Author: Xiunini
Title: What is Love?
Cast: Chanyeol, GS!Kyungsoo, Luhan, Kai
Pair: Chanyeol x GS!Kyungsoo, Luhan x GS!Kyungsoo
Genre: Drama & Romance.
Warning: Typos, Garing, EYD kacau, Absurd
.
DON'T LIKE DON'T READ
~Selamat membaca~
Enjoy~
.
.
BRAK
Kyungsoo menutup pintu kamarnya dengan keras. Ia kesal? PASTI! Ia sangat marah pada Chanyeol. Sebelumnya Chanyeol tidak pernah semenyebalkan lebih dari ini dan kemarin-kemarin Kyungsoo masih bisa menahan emosinya, menuruti keinginannya, walaupun ia lelah sekalipun. Tapi kali ini... entah kenapa Kyungsoo merasa dipermainkan. Guyonannya sangat menyebalkan!
"Hiks...hiks.. a-aku i-inih is-istrih... nyaa... akh-akuh bukan pembantunyah! Hikss..." Ucap Kyungsoo dengan tetap mempertahankan tangisnya. Kyungsoo sangat kecewa dengan Chanyeol kali ini. Chanyeol sudah berlebihan. Andai saja ia tidak ingat posisinya dirumah ini, ia pasti akan memukul Chanyeol.
"Di-dia menyebalkan ! Hiks.." Isak Kyungsoo lagi.
Perlahan-lahan ia mengatur napasnya agar stabil lagi dan tidak sesenggukan. Mencoba keras agar tidak menangisi Park yang tidak tau diri itu.
Tangis kyungsoo pun sedikit mereda. Tidak seperti tadi. Ia benar-benar lelah dengan kejadian yang ia alami hari ini.. Kyungsoo pun berbaring dengan air mata yang masih mengalir sedikit. Demi apapun Kyungsoo ingin sekali keluar dari rumah ini dan pergi ke rumah kedua orang tuanya. Ia benar-benar sudah tidak sanggup lagi. Tapi niat itu diurungkan karena Kyungsoo tidak ingin kedua orang tuanya kecewa..
Di sela tangisnya itu, ia teringat wajah Chanyeol saat sedang berpamitan di ibunya. Wajah yang menoleh padanya, yang dihiasi senyum yang tulus milik Chanyeol yang tidak pernah ia lihat. Dan dalam waktu yang bersamaan ia teringat kejadian menyebalkan tadi.
"Dasar! Apa-apaan senyum tulus itu huh?! Mungkin minus mataku memang bertambah, makanya aku salah lihat! Aku benar-benar kesal padamu kuping lebar!" Amuk Kyungsoo pada 'suaminya' itu. Ia frustasi. Ingin sekali ia lemparkan barang-barang di kamarnya tapi ia masih terlalu sayang pada barang tersebut. Ia juga tidak menyadari kalau Chanyeol juga sama frustasinya dengan dirinya saat ini.
Kyungsoo benar-benar lelah. Membuatnya sangat mengantuk sekarang. Hingga matanya tidak bisa diajak berkompromi lagi, akhirnya ia mengalah. Ia tertidur dengan pulas dengan bekas air mata yang masih terpatri di wajahnya.
.
.
Sinar sang surya masuk dengan seenaknya. Menyinari mata wanita cantik nan imut yang sedang tidur pulas di kasurnya. Menggoda Kyungsoo untuk segera bangun dan memulai harinya.
"Eungggg"
Kyungsoo mennggeliat di kasur dan perlahan membuka matanya. Matanya masih terasa berat. Yah, itu karena air mata yang belum di sekanya malam tadi, hingga akhirnya matanya menjadi sembab. Masih kentara sekali bekas air mata di kedua pipinya.
Hal pertama yang ia lihat adalah ponselnya. Ada pesan Line masuk rupanya.
"Eoh? Kai?" Gumamnya bingung. Bahkan ia sempat berpikir siapa itu Kai.
-Kai
'Haiii kyungsoo, apa kabarmu? Lama tak melihatmu hehe.
Langsung saja ya.. Ehmmm begini... aku ingin menyakan novelmu. Novel yang kau janjikan waktu itu. Novelmu sudah hampir mendekati deadline. Kau tau kan... jadi kau harus mengirimkannya ke emailku agar aku bisa mengurusnya ke penerbit dan mencetaknya!
Ah lupa.
Good morning, Kyungsoo sayang :3'
Begitulah isi line yang Kyungsoo buka. Ia sedikit mengernyit ketika membacanya. Kemudian mendelik sampai membuat matanya yang besar semakin terlihat besar. Seketika ia merasakan pening setelah membaca pesan itu. Sedikit mendecih ketika membaca ucapan di akhir pesan. Apa-apaan ucapan 'sayang' itu?
"Huaaaaaa bagaimana ini? Aku belum menyelesaikannya. Bahkan belum sampai setengah cerita. Huaaaaaa. Siapapun tolong aku!" Kyungsok berteriak panik. Tidak peduli jika teriakannya bisa membuat tetangganya marah karena mengganggu pagi yang cerah ini.
"Lalu aku harus bagaimana?" Ucapnya lesu dengan menutup wajahnya. Air matanya hampir keluar lagi. Kemudian ia mengetikkan sesuatu di ponselnya. Membalas pesan Kai.
'Hei, Kai... ehmmm kabarku baik hehe. Bagaimana kabarmu? Hmmm, maafkan aku ya. Aku sudah hampir menyelesaikannya. Tapi belum menyelesaikan nya sampai tuntas. Aku kehilangan ide kemarin jadi aku mencari referensi untuk novelnya. Makanya aku telat menyelasaikannya. Maafkan akuuuu... Kau bisa menolongku? Tolong beri aku waktu sedikit lebih panjang.. Aku janji akan menyelesaikannya sesuai jadwal!'
SEND.
"Huaaaa bagaimana ini? Laptop! Ah iya dimana ya aku meletakkannya kemarin?"
Kyungsoo pun memulai acara mengobrak-abrik kamarnya. "Ah iya catatan ku! Di meja depan!" Kata Kyungsoo setelah ia menemukan laptopnya.
KRACK (suara pintu)
Hening
"Eoh? Tak ada orang? Apa kuping lebar itu sudah pergi? HUH UNTUK APA MEMIKIRKANNYA? TIDAK ADA GUNANYA. YANG PENTING SEKARANG DIMANA CATATANKU?!" Teriak kyungsoo memecahkan keheningan disana.
Kyungsoo mencari catatan miliknya yang akan ia salin nanti di laptop dan secara tidak sengaja ia melihat kertas kecil di atas meja makan. Mungkin hanya nota belanjaan kemarin yang lupa ia buang. Ia pun melanjutkan mencari lagi. Namun, ia kembali ke meja makan karena merasa aneh. Ia mengambilnya perlahan. Oh! Ternyata sebuah pesan! Ia membaca setiap kata dengan cermat.
'To: Kyungsoo
Aku sudah berangkat dan maaf untuk kemarin malam. Aku ada urusan mendadak di kantor. Maaf aku tidak membangunkanmu.
Chanyeol'
DEG
Kyungsoo tak salah lihat kan? Di pesan itu Chanyeol meminta maaf! Iya MINTA MAAF! Suatu keajaiban.
"Ada apa dengannya?" Tanya Kyungsoo entah pada siapa.
Setelah itu ia tersenyum entah karena apa. Entahlah.. Ia merasa senang dan moodnya bagus sekali dan ia menjadi semangat untuk melanjutkan novelnya yang hampir deadline itu...
"Oh iya novelnya! Aah aku harus cepat"
BRAK
Yah itu tadi bantingan pintu kamar Kyungsoo.
Chanyeol dengan tergesa-gesa melewati ruangan-ruangan di kantornya yang masih kosong, bahkan masih belum banyak orang disana. Karyawannya pun bingung melihat kehadiran atasannya di kantor sepagi ini. Mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Chanyeol langsung meminta sekretaris yang syukurnya sudah datang mengganti kertas yang semalam kena tragedi. Cukup sulit. Sekretarisnya hanya geleng-geleng kepala. Ingin bertanya tapi ia melihat wajah atasannya yang kusut sekali. Badmood sekali. Jadi ia tidak jadi bertanya. Mengerjakan titah Chanyeol dengan hati-hati.
Chanyeol mendengus kasar. Jantungnya masih berdetak cepat karena takut kertas semalam tidak ada gantinya, dan ternyata sekretarisnya yang pintar itu sudah menyalin semuanya. Beruntungnya ia.
Kemudian pikirannya kembali ke rumah. Dirinya yang menuliskan sebuah pesan untuk Kyungsoo. Pesan yang mengatakan kalau ia harus ke kantor pagi-pagi. Seketika tubuhnya kaku. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Ia malu. Kenapa ia bisa bersikap seperti ini didepan Kyungsoo? Kemana sikap kerasnya selama ini? Apa gara-gara Kyungsoo sifat kerasnya perlahan-lahan hilang?
=Chanyeol POV=
Ck, menyusahkan. Lagipula untuk apa aku meninggalkan pesan untuk dirinya? Ia tidak akan peduli kalau aku keluar kemanapun. Ia tidak mencintaiku. Aku pun tidak. Lalu untuk apa aku peduli?
"Cih," decihku sambil mengusap kasar wajahku. Ini masih pagi dan moodku benar-benar buruk sekali. Perasaanku terombang ambing. Aku masih yakin, aku masih mencintai Baekhyun, mantanku yang aku putuskan sebelum pernikahan. Aku mencintainya lebih dari apapun dan berpikir kalau ia jodohku. Ya itu yang aku pikirkan. Maksudku, yang berusaha aku pikirkan. Karena sungguh aku meragukan perasaanku sendiri.
Ngomong-ngomong tentang Baekhyun...
Sepertinya aku pernah menghilangkan sesuatu tentangnya..
Apa ya?
Oh iya cincin!
=Chanyeol POV END=
"Astaga, bagaimana aku bisa lupa tentang cincin pemberiannya," gumam Chanyeol pelan. Ia masih bingung dimana meletakkannya. Atau lebih baik ia bertanya pada Kyungsoo saja? Tapi kalau Kyungsoo memukan cincin pasti ia akan memberitahunya. Tidak mungkin ia langsung membuangnya. Atau mungkin Kyungsoo memang membuangnya, tapi karena apa? Jangan-jangan ia tau kalau itu adalah pemberian Baekhyun dan ia cemburu karenanya.
"Tidak, itu tidak mungkin," kata Chanyeol sambil memijit dahinya pelan. Baru pukul setengah 7 dan ia sudah pusing seperti ini. Hhhh.
Tapi kau bilang sendiri kalau Kyungsoo sudah mencintaimu!
Ucap dirinya yang lain. Chanyeol menenggelamkan wajahnya diantara kedua tangannya. Menghela nafas berkali-kali. Pikirannya sangatlah rumit. Apa ia tidur saja, ya?
Chanyeol pun memutuskan untuk tidur. Biasanya ia tiba di kantor pukul 9. Tapi saat ini saja belum pukul 7 dan ia masih sangat mengantuk. Belum sempat ia memejamkan mata, sekretaris yang menangani surat perjanjian tadi masuk ke ruangannya. Ia menggeram kesal.
"Maaf, Pak. Ini surat salinan yang sudah saya cetak lagi, tolong segera ditandatangani," kata sekretarisnya sopan, tidak mempedulikan wajah Chanyeol yang seakan-akan ingin memakannya hidup-hidup.
Setelah menandatangani, Chanyeol berkata, "Aku akan tidur. Bangunkan aku tepat pukul 9. Bilang pada Yoojung jangan menggangguku. Aku tidak mau tiba-tiba dia masuk."
Sekretarisnya mengangguk paham. Ia pamit untuk keluar. Sedang Chanyeol sudah bersiap di sofa panjang yang ada di ruangannya untuk tidur. Melonggarkan dasi dan melepas dua kancing teratas. Sebelum dia terbang ke alam mimpi, ada bayangan gadis yang selalu muncul dipikirannya akhir-akhir ini. Gadis itu Kyungsoo. Chanyeol mendecih kesal dengan keadaan mata tertutup dan akhirnya memaksakan dirinya untuk tertidur.
Kyungsoo masih tidak bergerak dari meja tempat ia duduk mengerjakan novelnya. Matanya masih lekat pada layar laptop, tangannya masih serius mengetik apa yang sekarang ada di pikirannya dan otaknya berpikir keras untuk memunculkan ide-ide yang bagus untuk novel yang akan deadline ini.
Aku harus cepat
Kyungsoo membatin.
Tak berapa lama, ia teringat sesuatu. Teringat akan pesan chanyeol yang ada di atas meja makan tadi.. Entah kenapa sekarang Kyungsoo merasakan pipi nya memanas. Saat ia melihat ke cermin yang tak jauh dari meja dimana ia sekarang berada, ia benar-benar terkejut karena dia baru saja blushing yang di sebab kan oleh CHANYEOL! Ia sebelumnya tak pernah blushing seperti ini. Ya mungkin pernah ketika Luhan selalu memperlakukannya seperti seorang putri. Seketika Kyungsoo ingat 2 pria yang sekarang sedang berada di dalam hidupnya.
"Aaahh, aku ini kenapaaaa?" Teriak Kyungsoo frustasi.
"Apa ini? Aku blushing? Dan..dan-" Ia mendengus "Ah sudahlah.. Mungkin aku capek dan badanku mulai demam sampai blushingnya begitu terlihat..." ucap Kyungsoo sambil memijit pelan pelipisnya.
"Merah," ujarnya melanjutkan kata-katanya barusan dengan matanya masih menghadap cermin.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa" Kyungsoo berteriak frustasi. Mungkin saja tentangga di sebelah rumahnya akan marah atau apa karena teriakan nya tadi, karena sekarang dia benar-benar frustasi. Ia hanya ingin teriak sekencang-kencang nya saja.. Perasaan nya bercampur aduk sekarang.
"Aku harus fokus! Kyungsoo kau harus fokus!" Ucap kyungsoo pada dirinya sendiri. Menyemangati dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk pipinya cukup keras.
Setelah mengatakan hal itu, entah kenapa dirinya merasa jauh lebih baik dan mendapatkan ide-ide cemerlang untuk novel nya.
Malam pun tiba. Kyungsoo masih berkutat dengan serius nya di depan laptop nya. Jika ada yang bertanya Kyungsoo sudah mandi atau belum jawaban nya sudah. Ia tidak tahan jika tidak mandi. Yah kyungsoo adalah seorang wanita yang FREAK CLEAN.
Kyungsoo benar-benar capek sekarang. Tapi ia masih memaksa dirinya, karena hanya beberapa kalimat lagi novelnya akan selesai.
"T.. H.. E END," katanya mengeja kata yang akan menjadi akhir novelnya.
"Hahhh.. akhirnya novel ku jadi juga. Senangnya," ucap Kyungsoo sambil meloncat-loncat girang.
"Eoh! Aku harus cepat memberitahukan ini pada Kai," Kyungsoo pun langsung mengambil ponselnya yang ada di atas nakasnya. Ia mengetikkan sesuatu di ponselnya.
'Annyeong, Kai.
Oh iya. Novelnya sudah aku selesaikan. Kau tau? Aku sangat senang karena bisa menyelesaikannya. Ternyata aku tak perlu banyak waktu lama untuk menyelesaikannya karena memang novel itu hampir selesai. Aku tidak terlambat kan? Terimakasih sebelumnya karena kau telah menberikan aku tambahan waktu. Maafkan aku kalau ada kata-kata yang salah disana, karena jujur aku cukup terburu-buru tadi. Tapi aku mengerjakannya dengan sungguh-sungguh kok! Menulisnya sesuai dengan ide yang dari awal sudah kukatakan padamu. Aku akan mengirimkannya ke emailmu.. Terimakasih Kai-ah. Aku menyayangimu!
P.s: aku akan mentraktirmu apabila novel ini laku keras!'
SEND
Kyungsoo tersenyum membaca ulang pesannya pada Kai. Ia begitu berterimakasih memiliki seorang teman-atau mungkin sahabat?-seperti Kai. Kai selalu membantunya apabila ia kesusahan. Yah walaupun belum sedekat Luhan. Aish, Luhan lagi!
Kyungsoo pun mengirimkan file novelnya ke email Kai. Setelah selesai semua, ia merasakan perutnya yang sakit. Cacing-cacing di dalam perut kyungsoo sudah demo. Jika diingat-ingat ia tidak makan seharian ini.
"Aku lapar..." ucap kyungsoo lesu sambil mengerucutkan bibirnya imut sambil memegangi perutnya. Ia berencana untuk keluar membeli beberapa bahan dan membuat makanan. Sebelum keluar, dilihatnya jam di dinding sudah menunjukkan pukul 22.00.
"Mwooo? Semalam itukah?" Kaget Kyungsoo yang membuat matanya yang bulat tambah bulat. Ia mengerang tertahan. Asam dalam perutnya membuatnya merasakan perih.
"Aahh aku lapar.." ucapnya lesu. "Aku ingin makan!" Jeritnya tertahan. Ia terus berteriak kelaparan sambil berjalan ke pintu. Ia tidak peduli dengan hari yang sudah malam dan aturan kalau wanita tidak boleh ada diluar ketika larut malam seperti ini. Ia hanya peduli pada perutnya.
"Aku lap-"
CEKLEK
Saat ia di ambang pintu, ia melihat Chanyeol yang sudah pulang dari kantornya. Penampilan Chanyeol berantakan. Rambutnya yang acak-acakan, dasi yang di longgarkan, kancing teratas kemeja hitam nya ia buka dan membuatnya sedikit..ya begitulah, yang sontak membuat Kyungsoklo membelalakkan matanya. Meneguk ludahnya perlahan.
Astaga! Apa yang aku pikirkan!
Batin Kyungsoo.
Kyungsoo bersikeras untuk menghiraukannya dan langsung pergi ke dapur untuk membuat makanan. Perut nya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Ia mengeluarkan makanan seadanya yang ada di kulkas dan membuat apa saja yang penting perutnya terisi.
.
.
.
Perlahan ia membuka pintu mobilnya setelah sebelumnya memarkirkan mobilnya dalam garasi. Sesampainya di depan rumah, ia mengernyit heran. Rumahnya sepi dan senyap. Tidak hanya rumahnya saja, jalanan di depan pun sepi sekali, hanya ada beberapa kendaraan yang lalu lalang. Kemudian ia mengecek jam tangannya dan matanya melotot lucu. Pantas saja sepi, ini sudah pukul 10 malam.
Kemana burung hantu itu? Mungkin sudah tertidur? Ah terserahlah. Aku lelah, aku ingin tidur.
Batin Chanyeol dengan ekspresi lelah yang kentara sekali di wajahnya. Saat Chanyeol ingin membuka kaus kakinya, tiba-tiba..
CEKLEK
Yang dicarinya datang. Ia dan Kyungsoo saling tatap. Cukup lama. Chanyeol melihatnya memakai tshirt putih yang sangat pas di tubuhnya yang ramping, rambut yang dikuncir kuda membuat leher putihnya terekspos dan ia memaikai celana panjang seperti celana piama dan itu membuat nya sedikit hmmm-
Ada apa dengan pikiranku!
Batin Chanyeol. Ia menatap Kyungsoo intens. Tapi ia mencoba untuk biasa saja, sampai akhirnya Kyungsoo melenggang pergi ke dalam rumah dan acara tatap-tatapan itu harus terhenti.
"Istri macam apa dia? Tidak menyapa suaminya yang baru pulang dari kantor. Setidaknya dia tersenyum atau bagaimana gitu!" Gerutu Chanyeol dan ia pun berjalan masuk ke dalam kamarnya. Entah kenapa ia sangat gerah saat acara tatap-tatapan tadi.
Selesai Chanyeol membersihkan diri. Entah ia mendapat hidayah dari mana atau mungkin tidak sadar, baju yang sekarang dipakainya sama dengan yang dipakai Kyungsoo. Hanya saja celana piamanya berbeda. Kyungsoo memakai celana piama warna pink dengan garis-garis putih, sedangkan Chanyeol memakai celana piama warna biru dengan gari-garis putih. Ia keluar dari kamarnya dengan handuk masih tergantung dengan manis di lehernya, rambutnya masih belum kering sempurna, ia menuju dapur dimana Kyungsoo berada. Ia duduk tepat dihadapan Kyungsoo.
"Hei, burung hantu, buatkan aku kopi," titah Chanyeol pada Kyungsoo yang sedang menyantap makanan ala kadarnya. Yang ditatap malah mendelik mendengar kata-kata 'burung hantu'. Ia mendengus kasar, meletakkan sendok di piringnya dengan sedikit keras, menciptakan dentingan khas. Chanyeol yakin Kyungsoo kesal dengan sebutan itu dan juga suruhannya.
Tak menunggu lama, Kyungsoo membuatkan Chanyeol kopi. Setelah selesai, Kyungsoo memberikan kopinya pada Chanyeol. Kemudian Chanyeol melihat Kyungsoo duduk dan memulai acara makannya yang sempat tertunda tadi. Tidak mempedulikan tatapan Chanyeol.
"Hei, Soo! Apa saat kau bersih-bersih rumah pernah menemukan cincin?" Tanya Chanyeol dengan ekspresi menyelidik sambil menyesap kopinya.
"Cincin yang bagimana?" Tanya Kyungsoo tenang. Tetap memakan makanannya dengan nikmat.
"Cincin yang berwarna perak. Disana ada inisial CY," jawab Chanyeol sambil mendeskripsikan cincin itu.
Kyungsoo berpikir sambil meletakkan telunjuknya pada bibirnya.
=Chanyeol POV=
Dia sangat imut saat seperti itu.
Tunggu..
APA?! AKU BARUSAN BILANG APA?
Perasaanku campur aduk. Aku galau dengan perasaanku sendiri.
"Ah cincin itu ya. Aku sempat menemukannya, tapi..." katanya berusaha mengingat-ingat dan kemudian matanya terbelalak menatapku takut.
"Aku tidak tahu dimana cincin itu sekarang. Kalau tidak salah tak sengaja tersapu dan sampahnya sudah.. aku buang..." cicitnya dengan menundukkan kepala.
"APA? KAU MEMBUANGNYA? KAU TAHU? ITU SANGAT BERHARGA UNTUKKU! KAU TIDAK SEHARUSNYA MEMBUANG BARANG ORANG LAIN!" Bentakku padanya. Aku kaget mendengar ucapanku sendiri. Menyadari kalau intonasiku sangat tinggi. Tidak seharusnya aku berteriak pada seorang wanita walaupun sikapku memang kasar. Sial! Aku terlalu kaget.
"YAK! JANGAN MEMBENTAKKU! SALAH KAU SENDIRI KENAPA KAU MENARUHNYA SEMBARANGAN, LAGI PULA AKU TIDAK SENGAJA MENYAPUNYA! JADI ITU BUKAN SALAHKU!" Bentak Kyungsoo pula. Ia membanting sendoknya dengan kasar.
"HEI! APA KAU TIDAK TAU? ITU CINCIN PEMBERIAN BAEKHYUN UNTUKKU! BAEKHYUN YANG MASIH AKU CINTAI!" Bentakku sekali lagi padanya. Aku melihatnya takut padaku. Ia menunduk dan aku berani bersumpah dia... Menangis.
Iya, ia menangis di depanku tanpa bergerak atau pun isakan yang lolos. Ia benar-benar diam dengan air matanya yang mengalir deras.
Aku benar-benar merasa bersalah kali ini. Kenapa aku harus emosi seperti ini? Yatuhan, itu hanya cincin, Chanyeol! Aku bilang itu berharga? Oh! Apa aku masih merasakan cinta untuknya? Untuk Baekhyun? Aku saja tidak yakin pada hal itu! Ck!
"Maaf," ujarnya lirih, suaranya kecil, tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Aku mendongakkan kepalaku menatapnya yang menunduk menahan tangis. Tapi bagaimanapun ia mencoba menahannya, air mata terus mengalir. Aku merasa nyeri di dadaku. Kyungsoo pun langsung berlari ke kemarnya dan menutup pintu itu dengan keras.
"Aarrrrrggghh," teriakku tertahan ketika sadar kalau ini sudah sangat larut. Aku masuk ke dalam kamarku. Merebahkan diriku di kasur setelah selesai mencuci muka. Aku mendesah lelah. Rasa menyesal dan bersalah masih saja melingkupi diriku ini. Rasanya aku ingin menangis saja.. Tapi itu pun tidak akan mengubah apapun.
Lagipula, bagaimana bisa aku membentaknya dan memberinya kata-kata kasar. Kyungsoo benar-benar marah dan ucapan 'maaf' nya tadi, membuatku sangat-sangat bersalah.
Apa yang harus kulakukan?
TBC
Author's Note: Halo! Maaf ya updatenya lama. Kita sibuk banget belakangan ini karena pada mau ujian. Dan mungkin untuk chapter-chapter selanjutnya gak bisa fast update. Tapi diusahakan tetap update kok! Oh iya, makasih buat yang udah mau review, fave, & follow. Dan juga makasih buat siapapun yang mau baca cerita absurd ini:3 Maaf, kalau banyak artian yang salah atau yang seharusnya begini malah kami buat begitu.. Oh iya, cerita ini murni dari imajinasi kami yang sangat drama sekali hahaha(?)
Mind to review?
Love,
Xiunini
