[Remake] Posesif

Present by

©Dyhantaro

Cast : Byun Baekhyun as Wu Baekhyun

Huang Zitao as Huang Zitao

Kris as Wu Yifan

Park Chanyeol as Park Chanyeol

Summary : Seorang gadis yang terjebak dengan dunia yang mulanya begitu di cintainya menjadi begitu di bencinya. Dunia yang membuatnya hampir kehilangan segalanya. Dunia glamour yang penuh sesak yang membuatnya muak dan ingin segera bebas. Bisakah dirinya bebas?

Warning : Genderswitch [gs]; EXO belongs to SMent; Posesif's novels belong to Christina Juzwar.

.

.

.

Happy Reading

Don't Forget To RNR Juseyo

.

.

.

.

.

Previously Chapter

"Wu Baekhyun neo jinjja?! Kau kelaparan atau kurang gizi jinjja!"

"Eomma~ tentu saja aku manusia, mana ada monster yang secantik dan seimut aku"

"Aniyo, kami ke mall, jalan-jalan, cuc imata, refreshing"

"Production House itu meminta kamu secara personal pada Mommy. Dengan sikapmu yang seperti ini kamu mempermalukan Mommy"

"Ini semua karena pesan dari Jung 'Sialan' Daehyun tadi"

"Hahah jangan gila Lu, bukannya dapat namjachingu tapi malah dikira tidak waras. Disana

yeoja semua bodoh"

"Nuguya? Kekasih hitammu itu? Kkamjong?"

"Lihat, kamu seperti tak memiliki pinggul! Memangnya kamu namja huh? Yeoja harus memiliki pinggul!"

"Chef Suho, pastanya sudah siap"

"Ayolah. Jjajangmyeon itu lezat, Daddy saja kangen"

"Chanlie"

.

.

.

Posesif

Setiap kata menimbulkanluka

.

.

.

Chapter 2: The Drama is Started

Zitao menunggu Baekhyun dengan tidak sabaran. Kakinya terus melangkah dari satu sudut ke sudut lainnya dengan gelisah. Sesekali ia menatap layar ponselnya. Ia mengangkat kepalanya begitu mendegar deru mesin mobil dari arah depan. Zitao melangkah menuju pintu depan. Ia melihat daun pintu tersebut terbuka dan muncullah Baekhyun. Zitao segera melontarkan pertanyaan kepada putrinya dengan kedua tangan terlipat rapi di dadanya.

"Kenapa tak bilang jika kau berkunjung ke cafe Wu Baekhyun?!"

Langkah Baekhyun terhenti. Dirinya paling malas jika ibunya langsung bertanya tanpa basi-basi terlebih dahulu. Dan menurutnya pertanyaan itu tak penting untuk di jawab.

"Waeyo? Mommy ingin titip sesuatu?" tanya Baekhyun malas. Ia melepas sandal karetnya dan menggantinya dengan sandal rumah berbulu lembut miliknya. Baekhyun dapat melihat sorot mata ibunya menatapnya gusar.

"Seharusnya kau langsung pulang kerumah Baekhyun" sahun Zitao ketus. Tubuhnya semakin terlihat kaku, dagunya terangkat dengan angkuhnya.

"Aku hanya mampir dan sekaligus bertemu Daddy" sahut Baekhyun cepat. Raut wajah Zitao semakin kaku dengan mulut terkatup rapat. Ia memang tidak begitu suka jika putrinya bertemu dengan mantan suaminya itu. Bagi Zitao, Yifan terlalu memanjakan Baekhyun, dan pernikahan mereka yang tak berjalan dengan mulus karena keduanya yang selalu bersitegang.

"Memangnya tak ada hari lain? Masih banyak jadwal casting dan kontrak yang harus kita bicarakan. Begitu banyak hal yang harus di dahulukan Wu Baekhyun" ujar Zitao dengan nada dingin dan menusuk "Jika kamu ingin bertemu ayahmu itu, kamu harus mendapatkan izin dari Mommy"

Baekhyun mendesah kasar, rasanya telinganya sudah begitu panas mendengar setiap kata yang keluar dari bibir ibunya. "Aku sudah jarang bertermu Daddy, jika sempat kenapa tidak? Aku bukan anak kecil lagi Mom! Untuk apa perlu izin Mommy untuk bertemu Daddy-ku sendiri. Lagipula, untuk masalah kontrak bisa kuatasi sendiri"

Zitao menatap tajam putri semata wayangnya itu "Selama kamu berada dibawah naungan Mommy, kamu tak perlu repot-repot mengurusnya sendiri. Mommy tak masalah untuk direpotkan, ini semua untuk masa depanmu"

Baekhyun melipat tangannya di depan dada sambil menggerutu "Yakin jika semua itu untuk masa depanku?"

Zitao tersenyum sinis mendengar ucapan putrinya itu. Ia berjalan menuju ruang tengah dimana di atas meja tersebut terdapat begitu banyak tumpukkan berkas yang di kerjakannya "Kamu tanggung jawab Mommy Wu Baekhyun. Mommy dan Daddy sudah berpisah, ada beberapa hal yang tak kita ketahui dan harus di waspadai."

Bibir Baekhyun terkatup rapat hingga giginya bergemelutuk menahan amarahnya. Zitao sendiri mulai membicarakan show-show yang akan dikerjakan oleh Baekhyun, sedangkan tangannya sibuk mencatat dengan lincah. Baekhyun gerah melihat tumpukkan kertas kontrak itu, belum lagi agenda yang sudah di jadwalkan oleh ibunya.

Baekhyun tahu apa isinya, setumpuk rencana masa depan untuk dirinya yang mungkin sudah terrencana dengan rapi hingga 2025. Ibunya memang selalu membuat rencana tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengannya. Inilah yang terkadang –coret selalu membuat Baekhyun naik pitam.

Selama menjelaskan agendanya, mata Baekhyun mengarah pada satu titik. Lama kelamaan suara ibunya seperti dengungan karena kini pikirannya dipenuhi oleh sosok gagah yang begitu menawan –Chanlie. Baekhyun kecewa karena dia belum mengetahui nama asli dari sosok tersebut dan juga mereka tak sempat mengobrol banyak. Ia juga tak sempat untuk menggorek informasi dari Suho Ajjushi pula. 'Dasarnya dia itu iseng atau menyebalkan huh? Pertemuan pertama saja sudah berani seperti itu? Sok asyik sekali!' pikir Baekhyun. Diam-diam senyum manisnya terkembang. 'Dia tampan dan cool. Ah ya, dia juga gagah, ditambah lagi dia seorang chef. Perpaduaan yang benar-benar menyita perhatiaan dan membuat penasaran.'

"Wu Baekhyun!" teriakkan ibunya membuyarkan lamunan indahnya terhadap sosok lelaki tampan tersebut. Tanpa mengangkat kepalanya, ujung matanya melirik ibunya yang sedang menatapnya. "Jangan melamun terus. Besok sepulang sekolah pergilah ke butik milik Kim Heechul. Dia ingin mengadakan fashion show dan ingin memakaimu untuk opening serta closing-nya. Besok adalah hari untuk fitting-nya. Lalu kamu pergi ke kantor, akan ada casting untuk produk make up. Turuti semua ucapan Mommy, Mommy tak ingin mendengar penolakan darimu!"

Mata Baekhyun menyipit penuh dengan berbagai macam perasaan, ancaman ibunya sungguh membuatnya muak. Tapi dirinya hanya bisa menelan bulat-bulat semua kekesalannya. Baekhyun baru bisa pergi setelah ibunya menerima sebuah telfon yang berdering nyaring. Daripada kepalanya meledak, lebih baik dia bersantai di dalam kamar.

.

.

.

Keesokkan harinya, seperti biasa Luhan tampak rusuh memasuki ruang kelas. Tak dipedulikannya teriakkan teman-teman sekelasnya yang menggerutu karena tingkahnya. Ampun, cantik-cantik tapi terlihat seperti rusa liar –ups!

"Santai Lu, pagi-pagi sudah bikin rusuh aja" gerutu salah satu seorang temannya yang sedang duduk bergerombol di daerah meja depan.

"Ah, berisik!" celetuk Luhan dengan acuh.

Setelah meletakkan tasnya, Luhan baru menyadari bahwa sahabatnya Baekhyun terlihat asyik membaca sebuah buku. Meski sahabatnya itu seorang model yang parasnya terpampang di berbagai majalah maupun pada panggung peragaan busana, Luhan tahu betul jika Baekhyun suka membaca buku. Tapi yang membuat Luhan binggung adalah ketika dirinya menelik buku apa yang sedang dibaca oleh sahabatnya nyatanya bukanlah sebuah buku pelajaran maupun novel.

"Eh Baek, sedang baca apa?" tanya Luhan penasaran. Kepalanya sampai menunduk-nunduk mendekati meja demi mengintip cover-nya.

Baekhyun menutup bukunya dan membacakan judul yang terpampang di depan sampulnya "Seribu Satu Cara Mengajar Anak TK". Baekhyun menyodorkan bukunya pada Luhan agar dapat melihatnya dengan jelas. Luhan, menyingkirkan buku dari hadapannya "Kau sudah tidak waras Baek! Sekarang kau ingin mengajar anak kecil? Pagi ini kita ada test matematika Wu Baekhyun!"

Dengan santainya Baekhyun kembali membaca bukunya kembali "Aku sudah belajar Lu"

Luhan duduk disebelah Baekhyun "Kalau begitu ajari aku Baekki sayang~"

Baekhyun melirik malas dari balik bukunya "Memang aku songsaenim? Minta saja pada Cho-ssaem sana"

"Aish pelit sekali kau Baek" bibirnya mengerucut lucu. Muka memelas Luhan tampak menyita perhatian Baekhyun, ia jadi tidak tega melihat sahabatnya lesu seperti itu. Ia pun menutup bukunya dan mencolek pipi Luhan "Berikan padaku bukunya, tapi awas jangan lemot" Luhan segera bersorak riang dan mengecupi pipi Baekhyun dengan bertubi-tubi.

"YA! Kau ingin belajar atau tidak Xi Luhan!" Luhan hanya menampilkan cengirannya. Ia mulai tampak serius mendengarkan dengan seksama. Baekhyun berusaha memasukkan semua materi pada otak Luhan yang bebal. Ketika Luhan sibuk mengerjakan dengan mulut komat-kamit, ponsel Baaekhyun bergetar.

Dahi Baekhyun mengerut melihat nomor yang tertera di layar ponselnya, nomor yang tak di kenalnya dan ia paling tak suka jika ada nomor asing yang masuk. 'Biarkan saja, paling masalah job lagi. Biar mereka menelfon Mommy saja' pikirnya. Baekhyun pun kembali meletakkan ponselnya dengan tak peduli.

Tetapi benda persegi itu kembali bergetar, bersamaan dengan bel sekolah yang berbunyi nyaring. Masih dengan nomor yang sama, penelfon yang keras kepala ini tak urung membuat Baekhyun dilanda rasa penasaran. Luhan melirik sekilas saat merasakan getaran pada meja mereka. Begitu Baekhyun hendak mengangkatnya, ternyata Cho-ssaem sudah berdiri di depan kelas. Baekhyun terpaksa mengurungkan niatnya, ia me-reject panggilan tersebut dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Nuguya Baek? Your Mom?" bisik Luhan dengan penasaran. Baekhyun hanya mengangkat bahu, tanda tak tahu.

"Lalu siapa?" rupanya Luhan masih saja penasaran

Baekhyun melotot gemas ke arah sahabatnya "Molla, nomornya saja asing untukku"

"Xi Luhan, Wu Baekhyun jika ingin mengobrol silahkan keluar dari kelas saya, sebentar lagi ujian akan saya mulai" teguran Cho-ssaem, guru matematika mereka benar-benar mujarab adanya. Nyatanya Luhan yang notabene-nya tak bisa diam sekarang malah diam seribu bahasa. Ia dan Baekhyun hanya bisa melayang an tatapan saling menyalahkan satu sama lain.

.

.

.

"Ah Baek saat pulang sekolah nanti temani aku ke supermarket ya! Eomma minta di belikan beberapa buah-buahan. Malas sebenarnya, tapi Eomma memaksa jika buah-buahannya dibutuhkan untuk malam ini." Ucap Luhan pada Baekhyun sambil menggorek isi lokernya mencari buku cetaknya untuk pelajaran selanjutnya.

"Untuk apa?" sahut Baekhyun dari loker sebelah.

"Untuk membuat kue, Eomma sedang rajin sekarang"

Baekhyun tertawa "Wah aku bersedia sekali dipanggil untuk mencicipi kue-kue itu, aku bisa menjadi buzzer yang pas untuk mencari pelanggan"

Luhan hanya tertawa garing "Untuk masalah cicip-mencicipi, Eomma sudah memiliki putrinya yang manis ini" ujar Luhan sambil mengibaskan surai karamelnya "Jadi, bisa temani aku kan Baek?"

Baru saja Baekhyun hendak menjawab dirinya teringat perkataan ibunya kemarin "Ah aku tak bisa Lu, aku harus ke butik Kim Heechul sehabis pulang sekolah aish" bibir Baekhyun melengkung kebawah, kecewa karena tak bisa menemani sahabatnya karna urusan fitting baju.

"Memangnya kenapa Baek? Kau ingin berbelanja?" kini giliran Baekhyun yang tertawa garing menanggapi ucapan Luhan yang tampak menyindirnya. "Sungguh kau lucu sekali Lu, lucu pakai banget sampai notoknya kebangetan"

Luhan ikut terkekeh garing "Ada casting lagi?" tanya Luhan sambil menyisir surai miliknya.

Baekhyun menggeleng lemah, bibirnya masih mengerucut lucu "Ani, aku harus fitting untuk fashion show nanti.

"Kapan acaranya Baek?"

"Minggu dan sedari pukul enam harus sudah stand by"

"Wow! Acaranya pasti besar-besaran Baek"

Baekhyun mendengus kesal "Omong kosong, hanya perayaan ulang tahun saja sampai seperti itu"

Luhan menggeleng sambil berdecak "Turut berduka cita untukmu Baek. Karna hari minggu nanti aku akan berlabuh di pulau kapas hingga siang, dan sore harinya aku akan hunting foto"

Baekhyun menatap sahabatnya –Luhan penuh rasa iri. Hatinya mencelos mendengar rencana Luhan yang tampak mengasyikkan dan ia selalu berfikir kapan dirinya bisa melakukan kegiatan layaknya remaja normal. Luhan memang baru dalam dunia fotografi, ia sering memamerkan kamera DSLR barunya, kado ulang tahun dari kedua orang tuanya.

Ketika Luhan menceritakan hal ini dengan mata berbinar-binar kepadanya dan Kyungsoo, ia hanya bisa menatap miris dan sedih. Ia jadi mengingat akan ulang tahunnya sendiri. Ulang tahun yang tak pernah dirayakan oleh Mommy-nya, yang notabene-nya ibunya yang selalu berada di sampingnya. Maupun Daddy-nya, yang hanya bisa mengucapkan melalui telfon atau video call, dan mengirimkan hadia-hadiahnya. Namun hadiah-hadiah tersebut tampak tak berarti bagi dirinya. Baekhyun tetap merasa hampa. Ia ingin merasakan kehadiran Daddy-nya dan ia ingin lebih di sayangi oleh Mommy-nya.

Baekhyun terkenang akan ulang tahunnya saat menginjak umur lima belas tahun–dua tahun lalu. Bukannya malah merayakannya, Baekhyun malah di suruh bekerja oleh ibunya tanpa memperdulikan bahwa hari itu adalah hari yang istimewah baginya. Meski ia telah memberitahu sang ibu, namun tetap tak digubris olehnya.

Diam-diam Baekhyun menangis di dalam studio pemotretan setelah ia menyelesaikan pekerjaannya untuk majalah remaja hingga malam hari. Tak ada kue ulang tahun, tak ada kado, tak ada ucapan selamat, dan tak ada perayaan. Ulang tahunnya terasa hambar dan menyedihkan. Beruntunglah dirinya telah memiliki Luhan dan Kyungsoo saat itu yang menyelamatkan dirinya dan juga hatinya.

Sebuah pertanyaan yang selalu melayang-layang dalam benak Baekhyun. Sampai kapan ibunya akan menyadarinya?

Jawabannya hanya dua. Ibunya pasti akan sadar tapi entah kapan itu, atau ia tak akan menyadarinya sama sekali karena egonya yang setinggi langit ketujuh.

.

.

.

Jarum jam hampir menunjukkan pukul enam, namun Star Light Entertainment masih terlihat ramai. Baekhyun memasuki lobby dengan langkah gontai. Setelah dirinya melakukan fitting di daerah Myeondong cukup lama, tempat butik milik Kim Heechul berada. Tetapi itu cukup menguras tenaganya, bagaimana tidak? Enam baju itu sangat banyak untuk ukuran show sekecil itu.

Baekhyun sempat protes pada sang ibu melalui via suara, tapi seperti yang sudah-sudah, keberatan Baekhyun untuk berjalan di runaway dengan membawakan enam baju tak digubrisnya. Karena telah ada hitam di atas putih dengan pihak Kim Heechul membuat Baekhyun tak bisa berkutik.

Jika dirinya tidak ingat tempat, mungkin sedari tadi ia sudah berteriak dan bersumpah serapah. Namun untuk kesekian kalinya, ia tak bisa berbuat apa-apa karena dirinya telah terikat oleh kontrak –sialan itu. Ia pun berjanji pada dirinya, bahwa ia akan segera membicarakan hal ini pada sang ibu. 'Gila saja dia harus membawakan enam baju?! Empat saja sudah membuatnya pegal-pegal, ini malah enam? Mommy memang ingin membuatku menjadi robot!' protes Baekhyun dalam hati.

Baekhyun melangkah menuju lift yang masih tertutup tersebut. Baekhyun telah mengganti seragamnya dengan pakaian santai ala kadarnya, celana pendek berwarna putih dan kaus longgar bermotif beruang berwana merah muda, bersama dengan sandal karet kesayangannya yang berwarna merah muda pula.

Sejujurnya beginilah gaya Baekhyun yang sebenarnya, santai dan simple. Ia selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk lepas dari pakaian glamour dan make up –menyebalkan itu jika sedang tak bersama ibunya. Jangan harap dirinya dapat berpenampilan seperti ini jika sang ibu berada tepat di sampingnya. Sang ibu mengharuskan dirinya untuk selalu tampil maksimal setiap saat. Wajah dengan riasan full make up, high heels minimal tujuh centi, dan pakaian keren nan modis. Melelahkan bukan?

Saat pintu lift tersebut terbuka, segera dilangkahkannya kakinya masuk dan bergegas menuju lantai dimana tempat untuk casting-nya berlangsung. Alasan terbesar dia mampir kemari karena perintah casting dari sang ibu dan mengambil honor kerja kerasnya. Untuk pembagian honor menjadi cerita yang berbeda lagi dan selalu membuat Baekhyun gondok sejadi-jadinya.

Untuk honor yang ia terima di usianya kini terbilang cukup besar, dan dijamin yang akan memegang serta menyimpannya adalah ibunya dengan alasan super klasik, untuk ditabung. Sedangkan untuk honor yang kecil dapat Baekhyun pegang untuk tambahan uang jajan. Aturan ini sudah pasti dibuat oleh yang ibu sejak Baekhyun menginjak sekolah menengah atas. Pembagian yang sangat 'adil' bukan?

Baekhyun bersandar pada dinding lift tanpa memperhatikan orang di dalamnya. Ia baru tersadar ketika keheningan menyapanya, ternyata dalam lift ini hanya terdapat dirinya dan seorang lelaki dengan tinggi yang menjulang.

"Ah biar ku tebak, merah muda adalah warna kesukaan mu"

Baekhyun mengangkat wajahnya menatap lelaki yang berdiri di sudut lift dengan kening berkerut. Lelaki itu berada dua langkah didepannya dan ia cukup yakin jika sosok itu berbicara dengan dirinya, karena memang hanya mereka berdua yang berada dalam lift. Baekhyun mengamati sosok lelaki itu dengan seksama, dirinya merasa tak asing dengan sosok tersebut. Lelaki itu menggunakan snapback sehingga ia tak dapat melihat wajahnya dengan jelas.

Ketika lelaki itu menoleh, matanya membelalak selebar-lebarnya. Ia dapat melihat dengan jelas keseluruhan wajah lelaki itu, dan memang benar ia kenal dengan sosok itu.

"Sedang apa kau disini?" tanya Baekhyun dengan suara sedikit melengking. Sosok itu –Chanlie tertawa. Satu tangannya ia masukkan kedalam saku jinsnnya, sedangkan tangan satu lagi membawa satu kantung plastik besar. Chanlie menggunakan kemeja merah maroon yang tak terkancing seluruhnya dengan kaus berwana putih di dalamnya. Chanlie tampak lebih santai dibanding dengan pertemuan mereka pertama kali.

"Mengantarkan pesanan"

"Untuk siapa?"

"Untuk Eommamu"

Baekhyun hanya ber'Oh' ria tanpa bertanya apa-apa lagi. Siapa lagi yang akan memesan jika bukan ibunya yang terkadang memesan makanan ke cafe jika ia tak sempat makan dan harus bertemu dengan banyak klien di kantor.

"Aku baru tahu jika kau merangkap menjadi delivery boy" ujar Baekhyun iseng

Chanlie hanya mengedikkan bahunya cuek "Chef Suho yang meminta, cafe sedang ramai saat ini. Lagi pula, sekarang sedang jam istirahatku jadi sekalian saja"

"Memangnya tak ada kerjaan lain sampai harus mengantarkan makanan ibuku? Santai sekali" tapi hal itu tak membuat Baekhyun berhenti bertanya.

"Iya, asyik sekali"

Jawaban Chanlie benar-benar membuat Baekhyun seperti kena batunya. Ia jadi malu sendiri. Kemudian Chanlie berkata lagi "Asyik lagi, sekalian jalan-jalan. Tak masalah walaupun harus mengantarkan pesanan ibumu, siapa tahu bisa bertemu dengan putrinya..."

Baekhyun hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Chanlie. 'Ige mwoya? Apa dia sedang... mencoba menggodanya?' seketika wajah Baekhyun memerah. Baekhyun hendak membalas...

Ting~

Pintu lift telah terbuka. Mereka melangkah keluar secara bersamaan dan membuat keduanya –ditujukan untuk Baekhyun menjadi canggung. Chanlie dengan gentle-nya mengalah dan membiarkan Baekhyun untuk keluar terlebih dahulu. Baekhyun menanggapi dengan tersenyum gugup.

'Aish kenapa harus gugup seperti ini pula?!' omel Baekhyun dalam hati. Baekhyun berjalan di depan Chanlie dan mendengar lelaki itu bersuara "Kau tak pernah mengangkat telfon dari nomor asing ya?"

Baekhyun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Chanlie dengan tatapan keheranan. Otaknya dengan cepat bergerak mengingat kejadian dimana ponselnya berdering nyaring pagi tadi "Kau yang menelfonku pagi tadi?"

Chanlie berjalan santai melewati Baekhyun begitu saja. Bukannya menjawab pertanyaan Baekhyun, dia malah menyapa Yoobi, sekertaris ibunya yang matanya langsung tak berkedip begitu melihat sosok tampan Chanlie. Cepat-cepat Baekhyun mendekati Chanlie tanpa menghiraukan sapaan dari sekertaris ibunya

"Benar bukan jika kau yang menelfonku pagi tadi?" tanya Baekhyun memaksa

Chanlie hanya melirik Baekhyun tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Yoobi menerima makanan yang disodorkan oleh Chanlie dengan senyum lebar menandakan bahwa Yoobi begitu kegirangan karena basa-basi yang di lontarkan oleh Chanlie. 'Entah lelaki ini nyatanya playboy atau tukang tebar pesona karena dirinya yang tampan dari ujung rambut sampai ujunga kaki atau… memang dia dari sananya sudah ramah?'

Ketika sibuk dengan pikirannya sendiri, Baekhyun tersadar jika Chanlie sudah tidak ada disisinya lagi. Dengan cuek Chanlie melenggang pergi meninggalkan Baekhyun dan menuju lift. Terpaksa Baekhyun mengejarnya kembali.

"Aish serius Dobbi! Malhaebwa!" seru Baekhyun gemas

Chanlie yang telah berada di depan lift menoleh ke arah Baekhyun dan tersenyum lembut "Ne, aku yang menelfonmu" lalu Chanlie menekan tombol lift.

"Kau tau darimana nomorku Dobbi?" tanya Baekhyun penasaran.

"Mian Dobbi?"

"Itu panggilanku untukmu, aku kan tak tahu siapa namamu"

"Bukankah waktu itu aku sudah menyebutkan namaku" jawab Chanlie santai.

"YA! Waktu itu kau berbohong, nyatanya kau tertawa saat itu" ujar Baekhyun tak terima

"Mianhae, mari kita ulang perkenalan kita. Annyeong Park Chanyeol imnida, bekerja sebagai pasta chef di Claro de Luna Café, empat bulan berjalan. Umur dua puluh tahun. Dan Chanlie adalah nama Chinaku"

Baekhyun terkesima atas perkenalan singkat seorang Park Chanyeol, akhirnya tabir sosok tampan tersebut sedikit terbuka. "Jadi darimana kau mendapatkan nomorku Dobbi?"

"Ya kenapa kau masih memanggilku Dobbi?" seru Chanyeol tak terima

"Aku lebih suka panggilan itu. Dan jawab saja pertanyaanku" sahut Baekhyun ketus

"Chef Suho" Chanyeol memasuki lift dan perlahan pintu itu tertutup. Jawaban singkat barusan berdampak yang cukup besar bagi Baekhyun sendiri. Ia masih berdiri mematung berhadapan dengan potret dirinya disana.

'MWORAGO? Suho Ahjussi?' Baekhyun berkacak pinggang dengan perasaan kesal . 'Aish Suho Ahjussi kenapa bisa-bisanya memberitahunya?! Awas saja jika bertemu' gerutu Baekhyun dalam hati. Ia memutar tubuhnya dan melangkah kembali menuju meja Yoobi. Sekertaris ibunya itu memberitahunya dimana ruangan untuk tempat casting –sialan untuk iklan make up tersebut.

Beruntunglah dirinya mendapatkan urutan pertama untuk melakukan tes foto, baik wajah maupun seluruh tubuh. Baekhyun juga harus melakukan tes kamera dengan mengucapkan beberapa kalimat andalan Tony Moly. Baekhyun tak dapat fokus dalam mengerjakannya. Ini semua karena Park 'Dobbi' Chanyeol. Dirinya sampai harus mengulang sampai tiga kali berturut-turut. Baekhyun yang sudah tidak sabar untuk segera menyudahi langsung bergegas pergi dari Star Light Entertainment dan melenggang menuju café ayahnya.

.

.

.

"Ah, jadi dia menelfonmu pagi tadi?" ujar Suho santai dengan asyik mencatat pada selembar kertas putih. Baekhyun yang duduk tepat dihapannya dibuat bertambah gemas. 'Tadi Dobbi terlihat menyembunyikan sesuatu, sekarang Suho Ahjussi juga ikutan. Jangan-jangan mereka bersekongkol, tsk menyebalkan!'

"Ahjussi!" suara lengkingan Baekhyun membuat beberapa staf yang sedang sibuk dalam dapur seketika menatap kearahnya. "Aku serius bertanya Ahjussi" Baekhyun mengecilkan suaranya karena malu. Syukurlah tidak ada tanda-tanda kehadiran Chanyeol di dapur, bisa mati berdiri dirinya karena malu.

Suho tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku Baekhyun. Dirinya lalu menatap Baekhyun penuh dengan kasih sayang "Sepertinya kamu tak keberatan"

"Aku belum berbicara apa-apa, jangan sok cenayang Ahjussi tsk" Baekhyun kesal sekaligus malu, ia hanya memutar-mutar pensil milik Suho.

"Malhaebwa… ceritakan pada Ahjussi, biasanya kamu selalu cerita"

"Panggilan itu tak ku angkat. Nomornya asing"

"Oh…. Jadi belum ada cerita sama sekali, sayang sekali. Ahjussi mengira akan mendengar cerita yang panjang darimu"

Baekhyun semakin cemberut karena Suho menggodanya terus-menerus "Seharusnya Ahjussi yang cerita bagaimana bisa nomorku sampai di tangan si Dobbi. Sudah pasti ini ulah Suho Ahjussi., lagi pula Dobbi juga bilang jika Ahjussi yang memberikannya."

"Huwa kamu sudah memiliki panggilan sayang untukknya" seketika Baekhyun langsung merona atas godaan barusan. Sesaat Suho meninggalkan Baekhyun untuk berbicara dengan salah satu staf dapurnya. Kemudian ia melepas celemeknya dan mengajak Baekhyun keluar. Mereka pergi ke taman belakang, tempat dimana Baekhyun pertama kali bertemu dengan Chanyeol. Suho duduk berdampingan dengan Baekhyun di dalam gazebo itu.

"Chanyeol yang langsung meminta nomor ponselmu pada Ahjussi" jelas Suho.

Benarkan dugaannya. Baekhyun menggerutu dengan bibir mengerucut "Dia meminta langsung pada Ahjussi? Memangnya dia berani dengan Ahjussi?"

Suho tertawa kembali mendengar gerutuan Baekhyun "Tentu saja, nyatanya Chanyeol dengan percaya dirinya meminta nomor ponselmu langsung pada Ahjussi"

Walaupun Baekhyun sedang dalam posisi duduk dirinya tetap berkacak pinggang mendengar jawaban Suho "Lalu, kenapa dengan mudahnya Ahjussi memberikan nomor ponselku? Jangan-jangan dia memberikan ramuan rahasia supaya Ahjussi bisa luluh. Biasanya Ahjussi sendiri yang paling ketat masalah namja jika menyangkut diriku"

"Hahahah jeongmal? Menurut Ahjussi biasa saja"

"Nan jeongmal Ahjussi! Ahjussi tidak ingat dulu ketika Kim Jongdae mendekatiku huh?" Baekhyun mengingatkan Suho yang membuat keningnya berkerut –pura-pura berpikir. Baekhyun berdecak sebal "Demi Tuhan itu baru satu tahun yang lalu Ahjussi! Pikun sekali"

Raut wajah Suho berubah cerah. Senyumnya merebak "Ah, Ahjussi ingat! Si kotak kardus itu, benar?"

Mau tak mau membuat Baekhyun tertawa ketika mendengar nama Jongdae diganti menjadi Kotak Kardus oleh Suho. Sebenarnya satu tahun yang lalu, Baekhyun berkenalan dengan seorang namja yang seumurannya. Namanya Kim Jongdae. Awal perkenalan mereka ketika Baekhyun hendak syuting sebuah iklan produk permen keluaran terbaru dari -. Pemeran utamanya terdiri dari tiga orang, Baekhyun, Yoojung, yang merupakan gadis berumur sepuluh tahun yang berperan menjadi adiknya, serta Jongdae. Namja berwajah kotak dengan suara merdu yang melengking. Dia baru debut sebagai seorang penyanyi solo, Titik!

Pertama kali berkenalan Jongdae terlihat masih malu-malu, tapi saat syuting telah berjalan sampai malam dia sudah berani meminta nomor ponselnya. Karena melihat Jongdae orang yang ramah dan pemalu, Baekhyun dengan baik hatinya memberikan nomor ponselnya secara suka rela. Toh, dirinya suka berteman dengan siapa saja, asal masih punya urat malu, tidak seperti Jung Daehyun.

Sayangnya meskipun Jongdae pemalu, ternyata dia menyimpan rasa suka pada Baekhyun. Karna terlalu sukanya pada Baekhyun, dia bahkan terus mengikuti kemana Baekhyun pergi. Bahkan suatu ketika ia pernah mendatangi Baekhyun ke Claro de Luna Café. Dan disanalah pertama kalinya Suho Ahjussi bertemu dengan Jongdae. Karena Baekhyun tidak bersedia untuk bertemu dirinya, Jongdae yang frustasi bersikukeuh untuk tetap tinggal disana.

Namun semua berakhir buruk karena Jongdae yang di usir oleh Suho yang sedang marah karena tingkah kekanakannya.

"Pulanglah…. Siapa namamu tadi?"

"Kim Jongdae"

"Ah ya Jongdak pulanglah. Jangan sia-siakan waktumu untuk hal tak berguna"

"Nama saya Jongdae bukan Jongdak" Dengan keras kepalanya ia tak menggubris perkataan Suho "Saya tetap ingin bertemu Baekhyun, jika perlu saya akan menginap disini!"

Dengan suara menyalak Suho berseru "Jongdae pulang! Jangan sampai saya menyuruh orang untuk mengusirmu. Sudah cukup kamu mempermalukan diri kamu sendiri"

Akhirnya, Jongdae pun pasrah dan melangkah lemas meninggalkan café. Jika di ingat-ingat lucu juga, tapi juga mengenaskan.

"Anak yang baik, tapi mirisnya dia begitu tergila-gila denganmu, sampai memelas seperti itu. Rela melakukan apa saja. Jangan-jangan nanti dia akan berbuat konyol, padahal mukanya sudah mulai di kenal" Suho mengenang masa itu "Ahjussi harus tegas padanya, jika tidak kamu akan di ganggu terus olehnya. Bukan hanya menganggu, bisa-bisa sampai naik atap hanya untuk bertemu kamu. Yang ada nantinya café malah heboh dengan berita Seorang penyanyi pendatang baru rela memanjat demi bertemu pujaan hatinya"

Baekhyun terkikik geli. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan "Lalu kenapa sekarang dengan mudahnya Ahjussi memberikan izin pada Dobbi?"

Suho mengerling nakal pada Baekhyun "Karna Ahjussi tahu jika dia anak yang baik"

.

.

.

Sudah bisa dipastikan, dengan mudahnya iklan Tony Moly jatuh ke tangan Baekhyun. Baekhyun tak begitu kaget karena pemilik produk make up itu adalah sahabat ibunya yang di kenalnya di New York. Jadi semua casting waktu itu memang bukan untuk memilih model, lebih tepatnya untuk melihat profil Baekhyun, terutama ketika di depan kamera. Atau sebut saja casting kemarin hanya untuk formalitas belaka. Padahal mereka sudah tahu jika akan memilih Baekhyun.

"Huh! Aku kan yang diterima"

"Lalu kenapa?" tanya ibunya dengan suara yang tajam.

Baekhyun menatap ibunya tajam "Karena apa yang Mommy lakukan tidak mencerminkan sikap yang baik. Atau istilah kerennya jalur pintas? Mommy mengajarkan sesuatu yang buruk, segalanya dapat diraih dengan mudah tanpa adanya usaha"

"Jangan sok menggurui Mommy Wu Baekhyun" sahut Zitao Ketus

Baekhyun menahan nafas marah "Mommy tidak memberikan conth yang baik, jalan pintas membuat orang malas untuk berusaha. Maunya hanya bersantai, tapi semua keinginannya terpenuhi, yang penting ada koneksi dan semua terselesaikan"

Zitao mendengus dengan wajah memerah menahan amarah "Hentikan omong kosongmu ini" kemudia wanita bertubuh ramping itu meninggalkan Baekhyun dengan langkah kaku. Meninggalkan Baekhyun yang hanya bisa menghela nafas lelah.

Tetapi lagi-lagi karena keegoisan ibunya, pada suatu pagi ketika Baekhyun hendak berangkat sekolah, ibunya menghampirinya serta memberitahukan sesuatu yang mendadak dan membuat Baekhyun meradang.

"Baekhyun photo shoot untuk Tony Moly akan dilakukan besok. Jangan lupa kamu harus sudah siap pukul tujuh pagi. Kita harus sudah tiba di sangnam-dong pukul delapan."

Baekhyun menoleh kaget dengan kening berkerut "Besok masih hari rabu. Aku sekolah"

"Bolos saja" ujar Zitao enteng sambil sibuk mengetik pada ponsel pintarnya.

Baekhyun sangat gusar. Tangannya mengepal erat menahan segala amarahnya bulat-bulat "Besok ada banyak tes Mom. Sebentar lagi ujian Negara. Aku tidak mau absen"

Zitao menatap putrinya tajam "Sudah terlambat. Kamu harus bolos"

Baekhyun bersidekap dengan amarah memuncak "Kenapa Mommy selalu mengambil keputusan tanpa bertanya padaku? Aku yang memiliki kepentingan! Ini masalahku, bukan Mommy!"

"Karena Mommy tahu apa yang terbaik untukmu"

"ANIYO!" teriak Baekhyun lantang "Mommy sama sekali tidak tahu apa yang terbaik untukku. Mommy tak pernah ingin tahu. Aku tidak pernah menanda tangani apapun, itu semua urusan Mommy. Besok aku akan tetap sekolah. Tak peduli dengan urusan masalah pemotretan dan produk itu. Aku akan tetap sekolah. Titik!"

Bibir Zitao terkatup kaku, jelas terlihat jika dirinya menahan amarah. Ia tak suka jika putrinya berteriak di depan dirinya. Namun Baekhyun sudah tidak peduli lagi. Baekhyun berbalik berjalan meninggalkan ibunya. Tapi baru beberapa langkah, ia mendengar suara ibunya yang tenang. Baekhyun tahu betul jika itu bukan sesuatu yang baik. Suara yang tenang menandakan hal yang mematikan.

"Kamu tetap tidak akan ke sekolah besok Wu Baekhyun. Kamu akan tetap pergi pemotretan. Dirimu sudah terikat oleh kontrak. Jika kamu tidak pergi Mommy pastikan kamu akan menyesal"

Baekhyun menoleh dan berdesis "Mommy mengancamku? Tidak akan bisa"

"Mommy hanya mengingatkan, jangann sampai kita menyesal dikemudian hari. Kamu pergi atau kamu tidak akan pernah bisa pergi ke sekolahmu lagi. Tentu kamu sangat menyukai sekolahmu, jangan sampai Mommy harus mengambil keputusan supaya kamu homeschooling dan kamu tak akan pernah bertemu teman-temanmu lagi… atau…"

Nafas Baekhyun tertahan. Ia menunggu apa yang akan dikatakan oleh ibunya.

"Semua aksesmu akan Mommy tahan, ponsel, internet dan tentu saja kamu tak akan pernah lagi untuk bertemu dengan Daddy"

Zitao berjalan melewati putrinya dengan seringaian kecil yang kejam. Ia meninggalkan Baekhyun sendiri.

Baekhyun terpaku dengan mata membelalak dan nafas yang tercekat. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang barusan di dengar olehnya dari bibir sang ibu. Ibunya memang paling tahu bagaimana untuk menyakiti hatinya. Dengan ancaman mengenai sekolah, teman-temannya, terlebih lagi ayahnya. Hal-hal yang begitu Baekhyun cintai selama ini. 'Setega itukah Mommy-nya terhadap dirinya? Ibunya sendiri?' perlahan lelehan cairan bening di pelupuk matanya mengalir di pipinya.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

The Pojokan Corner(?)

Guest : maaf ya kalo dy masih banyak typo, bakal lebih teliti kedepannya #sungkem

1004baekie : janga bosen-bosen nungguin byunbaek di siksa oke #salamsayang

kaihunlover : CINTAAAAAAAAAAAAA #plak

XOXO KimCloud : ahay sengaja biar makin greget/? Gregetin terus aja si taozi biar makin greget ahay #plak

parkbaekyoda92 : bangchan dikasih bekas luka biar kelihatan garang/? dan bertambah seksi #ditampolbyunbaek iye, si panda ngajakin ribut mulu ah #plak

younlaycious88 : dalam perjalanan juseyo tut tut tut jes jes jes/?

AuliaPutri14 : ahay ini sudah di lanjut darling #plak

Kazuma B'tomat : bangkriseu emang biangnya sabar kalo sama panda china/? Biasalah panda kesayangan/? syudah update bebih~ #plak

xxx : maaf sangaaaaaaaaaaaaaaat ya kalo yang kemarin itu bukan update chap baru. Aku repost ulang karena banyak banget typo dkk setelah kuteliti lagi dan memang butuh reparasi #plak

parkeunrinn27 : maafkan daku adinda #plak maaf ya kalo yang kemaren bukan update-an tapi repost-an/? Maklum masih pemula masih harus banyak berguru pada tetua/? Ku usahain buat fast update terus okay bebih~ #plak

luphbepz : halo salam kenal^^~ oya buat penggantian kata 'kamu' jadi 'kau' itu emang beberapa ada yg perlu editing, tapi gak bisa semua pake 'kau' karena ada beberapa kalimat yg cocok pake kata 'kamu' harap dimengerti iya :* #plak

sengaja atuh ortunya byunbaek dibikin tinggi-tinggi, biasa siksaan untuk byunbaek di bulan ramadhan #plak

lustkai : ahay sengaja byunbaek sudah ketemu sama bangchan, biar greget gitu/? Emang si tao sukanya gitu-gitu/? Buat masukkannya makasih sekali :*

Luhanssi : daku juga tak tahu kenapa si panda china bisa begitu #plak /taozi: lu yang bikin cerita author gila/ author: ampun bang. Hayo hayo hayo gimana nasib si naga sama panda china hayo~

ariviavina6 : kalo Charlie jadinya vokalis setia band atuh #plak ahay

ChanHunBaek : hayo bangchan anak siapa? Apakah dia anak yang terbuang jeng jeng jeng jeng #plak

Cho Rai Sa : wah ada raisa O.o Salam kenal ya, ku fans berat raisa loh^^ #plak

48BemyLight : iye bener miris amat nasib byunbak /byunbaek: lu yg bikin hidup gue kyk gitu thor/ abaikan si byunbaek itu.

vns99 : aduh panggil aku 'dy' aja dytabokin #plak bercanda kok, panggil aja 'dy' atau 'ata' aja^^b wah makasih banget buat masukkannya, awalnya emang aku radak bingung enaknya remake-nya pake bahasa baku atau enggak, soalnya novel aslinya pake bahasa sehari-hari. So thanks a lot buat opininya.

ayuayuyua : iya akhirnya byunbaek ketemu bangchan, biar greget/? Bener si panda china galak banget sama anaknya sendiri #plak

BabyCrong : wah makasih banyak, semoga menikmati ya.

chanbaek09 : hayo si byunbaek sama siapa hayo? Bangchan setia menunggu byunbaek #plak

A/N: Hai hai dy kembali dengan chapter terbaru, maaf kalo lama karena beberapa hal membuat ff ini terlupakan dan dy gak bisa login ffn :" #miris

Untuk chapter ini aku radak kurang puas dan kurang feel, semoga tidak mengecewakan readers-deul~ terima kasih banyak untuk semua dukungannya, terharu ue :' #kecupmanja #plak

Maaf kalo banyak typoannya, dy sudah berusaha untuk minimalisasi tapi ada daya daku #plak #SalamCHANBAEK

So RNR juseyo~