Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing: Sasuhina

Genre: romance, drama

Rate: T

WARNING : ABAL, GAJE, TYPOS , NISTA, ETC

Summary: Dengan mata yang indah itu kau akan melihatku, dengan senyuman yang terukir dalam mimpimu itu kau akan menjalankan peranmu sebagai istriku, tapi dengan hatimu yang suci, kau membuat ku ingin terjebak selamanya di hatimu dan ingin memilikimu.

Harus menikah di usianya 18 tahun karna desakan dari pengacara kakeknya. Bagaimana awal kehidupan Sasuke bersama dengan seorang gadis Hyuga.

Ch 3

Stuck In You Heart

Sasuke menuruni tangga dengan terburu-buru, sesekali ia melirik jam tangannya . Sasuke berjalan menuju meja makan yang disana hanya ada Mikoto. Sedangkan yang lain sudah memulai aktivitas masing-masing. Mikoto hanya membalikkan majalah dengan hati berseri-seri.

Sasuke duduk ditempat yang menurutnya dekat dengan posisi tubuhnya sekarang. Sasuke mengambil roti tawar yang memang tidak jauh dari tempatnya, tidak menghiraukan ibunya yang memandanginya dengan tatapan bingung. Sasuke mengoles selai coklat dengan tipis dan tergesa-gesa.

"Bagaimana malam pertamamu?" Tanya Mikoto dengan nada mengoda.

"Ibu, mana jambekerku?" Tanya Sasuke mengalihkan pembicaraan Mikoto, sembari melipat rotinya dari dua sisi yang berlawanan.

"Di gudang, sayang." Jawab Mikoto dan mengalihkan pandangannya kembali ke majalah.

"Kenapa ibu meletakkan di gudang?" Tanya Sasuke seperti tak terima.

"Memangnya kenapa? Kan sekarang ada Hinata, jadi kau bisa dibangunkan olehnya."

"Apa? Di bangunkan? Ibu tahu tidak, kalau gadis itu sekarang masih molor di kasurku." Tutur kata Sasuke sangat tidak sopan untuk berbicara pada ibunya, tapi Mikoto sudah tau kebiasaan bicara Sasuke.

"Hm, sudahlah biasanya juga kau terlambatkan?" Mikoto menghela nafas untuk tingkah Sasuke.

"Tapi, tak telat selama ini bu." Sasuke mengunya roti dengan santai.

"Terserahlah." Mikoto menyerah dengan Sasuke yang jelas tak mau kalah.

Hening menyelputi mereka berdua.

"Ibu, aku pergi." Sasuke beranjak dari kursi yang tadi ditempatinya dan pergi keluar meningalkan ibunya. Tapi belum jauh dari meja makan Mikoto mencegat Sasuke. Sasuke berhenti melangkah dan menoleh kepada ibunya.

"Hinata?" Mikoto bertanya dengan menyipitkan matanya.

"Dia masih tidur, bu."

"Tunggu dia." Perintah Mikoto.

"Dia bisa naik kereta." Balas Sasuke tajam.

"Kau menyuruhnya naik kereta? Sedangkan di belum mengenal daerah sini?" Mikoto mulai tak suka dengan cara Sasuke yang mengangap Hinata bukan tanggung jawabnya.

"Dia tahu bu, sudahlah aku mau pergi." Sasuke kembali melangkahkan kakinya.

"Terserah, nanti ibu akan bilang pada ayahmu kalau semua mobilmu akan disita." Kata-kata Mikoto sangup membuat Sasuke berhenti untuk berjalan kearah pintu makan.

"Baiklah." Sasuke menghelakan nafas.

Sasuke mengalah kalau ibunya sudah mulai mengancam, itu pertanda bahwa setiap kata-katanya harus dipatuhi.

Sasuke berjalan bolak-balik dibawah tangga untuk menungu gadisnya, walau harus menjadi patung dan dilihat para pelayannya dia lakukan agar semua mobilnya tidak disita oleh ibunya

Mungkin sudah 30 menit Sasuke terlambat ke sekolahnya. Sasuke mulai kesal karna gadisnya sangat lama. Sasuke mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan dengan cepat ai menekan nomor seseorang dari ponselnya.

.

Hinata POV

Aku tengah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, tapi aku yakin aku pasti akan terlambat dan segera dihukum. Mana Sasuke? Apa dia meningalkanku? Pertanyaan itu yang terniang dikepalaku, karna memang aku tak terlalu mengenal tempat ini dan sepertinya dia akan membuatku bolos. Sekarang aku hanya melihat pantulan diriku dikaca. Semuanya telah siap dan saatnya aku segera turun sebelum aku benar-benar terlambat. Dan punggungku benar-benar kaku, karna ulah Sasuke itu.

Tring….tring….tring.

Aku mendengar suara dan getaran yang berasal dari saku rokku, dan aku bisa menduga bahwa itu suara ponselku. Aku mengambil ponsel di dalam saku rokku, aku melihat tidak ada nama dilayar ponselku itu pertanda bahwa itu nomor baru di ponselku.

Aku menekan tombol hijau dan kemudian meletakkan di dekat telingaku.

"Ha-Halo," aku mulai menyapa dengan seseorang yang berada disebrang yang tidak aku ketahui.

"Cepat turun." Perintah seorang pria dari sebrang yang menurutku tidak sopan dan aku sangat tidak suka dengan cara bicara seperti itu.

"kau siapa?" aku bertanya dengan suara yang menurutku sama tidak sopannya dengan cara bicara pria itu.

"Tak kusangkah kau berbicara dengan nada itu pada suamimu." Seseorang dari sebrang berkata sinis padaku.

Dia bilang bahwa tadi apa? suamimu? Suamiku ? Suami? Sasuke? Tidak mungkin.

"Sasuke? Ak-Aku minta ma-maaf," aku benar-benar terkejut saat mengetahui itu adalah Sasuke dan membuatku benar-benar takut jika Sasuke harus berteriak tidak jelas.

"Sudahlah, cepat turun aku sudah menunggumu," Suara Sasuke melembut satu oktaf dari cara bicaranya yang selalu keras padaku.

"Ba-Baiklah."

Entah kenapa saat mendengar suaranya melembut membuat pipiku merah merona, sudah lama aku rindu dengan cara bicaranya yang lembut pada ku.

Setelah itu sambungan terputus dari sebrang, aku langsung memasukkan ponsel kedalam sakuku dan segera bergegas turun sebelum Sasuke berubah pikiran untuk menungguku.

And Hinata POV

.

Hinata dan Sasuke berjalan menuju ruangan kelas mereka, berbeda saat di rumah Sasuke lebih santai dari pada di masionnya itu. Mungkin saja ia lakukan untuk menjaga image dan ketenangannya dalam melangkah, walau tadi dia sudah mendengar ceramah dari penjaga gerbang yang menyatakan, jika mereka berdua terlambat lagi, maka mereka berdua akan dihukum. Karna memang ini acara terlambat mereka berdua yang terparah antara acara terlambat yang pernah Hinata dan Sasuke lakukan sebelumnya, bayangkan saja sekolah telah mulai satu jam yang lalu dan mereka baru tiba.

Hinata sebenarnya sedang terburu-buru agar dapat masuk dalam pelajarang Kurunai-sensei yang sangat ia kuasai, tapi Sasuke berjalan didepannya sangat santai jadi Hinata hanya mengikuti dibelakangnya.

Jendela ruangan kelas dibuat rendah, kira-kira sebahu hinata yang tubuhnya sangat mungil. Membuat Hinata dan Sasuke dilihat anak-anak yang tengah belajar, hal itu membuat anak-anak perenpuan tidak lagi memfokuskan pelajaran yang diajarkan para sensei.

"SASUKE-KUN."

"SASUKE-SENPAI."

"SASU-CHAN."

Teriakan-teriakan yang menyebut-nyebut nama Sasuke. Selalu Sasuke rasakan selama satu tahun berada di sekolah ini. Sangat jauh berbeda dengan sekolahnya yang lama di Korea. Karna sekolahnya yang lama itu 80% isinya laki-laki. Jadi, kira-kira hanya 19% yang melakukan hal konyol yang sering para wanita yang sekarang meneriaki namanya.

Walau teriakan itu ditujukkan pada Sasuke, toh Sasuke cuek-cuek saja. Sedangkan Hinata yang berada dibelakang Sasuke yang sepertinya tidak dapat bersantai, saat mendengar teriakan gaje itu.

"Siapa yang dibelakang Sasuke-kun?" Hinata dapat mendengar pernyataan yang menyangkut tentang dirinya.

"Mungkin pembantu Sasu-chan yang baru," mendengar jawaban itu, Hinata ingin berteriak kearah mereka yang sekarang tengah membicarakannya.

Pembantu yang baru? Pembantu yang lama dimana? Bagi Sasuke, siapa saja yang ingin menjadi pacarnya, maka mereka harus menyandang status sebagai pembantu. Karna Hinata jalan di belakang Sasuke, banyak yang mengira Hinata adalah calan pacar untuk Sasuke.

Jika ingin menjadi pacar Sasuke mereka harus lulus dari semua yang Sasuke lakukan, dan batas waktu hanya 3 hari. Jika mereka lolos, mereka akan menjadi pacar Sasuke selama 3 hari pula. Tapi belum satupun yang dapat melewati rintangan Sasuke selama tiga hari, satu hari pun tidak bisa.

Calon pacar Sasuke yang terakhir ditemukan pingsan di kuburan tengah malam, entah kenapa bisa disitu tapi ini terjadi karna rintangan yang sasuke berikan. Setelah kejadian itu mereka selalu pingsan saat Sasuke berada didekatnya dan mereka yang pernah mendaftarpun tak jauh beda nasipnya dengan orang gila. Tapi, walau terjadi seperti itu ternyata tidak mematahkan semangat yang akan menjadi calon pacar Sasuke yang baru.

"Aku rasa dia tidak akan sangup."

"Aku sependapat, paling berakhir di RSJ."

Mendengar pernyataan dari siswi-siswi itu membuat Hinata kesal dan sangat sedih. Karna Sasuke mulai mempermainkan wanita akibat Hinata.

Hinata jalan menunduk dan sangat pelan, itu membuatnya ketingalan jauh dari Sasuke.

Hinata jalan sambil menunduk tak ada niat untuk menegakkan kepalanya, Hinata tidak sadar bahwa ada sesuatu yang sangat tidak menyenangkan menghalangi jalannya. Hinata terus berjalan dan akhirnya…

BRUKK

Kening putih hinata yang tertutup poni sukses mendarat ditembok sekolahan, seharusnya Hinata berjalan belok kearah kanan tapi Hinata malah jalan lurus kedepan yang memang di disana ada tembok yang sangat kokoh walau dihancurkan dengan apapun. Hinata sekarang dapat merasakan keningnya agak membengkak dan pandangannya mulai kabur.

Disisi lain Sasuke sempat mendengar suara aneh seperti benturan benda keras dan kemuadian disusul dengan tawa riuh anak-anak kelas. Sasuke bahkan menoleh kebelakang untuk memastikan gadisnya masih berada tepat dibelakangnya, karna dalam lubuk hati paling akut, Sasuke sangat mencemaskan jika Hinata diganggu oleh fansgirlnya. Tapi sasuke tidak memenukan apa-apa dibelakang tubuhnya.

"Gadis bodoh. Ha..ha..ha."

Sasuke mendengar laki-laki yang berada disampingnya mengatakan sesuatu sambil diiringi oleh tunjukkan kearah belakang.

Sasuke memperluas penglihatannya dan di ujung lorong yang tak jauh darinya, Sasuke melihat gadis yang seharusnya berada dibelakangnya tengah pingsan dengan disertai tawa anak-anak kelas.

Melihat Hinata yang pingsan, Sasuke langsung berlari kearah Hinata. Sasuke tidak bisa berpikir jernih lagi, Sasuke langsung mengangkat Hinata kearah punggungnya, sasuke melingkarkan tangan Hinata dilehernya dan melebarkan kaki Hinata agar dapat ia angkat. Dengan mudah Sasuke mengendong Hinata dan berjalan melewati tempat pemberhentian sekejapnya. Tak ada lagi tawa yang ada hanya teriakan tak terima dari fansgirlnya, karna selama ini Sasuke tak pernah mempedulikan perempuan sedikitpun.

Sasuke berhenti berjalan dan memandang pria yang tadi tertawa disampingnya.

"Jika kau mengatakannya bodoh, akan kubuat kau lebih bodoh karna berurusan denganku." Kata Sasuke dingin dan dipadu padankan dengan tatapan tajam Sasuke, membuat laki-laki yang tadi sempat tertawa diam seribu bahasa sambil menunduk ketakutan. Di sekolah, Sasuke bukan hanya dikenal sebagai pangeran, tapi juga sebagai pangeran tersadis yang tak akan segan melemparkan pisau tajam ke muka lawannya.

.

Hinata POV

Aku membuka mataku yang sepertinya tadi ditutup secara paksa karna ulah dinding bego' itu. Kenapa juga harus terbentur dinding? Kan image ku rusak didepan anak-anak lagi pula kondisi kepalaku saat ini aku pastikan tidak lagi etis seperti dahulu kala. Aku menyentuh kepalaku dan merasakan nyeri yang begitu mengoda untuk menyakitiku. Aku menatap langit-langit ruangan yang sepertinya tidak asing bagiku, bau obat yang begitu menusuk, tirai pembatas, dan juga .. Sasuke.

"Sasuke," guman ku pelan dan segera mengubah posisiku menjadi duduk.

"Sasuke," sekarang naik satu oktaf, tapi Sasuke juga tidak mau menoleh padaku. Aku rasa Sasuke sekarang sedang menatap bunga sakura yang indah dan dapat dijangkau dari jendela.

Aku turun dari ranjang dan berjalan mendekati Sasuke, aku melihat Sasuke dari samping dan sepertinya dia tak menyadari keberadaanku. Aku memperhatikan lekuk muka yang sangat tampan, itu tidak dapat dipungkiri. Dan ini membuat pipiku merona merah seperti tomat masak.

"Sasuke," aku mencoba memangilnya lagi dan mengerakkan tangannya agar mengetahui keberadaanku. Dan itu berhasil.

Sasuke menoleh padaku, ia melihatku seakan tak terjadi apa-apa, aku sangat tidak suka itu. Tapi sudahlan aku tak ingin berdebat melihat tangan Sasuke menyerahkan suatu benda yang menurutku sangat tidak asing lagi, ponselku. Kenapa bersama dia? Pertanyaan seperti itu terniang dikepalaku. Apa dia mengambil dari sakuku.

"Terjatuh," dia menjawab seakan tau apa yang sedang aku bingungkan di hatiku.

"Oh," aku sih bisa saja menerima jawaban seperti itu, tapi itu tak masuk akal. Sudahlah.

Aku melihat tatapan Sasuke, dia mengarahkan mukanya ke mukaku lalu dengan alis yang mengkerut , dia memundurkan kepalanya dengan masih alis yang berkerut.

"Mengelikan,"

"Apa?"

"Dari dekat sangat aneh, tapi dari jauh itu seperti luka lebam perkelahian Gangster, menarik." Sasuke lalu mengarahkan jarinya ke keningku. Dan aku mengerti maksud darinya.

"Itu hiburan apa pujian?"

"Apa hiburannya berhasil?"

Aku mengelengkan kepalaku.

"Apa pujiannya berhasil?"

Aku kembali mengelengkan kepalaku.

"Jadi, apa tidak ada yang berhasil?"

"Tidak ada," jawabanku mantap, aku rasa itu bukan hiburan atau pujian tapi itu sebuah hinaan. Aku dapat melihat seulas senyuman dari wajah pucat Sasuke.

And Hinata POV

"Baiklah sayang, ayo kita pulang dan cari Hotel." Sasuke berbicara dengan mengunakan wajah datar dan mengantungkan tangannya di bahu Hinata.

"Hotel?" mereka tak percaya dengan yang baru saja di katakan Sasuke. Tunggu dulu, mereka? They? Berarti bukan Hinata saja yang menanya kata-kata Sasuke. Tapi bukan cuma suara perempuan tapi ini ada suara laki-laki.

Hinata dan Sasuke mengalihkan pandangan ke belakang, dan menemukan laki-laki yang mengunakan mata onix dengan pandangan tak percaya, Sai.

"Apa yang kalian lakukan, kenapa kau mengatakan Hinata, sayang? Hotel? Apa yang akan kalian lakukan?" Sai berjalan mendekati Sasuke, Sai menghempaskan tangan Sasuke dari bahu Hinata, membuat Sasuke memandang tidak suka dengan kehadiran Sai.

"Apa Urusanmu?" Tanya Sasuke dingin.

"Ingat, dia pacarku dan bukan milikmu lagi. Karna, kepercayaan dirimu yang terlalu tinggi, dia menjadi milikku." Sai tersenyum sinis. Hinata hanya menunduk lesu.

"Pacar? Aku bahkan lebih dari ikatan yang menyedihkan itu. Masalah kepercayaan diri itu, tidak ada urusan denganmu. Bukannya kau yang mengambil secara paksa dariku." Sasuke juga ikut-ikutan sinis, dan Sasuke berjalan keluar ruangan meningalkan Sai dan Hinata yang masih menunduk lesu.

Setelah memastikan Sasuke benar-benar keluar dari ruangan itu, Sai memegang bahu Hinata dengan kedua tangannya dan menghadapkan Hinata didepan wajahnya. Tampang Sai sangat khawatir dengan kondisi Hinata yang dari tadi menunduk.

"Kau tak apa-apa?" Sai menanyakan keadaan Hinata yang seperti ketakutan.

"Ti-tidak apa, Sai." Hinata mengangkat kepalanya dan menatap Sai dengan selingan senyuman kaku menghiasi wajahnya.

"Tapi, kenapa dengan keningmu? Apa Sasuke yang melakukannya?" Tanya Sai sambil melihat benjol dikening Hinata.

"Bu-bukan, tadi aku hanya terjatuh saja,"

"Bukan karena Sasuke?" Sai masih tak percaya dengan kata Hinata.

Hinata hanya mengeleng dan bertanya pada Sai, "Dari mana kamu tahu aku di Uks?"

Sai tersenyum, "Bukannya Hime yang mengirimkan pesan pada pacarmu ini," dengan pedenya Sai menunjuk dirinya sendiri dia yakin Hinata pasti akan tersenyum tapi, harapannya tak terjadi.

Toh Hinata sekarang memasang wajah binggung.

' Apa Sasuke yang melakukannya?' Hinata membatin sebab sedari tadi dia tak sadarkan diri dan yang menyentuh ponselnya barusan adalah Sasuke.

Sai melambaikan tangannya di depan muka Hinata agar Hinata cepat sadar, dan berhasil.

"Ayo, jam ke tiga mau mulai."

.

Hinata berjalan ke parkiran sekolah menunggu seorang yang berjanji akan menemuinya di sini setelah usai sekolah. Hinata menunggu dengan hati yang bimbang dan senang.

Tak lama kemudian seorang pria datang menghampirinya dengan wajah yang sangat gembira. Pria yang memiliki mata onix dan rambut Hitam juga kulit pucat seperti mayat hidup tapi itu tidak mengurangi sedikitpun ketampanannya. Seseorang itu tak lain adalah Sai.

Sai berjalan kearah Hinata sambil tersenyum.

"Maaf, aku lama. Tadi ada sedikit masalah di kelas." Sai berdiri didepan Hinata. Sebagai informasi saja, Sai itu berbeda kelas dengan Sasuke dan Hinata tapi dia sering main ke kelas Hinata dengan alasan ingin bertemu Sasuke, padahal ingin mencari Hinata atau mengajak makan siang.

"Tak apa, aku juga baru sampai," Hinata memberikan senyuman pada Sai.

Cup

Sebuah ciuman mendarat di pipi Hinata, sebuah ciuman yang lembut dan begitu bermakna yang dilontarkan oleh Sai. Hinata terkejut dengan ciuman dari Sai, membuat pipi pucat Hinata menampilkan garis-garis merah yang mungkin menyebar keseluruh tubuhnya.

"Sebelum pulang, aku traktir makan." Sai langsung mengengam tangan Hinata menuju mobil sport putih tanpa meminta persetujuan dari Hinata.

Tanpa mereka sadari ada tiga orang pria yang mengawasi gerak-gerik yang mereka lakukan. Tapi, satu di antara mereka toh tengah cuek-cuek bebek dengan mengotak-atik ponselnya.

"Sasuke, kau tidak cemburu?" seorang pria berambut merah menanyakan pada laki-laki bernama Sasuke sambil menoleh padanya.

"Tidak," Sasuke menjawab pertanyaan dengan sangat tegas dari pria berambut merah bata, Gaara.

"Dua tahun selama di Korea, kau tidak cemburu melihat orang yang kau sayang di cium laki-laki brengsek seperti Sai." Laki-laki rambut orange, Naruto ikut menoleh pada Sasuke.

"Tenanglah, aku binggung yang sebenarnya cemburu itu aku atau kalian?" Sasuke bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya yang sepertinya mulai muak dengan pembicaraan mereka berdua yang dari tadi mengoceh tak jelas di telinganya.

" Itu.. ehm.. secara keseluruhan sih, kami juga cemburu. Mengingat kami berdua pernah ditolak oleh Hime-c..eh.. Hinata. Tapi, dibanding Sai, kau lebih pantas Sasuke." Gaara mewakili untuk berbicara dengan Sasuke, tapi sedikit gugup dengan pandangan Sasuke yang sangat mengerikan.

"Sudahlah, apa hari ini kalian sibuk?" Sasuke bertanya dengan kembali memperhatikan kedua temannya.

"Tidak," mereka menjawab dengan kompak.

"Gimana, kalau hari ini kita latihan?" Sasuke menyarankan kepada temanya.

"Setuju, akhirnya kau kembali menjadi Sasuke yang kami kenal." Naruto senang dengan tak segan-segan mengeluarkan setetes botol obat air mata yang dibuat agar seperti air mata.

"Cih," Sasuke menepis tangan Naruto dengan kasar, karna Naruto akan memeluknya.

"Kota sebelah?" Tanya Gaara.

Naruto menganguk semangat dan kemudian dia dan juga gaara beranjak dari tempatnya semula meningalkan Sasuke yang masih bergulat dengan ponselnya sendiri dibalik pohon yang menutupi tubuhnya.

Sasuke menyandarkan kepalanya dipohon dan menoleh kebelakang untuk melihat mobil sport putih yang sepertinya akan pergi dari tempat parkir, Sasuke terus memperhatikan Laki-laki dan juga perempuan yang berada di dalam mobil tersebut. Sasuke memfokuskan pandangannya ke laki-laki di dalam mobil tersebut, Sai.

'Apa lagi yang kau rencanakan, Sai?'

TBC

A/U

huft.. ch 3 dah updet, agak lama sih.

aku rasa ini masih ada typo, tapi ya sudahlah.

ichsana-hyuuga : lama ya? padahal aku pikir itu yang tercepat :)

uchiha Keisha : udah updet :), tapi ngak bisa cepat.

hanata chan : masa lalu dan romence nya itu mungkin akan ku buat di ch yang ntah keberapa ^_^ jadi, tunggu saja.

Uchiihyuu Nagisa : Sai antagonis? sepertinya sih, aku lupaaaaaa#plak ^_^''

Via-princezz : alurnya kecepatan ya? memang sih beberapa item aku hapus, agar bisa cepat. ^_^. dan memang beberapa kalimat seperti yang kamu bilang, aku mengambilnya dari komik Goong, :)

Miya-hime Nakashinki : Aku akan berusaha agar tak ada typo lagi, *semangat '45* tapi kalau masih ada tolong maafkan :)

Yukino amai : akan ku review :) dan aku menantikannya.

hyuga konan: masa lalunya akan kubahas ch entah yang keberapa. :)

girl's 'love' blue : ok, akan kubuat waktu 'gitu' nya di ch yang entah keberapa ;)