Disclaimer : JK. Rowling

This story : My MINE

Sorry for typo's

My Love Is Magic

.

.

Draco Malfoy & Hermione Granger

'

'

O


Chapter 3 : Another World

Hermione terjerembab, ia merasa terjatuh. Tapi kenapa tidak sakit. pikirnya.

Membuka mata Hermione menyadari jika ia menindih seseorang di bawahnya, itu lah alasan kenapa ia tidak merasakan sakit.

Terdengar suara erangan. Mata Draco membulat melihat Hermione menindihnya.

"Kau." Teriak Draco.

Hermione tersenyum ganjil.

Hermione berdiri. Seketika matanya melotot mulutnya menganga melihat pemandangan di depannya. Yang di pandangi pun melakukan hal yang sama. Mereka melotot, menganga dan menghentikan semua aktifitasnya.

Tak terbesit bayangan apapun dalam benaknya setelah aksi nekat menyambar Draco Malfoy tadi.

Tak terpikirkan olehnya akan kemana mereka tadi, atau bagaimana nasib mereka setelahnya. Apa yang dilihat Hermione saat ini sungguh di luar akal sehat.

Wajah Draco pucat. Begitupun Blaise yang ada di belakangnya. Mereka berdua berpandangan lalu keduanya memandang Kepala Sekolah mereka yang berdiri mematung di depan ruangan.

Hermione tergagap ingin mengatakan sesuatu tapi mulutnya tak mampu.

Langit-langit malam berawan yang bertaburan bintang. Nampak bulan menyembul di balik awan seperti malu-malu menunjukkan kecantikannya. Di hiasi dengan lilin yang melayang bertebaran dimana-mana seperti tidaklah cukup bintang dan bulan ini menerangi acara makan malam mereka.

Ada yang aneh disini. Mereka tidak berada di luar ruangan. Di susun oleh tembok-tembok batu dingin yang berukir. di kelilingi dengan jendela-jendela kaca yang berukiran rumit serta warna-warni menggambarkan beberapa tokoh-tokoh orang pada masa lalu. Lampu-lampu api khas gaya peradaban lama tergantung hampir di setiap dinding. Pintu kayu besar menjulang tinggi di hadapan Hermione. Mereka berada di dalam ruangan. lalu apakah ruangan ini tidak memiliki atap dan bagaimana bisa lilin-lilin itu melayang?.

Dahi Hermione semakin berkerut. Alisnya sudah hampir menyatu.

Lelah mendongak terus ke atas, perhatian Hermione beralih ke lusinan pasang mata yang menatapnya. Bermacam-macam pandangan tertujunya ke arahnya.

Ada empat meja besar dan panjang yang di penuhi dengan berbagai macam makanan, minuman, buah-buahan, dan segalanya. Di hadapi berbagai macam tubuh yang duduk siap melahap semuanya. Laki-laki, perempuan. Ada yang berkulit putih, ada pula yang hitam. Ada yang terlihat dewasa, ada pula yang masih anak-anak. Semua menjadi satu siap menghabiskan segala macam makanan di depan mereka, tapi aktivitas mereka terhenti semuanya. Mereka menatap hermione lekat.

Otaknya mulai bekerja. Indra penciuman Hermione berfungsi. Aroma makanan disini begitu harum. Perut nya berbunyi. Persetan dengan semuanya. Aku lapar. Aku ingin makan. Teriak Hermione kegirangan dalam hati.

"Bagaiman kau melakukannya." Draco menarik tangan Hermione. Lamunannya tersadar. Ia hampir lupa pada pemuda ini. Yang telah membawanya kesini.

"Eehhhmm..." sesorang berdeham. Membuyarkan semuanya. Mereka tersadar. Dan ruangan itu sekeitika ribut. Ada yang melanjutkan makannya. Ada pula yang mulai berbisik-bisik.

Pria tua dengan janggut putih panjang hampir sepinggang menatap Hermione. Hermione risih di tatap dengan penuh arti seperti itu. Ia membuang muka.

"Silahkan lanjutkan acara makan kalian anak-anak." Pria tua itu bertepuk tangan sekali dan makanan di meja panjang itu seketika bertambah banyak.

Lagi-lagi Syock Hermione tak bisa berkurang. Ia lelah terus menganga melihat semua hal aneh di depan matanya.

Pria tua itu menghampiri kami. "Ada yang perlu kalian jelaskan Mr. Malfoy dan Mr. Zabini." Tanyanya.

Blaise mendelik. Ia tidak tau apa-apa soal ini, tapi sepertinya ia di anggap bertanggung jawab juga dalam hal ini.

Draco diam. Sepertinya ia mengalami syok juga.

"Kalian juga boleh melanjutkan acara makan kalian para guru." Pria tua itu menole ke belakang ke barisan meja dan kursi yang di duduki oleh yang di sebutnya para guru tadi.

"Kita selesaikan nanti saja. Kalian bisa bergabung dengan yang lain." Masih percakapan sepihak. Tidak ada yang merespon pria tua ini. Kami bertiga masih diam. Hanya mendengarkan tak ada sahutan.

Draco dan Blaise menggiring ku ke meja yang paling pinggir. Beberapa anak masih menatapku dengan tatapan yang berbeda-beda.

Mataku hanya tertuju ke makanan. Tak memperhatikan jalan. Salahkan diriku sendiri yang saat di cafe tadi tak mencicipi apapun karna terlalu sibuk memperhatikan Draco Malfoy.

Langkah ku semakin dekat. Rasanya air liur ku sebentar lagi akan menetes. Perut ku sudah mulai berbunyi lagi.

'Aku ingin yang itu.' Batin Hermione. Matanya menatap lekat daging panggang yang belum di jamah siapapun itu.

'Jus itu menggiurkan.' Mata Hermione berbinar.

'Aku ingi makan pasta.' Lima langkah lagi.

'Anggur itu menggelinding. Sayang sekali harus jatuh.' Tiga langkah lagi.

Cepat.

Dua.

Cepat.

Sam-.

Hermione tak pernah sampai ke meja itu.

Sesuatu tiba-tiba muncul saat langkah terakhir Hermione mencapai meja. Seperti keperakan?. Bukan. Seperti bayangan?. Juga bukan. Warnanya putih bening. Melayang. Wujudnya seperti tak nyata. Tapi terlihat. Fisiknya terlihat. Tapi tak dapat di sentuh.

"Hello Girl's." Sesuatu entah apa yang ada di depannya ini menyapa.

Hermione melotot lagi. Masih memikirkan sebutan apa yang pas untuk makhluk di depannya ini.

Benda atau apalah itu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Hermione yang melotot. Saking terbahaknya ia sampai tubuhnya bergetar. Dan kerena getaranya itu kepalanya hampir terlepas.

"Hantu." Teriak Hermione dan ia pun jatuh pingsan.

ooOOoo

"itulah yang terjadi Professor." Draco mengakhiri ceritanya.

Blaise hanya manggut-manggut saja. Tidak membantu sama sekali pikir Draco.

Professor Dumbledore pria tua dengan janggut putih panjang itu menimbang-nimbang penjelasan Draco.

"Ku tahu berapa kali kau melanggar peraturan selama di dunia Muggle kemarin Mr. Malfoy."

"7 kali Sir." Jawab Draco.

"Ku tahu kesalahan terbesarnya."

"Saya ber-Apparate. Tapi itu karna saya terdesak Professor." Draco membela diri.

"Bukan itu masalanya Draco." Dumbledore menggeleng.

"Kalian belum mempelajarinya di tahun ini. Hal itu akan di pelajari di tahun depan. Pertanyaanya dari mana kau mempelajarinya. Itu melanggar hukum." Tambah Dumbledore panjang lebar.

"Saya bisa menjelaskan semuanya Professor. Tapi tidak di sini. Hanya kita berdua." Draco melirik sekitar.

Madam Pomprey sedang asik membuat ramuan. Berpura-pura tak mendengar percakapan mereka. Blaise sedang memainkan tongkat sihirnya. Dan Hermione Granger terbaring di salah satu ranjang di Hospital Wing ini.

"Baiklah. Kapanpun kau ingin membicarakannya denganku. Kau tahu kata kuncinya kan."

Dumbledore bangun dari duduknya.

"Kalian berdua harus menerima detensi untuk pelanggaran kali ini. Satu bulan penuh merapikan buku-buku di perpustakaan. Ku rasa cukup." Ucap Dumbledore seraya berjalan.

Draco dan Blaise tertunduk lesu.

Di ambang pintu Dumbledore berhenti. Menoleh kebelakang.

"Dan Poppy. Jangan lupa beri gadis ini makanan setelah ia sadar. Biarkan ia istirahat di sini dulu. Aku akan menemuinya lagi besok."

Madam Pomprey mengangguk mengiyakan.

"Dan kalian berdua, karna ini sudah jam malam, makanan akan di antar ke kamar kalian. Setelah itu beristirahatlah. Ini hari yang lelah buat kalian kan."

Dumbledore berlalu menyisakan detensi lagi untuk mereka.

"Kenapa kau bisa seceroboh itu sih Mate." Blaise mulai berbicara.

"Mana aku tahu kalau dia diam-diam mengikutiku."

"Bukan hanya itu saja. Tak bisa kah kau mengendalikan dirimu untuk tak menggunakan sihir. Kau tahu kan kalau kita sedang menjalani hukuman di dunia Muggle. Dan kau melakukan pelanggaran dalam menjalani hukuman. Yang benar saja. Merlin." Keluh Blaise panjang lebar.

"Kau tidak dengar apa yang ku katakan tadi huh?." Emosi Draco mulai tersulut.

"Kalau tak sibuk dengan gadis-gadismu itu. Kau pasti tau apa yang terjadi padaku. Kau tidak menolong ku saat aku membutuhkan mu. Dan sekarang kau menyalahkan ku Zabini." Ia tak suka di salahkan seperti ini. Walau memang salah pun ia tak akan mengakui nya. Ego para Malfoy terlalu tinggi untuk mengakui kesalahan mereka.

"Lalu apa ini. Kau menambah panjang daftar detensi kita." Blaise masih tak terima dengan detensi yang diberikan Dumbledore.

"Hentikan. Kalian tidak dengar apa kata Dumbledore tadi." Madam Pomprey menghentikan perdebatan mereka.

"Cepat kembali ke kamar kalian. Atau aku akan menambah panjang-kan daftar detensi kalian." Seru Healer Hospital Wing ini galak.

Mereka berdua keluar dari Hospital Wing dengan wajah yang di tekuk. Cemberut. Kesal. Lelah. Dan marah.

Sebelum mencapai pintu Draco melirik Hermione sekilas. Masih tertidur. Manis.

ooOOoo

Pagi-pagi sekali Draco sudah mengunjungi Hermione di Hospital Wing.

"Bagaimana tidur mu semalam." Tanya Draco.

"Nyenyak sekali." Jawab Hermione.

"Dimana ini sebenarnya Draco."

"Bersabarlah bukan aku nanti yang menjelaskannya padamu."

Hermione melengos. "Jawaban mu sama saja dengan perawat itu." Tunjuk Hermione pada Madam Pomprey.

"Bersihkan dirimu dulu. Setelah itu kita sarapan. Ini" Draco memberikan Hermione sepasang baju dan celana lengkap dengan peralatan lainnya.

Hermione bangun dan berjalan ke arah yang di tunjuk Madam Pomprey.

Baru kali ini Draco melakukannya. Memberi perhatian pada orang lain. Ia terbiasa cuek, tidak memperdulikan apapun di sekitarnya. Terbiasa mengurus dirinya sendiri, malah terkadang beberapa keperluannya masih di urus oleh Ibu atau peri rumahnya.

Pagi tadi saat yang lain masih terlelap. Ia sudah mengetuk-ngetuk kamar anak perempuan. Meminjam pakaian untuk Hermione kenakan pagi ini. Mendapat sumpah serapah dari yang lainnya karna mengganggu tidur mereka. Draco menyeringai melihat ekspresi mereka yang marah-marah dan rambut masih berantakan bangun tidur. Melirik sekilas ke dalam kamar anak perempuan. Draco tertawa melihat gaya mereka. Ada yang tidur mengenangakan badak putih tebal menutupi seluruh wajanhya menyisakan mata, bibir, serta lubang hidungnya saja untuk bernafas. Ada juga yang tidur sambil mengenakan Roll di seluruh rambutnya. Ada pula yang sudah hampir separuh tubuhnya tak lagi di ranjang. Tidak ada yang manis. Berbeda sekali dengan Hermione-Ku. Batin Draco. Ia terkekeh sendiri mengingatnya.

Mengurus orang lain sepertinya menarik juga. Batin Draco. Ia memiliki kepedulian terhadap Hermione. Perasaan yang baru di rasakannya. Dan ia ingin coba menjalaninya.

"Bagaimana." Hermione memecah lamunan Draco.

"Kau sudah selesai. Lumayan." Komentar Draco meneliti penampilan Hermione.

"Ayoo.." Draco menggandeng tangan Hermione. Hermione berjalan disampingnya. Sejak kapan mereka berdua jadi akrab seperti ini. Tidak ada penolakn dari kedua nya.

Hermione meneliti setiap detail ruangan yang di sebut Draco Aula besar ini. Kembali anak-anak lain memperhatikan kedatangan Hermione. Beberapa anak perempuan mulai menatap Hermione benci karena melihat Hermione bergandengan tangan dengan Draco. Syock Therapy untuk mereka di pagi hari. Batin Draco yang mengerti tatapan mereka. Draco menyeringai. Ternyata ia masih Cassanova di mata gadis-gadis ini. Walaupun beberapa anak laki-laki berpikiran kebalikannya. Mereka lebih sering menyebut nya si tukang onar.

Hermione tak acuh dengan pandangan orang lain. Ia masih sibuk memandang takjub ruangan ini. Di pagi hari ruangan ini tak kalah indah dengan malam tadi. Draco bilang tadi. Ia hanya perlu melihat-melihat. Mengamati. Jangan memikirkan apapun jiak tak mau gila sekarang. Semua pertanyaan nya akan di jawab nanti.

Draco menggiring Hermione ke kursi bagian Blaise dan teman-temannya berkumpul.

"Hiii.. Hermione." Sapa Blaise duluan.

Hermione tersenyum. Ia duduk di samping Blaise. Draco mengikuti duduk di sampingnya.

Tak ada sapaan di antara mereka. Keduanya bersikap dingin.

"Hentikan kalian berdua. Apapun masalah yang terjadi di antara kalian hentikan semuanya." Seorang anak berambut cepak berkata seperti itu pada mereka berdua. Hermione bingung melihat keduanya yang masih diam pura-pura sibuk dengan makanannya masing-masing.

Hermione memberi tatapan bertanya pada anak laiki-laki cepak tadi.

"Mereka sudah seperti itu dari tadi malam." Anak itu menjawab.

"Apa masalah kalian berdua. Apa karena aku?." Tanya Hermione.

Blaise tertawa. "Kau berharap kami berdua memperebutkan mu eh Granger." Ia mulai terbahak.

Draco menahan tawa. "Percaya diri mu tinggi sekali Granger. Ckckck " Sambung Draco. Ia tergelak. Dan yang lain yang mendengarnya juga ikut tergelak.

Hermione memberengut kesal. Pagi-pagi sudah di tertawakan banyak orang.

"Cepat saja makan. Setelah ini aku akan mengantarmu menemui pak tua itu."

Hermione sudah terlanjur malas untuk makan. Nafsu makannya hilang seketika.

"Kau ingin makan yang mana." Draco mengambilkan segelas susu untuk Hermione.

Hermione masih memberengut. Dan Draco mengambilkan lagi sosis, telur dan roti ke hadapan Hermione.

"Aku bisa mengambilnya sendiri Malfoy." Bentak Hermione. Ia menyuap rotinya dengan kasar. Draco tersenyum.

Teman-teman Draco melongo melihat kelakuan Draco pagi ini. Apa yang terjadi padanya. Kenapa bisa begini. Draco tak pernah memperlakukan siapapun seperti ini. Mereka menatap Blaise. Blaise hanya mengendikkan bahu tanda tak tahu juga.

Anak-anak perempuan semakin sinis menatap hHermione. Bagaimana bisa gadis baru itu dengan santainya bergurau dengan Slyterin boy's itu. Dan di layani Draco Malfoy.

Dari perkenalan singkat di aula besar tadi Hermione tau bahwa anak laki-laki berambut cepak tadi namanya Theodore Nott. Dan dua laki-laki gemuk. Buntal yang hanya makan saja kerjaannya tadi namanya Vincent Crabbe dan Gregory Goyle. Dan laki-laki berbulu mata lentik tadi namanya James McAdam. Hermione terpesona melihat James. Sesekali ia melirik pria itu.

"Permen Lemon."

Patung Gargyole di depan Hermione bergerak membentangkan sayapnya. Tangga batu turun setelahnya. Hermione terkejut. Draco menatapnya menenangkan.

Mereka berdua naik di atas tangga putar yang menampakan sebuah pintu di atasnya.

"Ini seperti Eskalator yang ada di Mall."

"Kau belum melihat yang lainnya." Seringai Draco. Membuat Hermione penasaran.

Baru Draco akan mengetuk pintu. Terdengar suara dari dalam. "Masuk saja."

Mereka berdua masuk.

"Silahkan duduk." Ucapnya Dumbledore pada mereka berdua.

"Mau permen Nona." Dumbledore mengarahkan toples berisi bungkusan permen ke arah Hermione. Hermione menatapnya ragu.

"Kau disini saja Mr. Malfoy. Aku sudah mengijinkan mu pada mata pelajaran pertama ini."

Draco mengangguk.

Terlihat ruangan bulat yang setiap dindingnya bergantung banyak bingkai foto. Dan berisikan gambar bergerak. Hermione tak mau memikirkan bagaimana gambar-gambar itu bisa bergerak dan berbicara.

Banyak lemari mengelilingi mereka, berisi berbagai macam benda aneh menurut Hermione.

Hermione sudah mulai bisa mengendalikan keterkejutannya pada tempat ini. Tidak ada yang normal di sini.

"Maaf atas sambutan yang kurang mengenakkan ini Miss. Granger. Selamat datang di Hogwarts"

Hermione mengambil satu permen berbungkus warna merah.

"Hati-hati memilihnya. Kemarin aku mendapatkan rasa kotoran telinga."

Hermione mengernyit menjijikkan. Ia mulai ragu dengan permen pilihannya. Draco menahan tawa mendengarnya.

Pelan Hermione membuka bungkusnya dan menyuap ke mulutnya. Rasanya seperti.

"Jeruk." Ucap Hermione. "Rasanya seperti jeruk."

"Kau memang gadis yang beruntung."

"Bisa kita mulai." Hermione menyela kenikmatan Dumbledore memainkan permen di lidahnya.

Dumbledore tersadar.

"Sihir. Itu petunjuk pertamanya." Ucap Dombledore dengan misterius.

Otak Hermione bekerja keras memikirkan semuanya. Sihir. Ada apa dengan sihir. Semua ini sihir. Tentu saja iya. Hal aneh yang terjadi disini adalah sihir. Tidak ada penjelasan secara ilmiah bagaimana lilin bisa melayang sendiri, makanan bisa bertambah dengan sendirinya. Foto yang bisa berbicara dan bergerak. Dan Draco menyembukan luka nya dalam sekejap. Apa lagi. Banyak. Semuanya tak masuk akal. Tak bisa di pikirkan. Tak bisa di jelaskan dengan otak nya yang hanya berkapasitas manusia biasa. Tapi semuanya akan menjadi masuk akal jika di jelaskan dengan sihir. Sihir itu bena-benar ada?. Dahi Hermione keriting memikirkannya.

"Kalian penyihir." Tanya Hermione ragu.

Draco dan Dumbledore mengangguk bersamaan.

"Semua yang kau lihat disini semuanya terjadi dengan sihir. Dan sekarang kau berada di dunia sihir."

Hermione mulai mengerti sekarang.

Draco adalah penyihir. Dan karna rasa ingin tahunya yang berlebih terhadap hal aneh yang sempat di lakukan Draco di dunia biasa. Membuatnya tersesat di dunia sihir. Unik. Keren. Hermione tersenyum geli.

"Kurasa kau sudah cukup mengerti sekarang Nona." Dumbledore memperhatikan mimik wajah Hermione.

"Tidak pernah ada Muggle yang kesini sebelumnya."

Hermione mengerutkan kening mendengar kata aneh keluar dari mulut pria tua itu.

"Kami menyebut kalian dengan sebutan Muggle." Dumbledore menjelaskan.

Draco diam tak berbicara sedikitpun. Ia memperhatikan Hermione. Memperhatikan bagaimana cara gadis itu berpikir. dahinya yang berkerut lalu mengendur lagi. Ekspresi wajahnya yang berubah-ubah. Draco mengulum senyum melihatnya.

"Kami akan mengantarmu pulang siang ini dengan beberapa sedikit modifikasi." Dumbledore kembali bersuara.

"Tidak." Sahut Hermione tegas.

Dumbledore dan Draco terkejut mendengarnya.

"Sorry." Menurunkan tekanan suaranya.

"Boleh kah saya tinggal disini untuk beberapa hari. Saya tidak akan melakukan hal buruk. Hanya ingin bejalan-jalan, mengenal lebih jauh tentang dunia ini. Saya mohon. Saya bukan lah teroris yang mempunyai misi untuk menghancurkan sesuatu. Atau apapun. Hanya ingin menjawab rasa ingin tahu saya." Hermione menjelaskan pada Dumbledore.

Dumbledore tampak memikirkan perkataan Hermione, terlihat dari kerutan di keningnya yang memang sudah berkerut karna faktor usia.

"Kau sudah terlalu banyak tahu Miss. Granger."

"Saya berjanji tidak akan membeberkannya pada siapapun. Hanya jadi rahasia saya sendiri." Hermione meyakinkan.

"Saya yang akan bertanggung jawab atas nya Professor." Baru ini Draco mengeluarkan suaranya.

Hermione menoleh mengadapnya. Senyum sumringah terpeta di wajah Hermione. Ternyata ada yang mau mendukung ide gilalnya untuk tinggal disini sementara.

Jeessss... wajah Draco panas. Sepertinya wajahnya merah. Merona. Draco membuang muka takut-takut Hermione melihat semburat merah di wajahnya. Akan ku lakukan apapun untuk melihat senyum itu. Batin Draco.

"Kau yakin dengan perkataan mu Mr. Malfoy." Dumbledore bertanya pada Draco.

"Kau tau peraturannya kan. Tidak ada Muggle yang pernah ke sini."

"Bukan kah banyak Muggle-born yang belajar disini."

"Tapi mereka belajar di sini Draco. Bukan sekedar berjalan-jalan. Mereka memiliki bakat untuk menjadi penyihir. Mereka Salah satu bagian dari duina sihir."

"Saya janji. Saya akan mengawasinya. Jika anda mengijinkan dia tinggal di sini." Draco meyakinkan.

Dumbledore kalah adu debat dengan Malfoy junior ini.

"Baiklah kalau begitu. Kau atur sendiri Mr. Malfoy. Akan ku beri tahu guru yang lain. Dia milikmu sepenuhnya." Akhiri Dumbledore.

"Ikuti peraturan yang ada Miss." Dumbledore menatap Hermione dalam.

Hermione mengangguk senang.

"Kalau begitu kami permisi Professor."

Dumbledore mengangguk.

Mereka keluar dengan senyum mengembang di masing-masih wajahnya dengan arti yang berbeda.

ooOOoo

"Jadi ada banyak yang seperti aku di tempat ini."

Draco hanya mengangguk.

Tangannya sibuk menyortir buku-buku mana saja yang sudah rusak dan mana masih layak untuk di baca.

"Tapi mereka belajar di sini. Mengasah kemampuan sihir nya. Mengendalikan. Mereka memang kelahiran biasa, bukan darah murni seperti kami, atau darah campuran. Mereka sama seperti mu. Bedanya mereka memiliki bakat sihir sejak lahir." Jelas Blaise yang ada di antara mereka panjang lebar.

Mereka berada di perpustakaan menjalani detensi pertama mereka. Betapa senangnya Hermione saat mendengar kata perpustakaan. Buru-buru ia mengikuti mereka.

Mata Hermione berbinar melihat tumpukan buku bersusun rapi di rak yang memenuhi ruangan. ada berapa banyak buku di sini. Ribuan. Ratusan ribu. Atau jutaan. Ingin rasanya ia membawa pulang semua buku ini.

"Apa maksud mu dengan Darah campuran."

Mereka yang telahir dari hasil pernikahan penyihir murni dan manusia biasa. Draco menjawab pertanyaan Hermione.

Blaise dan Draco kembali akur selepas makan siang tadi. Blaise sudah bisa menerima detensi mereka dengan lapang dada.

"Jadi mereka boleh menikah."

"Tentu saja." Kali ini Blaise yang menjawab. "Kau mau menikah dengan ku." Tambah blaise. Berdiri di hadapan Hermione menggodanya.

Draco mendelik mendengar ucapan Blaise.

"Hanya begini cara mu melamarku. Sangat tidak berkelas." Hermione balas menggodanya.

"Kau mau yang seperti apa Princess."

Hermione tergelak mendengar cara Blaise memanggilnya tadi.

Blaise pun ikut tertawa.

Telinga Draco panas mendengar canda mereka.

"Hentikan." Sembur Draco kasar pada mereka. "Cepat selesaikan semuanya. Aku ingin segera istirahat."

Mereka berdua masih cekikikan. Selera humor Blaise masih cukup bagus ketimbang Draco yang selalu ingin tampil Cool di depan publik.

Detensi hari pertama mereka selesai. Beriringan kembali ke ruang bawah tanah Slyterin. Hermione di izinkan tinggal di asrama Slyterin, bergabung di kamar anak perempuan. Dan di perbolehkan mengikuti pelajaran atau mengikuti apa saja kegiatan Draco. Bisa di bilang Hermione menjadi ekor Draco saat ini.

Draco mengimbangi langkah Blaise. "Aku yang lebih dulu melihatnya mate. Dia milikku." Draco berbisik pada Blaise tak ingin di dengar Hermione yang berjalan lima langkah di depan mereka.

Blaise senyum-senyum sendiri mendengarnya. "Malfoy sedang jatuh cinta eh?." Goda nya. Ia tertawa dan berlari meninggalkan Draco dan Hermione.

Hermione menoleh kebelakang. "Ada apa dengannya." Tanyannya.

"Dia gila." Sahut Draco. Berjalan mendahului Hermione.

Hermione bingung sendiri dengan sikap mereka yang sulit di tebak.

ooOOoo

Hari-hari Hermione berikutnya dilalui dengan pertualangan menjelajahi Hogwarts dan dunia sihir bersama Draco.

Berjalan-jalan ke Hutan Terlarang benar-benar sesuatu yang menegangkan bagi Hermione. Seperti ada di dunia khayalan. Dan apakah dunia ini memang dunia khayalan?. Ia tak bisa menjawabnya. Masih sulit mempercayai semua. Banyak bertemu binatang-binatang yang hanya ada di buku Dongeng.

Membaca hampir semua buku yang bisa di bacanya saat bokongnya duduk di perpustakaan. Dari semua tempat yang ada di Hogwart sekolah sihir untuk para penyihir muda ini. Perpustakaan lah tempat paling indah menurutnya. Tak ada keindahan yang bisa melampaui deretan buku yang bersusun rapi. Ia sanggup membawa lima tumpuk besar buku untuk dibawa ke kamar dan melahapnya semalaman. Ia sudah mensiasatinya dengan meminta vitamin pada perawat di Hospital Wing. Dan Madam Pomprey memberinya Ramuan penyegar tubuh. Ia rela begadang. Memanfaatkan semua waktu seberguna mungkin selama disini itu moto nya sekarang.

Menonton pertandingan Quidditch menjadi shock therapy untuknya seharian ini. Ia tak bisa merumuskan bagaiman sapu ringkih seperti itu mampu menampung tubuh orang-orang yang menaikinya. Belum lagi terkadang sapu itu harus menahan bobot tubuh penunggangnya yang mungkin sepuluh ribu kali lebih berat dari bobot sapu itu sendiri. Dan bagaimana pula sapu rapuh itu bisa terbang?. Di tambah dengan permainan super Extreme yang kali ini pernah dilihatnya. Menunggangi sapu butut. Balapan dengan kecepatan hampir 200 km/jam. Ugal-ugalan. Dan memperebutkan bola yang hanya sebesar biji mata. Mereka rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk itu.

Sebuah kebanggaan dan kesenangan menurut Draco mengikuti permainan Quidditch.

Apa yang ada di otak para guru mereka memperbolehkan murid-murid nya melakukan hal itu. Jika di dunia ku, sekolah mereka sudah pasti di tuntut oleh para wali murid. Batin Hermione.

Berjalan-jalan ke Diagon Alley. Hermione memborong beberapa barang untuk di jadikan oleh-oleh. Dengan uang pinjaman dari Draco Malfoy tentunya. Ternyata dia adalah orang kaya. Dia mempunyai banyak sekali bangker yang berisi entah berapa ribu keping emas.

Memasuki toko lelucon sihir Zonko's. Ingin rasanya ia menjual barang-barang seperti ini di dunia nyata miliknya. Jika boleh ia ingin meminta izin pada empunya toko untuk membuka cabang di dunia Non-sihir. Pasti akan sangat sukses.

Hermione senyum-senyum sendiri memikirkan ide gilanya.

"Ada apa denganmu?" tanya Draco yang melihat Hermione senyum-senyum tidak jelas.

"Tidak ada apa-apa!"

Mereka melanjutkan berkeliling Diagon Alley. Mencoba makanan bermacam-macam Variasi. Benar-benar Inovasi yang Briliant. Saat kembali ke California nanti ia akan meminta modal pada ayahnya untuk membukakannya sebuah usaha kuliner dan aksesoris akan sangat laku di pasaran. Mengambil beberapa ide dari sini tidak masalah bukan.

Lagi-lagi Hermione tersenyum memikirkannya.

"Hentikan itu." Lagi Draco menegurnya.

"Kau membuatku takut." Tambahnya.

Hermione mendelik pada Draco.

"Kau seperti merencanakan sesuatu untuk menyerangku malam ini."

"You Wish Malfoy."

Draco tertawa. Mengiringi langkah Hermione yang besar-besar meninggalkannya.

"Kau bisa tersesat. Kau tau." Teriak Draco kesusahan mengikuti langkah Hermione.

Ia melambatkan langkahnya. Akan membuang-buang waktu jika ia harus tersesat disini. Lebih baik di gunakan untuk membaca dari pada berkeliling mencari jalan keluar di tempat ini. Batin Hermione. Dongkol.

Draco langsung merangkulnya dari belakang.

"kau seperti nenek tua kalau cemberut terus seperti itu." Ucap Draco. Melanjutkan acara jalan-jalan mereka. Tak terasa waktu mendekatkan mereka berdua.

ooOOoo

Pagi itu Hermione pergi bersama Draco ke menara tempat para burung. Draco menganjurkannya untuk memberi kabar pada keluarganya.

Ia mengirim surat pada Ginny. Ginny sangat ahli dalam hal memberi alasan yang rasional jika mereka melakukan suatu kebohongan. Hanya sedikit di beri tanda dengan sangat ahli dia akan memberi alasan panjang lebar.

Setelah menulis surat sepanjang 30 cm. Hermione ragu menitipkan suratnya pada burung hantu berwarna hitam pekat milik Draco. Mengingat burung itu harus terbang menyebrang Benua.

Apakah burung itu mampu. Dan apakah ia akan sampai ke tempat tujuan dengan benar. Hermione sudah menulis alamat selengkap-lengkapnya di dalam surat. Apa burung itu bisa mengerti tulisanku. Pikir Hermione.

Ia menatap lirih melihat kepakan sayap burung menjauhi menara.

Apa Ginny mengerti. Jangan-jangan burung itu sudah di goreng Ginny duluan sebelum menemukan suratnya. Benar-benar cara mengirim pesan yang menyusahkan. Kalau saja di sini ada sinyal akan sangat mudah melakukannya. Tidak perlu bersusah payah menulis surat dan menitipkannya pada seekor burung bodoh. Handphone nya jadi barang yang tidak berguna di tempat ini.

"Kau yakin. Burung tragis itu akan sampai ke tujuan dengan selamat."

"Jangan meremehkan segala sesuatu milik Malfoy Nyonya."

"Hanya saja. Aku ragu kalau-kalau dia akan salah alamat."

"Tenang saja. Dia burung terlatih."

"Dan apa maksudmu dengan tragis." Draco mendelik pada Hermione.

"Dia terlihat kurus. Apa kau selalu memberinya makan."

"Tidak bisa kah kau melihatnya. Dia bukan kurus. Dia berotot."

Hermione melengos. Pria di depannya ini selalu ingin menjadi yang tertinggi. Terdepan dan ter-ter –ter lainnya.

"Sorry. Aku tidak mengerti tentang dunia perburungan."

"Kau harus banyak belajar kalau begitu." Draco menyeringai.

Hermione pergi meninggalkannya.

ooOOoo

Sebelum ia ke perpusatakaan tadi sehabis makan malam. Draco memberitahunya untuk menunggu di ruang rekreasi Slyterin tepat jam 12 malam. Dan jangan membangunkan siapa-siapa.

Di sinilah ia sekarang. Duduk kedinginan di sofa sendirian di tengah malam begini menunggu Draco yang melanggarkan permintaannya sendiri. Sudah lewat sepuluh menit.

Dimana pirang brengsek itu. Batin Hermione.

Tiba-tida Draco menyampirkan selimut ke bahu Hermione.

Hermione melotot.

"Maaf. Susah sekali menidurkan Blaise. Dia selalu ingin tahu urusan ku." Draco menjelaskan.

"Ayoo." Ajaknya.

"Kemana." Tanya Hermione malas. Jangan bilang kalau Draco Malfoy akan mengajaknya keluar. Ia tidak mau berdingin-dingin ria. Ia ingin membaca saja di atas ranjangnya.

"Aku ingin menunjukkan sesuatu."

Draco menarik tangan Hermione. Dengan malas Hermione mengikuti langkah Draco.

"Jangan membuat gaduh." Ia menegur Hermione yang berjalan mengasah ujung sepatu boots nya.

"Kita sedang melanggar peraturan Malfoy." Hermione mengingatkan. Ia tidak ingin di hukum. Itu berdampak buruk pada masa waktunya di sini. Bisa-bisa ia akan di pulangkan malam ini juga.

"Tidak ada yang lebih menyenangkan dari melanggar peraturan Baby."

Percuma berdebat dengan otak batu sekarang. Berpotensi membuat mereka ketahuan. Hermione mengikuti Draco malas.

Setelah sampai di sisi kiri Hogwarts. Draco berhenti.

"Accio Firebolt."

Tiba-tiba seonggok sapu terbang melesat di atas kepala Hermione.

Matanya melotot melihat sapu mengambang di depannya. Dan menatap horor ke arah Draco yang menyeringai.

"Tidak." Hermione melangkah mundur.

"Aku tidak akan menaiki benda itu."

"Ayolah Granger. Bekerja samalah dengan ku sedikit."

Hermione menggeleng. Ia bisa mati bediri jika menaiki sapu kurus itu.

"Kau tak ingin menyia-nyiakan waktu mu di sinikan."

"Kau belum melihat yang paling menakjubkan dari tempat ini." Tambahnya.

Hermione masih diam di tempat.

Draco meraih tangan Hermione. Menggengam nya erat. Menenangkan. Membawanya perlahan menaiki sapu. Kini mereka melayang di udara. Hermione menutup matanya. Takut. Draco menenangkan dengan memacu sapunya santai mengelilingi Hogwarts.

"Buka mata mu." Teriak Draco di sela-sela rambut Hermione yang berkibar.

Hermione serasa bisa menggapai bulan dan bintang. Ia setara dengan bulan. Di bawahnya kerlap-kerlip lampu seperti bintang yang berotasi di tanah. Di kejauhan terlihat lampu-lampu pemukiman Hogsmade dan asap-asap yang keluar dari setiap cerobong rumah. Bertebaran menyatu dengan awan. Ia bisa melihat semuanya. Ia seperti dewi dari surga yang sedang takjub akan ciptaannya sendiri. Semua ini miliknya. Semua milik hatinya. Termasuk pria yang memeluk pinggangnya kaku ini.

Mungkin ini klimaks dari acara berliburnya tahun ini. Takkan pernah terlupakan. Kesialan yang berubah menjadi keberuntungan.

"Beautiful." Hanya itu yang mampu di ucapkan Hermione.

"Terima kasih." Bisik Hermione bersemu merah.

Ragu Draco memberanikan diri menyandarkan dagunya di atas kepala Hermione. Membaui rambutnya sekali lagi. Wangi strawberry lagi. Pikirnya.

Dalam diam mereka menikmati kebersamaan. Dengan Landscape keindahan alam. Dua hati yang berbeda mulai menyatu perlahan tetapi pasti.

Entah sudah berapa lama mereka berdiam di atas sapu. Tanpa sepatah katapaun. Tanpa pergerakan apapun.

"Kau siap." Draco memecah kesunyian di antara mereka.

Hermione mengerutkan kening menanggapi pertanyaan Draco.

Tiba-tiba saja sapu yang mereka naiki menukik tajam. Turun. Menuju tanah. Gelap. Sunyi. Hanya suara teriakan Hermione yang membelah malam.

"Mufliato." Teriak Draco. Takut-takut ada yang mendengar jeritan horor Hermione.

Draco memacu sapu nya maksimal. Menuju hutan terlarang.

Mereka memasuki hutan terlarang. Meliuk-liuk di antara dahan pepohonan. Semakin masuk kedalam semakin galap. Tongkat Draco menjadi penerang di pekatnya hutan.

Suara-suara binatang marah menyertai aksi mereka. Hermione terus menjerit mengganggu penghuni hutan. Sambil memeluk pinggang Draco erat. Hermione mengeluarkan semua sumpah separahnya yang di tujukan pada Draco Malfoy.

Setelah menunjukkan kebolehannya pada Hermione, Draco mendaratkan sapunya di tepi danau hitam.

Hermione memukul-mukul Draco dari bentuk rasa kesalnya pada pria ini. Draco tak membalas sedikit pun.

Ia menatap ke air danau yang datar. Sunyi. Tak ada riak sedikitpun. Permukaannya tenang.

"Seperti di Masjid Agung Syeikh Zayed Abu Dhabi waktu itu kan."

Reflek kegiatan memukul Hermione berhenti.

Ia mengikuti arah pandangan Draco.

Sama seperti penampilan di atas tadi. Yang berbeda hanya dari cara memandangnya. Seperti melihat melalui cermin yang super besar. Bulan penuh yang sempurna. Hogwarts yang berdiri kokoh di hiasi lampu-lampu dari sela jendela dan pintu.

"Dari mana kau tahu tentang itu." Hermione tersadar akan perkataan Draco sebelumnya.

Draco menyeringai. "Aku tau semua tentang mu."

"Bagaimana. Puas dengan malam terakhirmu di sini." Tambahnya.

Tangan Draco lancang menyentuh wajah Hermione. Mengelusnya. Tersetrum oleh lembutnya kulit Hermione. Menggelitik jarinya yang ingin meminta lebih dari sekedar menyentuh. Menyisipkan anak rambut yang berantakan.

"Cantik." Desisnya.

Tak tahan. Draco menempelkan bibirnya ke bibir Hermione. Hermione terkejut namun tak mampu bergerak. Sekali lagi Ia terhipnotis pada Draco Malfoy.

Draco memainkan bibirnya lembut. Meresapi setiap garisbibirnya. Melumatnya dalam. Perlahan. Tak ada penolakan dari Hermione. Namun tak ada balasan pula.

Tangan Draco menarik tubuh Hermione merapat. Menelusuri leher jenjang Hermione dengan jarinya. Menyentuh bagian sensitif di lehernya membuat Hermione bereaksi . tak sengaja Hermione membuka mulutnya. Dengan gesit Draco memasukkan lidahnya ke dalam. Mengabsen gigi rapi Hermione. Mencari-cari lidah nya. Hermione terhanyut dengan godaan Draco. Otak nya bekerja memerintahkan seluruh anggota tubuh membalas perlakuan Draco.

Melakukan yang sama. Hermione membalas ciuman Draco. Nafas memburu. Udara dingin hilang digantikan hasrat yang terbakar mermbara. Draco menekan kepala Hermione. Memudahkannya meng-Explorasi semua yang ingin di jangkaunya. Hermione tak mau kalah. Ia meremas rambut Draco menekan kepala nya. Masuk lebih dalam mengenal sosok Draco yang sesungguhnya. Liar.

Pasokan udara habis. Paru-paru kosong. Tak ingin lepas. Bibir mereka masih tak lepas. Saling berpagutan. Kulit tipis berpagutan dengan kulit tipis. Bibir ranum bersentuhan dengan bibir kokoh. Lidah yang saling bergelung. Menjelajahi. Mencari kepuasan lebih dari lawan masing-masing.

Bibir Draco turun menyusuri leher Hermione. Menghirup udara sebisanya. Tangan Draco bergerak turun. Mengunci pinggang Hermione. Menggendongnya. Dan menciumnya lagi. Terus. Lagi. Semakin dalam. Semakin liar. Semakin tak puas pula hasratnya.

Hermione mengalah. Ia mendorong Draco menjauh. Memberi ruang di antara mereka. Kedua nya terlalu terhanyut. Harus di hentikan jika tidak ingin terjadi hal yang buruk.

Wajah Hermione bersemu merah. Belum pernah ia se-liar ini berciuman dengan seorang pria.

Draco tersenyum. Mendekati Hermione lagi. Mengecup Dahinya. Dan memeluknya erat.

Malam semakinlarut. Semakin terlarut pula keduanya dengan perasaan masing-masing.

ooOOoo

hari ini hari kepulangan Hermione. Setelah berpamitan pada semua penghuni Hogwarts. Mendapat wejangan dari beberapa guru di semua barangnya . Hermione bertegur sapa sekali lagi dengan teman-teman sekilasnya ini. Ia berhasil mencuri cium pipi dari James saat berpamitan tadi.

Mereka berangkat. Menggunakan Portkey dari Albus Dumbledore kepala sekolahnya. Draco di izinkan untuk mengantar Hermione sore ini.

Di bagian belahan dunia lain. Mereka mengantri membeli tiket Subway.

Hanya perlu menaiki Subway. Dengan sekali persinggahan Hermione akan sampai ke apartemen milik nya.

Draco mengiringi setiap pergerakan Hermione. Mereka masuk ke lorong bawah tanah menunggu kereta listrik yang akan mengantar Hermione ke tujuannnya. Dari ke dalaman lorong terlihat cahaya menyilaukan, menandakan kereta akan segera tiba.

Hermione bersiap-siap. Memberi salam perpisahan pada Draco. Satu dua kali pelukan menyelingi kata-kata perpisahan mereka.

Kereta tiba. Berhenti. Mengeluarkan beberapa penumpangnya. Di gantikan masuk beberapa penumpang yang lain.

"Sampai jumpa Draco." Kata terakhir Hermione sebelum ia berjalan menjauhi Draco menuju kereta.

Draco mencegat siku Hermione. Menahannya. Hermione tersentak.

Berbalik. Draco menatapnya intens. Ada kelembutan di matanya.

"I think, I'm in Love with you." Ucap Draco tegas namun lembut.

Hermione diam membisu. Apa ini. Sebuah penyataan!. Sebuah pertanyaan!. Ia sudah terbiasa mendengar perkataan itu dari banyak pria. Namun kali ini terasa berbeda. Telinganya tidak tuli. Draco mengucapkannya dengan lantang dan jelas. Kata-kata itu benar ada nya. Dan apa jawabannya.

Draco mempunyai rasa yang berbeda padanya. Dan sepertinya ia juga memiliki rasa yang sama. Entahlah. Ia masih belum bisa menafsirkannya. Tidak berani mengambil kesimpulan. Apa yang ia rasakan sekarang. Perasaan yang sama dengan pernyataan Draco barusan?.

Rasanya lebih rumit jika Draco yang mengucapkan. Akan lebih mudah jika orang lain yang mengatakan. Akan sangat mudah pula untuk ia menjawab 'Iya atau Tidak'. Tidak ada yang tahu setelah ia menaiki kereta ini apa ia dan Draco masih bisa bertemu lagi. Dunia mereka berbeda. Kehidupan mereka pun berbeda.

Suara operator kereta menggema di telinga Hermione.

"Semua penumpang di harap memasuki kereta. Pintu akan segera di tutup."

Penyataan Draco masih menggantung. Wajah Draco tegang menunggu reaksi diam Hermione.

Dan perasaan mereka pun berbeda.

Hermione berbalik meninggalkan Draco. Melanjutkan langkahnya menapaki lantai dingin lorong bawah tanah. Kereta menunggu di depannya. Selangkah lagi semuanya hanya akan menjadi kenangan. Apakah benar yang di pilihnya saat ini. Ia seperti berada dalam dunia percintaan orang dewasa yang begitu rumit. Bukan untuk ukuran gadis remaja sepertinya.

Bingung.

Resah.

Gelisah

Benar!.

Salah?.

Draco tampak kecewa. Penolakan pertama yang di terimanya. Sungguh di luar perkiraan.

Langkahnya terhenti tepat saat pintu kereta tertutup. Bunyi 'Ding' nyaring menandakan kereta berlalu.

Hermione berlari menghambur memeluk Draco Malfoy. Air matanya tumpah. Draco terkesiap. Tak mampu manahan senyum di wajahnya. Hanya sebentar ia di beri rasa sakit. Dan sekarang kebahagian melimpah mendatanginya.

"I think, I'm in Love with you too." Isak Hermione dalam pelukan Draco.

Draco menciumnya sekali lagi. Melumatnya dalam. Menghisap bibir sepenuhnya. Menjilatnya penuh haru. Di aliri air mata Hermione membuatnya terasa semakin manis. Merasakannya semakin nikmat karna kali ini bibir yang di sentuhnya adalah milikknya. Hanya miliknya.

Tak peduli dengan pandangan iri sekitar. Mereka seperti menghabiskan sisa waktu di dunia ini hanya untuk saling mencium. Saling mendominasi . Saling menikmati.

Oksigen lagi-lagi menjadi pengahalang kegiatan mereka. Bibir merah bengkak. Tergambar jelas di wajah masing-masing. Wajah bersemu merah. Senyum terukir . urat-urat kebahagian timbul di setiap lapis kulit.

Draco menggandeng tangan Hermione. Berjalan mencari kesunyian. Lalu ber-Apparate.

Hermione tak pernah suka cara bepergian Ala kaum dunia sihir. Menyakitkan. Seperti bergulat dalam tempat yang sempit. Di aduk-aduk. Di tarik-tarik. Di sedot sesuatu. Di tekan. Berputar-putar. Selalu pusing dan ingin muntah akhir dari semuanya.

Draco dan hermione berdiri di pekarangan sebuah kastil besar. Namun tak sebesar Hogwarts. campuran antara batu dan kayu hitam yang di tumbuhi sulur-sulur tumbuhan merayapi hampir sebagian dinding depannya. Di kelilingi Tanaman tinggi yang menjadi pagarnya. Air mancur dengan permukaan air yang hitam. Seperti kolam kematian. Banyak terdapat patung-patung dalam mitologi kuno.

Suram. Itu yang ada di pikiran Hermione sekarang.

Misterius. Pikiran berikutnya.

Hermione menatap Draco bertanya.

"Malfoy Manor." Hanya itu yang di ucapkan Draco.

Mereka berdua memasuki gerbang.

ooOOoo


Bagaimana?

penulisannya apa sudah lebih baik dari sebelumnya?

Kayaknya terlalu panjang yaaa?

NB : Kalo mw liat karakternya James McAdam. mungkin kayak Aliando deh.. :D

Please Review lagii...