And, then...

Disclaimer: A remake from"And, then..." by Yuli Pritania, cast(s) bukan milik saya.

Pairing: KaiHun

Rate T

Warning: typo(s), ooc, alternative-universe, GS for uke, dll. DLDR!

Happy reading!


Chapter 2

.

.

W Entertainment Building, Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul.

Oh Sehun memiliki jumlah antis yang sama banyaknya dengan jumlah penggemar yang menggilainya. Dan sama brutalnya. Sudah banyak bangkai tikus yang dia terima, ancaman pembunuhan, dan teror dari para stalker yang mengikutinya tanpa henti selama 24 jam. Dia pernah dilarikan ke rumah sakit karena keracunan makanan yang diberikan oleh seorang antis yang menyamar sebagai kurir pengantar, dilempari telur busuk saat jumpa penggemar, dan salah seorang dari mereka bahkan berhasil menyelundupkan kamera perekam. Video kegiatan pribadinya di ruang ganti tersebar di Youtube dan membuat heboh satu Korea Selatan. Dan, seolah belum cukup jumlah haters-nya bahkan semakin bertambah jika penggemar artis lain yang membencinya ikut diperhitungkan. Dia tidak memiliki teman, bertengkar dengan banyak artis, dan semakin mengukuhkan namanya sebagai figur publik paling tidak disukai se-Korea Selatan. Gadis itu bahkan tidak sedikit pun keberatan mendapat predikat sedemikian buruknya. Baginya, menjadi orang baik dan suci terlalu membosankan. Dan dia menghibur semua orang. Dia menikmati menjadi pusat perhatian.

Perilaku tidak pantas seperti itu terlarang di agensi barunya. Dia tidak bisa lagi berbicara sembarangan, tersangkut skandal dengan aktor lawan mainnya, atau mencari gara-gara dengan penggemar. Belum-belum dia sudah merasa jengah. Ditambah dengan kehadiran manajernya yang menyeramkan. Hidupnya semakin suram saja.

"Tidak."

Dia mengucapkan kata itu untuk yang ketiga kalinya dalam satu jam terakhir, bersamaan dengan naskah ketiga yang dilemparnya ke atas meja.

"Kenapa?" Jongin bertanya tanpa ekspresi, dengan nada seolah dia tidak benar-benar ingin mendengar jawabannya.

"Karena lawan mainnya tidak tampan menurut standarku."

Itu jawaban konyol ketiga yang Sehun berikan. Naskah pertama ditolak karena dia tidak mau bermain dalam satu drama dengan aktris lain yang menjadi musuhnya. Naskah kedua tidak lulus uji kelayakan karena bercerita tentang gadis yang menjalani operasi plastik seluruh tubuh selama berbulan-bulan di rumah sakit, yang menurutnya amat menyinggung karena tubuhnya bahkan tidak pernah sekali pun disentuh pisau bedah.

"Aku amat sangat pemilih terhadap para pria yang kuizinkan untuk menyentuh dan menciumku."

Tadinya Sehun melakukan itu hanya untuk sekedar iseng dan berharap pria itu akan merasa muak dan mulai mengamuk padanya. Pria itu membuatnya takut, sungguh, tapi dia merasa perlu mengetahui sejauh apa kemampuan pria itu untuk menyakitinya. Sehun perlu tahu bagaimana seorang Kim Jongin ketika sedang marah agar Sehun mempunyai bayangan ke depannya untuk melakukan perindungan diri. Tapi pria itu benar-benar tenang, tanpa ekspresi. Bahkan dengan terang-terangan memperlihatkan ketidakpedulian padanya. Bagaimana ia bisa bekerjasama dengan manajer semacam ini?

Sehun meraih salah satu naskah dari tumpukan dengan raut wajah dongkol, membaca sepintas sinopsisnya, kemudian mengambil keputusan.

"Yang ini saja. Aku belum pernah berperan menjadi dokter."

"Aktris Choi Jinri sudah mengikuti casting dan mengisyaratkan bahwa dia sangat ingin bermain dalam drama ini, tapi sutradaranya menginginkanmu dan belum mau mengambil keputusan sebelum kau memberikan jawaban. Ini bukan genre yang biasanya kau perankan. Kau yakin mau mengambil drama yang ini?"

"Bukankah itu semakin menarik? Mengambil peran yang diinginkan aktris lain?" Sehun menyeringai. Terdengar jahat, namun memang seperti itulah dia. Tidak pernah memikirkan perasaan orang lain di sekelilingnya.

Jongin hanya mengangkat bahu tak acuh. "Bagaimana dengan genre action? Kau juga belum pernah mencobanya 'kan?"

"Aku tidak suka adegan kekerasan," ucap Sehun jujur, setelah menimbang-nimbang jawabannya selama beberapa saat. Tidak ada gunanya menjaga image di depan pria yang jelas-jelas tidak peduli padanya ini. "Aku tidak suka melihatnya, apalagi melakukannya. Aku bahkan menghindari adegan menampar dan sejenisnya sebisa mungkin, kalau script-nya masih bisa didiskusikan dengan penulis skenario."

Pria itu tidak berkomentar ataupun menanyakan alasannya. Alih-alih merasa kesal, Sehun melipat tangan di depan dada, memperhatikan gerak-gerik Jongin.

"Apa kau pernah tersenyum?" Sehun bertanya, sepenuhnya merasa yakin bahwa pria itu tidak pernah melakukannya. Sehun baru menemukan spesies pria seperti ini, yang menjadikannya objek yang sangat menarik untuk diteliti. "Atau kehilangan kendali?" Lanjutnya.

Pria itu mengabaikannya, mencatatkan sesuatu di agenda, dan menyusun delapan naskah di atas meja ke dalam satu tumpukan.

"Punya kekasih?" Jongin tiba-tiba bertanya, dengan jenis pertanyaan yang membuat seorang Oh Sehun terkejut. Terutama karena pria itulah yang menanyakan. Dengan nada datarnya yang mulai terasa akrab di telinga.

"Mengejutkan sekali kau menanyakan sesuatu seperti itu padaku," timpalnya.

"Semua aktivitas pribadimu juga tanggug jawabku. Perusahaan tidak mau buta dan mengetahui semuanya dari wartawan."

Tipikal sekali. Pria itu tidak pernah jauh- jauh dari urusan pekerjaan.

"Aku sedang menimbang- nimbang," ujar Sehun. "Park Chanyeol atau Kim Mingyu."

Park Chanyeol adalah lawan mainnya di drama terakhir, dan Kim Mingyu adalah seorang idol dari boy band yang sedang naik daun dan berusia tiga tahun di bawahnya. Sehun nyaris berharap pria itu akan berkomentar tentang pilihannya. Yang jelas saja menjadi harapan sia-sia.

"Beri tahu aku keputusanmu nanti." Pria itu berdiri. "Biar kuantar pulang."

"Oh, kau juga bertindak sebagai sopir pribadi?" ejeknya, mendidih karena merasa diacuhkan. Ini pertama kalinya. Pria ini sungguh mencari gara-gara!

Kim Jongin sialan itu bahkan tidak mau berbaik hati meladeni ejekannya. Hanya berlalu pergi tanpa melirik ke arahnya sama sekali.

Menarik. Itu malah menantang Oh Sehun untuk melakukan penaklukan terhadap Kim Jongin. Lihat saja. Memangnya seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk meruntuhkan pengendalian diri seorang pria?

-And, then-

Sangji Ritzville, Apgujeong-ro, Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul.

"YAK! Apa yang kalian lakukan malam- malam begini di depan apartemenku? Pulang sana! Mau jadi apa kalian nanti, hah? Berandalan? Membuat malu orang tua kalian saja! Aku tidak mau punya penggemar bodoh dan nakal, tahu tidak?" Sehun mengacungkan jari pada ketiga remaja yang masih mengenakan seragam sekolah di depannya. "Dan kau, Seulgi, kau itu perempuan! Kenapa kau malah berkeliaran di jalanan pada jam segini?"

"Image-mu kan tidak lebih baik dariku," cibir Seulgi sinis. "Eonni," tambahnya dengan nada sok sopan.

Sehun mendelik.

"Begini caramu memperlakukan penggemar? Tidak heran kau punya banyak antis," komentar Jongin.

"Setelah mengabaikanku seharian, akhirnya sekarang kau bersuara juga?" ejek gadis itu, merebut tasnya dari tangan pria tersebut, lalu menyandangnya di bahu.

"Besok pemotretan pukul delapan pagi. Kujemput pukul tujuh."

Sehun mendongak menatap pria itu. "Tidak mau masuk dulu?" dia menawarkan.

"Lihat, lihat, mengundang seorang pria masuk ke apartemen pada pukul sepuluh malam," ujar Seulgi. "Sama sekali bukan contoh yang bagus."

"Tutup mulutmu, Anak Kecil!"

"Nuna, pria ini siapa? Aku belum pernah lihat. Pacar barumu?" Tanya Taeyong.

"Manajer sekaligus pengawalku yang baru."

"Kau sudah tanda tangan kontrak ya, Nuna?" Kini giliran Jaehyun yang ingin tahu.

"Begitulah."

"Namamu siapa, Oppa?"

"OPPA?" Sehun mengulang panggilan yang digunakan Seulgi itu dengan nada melengking tinggi. "Hei, Anak Kecil, kau sedang mencoba menggoda pria ini?"

"Kenapa? Eonni takut bersaing denganku?"

"Aish, jinjja!" sergah Sehun frustrasi. "Kau jelas bukan penggemarku, tapi kenapa kau betah sekali ikut datang kesini?"

"Tujuanku sama sekali bukan urusanmu," timpal gadis itu cuek.

"Lama- lama berbicara denganmu bisa membuatku darah tinggi. Aku naik dulu." Sehun berbalik menghadap Jongin. "Kau yakin tidak mau bertamu? Ini kesempatan langka, kau tahu?"

"Terima kasih. Tapi aku tidak tertarik."

Sehun mengerucutkan bibir, kemudian berlalu pergi dengan langkah kaki menghentak-hentak.

"Bagaimana ada orang yang menyebut dia elegan kalau kelakuan aslinya malah seperti anak- anak begitu?" cecar Seulgi.

"Itu namanya imut. Memangnya kau?" ejek Taeyong.

"Hei, kalian, ayo kuantar pulang!" ujar Jongin, mengedik ke arah mobil van di belakangnya.

"Kami bisa pulang sendiri," tampik Jaehyun.

"Ada banyak hal yang ingin kutanyakan," sambung pria itu, dengan nada yang menyiratkan bahwa dia tidak ingin ditolak.

"Dengan senang hati, Oppa!" seru Seulgi kegirangan.

"Kalian sudah mengenalnya lama?"

"Sehun Nuna? Sejak dia debut sebagai aktris. Kami penggemarnya nomor satu!" sahut Taeyong berapi- api.

"Nuna tidak seperti yang dikira banyak orang. Wartawan membuat image-nya tampak sangat buruk," Jaehyun menambahkan. "Nuna selalu membentak-bentak kami seperti tadi, marah kalau kami masih berkeliaran malam-malam begini hanya untuk bertemu dengannya. Tapi kami tahu maksudnya baik, jadi kami tidak kesal. Nuna memang sedikit sulit kalau harus mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya."

Taeyong mengangguk membenarkan. "Waktu itu aku tidak datang bersama mereka seperti yang biasa kulakukan setiap Jumat malam. Aku harus bekerja paruh waktu seharian secara diam-diam karena aku masih murid sekolah. Ibuku tidak punya uang, padahal aku harus melunasi uang sekolah kalau mau ikut ujian. Sehun Nuna menanyakanku pada yang lain, dan malam itu juga dia datang ke rumahku, memberikan banyak uang, dan sempat marah-marah ketika ibuku berusaha menolak bantuannya. Sejak saat itu, bagiku Nuna adalah malaikat penyelamat. Dia juga membiayai sekolah adikku."

"Dan, Seulgi, apa kau bukan penggemarnya?" Tanya Jongin, melirik gadis itu dari kaca spion.

"Seulgi memang tidak pernah ramah pada siapapun. Tapi dia juga pernah dibantu Nuna. Ya, kan?" Taeyong mendorong bahu Seulgi agar gadis itu mau bercerita.

"Dua tahun lalu, saat kami tamat SMP, Taeyong dan Jaehyun menertawakanku di depan Sehun Eonni karena aku tidak punya gaun untuk dipakai ke malam prom. Sehun Eonni malah memarahi mereka dan menyeretku ke butik, membantuku memilih gaun, dan pada malam prom dia sendiri yang turun tangan untuk mendandaniku, lalu mengantar kami bertiga ke tempat pesta."

"Kalau Nuna pulang cepat, dia juga suka mentraktir kami makan malam di kafe, dan membantu kami mengerjakan tugas sekolah yang tidak kami mengerti. Dia itu pintar sekali."

"Aku tidak mengerti kenapa berita-berita tentan Nuna selalu saja negatif. Selalu berkebalikan dengan kejadian yang sebenarnya. Contohnya mengenai agensi lamanya. Di internet, dia dituduh-tuduh sebagai kacang yang lupa pada kulitnya. Dia membuang agensi yang selama ini telah membesarkan namanya. Mereka tidak tahu saja bagaimana cara agensi itu memperlakukan Nuna. Dia tidak dibayar sesuai perjanjian dalam kontrak, mereka memforsir tenaganya, dan membuatnya melakukan begitu banyak pekerjaan. Dia sudah seperti budak saja. Tapi Nuna tidak pernah mengeluh, dia tidak pernah mengatakan keburukan agensinya pada wartawan menyebalkan itu. Tentang manajer-manajernya yang suka mencuri dan melecehkannya. Atau tentang petinggi perusahaan yang berusaha menggodanya."

"Apa Hyung tahu tentang tragedi kamar ganti waktu itu?" tanya Jaehyun.

Jongin mengangguk.

"Itu ulah manajernya. Dia yang memasang kamera di ruang ganti Nuna. Dan Nuna bahkan tidak mau menuntutnya. Ada juga manajer perempuan yang memberi tahu wartawan siapa saja laki-laki yang pernah bertemu dengan Nuna dan memutarbalikkan fakta agar beritanya lebih menghebohkan dengan menyebutkan bahwa Nuna berkencan dengan mereka semua. Dari situlah rumor bahwa Nuna adalah seorang playgirl tersebar luas."

"Juga rumor tentang Nuna yang suka bergonta-ganti manajer karena tidak ada yang tahan menghadapinya," sambung Taeyong. "Hyung tidak akan melakukan sesuatu seperti itu bukan?"

Jongin tidak menjawab, hanya lanjut bertanya, "Lalu kenapa dia tidak mengonfrmasi semua rumor salah tentangnya?"

"Itu bukan gaya Nuna. Dia tidak pernah peduli pada apa yang dipikirkan orang lain tentangnya. Jika dia tidak merasa melakukan kesalahan apa-apa, dia tida akan pernah mau buka mulut, meskipun semua orang menuduhnya yang tidak-tidak."

"Dia pernah mengonfirmasi salah satu gosip," sela Seulgi. "Skandal antara dia, Jaehoon, dan Hyesun."

"Ah, yang itu! Nuna dulu berteman baik dengan Shin Hyesun, sesama artis juga. Kau tahu 'kan, Hyung? Mereka bertiga pernah bermain drama bersama. Kisah cinta segitiga paling klise sedunia. Hyesun Nuna menyukai Jaehoon Hyung, tapi Jaehoon Hyung menyukai Sehun Nuna. Karena tahu bahwa Sehun Nuna berteman dekat dengan Hyesun Nuna, Jaehoon Hyung mendekati Hyesun Nuna terlebih dulu. Hyesun Nuna salah paham dan mengira Jaehoon Hyung menyukainya. Hal ini tercium wartawan, dan karena merasa tidak enak pada temannya, Sehun Nuna memberi konfirmasi bahwa dia dan Jaehoon Hyung tidak punya hubungan apa-apa. Tapi Hyesun Nuna terlanjur marah dan mereka tidak lagi bertegur sapa sampai sekarang."

"Bagaimana dengan keluarganya?"

"Untuk yang satu iu Nuna tidak pernah bercerita. Tapi desas-desus menyebutkan bahwa hubungan mereka tidak baik."

"Aku mendengar sesuatu tentang masa debutnya sebagai model," ujar Seulgi dengan nada hati-hati. "Katanya ini informasi dari orang dalam. Sehun Eonni ditemukan oleh seorang pencari bakat saat dia berusia 17 tahun. Awalnya dia tidak tertarik, tapi pencari bakat itu memaksa Sehun Eonni agar mau menyimpan kartu namanya. Lalu, pada suatu hari, Sehun Eonni muncul di agensi tempat pencari bakat itu bekerja, yaitu agensinya yang lama. Hanya saja dia muncul dalam keadaan mengenaskan setelah dipukuli. Rumornya, dia sering dipukuli oleh orang tuanya di rumah, karena itu dia kabur dan jalan keluar satu-satunya yang dia tahu hanya dengan menjadi artis. Agensi berusaha menuntut ayahnya, tapi tuntutan itu tidak diproses lebih jauh karena ayahnya adalah seorang pengusaha yang cukup berpengaruh."

Jongin meremas setir mobil dengan keras, hingga buku-buku jarinya memutih. Siapa gadis itu? Siapa gadis yang sedang mereka bicarakan itu? Kenapa begitu berbeda dengan gadis yang selama ini dibencinya? Gadis yang merenggut sang ayah darinya? Gadis yang merusak kehidupan masa remajanya?

Oh Sehun yang dia tahu adalah gadis yang digandeng ayahnya dan dibawa ke taman bermain dekat rumah saat dia mengabarkan kematian ibunya. Oh Sehun yang dia tahu adalah gadis yang berasal dari keluarga terpandang, yang bersifat sombong dan arogan, yang tampil di televisi dengan wajahnya yang angkuh dan dagunya yang terangkat tinggi. Oh Sehun yang Jongin tahu bukanlah sosok asing yang barusan mereka ceritakan. Dia.. sama sekali tidak mengenal Oh Sehun yang seperti ini.

Bukankah seharusnya Jongin lah yang paling tahu? Tentang dunia yang tidak bisa dipercaya, tentang manusia yang selalu berdusta. Apa yang dilihatnya dengan mata, belum tentu merupakan kebenaran yang sesungguhnya. Apa yang dia dengar , belum jelas salah atau tidaknya. Lalu kenapa dia mulai meragukan penilaiannya sendiri? Kenapa tiba-tiba gadis itu menjadi teka-teki yang harus dia pecahkan?

Jongin membuang napas.

Karena, entah bagaimana, Jongin jadi curiga bahwa gadis itu bukanlah sebentuk karakter yang selama ini dia kira. Bahwa gadis itu sebenarnya adalah bentuk topeng, yang hanya membuka diri pada waktu- waktu tertentu dan hanya pada orang- orang tertentu pula.

Karena, tiba-tiba, dia mulai ketakutan dengan kemungkinan bahwa... bisa saja... gadis itu juga merupakan korban. Sama sepertinya.

-And, then-

Juni, 1999.

Jongin pulang malam itu. Dengan tubuh letih setelah bekerja mengangkat bahan bangunan seharian, dilanjutkan dengan menggergaji kayu, memikul belasan sak semen, dan menjadi pelayan restoran saat hari berganti senja. Dia berhasil mendapatkan makanan sisa saat semua orang sedang lengah dan membungkusnya diam-diam untuk dibawa pulang. Untuk menebus rasa bersalah, dia menawarkan diri menyapu dan mengepel lantai restoran sampai bersih, karena itu dia sampai di rumah lebih lambat satu jam daripada biasa.

Tempat yang saat ini disebutnya rumah sebenarnya tidak pantas mendapat sebutan itu. Tempat tersebut hanya berupa gudang tak terpakai di ujung sebuah jalan buntu. Saat Jongin dan ibunya pertama kali menemukannya, tempat itu berbau begitu busuk, dengan lantai yang sudah lapuk terkena hujan karena atap yang bocor, dan setumpuk kotak kayu kosong yang memenuhi separuh luas gudang. Pekerjaan pertama yang dia lakukan adalah memotong kotak-kotak kayu tersebut hingga bisa digunakan untuk menambal atap dan dinding, mengambil beberapa di antaranya untuk dijadikan kursi, meja, dan tempat tidur, lalu sisanya kembali ditumpuk di sudut ruangan untuk dibakar di perapian pada malam harinya.

Dia membuka pintu yang mengerluarkan bunyi berderit, berharap ibunya masih terjaga untuk menyambutnya. Sudah hampir dua hari tidak ada makanan apa pun yang masuk ke perut mereka, dan ditambah udara awal musim semi yang masih dingin, dia jadi sangat mengkhawatirkan kondisi ibunya. Wanita itu hanya tidur- tiduran saja beberapa hari terakhir, terlalu lemah untuk beraktivitas. Uang yang mereka miliki sudah habis untuk membeli makanan pada minggu pertama mereka hidup di jalanan. Ibunya juga sudah menjual pakaian- pakaian bagus yang ada di kopernya, termasuk koper itu sendiri, dan mereka bertahan satu minggu berikutnya. Ini minggu ketiga, dan mereka tidak lagi punya apa-apa.

Bagi anak 14 tahun bertubuh kurus sepertinya, yang sebelumnya tidak pernah bekerja, melakukan kegiatan berat yang membutuhkan banyak energi tentu saja sangat sulit, terutama karena dia sudah lama tidak mendapat cukup asupan makanan untuk tambahan tenaga. Jongin memaksakan diri, apalagi jika teringat akan kondisi ibunya. Mengingat hal buruk yang terjadi pada mereka, membuatnya semaki membenci pria yang dulu disebutnya ayah.

Jongin menghampiri ibunya yang tidur berselimutkan satu-satunya mantel tebal yang kini dimilikinya. Dia mengguncang tubuh wanita itu, menyuruhnya bangun. Dan, begitu saja, tubuh ibunya terkulai ke samping, menelentang, dan saat itulah Jongin melihat genangan darah yang sudah menodai ranjang kayu sederhana tersebut, menetes-netes ke lantai, tadinya tak terlihat karena kondisi ruangan yang remang-remang –hanya bercahayakan nyala api yang mengeluarkan suara meretih-retih di perapian–.

Jongin tidak berteriak, pun berbisik lirih memanggil ibunya. Pemuda itu hanya berdiri di sana, terlalu kebas untuk membuat gerakan. Terlalu terkejut untuk segera memproses apa yang ada di depannya dan menerimanya sebagai sebuah kenyataan.

Mereka hanya memiliki satu sama lain di dunia. Dulu ibunya adalah seorang yatim piatu tanpa sanak saudara dan terpaksa hidup di panti asuhan. Kemudian, dia diangkat sebagai anak oleh sepasang suami istri kaya raya yang sangat menginginkan anak perempuan. Setelah dewasa, ibunya kemudian dijodohkan dengan ayahnya. Maka menikahlah mereka. Tanpa saling kenal sebelumnya, tanpa ada perasaan apa-apa. Hanya karena desakan orang tua.

Jongin memandangi jasad ibunya. Wajahnya yang pasi, kulitnya yang pucat, kelopak matanya yang tertutup dan sampai kapan pun tidak akan pernah lagi terbuka, dan sayatan yang dia tahu ada di pergelangan tangan wanita tersebut. Sumber dari semua genangan darah itu.

Pemuda itu masih belum mendekat. Masih tidak tahu harus merasakan apa. Tidak pernah terpikirkan olehnya pengkhianatan sejenis ini, yang diterimanya dari ibunya sendiri. Wanita yang melahirkannya, wanita yang katanya menyayanginya, wanita yang seharusnya terus berjuang bersamanya, bukannya meninggalkan dia seorang diri seperti sekarang.

Hidup itu kejam. Jongin sudah mengetahuinya sejak beberapa minggu lalu, ketika dia dan ibunya diusir dengan tidak berperikemanusiaan dari rumah. Hidup itu dusta. Dia pun tahu itu. Hidup penuh pengkhianatan. Sekarang, akhirnya dia paham.

Hanya saja, dia tidak tahu harus merasa marah pada siapa. Pada hidup yang tidak adilkah? Pada ayahnya? Atau pada ibunya?

Banyak orang yang mengatakan bahwa cara berpikirnya terlalu dewasa untuk pemuda berusia 14 tahun sepertinya. Saat itu, dia beralasan bahwa itu semua disebabkan oleh kegiatan membaca yang rutin dia lakukan tiap malam, juga dari menonton berita di televisi. Jongin, yang kata orang pintar, sebenarnya tidak punya pengalaman apa-apa untuk dijadikan acuan. Sekarang dia punya. Dan, dia mendapatkannya dengan cara yang menyakitkan.

Belakangan, ketika dia beriri di halaman belakang gudang, dengan peluh bercucuran setelah menyekop tanah puluhan menit, menggali liang untuk kuburan ibunya yang tidak bisa mendapatkan acara penghormatan seperti yang seharusnya, dia teringat satu hal. Bahwa sejak hari itu, hari pengusiran mereka yang diingatnya seumur hidup itu, ibunya tidak lagi pernah tersenyum padanya. Tidak pernah benar-benar mengajaknya bicara ataupun sekedar menatap matanya. Bahwa ibunya telah menghentikan semua kepura-puraan dan menunjukkan dirinya yang sesungguhnya. Dirinya, yang kemungkinan besar, tidak pernah mencintai anak lelakinya.

Jongin bahkan ingat, bahwa wanita itu, sekali pun tidak pernah menggunakannya sebagai alasan untuk menyelamatkan rumah tangganya. Bahwa ayahnya, tidak pernah mempertahankannya, dan lebih memilih dua orang anak perempuan, dibanding seorang anak laki-laki yang bisa dijadikannya penerus di masa depan.

Bahwa di atas dunia, Kim Jongin.. tidak pernah diinginkan siapapun.

.

.

.

-to be continued

.

.

Hueheheeee maaf atas keterlambatan updatenya /sungkem (kaya ada yg nunggu aja -'). Kemarin-kemarin masih sibuk sama unas, sbmptn, dll.

Tapi sekarang udah ga terlalu sibuk –malah terkesan nganggur–. Jadi mungkin bisa update lebih cepet, diusahakan sih seminggu sekali update. Ga enak juga punya utang begini, ya walaupun cuma ff remake-an sih. Tapi mungkin kedepannya diusahain buat cerita sendiri hehe.

Dan atas beberapa pertimbangan, ada beberapa cast yang saya ganti namanya. Seperti ayah Jongin yang awalnya Kim Jaehyun jadi Kim Jonghoon (Yesung SJ) dan Minseo ibu Jongin jadi Seo Joohyun (Seohyun GG)

So, mind to review(s)?

.

.

18/06/2016

–binisehun