- Previous Chapter
Kagura jadi teringat hari pertamanya di Kabuki Koukou. Ketika jam istirahat makan siang, ia sedang merapikan rambutnya di toilet, tiba-tiba seorang siswa menghampirinya dan menamparnya. Tapi ketika Kagura hendak menanyakan apa maksudnya, siswa itu buru-buru pergi setelah meninggalkan segaris pandangan kebencian.
Dua hari kemudian, Kagura mengumpulkan angket ekstrakurikuler ke ruang guru. Ketika keluar dari ruang guru, siswa yang sama menarik tangannya, membawanya pergi ke kebun sekolah, lalu mendorongnya hingga jatuh tersungkur di tanah becek. Seragamnya basah dan berlumpur, membuat Tae—yang saat itu sudah menjadi teman baiknya, bertanya-tanya. Kagura berdalih dengan alasan ia tersesat ketika berusaha mencari gerbang depan, dan terpeleset di kebun.
Kekerasan ketiga yang dialami Kagura adalah ketika ia dipukuli hingga mukanya biru, oleh… Sougo?
Kagura sangat yakin Pangeran Sadis dari Alam Sadis itu yang melakukannya, tapi, penjelasan Soyo-sensei barusan membuatnya berfikir ulang. "Tentu saja orang sadis bisa melakukan tindakan sadis apapun selama mereka senang, tapi Okita-kun, ah, ini menyebalkan."
.
.
.
Sore harinya, bel pulang berbunyi. Kagura seharian tergolek lemah di ruang kesehatan. Mendengarkan cerita-cerita seru dari Soyo-sensei. Petugas UKS yang masih muda itu benar-benar tahu bagaimana cara menyenangkan hatinya. Ia juga sangat cantik. Kagura sempat dengar desas-desus kalau ia sebenarnya anak orang elite di Kabuki, tapi karena tidak suka hidup ningrat, dia memilih kehidupan seperti wanita non-ningrat lainnya.
Matahari merona di langit Barat. Walet-walet bermanuver dengan riang di latar rubi angkasa. Wisteria yang sebelumnya ungu dan putih berubah berpendar kemerahan. Senja yang sempurna. Sebagian sinar matahari berebut menghangatkan koridor Kabuki Koukou, kadang muncul, kadang hilang, beradu dengan awan sore, ketika seseorang berkepala berwarna vermillion berjalan di koridor menuju ruang kesehatan dengan penuh wibawa.
Sougo sedang memainkan handphone-nya, ia keluar dari kelas 2-7 dan menutup pintu. Pelajaran hari ini benar-benar melelahkan, batinnya. Baru keluar dari kelas, kedua matanya menangkap sesosok barusan.
"Orang itu?" Sougo terkesiap. Tiba-tiba iris merahnya seakan dibakar. Ia meremas jemari tangannya, muak sekali. "Si Sialan Kamui itu, menjemput adiknya ya" desis Sougo.
.
"Aniki?" Kagura menutup ritsleting tas sekolahnya. Ia sedang bersiap untuk pulang. Soyo-sensei mewanti-wantinya untuk tidak memaksakan diri, beliau juga kaget melihat Kamui datang.
"Tae mengirimiku pesan untuk menjemputmu di ruang kesehatan, katanya kau pingsan" jawab Kamui. Ia buru-buru membungkukkan badan pada Soyo-sensei. "Terima kasih Sensei, kami permisi "
Kagura ikut membungkukkan badan dan keluar dari ruang kesehatan dengan kakaknya. "Aku bukan anak kecil yang harus dijemput ketika pulang sekolah," gerutu Kagura dalam hati. Sebenarnya bukan apa-apa sih, tapi, rasanya, aneh sekali.
"M-m-memangnya Anego kemana?"
"Anego?" Kamui mengerutkan kening.
"Oh, maksudku Tae-chan, aku memanggilnya begitu karena dia memang boss lady" jawaban Kagura ini membuat kakaknya terkikik. Ini justru membuatnya semakin berfikir bahwa Kagura masih kekanak-kanakkan dan perlu dilindungi.
"Tae sedang ada rapat di klubnya"
Kagura mendesah, padahal ia ingin sekali menanyakan sesuatu tentang Sougo kepada Tae. Ia ingin memastikan apakah memang Sougo yang memukulinya, atau bukan, dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait si Sadis.
.
Tae baru selesai rapat jam enam lewat dua puluh menit. Setelah berpamitan dengan teman-temannya, ia menuju stasiun. Sembari menunggu kereta ia membuka room-chat teman sekelasnya.
MayoHijikata : Oi, Taka, PR Fisika mana?
Kyubey : Wah panggilnya pakai nama khusus (?)
Takasugi Shinsuke : Berisik, dia begitu kalau ada maunya
TamaTama : Aku mencium aroma kesukaan fangirl di sini
MayoHijikata : Bukankah kalian juga mau menyalin jawaban Takasugi?
Tae tertawa pelan membaca obrolan teman-temannya.
Kyubey : Kalau membicarakan fangirl aku jadi ingat si Sadis
ImaiNobunobu : Kyaa~~
Kyubey : Nah kan baru saja aku menyebut sebutannya
Takasugi Shinsuke : Nobume kau sudah gila
ImaiNobunobu : Kenapa sih kau tidak suka kalau aku menjadi fans Okita-kun?
MayoHijikata : TAKASUGI PR FISIKA
Takasugi Shinsuke : Karena itu menjijikkan. Diam kau Mayo!
ImaiNobunobu : Apa yang menjijikkan?
ImaiNobunobu mengirimkan gambar.
Kyubey : Baka! Kenapa kamu mengunggah foto si Sadis di room-chat kelas kita?! Aku akan menghapusnya!
ImaiNobunobu : Kyuu-chan kamu tsundere sekali~
MayoHijikata : Mataku perih melihat muka Okita
ZurajanaiKatsurada! : Mataku perih melihat muka Okita (2)
Kyubey : Wah wah Zura tumben sekali ikut komentar
ZurajanaiKatsurada! : Katsura, bodoh
Takasugi Shinsuke : Mataku perih melihat muka Okita (9999...9)
TamaTama : Wajahnya seakan mau bilang, "giliran siapa untuk kubunuh"
ImaiNobunobu : Tama! Dia memang sadis tapi tidak membunuh, tahu
Tae meng-scroll layar handphone-nya. Terhenti pada foto Sougo dan mengamatinya lama, lalu melamun. Lamunan Tae buyar ketika kereta yang ditunggunya datang. Ia masuk ke dalam kereta, mencari tempat duduk kosong dan kembali mengamati foto Sougo.
"Kenapa aku tergerak untuk mengamati foto si Sadis sih," Tae bergumam gusar. "Aku melihatnya setiap di sekolah, matanya merah, dia nggak begitu tinggi kalau dibandingkan dengan Hijikata atau Takasugi, rambutnya coklat, memangnya kenapa"
"Rambutnya, cokelat?" Tae tersentak di bangkunya. "Kagura? Apakah Okita-kun yang memukul Kagura, tapi, kenapa? Mereka tidak saling kenal sebelumnya, apa sadisnya terlalu berlebihan sampai memukuli anak baru? Apa Okita-kun punya trauma dengan murid pindahan?"
Sepanjang perjalanan pikiran Tae bergumul membuatnya gelisah. Aku harus membicarakan ini dengan Kagura, pikirnya mantap.
.
"Halo, Kagura? Kamu sudah pulang dengan kakakmu kan? Kamu baik-baik saja kan? Apa kamu pingsan lagi di jalan? Kamu sudah makan?"
"Anego bicara satu-satu dong"
"Habisnya aku khawatir sekali"
"Kan kamu sudah menghubungi kakakku dan dia sudah menjemputku ke sekolah, kenapa masih cemas?"
"Ah, ya baiklah" Tae merebahkan tubuh di atas kasur. Ia baru selesai mandi dan teringat Kagura.
Bintang-bintang berhamburan, agak tidak jelas lantaran kalah dengan cahaya lampu jalan dan gedung-gedung. Kagura duduk di meja belajarnya yang berhadapan dengan jendela. Tangannya masih enggan menutup tirainya, ia ingin menatap langit malam sebentar sebelum tidur.
"Anego, kau tahu,"
"Akhirnya dia cerita!" Tae bersorak. Ia mengangguk mantap meskipun Kagura tidak di hadapannya.
"Hari ini Aniki mengajakku berkeliling Kabuki Machi, yah, tidak jauh sih, ia menunjukkanku beberapa tempat menyenangkan, toko-toko makanan, beberapa taman, dan perpustakaan kota"
Tae beringsut di balik bantal. Yah, sebenarnya dia tidak menunggu cerita ini.
"Padahal Aniki sangat sibuk, dia banyak tugas di kampusnya, sebentar lagi dia lulus dari universitas"
"Ah, ya, baguslah Kagura, kamu harus bisa cepat menyesuaikan dengan kota ini, kalau hari libur, aku bisa mengajakmu ke tempat-tempat itu, bagaimana?" Tae mulai masuk ke topik yang dibicarakan Kagura.
"Tapi seharian ini aku kepikiran terus," Kagura diam sejenak. "aku ingin bertanya sesuatu"
Tae mulai berdebar. Sepertinya ini yang ia tunggu.
"Ya?"
"Apakah Okita Sougo tidak pernah menyakiti seseorang dengan parah?"
"Kagura, baru saja aku akan menanyakan ini" Tae berdehem. "Kagura, kamu dipukuli Okita-kun, kan?"
Suara Tae tercekat. Rasanya mengerikan sekali ketika temanmu disakiti orang lain.
"Ya—" suara Kagura menggantung. Mata Tae terbelalak. "kurasa, tapi, aku ragu, karena ia seakan benar-benar belum pernah bertemu denganku di kereta tadi pagi, aku berfikir apakah ia pura-pura lupa, tapi wajahnya tulus sekali, aku tidak mengerti"
"Apa, maksudmu, Kagura?"
"Di hari pertama aku masuk sekolah, ia menamparku di toilet, saat jam makan siang. Dua hari kemudian ia mendorongku di kebun sekolah, kau ingat? Saat seragamku penuh lumpur, dan kejadian yang ketiga, yang baru saja terjadi, ia memukuliku sampai mukaku biru. Aku tidak tahu siapa dia, aku belum pernah bertemu Okita-kun, sama sekali. Anego, saat di kereta, dia menyapaku seakan hari sebelumnya ia tidak melakukan apapun, aku yakin dia orang yang sama dengan yang memukuliku, tapi, kenapa dia bisa berakting sejenius itu?"
Tae tidak menyangka kalau masalah akan jadi serumit ini.
"Aku bertanya pada Soyo-sensei tentang Okita-kun, aku jadi berfikir keras setelah Sensei berkata 'meskipun dia sadis, tapi kalau seseorang tidak melakukan apa-apa padanya, mana mungkin ia begitu', Anego, aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya, bagaimana bisa aku melakukan sesuatu yang menyakitinya? Saat ia memukuliku, ia berkata bahwa tindakannya itu ia lakukan karena aku menyakitinya"
Tae terdiam. Ia tidak berani menyela isakan tangis Kagura. Anak ini tampak biasa-biasa saja di luar, ia selalu bersemangat dan bahagia semenyebalkan apapun situasinya dan dirinya (baca : Tae), tapi kasus satu ini benar-benar mengganggu.
Kagura masih di meja belajarnya. Bintang-bintang seakan mengintip, ikut sedih, entah itu benar atau hanya khayalan Kagura yang merasa kesepian.
"Aku baru pindah rumah, Anego… sebelumnya aku bersekolah di asrama putri karena keinginanku sendiri, kau tahu kan. Tapi karena Papi dan Mami ingin aku menemani mereka—karena sebentar lagi kakakku lulus dan sibuk bekerja, jadi aku pindah ke Kabuki Machi—ke kota ini"
"Kagura…"
"Aku senang sekali Anego, karena aku tidak bisa bertemu Papi, Mami, dan Aniki setiap hari ketika di asrama. Aku bersemangat menyiapkan hari pertamaku di Kabuki Koukou…"
"Kagura, aku akan membantumu, sesuatu yang aneh mungkin terjadi," Tae menghela nafas, berat mengatakannya. "aku punya dua pilihan jawaban, pertama, Okita Sougo memang punya penyakit jiwa akut (baca : sadis), kedua… mungkin kamu pernah bertemu Okita-kun sebelumnya, tanpa kamu sadari…"
Pembicaraan malam itu berakhir ketika Kagura menutup telfon—Mami masuk ke kamarnya, menyuruhnya tidur. Kagura mengiyakan dengan senyum tipis. Ia pergi tidur sambil menutup mukanya dengan selimut. Ia takut. Asumsi Tae yang kedua membayang-bayanginya.
Mungkin kamu pernah bertemu Okita-kun sebelumnya, tanpa kamu sadari…
.
"Jaga diri baik-baik, Sou-chan... jangan...merepotkan Gintoki-san dan istrinya, aku senang bisa merawatmu sampai kau sebesar ini, terima kasih... Sou-chan" seorang wanita muda mengelus kepala Sougo.
"Aneue, jangan banyak bicara, nafasmu berat sekali" air mata Sougo sudah tumpah kemana-mana. Mukanya merah dan sembab.
"Jangan menangis Sou-chan, kau bukan anak kecil lagi, berhenti marah karena hal kecil, bertemanlah sebaik-baiknya, jadilah orang yang pemaaf, jadilah anak baik, Sou-chan…" tangan yang sebelumnya mengelus kepalanya berhenti bergerak, terkulai ke sisi ranjang. Sougo berdiri sambil gemetar, lantas mengguncang tubuh kakaknya.
"Aneue, Aneue?" yang ia panggil tidak memberikan jawaban. Sougo bertekuk lutut di samping tempat kakaknya berbaring dan menunduk. Giginya bergemeletuk, ia tidak kuasa menahan tangisnya. Sougo membisu, dokter dan seorang perawat berlari menghampirinya, mereka akan melakukan pengecekan rutin berkala seperti biasanya, terlambat, tidak perlu dicek lagi, ia sudah pergi.
Dokter dan perawat itu menatap Sougo dengan kasihan, menepuk bahu Sougo, lalu memanggil perawat lain yang bertugas mengurus tubuh kakaknya yang terbujur kaku, diam, tapi ia tampak bahagia.
"Souichiro?" seorang pria berambut spiky berhambur masuk ke dalam kamar rumah sakit.
"Aneue… meninggal… Gintoki-danna, Tsukuyo-san, dan uh—namaku Sougo!" Sougo mendelik. Di saat seperti ini bisa-bisanya orangtua angkatnya bergurau. Dasar bodoh.
"Tidak…" Tsukuyo menutup mulutnya dan ikut menangis.
Gintoki memegang pundak Sougo. Berusaha menguatkannya.
"Sou—ah, Sougo, kau ini laki-laki, kebanggaan kakakmu, jangan menangis, ia akan sedih"
"Izinkan aku menangis, untuk orang yang pantas kutangisi… Danna,"
.
Sougo belum tidur, mengingat-ingat hari kematian kakaknya. Ia baru pulang sekolah, dengan semangat menjenguk kakaknya, membawakan kue kesukaannya, ia berharap kondisi kakaknya semakin membaik selama ia pergi ke sekolah, tapi ternyata Okita Mitsuba malah sekarat dengan menyedihkan, bahkan menjemput ajal tepat di depan matanya.
"…jadilah orang yang pemaaf, jadilah anak baik, Sou-chan…"
"Bagaimana aku bisa memaafkan orang yang menyakitimu, Aneue" Sougo meringkuk di tempat tidurnya.
Tok tok tok
Pintu kamarnya diketuk. Sougo bangun.
"Handphone mu tertinggal di meja makan, Sougo" Tsukuyo, ibu angkatnya, menyerahkan handphonenya. "seseorang menelfonmu"
"Ah, ya, terima kasih Tsukuyo-san" Sougo mengangguk, melirik layar HP nya, nomor saja? Siapa yang menelfon? "Halo"
"Halo? Ya? Benar dengan Okita Sougo?" suara di seberang telefon meninggi.
"Ada apa Shimura?"
"Besok hari minggu kan? Uh, ya, apakah kita bisa bertemu? Aku ingin membicarakan sesuatu"
"Tidak biasanya. Tentang apa?"
"Kagura, ya, Kagura"
"Apa, ada apa dengan gadis China itu?"
"Aku... ah, tidak, kami ingin berterima kasih untuk bantuanmu kepada Kagura"
"Tidak terima kasih. Aku tidak suka melihat wajahnya. Jangan telfon aku kalau tidak penting"
Sougo menutup telfon. Suasana hatinya sedang tidak baik.
Di rumahnya, Tae benar-benar tidak mengerti. Sougo baik-baik saja tuh di sekolah, kok di telfon sadisnya kambuh begini. Kalau memang tidak suka kenapa malah menolong Kagura? Sesuatu yang dibenci si Sadis adalah sesuatu yang mengganggunya. Ini menimbulkan tanda tanya besar bagi Tae. Bagaimana bisa Kagura menimbulkan gangguan pada Pangeran Sadis dari Alam Sadis Dewa Kematian terkutuk itu?!
"Kono yaro! Uh dasar Sadis!" Tae merutuki nomor kontak Sougo yang belum dia tutup dari HP nya.
Di tempat lain, di kamarnya, Sougo penat sekali, beberapa kali mengumpat, lalu melempar HP nya ke kasur.
Dari balik pintu, tanpa Sougo sadari, Tsukuyo menguping pembicaraannya di telfon.
Merasa apa yang ingin diketahuinya sudah cukup, ibu angkat Sougo meninggalkan ambang pintu yang tertutup, sambil menuruni tangga, Tsukuyo bergumam.
"Aku harus memberitahu Gintoki tentang gadis China yang dibenci Sougo"
.
A/N
Terima kasih untuk yang sudah membaca sampai chapter 3 ini, semoga suka dengan ceritanya, karena author adalah manusia (?) jadi masih banyak salah diksi, typo, ataupun kesalahan lainnya. Feel free untuk memberi advice yang membangun, selama itu demi kebaikan :))
Terima kasih untuk Miss Royal-san dan furifuri-san, kalian memberi semangat kepada author hiks :")
