Haloooo~ aku kembali masih dengan FF yang sama ~('3')~

Jangan lupa tulis caramu sendiri buat bantu Momoa cari si papa di kolom komentar yaaa~

Happy reading!

Papa, I'm Coming!

Part (3/5)

"Momoa-san tidak perlu menangis, kami pasti akan membantu menemukan papa mu" Kuroko menghapus sisa air mata Momoa dengan bagian belakang jari telunjuknya.

"Murasakibara-cchi, begitulah cara memperlakukan anak kecil-ssu" Kise menunjuk Kuroko yang masih menenangkan Momoa. Murasakibara yang merajuk mengambil Maibo ke delapan, membukanya dengan kasar dan langsung melahapnya.

Momoa masih menatap Kuroko. Merasa nyaman dengan perlakuan Kuroko yang mengelus kepalanya.

"Yosh! Kuroko-cchi, bagaimana kalau kita mulai mencari papanya Momoa-chan?" Kise berkata penuh semangat sambil mengepalkan tangannya di udara.

"Dan bagaimana kau melakukannya, nanodayo?" Midorima menatap Kise tidak percaya. Meyakini kalau apapun yang dilakukan Kise di luar basket 90% adalah hal bodoh.

"Aku sebenarnya masih ingin merahasiakannya dulu, tapi mau bagaimana lagi. Kemampuanku memang sangat diperlukan" Kise menyisir poninya sedikit ke belakang dengan jari-jari tangan kanannya, sambil memasang ekspresi yang kelewat percaya diri.

"Yoshi yosh, Momoa-chan jangan menangis lagi" semua mengerubungi Momoa. Membantu menenangkan Momoa sekaligus mengacangi Kise yang sudah berpose -yang menurutnya- sangat keren.

"Oi minna-san, dengarkanlah aku T_T" sungai air mata imajiner mengalir deras di pipi Kise.

"Aku tidak terlalu peduli dengan kemampuanmu, tapi kalau kau bisa mencari papanya, cepat lakukanlah, Kise" sambil berkacak pinggang, Aomine berkata dengan nada memerintah.

"Hee? Tapi setidaknya-" Kise hendak mengeluh.

"Lakukan, Ryouta" perintah absolut dari sang kapten mengurungkan niat Kise untuk mengeluh dan mulai mengeluarkan sebuah kalung dengan bandul bulat berukuran cukup besar. Midorima menghela nafas berat saat melihatnya, mengatakan pada dirinya sendiri kalau dia tidak salah karna tidak mempercayai Kise.

"Momoa-chan, kemarilah. Aku akan menghipnotismu" dengan patuh Momoa mendekati Kise. Diikuti beberapa member yang penasaran dan ingin melihat dari dekat.

"Perhatikan bandul ini terus kemanapun dia bergerak dan dengarkan perintahku" lanjut Kise saat Momoa sudah berdiri di depannya. Momoa masih melakukan semua yang diperintahkan Kise.

"Aku tidak merasa ini akan berhasil" sahut Kuroko dengan nada tidak bersalah. Panah imajiner langsung tertancap di jantung Kise, membuatnya tertohok.

Dengan sisa kekuatannya, Kise mulai menggoyangkan kalung itu ke kanan dan kiri, membuat si bandul juga ikut bergerak. Mata Momoa terus mengikuti pergerakan bandul itu.

"Momoa-chan, dalam hitungan ketiga kau akan tertidur dan mengatakan siapa nama papamu" ujar Kise dengan gerak gerik seperti hipnoterapis profesional.

"Satu.."

"Dua.."

"Tiga" Kise menjetikkan jarinya pada hitungan ketiga. Tapi Momoa masih terbangun.

"Ojisan, Momoa belum mengantuk" ucap Momoa polos sambil menatap Kise dengan wajahnya yang tidak kalah polos.

Kise mojok di pojokan taman. Siapa sangka kalau kemampuan perfect copy yang dia miliki tidak bisa diterapkan pada hipnotis. Padahal dia yakin sudah menghapal semua stepnya dengan benar.

"Buang-buang waktu saja" kalem namum menusuk, kali ini dilontarkan oleh Midorima. Panah imajiner lain menancap di kepala Kise. Membuatnya semakin depresi di pojokan sana.

"Aku akan mencari dengan caraku sendiri, nanodayo. Oi gadis kecil, apa zodiakmu?"

"Momoa?" Gadis itu menaruh telujuknya di bibir bawah. Mengingat-ingat zodiaknya sendiri. "U-umm.. pisces?" Lanjutnya.

Flip flip. Majalah yang sedari tadi dipegang Midorima di bolak balik oleh sang pemilik. Mencari halaman yang membahas zodiak.

"Keberuntunganmu sedang jelek. Lebih baik kau menyerah" Midorima menunjukkan ramalan oha-asa yang ada di majalah edisi terbaru itu pada Momoa. Pisces berada di urutan paling terakhir untuk urusan keburuntungan hari ini.

"Heee? Tapi Momoa tidak bisa disini sampai besok" ucap Momoa kembali dengan nada murung. Menunduk menatap tanah.

"Daripada kau mengandalkan orang lain, kenapa kau tidak mengandalkan dirimu sendiri?" Aomine melipat kedua tangannya di depan dada. Berjongkok di samping Momoa untuk menyamai tingginya.

"Um?" Kerut-kerut bermunculan di dahi Momoa. Kebingungan dengan maksud perkataan Aomine.

"Coba kau ingat-ingat kembali, siapa papamu itu. Kurasa kau tidak mungkin 100% melupakannya. Pasti ada satu atau dua bagian yang kau ingat darinya. Kalau kau tidak bisa mengingat wajahnya, coba kau ingat hal-hal yang sering dia lakukan atau apa yang dia sukai" ucap Aomine panjang lebar sambil menepuk pelan pucuk kepala Momoa.

Entah setan apa yang merasukinya sampai-sampai perkataan Ace tim basket Teiko itu mendadak sangat dewasa. Apalagi kalau diingat-ingat, Aomine hanya serius kalau itu menyangkut basket atau majalah porno kesukaannya. Selain itu yang dia lakukan hanya bermalas-malasan.

"Dai-chan~" ucap Momoi berbisik. Hati Momoi tersentuh melihat Aomine yang awalnya seperti sangat menentang Momoa, akhirnya ikut membantunya dengan sepenuh hati. Walau sebenarnya, Momoi yakin Aomine itu baik dan pasti akan membantunya.

Momoa pun juga begitu. Dia menatap Aomine dengan penuh rasa kagum. Lalu mengangguk mantap menyanggupi saran Aomine. Momoa memejamkan matanya. Mencoba menenangkan dan menjernihkan pikirannya. Menggali alam bawah sadarnya sendiri untuk menemukan satu dua hal yang dia ingat mengenai papanya. Menyelam lebih dalam dan lebih dalam. Menyebabkan guratan urat mikir keras miliknya bermunculan di dahi.

Satu menit berlalu dengan sunyi. Member Kisedai ditambah Momoi hanya menatap Momoa dalam diam. Seperti mencoba mengirimkan aura baik untuk menyemangati gadis kecil itu.

Momoa perlahan membuka matanya. Ekspresi bersalah terlihat jelas diwajah gadis itu. Dia bahkan tidak berani melirik Aomine yang masih setia berjongkok disampingnya. Tentu yang lain memahami maksud ekspresi itu.

"Kau sudah melakukan yang terbaik. Cepat atau lambat kau pasti akan mengingatnya, tenanglah" pelan dan penuh kasih sayang, Aomine menepuk pucuk kepala kecil itu lagi.

Kali ini bukan hanya Momoi dan Momoa, tapi member Kisedai yang lain ikut terharu melihat yang Aomine lakukan.

Tiba-tiba Aomine mengeluarkan sebuah majalah dari balik punggungnya. Entah dia simpan dimana majalah itu.

"Papamu suka tipe yang seperti ini kan?" Tanpa rasa bersalah, Aomine menunjuk seorang model majalah dewasa berdada besar dan memakai bikini putih dengan kain minim yang menjadi sampul majalah. Tidak lupa cengiran polos seperti anak kecil.

Duagh! Buagh! Duagh!!

Detik selanjutnya, Aomine sudah terkapar di tanah dengan beberapa tingkat benjolan di kepalanya.

"Mou Dai-chan! Bisa-bisanya kau menunjukkan majalah seperti itu kepada Momoa-chan!" ucap Momoi -pelaku pemukulan terhadap Ace tim basket Teiko- geram.

"Aku menyesal berpikir kau sudah berubah, nanodayo" Midorima menghela nafas sambil memegangi dahinya yang berdenyut melihat tingkah Acenya itu.

"Kau yang terburuk, Aomine-kun" Kuroko ikut memojokkan Aomine.

"Maa maa, lebih baik kita cari cara lain untuk mengembalikan ingatan Momoa" Akashi kembali menengahi sebelum hal buruk terjadi.

"Bagaimana dengan makanan?" Saran Murasakibara disela-sela kegiatan menjilati jarinya yang masih tersisa remah Maibo.

"Makanan-ssu?" Kise yang sudah pulih dari depresinya mulai mengikuti obrolan lagi.

"Makanan kesukaan Momoa-chin seharusnya tidak jauh beda dari orang tuanya kan?" Kali ini Murasakibara bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati tempat sampah terdekat. Membuang satu kotak kosong Maibo, lalu kembali duduk di jungkat jungkit.

"Kurasa itu masuk akal-ssu"

Semua menatap Momoa. Yang di tatap nampak berpikir.

"Momoa suka Maji Burger!" Ucapnya riang sambil tersenyum cerah.

"Maji... burger?" Midorima shock. Bagaimana bisa anak sekecil itu kecanduan makan makanan tidak sehat seperti itu? Walaupun dia juga tidak bisa menampik fakta kalau Maji Burger memang enak.

"Habisnya masakan mama selalu aneh rasanya" lanjut Momoa dengan polos.

DUAARR!!

Petir imajiner menyambar alam bawah sadar member Kisedai. Mereka baru mengingat betapa buruknya skill memasak Momoi.

"He~? Kurasa masakanku tidak seburuk itu" Momoi memasang wajah tak bersalahnya. Melirik member Kisedai yang sudah pernah -dipaksa- mencicipi masakan Momoi.

Wajah mereka tiba-tiba memucat. Mengingat rasanya saja sudah membuat mereka merasa mual. Mendadak, mereka mengakui kalau Momoa benar-benar anak Momoi, sekaligus merasa simpati pada Momoa dan si 'papa' yang harus merasakan masakan Momoi.

"Ada apa, minna?" Momoi khawatir melihat yang lain mendadak pucat. Tapi yang lain hanya bisa menggeleng cepat. Tidak bisa jujur dengan apa yang mereka pikirkan.

"Bagaimana dengan tes DNA?" Akashi berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Tes DNA?" Momoi mengulang kata-kata Akashi.

"Kau bisa melakukan tes DNA dirumah sakit Z secara gratis. Aku akan bicara dengan kepala rumah sakit. Kebetulan mereka adalah salah satu patner bisnis keluargaku" jiwa tuan muda milik Akashi keluar.

"Tapi bagaimana caranya? Kita tidak memiliki sampel si 'papa' kan?" Midorima mulai tertarik dengan obrolan.

"Dengan sampel darah Momoi dan Momoa, bisa dilakukan rekontruksi DNA" jelas Akashi sesingkatnya.

"Hmm. Aku mengerti" Midorima menjepit dagunya dengan ibu jari dan telunjuk. Membayangkan kemungkinan yang dibicarakan Akashi. Yang lain hanya bisa terdiam mendengar pembahasan yang di luar pemahaman orang awam seperti mereka.

"Ano-, kurasa pakai cara lain saja" Momoi dengan ragu mengutarakan pendapatnya.

"Bagaimana dengan jalan-jalan?" giliran Kuroko yang menyuarakan idenya. Nampak wajah bingung yang lain dan juga wajah nyeri Aomine yang mulai bangkit walau benjolan itu masih ada di sana.

"Kurasa jalan-jalan bisa sedikit membawa memorinya kembali. Mungkin ada satu tempat yang akan diingat Momoa-san" jelas Kuroko, disambut 'hoo' ria dari yang lainnya.

"Yosh, ayo kita lakukan!" dengan semangat Kise menggandeng tangan Momoa dan memimpin jalan. Sedangkan Momoi berpikir hal lain.

'Jika aku akan menikah, aku ingin menikah dengan..'

-TBC-

Sampai bertemu di chapter selanjutnya '-')9