Fyuuu... hari yang berat...

Pake dibully anak-anak sekelas segala, harus ngancem mereka segala, harus apalah...

Tapi paling enggak aku udah bantuin seseorang lagi. Yah, dia itulah Kise Ryouta. Bukannya aku tertarik padanya atau apalah, tapi aku sudah biasa menolong orang dalam segala situasi. Pada akhirnya selalu disalahpahami, pikirnya aku suka orang itu, padahal tidak. Aku cuma suka menolong orang. Kalau menolong orang hatiku damai gitu.

"Arara, satu orang sudah -tte!~ atau belum...?" Kataku seraya melemaskan otot ototku setelah keluar dari gym. Aku sudah menyelamatkan Kise dari tendangan seniornya.

-tte? Heran? Aku terbiasa menempatkan akhiran -tte di setiap akhir kalimat sebagai pengganti desu, beda dengan Kise yang menggunakan -ssu. kenapa tidak kugunakan saat berbicara dengan orang lain? Yah, ini sisiku yang berbeda. Kalau lagi ceria, pake -tte. Aku menyembunyikan kepribadianku yang sebenarnya karena jujur saja aku nggak suka kalau sembarang orang lihat sisiku yang seperti ini.

Omong-omong sebenarnya aku model loh. Sama seperti Kise. Kita bekerja di agen yang sama. Aku pakai nama Kasako Shiina untuk samaran supaya kehidupanku di sekolah tidak diketahui. Kan, aku disekolah berpenampilan kayak nerd supaya nggak disadari orang-orang atau fans.

Jangan khawatir~ waktu diwawancara, aku merahasiakan nama sekolahku kok!~

yosh, ada janji sama Nao, Zakki, sama Ren nih. Temen-temenku. Nao sama Zaki cowok, sedangkan Ren cewek. Hanya mereka yang tau kepribadianku yang sebenarnya ini. Kepribadian yang ceria, hiperaktif, keras, dan mencolok. Mereka temen-temen sejatiku. Kepribadianku yang ceria ini nggak beda jauh sama Kise kok. Bisa dibilang sama hiperaktif dan cerewetnya.

"Ah, shimatta, sudah jam segini -tte!" Seruku sambil berlari cepatan ke MajiBaga.

.

.

"Shiiiin-chaaaaaaan! Kochi-kochii!~~" -Ren sambil melambai-lambai. Karameru Reena, si cewek elegan berpenampilan dewasa dengan *piiiip*nya yang besar pasti bisa membuat cowok manapun mengincarnya. Tapi kalau ada yang memandangnya dengan pandangan mesum, kalau aku dan yang lain di sana, kita pasti sudah memberikan death glare yang sangat mematikan. Wajar kalau dia elegan dan anggun karena dia keturunan bangsawan.

"Oi Ren, jangan memanggilku dengan nama itu -tte yo!"

"Mou, itu kan nama samaranmu. SHIIna kan?~~ kita lebih suka memanggilmu dengan nama itu!~" walau Ren berbicara dengan nada ceria tetapi tetap terkesan anggun dan elegan.

"Ren bener. Nama itu lebih enak dipakai daripada nama aslimu, Shin-chan." -Zakki, menaikkan kacamatanya yang memang merosot. Ini Kagane Harazaki, si cool, mister kuudere megane, si sarkastik, dan si cerewet, tapi tetep asik.

"Ei ei Shin-chan! Aku ganteng kan? Ganteng kan?~~ liat, aku keren kan?" -Shikikawa Nao, si ganteng-ganteng narsis, si burung pipit bercicit cerewet yang sama hiperaktifnya kayak aku. Rambutnya konyol, warna merah gitu, padahal sebenernya dia ini turunan, karena dia blasteran. Lel.

"Eh, kamu siapa ya? Oooowh, Nao! Aku pikir kamu kakek-kakek di jompo sana -tte..." kataku mengerjai Nao, yang langsung disambut oleh tangisan buaya khas nya.

"Eh dia siapa yah, aku beneran gak kenal loh -tte. Zakki, Ren, kalian kenal -tte? Oi, minggir lu dari meja gue -tte." Kataku dengan nada sarkastik dan tangisan Nao jadi tambah keras.

Aku pun duduk di sebelah Zakki (Ren disebelah Nao dan Zakki disebelahku) dan-

"WEEEE HIDOIIIII! AKU DICUEKINNNN! HUWEWEEEEEWEHHHHH!"

oke, sekarang seisi restoran merhatiin kita semua. Gawat. Oi oi kamfret gua gak minta kamu nangis buaya gini bro.

"Diemmmmmm -tte! Oi Nao, diem, kuprettt! Woi! Haiz, oi, aku cuma bercanda kali ya -tte! Iya iya loe ganteng puas -tte?!" Omelku sambil meremas rambutnya dengan sok geram.

"KYAH, JANGANLAH EMAK EMAK SEPERTI DIRIMU MENYENTUH SEHELAI DEMI SEHELAI RAMBUT INDAHKU INI! PAKE GEL TAOOOK! HARGANYA LEBIH MAHAL DARI HARGAMU KALAU DIJUAL DIHOTEL TAOOOK!" teriak Nao dengan gaya sealay-alaynya persis banci taman lawang. Gah, dia balas dendem? Sialan! Dijual dihotel?! Apa maksudnya, dasar banci mesum!

"SIAL LU NAOOOO!" Zakki sama Ren lagi mati-matian nahan ketawa. Gara-gara posenya Nao yang sekarang itu ambigu ambigu buuuuanget, yu know lah kalo cewek yang mau di rape tapi kayak... 'kyaaa jangan mas jangaaaan grepe sayaaa!' Yaaaa gitulah posenya Nao sekarang ini.

brengsekk loe Nao!

"NAOOOOOOOOO!" teriakku cetar membahana sambil mengacak-acak Rambut Nao yang sudah bertransformasi jadi sarang burung yang nggak sengaja kena cipratan cat akrilik warna merah.

Terjadilah adu cekcok antara aku sama Nao seperti biasa.

.

.

"So, gimana sekolah kalian -tte?"

"Dasar, kita satu sekolah, baka! Ngapain kamu tanya itu hal!" Ketus Zakki dengan wajah watados.

"Hmp~ tapi maksudnya kan kelas kita terletak jauh, kan? Dan lagi kegiatan ekskul kita beda."

"Ren, kamu memang paling ngerti aku -tteeeee!~~~"

"Hmm. Biasa, banyak remidi..." curhat Nao sambil headbang ke meja.

"Kenapa kamu gak coba headbang lebih keras lagi sampai mejanya jebol sekalian?" Zakki... sarkastik sekali! Gyahahahha!

"HIDOI!" tangis Nao. Well well...

"Nilaiku nggak ada masalah sih ya, nilai non akademisku juga noprob -tte, kecuali IPS. Haha. Ancr aku itu -tte. Tapi kalian..." kataku sambil menunjuk Zakki sama Ren bebarengan.

"Iya, seperti biasa... non akademisku hancur... masak praktek musiknya main gitar. Jariku sakit banget waktu pencet senarnya, mas." Kata Ren.

"Kalo aku, paling benci matematika. Susahnya kayak ngehadepin orang mengandung yang lagi mengalami mood swing..." kata Zakki sambil mundung dengan jidat tertancep di permukaan meja.

"Heh, apa katamu -tte? Matematika itu guampang kayak upil taok! Tinggal juput, sentil, nempel, dah!" Seruku. Tapi nyatanya matematika memang gampang banget kok...

"Ih, jorok ah!"

"Kalo Nao?"

"Aku mah, nilai pelajaran jeblok ajur masuk ke jurang, pas-pasan aja udah hogi. Kalo non akademis aku sempurna bro." Kata Nao dengan bangganya.

"Iya iya, mister pemusik paling jago sesekolah." Dia memang jago kok. Fingeringnya keren kalau main musik, bisa cuuuuuuepet banget gitu, apalagi pas metik gitar. Kemampuanku cuma 2/5 kemampuan Nao. Sebenarnya jari-jariku ini kuperban karena main gitar, sih...

Dan keterusan deh omong-omongannya kita. Mulai dari pelajaran, kehidupan sehari-hari, ngapain aja pas istirahat, sampe pacar-pacaran.

"GYAHAHAHAHAHAHAHHAHAH!"

Seru sekalii! Kita melepas kangen karena sudah lama nggak ketemu di sekolah. Gara-gara ekstra sama beberapa halangan sih... etto..!

"K-Kise-san?!"

"KAU...?!"

"Eh?"

AKU BERTEMU KISE-SAN!

.

.

Sialan... padahal aku nggak mau sisi lainku ketauan orang lain selain temen-temenku... aku yakin, tadi Kise sudah dateng pas aku ketawa itu! OwmayGawd dis is wadefak!

Jadi sekarang Kise sudah nyimpen banyak rahasiaku, sialan! Dasar ini cowok-

"Shin-chan, siapa dia?" -Nao.

"Eh, kau model itu...kan?" -Ren

"Eh, model?" -Zakki.

Seketika, aku sama Kise membatu sempurna. Dengan posisi Kise nunjuk aku, posisiku juga lagi nunjuk Kise.

1 detik.

5 detik.

10 detik.

30 detik.

30 menit.

1 jam.

4 jam.

3600 jam sesudah sudahnya masehi kemudian :v

Oke abaikan.

Yang jelas waktunya cukup lama kita diam-diaman kayak gini. Sinting ini Kise, kenapa dia selalu, selalu, selalu ada di waktu yang nggak tepat buat muncul?!

holy shit! Gue harus ape?!

"Hei, model."

Zakki?!

"Aku nggak tau kamu siapa tapi kayaknya kamu sudah tau rahasia Shin-chan."

Oi, Nao?!

"Kalau kau berani membeberkan rahasia kami..."

Heh heh heh, Ren juga...?!

"MATILAH DENGAN MENGENASKAN."

Aura hitam pekat menguar-nguar dengan mengerikannya di sekitar kami. Membuat Kise-san seketika tidak berkutik dan membatu. Minna, kalian sangat overprotektif... aku sayang kalian...!

Lho kok =D

"Yah, itu benar, Kise-san. Beberkanlah Rahasiaku dan matilah." Kataku nggak kalah dinginnya.

.

.

Kise Ryouta, sudah mengetahui 3 rahasiaku.

"M-maaf -ssu! Aku nggak bermaksud menginterupsi -ssu! Maafkan aku! Aku berjanji tidak akan membocorkannya!" Teriak Kise dengan gelagapan.

"Hmm. Baiklah, kupercaya kau, karena janji pria itu setinggi gunung." Zakki membetulkan kacamatanya.

"A-aku pergi dulu -ssu, takutnya menginterupsi! Dadah!"

"Eittt, tunggu!"

Aku mencengkram lengan Kise. Sesaat wajahnya berubah merah sedikit. Dia malu? Ngapain?

"Berikan aku emailmu."

"E-EH?!"

Blushing Kise pun makin parah. Bahkan kini mukanya sudah semerah tomat. Hei. "Jangan GR ya, oi! Aku cuma pingin email kamu dan ancam kamu!"

"I-ya! Ini ponselku! A-alamat emailku..."

Dan sekarang, kami sudah bertukar alamat email.

Demi semua kubis ungu dan segala jenis terong didunia ini (what the), aku harus benar-benar memastikan kalau manusia ini tidak akan membocorkan rahasiaku.

"Yah, kau boleh pergi."

"M-mata ashita!" Katanya gelagapan lalu lari keluar sambil membawa makanan dan minumannya.

"Fyuh, tadi itu gawat -tte..."

"Bagaimana ini, Shin-chan?! Gimana ini?! Gimana?! Dia sudah tau ya?!" Nao pun jadi ikutan sewot.

"Bisa tolong jelaskan kejadiannya?" -Ren.

"Kita pingin tau." -Zakki, mbetulin kacamata.

"Uh... jadi, tadi siang itu..."

.

.

"APAPAAAAAAAAAAAA!?"

"iya... hiks... dia sudah tau -tte... tapi aku cuma nunjukin sisi preman ku -tte... tapi itu percuma karena barusan dia sudah tauuu -tteeeee!"

"Ttaku, lain kali kamu harus lebih berhati-hati kalau mau menikmati angin sepoi, Shin-chan." -Zakki...

Yah... "mau gimana lagi -tte... aku nggak bisa menahan diri ketika menikmati angin sepoi -tte...hiks hiks..."

"Maa maa, sudahlah... apa yang sudah terjadi yah sudahlah... kita bisa apa..." Ren...

"Pokoknya kalau model itu berani bocorin rahasiamu, kukepret dia!" Bisa di skors kita, Nao? Tapi aku menghargai keprihatinanmu...

"Minna.. sankyu yaa... oh ya! Sudah jam segini aku mesti ke tempat pemotretan -tte! Jaaa!" Teriakku berlari melesat keluar MajiBaga.

"Minggu depan kesini lagi ya!"

"Kay!"

"Ganbatte."

"Sankyu!"

Dengan itu aku pun melesat ketempat pemotretan. Heh! Chotto! Bukankah Kise juga ada jadwal jam segini? Jadi nanti harus ketemu dia lagi?! Cih... ya sudah nggak ada pilihan lain, selain bertindak normal didepannya... fuh.

Baru saja dibicarakan, orangnya muncul. Haha, dia juga sedang terburu-buru ke agen, sama denganku. Fuh, kayaknya Kise gak nyadarin aku. Ets, aku liat jam dulu ah.

Heh, Kise, liat-liat jalan. Nabrak banyak orang tuh.

Eh, eh, EH?!

MOBIL!

"HEI, KISE-SAN, AWAS!"

"Eh?"

CIIIIIIIIIT!

BRUGHHH!

"UUKH!"

"GAH!"

"K-Kasako...chan...?"

"Sudah kubilang jangan panggil aku begitu... ukh... dasar pengemudi ngantuk! Lampu merah gak diperhatiin, buta kali ya?!"

Apa yang tadi kulakukan? Tadi aku dengan lihai memeluk Kise dengan kecepatan tinggi lalu membantingnya keluar jalur mobil resek itu. Pengemudi mabuk atau mengantuk atau apalah itu, memang sialan!

Kerumunan orang-orang mengelilingi kami.

"Hei, mobilnya mau kabur!"

"Cepat hentikan!"

Hei, setelah hampir menabrak orang mau kabur begitu saja? Huh! Seandainya tidak ada aku, mungkin usahamu baru bisa berhasil, pengemudi sialan.

"HOI PENGEMUDI KEPRET!" Seruku membahana seraya berlari dengan kecepatan luar biasa ke mobil yang hendak kabur itu. Kise terlonjak kaget melihat kecepatanku, begitu pula penonton lain.

"TERIMA INIIIIIIIIIIIII! HYATH!" aku melompat dengan satu kaki, dan-

PRAAAAAANG!

Kutendang kaca jendela mobil itu dengan penuh amarah setelah melompat. Aku lansung buka kunci mobilnya dari tangan yang aku masukkin kedalam kaca mobil resek itu. Kubuka pintunya dan aku langsung masuk. Aku tarik kerah bapak-bapak pengemudi sialan itu.

"HOI, SAMPAI KAPAN MAU NGANTUK TERUS PRET?! KALO NGANTUK GAK USAH NYETIR KALEE, BANG!" Kuteriakin tuh bapak ngantuk. Aku seret dia keluar mobil terus aku banting dia ditanah.

"Panggil polisi, siapapun!" Seruku. Ada satu ibu-ibu langsung memanggil polisi dengan ponselnya. Aku memberikan nomor HPku ke ibu itu dalam bentuk kertas biar nanti bisa ditelpon polisi buat kesaksian.

"Psst Kise-san. Ayo kabur. Nanti telat pemotretan." Bisikku ke Kise.

"E-eeeh? Tapi..."

"Aku udah kasi nomorku ke salah satu dari mereka. Ayo cepet dah!"

Aku pun narik tangan Kise cepetan kabur dari kerumunan.

"Ayoook!"

.

.

Setelah lumayan jauh, aku lepas tangan Kise terus mulai jalan aja. "Jalan aja ya, capek." Kataku ke Kise.

"Ung. Oh ya, arigatou ya tadi... sudah menyelamatkan aku -ssu..." kata Kise sambil... blushing? Dia kok jadi salah tingkah gitu? Haha! Tapi...

Kalau dilihat lihat,

Waktu Kise blushing, wajahnya... kawaii...?

Ah, hilangkan pikiran itu!

"H-hei..?"

"A-ah. Ya. Masama."

Keheningan melanda kami lagi sampai kami sampai kestudio. Manajer Kise marah-marah lalu mukul kepala Kise pake gulungan koran. Galaknya...

"Kok terlambat, Kasako-chan?"

"Tadi ada insiden... kecelakaan."

Manajerku hanya kaget dan bertanya-tanya apa yang sudah terjadi. Aku hanya menjelaskan singkat.

"Ooooo! Jadi, kamu nyelamatin Kisee! Kamu punya hubungan apa sama dia, ecieeee?~~" kata manajerku nakal. Hei, kita nggak ada hubungan apapun! "Kita cuma temen sekelas kok. Nggak ada hubungan spesial..." kataku tetap mempertahankan karakter tenangku.

"Hanya bercanda! Ehe~ tapi kok wajahmu... memerah? Hayooo bohong ya! Ihihi!~~"

Somplak.

Ini kalo bukan manajer-

"Ce cuma temen sekelas ce... mukaku nggak merah by the way." Aku mulai sewot. Sewot beneran ini.

"Iyayaaa... jangan marah lah~ hey hey, sudah? Ayo sana ke ruang ganti cepet ganti bajumu. Kotor tuh."

"Iya ceee..."

Cih... manajerku ini... ngapain dia bilang aku suka Kise?

Tapi kenapa pas dibilangin gitu, mukaku panas, ya? Aku nggak suka Kise kan?

...nggak, kan?

.

.

~T.B.C~


Aaraarararaaaarararr~~~~ belakangan ini sering update yah~~

Males sih abisnya wkwk

minna mind to RnR?

Makin banyak follows, favorites, dan reviews, makin kilat updatenya!~~