' Appa aku ingin bertanya .. '

' Kenapa bumi ini harus ada kesedihan? '

' Kenapa dunia ini banyak menyimpan misteri? Padahal kan dunia ini indah? '

Wind

( Give me a reason )

Author : Totomato

Judul : Wind ( Behind The Scene )

Main Cast :

Kim Himchan

Bang Yongguk

Moon Jong Up

Jung Daehyun

Yoo Youngjae

Genre : Pilihkan yang terbaik dari yang terbaik, selama ada yang terbaik maka. Pilihlah.

Long : Chaptered

Notes :

Keep spirit until the end. Stop judge the ' Fanfiction' by the cover

Keep reading, and give me comment ^^

YES SIR ! Its B.A.P! '_'

_oooOoOooo_

Untuk kesalahan, persamaan nama dan tempat, dan juga typo di tanggung sendiri. Don't copy or plagiatism ^^

Apasih, untungnya memplagiat? Kan kita mempunyai keunikan tersendiri, so make it your ways and improve it ^^

Author POV

" Argh.. " Himchan tersentak dari mimpinya, kepalanya sedikit terbentur dengan papan pinggiran kasur. Aroma kue menyeruak kedalam kamarnya, dengan langkah gontai Himchan berjalan memasuki dapurnya.

" Yo, morning !" Himchan tersenyum , Ia mendekati Yongguk yang mulai melepas apron putihnya. " Morning. " Yongguk mengelus kepala Himchan singkat dan meninggalkannya. Sedang Himchan, mulai mencicipi muffin mocha di depannya.

" Hm, Himchan, aku harus datang pagi hari ini. Bisakah kau, mengantar paket di dekat pintu? Thanks." Himchan melihat pungguk Yongguk yang mulai menjauh dan meninggalkannya, segera ia membawa sarapan paginya ke beranda dapur dan melihat Yongguk melambaikan tangan dan pergi dari rumahnya, em ralat rumah mereka.

Ini bukan hari pertama Himchan melihat Yongguk pergi dari arah beranda dapur, tapi ini adalah hari pertama ia merasakan muffin buatan langsung dari tangan Yongguk. Tak hanya itu, ini juga hari ke 5 ia berada disini, dan meninggalkan rutinitas membosankan di perusahaan.

Kini kebiasaan barunya ialah menikmati pagi yang tenang di pinggaran kota, dengan menikmati bukit di sekitar perumahan, juga nuansa klasik di perumahan ini, berbeda dengan flat nya yang membosankan, kecuali pemandangan paginya.

Tak hanya itu, rutinitasnya berubah. Ketika pagi dia santai tetapi siang hingga malam, ia habiskan waktunya bekerja di Café milik Yongguk. Ya, café yang beberapa minggu ini dia kunjungi, dan sekarang ia bekerja disana.

Rumah ini, bukan lah rumah Himchan, tepatnya rumah Yongguk yang ia tumpangi. Ia hanya menyewa lantai atas. Berbeda jauh dari penampilan Yongguk, ia malah orang pertama yang menggagas hidup Himchan harus berubah. Himchan termasuk orang beruntung, yang bisa bertemu dengan Yongguk .

Himchan berjalan membersihkan dirinya dan juga ruangannya, dia membaca paket yang berada di dekat pintunya yang tadi Yongguk taruh sebelum pergi.

" Hm, Bougainville Street 15B. Bukannya dekat sini? Yoo Youngjae. " Himchan mengeringkan rambutnya dan mengambil paketnya kedalam kamarnya.

Himchan Pov

' Ahaha.. Ahaha.. Dubidam dubidubidam.. Appaaa appaaaaa… '

Argh, mimpi lagi. Aku melihat sekitarku dengan cepat. Argh, sepertinya aku tertidur setelah mengeringkan baju. Dapat aku lihat sekelilingku , masih sama seperti pagi tadi. Hm, bau coffee. Apa, Yongguk sudah pulang?

Argh, pasti dia kecewa kalau tau paketnya masih berada di rumah. Segera aku bangkit dan tadaaa~

Paketnya sudah tidak ada.

" Oh, Tuhanku! Bagaimana ini !" Aku pusing memikirkannya, paketnya sudah tidak ada. Tadi sebelum tertidur aku masih menaruhnya di dekat sini. Dan, tiba-tiba paketnya sudah tidak ada bagaimana ini?

" Ng, tuan apa kau mencari ini? " Aku menengok kebelakang, aku melihat paket itu berada di tangan lelaki bersuara Busan ini.

" YA ! KAUUU DAPAT DARIIMANAAAAA! OH TUAAN TERIMAKASIIIH!" Tanpa fikir panjang aku segera memluk paket itu, dan menjabat tangannya. " OH, Terimakasih tuan. Aku harus segera pergi. Permisi. "

" E-sama-sama.. Tapi.. "

Tuan itu mencegat jalanku, ng apa maksudnya tuan ini? "Maaf, tuan yang baik hati. Bolehkah saya pergi,-" Aku melihat tuan itu nampak berfikir, dan lagi.. "-, Ng, tuan. Bagaimana anda bisa di rumah saya? Dan membawa paket saya." Aku melihat lelaki di depanku ini, memakai pakaian yang lumayan, berantakan.

Okay, bukan hanya berantakan tapi ng, mukanya sedikit hitam terciprat oli, dan jangan lupakan rambutnya yang agak lepek. " Jadi, siapa anda? Mengapa anda bisa masuk? Bagaimana?" Aku sedikit menyelidik dia, dia sedikit berjalan mundur.

" Siapa anda? Apa mau anda? Dan sekali lagi, bagaimana paket saya ada di anda dan mengapa anda bisa berada di rumah saya?" Aku terus mencecar orang di depanku ini, tanpa aku sadari. Mulut orang ini sedikit bergerak, argh. Aku sudah muak dengan hari ini, tertidur, mendapat mimpi aneh, shock karena paket hilang dan di temukan oleh orang aneh ini. Hey, I need more oxy right.

" Ng, bi bisakah an.." JANGAAAN BERTELEEE-TELEEEE TUAN ANEEH.. OH, emosiku sudah memuncak. " Bisakah, anda.. Jangan bertelee-telee.." Orang itu semakin mundur, daaan..

" Huwaaaaaa…" Dia menarik tanganku ikut jatuh ke bawah tangga. Akh, pasti ini sakit, aku akan masuk rumah sakit, dan menyusul istri ku oh oh tidak mungkin bersama anakku.. Jangaaan duluu, bagaimaaanaa dengan paket Yongguk ? Oh, kesalamatanku dulu yang harus aku fikirkan. Tidak-tidaak, bagaimanaaa iniiii?

Aku membuka mata ku sedikit dan memegang kepalaku yang sepertinya sedikit empuk, apa apa ini? Apa ini ng, surga? Oh, oh jangan jangan. Aku menutup kembali mataku.

" A.. Apa kau baik-baik saja?" Aku membuka mataku, dan melihat hitam ? Oh, oh sedikit basah di keningku.. Aku mendengar bunyi lonceng pintu rumah.

" Apa yang kalian lakukan ? " Seperti suara Yongguk, aku membuka mataku full. Dan blam, aku berada di pelukan. Ini, bukan pelukan wanita. Tetapi, PRIA ! Apa masalah? Iya, aku juga PRIA ! Oh, tuhan.

" A.. Apa kau baik-baik saja?" Hell, apa yang ia gugup kan wahai orang aneh? Aku segera duduk di perut orang aneh ini, dan melihat Yongguk jongkok melihat ku, oh bukan maksudku ya.. Melihat kami.

Aku bertanya-tanya apakah, Yongguk tau orang ini, apa dia akan memukul orang ini? Atau bahkan, menendang, memukul dan mencincang-cincang karena aku melihat ia membawa paket. Eh? Paket? JANGAN-JANGAN..

" Yongguk-ssi.. " Aku sedikit kikuk, Yongguk melihatku intens.

" Ya.." Oh, jangan bilang ia marah dan tau aku belum mengirimkan paketnya.

" Ng, itu.. itu.. Apa itu paket? " Yongguk melihatku benar-benar intens.

" Ya, paket. Ada apa, Himchan?" ARGH,APA DIA AKAN MEMUKUL KU!

" Ah, ii.. tu.. itu.." Aku sedikit menunduk. Takut melihat wajah, ng mata nya intens melihatku.

" Bisakah anda, eh Himchan-ssi beranjak dari perutku, aku merasa tidak nyaman di bawahmu." Eh ? Aku melihat orang yang sedang aku duduki, dan segera menengok ke atas yang bisa aku lihat Yongguk sangat dekat . BUKAN! Sangat-sangat dekat, ada apa ini?

" Ah, i-iya. Maaf." Aku beranjak, di bantu Yongguk berdiri, dan setelahnya ia juga membantu orang aneh itu berdiri dan memeluk orang tersebut. He? Apa aku salah lihat?

Author POV

Wangi bunga sedikit terasa dari sini ya, taman belakang rumah Yongguk-Himchan. Disinilah mereka, Yongguk , Daehyun yang sedang berbincang dengan suara terbahak-bahak di meja makan, sedangkan Himchan. Ia sudah meminta maaf, dan menjelaskan semuanya, dari paket yang ia lupakan, introgasi dan hingga terjatuh tangga dan kini ia sedang berada di dapur memanggang dan menyiapkan cemilan juga, coffee.

" Ah, mengapa aku harus menceritakan semuanya? Terlebih ke Yongguk? Siapa dia? Hm, membingungkan." Himchan masih saja bergulat dnegan pemikiran nya. Sedangkan seseorang tanpa sengaja mendengar keluhannya dan tersenyum.

Yongguk dan Daehyun, orang aneh menurut Himchan itu sedang berbincang sedikit.

" Hyung Gukie, sepertinya kita butuh waktu yang singkat untuk mempersiapkan segalanya, kalau rencana semula gagal." Daehyun menyenderkan punggungnya ke bangku nyaman itu.

" Hm, aku sudah tau kau akan datang beberapa waktu lagi, tapi tak ku sangka benar-benar pas dengan perhitunganku. Aku sudah menyiapkan semuanya di paket yang akan di berikan Himchan pagi ini melalui Youngjae."

" Aku, ah berat rasanya. Aku sepertinya akan susah bekerja sama kembali dengan nya." Daehyun memejamkan matanya, Yongguk sedikit mengerutkan keningnya.

" Ada apa dengan kalian? Kau tau, ini tak menguntungkan kita sama sekali. Walaupun atasan tak mengetahui kalian. Tapi, kebersamaan kalian sangat menjadi kartu as dan menjadi issue di kalangan sana."

" Hm, hanya saja aku sudah.. Ah, ada masalah penting dengan kami sehingga kami putus, Hyung Gukie." Yongguk sudah mengira dengan sikap flamboyant Daehyun, ia sudah merasa akan seperti ini, terutama melihat sikap Youngjae yang sangat perhatian dan mudah cemburu. Yongguk bahkan memperkirakan hanya langgeng 1 tahun dengan kesuraman yang amat sangat. Tapi, apa perkirannya meleset, kini sudah tahun ke 4 dan baru ada masalah.

" Ada apa? Hm, walaupun aku sudah memperkirakan kalian hanya sanggup 1 tahun. Well, kalian bahkan tak aku sangka masih saja bersama, terutama dengan sikap mu itu. " Yongguk melihat raut Daehyun sedikit memerah, dan mulai membuka mata.

" Hm, salah paham. Kau tahu dia memang seperti itu, suka salah paham. Tapi, kali ini tak seperti biasanya. Aku tak tahu apa masih mungkin. " Yongguk mengangguk paham, dia juga tahu betul dengan sifat Youngjae.

Daehyun melihat Himchan berjalan menuju arah mereka, membawa nampan berisi makanan dan juga minuman, lengkap dengan apron putihnya. Himchan sedikit bergidik melihat senyuman Daehyun yang manis berubah menjadi seringaian aneh.

" K-kau.. Apa yang kau lakukan disini, penyusup? Tukang curi ? Dan muka aneh? " Himchan menumpahkan kekesalannya, setelah duduk dengan manis di dekat Yongguk.

" Ahaha.. Aku bukan penyusup, tukang curi. Dan, - " Yongguk menyela Daehyun

" Dan memang muka aneh." Daehyun melemparkan pandangan mematikannya ke Yongguk, yang di lihat hanya tertawa.

" Ng, Yongguk-ssi. Mengapa kalian malah tertawa dan berbincang? Aku bahkan tak tahu dia siapa, apa ini tak apa-apa? Atau aku akan menelepon polisi saja? " Himchan melihat Yongguk dengan pandangan was was, sedangkan Yongguk sedikit menahan tawa.

" Apa, dia terlihat seperti penyusup? " Yongguk bertanya dengan lembut.

" Ng, menurutku. Ya. " Himchan mengganguk mantap.

" Lalu, apa dia tukang curi? Apa yang ia curi? " Yongguk sedikit menahan tawa.

" Ya, dia memang tukang curi. Tukang curi paket titipan mu tadi pagi. Argh, untung saja aku tertidur di rumah, dan masih bisa memergoki tukang penyusup + pencuri ini, lihat bahkan tadi aku melihat mukanya sangat kumel, lengkap dengan rambutnya yang apek." Himchan mengangguk dengan mantap untuk pelengkap kata-katanya. Sedangkan, Yongguk sukses tertawa . Sedangkan Daehyun mengernyit mendengarnya.

" Ya, Hyung ! Mengapa kau tertawa! " Yongguk menahan tawanya, dan melihat Daehyun. Sedangkan Himchan, mengernyit.

" Kau, dengar Busan-ssi. Dia sangat pintar menilai seseorang, ahahaha.. " Yongguk mengelus kepala Himchan, refleks. Himchan semakin mengernyit tanda bingung. Daehyun melihat adegan itu, merasa ada yang ganjal. ' Waktunya membalas, Himchan-ssi.'

" Aku akui, aku berangkat kesini setelah dari bengkel, dan memang masih ada oli. Dan mobilku mogok kembali dan teringat dekat dengan rumahmu, sehingga aku mendorong mobil sendirian sampai disini. Lalu, - " Daehyun sedikit menarik kursinya mendekati Himchan, sedang Himchan hanya melihat dengan antusias. "-, Aku memanggil Hyung Yongguk dan tak ada sautan. Hingga aku mendengar seseorang berteriak. Aku masuk dan melihat seseorang sedang tertidur dengan gelisah, tak jauh dari tempat tidurnya aku melihat paket dengan tulisan ' Yoo Youngjae' . Aku tertarik mengambilnya, dan turun kebawah mengambil minum. Lalu,-" Himchan sedikit memanyunkan mulutnya, Yongguk melihatnya hanya sedikit tertahan tawa. Sedangkan , Daehyun semakin asyik untuk memanasi orang di dekatnya ini.

" Lalu, aku melihat tuan putri itu menjerit, aku mendekatinya. Ia, tampak bahagia melihatku, dan menjabat tanganku bahkan menciumku tadi, ng.. " Daehyun memegang tangan Himchan dan mengusap pipinya sendiri dengan tangan Himchan, Himchan hanya mengernyit ingin menolak. Sedangkan Yongguk mulai memanas melihatnya. " Kau tahu, bahkan kami terjatuh dan ia menindihku saking senangnya. " Daehyun melepas tangan Himchan dan memeluk pinggang Himchan. Himchan kaget dan bingung, sedangkan Yongguk merasa kesal hanya menunggu reaksi Himchan.

" Ya ! Apa yang kau lakukan ! Lepaskan! " Himchan menjauhkan dirinya dari Daehyun, sedangkan Daehyun tertawa.

" Orang aneh ! Menjijikan. " Himchan mengernyit hebat, Yongguk menompang mukanya dengan dagunya , sedikit menghisap coffee nya. Himchan melihat Yongguk intens , meminta penjelasan.

" Hm, orang yang-telah-kau-cium ini. Adalah sepupuku. Jung Daehyun. Kau bodoh, akan ku perkenalkan, dia- " Daehyun memotong Yongguk.

" Perkenalkan, aku Jung Daehyun . Dan kau pasti, Himchan." Daehyun melihat Himchan intens.

" Oh, aku . Kim Himchan. Salam kenal. " Daehyun menarik tangan Himchan, menjabat tangannya." Kau, pasti tukang kunci. " Yongguk tertawa mendengar penuturan lanjutan Himchan.

" Oh, pastinya. Aku, tukang kunci untuk hatimu, Kim Himchan. Oh, bukan segera kau akan bermarga Jung Himchan. " Daehyun menggerlingkan matanya, sedangakan Himchan, mengernyit dan menatap Yongguk. Sedangkan Yongguk hanya menatap Daehyun malas, dan menatap Himchan lembut.

Sementara itu, dari kejauhan seseorang melihatnya sedikit marah. Sebenarnya tak terlalu jauh, sehingga ia bisa mendengar juga. Lebih tepatnya di dekat jendela dapur hingga ia bisa melihat dan mendengar semuanya, Daehyun yang merasa sepertinya ada yang melihat dari arah belakangnya, menengok ke belakang. Seseorang tersebut segera menunduk , dan mengintip kembali.

" Hm, Jadi hyung. Himchan ini siapa mu? " Daehyun merasapi coffee nya.

" Oh, dia tinggal bersamaku dari beberapa hari yang lalu."

"Ya, begitu. Aku tinggal disini dari 5 hari yang lalu, dan juga bekerja disana."

" Bekerja? Dimana , Himchan-ssi? " Daehyun melihat Himchan , sepertinya ia tak nyaman.

" Hm, di café Yongguk, tentunya. " Himchan sedikit risih melihat saudara sepupu Yongguk ini.

" Ah, berarti kalian bukan sepasang kekasih bukan? " Yongguk tersedak mendengar penuturan Daehyun, sedangkan Himchan refleks memukul punggung Yongguk pelan , membantunya.

" M.. Maksudmu? " Himchan semakin resah, menurutnya ini sangat aneh.

" Ahaha.. Tak apa, jadi bagaimana menurutmu tentang Hyungku ini? Apa dia nakal?" Daehyun sedikit menggerlingkan mata nakalnya. Himchan semakin resah, Yongguk kembali tersedak.

" Ah.. Ah.. Dia seseorang pekerja keras, baik hati, dan juga pemberi motivasi yang baik, lagi pula dia pintar. " Himchan tersenyum lembut . Yongguk melihatnya tersedak kembali. Himchan, kembali refleks memukul punggung Yongguk lembut. Daehyun sedikit tersenyum.

" Begitukah? Bukankah, hyung ku ini sangat nakal? Dia keluar dari perusahan demi merintis café yang tak berkembang itu, cih Hyung nakal. " Yongguk kini sedikit mengernyit. " Tetapi, aku berterimakasih, -" Daehyun segera menengok kebelakangnya. Dan benar ada orang disana. Ia segera berlari menangkap orang tersebut.

PRANG.. PRANG..

Suara pecahan beling terdengar dari dapur, Yongguk dan Himchan segera berlari menuju rumah mereka. Ia dapat melihat kekacauan yang luar biasa, Yongguk sudah paham situasi ia menebak pasti Daehyun mengelak berbagai piringan piringan ini. Sedangkan, Himchan ia mengelus keningnya yang melihat beberapa koleksi piringnya tewas seketika.

" Oh, tuhan. Ini piring, oh jangan bilang piring dari Roma. Oh, tuhan." Himchan semakin lemas melihat piring koleksiannya berada di tangan orang asing kembali. Yongguk bisa melihat dengan jelas, siapa orang itu dan juga Daehyun yang sedikit memohon untuk tidak melemparkan piring tersebut.

" Aku mohon, kau jangan lem-par-kan itu kem-bali. " Daehyun sedikit memohon dan lemas. Ia letih berlari lari, dan menghindari piring-piring terbang tersebut.

" Aku tak mau ! Kau diam saja ! Tukang selingkuh!" Oh, drama apa lagi ini?

" Oh, c'mon aku tak selingkuh. Ayolah, kau lepaskan piring tersebut. " Himchan semakin pusing, ia merasa ini sedikit tabu untuknya. Ia merasa nyawa nya di ambang-ambang, piring-piring ini sangat berharga untuknya. Terutama yang berada di tangan orang asing tersebut.

Perlahan, Daehyun mendekati orang tersebut, dan memohon untuk melepaskannya. Hingga.

" Oh, KAU JANGAAAN MULAAI MENDEKAATIIKUU LAGIII!" Perlahan gerakan tangan lelaki tersebut seolah-olah mengancam dan ..

" JANGAAAAAN LEMPARRKAAANN PIIIRIINGGGG ROOO-"

PRANG.. DAK.. PRAANG..

" ROMAAAA KUUU! " Himchan mendekati pecahan piring Romanya dengan sedikit tak nyaman. Yongguk mengangkat tubuh Himchan, untuk duduk di sofa . Ia merasa bingung, mengapa orang tersebut bisa berada di rumahnya.

" Daehyun ! Youngjae ! Berhenti ! Kalian ini, datang-datang membawa keributan! Duduk sini!" Yongguk memberikan minum untuk Himchan. " Minumlah." Yongguk menyelimuti punggung Himchan dengan jaketnya, ia merasa Himchan sangat terpukul. Mereka segera duduk di depan Yongguk dan Himchan.

" Jae, mengapa kau bisa berada disini? " Daehyun melirik Youngjae dengan cemas.

" Apa peduli mu? Oh, aku tau biar kau tak ketahuan sedang seligkuh bukan, makanya kau tak memberi tahuku kau akan pergi ke rumah Hyung Yongguk ? " Youngjae mulai memanyunkan mulutnya. Himchan sedikit tergerak melihat Youngjae.

" A-Aniya. Mana mungkin aku bisa selingkuh dari seseorang yang sangat manis sepertimu, Youngjae. " Daehyun mulai cemas melihat Youngjae semakin menunduk. Himchan, mendekati Youngjae. Mengusap punggung lelaki manis tersebut.

" Uljimayo." Himchan mengusap punggung lelaki ini, yang entah mengapa terlihat seperti anak perempuan yang manis di hadapannya. Youngjae sedikit terisak, dan merengkuh leher Himchan, dan menangis. "Uljima,Youngjae-ah." Himchan memeluk Youngjae. Daehyun melihatnya seperti adegan ' Ibu dan Anak Gadis-nya'. Daehyun memberikan pandangan bertanya ke Yongguk, sedangkan orang yang dituju malah asyik melihat adegan tersebut. Yongguk tergerak dan menggiring mereka berdua ke kamarnya, karena kamarnya yang terdekat dari ruang tengah tersebut.

Yongguk mendekati Daehyun di ruang tengah.

" Ng, hyung bagaimana bisa ada ,- "

" Bersihkan sekarang kekacauan yang kau lakukan! Segera! Aku tak menginginkan penolakan, Jung Daehyun. Segera!" Daehyun bergidik dan segera mengambil pengki dan sapu yang tak jauh dari dia. Himchan, melihat penampakan tersebut sedikit risau, sedangkan Youngjae yang juga mengintip dari Himchan, seperti melihat adegan ' Ayah Memarahi Anak Lelaki-nya'.

Skip Time

" Jadi, mengapa Youngjae berada disini Hyung?" Kini Yongguk dan Daehyun telah membersihkan kekacauan Daehyun – Youngjae, dan sekarang mereka berada di ruang makan. Youngjae dan Himchan menyiapkan makan malam mereka. Himchan sedari peristiwa tersebut terus saja terdiam, bahkan Youngjae merasa semakin tidak enak karenanya. Youngjae sering mengajak berbicara, namun Himchan hanya menjawab seadanya.

" Ng, Himchan-ssi. Ovennya." Youngjae menyadarkan Himchan dari lamunannya, dan segera beranjak mendekati oven, ia sedikit menimbang harus sekarang di angkat atau tidak. Namun, Yongguk mendahului. Ia membuka oven dan mengambil cookies di dalamnya.

" Over Cook, Hime." Himchan hanya terkesiap, dan menjauhi Yongguk dan Youngjae. Ia beralih dengan coffee nya. Dan menaruhnya di atas meja. Daehyun hanya mengamati perubahan sikap Himchan.

Akhirnya, mereka semua berada di meja makan, dengan makanan yang telah tersedia, dan juga hidangan ringan lainnya. Youngjae dan Daehyun sedari tadi mencoba merubah suasana yang canggung, sedangkan Yongguk sedikit menanggapi, terkadang memarahi cara mereka makan. Sedangkan Himchan hanya terdiam.

Himchan berdiri dan menaruh piringnya ke wastafel dan pergi ke kamarnya, Yongguk melihat Himchan sedikit khawatir. Sedangkan Youngjae dan Daehyun sangat menyesal karena ulah ke anak-anakan mereka. Yongguk maklum, dengan sikap Himchan sekarang, namun ia masih tak mengerti, seberapa pentingnya kah piring-piring tersebut?

Youngjae menaiki anak tangga tersebut, awalnya ingin bertanya dan sekali lagi meminta maaf atas sikap keanak-anakannya, namun ia terkesiap mendengar Himchan sedikit terisak. Ini aib Himchan, ia tak pernah sekalipun membiarkan satu orang pun melihat ia menangis, terakhir orang yang sempat melihatnya hanya istri nya tercinta, anaknya tercinta, dan kini tanpa sepengetahuannya Youngjae melihat sisi kelemahan Himchan.

" Maafkan aku, Chagiya. " Himchan menunduk dalam, Youngjae mendengar suara derapan langkah kaki lain menuju atas. Youngjae refleks bersembunyi. Ia melihat Yongguk berdiri di ambang pintu. Mendengar isakan kecil, Himchan. Kaki Yongguk tergerak menuju Himchan, lelaki yang sekarang menjadi sahabatnya dan patner di rumah maupun tempat kerjanya.

Youngjae sedikit tersenyum ia berjingkat dan menuruni anak tangga. "Ah, beruntungnya Himchan-ssi memiliki seseorang seperti Hyung Yongguk." Youngjae mengernyit melihat Daehyun.

" Apa yang kau lakukan? " Youngjae sinis bertanya Daehyun, pekerjaan barunya, bertanya dengan nada sinis. Ini kebiasaan yang akhir-akhir ini menjadi rutinitasnya apabila bertemu Daehyun.

" Aku hanya ingin meminta maaf dengan Himchan-ssi." Daehyun segera ingin beranjak dan menaiki anak tangga kembali. Tangan Youngjae, mencegah dan memegang erat tangan Daehyun. " Jangan, Hyung akan menyesal kalau kau kesana. Kita pulang, Daehyunnie." Youngjae menarik Daehyun dan segera keluar rumah. Daehyun hanya pasrah dan tak bisa menolaknya.

Himchan POV

" Maafkan aku Chagiya." Aku sangat terpukul, satu-satunya barang peninggalan istriku, Juniel. Ialah, piring-piring koleksiannya ini. Tak sedikit yang aku bawa kemari, dengan harapan ia masih berada di hatiku. Bersama putra kesayanganku, Kim Jongin.

Anak ku dan juga istriku tercinta. Maafkan aku yang tak bisa, melakukan apapun untuk kalian, bahkan merawat dan menjaga apa yang seharusnya ku jaga sepeninggal kalian. Aku bukanlah, pasangan, suami, ayah yang baik.

Aku merunduk semakin dalam, sebenarnya aku juga tak enak hati dengan Youngjae dan Daehyun, mereka sedari tadi mencoba mencairkan suasana, namun rasa penyesalanku terlalu besar atas peristiwa itu.

" Hime, kau .." Aku merasa seseorang mengelus punggungku lembut, persis seperti Juniel dulu. Apa ini Juniel? Apa dia kembali?

" Ju-juniel? Apa itu kau? " Aku berbalik, dan memeluk seseorang itu, aku tak tahu pasti. Tetapi, perlakuannya sama persis dengan Juniel-ku, ya Juniel pasangan hidupku.

"Hiks.. Maafkan aku, Juniel. Aku tak bisa menjaga treasure mu, treasure kita selama kita mengelilingi dunia. Maafkan aku. Aku.. Aku tak tahu kapan akan bisa menggantinya, maafkan aku. Aku juga tak bisa menjadi suami, pasangan hidupmu yang baik. Dan, Jongin. Maafkan aku, yang juga tak bisa menjadi ayah dan sosok yang terbaik untuk kalian. " Aku sangat menyesal, Juniel. Aku semakin mempererat dan memperdalam pelukanku, membendam kepalaku di pelukan ini. Aku semakin yakin ini adalah Juniel. Ya, Junielku.

" Aku, tak pantas .. Seharusnya aku tak bersama mu, maka kau akan tetap hidup. Seharusnya, aku yang menjemput Jongin, seharusnya aku terus bersama kalian, dan secepatnya membuang perusahaan bodoh itu dan mempererat hubungan keluarga kita. Maafkan aku Juniel." Aku bodoh, Juniel. Aku manusia keparat, yang tak bisa menjaga segala sesuatunya.

Tangan itu mulai mengelus kepalaku lembut, dan mencoba menenangkanku. Sama halnya dengan Juniel dahulu menegarkanku ketika melihat Jongin. Padahal aku tau, dia lebih tersiksa. Selembut itukah, dirimu Juniel? Juniel-ku? Wanita ku?

" Kau tak bersalah. Kau sudah melakukan apa yang kau bisa, jangan menyakiti dirimu sendiri. Kau harus bisa menerima kenyataan, dan bangkit dari keterpurukan ini. " Aku mendongak, sedikit silau di mataku, karena ada lampu yang menyilaukan. Aku tak bisa melihat wajah siapa yang memelukku. Aku nyaman berada di pelukannya. Aku kembali memeluknya, dan memendamkan kepala ku di dadanya.

" Sebentar, aku hanya ingin sebentar seperti ini." Tuhan, semua kesesalanku terasa lenyap, semuanya dapat aku lontarkan hari ini. Terimakasih kau telah mempertemukan aku dengn, Juniel, wanita terhebat dan tertegar sepanjang hidupku, juga anak pemberani dan berjiwa hebat Jongin untukku dan Juniel, serta orang yang memelukku ini, dia seseorang yang dapat kupercaya, walaupun aku tak tahu siapa. Tapi, apa sekali lagi bisakah aku percaya pada orang ini? _oooOoOooo_

Untuk kesalahan, persamaan nama dan tempat, dan juga typo di tanggung sendiri. Don't copy or plagiatism ^^

Apasih, untungnya memplagiat? Kan kita mempunyai keunikan tersendiri, so make it your ways and improve it ^^

Author POV

Himchan terbangun, suaranya terasa serak dan sakit di tenggorakannya membangunkannya. Ia masih merasakan hangatnya pelukan seperti dulu bersama Juniel. Himchan mencari ponselnya, yang kemarin entah bagaimana lenyap. Dilihatnya wallpaper dirinya bersama Jongin. Tak lama ia melihat sebuah notification , dan menampilkan foto seorang bocah yang sekilas mirip dengan anaknya, Jongin.

" Morning, Hime." Suara husky terdengar lembut namun berat, Himchan melihat di ambang pintu Yongguk dengan apron putihnya berada disana melipatkan tangannya di dadanya.

" Morning, Hime ? Itu siapa?" Himchan sedikit bingung, bukankah Hime artinya Tuan Putri?

" Kau, kau Hime. Segera beranjak dari tempat tidur dan sarapan, sudah aku siapkan. " Yongguk segera pergi. Himchan masih mencerna perkataan Yongguk barusan.

" Tuan putri? Hime? Aku? Bukannya aku namja? Oh GOD, YONGGUK ! AKU NAMJAAA!" Dengan langkah menggebu-gebu Himchan turun dan menghampiri Yongguk. Sedangkan Yongguk, tertawa mendengarnya.

" Makanlah. " Hanya itu yang Yongguk katakan. Himchan sedikit mendengus, merasa tak ada jawaban yang memuaskan untuknya.

" Yongguk, kau seenak jidat memanggilku Hime. Kau tau? Aku 100% namja, dan kau menyebutku, Hime. Kurang waras apa kau ini? " Himchan melihat Yongguk, sedang menyendoki nasi goreng untuknya.

" Makanlah, agar cepat pintar. Arrachi?" Yongguk menyerahkan nasi tadi untuk Himchan. Himchan mengernyitkan dahinya. Bukankah, dia sudah besar?

" Yongguk, kau ingin berduel ha? Aku sudah besar, dan bukan anak kecil lagi !" Himchan sedikit mem-poutkan bibirnya, dan menggembungkan pipinya. Ia kesal, namun sedikit senang. Entahlah, ia tak bisa memastikannya sendiri.

" Kau masih bocah, Hime. Cepat makan. Aku tak menerima komentar, dan penolakan kembali." Yongguk segera tenang dan memakan makanannya dan sesekali melihat reaksi Himchan yang menggerutu tak jelas.

" Kau, kenapa tak ke café ?" Himchan berbicara setelah sekian lama mereka hening.

" Kenapa bertanya? Kau mengusirku?" Yongguk meminggirkan piring kosongnya.

" A-ani. Hanya bertanya."

" Hm, hari ini libur. Apa kau ada rencana pergi?"

" Hm, sepertinya iya. Apa kau mau pergi bersama? Aku tak terlalu tahu jalanan di daerah ini." Ya, sejatinya Himchan juga tak tahu bagaimana ia bisa disini.

" Hm, okay. Bersiaplah sekitar 20 menitan lagi, aku juga mau ke bengkel sebentar. Aku balik, kita tinggal berangkat, ok? " Yongguk membereskan piringnya dan segera pergi. Himchan, masih mengernyitkan dahinya, kenapa ia suka sekali semaunya ? Itulah pertanyaan Himchan untuk Yongguk.

Butuh waktu 15 menit untuk menyiapkan dirinya sendiri. Himchan, sekarang sedang asyik melihat traffic chard perusahaan besar. Walaupun ia pergi, bukan berarti ia melepaskan perusahaannya. Ia meyakinkan dirinya sendiri ini hanya butuh 2 tahun lagi dan baru akan melepaskan perusahaannya. Beberapa sahamnya, telah ia beli kembali dengan alasan agar ia lebih mudah mengontrol perusahaannya. Well, sebenarnya perusahaannya tak terlalu besar, namun karena ide cemerlang Himchan perusahaan itu kini bisa masuk ke 20 besar terbesar di Korea.

Himchan sesekali melirik jam, sudah hampir 20 menit dan Yongguk belum menampakkan batang hidungnya. Himchan, sedikit bosan, hingga ia melanjutkan melihat message tadi pagi.

" Kim Taemin, hm 18 years old. Umur yang sama dengan Jongin apabila masih hidup. " Himchan terus membrowsing hingga tak menyadari seseorang telah lama mengamati dirinya.

" Hah, Yongguk lama sekali, apa ia terjebak macet?" Himchan melirik jam tangannya sudah lebih dari 10 menit dari waktu perjanjian.

" Hime, kau tak menyadari aku sudah menunggu 15 menit." Himchan terlonjak dan melihat Yongguk sedang menyesap coffee nya di meja makan. " Kajja."

Yongguk menarik Himchan, beranjak pergi kedalam mobilnya. Himchan kaget melihatnya.

" Selama itu kah? Semenjak aku sudah berada di ruang tamukah?" Himchan memasang seat belt, dan menatap Yongguk.

" Ya, sekitar segitu, dank au asyik dengan duniamu." Yongguk menyetir dengan kecepatan sedang." Kemana kita?"

" Hm, aku ingin bertanya St. Hardcore 12B , dimanakah itu?" Himchan sedikit merasa ganjal dengan nama jalan tersebut.

" Hm, aku rasa di sekitar pinggiran Seoul. Kita kesana?"

" Ng, ya. Teman lama ada berada disana." Himchan masih merasa kenal dengan nama jalan tersebut.

" Well, sepertinya aku kenal dengan jalanan tersebut dekat dengan river kecil. Sekitar 15 menit kalau tak macet, dan 10 menit kalau ngebut. Jadi, pilih yang mana?"

" Ha? Aku tak mengerti?" Himchan bingung melihat orang di sampingnya ini.

" Taka pa, berarti 10 menit." Yongguk sedikit menaikkan kecepatannya, dan segera melintasi alternative ways.

Skip Time

Mereka berada di depan pintu hitam yang terasa Eropa nya ini. Dengan kompleks pemukiman yang sedikit aneh kalau kau berada di Korea. Well, ini Korea tetapi kompleks perumahan ini bergaya Eropa. Aneh bukan? Tidak sih, kalau kau ingin mengapa tidak.

" Jadi, seberapa kaya temanmu? Hm?" Yongguk melirik Himchan yang sedikit terpaku.

" I-ni. Rumahku. Rumahku bersama Juniel." Himchan berjalan mundur, kepalanya terasa pening sekali sekarang. Yongguk sedikit heran melihat Himchan, kalau begitu mengapa ia lupa dengan alamat ini?

" Apa kau ingin masuk?"

" Ng, ya. Mungkin , iya." Himchan terasa kelu lidahnya. Yongguk menggenggam tangan Himchan, dan mengetuk pintu tersebut. Seorang wanita tua renta berada di depan mereka sebagai jawaban ketukan pintu tersebut.

" Selamat datang di Toko Kue kami, anak muda." Himchan, merasa bingung dengan dirinya. Beberapa bulan setelah kejadian yang ia alami, dan segalanya ia segera pindah ke Flat yang berada dekat dengan perusahaannya. Ia menjual rumah ini, dan meninggalkan rahasia di dalamnya. Bahkan, ia melupakan nama jalan ini, beserta kenangannya.

" Ada yang bisa kami bantu anak muda? " Wanita tua itu melihat Yongguk dan Himchan bergantian.

" A.. Rumah ini sangat indah sekali, nyonya." Yongguk membuka pembicaraan yang ia rasa sedikit bodoh.

" Ya, ada seorang dermawan yang memberikan nya secara Cuma-Cuma beserta isinya. Kini aku dan .."

KLING KLING

" Nenek, aku pulang." Seoarang lelaki muda, memeluk nenek tersebut. Yongguk tersenyum, sedangkan Himchan rahangnya sedikit mengeras.

" Jongin? " Himchan mendekati lelaki muda tersebut, sedang yang dilihati merasa familiar, dan sedikit tersenyum.

" Ada yang kalian butuhkan?" Ia tersenyum, Himchan semakin merasa terharu melihat senyum polos anak ini. Tanpa ia fikir panjang, ia memeluk anak lelaki tersebut sambil terisak.

" Hiks.. Jongin.. Akhirnya kita bertemu nak." Yongguk yang melihat adegan ini, sedikit tersenyum dan bingung harus bagaimana karena ia melihat name tag anak tersebut bernama , Kim Taemin. Bukan , Kim Jongin.

SKIP TIME

" Maaf aku hilang kendali, kau sangat mirip dengan anakku Jongin." Himchan memberikan foto yang Yongguk kenal selama ini selalu Himchan bawa kemana-mana.

" Ah, Ahjussi ini sangat mirip sekali denganku! Siapa namanya tadi?" Taemin sudah maklum dengan Himchan , ia merasa tak apa diperlakukan seperti anaknya, karena ia sendiri sudah tak mempunyai orang tua dan orang yang ia sayang tinggal wanita tua itu.

" Kim Jongin, anakku. Sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Aku sebenarnya mencarimu sudah beberapa minggu yang lalu. Melalui temanku, Ny. Hyosung dan Mr. Busan, mereka membantuku untuk menemukanmu. Hm, maaf apabila terlihat aneh. Aku hanya merasa rindu dengan mendiang anakku tercinta, dan ternyata menemukan seseorang yang terlihat mirip dengannya." Himchan menunduk, Yongguk menemaninya dengan rasa iba.

" Ah, tak apa Ahjussi. Memang belakangan ini ada seorang wanita dengan suaminya sering berkunjung dan membeli permen maupun makanan. Terkadang bersama anak mereka. Sepertinya sepantaran denganku. Aku dan nenek sangat gembira apabila mereka datang."

" Nah, kalian silahkan memakan kue jahe , ini buatan Taemin, cobalah." Wanita tua itu mendatangi mereka dan memberikan nampan berisi kue jahe dan susu jahe untuk mereka. Yongguk yang memang antusias dengan kue jahe sangat menyukainya, dan berbincang bisnis dengan wanita tua tersebut meninggalkan Taemin dengan Himchan.

" Hm, Taemin sudah berapa lama kau bersama nenek?"

" Sudah lamaaa, sekali mungkin sekitar 15 tahunan, soalnya selama aku kecil neneklah yang menjadi ibu asuh ku dan pengganti orang tua ku yang sudah tiada. Aku sangat mencintai nenek dan kue jahe. Hehe, neomu johae." Taemin sangat humble seperti Jongin, namun Taemin terlihat lebih putih.

" Hm, ahjussi mau menemaniku ke Tk? Aku sepertinya menjatuhkan beberapa file ku disana." Himchan mengangguk mengiyakan. Iya sembari bernostalgia dan bercanda dengan Taemin, seperti dahulu ia lakukan bersama Jongin apabila ada waktu luang bersama. Tak hanya itu, terkadang mereka melakukan hal konyol layaknya " Ayah dan Anak" lainnya. Bersepeda bersama, hanya sehari ini Himchan ingin mengulang bersama dengan Taemin, pengganti Jongin. Walaupun Jongin akan selalu ada di hatinya.

Mereka kini kembali ke Tk, Taemin sedikit berlari agar tak terlalu lama meninggalkan Himchan. Himchan melihat sekeliling Tk ini. Masih sama seperti dahulu ia pertama kali melihat bersama Juniel dan Jongin. Sama mewahnya dan sedikit perombakan sehingga terlihat lebih sempit dari yang dahulu.

" Mama, aku ingin thekali balik ke thekolah." Seorang anak kecil bersama ibunya melewati Himchan. Ah, dulu iya bersama keluarganya juga sama seperti itu. Saling berpegangan tangan, saling menyayangi .

" Sekarang liburan sayang, Tk mu tutup. Nanti kau bisa bermain bersama teman-temanmu kembali. Ok? " Anak tersebut sedikit manyun dan bergerutu. Ia mengalihkan pandangannya melihat balon di seberang jalan. Tanpa ibunya ketahui anak tersebut berlari, Himchan masih melihat dengan seksama. Seperti de ja vu untuknya.

Himchan POV

Aku melewati anak dan ibu , melihat mereka seperti dahulu yang ku lakukan bersama Juniel dan Jongin. Terkadang Jongin pintar sekali menggoda Juniel, untuk menuruti kemauannya. Anak itu kalau masih ada pasti sangat cerdik, dan pintar. Hm, Jongin tersayang. Appa rindu.

"Sekarang liburan sayang, Tk mu tutup. Nanti kau bisa bermain bersama teman-temanmu kembali. Ok?" Aku sedikit menegok ke ibu tersebut, mereka sepertinya mudah sekali merayu anak tersebut, berbeda dengan Jongin. Yang sedikit egois, namun memiliki akal cerdik untuk bisa mendapatkan sesuatu.

Aku melihat pegangan terhadap anak tersebut sedikit melonggar, dan anak tersebut berlari menyebrangi jalanan. Kaki ku tergerak, aku .. Aku seperti mengalami de ja vu.

Flash back

Di ruangan sedikit remang. Aku bersama Noona Hyosung dan Mr. Busan, berbincang. Percakapan yang sedikit serius dan menguras energy ku untuk tetap bertahan hingga, Noona berbicara , "-,Sora bilang, Jongin hampir saja tertabrak bus tersebut dan truk di arah berlawanan. Namun, Juniel, menghadang dan mendorong Jongin ke seberang . Aku melihat Juniel. Hiks.. Matanya sedikit buram , aku ikut bersama Jongin ke dalam ambulance. Aku tak tega, melihatnya. Melihat darah di pelipis kepalanya. Hiks.. A.. Aku tak bisa membayangkan apa rasanya,-" Aku tercekat. Dan sedikit menerawang mengingat masa kelam ku. Awal kehilangan moment indah bersama keluarga tercintaku. "

Flash back END

Aku berlari mengejar anak lelaki tersebut, dari arah berlawanan aku bisa melihat ada parade dan dari arah berlawanan pula aku melihat ada truck yang sedang oleng. Oh, tuhan apakah ini pertanda aku akan segera bersama dengan anak dan istriku?

Flash back

" Jongin punya pelmintaan untuk Appa." Jongin kecil mengerjapkan matanya berkali-kali.

" Apa itu, kkamjong? " Jongin terlihat senang dengan panggilannya.

" Yeay, kkamjong. Aku suka panggilan itu appa ,-" Jongin kecil sedikit mengemut permennya, aku hanya menatap Jongin dan sembari menunggu permintaannya. Dia adalah proritas utama dalam hidupku.

" Appa aku themalin beltemu halmeonim. Dia thenang thekali membelikanku balon bethaaall thekalii.. Lalu, aku dibeli tahu kalau tuathu taath athu taath akan,-" Aku mengelap mulutnya ia sedikit berhenti, dan mengerjapkan matanya. " YA APPA! Aku kan belum thelethai belcelitaaaa!"

" Hehe, kau harus bercerita kalau mulutmu kosong, coba telan dulu baru bercerita agar Appa lebih jelas mendengarnya." Dengan sedikit mendumel, Jongin kecil menuruti dan meminum susunya sebentar dan menatapku serius. Namun, terlihat lucu di hadapanku.

" Kata halmeonim aku akan membahayakan eomma kalau menyeblang dengan sembelono. Jadinya, aku mulai besok tidak akan menyeblang dengan semblono lagi." Anak yang pintar, aku mengusap kepalanya. Dia sedikit mangap-mangap ingin bercerita kembali.

" Appa aku ingin bertanya .. " Jongin kecil memainkan rumput liar di tangannya.

" Apa sayang? " Aku memainkan beberapa rerumputan sama sepertinya.

" Kenapa bumi ini harus ada kesedihan? " Aku sedikit melirik dirinya, dapat darimanakah kata-kata seperti ini? " Kenapa dunia ini banyak menyimpan misteli? Padahal kan dunia ini indah?"

" Wah, wah pertanyaan yang menarik Kkamjong muda." Aku mengelusnya, dia beranjak dan duduk di pangkuanku. Sepertinya dia mulai mengantuk.

" Hm, Kkamjong muda. Kesedihan di dunia ini akan terasa apabila kau sudah mengalaminya. Tapi, kau masih muda dan memiliki banyak waktu, maka untuk saat ini kau hanya mendapatkan moment terindah saja. Ok? Jangan biarkan sesuatu hal membuatmu menangis, Ok? Yaksokae? " Kelingking kecilnya menggenggam kelingking besarku.

" Yaksok! Appa,aku mengantuk. Mau susu lagi !" Matanya mengerjap pertanda ingin sekali terlelap. Aku mencium matanya dan memberinya botol susu, ia segera mengedot.

" Appa, tapi thampai thapan athu nda thedih? Atu tan udah gedhe." Suara kecilnya sedikit terdengar lucu dengan susu masih banyak di dalam pipinya yang tembem.

" Kalau kau sudah pantas, mendapatkannya sayang. Sekarang tidur, dan tumbuh dewasa. Dan kau pasti akan merasakan kebahagiaan selama-lamanya, karena kesedihan itu tak akan pernah kamu rasakan selama bersama Appa dan Eomma, arrachi?" Apa yang aku bilang ini? Apa dia mengerti ? Ah, biarkanlah. Aku rasa dia mengerti dia adalah anak terlahir pintar bukan?

"Hm, okay." Dia memeramkan kembali matanya

" Kkamjong, kau mengetahui perkataan itu dari mana?"

" Athu menonthon bilem ftv kethukaan bibi themalin, dan olang yang belbicala sepelthi itu telihat tangat khelen. Jadi, aku itu than. " Anak apa ini? Mengikuti film , Oh Tuhanku. Film-film penganggu moral anakku. Menjadi melankolis.

Flash back END

Aku tak ingin kejadian ini merenggut kebahagiaan orang lain. Cukup aku saja yang merasakannya. Cukup sudah. Aku tak ingin orang lain juga merasakan kehilangan. Anak kecil inni harus selamat. Kkamjong muda, Kim Jongin aku akan segera menyusul.

" Awaaas naak!" Aku menerjang anak tersebut, dan memeluknya hingga sedikit terlempar ke pojok jalanan . Semua mata menuju pada pemandangan kami, untung saja truck tersebut sudah berhenti sebelum melindas kaki ku. Dan parade tersebut sedikit terkesiap, dan beberapa shock. Ibu muda tersebut berlari sambil melinangkan air mata.

" Te-terimakasih tuan. Terimakasih. Hiks hiks. Malvin. Kau tak apa-apa nak?" Anak tersebut sedikit shock dan berjalan menuju dekapan ibunya, ikut menangis melihat ibunya menangis.

Supir truck itu mendekati kami.

" Heh, tuan bodoh! Kau jangan membiarkan anak mu berjalan seenak jidat berada di jalan raya!" Supir tersebut sedikit tercium bau alcohol. Ibu sang anak mendekati sang supir, dan bersumpah serapah dan menampar supir truck tersebut. Di bantu para sang saksi mata, dan juga orang-orang dari parade.

" Kau ! Seharusnya tak usah menyetir kalau sedang mabuk !" Supir tersebut sedikit malu, dan pergi. Namun, dicegat oleh warga , dan tidak ingin orang lain menjadi korbannya sehingga para warga menyuruh tukang truck tersebut diam disalah satu toko .

Anak kecil , yang ku ketahui namanya Malvin tersebut mendekatiku yang sedari tadi terdiam. " Tuan? Kau sangat baik sekali, terimakasih. " Senyuman itu persis mirip seperti Jongin , lebih lembut. Sekilas aku melihat sekelebat bayangan Jongin memelukku bersama anak ini. Dan anak ini berbisik. " Appa, kau jangan bersedih kembali. Aku akan selalu belthamamu. Aku sayang sekali dengan Appa, aku dilawat dengan bahagia belthama eomma. Eomma akan sedih melihatmu sepelti ini, Appa." Aku terhenyak dan menatap anak ini. Apa anak ini pengantarku bertemu dengan Jongin-ku?

" Terimakasih, sayang. " Aku mencium anak ini. Dan anak ini pun mencium pipiku balik. Terasa hangat, seperti Jongin-ku.

" Thelamat tinggaal." Anak itu bersama ibunya, melambaikan tangan kepadaku. Ibu tersebut sedikit menunduk. Di seberang jalan aku melihat Taemin, menatapku bingung. Sepertinya dia bingung mengapa aku bisa terdampar di tengah jalan . Aku berdiri dan menghampiri dirinya.

" Aku akan membuka halaman baru, Taemin." Taemin semakin bingung, melihatku. " Mau es krim?" Taemin mengangguk dan kami pergi kembali, berjalan bersama.

Ya seharusnya, aku sudah bisa mengambil hikmah di dalamnya, terimakasih Jongin-ku. Aku akan tetap mengingatmu, dan kau benar kalian akan tetap selalu ada di dalam hatiku. Ada terasa nyaman dalam hatiku kali ini, dan juga aku merasa ada seseorang yang memelukku dari belakang.

" Kau kecelakaan dan bermain bersama Taemin tanpa sepengetahuanmu, Hime." Aku sedikit tersenyum, dan melihat orang yang sedang merangkul pundakku ini. " Jadi, apa yang seru hari ini? "

" Kau, harus mentraktirku dan Taemin es krim, Tuan Yongguk." Aku melayangkan senyum termanis yang ku punya. Yongguk dengan gum smilenya mengangguk menyetujuinya.

" Baiklah, untuk Hime dan Taemin." Kami berjalan bersama. Aku merasa seperti ada seseorang yang terus mengawasiku, dan menjagaku sedari tadi. Dan melihat tangan ini tetap melingkar di bahuku. Seperti kehangatan tadi malam.

Juniel, apa aku boleh mencintai orang lain, hingga kita bertemu nanti?

Author POV

" Hm, ya. Aku akan segera menelisik tentang nya. " Sayup – sayup terdengar suara jawaban dari ponsel tersebut. " Aniya, aseki. Kau tak bisa seperti itu! Cukup, satu orang saja! Jangan mempermainkan dia!" Orang ini mengernyitkan dahinya, pusing rasanya. " Argh, kau tak mendapat namanya? Bukankah, sudahku kirim?" Semakin pusing , ia menggelengkan kepalanya, 'Bagaimana bisa aku mempercayai masalah ini dengan orang tak becus?'

" Kim.. Ya marganya Kim ! KIM HIMCHAN ASEKI! Sudah, nanti aku berikan fotonya, serta profilenya. Kau harus segera membereskan, keparat sialan itu! Segera! " Orang tersebut melempar ponselnya sembarangan, dan terduduk di sofanya yang nyaman.

TOK TOK

" Permisi tuan." Seorang wanita muda, tinggi semampai mendekati lelaki itu. Dengan senyum manis, ia mendekati lelaki tersebut.

" Ada apa? Kemarilah." Lelaki tersebut memangku wanita itu.

" Sepertinya, target beserta perusahaannya akan segera lengser,- " Wanita tersebut mendekap lelaki tersebut di pangkuannya, jari-jarinya bermain di punggung lelaki tersebut dan berjalan menuju tengkuk kepalanya. Sedikit nakal ia juga menjilat cuping telinga lelaki tersebut, dan berbisik. " -, kau akan segera menang, sayang." Lelaki tersebut tersenyum, dan mencium leher wanita tersebut.

" Of course, honey. I'm the only one. And the one. "

Malam yang panjang untuk mereka, sedangkan orang yang sedang di perbincangkan, sedang tertidur manis di dekapan, Guardian Angel.

Sementara itu, di kediaman sepasang kekasih. Tak terdengar suara decitan dan pecahan barang seperti biasanya. Kini, hanya ada keheningan yang sedikit mencekam. Entah mengapa dan kapan tetapi diam seerti ini sudah tak tertahankan kembali.

" Aku ingin berbicara padamu." Ketukan pintu kecil, terdengar setelahnya.

"Masuklah, ada apa?"

"Aku, ingin menanyakan sesuatu padamu." Orang yang baru saja masuk itu, mendudukan dirinya di kasur lembut, yang biasanya ia tempati. Namun, kini ia sudah lama tak tempati kembali. Nyaman, itulah kesan yang tak pernah ia bisa lupakan bila bersama pasangannya.

"Bicaralah, Jung."

" Hm, mengapa kau ingin berpisah dengan ku, Yoo? Aku, aku tak bisa tanpa mu." Suara itu sedikit serak, dia sudah tak tahan di diamkan seperti ini.

" Aku.. "

" Yoo, tatap aku. Aku ingin berbicara serius dengan mu. " Jung, ya Jung Daehyun meminta dan memohon dengan tulus, berbeda dengan dirinya yang terlihat tegar dan kuat, namun kini Ia tak sekuat penampilannya.

" Jung, aku…" Yoo, ya Yoo Youngjae, seseorang yang sangat berpengaruh besar terhadap hidupnya,yang tanpa sadar menjadi seorang pelabuhan untuk hatinya. Daehyun menggenggam tangan Youngjae, erat. Tak ingin terpisahkan kembali. " Jung,kau bisa mencari yang lebih baik dariku. Seperti, Hyung Himchan . Aku, aku tak lebih dari seorang buangan. Dan tak berguna, seperti kekasih kekasih mu, Jung."

Daehyun tergerak mendengar lontaran itu, ia mendekap tubuh mungil Youngjae dengan erat.

" A..ku akan segera pergi Jung, aku tak ingin menyusahkanmu kembali. A-ku hanya parasit. K-au bisa mencari seseorang yang lebih pantas denganmu, dan juga hidupmu akan lebih bahagia dan terurus." Daehyun mengeratkan pelukannya.

" Jangan.."

" A-ku hanya seseorang yang sebentar ada di hidupmu , Jung. Aku tak pantas mendapatkan apapun dari mu , bahkan dari dulu hingga sekarang Jung. Hiks. Aku.. Aku parasit Jung." Daehyun dapat merasakan basah di dadanya, ya air mata dari mata indah Youngjae.

" Jangan kau ucapkan kembali, Yoo. Itu akan menyakiti dirimu, dan diriku. Kau, tau aku lebih baik daripada mereka-mereka itu, Yoo. Merekalah benalu dalam hidup kita. Kau, tak seperti itu Yoo." Daehyun semakin mengeratkan pelukannya, dan tak ingin terpisahkan kembali dengan belahan jiwanya.

" Hiks.. Tapi, mereka benar Jung. Aku tak lebih dari seorang parasite, dan pelacur. Hiks.." Oh, tuhan. Daehyun paling tidak menyukai semua umpatan itu, Daehyun menatap Youngjae yang terus menunduk dan merengkuh di pelukannya.

" Kau tau, semua umpatan itu hanya karena mereka iri, tidak bisa langgeng bersamaku, dan ingin merusak kebahagian kita. Kebahagiaanku, persetan dengan masa lalu mu Yoo. Kau yang terbaik, kau adalah segalanya. Kau tak perlu mendengar segalanya, jangan membuat dirimu tersiksa hanya karena memikirkan hal bodoh itu Yoo! Yoo! Tatap aku,-" Agar kau lihat kesungguhanku, Yoo. "-, Tidurlah. Maafkan aku Yoo. " Daehyun mencium kening Youngjae lembut, dan lama. Youngjae merasakan air mata Daehyun di sekitar keningnya, ia tahu tak hanya dirinya yang tersiksa , namun Daehyun juga sama. Youngjae hanya sedikit tak menerima kembali. Daehyun menyelimuti Youngjae, dan mencium sekilas keningnya dan beranjak pergi dari kamar mereka. Ya, kamar mereka. Namun, sebelum kejadian ini terjadi , dan menghendakinya harus pergi dan berada di kamar tamu.

" Jung, maafkan aku."

Di belahan dunia lain , suara dentuman alunan disko menjadi latar belakangnya. Namun, ada sedikit suara aneh disana. Ya, suara erangan. Ada apa gerangan? Apa yang terjadi? Dan mengapa Himchan menjadi sasaran utama?

Next Chapter

" Hiks. Hiks. Jangan ! Biarkan aku sendiri, Jung !"

" Kau mau kemana? "

" Aku terlihat aneh dengan ini semua bukan? Mianhae, kau boleh membenciku.."

" Aku mencintaimu.. "

Notes :

HEY YO WHASS UP DUDE ! INI PERTAMA KALINYAAAA AKU MEMBUAT 1 CHAPTERED 23 HALAMAAAN HOREEEE ! ( R : APAAN SIH?)

MAAF YAAAAA, KALAU UPDATESNYA SATU ABAD T^T

HEY, AKU ADA ULANGAN DAN KEPERLUAN JUGA HEY T^T

DAN JUGA, SELAMAAAATTTT TAHUNN BARUU~ UNTUK MENEMANI TAHUN BARU KALIAN ._.

AKU MEMBERIKAN INI CHAPTERED SEDIKIT LONG ( R: KEBANYAKAN)

UNTUK YANG COMMENT TERIMAKASIH BANYAAAK~

AKAN TERUS AKU KEMBANGIN ~!

MAKASIH JUGA BAGI YANG TERUS MEMBACA, WALAUPUN GAK DI REVIEW T^T

(R : NYESEK TUH NYESEK, BUAT PANJANG-PANJANG KAGAK DI REVIEW)

HUWEEE GAK APA-APA SIH, CUMAN ADA BAIKNYA DI REVIEW NE?

UNTUK DISINI EMANG, HIMCHANNYA TABU BANGET TENTANG BL ALIAS BOYS LOVE SO, JANGAN HERAN KENAPA HIME ANEH NGELIAT DAEJAE , LAGIAN MEREKA EMANG PASANGAN ABSURD (DI TENDANG DAEJAE SHIPPERS). WELL, UNTUK NEXT COUPLE OFFICIAL KAYAK JONGLO. NEXT AND NEXT CHAPTERED YA, TUNGGU MOMENT YANG CIHUY.

DAN UNTUK EXOSTAN, DISINI EMANG JONGIN DI JADIIN LEBIH IMUT, MUDA BEGIMANA LAH YA =="

OH YA, INI CERITA KALAU ADA COMEDYNYA EMANG DIBUAT UNTUK GARING MEN \M/

BIAR ADA KESAN, KALAU NANTI BUKA INI FF SEGERA GEBUKIN AUTHORNYA BIAR JANGAN TERLALU GAJE (R: EMANG UDAH GAJE SI AUTHORNYE)

DAN UNTUK SELANJUTNYA, MOHON BANTUAN DAN DOA DAN INSPIRASI YOOO~ YOUNGJAE (DI GEBUKIN)

MAKASIIIIH SEMUANYAAAA~

YES SIR ! URI B.A.B! (DI TENDANG)

B.A.P! '-')

_oooOoOooo_

Untuk kesalahan, persamaan nama dan tempat, dan juga typo di tanggung sendiri. Don't copy or plagiatism ^^

Apasih, untungnya memplagiat? Kan kita mempunyai keunikan tersendiri, so make it your ways and improve it ^^