Title : First Person

Cast :

Do Kyungsoo, Kim Jongin, Kim Hanbin, Oh Sehun, Xi Luhan, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Zhang Yixing and other.

MAIN PAIRING :

KAISOO slight HanSoo

and EXO official COUPLE

Genre : Romance, School Life, AU.

Rating : Teens

Length & Type : Chaptered

.

.

.

WARNING! GENDERSWITCH FOR UKE! TYPO!

DON'T BASH!

DON'T PLAGIAT!

DON'T FLAME!

.

.

.

SUMMARY :

Kesenangannya dalam belajar dan bekerja membuat seorang Kim Jong In tak memikirkan tentang pendamping hidup. Hal itu membuat kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya cemas dan berakhir dengan menjodohkan lelaki 25 tahun itu bersama seorang gadis SHS yang baru menginjak usia 18 tahun. Bagaimanakah tanggapan Jongin tentang ide gila keluarganya? Lalu bagaimana dengan mantan kekasih Kyungsoo yang masih terus mengejarnya?

.

.

.

Chapter 3

Dilemma

.

.

.

Luhan berlari menuruni anak tangga bersama Yixing di belakangnya yang terus mengeluh bahwa betisnya bisa membesar gara-gara berlari menuruni anak tangga. Ia memang terlalu berlebihan, padahal sekali saja tak akan membuat betisnya membesar, paling hanya sedikit pegal.

"Lu, tenanglah sedikit" ucap Yixing terengah-engah namun Luhan tak menghentikan langkahnya dan terus berlari hingga akhirnya mereka sampai di kelas Kyungsoo.

Seisi kelas ㅡterkecuali Kyungsooㅡ langsung menatap kedua gadis China itu aneh ketika mereka tiba dengan wajah penuh paluh di kelas yang bukan kelas mereka.

"KYUNGSOO! JONGIN AHJUSI SUDAH SADAR!"

.

.

.

"Kai-ya, sukurlah kau sudah siuman" Baekhyun mengelus dadanya karena lega melihat Kai sudah siuman. Wajah Baekhyun begitu berseri saat Kai membuka matanya, begitu pun dengan Chanyeol namun lama kelamaan Chanyeol terdiam kaku melihat ekspresi Kai yang membuatnya was-was.

"Baek.." panggil Chanyeol serius.

"Hm?" Baekhyun bergumam dengan masih menatap wajah Kai dengan lekat meski pria itu belum mengatakan apapun.

"Kai sepertinyaㅡ"

"Nuguya?" Kata itu terucap dari bibir tebal Kai dengan suara lirih membuat Baekhyun maupun Chanyeol menatap Kai dengan tatapan tidak percaya.

"A-apa ini, Yeol?" Tanya Baekhyun gelagapan.

Belum sempat Chanyeol menyahut, seseorang masuk dengan terburu-buru kedalam kamar rawat Kai.

Itu Kyungsoo, bersama Luhan dan Yixing tentunya.

Tanpa menunggu lama, Kyungsoo segera berlari menghampiri ranjang Kai.

"Kyung... Tungguㅡ"

Bahkan ucapan Chanyeol dihiraukan oleh Kyungsoo yang terlalu bersemangat untuk menemui Kai.

"Ahjusi.." panggil Kyungsoo dengan senyum penuh harap namun senyum manis itu luntur seketika saat mendengar sesuatu yang terdengar dari bibir Kai.

"Nugu...seyo?" Lirih Kai dengan suara lemah.

Bagaikan seluruh isi dunia menimpa dirinya, Kyungsoo benar-benar terpukul dan ingin terjatuh jika saja Chanyeol tak menahan anak itu agar tidak jatuh ke lantai.

"Ah-ahjusi" panggil Kyungsoo tidak percaya.

Luhan dan Yixing juga sama kagetnya, bahkan Yixing sampai bersembunyi dibelakang punggung Luhan saking kagetnya. Lalu apa hubungannya dengan ini coba? Kai kan tidak menggigit.

Chanyeol membawa Kyungsoo untuk duduk di kursi lalu menyuruh Sehun yang hanya mematung disana untuk memanggil dokter.

Lihatlah bahkan saking kagetnya Luhan tidak menyadari bahwa disana ada Sehun.

Tak berapa lama kemudian dokter datang bersama beberapa perawat dan memeriksa keadaan Kai.

"Apa yang terjadi dengan Kai, seonsaengnim?" Tanya Chanyeol cepat bahkan sebelum dokter itu sempat bernafas usai memeriksa keadaan Kai.

Dokter itu menghela nafas gusar, "anda tidak perlu cemas, tuan Kim hanya masih kebingungan ditambah penglihatannya yang masih belum jelas hingga ia kesulitan mengenali orang lain" penjelasan dokter tersebut setidaknya membuat orang-orang yang ada disana menghela nafas lega.

"Jadi dia tidak amnesia kan?" Tanya Baekhyun memastikan.

Dokter tersenyum sambil menggeleng, "untungnya tidak. Tunggulah hingga 30 menit ke depan agar tuan Kim bisa menyesuaikan indra nya"

Baekhyun mengangguk mengerti sedangkan Chanyeol tengah menatap Kai dengan tatapan khawatir sekaligus lega. Sukurlah Kai tidak apa-apa. Bisa copot jantungnya jika Kai benar-benar mengalami amnesia. Harus bilang apa ia pada kedua orang tua mereka nanti jika hal itu benar-benar terjadi?

.

.

.

Hanbin berdiri di depan pintu kelas Kyungsoo saat jam istirahat berdentang nyaring dan satu persatu isi kelas mulai berhamburan keluar. Ia menunggu Kyungsoo, siapa lagi. Jangan kira ia menyerah karena perkataan Kyungsoo, baginya tak ada kata menyerah dalam kamusnya.

"Kyungsoo" panggil Hanbin cukup keras saat seseorang yang ia cari baru saja keluar dari kelasnya.

Kyungsoo menoleh dan itu membuat Hanbin sangat terkejut saat melihat wajah Kyungsoo. Kantung mata yang hitam, bibir pucat dan jangan lupakan ekspresinya yang seperti mayat hidup. Menyeramkan sekali.

Kyungsoo seperti itu karena semalaman ia tidak tidur akibat memikirkan Kai yang entah kenapa jadi menjengkelkan. Bahkan hari kemarin saat Kai sadar dan mulai terbiasa dengan keadaan sekitar, pria itu pura-pura tidak mengingatnya hingga membuat Kyungsoo panik. Ia sendiri tak tahu kenapa ia bisa panik hanya karena hal itu. Apa ia takut Kai benar-benar melupakannya? Oh astaga!

Dan jadilah semalaman tadi Kyungsoo tak bisa tidur akibat euforia yang disebabkan sadarnya Kai sejak 3 hari terus tertidur pasca operasi.

Cukup membingungkan juga bagi dirinya, ia merasa bahwa beberapa hari ini perasaannya sulit dikendalikan apalagi tentang hal-hal berbau Kim Jongin. Ia seakan bermain dengan emosinya saat berhadapan dengan pria tan sexy itu.

'Apa aku mulai menyukai si ahjusi itu?' Kyungsoo sampai memikirkan hal itu semalaman.

Lalu impasnya adalah mood-nya sangat jelek pagi ini. Mungkin itu karena kurang tidur.

Kyungsoo tak menyahut panggilan Hanbin pagi ini dan malah melengos pergi dengan buku tebal di tangannya.

"Kyungsoo, kita harus bicara" selalu saja itu yang Hanbin katakan. Biasanya Kyungsoo akan menyemprot dengan pedas perkataan Hanbin yang demikian namun kali ini ia terlalu malas untuk meladeni pria itu. Pikirannya sedang ingin tidur dan ia tak bernafsu untuk berdebat dengan MANTAN pacarnya itu.

"Kyungsoo apa yang terjadi padamu?" Tanya Hanbin yang tak juga menyerah dan terus mengikuti langkah Kyungsoo yang sama sekali tak mengindahkan eksistensinya.

"Yak! Berhenti mengikuti baby Kyungie!" Tiba-tiba Luhan menghadang jalan Hanbin membuat pria itu menatapnya kesal.

"Minggir kau pendek" desis Hanbin sekenanya.

"What? Hello ! Matamu sudah besar begitu tak mampu mengamati diriku yang tinggi semampai ini, huh?" Luhan berkacak pinggang ala ibu-ibu arisan yang rempong. Dan apa katanya? Tinggi semampai? Heol~ sepertinya Luhan lah yang harus membuka matanya lebar-lebar saat bercermin. Mungkin itu efek matanya yang terlalu mirip dengan garis lurus hingga ia tak menyadari seberapa tinggi ㅡehm pendek maksudnya dirinya itu.

Sebenarnya tinggi itu relatif ya, jika Luhan disandingkan dengan sebangsa Kyungsoo yang mungil-mungil imut mungkin Luhan memang terbilang tinggi tapi jika ia disandingkan dengan Huang Zi Tao anak kelas 1 yang adalah hoobae perempuan paling tinggi di sekolah ini jelas saja Luhan jauh lebih pendek, bukan?

Hanbin memutar bola matanya malas dan mencoba menghindari Luhan untuk mengejar langkah Kyungsoo yang sudah jauh didepan sana bersama Yixing. Istilahnya, Kyungsoo semakin didepan, Hanbin makin ketinggalan. Yahh, seperti itulah.

"Kubilang jangan ikuti Kyungie ku, dasar buaya darat!" Umpat Luhan sinis dan memelototi Hanbin dengan mata sipitnya.

"Aish! Kau merepotkan sekali" gerutu Hanbin dan langsung mendorong Luhan hingga Luhan terjatuh ke lantai dengan tidak elite nya.

"Sunbae!" Untungnya si pacar berondong ㅡjulukan Luhan dan Kyungsoo untuk Suhoㅡ segera datang dan menolong Luhan yang terjerembab di lantai sedangkan Hanbin dengan brengseknya malah berlari mengejar Kyungsoo.

Hanbin tak tahu saja bahwa dengan melewatinya untuk mendapatkan Kyungsoo adalah bencana besar karena selanjutnya ia akan menghadapi monster yang sesungguhnya, Zhang Yixing.

Jangan kira gadis yang lebih banyak diam dan kelihatan acuh itu tak bisa marah. Kita buktikan saja sekarang.

"YAK! KURANG AJAR KAU KIM! KAU MAU MATI HUH? DEMI KOLOR BATMAN KAKAKKU, MENJAUH DARI KYUNGSOO!" Luhan dan Suho yang berada di kajauhan pun langsung menutup telinga mereka rapat-rapat karena suara dahsyat nan membahana milik Yixing, apalagi Hanbin yang berjarak dekat dengan sumbernya. Dijamin telinganya akan tersumbat untuk beberapa hari. Tolong iris telinga wajan jika itu tidak terjadi.

Dan lihat hasilnya? Hanya dengan teriakan dari si acuh Yixing, Hanbin langsung mematung tak berani melangkah lebih dekat pada Kyungsoo.

'Cihh. Akhirnya dia mau juga menyingkirkan si kunyuk itu' batin Luhan dengan senyum miringnya mengingat sejak kemarin Yixing dengan otak tidak warasnya menyetujui hubungan Hanbin dan Kyungsoo. Sukurlah jika saat ini otak Yixing kembali waras.

"Aku tidak tahu Yixing noona bisa berteriak sekeras itu" gumam Suho yang terdengar melankolis.

"Yah, Kau hanya perlu menunggu saat itu, Suho" Luhan yang masih duduk di lantai manggut-manggut sok misterius dan perkataannya barusan sungguh tak dimengerti oleh Suho yang ber-IQ tinggi sekalipun. Ucapan Luhan itu begitu ambigu.

Dilain tempat, Kyungsoo sudah sampai bersama Yixing di perpustakaan, tempat yang memang ia tuju sejak awal.

"Aku baru tahu bahwa suaramu begitu dahsyat" gumam Kyungsoo ogah-ogahan sambil duduk di salah satu bangku perpustakaan.

Sebenarnya ia agak sedikit takut mengunjungi tempat ini karena masih jelas membekas di ingatannya saat ia terkunci ditempat menyeramkan ini sendirian sebelum akhirnya Kai datang.

Ah, Kai... Bicara soal itu membuat Kyungsoo kembali dilanda perasaan aneh yang menggelitik. Padahal baru beberapa hari yang lalu ia bertemu pria itu tapi dengan seenak jidatnya pria itu mampu membuat Kyungsoo menjadi melankolis seperti ini.

"Kau tahu? Awalnya aku pacaran dengan Joonmyeon karena kasihan padanya" Yixing yang sedang melihat-lihat judul buku di lemari berujar sambil terkikik geli ketika mengingar kembali bagaimana awalnya ia pacaran dengan si hoobae manis itu.

Kyungsoo menatap Yixing heran, aneh saja saat tiba-tiba Yixing bercerita soal kisah asmaranya bersama Suho alias Joonmyeon yang tak pernah Yixing ceritakan pada siapapun. Yixing itu bukan tipe orang yang suka bicara secara gamblang tentang kisah asmaranya maka dari itu terasa janggal saat gadis itu menceritakan sendiri kisahnya tanpa diminta.

'Mungkin Yixing ingin mencairkan suasana' batin Kyungsoo sambil menatap punggung Yixing yang membelakanginya dengan tatapan aneh.

"Beberapa minggu sebelumnya aku kerap kali menemukan berbagai hadiah kecil di lokerku, dan ternyata anak itu mengakui bahwa ia yang mengirim semua hadiah itu. Tanpa rasa takut, ia memintaku jadi kekasihnya. Aku tentu saja tidak tega untuk mengabaikannya. Lagipula ia manis, begitu pikirku. Tapi kau tahu, Kyung? Perasaan bodoh ini datang seiring berjalannya waktu. Sikap Suho yang kukira kekanakan ternyata jauh lebih dewasa dariku. Dia membuatku nyaman meski usianya lebih muda dariku. Aku menyesal pernah berpikir bahwa aku akan memutuskan Suho setelah keadaannya tepat" jelas Yixing panjang lebar sambil tersenyum-senyum sendiri layaknya orang tidak waras. Oh tidak! Tuhan! Jangan biarkan otak Yixing kembali tidak waras seperti kemarin!

Pada akhirnya, Kyungsoo pun ikut tersenyum mendengar cerita Yixing tentang bagaimana mereka bisa pacaran.

'Apakah kisahku dengan Kai ahjusi juga akan terdengar menyenangkan nantinya?' Batin Kyungsoo yang menunduk sembari memainkan halaman pada buku yang ia baca.

.

.

.

Sore ini Kyungsoo kembali mengunjungi Kai di rumah sakit. Keadaan Kai memang masih sama, pria itu tak bisa meninggalkan ranjang rumah sakitnya. Keadaannya masih belum stabil untuk dapat bergerak bebas.

Hanya ada Chanyeol seorang yang tengah menunggu Kai didalam kamar rawatnya tapi ia segera meninggalkan kamar Kai untuk memberikan ruang bagi Kyungsoo dan Kai.

"Hai" sapa Kyungaoo canggung pada Kai yang masih berbaring di ranjangnya.

Kai menatap Kyungsoo lekat-lekat sebelum akhirnya tersenyum menawan layaknya Kim Jongin yang seperti biasanya. Dan demi apapun, meski tengah menderita di ranjang rumah sakit pun Kai tetap terlihat tampan dengan senyumannya. Tolong ingatkan Kyungsoo untuk mencuci otaknya setelah ini.

"Kau belum makan kan ahjusi? Ayo makan" Kyungsoo mengambil makanan yang sudah di sediakan untuk pasien di atas nakas dan memberikan sesendok bubur di depan bibir Kai.

Dengan senyum yang masih terpatri, pria yang dipanggil 'ahjusi' itu membuka mulutnya dan menerima suapan dari Kyungsoo.

"Rasanya hambar sekali" komentar Kai dengan suaranya yang masih agak parau.

"Tentu saja, ini kan makanan orang sakit. Makanya kau harus cepat keluar dari sini agar dapat mencicipi makanan enak lagi" cengir Kyungsoo sambil kembali menyuapi Kai.

"Dasar cerewet" balas Kai sambil menjawil hidung mancung Kyungsoo membuat empunya meringis dan menampakan wajah protesnya pada Kai.

"Ahjusi?" Panggil Kyungsoo lirih. Suaranya tiba-tiba berubah 180° saat ini membuat Kai sedikit heran dan khawatir tentang perubahan Kyungsoo yang begitu cepat.

"Hm?"

"Terkadang aku memikirkan hal ini, kenapa kau mau-mau saja dijodohkan dengan anak ingusan sepertiku?"

Kai terdiam cukup lama sebelum akhirnya tertawa lebar di hadapan Kyungsoo, "mana tega aku menolak permintaan orang tuaku" jawabnya setelah tawanya reda.

"Kenapa begitu?"

"Aku hanya ingin membalas kebaikan mereka" Kai berucap dengan nada yang sedikit berbeda, kali ini nadanya sangat dalam dan diresapi, "selama 25 tahun aku hidup, aku selalu banyak meminta ini dan itu pada mereka. Bahkan mereka mengijinkan aku untuk kuliah di luar negeri hingga S2 padahal appa sudah ingin menyerahkan jabatannya pada putra nya mengingat Chanyeol hyung lebih memilih jadi seorang arsitek. Maka kali ini aku ingin memenuhi permintaan mereka. Tidak ada salahnya bukan? Toh aku tidak rugi ketika mengenalmu" Kai tersenyum lembut pada Kyungsoo, "nah begitu singkat ceritanya nona yang serba ingin tahu"

Kai mengusak puncak kepala Kyungsoo dengan gemas sambil tersenyum menawan dan Kyungsoo sungguh tak mampu menolak pesona pria di hadapannya.

'Gila! Dia ini keturunan Dewa ya!' Teriak Kyungsoo dalam hati ketika melihat pahatan sempurna wajah Kai seakan komedo pun tak tega mampir disana.

"Apa kau tak ingin menjalankan perjodohan ini, Kyung?" Kai bertanya dengan nada santai dan entah kenapa lidah Kyungsoo terasa kelu untuk menjawabnya, "tidak apa, Kyungsoo. Aku mengerti jika kau tidak mau. Aku mengerti betul bahwa kau masih terlalu dini untuk mengalami ini"

Namun Kyungsoo cepat menggeleng tanpa menatap mata Kai secara langsung, ia menunduk cukup dalam sambil berucap pelan, "aku juga tak ingin mengecewakan mereka, sungguh," Kyungsoo mendongak dan memberanikan menatap bola mata gelap milik calon tunangannya, "lagipula kau sangat baik padaku, jadi untuk apa aku keberatan?" Wajah Kyungsoo berubah berseri.

Ucapan Kyungsoo membuat Kai sedikitnya lega. Kini ia mendengar langsung dari Kyungsoo bahwa gadis itu tak keberatan dengan perjodohan mereka yang memang cukup aneh mengingat jauhnya umur mereka dan Kyungsoo yang masih duduk di bangku SHS.

"Oh ya, soal yang waktu itu..."

"Apa?"

"Mmmm.. Yang waktu kita bertemu dengan seorang wanita di daerah Apgujeong" gumam Kyungsoo sambil menunduk tak berani bertatapan langsung dengan Kai.

"Ya? Ada apa dengan itu, Kyungsoo?" Tanya Kai heran. Ia jelas masih mengingat itu. Itu adalah saat ia mengetahui bahwa Kyungsoo punya kekasih kan?

"Ahjusi tidak marah kan?" Cicit Kyungsoo pelan.

"Tidak, tentu saja. Sudah kubilang kan bahwa gadis cantik sepertimu pasti sudah punya pacar"

"Tapi sekarang tidak kok! Aku sudah memutuskan dia" bela Kyungsoo yang sontak mendongak pada Kai.

Kai terkikik geli, "apa aku disini jadi pihak ketiga?" Tanya Kai santai.

"Aniyo. Aku memang sudah berniat mengakhiri ini sejak lama" lirih Kyungsoo.

Tak terasa makanan yang ada di mangkuk sudah habis karena mereka mengobrol sambil Kyungsoo menyuapi Kai. Tidak susah juga membuat Kai meminum obatnya. Tentu saja itu karena Kai bukan lagi anak-anak atau remaja labil yang tak suka obat.

"Kau beristirahatlah, ahjusi. Aku akan pulang sekarang" ujar Kyungsoo yang bersiap untuk pulang dengan tas sekolah yang ada di bahunya.

Kai membalasnya dengan anggukan dan senyuman samar. Entah kenapa ia menanti hari esok agar Kyungsoo datang lagi kesini. Rasanya menyenangkan berada di dekat Kyungsoo. Kai juga tidak mengerti akan hal itu.

Setelah pamit pada Kai dan pada Chanyeol yang setia menunggu di luar kamar rawat, Kyungsoo pun pulang dengan mobil jemputannya.

Kyungsoo begitu bersukur karena kondisi Kai cepat pulihnya. Banyak kemajuan yang diraih pria tampan berusia 25 tahun itu meski baru siuman kemarin.

Di benak Kyungsoo, dulu ia sempat berpikir bahwa sosok Kim Jongin adalah pria kuno dan membosankan mengingat jika pria itu sudah dewasa namun setelah mengenal Kai lebih dekat, Kyungsoo mengenyahkan pemikiran bahwa Kai itu sosok pria yang kuno dan membosankan, pria itu justru berada di keadaan yang sebaliknya, ia sangat menyenangkan dan kekinian. Hal itu membuat Kyungsoo merasa seperti bersama dengan teman se-usianya saat mengobrol dengan Kai.

Dan satu minggu pun berlalu dengan cepat hingga akhirnya Kai dinyatakan boleh keluar dari rumah sakit namun harus tetap meminum obatnya serta dilakukan pengecekan 2x dalam satu minggu selama kurang lebih 1 bulan ini untuk memastikan bahwa tak ada cidera di kepala Kai pasca operasi dan untuk mengecek kestabilan fungsi saraf-saraf tubuhnya.

"Terimakasih sudah mau meluangkan waktu mu untuk mengantarku pulang" ujar Kai sambil melirik Kyungsoo yang duduk di sebelahnya tepat di jok belakang mobil Audi mahal yang membawa Kai menuju rumahnyaㅡ mansionnya maksudnya.

"Hn, lagipula aku sudah janji, 'kan?" Balas Kyungsoo disertai senyum kekanakannya.

Kai tak berkomentar lagi dan hanya tersenyum melihat betapa polosnya Kyungsoo. Gadis itu benar-benar.

"Ah ya, omong-omong... ahjusi suka masakan apa?" Tanya Kyungsoo setelah cukup lama terdiam. Ia tak suka suasana canggung begitu makanya ia berusaha mencari topik baru.

"Chicken"

Kyungsoo lantas melongok dengan mata bulatnya yang tidak berkedip barang sedetikpun saat mendengar jawaban singkat dari Kai.

"Wae?" Tanya Kai heran saat Kyungsoo justru malah memasang ekspresi blank padanya.

"H-hanya itu?" Kyungsoo jadi gelagapan dibuatnya. Kai ini susah ditebak sekali.

"Tidak juga. Aku menyukai makanan dengan bahan dasar daging ayam, begitulah" ujarnya sambil mengangguk-angguk sendiri kemudian teringat sesuatu, "olahan seafood juga lumayan" lanjutnya.

"Bagaimana dengan Jjim Ddak?"

Kai mengangguk dengan senyum menawannya.

"Bagaimana dengan olahan laut seperti Ganjang Gejang dan Nakji Bokkeum?"

Kai kembali mengangguk namun ia sedikit mengerutkan keningnya ketika menatap Kyungsoo, "kenapa kau tiba-tiba ingin tahu soal makanan kesukaanku?"

Pertanyaan Kai sontak mengundang Kyungsoo untuk tersenyum lebar, "kau kan sudah keluar dari rumah sakit, jadiㅡ"

"Kau mau memasakkan makanan untukku?" Sela Kai sebelum Kyungsoo sempat menyelesaikan ucapannya dan hal itu membuat Kyungsoo mencebikkan bibirnya kesal.

"Ahjusi! Tidak sopan memotong ucapan orang lain tahu" Kyungsoo merajuk dan Kai tertawa ringan.

Jika boleh jujur, Kyungsoo yang seperti ini benar-benar menggemaskan.

"Memangnya kau bisa memasak?" Goda Kai yang berhasil memancing tatapan penuh api membara dari Kyungsoo.

"Yak!" Kyungsoo tanpa sadar kembali merajuk pada Kai dan memukul pelan lengan Kai yang masih terluka.

"Aw! Itu sakit Kyungsoo" Kai membalas Kyungsoo dengan menjawil hidung Kyungsoo, ia gemas sekali pada anak ini, sungguh. Saking gemasnya ia rasanya ingin meninggalkan Kyungsoo bersama Yeti di Tibet. Lupakan, itu hanya bercanda. Mana tega ia berbuat seperti itu.

Dan Kyungsoo pun dibuat tertawa akan keributan yang ia buat bersama Kai didalam mobil sedangkan supir yang menyetir di depan untuk si tuan Kim hanya tersenyum maklum dengan skinship antara keduanya. Biasa... pasangan muda.

.

.

.

"Maaf Hanbin-ah, kurasa hubungan kita cukup sampai disini saja, aku sudah di jodohkan"

Ucapan Kyungsoo seminggu yang lalu masih terngiang di kepala Hanbin dan itu seolah menjadi tombak beracun baginya.

Bagaimana pun tidak semudah itu melupakan gadis yang sudah ia pacari hampir 3 tahun meski dalam keadaan putusㅡnyambung.

Ia memang brengsek, ia tahu itu. Tapi tetap saja rasanya menyakitkan saat Kyungsoo memutuskan hubungan mereka yang kesekian kalinya, kali ini dengan begitu mudahnya seakan tak ada beban di benak gadis itu.

'Apa Kyungsoo benar-benar sudah melupakanku?' Batin Hanbin termenung sendiri di halaman belakang rumahnya menghadap pada kolam ikan besar yang airnya begitu jernih sampai-sampai tak sadar ketika seseorang duduk di sebelahnya.

"Memikirkan Kyungsoo lagi, huh?" Dan saat suara itu mengalun, baru lah Hanbin sadar bahwa kini disebelahnya sudah ada Jinhwan yang entah datang dari mana.

"Ah, hyung." Gumam Hanbin sekedar menyapa.

"Jika aku jadi Kyungsoo, aku juga akan melakukan hal yang sama, Hanbin-ah" ujar Jinhwan terus terang.

"Aku memang brengsek hyung"

"Kau sadar itu, tapi kenapa kau masih terus melayani si jalang Choi Jinri itu?" Tanya Jinhwan penuh emosi mengingat sekarang Hanbin kembali menjalin hubungan dengan Sulli. Ya, memang benar. Istilah gaulnya CLBK begitu. Dan yang membuat Jinhwan tak habis pikir adalah kenapa Hanbin masih suka mengejar Kyungsoo ketika di sekolah jika ia memang sudah kembali bersama Sulli? Sepertinya disini yang patut di salahkan memang Hanbin.

Jinhwan sejak awal memang selalu blak-blakan menunjukan rasa tidak sukanya terhadap Sulli namun saking tebalnya kulit wajah wanita itu yang juga ditambah tebalnya make up maka ia pura-pura tidak peka saja tentang ketidaksukaan Jinhwan padanya, baginya yang penting adalah mendapatkan Hanbin, atau lebih tepatnya tubuh Hanbin.

"Aku tak mengerti kenapa wanita gila itu begitu tergila-gila dengan tubuhmu! Dia benar-benar wanita sialan" maki Jinhwan dengan wajah yang sudah memerah padam.

Hanbin hanya terdiam, tak marah atau pun merasa tersinggung. Yang dikatakan Jinhwan memang benar tapi entah kenapa ia selalu terbujuk hawa nafsu untuk terus melayani kegilaan Sulli. Ia adalah laki-laki, dan laki-laki mana yang tak akan tergoda jika seorang wanita terang-terangan memberikan tubuhnya dengan sukarela untuknya.

"Aku tahu hatimu memilih Kyungsoo, Hanbin-ah. Ucapan Bobby mungkin memang ada benarnya tentang kau yang ingin mencicipi Kyungsoo yang jelas-jelas masih polos namun itu tidak sepenuhnya benar karena aku tahu kau menyayangi Kyungsoo jauh didalam hatimu" Jinhwan menepuk bahu Hanbin sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "semuanya memang sudah terlambat untuk diperbaiki. Kyungsoo sudah terlanjur kecewa padamu dan ia sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Kuharap kau juga memulai kisahmu sendiri, tapi bukan bersama Sulli. Tinggalkan jalang itu, aku percaya bahwa kau bisa mengendalikan hasrat kelelakianmu jika kau bersungguh-sungguh. Sampai mati pun aku tak akan pernah menyetujui hubungan kotormu dengan Choi Jinri"

.

.

.

Setelah setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya Kyungsoo dan Kai sampai di mansion Kim.

Omong-omong, Chanyeol dan Baekhyun tidak bisa ikut mengantar Kai pulang karena mereka sedang berada di belahan dunia yang berbeda. Baekhyun tengah berada di Thailand sedangkan Chanyeol di Jepang. Dasar orang-orang sibuk.

Kyungsoo berjalan berdampingan dengan Kai memasuki mansionnya. Saat masuk kedalam, hanya ada para pekerja yang menyambut kepulangan anak majikan mereka, si tampan sexy dari keluarga Kim yang kaya raya. Begitulah julukan mereka terhadap Kai.

"Kemana orang tua ahjusi?" Tanya Kyungsoo tiba-tiba.

"Mereka masih di Australia" jawab Kai dengan tungkai yang mulai melangkah menaiki anak tangga.

Kyungsoo hanya mengangguk mengerti meski Kai yang kini berada di depannya tidak dapat melihatnya.

Mereka tetap berada dalam keheningan sampai suaraㅡ

GEDEBUK

ㅡterdengar di belakang Kai membuat Kai yang sudah menapaki lantai dua menoleh ke arah anak tangga lalu melotot saat melihat Kyungsoo jatuh terduduk di anak tangga teratas.

"Kyungsoo!" Dengan wajah cemas, Kai pun menghampiri Kyungsoo dan berjongkok di hadapan gadis SHS yang masih menunduk itu.

"Kyungsoo-ya, gwaenchanhayo?"

Kyungsoo mendongak dan Kai semakin bingung kala melihat mata Kyungsoo yang sudah berkaca-kaca, "appayo. Tulang keringku sakit ahjusi" jawab Kyungsoo dengan suara bergetar menahan tangis.

"Aigoo~ ayo kita pindah dulu kesana" Kai menunjuk sebuah ruangan tanpa sekat dimana disana terdapat serangkai kursi dengan meja dan lemari kaca yang dipenuhi guci mahal.

Kyungsoo hanya mengangguk patuh kemudian berusaha berdiri meski tulang kering sebelah kanannya terasa sakit karena berbenturan dengan ujung tembok.

Setelah Kyungsoo duduk di kursi, Kai segera memanggil maid untuk membawa cuka, air dan kapas kemudian mengobati memar di betis Kyungsoo yang sudah mulai berwarna kehijauan.

"Appayo ahjusi hukss"

Kai yang tengah berjongkok di kaki Kyungsoo pun lantas mendongak dan mendapati wajah Kyungsoo sudah basah oleh air mata, alih-alih merasa cemas Kai justru tersenyum melihat betapa lucunya Kyungsoo.

Sejatinya Kyungsoo tetaplah anak SHS yang mungkin masih labil dan manja, seceria apapun anak itu, dia tetaplah masih anak-anak yang harus Kai lindungi di belakang punggungnya.

"Uljima, jika dibiarkan dan tak di obati akan semakin bertambah sakit" Kai tersenyum menenangkan kemudian mengusap air mata Kyungsoo dengan kedua ibu jarinya yang kokoh membuat Kyungsoo setidaknya berhenti menangis.

Beberapa maid yang masih berada di sana ㅡjaga-jaga kalau Kai membutuhkan bantuanㅡ pun sangat tercengang saat Kyungsoo memanggil tuan muda mereka dengan panggilan 'ahjusi' dan saat melihat betapa lembutnya sikap Kai terhadap Kyungsoo. Ugh, mereka jadi iri. Siapa pula yang tidak mau diperlakukan seperti itu oleh si tampan Kai.

"Ahjusi, mian" cicit Kyungsoo setelah Kai selesai dan dengan lembut meniupi luka memar Kyungsoo hingga Kyungsoo merasa bahwa dirinya selalu aman saat berada bersama pria itu.

"Kenapa minta maaf?"

"Seharusnya kau kan beristirahat sekarang, kau juga baru saja keluar dari rumah sakit tapi aku selalu saja merepotkan ahjusi" tutur Kyungsoo dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

"Tidak apa, Kyungsoo-ya. Sebagai laki-laki aku harus selalu menjagamu bukan?" Untuk kesekian kalinya Kyungsoo terpana saat Kai memberikannya sebuah senyuman manis.

'Aku bisa gila!' Jerit Kyungsoo dalam batinnya.

Kai berdiri kemudian mengusak kepala Kyungsoo yang masih duduk dengan gemas.

"Aku akan ganti baju dulu. Kau tunggu sebentar okay?"

Kyungsoo mengangguk polos kemudian Kai pun segera memasuki kamarnya untuk berganti baju.

Setelah Kai menghilang dibalik pintu kamarnya, Kyungsoo langsung mengedarkan tatapannya ke semua penjuru ruangan yang terlihat begitu mewah.

"Sepertinya Kim ahjuma sangat menyenangi hiasan dalam lemari" gumam Kyungsoo sambil mengamati satu persatu guci yang terpajang didalam lemari kaca.

Tak lama waktu yang Kyungsoo lewati sendirian karena Kai sudah selesai berganti baju.

Untuk ke sekian kalinya Kyungsoo merasa bahwa Kai adalah anak lelaki yang baru lulus SHS ketika melihat penampilan casual pria itu. Tidak seperti pria dewasa berusia 25 tahun.

"Menunggu lama?" Tanya Kai sambil menghampiri Kyungsoo.

"Tidak sama sekali. Ahjusi berganti baju cepat sekali" tutur Kyungsoo seadanya.

Mereka terdiam cukup lama setelahnya. Mereka tidak tahu harus membicarakan apa karena tiba-tiba saja suasana menjadi canggung sampai akhirnya Kyungsoo ingat sesuatu yang ingin ia tanyakan sejak dulu pada Kai.

"Ahjusi.." cicit Kyungsoo terdengar ragu-ragu.

"Hm?"

"Maaf, tapi aku sangat penasaran. Kenapa kau dengan Chanyeol oppa berbeda marga?"

Kai terdiam sejenak setelah pertanyaan Kyungsoo terlontar barusan kemudian tersenyum kecil pada Kyungsoo.

"Tidak apa jika ahjusi tidak mau mengatakannya" ujar Kyungsoo cepat sambil mengibas-ngibaskan tangannya didepan Kai dengan panik, takut jika Kai merasa tersinggung.

"Siapa bilang aku tidak mau mengatakannya? Kau terlalu cepat menyimpulkan, nona Do. Aku dan Chanyeol hyung berbeda ayah. Istri Appa yang pertama meninggal saat sebulan setelah mereka menikah karena kanker yang di deritanya. Kemudian Appa menikah dengan Eomma yang sudah memiliki Chanyeol hyung waktu itu. Lalu beberapa bulan kemudian aku lahir. Begitulah ceritanya. Ayah Chanyeol hyung adalah seorang Arsitek hebat yang bekerja untuk perusahaan asing di Belanda. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali. Dia pria yang baik dan sekurangnya selalu datang menjenguk Chanyeol hyung 2 atau 3 tahun sekali. Dia sangat sibuk" jelas Kai dengan rinci.

Kyungsoo termenung sejenak, betapa mudahnya Kai bercerita soal keluarganya padanya yang bahkan belum pria itu kenal lama.

"Aku mengerti" balas Kyungsoo polos.

"Hey, Kyungsoo-ya. Kapan kau akan memasakkan makanan untukku?" Tanya Kai dengan sebuah senyum jahil di wajahnya.

Lantas Kyungsoo menatap Kai dengan penuh protes, "aku tidak bilang akan memasakkan makanan untuk ahjusi!" Protesnya.

"Tapi tadi kau sudah menanyai makanan kesukaanku"

"Ya, tapi aku kan tidak bilang mau memasakannya untuk ahjusi wlee"

Kyungsoo menjulurkan lidahnya dengan gaya mengejek pada Kai membuat Kai gemas dan tertawa keras.

"YA! Jangan tertawa, tak ada yang lucu tahu! Dasar ahjusi aneh" gerutu Kyungsoo sambil bersedekap dada. Lihatlah, padahal tadi Kyungsoo menangis dan bersikap manja pada Kai karena tulang keringnya sakit namun sekarang ia sudah beradu mulut lagi dengan Kai.

'Kyungsoo hanya anak-anak. Kenapa aku begitu senang saat bersamanya seakan mempelajari suatu hal baru yang belum pernah kutemui sebelumnya. Ia seperti bunga sakura yang mekar di musim semi. Senyum nya seakan dapat melelehkan salju di musim dingin. Aku ingin membuat ia terus tersenyum. Apakah mungkin?'

.

.

.

Do Family's Home, 07.28 KST.

Kyungsoo merengut di meja makan sambil memakan sandwich buatan ibu nya yang biasanya selalu menjadi penyemangat paginya sebelum berangkat ke sekolah.

"Ada apa, Kyung?" Tanya Sehun yang duduk di sebelahnya dan sejak tadi memperhatikan raut wajah Kyungsoo yang sangat suram, padahal ini masih pagi, bahkan burung-burung pun masih asik bernyanyi di ranting pohon. Bisa-bisa aura suram Kyungsoo nanti akan membuat burung-burung itu menyanyikan lagu kematian. Baiklah, itu terlalu berlebihan.

"Sehun oppa ayo antarkan aku" Kyungsoo tiba-tiba berdiri dari kursinya kemudian menarik Sehun yang bahkan belum mandi sama sekali.

"Kenapa buru-buru, sayang? Tak mau pamitan dulu pada Appa dan Eomma?" Tanya tuan Do yang masih menikmati sarapan paginya di meja makan.

Kyungsoo yang sudah mencapai pintu keluar ruang makan langsung berbalik dengan masih menarik tangan Sehun lalu mengecup pipi tuan Do dan beranjak ke dapur untuk mengecup pipi ibunya. Dia jadi seperti gadis plin plan.

"Kyungsoo berangkat. Annyeong~" seru Kyungsoo dengan nada ogah-ogahan dan kembali menarik Sehun untuk segera mengantarnya ke sekolah.

"Kyungsoo-ya. Yang benar saja, aku bahkan masih berpakaian begini" protes Sehun.

"Tidak apa-apa aish! Lagi pula kan kita naik mobil. Tak akan ada yang melihatmu, oppa. Lagian juga ketampanan oppa tak akan berkurang hanya karena oppa belum mandi" gerutu Kyungsoo yang langsung memaksa Sehun masuk kedalam kursi kemudi sedangkan ia duduk di sisi lain mobil.

"Kenapa tak diantarkan Jongin?" Tanya Sehun yang memilih menuruti saja keinginan Kyungsoo dan melajukan mobilnya membelah jalanan kota Seoul.

"Dia sibuk" jawab Kyungsoo ketus.

Sehun hanya mengangguk-angguk paham, ia sekarang tahu kenapa mood Kyungsoo begitu jelek di pagi hari ini. Pasti karena Kai tak bisa mengantarnya.

'Kyungsoo makin akrab saja dengan Kim Jongin' kekeh Sehun dalam hatinya.

...

Heenan Senior High School, 07.45 KST.

Mobil yang dikemudikan oleh Sehun menepi di halaman depan sekolah Kyungsoo, tak menunggu lama Kyungsoo langsung turun dari mobil setelah memberikan kecupan sayang di pipi pada kakak sepupunya itu.

"Sampai jumpa, Sehunie" ujarnya seraya melambaikan tangan dan memasuki gedung sekolahnya.

Saat Sehun akan menginjak pedal gas, matanya tiba-tiba saja tak sengaja melihat Luhan berjalan berdampingan bersama seorang pria berwajah cantik mungkin?

Dengan mata kepalanya sendiri, Sehun dapat melihat bahwa Luhan kelihatannya senang-senang saja bersama pria itu, lihat saja senyum Luhan yang mengembang begitu lebarnya.

Sehun memegang stir mobilnya dengan erat, kenapa ia jadi merasa gerah begini ya?

"Aish! Cuaca disini panas sekali sih" monolog Sehun sambil menginjak pedal gasnya makin dalam dan melajukan mobilnya meninggalkan sekolahan Kyungsoo sejauh mungkin tanpa mau melirik ke belakang lagi, tepatnya tak mau melihat Luhan bersama pria itu lagi.

Lain hal nya dengan Luhan yang memang sedang berjalan memasuki gedung sekolahnya sambil mengobrol dengan si pangeran sekolah, Kevin Wu ㅡ pria yang di gadang-gadang memiliki wajah androgini.

"Jadi kau free sore ini?" Tanya Kevin seraya mengamati wajah ayu Luhan yang berjalan di sampingnya.

"Kurasa tidak. Aku berencana keluar bersama Yixing dan Kyungsoo" jawab Luhan ragu.

Dan persepsi Luhan semakin meragu saat ia melihat sahabatnya ㅡYixingㅡ dan Suho tengah bercakap di area mading dekat tangga menuju lantai 2.

"Ayolah noona. Aku sungguh tidak melakulan itu. Mana berani aku"

"Tch. Berhentilah berbual, Kim Joon Myeon, aku sungguh muak"

"Aku tidak berbual, noona. Sungguh. Kami hanya teman kecil. Dia hanya teman masa kecilku, noona."

"Ternyata kau sama saja dengan lelaki brengsek diluar sana. Mati saja kau Kim!"

"Astaga noona! Kenapa bicara seperti itu? Percayalah padaku! Ayolah noona~"

Itulah obrolan panas yang tak sengaja terdengar oleh telinga tajam Luhan saat ia dan Kevin melewati pasangan yang sepertinya tengah bertengkar itu.

Rencananya bisa gagal total jika begini karena ia tahu mood Yixing akan sangat buruk jika ia sedang bertengkar dengan Suho. Bahkan pertengkaran mereka bisa bertahan sampai berhari-hari. Apa sebabnya? Ya jelas karena Yixing yang keras kepala dan tak mau mengalah, ia tak pernah mau mendengar penjelasan Suho. Ia baru akan mendengarkan setelah suasana hatinya mendingin dan pendinginan itu butuh waktu beberapa hari baginya.

Dari yang Luhan dengar, sepertinya mereka tengah bertengkar karena masalah 'mungkin Suho selingkuh' atau sejenisnya.

Jika Suho benar-benar terbukti selingkuh, maka bisa di pastikan bahwa keesokan harinya mayat Suho dan selingkuhannya tersebut akan mengambang di perairan sungai Han dengan kondisi tercabik-cabik dan usus yang keluar dari perut.. Cukup! Itu menjijikan, okay?

"Itu Yixing, bukan?" Tanya Kevin setelah mereka berada di lantai 2.

"Hm, itu dia"

"Sepertinya dia tengah sibuk" kekeh Kevin mengingat barusan Yixing bahkan tak menyadari bahwa salah satu sahabatnya lewat di depannya saking sedang emosinya dia.

"Ya, kelihatannya begitu" jawab Luhan pelan.

"Kau bisa menghubungiku jika hangout mu tidak jadi" tawar Kevin sambil menyerahkan ponselnya di depan Luhan.

Dengan agak ragu, Luhan pun menerima ponsel Kevin dan menuliskan nomornya disana lalu melakukan panggilan singkat pada nomornya tersebut atau yang sering kita sebut missed call sehingga nomor ponsel Kevin diketahui oleh Luhan.

"Sip! Hubungi aku jika kau senggang" Kevin lantas melambai pada Luhan karena kelasnya berada di lorong yang berbeda dengan Luhan.

Luham hanya tersenyum kecil pada Kevin tanpa membalas lambaian tangan pria androgini itu.

Setelah bayangan Kevin menghilang dari pandangannya, Luhan kembali melanjutkan langkahnya dan cukup kaget saat melihat Kyungsoo yang sudah berdiri di depan kelasnya.

"Sudah move on dari Sehun oppa?" Tanya Kyungsoo dengan ekspresi menggodanya pada Luhan.

Luhan tersenyum getir, senyum yang tak pernah Kyungsoo lihat sebelumnya dari seorang Xi Luhan yang selalu ceria. Ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.

"Aku lelah mengejarnya, Kyungie-ya. Kau tahu? Sehun oppa sama sekali tidak peka meski aku mendekat padanya, atau mungkin dia memang sengaja tak memberi respon padaku" ujar Luhan dengan melankolis, "aku ke kelas dulu ya. Sampai ketemu jam istirahat. Bye" Luhan tersenyum singkat pada Kyungsoo kemudian berlalu dari Kyungsoo karena sudah jelas kan bahwa kelasnya dan kelas Kyungsoo berbeda.

Kyungsoo terdiam di depan pintu kelasnya sambil merenung, "kenapa dia bisa benar-benar galau seperti itu?"

.

.

.

Bel istirahat berdentang nyaring dan itu membuat Kyungsoo rasanya ingin berjoged ditengah lapangan saking senangnya. Kenapa bisa begitu? Jawabannya hanya satu, karena bel itu mengakhiri penderitaannya dalam jam pelajaran Kimia dengan Park Seonsaengnim.

Sudah tahu sendiri bukan bahwa Kyungsoo selalu kena omel tanpa alasan oleh Park Seonsaengnim. Dia memang suka sekali cari gara-gara dengan Kyungsoo. Untung saja dia guru, kalau bukan sudah pasti Kyungsoo akan menendangnya dari sekolah ini, apalagi ini sekolah milik keluarganya.

"Kau selamat?" Kyungsoo terlonjak kaget saat Luhan tiba-tiba duduk di sebelahnya dan bertanya demikian. Kapan anak itu memasuki kelasnya?

"Apa maksudmu?"

"Guru Park"

"Seperti biasanya. Dia selalu mengomel padaku tanpa sebab" jawab Kyungsoo dengan malas. Ia sendiri sudah kebal dengan segala bentuk semprotan tuan Park padanya selama jam pelajaran Kimia berlangsung namun meski begitu tetap saja ia suka merasa kesal pada si tuan Park itu.

"Kenapa tak kau tendang saja dia keluar dari Heenan? Ini kan milik orang tuamu, Kyung" provokasi Luhan.

"Tidak, tidak. Aku masih punya hati, Luhan. Kau pikir aku sejahat itu? Tidak, terimakasih" tolak Kyungsoo sambil menggeleng imut, "ayo kita pergi ke cafetaria. Kutebak Yixing sudah disana. Dia sedang bertengkar dengan Suho kan?"

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Karena saat aku lewat didepan mereka pagi tadi, mereka tengah beradu mulut"

'Persis seperti yang ku alami' pikir Luhan.

Jadi pertanyaannya adalah seberapa lama durasi mereka bertengkar pagi tadi?

.

.

.

Tidak sesuai yang Luhan bayangkan, ternyata hangout sore ini berjalan lancar meskipun dengan Yixing yang benar-benar moody. Setidaknya dia menginginkan hiburan, begitu katanya.

Kini mereka sedang berada di sebuah coffee shop ditengah department store besar sekitaran daerah Dongdaemun.

"Apa sih masalahmu dengan si brondong itu?" Tanya Kyungsoo sambil memainkan game LGR di ponselnya sehingga menimbulkan beberapa suara nyaring.

Yixing mendengus, "dia jalan dengan si Choi Min Ha kemarin" jawabnya dengan nada tidak suka.

"Kau yakin Suho melakukannya seperti yang kau pikirkan?" Tanya Luhan tidak yakin.

"Mungkin hanya salah paㅡ"

"Tidak! Si brengsek itu benar-benar culas" dengus Yixing dengan geraman rendahnya yang penuh dendam.

"Kurasa kau butuh pendinginan, Yie" ucap Kyungsoo kaku. Yixing yang seperti ini memang cukup menyeramkan baginya.

"Oh My God! Jangan sekarang" gumam Luhan dengan mata yang menatap lurus kedepan. Tatapannya sangat kelihatan horror seperti baru saja melihat hantu.

Kyungsoo dan Yixing yang mendengar gumaman Luhan lantas mengikuti kemana arah pandang gadis rusa itu.

Dan seketika rasanya tubuh Kyungsoo seperti terkena badai topan saat melihat seorang wanita yang kini berjalan angkuh mendekati meja mereka.

"Oke, anak-anak. Siapkan minuman kalian. Kurasa sebentar lagi akan terjadi hujan lokal" ujar Luhan dengan rahang yang ditahan. Giginya bergemelutuk melihat wanita angkuh itu.

Yixing juga tak jauh beda dengan Luhan, ia yang sedang moody begini makin tambah kesal saja melihat wanita yang dianggapnya si jalang itu, rasanya ia ingin saja mengasah pedang hitam milik kakeknya di China saat ini dan menebaskannya pada leher wanita ular itu.

Lain Luhan, lain Yixing, lain juga dengan Kyungsoo. Selain merasakan perasaan tidak enak saat melihat kedatangan Sulli, ia ㅡKyungsooㅡ juga merasa bahwa perang dunia ketiga akan pecah sebentar lagi apalagi saat melihat Luhan dan Yixing yang sudah mengangkat lengan kemeja sekolah mereka yang sudah pendek itu menjadi sebatas ketiak sambil berkata "let's rock baby"

"Jauhi Hanbin" ujar Sulli tanpa basa basi.

'Dasar wanita tidak waras' pikir Kyungsoo sambil menatap penampilan wanita itu yang lagi-lagi sangat sexy seperti seorang wanita penggoda di club malam. Apa wanita itu sudah kehilangan urat malu nya?

"Apa masalahmu? Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengannya" jawab Kyungsoo tenang, berbeda dengan kedua temannya yang kapan saja siap mencekik Sulli jika wanita ular itu berani macam-macam pada Kyungsoo.

"Cihh.. Jangan munafik, Do! Aku tahu kau dan Hanbin masih saling berhubungan!" Gertak Sulli membuat Kyungsoo kaget, bukan kaget karena gertakan atau ucapan Sulli, tapi kaget karena kenapa wanita itu begitu terobsesi dengan Hanbin.

Sebenarnya ada apa dengan Hanbin sehingga Choi Sulli begitu tergila-gila padanya hingga sampai hati mengganggu hubungan mereka dulu. Kyungsoo benar-benar tidak habis pikir. Dan lalu apalagi sekarang? Dia bahkan sudah mengakhiri hubungannya dengan Hanbin, lantas kenapa wanita ular ini masih mengganggunya? Oh! Kyungsoo tahu! Sepertinya wanita ular ini memang ingin cari gara-gara dengannya. Ha! Belum merasakan bogem mentah bodyguard nya yang ada di rumah ya? Ehㅡ kenapa bawa-bawa bodyguard nya?

"Atau kau mau memberikan si tan seksi itu untukku, hm? Kurasa dia mungkin lebih hot dari Hanbin, sepertinya dia juga masih naif" seringai Sulli Dan seketika Kyungsoo mengepalkan tangannya saat tahu yang dimaksud wanita ular itu adalah calon tunangannya, si ahjusi tampan itu. Hell! NO!

"DASAR KAU WANITA JALANG. MEMBUSUK KAU DI NERAKA CHOI JINRI!" Teriak Yixing yang kemudian langsung berdiri dan menjambak rambut pirang Sulli dengan keras menghasilkan jeritan histeris dari Sulli.

"BANGSAT!" Kini giliran Luhan yang mengeluarkan sumpah serapahnya, ia mengambil mug hot coffee nya dan hampir saja menyiramkan isinya pada Sulli yang tengah sibuk saling menjambak dengan Yixing namun Kyungsoo segera menahannya.

Sudah cukup ulah Yixing dan Sulli saja membuat mereka jadi pusat perhatian, ia tak mau menambah keadaan semakin runyam meksi ia sendiri sangat super kesal pada wanita itu.

"Lepaskan aku Kyungsoo!" Luhan masih keukeuh dengan gelas hot coffee-nya yang masih ditahan Kyungsoo sekuat tenaga.

"Tidak, Lu! Hentikan." Mati-matian Kyungsoo menahan gelas hot coffee itu agar tidak di tumpahkan Luhan pada Sulli dan menahan agar tidak tumpah pada mereka berdua. Yang mereka ributkan ini sebuah cairan, okay? Panas pula. Tidak lucu jadinya jika hot coffee-nya malah tumpah pada mereka.

"YA! LEPASKAN AKU DO KYUNGSOO!" Teriak Luhan yang sangat bernafsu untuk menyiram Sulli dengan cairan panas itu dan ternyata apa yang di pikirkan Kyungsoo benar-benar terjadi.

hot coffee itu tumpah mengenai seragamnya dan jangan tanya bagaimana rasanya. Panas, tentu saja.

Luhan membekap mulutnya sendiri saat menyadari bahwa yang kena getahnya justru Kyungsoo akibat ulah brutalnya.

"Ack! Panas!" Ujar Kyungsoo sambil mengibas-ngibaskan seragamnya karena rasa panas yang menyerang kulitnya.

Sebagian besar hot coffee itu tumpah pada rok nya dan tentu saja menimbulkan rasa panas pada paha mulusnya.

"Astaga! Kyungsoo-ya! Mian" Luhan juga jadi ikutan panik melihat ekspresi Kyungsoo yang memerah, mungkin menahan rasa panas pada paha dan sebagian perutnya.

Bahkan sebagian lelehan hot coffee itu menetes ke sneakers putihnya.

"Tidak apa, Lu. Tidak apa-apa" ujar Kyungsoo pada Luhan yang kelihatan panik, setidaknya sekarang rasa panas itu sudah mereda karena cairan coffee-nya sudah menyerap pada baju seragamnya.

"YA! Hentikan kalian berdua!" Kyungsoo melerai Yixing dan Sulli yang masih sibuk saling menjambak satu sama lain.

Setelah mendapat bantuan dari Luhan, Yixing dan Sulli pun bisa di pisahkan.

"Kalian benar-benar" decak Kyungsoo yang kemudian memakai tas sekolahnya dan menarik Yixing untuk meninggalkan tempat itu.

Lihatlah sekarang, mereka seperti selebritis saat ini dengan semua pasang mata di coffee shop itu menatap pada mereka.

Dan Kyungsoo sungguh ingin mengusap wajahnya dengan kasar saat Yixing masih sempat-sempatnya menyiramkan ice coffee nya pada Sulli sebelum Kyungsoo menariknya semakin jauh di ikuti Luhan di belakang mereka yang juga sempat-sempatnya memberikan death glare pada Sulli.

"Kyungsoo-ya, mianhae" cicit Luhan saat mereka sudah keluar dari coffee shop tadi dan pergi ke toko pakaian di bagian lain department store untuk mencari pakaian ganti untuk Kyungsoo.

"Tidak apa-apa, Lu. Aku paham jika kalian emosi" jawab Kyungsoo dengan sebuah senyum tenangnya.

Yixing yang memang sedang sensi itu kini mendengus sambil merapikan rambutnya yang tadi sempat tidak beraturan karena dijambak oleh Sulli.

"Aku heran kenapa kau begitu sabar menghadapi si jalang itu" sungut Yixing dengan kesal.

Dulu saja Yixing itu kalem sekali saat menanggapi masalah cinta segitiganya Kyungsoo namun lihat sekarang bagaimana meledaknya ia terhadap Sulli. Mungkin karena Yixing sedang punya masalah dengan Suho dan sepertinya Sulli ia jadikan sebagai pelampiasan atas kekesalannya pada wanita yang 'katanya' jalan dengan Suho kemarin. Padahal itu belum jelas betul bagaimana kronologis kejadiannya. Luhan sudah pernah bilang kan bahwa Yixing memang perlu waktu untuk mendinginkan hatinya agar bisa menerima suatu keadaan dalam keadaan tenang apalagi menyangkut masalah asmara.

"Wanita seperti Choi Sulli itu tidak seharusnya dilayani, dia akan semakin menggila jika kita melayaninya. Dia itu pembuat onar, makanya aku tak pernah mau melayaninya. Aku selalu berusaha seminimal mungkin ketika berurusan dengannya. Biarkan saja dia menang sendiri. Aku tidak peduli. Lagipula aku sudah tidak ada urusan dengan Hanbin lagi jadi buat apa melayani wanita gila sepertinya?" Tutur Kyungsoo santai membuat kedua temannya itu terdiam.

Benar sih... Tapi tetap saja wanita itu menyebalkan seperti iblis. Iya sih mereka tak harus melayaninya dan membiarkan wanita ular itu berbuat semaunya asal tidak melibatkan mereka... Tapi kan wanita itu nanti merasa besar jika mereka membiarkannya. Ah, sudahlah... lupakan.

.

.

.

Kyungsoo melangkah masuk kedalam rumahnya yang kelewat besar itu dan disambut beberapa maid yang kebetulan berada di lorong depan penghubung pintu masuk dengan ruang tamu.

Dia mendapatkan tatapan heran dari para maid karena ia tak memakai seragam sekolah hingga akhirnya Moon ahjuma bertanya padanya.

"Agashi, kenapa anda tidak memakai seragam?"

Kyungsoo lantas tersenyum kecil sambil melenggang pergi dan berucap "ada insiden kecil yang membuat seragamku kotor. Dan aku membuang seragamnya. Kurasa noda kafein akan sangat berbekas pada kain putih seragamku"

Dan jawaban Kyungsoo membuat para maid disana melongok sambil menatap punggung Kyungsoo yang sudah menaiki anak tangga.

'Dasar orang kaya' pikir mereka. Jika saja hal itu terjadi pada orang biasa, mungkin dia akan mengusahakan bagaimanapun caranya agar seragamnya kembali bersih. Tapi ini? Membuangnya. Sangat simple. Biarkan saja lah, toh seragam masih banyak di wardrobe.

"Insiden apa yang kau alami? Aku dengar dari Moon ahjuma tadi" tiba-tiba saja Sehun sudah muncul di kamarnya setelah Kyungsoo baru saja keluar dari kamar mandi.

"Bukan apa-apa, oppa" jawab Kyungsoo ringan.

Ia mengambil sisir kemudian menyisir rambutnya sambil duduk di depan meja rias.

Dari cermin, ia bisa melihat bayangan Sehun yang kini duduk di sofa yang berada tepat didepan ranjangnya dan lalu ia teringat sesuatu.

"Oppa" panggil Kyungsoo pelan.

"Hn?"

"Boleh aku bertanya?"

"Kau sudah bertanya, Kyung" kekeh Sehun dan mendapat dengusan sebal dari Kyungsoo, "baiklah, hanya bercanda. Apa yang mau kau tanyakan?"

"Apa oppa... oppa..."

"Oppa?"

"Apa oppa menyukai Luhan?" Tanya Kyungsoo sambil berbalik menghadap Sehun, karena tak ada jawaban dari Sehun ia pun melanjutkan kembali pertanyaannya, "bagaimana perasaan oppa terhadapnya?"

Sehun terdiam beberapa saat, "entahlah. Kenapa kau tiba-tiba bertanya demikian?"

Kyungsoo menghela nafas saat mendengar jawaban Sehun yang sama sekali tak membantu, "aku tahu bahwa oppa tahu Luhan menyukaimu. Kau tahu itu kan? Jangan bohong padaku" ujarnya, "tadi pagi Luhan berkata padaku bahwa ia lelah mengejarmu yang tak memberinya kepastian itu. Kau tahu oppa? Luhan sudah sedemikian rupa merendahkan harga dirinya selama ini dengan mengejar-ngejar oppa yang notabene nya adalah seorang namja. Tak seharusnya seorang gadis mengejar seorang namja, 'kan?" Tanya Kyungsoo dan Sehun kembali dibuat membisu, semua kosakata di otaknya tiba-tiba menghilang begitu mendengar perkataan Kyungsoo yang membuatnya berpikir keras, "aku juga tidak mengerti apa maumu, oppa. Seharusnya kau tau bahwa tak selamanya Luhan bisa menunggumu. Ia sudah cukup bersabar selama ini menunggu respon oppa. Kau tahu sendiri bahwa Luhan adalah gadis cantik, sangat mudah baginya untuk mendapatkan kekasih. Selama ini ia hanya menunggu oppa tanpa peduli pada para lelaki yang selalu mendekatinya. Kulihat pagi ini ia bercakap dengan Kevin Wu, dia pangeran sekolah dan yaaa... dia memang tampan. Itu bukti jika Luhan mudah mendapatkan pengganti oppa jika dia mau"

'Jadi namanya Kevin Wu' batin Sehun saat teringat pada Luhan yang pagi tadi memang membuat sekujur tubuh Sehun kepanasan, terutama hatinya.

"Jika Luhan mau, ia pasti selama ini sudah mengencani banyak pria tampan. Tapi dia bertahan sendiri karena percaya oppa akan memberinya respon positif" lanjut Kyungsoo lagi yang kemudian berjalan mendekat pada Sehun dan berdiri di depan pria itu, "aku tidak memaksa oppa untuk membalas perasaan Luhanie, tapi setidaknya berikanlah ia kepastian apakah oppa membalasnya atau justru menolaknya. Jangan buat temanku putus asa, oppa" Kyungsoo menepuk bahu Sehun kemudian melangkah keluar dari kamarnya namun saat ia berada di ambang pintu ia berhenti sejenak, "aku lapar, aku akan makan dulu. Oppa pikirkanlah perasaan oppa sendiri lalu cepat hubungi Luhan, jangan buat Luhan benar-benar membencimu" ujarnya lalu menghilang di balik pintu meninggalkan Sehun sendirian dengan segala pemikirannya.

.

.

.

"Sehun oppa! Kau mau kemana?" Teriak Kyungsoo dari arah ruang home theater saat Sehun lewat dengan penampilan rapinya. Bahkan rambutnya pun ditata se-rapi mungkin. Tidak biasanya.

"Keluar sebentar" jawab Sehun sambil terus merajut langkah lebarnya.

"Malam-malam begini" gumam Kyungsoo sambil memakan snack nya, "BELIKAN ICE CREAM COKLAT YA!" Teriaknya lebih kencang saat Sehun sudah berjalan semakin jauh.

"HN!" Jawab Sehun singkat membuat Kyungsoo terkikik sambil bergumam 'yes!'

Ia pun kembali fokus pada layar home theater yang menampilkan film kartun berwarna kuning, Spongebob.

Omong-omong, orang tuanya pergi ke Macau untuk urusan bisnis jadi sekarang dirumah sangat sepi. Para maid pun sepertinya sudah kembali ke pavilion yang sengaja dibangun di belakang mansionnya. Terkadang ia merutuki kenapa orang tuanya membangun rumah sebesar mansion ini? Padahal kan yang tinggal di dalamnya tidak banyak. Cukup menakutkan juga saat Kyungsoo di tinggal sendirian di rumah saat malam hari sedangkan maid nya berada di pavilion belakang.

DRRRTDRRRT

Kyungsoo meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dengan malas kemudian menjawab panggilan tanpa melihat terlebih dahulu ID penelponnya.

"Yeobseo" sapanya dengan datar.

"Kyungsoo-ya, kau di rumah?"

Seketika Kyungsoo kaget dan hampir saja melempar ponsel kesayangannya itu ketika mendengar suara Kai lah yang menjawab diseberang sana.

'Ashh, sial. Kenapa tadi aku tak melihat ID pemanggilnya dulu' dan kini ia hanya dapat merutuki kebodohannya tadi yang langsung main jawab saja tanpa melihat terlebih dahulu.

Sekarang ia hanya dapat menyesali perbuatannya itu, ia menyesal karena mengangkat panggilan dari Kai. Ceritanya ia sedang marah pada Kai karena kesibukan pria itu benar-benar mengesalkan hingga bahkan membuat pria itu mengabaikannya seharian ini.

"Hn" dan akhirnya ia hanya bisa berdengung singkat untuk menjawab pertanyaan Kai.

"Kau... marah?" Tanya Kai hati-hati.

"Tidak"

"Haahh.. Kau iya"

"Aku tidak"

"Kenapa kau marah? Apa aku berbuat salah?"

"Sudah kubilang aku tidak marah" nada suara Kyungsoo mulai meninggi tanpa sadar dan membuat Kai cukup kaget. Baru kali ini Kyungsoo berbicara dengan nada seperti itu.

"Baiklah, apapun itu maafkan aku okay? Jadi bicaralah, apa yang membuatmu marah begini?"

Kyungsoo berdecak malas kemudian menjawab dengan nada judesnya, "pikirkan saja sendiri"

"Ap"

TUT

Dengan tidak sopannya, Kyungsoo menutup teleponnya dan melempar benda pipih itu ke kursi lain tanpa mempedulikan bagaimana tanggapan Kai di seberang sana dengan ulahnya yang childish ini.

Untuk pertama kalinya, Kyungsoo berani berbuat seperti ini terhadap Kai.

Yahhh, Kyungsoo memang kekanakan. Berdoalah semoga Kai diberikan kesabaran lebih untuk menghadapi anak kecil ini. Tingkah Kyungsoo tak ayalnya seorang bocah berusia 5 tahun yang tengah merajuk pada ayahnya.

Dan Kyungsoo tak akan pernah menyangka bahwa malam itu Kai datang ke rumahnya 20 menit setelah Kyungsoo menutup panggilan Kai dengan biadab nya.

Demi samudera Atlantic yang entah kapan akan mengering, Kyungsoo rasanya ingin sekali mengubur dirinya di tanah vulkanis saat melihat Kai dengan kemeja hitam serta celana jeans dan sneakers biru tua nya berada si hadapannya saat ini.

Yang bisa Kyungsoo lakukan saat ini hanyalah menatap Kai dengan tatapan anak puppy nya. Ternyata ia tak seberani itu ketika mereka berhadapan langsung.

"Kau menutup panggilan dariku, hm?" Tanya Kai dengan nada berbahaya dan sumpah demi Sehun yang entah pergi kemana, baru kali ini Kyungsoo mendengar nada seperti itu dari Kai.

"A-aku..." Kyungsoo sungguh tak mampu berkata-kata apalagi saat Kai menatapnya dengan mata kelamnya itu namun kemudian ia sadar saat mendengar suara teriakan tuan Crab dari home theater nya yang masih menyala sehingga kini ia menampilkan wajah culasnya pada Kai, "terserah aku mau berbuat apa" ketusnya sambil bersedekap.

"Katakan" tuntut Kai yang kini duduk di sebelah Kyungsoo namun menghadap ke arah gadis itu, "katakan kenapa kau bersikap seperti ini, Kyungsoo"

"Pikirkan saja!" Jawab Kyungsoo dengan kesal.

"Ayolah, Kyungsoo. Aku tidak suka berbelit-belit" desak Kai dengan wajah kakunya membuat nyali Kyungsoo sedikit menciut.

"Aihh.. Aku kesal padamu karena kau sibuk hingga mengabaikanku" cicit Kyungsoo dengan telinga memerah dan membuang mukanya dari Kai.

Kai menyatukan alisnya karena heran namun sejurus kemudian ia terkekeh sambil mengacak rambut Kyungsoo gemas.

"Hanya karena itu?"

"Hanya kau bilang?"

"Hm, hanya. Itu hanya masalah kecil kan, Kyung?"

"Tck! Kau menyebalkan ahjusi" decak Kyungsoo yang kembali dengan ekspresi kesalnya namun bukannya merasa bersalah, Kai malah makin asik tertawa. Ia tak menyangka bahwa Kyungsoo akan marah hanya karena kesibukannya. Dan apa katanya tadi? Mengabaikannya? Oh? Kai benar-benar merasa bersalah untuk itu. Ia memang menyadari bahwa seharian ini ia tak mengabari Kyungsoo, ia hanya mengirim pesan singkat pada Kyungsoo tadi pagi-pagi buta bahwa hari ini ia sibuk dan tak bisa mengantarnya ke sekolah atau bahkan menjemputnya, namun sungguh ia tak sadar bahwa dengan itu ia sudah membuat Kyungsoo merasa terabaikan olehnya.

Alasan Kai sibuk adalah karena hari ini ia baru masuk kerja kembali setelah beberapa hari absen karena insiden kecelakaan mobil yang di alaminya. Ia bekerja hari ini juga dengan memaksakan tubuhnya yang pastinya belum sembuh total karena tidak mau terlalu menumpuk pekerjaan di kantor. Semakin lama ia absen, semakin banyak pekerjaan yang ia abaikan di kantor yang pada akhirnya juga pasti akan merepotkannya sendiri.

"Jangan marah lagi, maafkan aku untuk hari ini. Besok, aku janji akan mengantar dan menjemputmu seperti biasanya, okay?" Tawar Kai yang membuat Kyungsoo sedikit melirik padanya.

Besok Kai bisa bernafas sedikit lega karena pekerjaan yang ia telantarkan selama beberapa hari itu sudah hampir ia selesaikan siang tadi. Tak perlu diragukan, Kai kan cerdas, cekatan pula. Jadi tak masalah untuk menyelesaikan itu semua meski gantinya adalah ia mengabaikan Kyungsoo seharian ini.

"Hm.. Untuk menebus dosa ku hari ini, bagaimana jika besok kita pergi makan siang bersama?" Tawaran Kai yang kedua ini sepertinya berhasil mencairkan hati Kyungsoo karena saat ini Kyungsoo menatap Kai dengan tatapan berninar-binar seperti anak-anak.

"Ehㅡ tapi kan aku pulang sore. Bagaimana bisa makan siang bersama" sangkal Kyungsoo yang tiba-tiba teringat tentang jam belajarnya di sekolah.

"Tidak masalah, besok kau belajar hanya sampai jam istirajat saja"

"Mwo? Apa maksudmu, ahjusi?"

"Besok akan ada rapat seluruh guru tingkat SHS untuk persiapan acara pekan olahraga antar guru SHS se-Seoul"

"Jinjja?" Tanya Kyungsoo dengan antusiasme tinggi.

"Hn"

"Darimana kau tahu?" Kyungsoo memicing curiga pada Kai dan pria itu justru tertawa kecil.

"Kepala sekolahmu itu, orang yang diberi amanat mengurus Heenan SHS oleh orang tuamu, dia istri dari sekretaris pribadiku"

"Lalu?"

Kai menyentil kening Kyungsoo dengan gemas, kenapa gadis itu jadi lambat begini?

"Ya jadinya aku tahu kegiatan sekolahmu, Do Kyungsoo"

Kyungsoo hanya dapat mengerucut imut saat Kai memanggil namanya dengan lengkap plus dengan nada gemas yang seakan ingin memukul kepala Kyungsoo dengan palu besar milik Thor.

"Eo? Kemana kakak sepupumu itu?" Tanya Kai setelah beberapa saat menyadari bahwa rumah Kyungsoo begitu sepi. Bahkan tadi di depan gerbang hanya ada 3 orang pengawal yang berjaga padahal jika ia menjemputnya di pagi hari saat akan mengantarkan Kyungsoo ke sekolah, biasanya selalu banyak yang berjaga didepan gerbang.

"Siapa? Sehun oppa? Dia tadi pergi begitu saja tanpa mengatakan dengan jelas akan pergi kemana. Sudahlah, dia sudah besar ini kok. Biarkan saja dia keluyuran" jawab Kyungsoo acuh. Ia sih tidak masalah Sehun pergi malam-malam, asal tujuannya jangan sampai ke club malam saja. Awas saja kalau pria putih itu sampai nekat, Kyungsoo bersumpah akan memeganggal kemaluan Sehun jika dia benar-benar pergi ke tempat laknat itu.

Tapi perkiraannya Sehun tak akan seperti itu, jangankan pergi ke club malam untuk mabuk atau bermain wanita, merokok saja pria itu tidak berani. Ayahnya ㅡtuan Do maksudnya, sangat melarang keras keluarganya merokok, baik itu anaknya sendiri atau keponakannya, bahkan cucu nya kelak, ia sangat tidak suka dengan pria perokok. Bahkan menantunya pun tidak boleh seorang perokok, dan dia tepat memilih Kai sebagai menantunya karena pria jenius itu memang tidak merokok.

"Eh, bukannya Sehun oppa mu itu berkuliah di Oxford juga ya?"

"Huㅡum! Dia lulus S1" jawab Kyungsoo innocent.

"Tapi aku tak pernah melihatnya" gumam Kai yang masih dapat didengar oleh Kyungsoo.

"Tentu saja, kau kan sibuk, mana sempat memperhatikan orang di sekitarmu. Dasar.."

"Eii.. Anak kecil tahu apa" Kai yang gemas terhadap Kyungsoo pun akhirnya menjawil hidung Kyungsoo menyebabkan gadis SHS itu memekik dengan suara yang terdengar lucu karena lubang hidungnya terjepit oleh tangan Kai.

"YA! Ahjusi kebiasaan" omel Kyungsoo dengan pelototan sok seramnya setelah Kai melepaskan tangannya.

Kai tertawa lepas tanpa menghiraukan Kyungsoo yang mengomel padanya, suatu kepuasan tersendiri baginya saat melihat Kyungsoo dengan ekspresi kesalnya dan mengomel padanya. Itu sangat lucu dan Kai suka sekali melihatnya.

"Kyungㅡ ahh, ternyata ada Jongin-sshi. Pantas saja ada mobil asing terparkir di depan"

Kyungsoo dan Kai menoleh bersamaan dan melihat Sehun disana dengan membawa sebuah kantung kecil berjalan menghampiri mereka.

"Malam, Sehun-sshi" sapa Kai ramah.

Sehun tersenyum tipis sambil membalas, "ne, malam. Kyung, ini pesananmu". Sehun metelakkan kantung kecil itu di atas meja dan Kyungsoo tahu apa isinya, tentu saja itu ice cream coklat pesanannya tadi.

"Kau dari mana saja?" Tanya Kyungsoo sambil membuka bungkusan itu dan matanya berbinar seperti anak anjing ketika melihat ice cream kesukaannya.

"Hanya cari angin" jawab Sehun singkat, "aku ke atas ya, Kyungsoo, Jongin-sshi" Sehun melambailan tangannya sesaat lalu segera melesat ke lantai 2 tanpa berkata apa-apa lagi.

"Hei, jangan makan ice cream malam-malam begini. Kena flu baru tahu rasa" ceramah Kai yang langsung mendapat delikan judes dari Kyungsoo.

"Urusi saja urusanmu" ujarnya ketus.

"Aish, dasar" omel Kai yang sekarang tak di tanggapi oleh Kyungsoo.

Uhh, sepertinya Kyungsoo berubah jadi sosok menyebalkan daripada sosok polos yang dulu pertama kali ia temui.

.

.

.

"Belajar yang tekun, anak puppy, aku akan menjemputmu saat jam istirahat okay?" Kai mengedipkan sebelah matanya pada Kyungsoo yang sudah keluar dari mobilnya.

Kyungsoo mengacunglan jempolnya pada Kai sambil tersenyum lebar lalu mobil Kai pun melaju kembali meninggalkan pekarangan Heenan.

"Jadi itu calon tunanganmu, Kyungsoo-ya?"

Betapa kagetnya saat Kyungsoo berbalik ia sudah menemukan Hanbin berdiri di sana sambil menyenderkan tubuhnya pada pohon maple yang sengaja di tanam di depan gedung sekolah.

"Kau mengagetkanku saja" dengung Kyungsoo sambil memutar bola matanya malas.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Kyung"

"Ih, memangnya kenapa kalau memang iya?" Tanya Kyungsoo dengan wajah culas.

"Tidak apa-apa, hanya saja yeaahh... dia... dewasa" jawab Hanbin dengan suara pelan di akhir kalimatnya seakan tak rela saat bibirnya berucap begitu.

Kyungsoo tertawa sinis lalu berkata "tentu saja, tidak kekanakan sepertimu" sambil berlalu melewati Hanbin yang hanya terdiam di tempatnya.

...

"Kenapa wajahmu jadi cerah begitu? Rasanya kemarin biasa saja, apa kau sakit?" Celetuk Kyungsoo sembari meminum susu coklatnya.

Ini masih jam 10 dan sejak tadi pagi semua kelas tidak belajar. Semua guru sepertinya sibuk mempersiapkan rapat. 1 jam lagi adalah waktu istirahat makan siang dan mereka akan di pulangkan lebih awal. Kyungsoo sangat senang hari ini. Belum lagi nanti siang ia ada janji makan siang dengan si ahjusi itu.

"Kau tahu? Aku merasa bahwa bunga sakura berguguran di mataku"

Ouh! Kyungsoo benar-benar tak tahan dengan Luhan yang terlalu dramatis seperti ini. Ia ingat pertama kali melihat Luhan seperti ini adalah saat ia ㅡLuhanㅡ pertama kali bertemu dengan supupu tampannya yang super putih seperti snowman. Itu dulu, sekitar 2 tahun lalu. Lantas sekarang apa sebabnya?

"Dasar drama queen" komentar Yixing yang sepertinya satu pikiran dengannya.

Omong-omong, gadis China super imut itu kini sudah lebih baikan daripada kemarin. Meski yaaa... belum bisa dikatakan sudah berdamai dengan Suho, tapi setidaknya sekarang suasana hatinya lebih dingin daripada kemarin.

"Bisa tidak kalau tak berbelit-belit, Luhanie sayang? Langsung saja ke intinya biar kami mengerti. Ya kan, Yie?" Kyungsoo melirik Yixing untuk meminta persetujuan gadis itu dan dengan malas Yixing menganggukan kepalanya.

"Baiklah, baiklah. Calm down, guys. Jadi beginiㅡ"

"Yixing noona!"

Ketiganya langsung menoleh ke arah pintu kelas Yixing yang saat ini mereka tempati dan mendapati seorang siswa yang Luhan tahu ㅡkalau tidak salahㅡ namanya Hansol. Kenapa Luhan tahu? Mudah saja, adik kelasnya itu pernah tak sengaja menembakkan bola basketnya ke kepala Luhan dan yaaa.. mereka berkenalan, seperti itulah. Yang Luhan tahu bahwa namja itu bukanlah namja penuh modus, Hansol baik. Itu pendapat Luhan. Baiklah, kembali ke topik.

"Hansol, 'kan?" Tanya Luhan masih di tempatnya. Melihat wajah panik Hansol membuat ekspresi Luhan yang tadinya berbunga-bunga menjadi datar, ia dapat melihat bahwa sepertinya ada hal penting dan mengingat bahwa tadi Hansol memanggil Yixing maka hal itu pasti berhubungan dengan Yixing.

"Y-ya, aku Hansol. Yixing noona, Joonmyeon berkelahi di dekat gymnasium"

What the fㅡ tidak salah dengar? Si presiden siswa itu berkelahi? BERKELAHI?

"That's impossible, dude. He's president school." Sangkal Kyungsoo dengan ekspresi yang seolah mengatakan berhentibercandadenganku

"Tidak, Kyung. Dia tetaplah manusia biasa. Ayo lihat apa yang membuat dia merusak image nya sendiri" ekspresi Yixing berubah dingin saat berucap demikian kemudian segera pergi menuju tempat yang Hansol katakan diikuti Kyungsoo dan Luhan di belakangnya.

Oh My Godㅡ perang dingin saja belum selesai, sekarang apa lagi yang akan menimpa Yixing dan Suho?

'Perasaanku tidak enak' batin Kyungsoo dengan langkah yang terus mengikuti Yixing. Ia bahkan tak berani menegur gadis China itu ketika merasakan aura gelap Yixing.

Sesampainya disana, ternyata perkelahian masih berlangsung. Sepertinya tak ada yang berniat memisahkan mereka berdua.

Diantara kerumunan itu, Kyungsoo juga dapat melihat Hanbin dan teman-temannya disana. Mereka selaku kakak kelas seharusnya bersikap dewasa, alih-alih begitu mereka malah menyoraki Suho dan ㅡentah siapaㅡ namja yang sedang dipukulinya. Suho benar-benar terlihat seperti bad boy kali ini.

"Hilang lah sudah wibawamu, wahai Kim Joonmyeon" gumam Luhan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.

Guru-guru juga sepertinya masih sibuk untuk persiapan rapat yang sebentar lagi dimulai sehingga kini tak ada yang dapat memisahkan pekerlahian antara Suho dengan namja tak di kenal itu.

"Yie, kau tak berniat menghentikan mereka juga?" Bisik Kyungsoo di telinga Yixing.

"Tunggu dan dengar alasannya berkelahi" jawab Yixing tenang namun tak dapat dimengerti oleh Kyungsoo maupun Luhan.

Maksud ucapan Yixing itu apa?

"BANGSAT! KAU BAJINGAN!"

BUGH

Kyungsoo meringis ketika melihat Suho kembali melayangkan bogem mentahnya pada namja yang saat ini ia duduki perutnya itu. Sepertinya namja itu sudah pasrah dengan keadaannya yang sekarang dijadikan samsak oleh si presiden sekolah.

"JANGAN GANGGU MINHA LAGI!" Itu teriakan Suho pada lawannya sebelum ia kembali melayangkan tinjunya pada namja di bawahnya itu.

'Minha? Choi Minha?' Tanya Kyungsoo dalam benaknya.

"Maksudnya Minha yang itu?" Bisik Luhan pada Kyungsoo sambil menunjuk seorang gadis cantik yang terlihat di bagian lain kerumunan. Gadis yang diduga adalah Minha itu tengah menangis sambil memegang tangan teman yeojanya yang berada di sebelahnya. Sepertinya ia takut melihat Suho berkelahi.

Dan Kyungsoo maupun Luhan kini sepertinya mengerti alasan Suho berkelahi. Demi seorang wanita, heh? Eh... Lalu bagaimana dengan Yixing?

"Itulah drama queen yang sesungguhnya, teman-teman" tutur Yixing penuh penekanan dengan tatapan penuh benci pada gadis cantik bernama Choi Minha itu.

Ingin tahu kenapa Luhan dan Kyungsoo tahu gadis bernama Choi Minha itu? Ya tentu saja karena gadis itu cukup terkenal di kalangan lelaki di Heenan, katanya sih selain cantik, dia itu anggun dan pintar. Kyungsoo juga pernah dengar bahwa adik kelasnya itu pernah memenangkan olimpiade Fisika. Wow!

"Baiklah, ini waktunya aku turun tangan. Kini alasannya sudah sangat-sangat jelas" ujar Yixing yang kemudian maju ke barisan paling depan kerumunan.

Bahkan ia mendorong beberapa siswi rempong yang tak membiarkannya lewat agar bisa maju kedepan karena mereka sendiri sangat ingin melihat perkelahian Suho.

Ini perkelahian presiden sekolah, man! Tentu saja banyak orang yang antusias dan mengabadikan perkelahian ini dengan ponsel mereka. Pasti untuk beberapa hari atau beberapa minggu ke depan Suho akan menjadi buah bibir, Minha juga pasti begitu, pasalnya nama gadis itu disebut-sebut Suho saat berkelahi. Mereka pasti mulai mempertanyakan apa hubungan Suho dan Minha. Ujung-ujungnya adalah pembahasan mereka pasti jadi 'cinta segitiga antara SuhoYixingMinha'. Dan Kyungsoo yakin Yixing akan mengamuk jika sampai topik beritanya seperti itu. Yixing paling tidak suka namanya disebut-disebut di mading sekolah karena berita miring.

Ahh, kembali lagi ke perkelahian Suho.

Yixing kini langsung menarik kerah belakang baju Suho. Awalnya pria itu menolak namun saat menoleh ke belakang dan mendapati Yixing disana dengan tatapan membunuhnya maka Suho menurut dan ikut kemana Yixing menyeretnya.

Yixing membawa Suho ke sisi lain Gymnasium yang sepi. Ia menatap Suho lekat-lekat sedangkan pria itu sibuk mengatur nafasnya.

Ingin rasanya Yixing memukul Suho melihat bagaimana hancurnya wajah Suho saat ini. Yang asalnya putih mulus bersih itu kini menjadi kotor dan penuh lebam. Astaga, bahkan jerawat pun tak berani singgah di wajah Suho, tapi sekarang? Uhh Yixing benar-benar emosi.

Sebelum emosinya benar-benar meledak, Yixing mengambil nafas dalam lalu bertanya dengan rahang yang ditahan, "jadi kau berkelahi karena Choi Minha?"

Suho terdiam sejenak kemudian menjawab, "si Jin sialan itu hampir melakukan pelecehan pada Minha di toilet! Aku jelas tidak terima! Dia benar-benar brengsek", dan yang membuat Yixing kesal adalah ekspresi Suho yang sama sekali tak menunjukan rasa menyesal atai pun merasa bersalah. Tidak kah dia merasa bersalah pada Yixing? Apalagi dia membela Minha yang jelas-jelas menjadi topik pertengkaran mereka kemarin. Suho membelanya secara terang-terangan bung!

"KAU LAH YANG BRENGSEK, KIM JOON MYEON!" Teriak Yixing murka.

Suho menatap Yixing tak mengerti, "aku? Apa salahku noona?"

"Kau masih bertanya, huh? Kau kemanakan otak jeniusmu itu, ha?" Yixing menyentuh kening Suho dengan jari telunjuknya lalu mendorongnya ke belakang dengan segala emosi yang ada.

"Aku tidak merasa salah! Aku membela Minha karenaㅡ"

"Karena kau MENYUKAINYA!" Tekan Yixing bahkan sebelum Suho menyelesaikan ucapannya.

"A-apa?"

"MWO? WAE? Kau tak bisa mengelak kan?" Tanya Yixing emosi, ia menarik nafasnya dalam kemudian kembali berucap, "baiklah, sepertinya kau sudah menemukan penggantiku, right? Maka yang sekarang akan aku katakan adalah..." Yixing memejamkan matanya sejenak untuk menahan segala rasa marahnya dan rasa kecewanya, "kita akhiri hubungan ini. Sekarang, disini. Selamat tinggal, Kim. Semoga kau tak menyesali perbuatanmu ini nanti."

Dan setelah mengatakan itu Yixing pun berlalu pergi. Ekspresinya kelihatan datar, bahkan ia tak peduli saat Kyungsoo dan Luhan berdiri tak jauh dari tempat barusan ia bicara dengan Suho dan mungkin saja mereka mendengarkan obrolannya. Ia tak peduli. Tak akan peduli lagi. Semua tentang Suho benar-benar membuat dirinya kecewa.

Suho bahkan tak bereaksi apa-apa. Ia hanya bisa diam dan mematung di tempatnya, bahkan untuk melakukan pembelaan pun ia rasanya tidak bisa.

"Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Luhan dengan ekspresi tak percaya nya.

Kyungsoo mengangkat bahunya kaku kemudian menarik si rusa China itu untuk pergi dan mengikuti kemana Yixing pergi.

...

"Yie, gwaenchanha?" Tanya Kyungsoo hati-hati. Ia takut Yixing meledak makanya ia berusaha selembut mungkin bicara dengannya.

"Kau melihat aku tidak baik? Aku baik, Soo. Lagipula Suho tak begitu penting buatku"

Itu bohong! Kyungsoo tahu itu adalah kebohongan besar. Ia ingat saat ia tengah berada di perpustakaan bersama Yixing beberapa hari lalu, gadis itu menceritakan tentang bagaimana ia bisa berakhir bersama Suho dan Yixing kelihatan bahagia saat menceritakannya. Ia bahkan mengakui bahwa ia memang mencintai pria yang lebih muda darinya itu.

"Aku akan pulang sekarang, lagipula setengah jam lagi memang akan di bubarkan, 'kan?" Yixing mengambil tas selempangnya kemudian berjalan pergi tanpa mengatakan hal-hal lain pada Kyungsoo dan Luhan untuk sekedar basa-basi sebelum pulang.

"Aku khawatir padanya" gumam Kyungsoo sambil menggigiti kuku jarinya.

"Aihh! Jangan gigiti kukumu, bodoh! Kau jorok sekali" Luhan menepis tangan Kyungsoo dan hanya dibalas kekehan polos dari empunya, "Yixing memang lebih mengkhawatirkan daripada kau jika sedang patah hati. Jika kau blak-blakan, Yixing justru akan menyimpannya sendiri. Tapi... ya sudahlah. Kita bisa apa? Biarkan Yixing menyelesaikan urusan hatinya sendiri. Biasanya sendiri lebih baik baginya jika sedang begini"

Kyungsoo hanya mengangguk lirih sambil menatap punggung Yixing yang masih terlihat di ujung lorong dan kemudian mulai menghilang setelah gadis itu menuruni tangga.

"Baiklah, kurasa aku juga akan pulang sekarang" ujar Kyungsoo sambil menepuk bahu Luhan.

"Hn, duluan saja. Aku masih harus ke perpustakaan sebentar"

Setelah pamit pada Luhan, Kyungsoo pun mengambil tas nya di kelas kemudian bergegas menghubungi Kai untuk menjemputnya sekarang dan Kai menyetujui itu.

Setelah belasan menit Kyungsoo tempuh dengan hanya duduk diam di depan gerbang sekolah, akhirnya Kai datang dan mereka pun pergi ke sebuah restaurant makanan Korea yang jaraknya tak jauh dari kantor ayah Kyungsoo.

"Kau pernah kesini sebelumnya?" Tanya Kyungsoo saat mereka berjalan berdampingan memasuki restaurant.

Sangat lucu melihat Kai dan Kyungsoo yang dalam setelan seperti ini. Kyungsoo dengan seragam SHS nya yang hitam putih seperti seragam sekolah di Jepang, dan Kai dengan balutan jas mahalnya yang mengkilap. Jadi seperti ayah dan anak, ㅡeh.

"Belum, aku hanya mendengar dari sekretarisku bahwa restaurant ini cukup terkenal dan masakannya tidak diragukan lagi" jawab Kai.

Setelah mereka masuk, pelayan mengantar mereka ke sebuah ruang makan VIP. Oh! Sepertinya Kai sudah memesannya. Berlebihan sekali. Ini kan hanya makan siang kecil antara mereka. Sok menjaga privasi sekali, pikir Kyungsoo. Padahal kalau di ingat-ingat lagi saat ini nama Kim Jong In memang tengah dicari para pemburu berita karena baru saja mengambil alih perusahaan inti keluarganya, yahh meski masih diawasi oleh ayahnya. Omong-omong orang tua Kai masih tetap bekerja, hanya saja mereka mengatasi perusahaan cabang dan menyerahkan perusahaan intinya pada Kai.

"Kenapa wajahmu kelihatan murung begitu?" Tanya Kai setelah mereka memesan beberapa menu untuk makan siang kali ini.

"Ahaha~ benarkah?" Tawa Kyungsoo benar-benar terdengar sumbang di telinga Kai, "ahh, ahjusi memperhatikanku ya sejak tadi?" Kyungsoo menaik-turunkan alisnya untuk menggoda Kai dan sukses membuat tawa pria itu pecah.

"Kau ini, geer sekali" balas Kai masih dengan sisa tawanya, "makin aneh saat kau mengalihkan pembicaraan" Kai menyinggungnya.

"Yahh, memang aneh" jawab Kyungsoo yang semakin membuat kadar keanehan obrolan ini meningkat, "aku hanya sedang bad mood saja siang ini. Melihat temanku sedih rasanya membuatku merasa aneh" lanjutnya dengan lebih jelas dan kali ini dapat di mengerti oleh Kai.

"Ada masalah apa?"

"Begini, bla bla blaㅡ jadi begitu" ujar Kyungsoo setelah menceritakan apa yang di alami Yixing hari ini.

"Menurutku orang seperti temanmu yang bernama Yixing itu memang lebih sulit untuk ditebak. Dia itu penyendiri yang tak suka berbagi keluh kesah, 'kan? Itulah yang menjadikannya sulit di pahami. Kali ini aku setuju dengan apa yang dikatakan temanmu, Luhan. Biarkan dulu Yixing sendiri. Biasanya orang sepertinya butuh waktu. Beda denganmu yang memang tak bisa menyembunyikan perasaan gusarmu, kalau orang sepertimu lebih senang dihibur biasanya saat sedang murung"

"Lalu kenapa sekarang ahjusi tak menghiburku?" Tanya Kyungsoo dengan klise nya dan berhasil membuat Kai mati kutu.

"Ah.. Kau ini. Kau kan sedang tidak bersesih. Kau hanya iba saja, itu menurutku. Lagipula aku sudah menghiburmu dengan solusiku" jawab Kai asal.

"Ih, dasar ahjusi pelit" dan Kyungsoo kembali menampilkan wajah culasnya pada Kai. Kai jadi bingung sendiri, sebenarnya orang seperti apa Do Kyungsoo ini? Menurutnya daripada orang seperti Yixing yang lebih banyak diam, orang sejenis Kyungsoo justru lebih sulit di pahami. Gadis ini moody. Kadang dia manja seperti anak kecil, culas, bahkan judes. Aneh sekali. Kombinasi itu membuat Kai berpikiran bahwa Kyungsoo itu mungkin memiliki kepribadian ganda. Mungkin saja kan?

"Mantanmu yang bernama Hanbin itu... Dia lelaki yang tadi pagi mengobrol denganmu setelah aku mengantarkanmu?" Tanya Kai dengan ekspresi penasaran.

Jika saja Kyungsoo sedang minum air, ia pasti akan tersedak saat itu juga, "kenapa tiba-tiba bertanya begitu?" Tanya Kyungsoo yang seakan mau menghindari pertanyaan Kai barusan.

"Tinggal jawab saja apa susahnya, Kyungsoo. Astaga, kau ini" Kai berekspresi gemas pada Kyungsoo. Anak itu suka sekali mengalihkan topik.

"Baiklah, jika kau ingin tahu maka jawabannya ya. Dan aku juga penasaran, darimana kau tahu tadi pagi aku mengobrol dengan seorang namja?" Kini giliran Kyungsoo yang penasaran.

"Kenapa kau ingin tahu?" Kai sepertinya ingin balas dendam karena Kyungsoo tadi mengalihkan pembicaraan mereka.

"Aish! Kau pendendam ya rupanya" gerutu Kyungsoo yang membuat Kai terbahak.

"Aku hanya bercanda. Omong-omong aku tak sengaja melihat dari kaca spion mobilku" jawab Kai santai.

"Oh? Baiklah. Itu bukan hal penting" Kyungsoo mengangkat bahunya acuh.

"Sepertinya dia masih mengharapkanmu"

Kyungsoo mendengus. Kenapa Kai jadi membicarakan si mantan sih? Kan menyebalkan baginya.

"Kenapa kau berkata yang aneh-aneh sih?" Tanya Kyungsoo sebal.

"Hanya ingin tahu"

"Heol~"

Kyungsoo membuang nafasnya lelah. Mereka terdiam beberapa saat sampai akhirnya Kai kembali buka suara dan yang membuat Kyungsoo kesal adalah topik yang dibahas Kai kembali tentang mantan Kyungsoo lagi. Aish! Apa maunya sih?

'Mungkin lain kali aku harus membawa lakban' pikir Kyungsoo saking kesalnya.

Pembicaraan tentang Hanbin sungguh membuat mood Kyungsoo makin jelek. Tak tahu kah pria tan itu?

"Tapi... Kau benar-benar tidak tertarik untuk kembali padanya?"

Lihatlah ekspresi menyelidik yang Kai layangkan untuknya. Apa-apaan coba?

"Akuㅡ agh! Entahlah, aku benar-benar dilema" akhirnya Kyungsoo jujur pada dirinya sendiri tentang apa yang ia rasakan.

Meski Pembicaraan tentang Hanbin membuat mood nya tambah buruk, tapi tetap saja dalam hatinya ia masih menyerukan nama itu. Move on itu memang tidak segampang itu. Dan ketika Kai bertanya demikian, Kyungsoo bingung harus menjawab bagaimana dan dia pun menjawab bahwa dia dilema. Memang itu yang ia rasakan tiap kali memikirkan Hanbin. Pria brengsek itu benar-benar membuat dirinya jungkir balik.

"Oh? Begitu ya" ujar Kai dengan nada lirih namun Kyungsoo tidak terlalu fokus hingga ia tak menyadari nada bicara Kai yang seperti barusan.

Kyungsoo juga tak menyadari bahwa Kai menatapnya lekat-lekat karena ia kini malah sibuk memikirkan si mantan itu.

'Memang akan sangat sulit untuk membuatmu melupakannya. Aku mengerti... Karena aku pernah mengalaminya'

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Hai cingudeul!

Entah kenapa rasanya author kurang puas dengan cerita ini. Entah sama kalian. Melihat respon pembaca yang tidak lebih banyak dari story sebelumnya sebenarnya membuat author patah semangat.

Tapi author lagi berusaha supaya gak ngecewain kalian yang udah nunggu kelanjutan ff ini. Sorry kalau kurang memuaskan.

Please review..

Bye~