pada lutut sambil berusaha mengatur nafasnya.
Entah ada apa dengan tubuh Namjoon, tiba-tiba saja nafasnya tercekat. Tertahan di tenggorokan. Pria yang kini berada dihadapannya sungguh sangat mempesona. Rambutnya yang kemarin masih berwarna pirang, kini sudah berubah warna menjadi sehitam langit malam. Semilir angin yang berhembus membuat helaian-helaiannya nampak seperti berdansa dan dahinya yang sedikit berkerut itu terlihat tidak sesuai dengan keindahan musim semi disekelilingnya. Namjoon tidak sadar dia memandang Yoongi terlalu lekat, jika saja Yoongi tidak melambaikan tangannya di depan wajah Namjoon, mungkin seharian nanti mereka hanya akan terdiam disini dengan Yoongi yang kebingungan dan Namjoon yang mematung diam.
Terpesona.
Dunia Namjoon sejenak tadi seperti teralihkan.
"Tidak, tidak!" Jawab Namjoon. Kedua tangannya dia gerakkan seperti wiper mobil cepat-cepat, "Aku yang datang terlalu cepat!" tambahnya. Yoongi, yang satu tangannya kini menggenggam teralis besi pembatas jembatan itu, tersenyum. Tubuhnya kini tidak lagi tegang, kerut di dahi yang sempat menghiasi wajahnya, mendadak hilang. "Syukurlah kalau begitu, aku fikir, aku sudah membuatmu menunggu."
Jika tadi Namjoon hanya terpesona sejenak, detik ini Namjoon sudah menetapkan hatinya untuk menjaga senyuman itu. Jika saja dia punya kekuatan untuk menghentikan waktu, Namjoon ingin mereka berhenti di detik ini, ketika senyuman itu tertuju tepat kepadanya.
.
.
ooOOoo
.
.
Lantunan musik-musik klasik mengiringi langkah-langkah kecil mereka menyusuri jalanan batu. Layaknya drama yang diputar di televisi, dentingan piano lembut timbul-tenggelam menyapa telinga keduanya seperti soundtrack yang diputar menemani kisah sang tokoh utama. Sementara percakapan orang-orang disekitar mereka perlahan-lahan menghilang. Melebur di dalam keheningan yang mereka ciptakan dalam pikiran masing-masing.
Keduanya berjalan berdampingan, sesekali tangan dan bahu mereka saling beradu. Yoongi berusaha untuk menikmati keindahan kota ini, meskipun sebenarnya dia juga tengah berusaha menahan jantungnya agar tidak copot atau terpental keluar. Detakannya terlalu kencang. Terlalu cepat. Tidak seperti detaknya yang biasa. Bahkan Yoongi yakin, jika Namjoon mendekat sedikit saja ke arahnya, mungkin pria yang lebih tinggi darinya beberapa centimeter itu akan dengan sangat jelas mendengarnya.
Tenangkan dirimu, Min Yoongi! Ini hanya makan siang bersama! Tidak lebih! Yoongi berseru dalam hati. Aneh! Padahal jika bertemu dengan Namjoon di cafe milik sepupunya, jantungnya tidak pernah berdetak secepat ini. Apakah karena hari ini Namjoon mengubah sedikit gaya berpakaiannya? Sweater yang biasa digunakannya –yang pernah membuat Yoongi berfikir sehangat apa jika dia dipeluk oleh Namjoon saat dia mengenakan sweater itu, kini berganti menjadi sebuah kemeja polos berwarna hitam. Celana khaki yang hampir setiap hari dia kenakan juga kini telah digantikan oleh Jeans berwarna biru pudar dengan beberapa sobekan dibagian lututnya.
Ataukah karena frame kacamatanya? Yoongi akui, Frame transparant baru Namjoon itu sukses membuatnya terlihat seperti eksekutif muda dengan berjuta pengalaman. Berjalan dengan rasa penuh percaya diri –setidaknya itulah dilihat Yoongi saat ini. Tetapi kalau boleh jujur, Yoongi lebih menyukai Namjoon yang hampir setiap pagi menikmati sarapan di cafe-nya. Namjoon yang biasa saja tetapi penuh dengan daya tariknya tersendiri.
Haaaaaaah...musim semi memang benar-benar musim yang cocok untuk jatuh cinta!
"...ngi...Yoongi!"
Lamunan Yoongi tiba-tiba saja terputus. Deret bangunan yang tadi seolah mengapit mereka, kini sudah tidak nampak lagi. Dihadapan Yoongi kini berdiri sebuah air mancur dengan patung ksatria di tengahnya dan Namjoon yang memandangnya dengan wajah khawatir.
"Ada apa? Apa kau tidak enak badan? Apa kau ingin beristirahat?"
"Tidak! Tidak! Maaf, tadi aku sedang memikirkan sesuatu, hehehe..." Jawab Yoongi sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Yoongi baru sadar kalau pergelangan tangan kanannya kini tengah digenggam oleh Namjoon. Tanpa sadar pipi Yoongi terasa panas dan jantungnya! Tuhan, Yoongi serasa seperti sedang berlari dengan kecepatan penuh.
Yoongi langsung menahan nafasnya ketika tiba-tiba saja Namjoon menyentuh dahinya dan tanpa sadar Yoongi juga memejamkan matanya, berusaha untuk fokus mengendalikan laju jantungnya yang kini makin tidak terkendali. Jika saja Yoongi tahu sejak awal kalau makan siang dengan Namjoon akan membuatnya memiliki resiko terkena serangan jantung lebih besar, dia sudah pasti akan menolaknya sejak awal. Tapi apalah akal sehat ketika hati sudah mulai berbicara?
"Kau tidak demam," kata Namjoon pelan. Yoongi perlahan membuka kedua matanya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah mimpi di siang hari bolong, "tentu saja aku tidak demam, aku baik-baik saja!" balas Yoongi dengan nada yang sedikit mengayun. Membuat si pemilik mata yang indah itu terkejut sendiri. Jika James –Jimin, sampai mendengarnya berbicara seperti ini, bisa habis dia digoda. Balasan Yoongi tadi membuat Namjoon tertawa, dan oh Tuhan! Jika Yoongi tidak memiliki harga diri yang setinggi langit, mungkin dia akan mulai merekam suara tawa itu di ponselnya agar bisa diputar ulang setiap malam menjelang tidurnya.
Memikirkan hal itu malah membuat pipi Yoongi makin terasa panas, dia yakin kini pipinya itu sudah berubah warna seperti kepiting yang direbus.
"Tunggu disini sebentar, ok!" Seru Namjoon dan tanpa menunggu jawaban dari Yoongi, langsung berlari ke tempat deretan kedai yang berjajar disana. Disini, di depan air mancur, Yoongi menunggu sambil berusaha mengendalikan laju jantungnya. Dari sudut matanya, dia dapat melihat Namjoon nampak asik berbincang dengan penjual ice cream. Senyumnya merekah dan sesekali dia menoleh ke arah Yoongi sambil memberikan senyum simpul yang nampak malu-malu. Helaian rambut Namjoon yang tertiup semilir angin, mengingatkan Yoongi pada musim panas.
Entah karena warna-warni bunga yang bermekaran di sudut-sudut kota, aroma cokelat berpadu dengan krim keju kental yang terbawa angin lembut, atau karena dentingan lembut piano berpadu dengan suara sexophone itu yang membuat apapun yang dilakukan oleh Namjoon nampak begitu indah hingga kadang membuatnya sulit sekali hanya untuk sekedar bernafas.
Tak lama, Namjoon kembali dengan dua cup ice cream. Pria berlesung pipi itu memberikan cup berisi ice cream vanila setelah terlebih dahulu mempersilahkan Yoongi memilih rasa yang dia sukai dan rasa strawberry kini tengah dinikmati oleh Namjoon. Keduanya kini duduk disebuah kursi tidak jauh dari air mancur dan kedai ice cream itu berada dengan sebuah meja kecil berada diantara mereka. Mereka menikmatinya dalam diam, namun anehnya tidak ada rasa canggung sama sekali, seperti keduanya telah lama saling mengenal. Hanya saja kadang diselingi dengan ketakutan bahwa jantung mereka akan keluar dari tempatnya karena berdetak terlalu keras.
"Aku dengar dari James, katanya, kau sedang mencari pekerjaan part-time ya?" Tanya Yoongi, berusaha untuk memulai percakapan. Namjoon yang baru saja menghabiskan ice cream-nya. Dia terdiam sejenak, memiringkan kepalanya ke kiri dan alisnya bertaut, "James?" Yoongi mengangguk, sebelah tangannya kini sibuk menopang dagunya sambil memandang Namjoon. Sedangkan yang dipandang malah sibuk memandangnya balik, masih dengan ekspresi yang sama.
"Ah...maaf, kalau tidak salah kau memanggilnya, Jimin." Kata Yoongi akhirnya.
"Ahhh... Park Jimin!" Ekspresi kebingungan Namjoon tadi mendadak hilang seketika setelah nama itu disebut, hanya saja kedua alisnya masih sedikit bertaut. "Apa saja yang diceritakan si kecil itu padamu?" Tanya Namjoon balik. Lagi-lagi lesung pipi itu sukses membuat lutut Yoongi terasa lemas. Untungnya dia sedang duduk saat ini, jadi tidak usah takut terlihat bodoh karena terjatuh tiba-tiba.
"Hey! Kalau James itu kecil, apa kabarnya denganku?!" Protes Yoongi.
Namjoon tertawa renyah, "Kalau kau itu bukan kecil, tapi imut!" Balas Namjoon.
BOOM! Pipi Yoongi mendadak seperti menggunakan blush on yang sering digunakan Belle, pelanggan setia di The Min's. Yoongi memang tidak terlalu tinggi untuk ukuran pria, namun baru kali ini ada yang menyebutnya imut. Terlebih lagi orang itu adalah Namjoon! Ini pasti mimpi! Teriak Yoongi dalam hati.
"YA! Aku ini pria! Tidak pantas disebut imut, tau!" Protes Yoongi lagi. Dihadapannya, Namjoon hanya tertawa kecil. "Tapi kau memang imut," bantah Namjoon, "lihat! Kau saja sampai tidak sadar sedang mengerucutkan bibirmu!" tambahnya lagi. Masih dengan tawa kecil, membuat lengkungan kecil di pipinya itu semakin nampak dan tanpa sadar membuat Yoongi makin deg-degan.
"Baiklah-baiklah! Sekarang sebaiknya kita kembali ke Les Bateliers, sudah waktunya makan siang." Potong Namjoon saat Yoongi masih saja sibuk protes soal imut atau tidak imutnya dia.
"Tapi bukankah kita harus memesan meja dulu kalau kita makan disana?" Tanya Yoongi polos. Yoongi agak malas untuk menunggu dua jam disana hanya agar mereka bisa mendapatkan meja. Meskipun makanan di Les Bateliers memang enak, dan mereka memang berencana untuk makan siang disana, tetapi sebenarnya Yoongi lebih memilih untuk makan di tempat lain daripada harus kelaparan.
"Jangan khawatir soal itu. Aku sudah reservasi lebih dulu." Jawab Namjoon bangga.
Yoongi memandangnya takjub, bola matanya seketika nampak membesar dan mulutnya setengah terbuka, "What? When? How?"
"It's a secret!" Goda Namjoon sambil mengedipkan sebelah matanya. Sesaat kemudian, dia menarik tangan Yoongi perlahan dan dengan jalan berbatu indah itu menjadi saksinya, tangan keduanya kini saling menggenggam.
.
.
ooOOoo
.
.
"Namjoon?!"
SHIT! Namjoon mengumpat pelan. Dia kenal suara itu. Suara menyebalkan itu adalah suara yang sehari-hari membuatnya ingin mengunci diri seharian di rumah. Suara menyebalkan itu pula yang membuatnya hampir tidak bisa pergi kencan dengan Yoongi karena pemiliknya telah sukses membuat Namjoon nyaris melakukan pembunuhan paling sadis dalam sejarah. Namjoon tengah berhitung di kepalanya, manakah yang lebih menguntungkan baginya, bergeming atau tak bergeming? Tetapi belum juga dia memutuskan, si pemilik suara itu kini telah berdiri tepat dihadapannya sambil memberikan senyum paling manis (baca: mengerikan) padanya.
"Ternyata ini alasanmu memilih untuk tidak menjemputku?"
Sepertinya lebih baik menghindar dan pura-pura tidak dengar saja, putus Namjoon akhirnya. Dia melengos, mencoba untuk buru-buru keluar dari kamar kecil. Dari semua daftar orang yang tidak ingin Namjoon temui hari ini, kenapa malah justru yang bertengger pada puncak daftar itu yang menyapanya, di kamar kecil pula, kan susah jika dia ingin melarikan diri, gerutunya dalam hati. Setelah keluar dari ruangan kecil itu, Namjoon kembali ke tempat duduknya sambil berdoa dalam hati gangguan tadi tidak akan datang menghampirinya.
Tetapi sepertinya Tuhan hari ini tidak sedang berpihak padanya, karena orang itu –masih dengan senyum menyebalkan andalannya, malah duduk tepat di sebelah mejanya. "Ah, rupanya kau ada kencan hari ini." Sapanya. Wajahnya mengarah kepada Namjoon, namun matanya lekat memandang Yoongi yang kini tengah bingung –meskipun bibirnya mengulaskan sebuah senyum canggung.
"Bukan urusanmu!" Desis Namjoon tepat di samping telinganya.
"Jadi ini sikapmu setelah sekian lama tidak bertemu dengan kakakmu, huh?" Balas si rambut cokelat, sama mendesisnya dengan Namjoon. Sedetik setelahnya, dia kembali menatap Yoongi dengan senyuman –yang sebenarnya santun, tetapi di mata Namjoon, senyuman itu adalah senyuman yang mengerikan. Baru saja Namjoon ingin membalasnya, dia sudah buru-buru memotongnya, "Apa kau tidak ingin mengenalkan teman kencanmu ini padaku?"
Namjoon akhirnya pasrah, menarik nafasnya dalam, lalu menghempaskannya perlahan. Here goes nothing, "Yoongi, ini Donghyuk, kakakku," kata Namjoon memperkenalkan keduanya.
"Ah...Yoongi!" seru Donghyuk setelah menjabat tangan Yoongi, sukses membuat pemilik nama yang dipanggilnya agak terkejut. "Jadi kau orang yang berhasil membuat adikku yang membosankan itu tidak bisa tidur tiap malam?"
"Hyung!"
"Pantas saja dia begitu tergila-gila, ternyata kau itu lumayan tampan." Gumam Donghyuk sambil mengelus-elus dagu dengan ibu jari dan telunjuknya. "Hmm...baiklah-baiklah, aku akan melihat sampai sejauh mana kau bisa bertahan," tambahnya lagi. Walaupun sebenarnya perkataan itu hanya untuk dirinya sendiri, Yoongi masih bisa mendengarnya. Bagaimana tidak? Pria berambut gimbal itu masih memandangnya dengan tatapan yang sedikit membuat Yoongi tidak nyaman. "Well, Namjoon is just too boring to spend your time with," kata Donghyuk dengan nada putus asa.
"Yah, apa boleh buat, anak muda jaman sekarang memang suka tantangan, sih!" tambahnya lagi. Tapi sedetik kemudian dia nampak sedang menahan rasa sakit, sambil menatap Namjoon dengan wajah yang seolah mengatakan, 'what? I just state the truth!'.
"Hyung! Jangan bersikap seperti itu pada temanku!" protes Namjoon mulai frustasi. Dia memandang Yoongi khawatir. Sementara Yoongi terlihat sedikit amused dengan cara adik-kakak ini bertukar rasa kasih sayang. Membuat Yoongi agak merindukan Jiyoung.
"Teman kencan, maksudmu?" ralat Donghyuk. Alisnya terangkat sebelah, menghakimi.
"Iya, iya, hyung Yoongi itu teman kencanku!" ralat Namjoon akhirnya. Setelah dia mengatakan itu dengan wajah yang sedikit memerah, akhirnya Donghyuk mengangkat kedua tangannya sambil bersiul, "Alright, alright! Aku tidak akan mengganggumu. Lagipula aku hanya numpang buang air kecil disini."
Mendengar pengakuan Donghyuk, Namjoon langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Entah berusaha menahan malu atau menahan diri untuk tidak menenggelamkan Donghyuk pada kanal yang ada tepat disebelah meja makan.
"Sampai jumpa saat makan malam nanti, adikku yang manis! Aku dan Hoseok akan menunggumu!" Teriak Donghyuk sambil berlalu. Membuat orang-orang yang ada disekitar mereka menoleh dan bergumam tentang betapa tidak tahu dirinya Donghyuk. Namjoon langsung pura-pura tidak mengenal orang yang masih melambaikan tangan itu ke arahnya. Dari sudut matanya, dia bisa melihat Yoongi melakukan hal yang sama.
.
.
ooOOoo
.
.
Enam jam terasa sebentar jika dilalui bersama dengan orang yang membuat duniamu terasa berbeda. Dunia yang dulu seolah hanya hitam dan putih, kini memiliki lebih banyak pilihan warna di dalamnya. Tempat yang awalnya abstrak, karena dia, jadi mulai terlihat bentuknya sedikit demi sedikit. Bahkan tempat yang penuh sesak pun seolah hanya menyisakan keduanya saja, diantara orang-orang yang asik dengan kesibukannya masing-masing.
Setidaknya, itulah yang dirasakan Namjoon dan Yoongi hari ini. Panjang namun juga singkat. Gugup namun menyenangkan. Nerve-wrecking but also exiting. Kini di saat waktu mereka untuk bersama sudah sampai di menit terakhir, keduanya tidak tahu bagaimana menolak keinginan hati untuk bisa terus bersama. Setidaknya, hanya untuk beberapa jam, tidak, beberapa menit lagi.
Tangan mereka saling menggenggam, seolah tidak ingin terpisah. Bibir mereka terangkat membentuk lengkungan bulan sabit yang indah. Dan ketika mata keduanya saling memandang, hati mereka saling memeluk dalam diam.
Namjoon menikmati saat ini, ketika dia dapat dengan bebas merekam wajah Yoongi yang terseyum sambil memandangnya lurus, tepat di bola matanya. Manik mata hitamnya, bulu mata panjangnya, senyuman itu! Ah, rasanya Namjoon butuh sesuatu yang lebih besar untuk disimpan dalam pikirannya. Jadi diam-diam, dia mendekatkan wajahnya ke arah pria dihadapannya, memiringkannya beberapa derajat sebelum mengecup bibir yang sedari tadi seolah menggodanya.
Kecupan itu singkat, namun sukses membuat keduanya melayang. Mata Yoongi yang terpejam, kini mulai membuka perlahan, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya dari Namjoon. Pipi Yoongi mulai memerah dan alih-alih mencubitnya gemas, Namjoon mengelusnya lembut sambil berusaha membawa Yoongi kembali menatapnya.
"Yoongi hyung, bolehkah aku melakukan ini lagi besok?" tanya Namjoon halus.
Yang ditanya hanya mengangguk sambil mencari kesungguhan dibalik tatapan lembut Namjoon.
"Bolehkah aku melakukannya setiap hari?" tanya Namjoon lagi dan dibalas dengan anggukan yang sama.
"Bolehkah aku melakukannya setiap hari senin?"
Another nod.
"Selasa?"
Nod.
"Rabu?"
Anggukan lagi.
"Kamis?"
Yoongi menjawabnya masih dengan anggukan berseling dengan senyuman.
"Jumat?"
Yoongi menatapnya, mulai kesal. Tetapi masih mengangguk.
"Bahkan sabtu dan minggu juga?" tanya Namjoon lagi, "tanpa hari libur?"
"Dork!" Balas Yoongi sambil memukul dada Namjoon pelan. Tentu saja Yoongi akan memberikan kecupan untuknya setiap hari jika Namjoon memintanya. Ya, jika Namjoon memintanya. Harga dirinya terlalu tinggi bahkan hanya untuk mencium Namjoon lebih dulu.
Namjoon sumringah tak kuasa menahan senyum yang kini memenuhi wajahnya. Dipandangnya Yoongi masih dengan tatapan yang lembut sebelum akhirnya bertanya, "kalau begitu, maukah kau menghabiskan waktumu denganku di minggu-minggu selanjutnya sampai waktu yang tidak ditentukan?"
Kali ini Yoongi tidak membalasnya dengan anggukan.
Kecupan ringan tepat di bibir Namjoon dan sebuah pelukan erat.
Sepertinya minggu-minggu mereka selanjutnya akan dipenuhi dengan campuran antara hati yang berdebar, senyum yang tak kunjung hilang dan rasa cinta yang sedikit demi sedikit datang.
.
.
.
...Fin
I know it's been a while since I post chapter 2, but I've been so busy and the writer block won't just go away. This is not the ending I intended to do at first, but yeah. Apologize for a very late update and enjoy.
Feedback is very much appreciated ^_^
Please do support NamGi / SugaMon more in the future~
See you on the next project!
Au revoir,
Zen.
