Chapter 3
"yanke-chan?" bisik seseorang pada temannya yang melihat seorang gadis berperawakan mungil dengan pakaian yang acak-acakan. Rambut pirang sebahunya tergerai bebas dan mulutnya sibuk mengunyah permen karet. Ia menatap 'mayat-mayat' yang ia hajar karena sudah menggodanya saat ia tengah sibuk membaca novel kesukaannya. Apa mereka sudah kehilangan akal? Atau mereka saja yang tidak tahu mengenai dirinya? Entahlah, ia tak terlalu peduli akan itu.
Ia membuang permen karetnya ke sembarang tempat dan menghela napas lelah saat menyadari kalau novelnya terjerembab di kubangan lumpur. Tak ada yang bisa terselamatkan karena lembar-lembar itu sudah tak menampakkan huruf-hurufnya lagi.
Ia kemudian mengarahkan pandangannya ke arah orang-orang yang berbisik memandanginya dengan wajah ketakutan. Ia rapikan kembali pakaiannya dan mengambil tas sekolah miliknya yang tergeletak di rerumputan pinggir sungai. Pandangan yang sudah menjadi makanan sehari-harinya, akhir-akhir ini.
Orang-orang sibuk menggosipinya dan saling berbisik dengan volume suara yang tergolong kencang. Ia tak memperdulikannya dan terus melangkah menjauh. Yang ia tahu, mereka menyebut-nyebut julukannya dengan kagum.
"Gadis pirang manis berjiwa iblis, Black Heatfilia."
Yanke-kun to Yanke-chan?
~Fairy Tail~
Pairing: Natsu x Lucy
Genre: Romance and Humor
Warning: OOC and Typo's bertebaran
"Black Heartfilia?!" teriak mereka saat ikatan rambut Lucy terlepas, memperlihatkan rambut pirang panjangnya yang tergerai bebas. Ketakutan merayapi mereka, menyadari bahwa yang mereka hadapi sekarang adalah monster yang sudah tertidur empat tahun lamanya. Mata coklatnya yang biasanya tampak jernih dan terang, kini berubah gelap dan dingin.
Ia terus menghajar preman yang berjumlah sepuluh orang itu dengan brutal dibantu oleh Natsu yang tersenyum tipis melihatnya. Ia benar-benar tak menyangka kalau gadis yang ia sangka akan berteriak ketakutan dan meminta perlindungannya malah tampak lebih menyeramkan daripada preman-preman ini.
'Boleh juga.' Gumam Natsu selagi memelintir tangan pemuda yang memiliki tubuh kurus dan lemah dari yang lain. Tentu saja pemuda itu langsung tumbang dengan suara kesakitan yang terdengar cukup keras, memecah kesunyian perpustakaan.
Setelah semuanya tumbang oleh mereka, gadis itu langsung sadar akan perbuatannya dan malah menatap takut pada Natsu. "A-apa aku l-lepas kendali lagi?" Paniknya. Tubuhnya bergetar dan ia malah menggigit kukunya dengan panik. Mata madunya memandang gelisah ke sekelilingnya ditambah pandangan dari luar perpustakaan.
'Grep'
Tiba-tiba tangannya kirinya digenggam oleh Natsu yang berwajah tak bersalah, "Kita kabur saja." Ucapnya yang sudah memasukkan buku milik mereka tadi.
Lucy ingin memprotes namun tak sempat karena Natsu menarik tangannya dan berlari menjauh perpustakaan yang kini terlihat berantakan akan ulah mereka. Selama mereka berlari, Natsu terus tertawa lebar dan memuji Lucy yang membuat si-empu tersipu malu meski ia tak tahu dalam rangka apa si berandalan Dragneel ini memujinya.
Mereka terus berlari hingga mereka memijakkan kaki ditanam kota dan menghirup oksigen sebanyaknya setelah berlari marathon. Lebih baik menghindar daripada dimarahi, begitulah prinsip Natsu. Meski ia hanya menggunakannya dalam keadaan tertentu.
"A-apa aku t-terus berlari setiap menyangkut dirimu, Nat-Natsu?" Tanya Lucy terengah-engah. Ditengah musim panas yang terik ini, pemuda ini malah mengajaknya berlari marathon dan berakhir seperti seorang tersangka yang melarikan diri dari penjara. Meski tak sepenuhnya salah dan ia malah mengikuti langkah kekasih berandalannya.
Natsu yang terduduk dikursi taman dengan keringat yang mengucur deras, berpura-pura menulikan telinganya dan memilih untuk menarik napas sebanyak mungkin agar detakan jantungnya kembali normal.
"Mereka benar-benar mengganggu saja." Gumamnya yang sudah agak baikan. Ia akan membalas mereka lain kali karena membuatnya mengundur pekerjaannya dan sepertinya untuk hari mendatang mereka tak diperbolehkan untuk mendatangi perpustakaan kota itu lagi.
Yah, Natsu yakin seratus persen kalau mereka akan ditendang keluar jika berani datang. Apalagi setelah mengetahui bahwa penjaga perpustakaan itu memiliki wajah menyeramkan dan aura membunuh.
"Huh… Baiklah, sekarang apa rencanamu?" Tanya Lucy pada Natsu. Ia ikutan duduk disamping Natsu dan meluruskan kakinya yang terasa ngilu. Napasnya sudah kembali normal meski keringatnya masih belum berhenti mengucur.
"Tapi, sebelum itu, aku harus membeli kacamata baru." Ucap Lucy tiba-tiba saat melihat mulut Natsu bergerak hendak mengatakan sesuatu. Pemuda itu awalnya hendak marah karena ucapannya dipotong, namun ia membenarkan ucapan Lucy. "Kau bahkan tampak seperti bayangan bagiku saat ini, Natsu." Pemuda salmon itu langsung sweatdrop melihat Lucy tengah menyipitkan matanya, mencoba melihat Natsu dengan jelas.
'Bagaimana cara dia bertarung tanpa kacamata tadi?'
"Jadi, kenapa kau mengajakku kemari?" Lucy menerobos begitu saja sebuah rumah yang belum pernah Natsu kunjungi sebelumnya. Rumah berlantai tiga dengan cat putih biru itu tampak elegan dan memberi kesan nyaman. Kakinya mengikuti langkah Lucy yang tergolong santai saat memasuki rumah orang lain.
"Bukannya kau ingin menyelesaikan tugasmu? Aku membawamu ke pakarnya." Jawab Lucy santai. Ia tak merasa takut lagi pada Natsu setelah mengetahui jati diri Natsu beberapa hari lalu. Lagipula, ia membawa Natsu kemari bukan tanpa alasan. Natsu tak memiliki rencana sama sekali setelah insiden perpustakaan itu begitupun dengannya. Setelah mendapat telpon dari salah satu sahabatnya bahwa ia memiliki novel terbaru, ia langsung teringat kalau sahabatnya itu memiliki segudang buku dari berbagai Negara dan tahun pembuatan. Bahkan buku kuno yang tak ia mengerti artinya saja, ia punya.
Pintu besar itu terbuka dengan lebar, dan sesosok gadis bertubuh kecil berlarian dengan cepat dan memeluk Lucy dengan erat. Rambut biru pendeknya melambai dengan elegan akibat hembusan angin pelan. "Lu-chan! Hisashiburi!"
Bruuk…
Lucy yang tak siap akan serangan itu malah kehilangan keseimbangan dan membuat mereka berdua terjatuh. Ia meringis pelan, merasakan panasnya jalanan setapak milik sahabat birunya. Begitu si gadis biru mengalihkan pandangannya pada sosok tinggi yang berdiri di belakang mereka.
Mereka saling menatap, melebarkan mata dan akhirnya saling menunjuk dengan wajah kaget.
"Natsu/Levy?!"
Gadis biru bernama Levy McGarden itu mengambil salah satu buku dari rak bukunya yang menjulang tinggi. Dengan bantuan tangga kayu khusus, ia dengan mudah mendapatkan buku yang sudah ia hapal dimana letaknya.
"Yang ini kan, Lu-chan?" Tanyanya, menunjukkan judul buku yang diinginkan Lucy. Gadis yang berada diseberang rak buku dan juga menggunakan tangga itu, mengiyakannya dan menyuruh Natsu untuk mengambilnya, sementara ia mencari novel yang menarik untuk ia baca disaat senggang.
Setelah selesai dengan pencarian mereka, kedua gadis itu turun dari tangga dan duduk di meja belajar yang tergolong besar dan panjang itu, menemani Natsu yang sudah memulai mengerjakan tugasnya.
Levy menopang dagunya dan menatap Natsu dan Lucy dengan pandangan aneh lalu diikuti dengan senyum tipis. Otak pintarnya dengan mudah mencerna apa yang terjadi pada kedua makhluk beda alam yang ia kenal ini, meski ia tak tahu kalau mereka saling kenal kecuali yang ia tahu mereka sekelas tanpa pernah menyapa sama sekali.
Itulah yang sering Lucy ceritakan padanya.
"Jadi kalian berkencan?" Tanya Levy to-the-point. Lucy yang asyik membaca novel, memandang polos Levy dan Natsu berhenti menulis dengan wajah memerah tipis. "Yah, bisa kau bilang begitu, Levy-chan." Aku Lucy dengan cepat dan polos. Yah, ia sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti itu. Setidaknya pertanyaan Levy tidak sememalukan saat Natsu berkoar tentang mereka sudah pacaran dihadapan satu sekolah hanya karena kedekatannya dengan Loke.
Levy McGarden memang tak mengetahui perihal yang terjadi pada sahabat-sahabatnya, karena hampir setiap hari, ia berada di perpustakaan sekolah dan tak menanggapi gossip-gosip yang beredar. Karena hal itu, ia jarang bertemu dengan sahabat tercintanya kecuali jika sudah libur.
"Itu benar kan, Natsu?" Lucy melemparkan pertanyaan yang sama pada Natsu. Pemuda itu hampir saja mematahkan pena miliknya jika saja ia tak bisa mengontrol dirinya. Ia mengalihkan pandangannya dari Lucy dan menatap Levy.
Dan gadis itu memadangnya dengan senyum jahat.
"Kenapa kau penasaran, Levy? Gadis Nerd ini memang pacarku. Apa kau ada masalah?"
"Tidak. Aku malah senang." Natsu sweatdrop mendengar jawaban Levy yang singkat dan cepat. Benar-benar tidak berubah sama sekali. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Nyawanya lebih terancam karena tugas Ultear-sensei daripada godaan dari gadis berambut biru itu.
Natsu bernapas lega. Tugasnya sudah hampir selesai berkat bantuan Lucy dan Levy –yang sejujurnya hanya diam membaca novel didepannya dan menggoda mereka berdua- dan mungkin lusa ia sudah bisa mengumpulkannya ke Ultear dengan rasa bangga.
Meski ia merasa tertekan dan kepalanya sakit akan penjelasan Lucy yang terlalu rumit baginya –karena ia jarang menyentuh buku dan lebih suka berkelahi- hingga gadis itu berubah menjadi sosok iblis jika berhadapan dengan buku. Ia benar-benar memaksanya untuk menulis bahkan sampai memegang sebuah penggaris kayu yang tergolong keras. Menepuk-nepuk layaknya Laxus yang akan selalu melakukannya bila mengawasi ujian.
Ia memandangi Lucy dengan kening berkedut dan aura tak suka, membuat gadis disebelah merinding seketika. "K-kenapa kau m-memandangiku se-seperti itu?" kepribadiannya kembali seperti awal. Gugup dan ketakutan saat ia menatap tajam, padahal saat proses belajar, ia terus memberikan tatapan tajam dan gadis itu malah membalas tatapan yang lebih tajam. Sangat mirip dengan Mirajane maupun Erza.
"Mau bertarung denganku?" Tantang Natsu sambil memasang kuda-kuda untuk meninju. Lucy yang melihatnya langsung sweatdrop. Baru kali ini ia mendengar kalau pasangan kekasih saling bertarung, maksudnya ditantang oleh si laki-laki.
Ia memundurkan dirinya, memberi jarak yang agak jauh dari Natsu. Pemuda itu menampilkan wajah beringasnya dan Lucy rasa dia akan mati jika benar-benar melakukannya. "A-ampuni a-aku. Aku masih i-ingin hidup, Dragneel."
Ekspresinya berubah dan ia langsung tertawa nista, dengan wajah kemenangan. Membuat Lucy melemparkan sepatu boots-nya lalu berlari ketakutan. Yah, dia masih memiliki rasa takut pada Natsu, meski pemuda itu mulai berubah secara perlahan.
"Jangan lari, Heartfilia! Aku masih ingin bertarung denganmu!"
Lucy berjalan santai sambil membawa beberapa snack ringan pelepas laparnya setelah berlari dari Natsu dan berakhir dengan tawa lepas yang diciptakan pemuda pinkish itu dengan tingkah konyolnya kala melihat makanan lezat di dekat pemeberhentian bus.
Ia sedikit bingung akan tingkah Natsu yang cukup berbeda dari biasanya.
Kompleks perumahannya cukup sepi karena sudah larut malam dan hanya ia yang berjalan di daerah itu. Ia merasa senang hari ini karena akhirnya ia bisa dekat dengan teman sebangku sekaligus kekasihnya itu yang terkenal akan perkelahiannya. Hal yang baik yang ia dengar tentang Natsu hanya nilainya yang memuaskan saat ujian.
Baru saja ia melewati persimpangan, beberapa gerombolan pemuda yang ia yakini pernah ia lihat sebelumnya, mengelilingi dirinya sambil memegang beberapa tongkat kayu maupun bassball. Mata coklat madunya menyipit, menatap seorang pemuda yang berjalan diantara mereka, dengan penerangan jalan yang buruk membuatnya kesulitan untuk melihat.
Begitu ia dapat melihat siapa itu, mata coklatnya membulat dan ia merasakan sakit yang teramat dikepalanya sebelum semuanya menjadi gelap.
'Natsu'
"Gihee… Tuan putrimu sudah kutangkap, Salamander." Ucapnya memberikan seringaian lebar sambil mengangkat tubuh Lucy ke bahunya dengan kasar. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
TBC
Chap 3 update!
Maaf untuk chap kali ini saya belum bisa menjelaskan cara pertarungan yang sengit... saya hanya pandai berimajinasi liar #plak
Dan saya mau nangis dipojokan dulu karena ngeliat Juvia mati T_T padahal Juvia salah satu character kesukaan saya... kenapa Hiro-sensei!
Baiklah, saya akan membalas review dari para reader-san sambil megang tisue buat menyumpal hidung saya yang penuh cairan karena menangis terlalu banyak... Hiro-sensei memang hebat membuat perasaan FT Lover terombang-ambing. Baiklah kembali ke topik utama...
ifadragneel92: wah, terima kasih... padahal saya sendiri ragu kalau adegan Lucy yang saya tulis itu keren XP #dasar author aneh. Saya hanya kurang percaya diri dalam menulis sebuah cerita action. ini udah saya lanjut!
Dragneel77: ini udah lanjut ;)
guest: makasih :3 wkwkwk tenang aja. Adegan NaLu bakalan bertebaran dimana saja XD
hannah: hehehe makasih... saya jadi malu sendiri udah dipuji #plak pede-nya kumat lagi XD makasih ya udah review sampai dua kali untuk chap yang sama ;D
Akayuki1479: hihih gimana dengan adegan Lucy mode Erza and Mira On kali ini? makasih ya :)
Akashi Rey14: buahahaha, anda membaca pikiran saya saja XD
vicky-chan: hahaha sepertinya begitu :D ini udah update, makasih
Azure Shine: Ini udah chap 3, semoga senang ya. makasih udah baca ;)
BoBoiBoy Unta: iya, makasih ya. Nama anda masih segar diingatan saya #plak XP yanke itu sebutan untuk anak muda yang gemar berkelahi dan biang keributan atau sebut saja anak berandalan. makasih atas pujiannya XD
Terima kasih juga untuk para reader yang sudah menyempatkan membaca ff saya. Maaf untuk chap kali ini sedikit pendek, namun untuk chap depan akan lebih panjang karena akan mencapai konflik cerita. Terima kasih banyak, minna-san~
Salam damai,
Mind RnR?
