*Episode Sebelumnya

PLUP

Semua organ dalam itu hapir tertarik keluar, Sakura kembali memegang benda bulat sebesar kepalan tanggan.
"Hihihi… Jantung.." Sakura kembali memencet-mencet benda lonjong itu dengan nafsu. Saking kerasnya memencet, jantung itu sampai lompat karena licin.
"Uuuhh… ini sangat licin! Tapi aku suka memainkannya!" ucap Sakura seraya mendekati jantung itu yang terjatuh agak jauh. Tiba-tiba ada bayangan yang lewat di atas kepalanya.

ZEEEPP ZEEEPP

"Kami melihat semua itu, Cherry"
"Hah?" Sakura pun kaget dan langsung menoleh kebelakang. Sakura tetap santai tapi ia perlu was-was.
"Boleh kami ikut bermain?" Tanya orang itu. Wajahnya perlahan terlihat terkena cahaya rembulan dan mereka mulai mendekat.
"Hm? Dare?" Tanya Sakura dingin. Ia mengarahkan pisaunya kedepan.
"Kami adalah –"

.
Crime on The Night

Disclaimer : Masashi Kishimoto

By : Kei EzpeluzNante

Rated : M (Bloody)

SasuSaku . NaruHina

WARNING! OOC. AU. BLOODY SCENE. TYPO.

Chapter 2
.

"Kalian siapa? Jangan coba mengganggu ritual sakral ku ini!" ucap Sakura sinis, cengraman tanganya yang menggenggam benda kenyal dan licin itu semakin kencang melihat mereka berdua.

"Oh ayolah, Cherry... kami tak akan merusak acara mu itu. Itu sama saja sia-sia, benar kan Sasuke?"

"Hn," Dengan posisi dan ekspresi yang tetap, Sasuke merespon pertanyaan Naruto dengan singkat.

"Huuh! Jawaban macam apa itu? Singkat sekali! Wee!" Naruto meledek Sasuke dengan cara mengeluarkan lidahnya.

Sasuke yang tidak memperdulikan ocehan Naruto kini mendekat kearah Sakura sambil mengeluarkan katananya. Perlahan wajah Sasuke terlihat dengan jelas, remang-remang sorot lampu itu memperlihatkan sosok Sasuke.
Sasuke yang mendekat seakan tidak dihiraukan oleh Sakura. Ia tetap stay cool dengan posisinya, hanya saja cengraman pada 'benda merah' yang ia genggam sedari tadi makin kuat sehingga membuat jantung itu mau pecah.
Ketika di depan Sakura, dia mengarahkan katana nya kedagu Sakura. Mata obsidian Sasuke memperhatikan secara detail wajah Sakura, mulai dari rambutnya yang bewarna langka?, mata hijau zambrud nya yang sejuk, hidung mungilnya yang mancung, dan bibir ranumnya yang err –lezat?. Itu semua hanya Sasuke lah yang tau maksudnya.

Sakura kini semakin jengkel karena tingkah kedua orang ini yang seenaknya mengganggu ritualnya. Dan pemuda dihapadannya ini... ntah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat saat dia mendekat kearahnya. Tapi, sakura berhasil menyikapinya dengan stay cool.
"Ck. Kalian ini—"

"Hey, hey, heeey! Cherry kami hanya ingin bergabung. Boleh kan?"

"Are?" ucapan Naruto membuat Sakura tertegun dan kaget. Dalam hatinya dia berfikir untuk apa mereka bergabung? Tidak ada untungnya juga kan?.

"Iya, kami ingin bergabung dengan mu. Dengan profesi membunuh." Bisik Sasuke di telinga Sakura. Hal itu membuat gadis pink ini bergidik bulu kuduknya pun ikut berdiri.

"Untuk apa kalian ingin melakukannya? Apa kalian tidak takut?"

"Cih! Kami? Takut membunuh? Wahahahahaha! Itu lelucon yang sangat lucu!" Naruto tertawa meremahkan pertanyaan Sakura tersebut.

"Kecilkan suara mu itu Naruto! Kau mau ada orang yang tau keberadaan kita?" Sasuke pun geram akan tingkah laku Naruto yang berlebihan.

"Wahaha.. oke, oke. Aku sampai lupa dengan keadaan kita. Jadi, bagaimana sekarang? Apa kau menerima kami Cherry?"

"Hhhh… Kenapa kalian tidak bergerak sendiri? Haruskah aku bersama kalian? Cih! Kalian sangat tidak jelas!" tingkah laku mereka berdua membuat Sakura geram. Sedetik kemudian Sakura melangkahkan kakinya meninggalkan mereka. Tapi, tangannya ditahan oleh tangan kekar Sasuke.
"Aku tak akan membiarkan mu pergi sebelum kau menjawab pertanyaan Naruto tadi." Sasuke menguatkan cengkramannya di tangan Sakura.

"Tch. Haruskah? Merepotkan sekali. Kalau kau ingin jawabannya, jawaban ku adalah –"

.

Hyuuga Mansion

Kini kesunyian menyelimuti mansion megah ini. Orang –orang di mansion ini terlelap dengan nyenyak, masuk ke dalam alam mimpi. Cahaya sang rembulan pun ikut menemani sunyinya malam ini.

TAP TAP SRAAK

Suara langkah kaki dari gadis berambut indigo ini terdengar di sepanjang lorong dirumahnya ini. Langkah sang gadis terlihat diseret –seret. Di tangannya terdapat pisau yang bersimbah darah yang telah mengering. Dia masih berjalan perlahan terus sampai dia tepat berada di halaman depan rumahnya. Kini mata hitam legamnya memandang sekeliling sekiranya ada mangsa disekitar sini.
Ketika Hinata sampai digerbang mansionnya, ia dihalangi oleh dua penjaga mansion. Namun, Hinata hanya memandang mereka dengan tatapan kosong.
"Hinata-sama, anda mau kemana?"

Pertanyaan sang penjaga tersebut diabaikan oleh Hinata. Tak perlu waktu panjang, Hinata langsung menyerang si penjaga dengan pisaunya.

ZRASSSSH

"Hi–Hina–ta-sa ma –"

BRUUUK
Tubuh penjaga itu pun oleng dan terjatuh akibat sayatan lebar di dadanya. Hinata tak memperdulikan siapa yang ia bunuh. Ia hanya menatap korbannya dengan menyeringai lebar sedetik kemudian ia tertawa layaknya melihat sesuatu yang sangat lucu.

"WAHAHAHAHAHA!"

"A–an–da kenapa, Hinata –sama?"
Mendengar penjaga yang lainnya bersuara, Hinata berhenti tertawa dan langsung menoleh ke sumber suara yaitu penjaga tersebut.
Seketika si penjaga langsung ketakutan, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. Badannya pun mulai bergetar tak karuan. Hinata yang melihat gelagat si penjaga hanya tersenyum licik.
Gadis indigo itu perlahan berjalan kearah calon korban-nya tersebut. Yang di dekati hanya melangkah mundur sambil menggumamkan kata 'tidak'.
"Rupanya masih ada yang hidup, eh?"

"Tidak, ti–tidak, jangan bunuh saya Hinata-sama…" si penjaga terus memohon agar ia tak jadi korban selanjutnya.
Tapi, apa daya? Hinata sedang tak sadar bukan? Dan sekarang manik hitam berkilat, batapa senangnya ia ketika melihat liquid merah itu berceceran dimana-mana.
"Sepertinya kalau kau ku siksa perlahan mungkin akan lebih menyenangkan bukan?" ujar Hinata.

"Ja–jangan Hinata-sama! A–aku tidak ingin mati!"

"Hahaha! –Berisiiik!"

CRAAAAT

"Tiiiidaaaakk!"
Darah segar itu muncrat dari lengan si penjaga. Ia berhasil menghalangi serangan Hinata dengan lengannya. Sakit dan nyeri sangat terasa di lengannya, ia terus memegangi lengannya yang terus mengeluarkan darah.
Bercak–bercak darah pun kini mengotori tanah berumput subur ini.
Dengan paksa Hinata menarik lengan penjaga tadi. Dengan satu hentakan keras muka penjaga itu berada dalam jarak 10 sentimeter dari muka Hinata. Penjaga itu dipaksa memasuki manik kelam Hinata yang sarat akan kehampaan.

ZRAAASH

"GYAAA,"
Dengan semangat mengebu-ngebu Hinata menggoreskan pisaunya di pipi penjaga tadi.

ZLEEB!

"AMPUNN!"
Hinata menghunuskan pisaunya dalam dalam ke pipi kiri penjaga tadi. Terus begitu, hingga mata pisaunya mencapai tulang pipi penjaga itu. Rasa ngilu tak tertahankan menghampiri penjaga mansion Hyuuga. Ia meluapkan semua rasa itu dengan satu teriakan keras.

"ARRRGGGGGHHHH!"

"Lebih baik aku selesaikan," Hinata tersenyum psikopat. Lambat lambat ia menghampiri penjaga itu. Sang penjaga hanya bisa pasrah melihat kelakuan Hinata. Ia menunggu hingga ajal menjemputnya.
Hinata berjalan ke arah kepala penjaga itu, menginjaknya perlahan. Air mata merembas dari mata penjaga yang Hinata siksa.

HUP HUP

"ARRGGGGHHHH!"

Hinata dengan tak berperasaanya melompat lompat di atas kepala penjaga yang ia siksa. Ia hanya mempunyai satu tujuan saat ini. Membuat kepalanya pecah menjadi berkeping-keping.

KREEEK

"ARRGGGHH!"

Terdengar bunyi tulang patah dari arah kepala penjaga tadi. Hinata menyeringai seram saat menyadari sang korban tak bernyawa lagi.
"Yap, selesai." Ucap Hinata senang.

.

.

.
Hinata berjalan tak tentu arah ke arah barat daya. Berkali kali ia hampir tertabrak mobil. Ia menatap bangunan megah di hadapannya. Ramai. Itu kesan pertama yang ia dapatkan saat melihat keadaannya.

"Bagaimana aku ingin bermain jika banyak orang," keluh Hinata. Ia hanya berdiam diri di depan pintu masuk.

Banyak orang yang menatapnya dengan tatapan mencemooh. Seakan akan Hinata adalah sampah. Hei, ia berasal dari keluarga terpandang. Hyuuga.
Angin malam melambai-lambai menyapa kaki telanjang Hinata. Mengibarkan rambutnya yang acak-acakan menjadi tambah acak-acakan. Mata hitamnya mendapati balkon kamar yang tirainya di terpa angin malam.
Ia tersenyum menemukan apa yang ia dapat. Dengan minimnya kesadaran ia memanjat pohon Sakura yang berada tepat di sampingnya. Kemudian dengan lihai ia melompat ke arah balkon tersebut.
Samar, ia bisa melihat siluet tiga orang manusia sedang bertatapan tajam. Ia senang mendapati tiga manusia yang sedang saling tatap.
'Aku mendapat banyak mangsa' batinya senang.

*

*Bagian SasuSakuNaru*

"Tch. Jujur saja aku malas meladeni kalian. Kurang kerjaan." Ucap Sakura tajam. Ia menolehkan kepalanya ke arah lain. Bukan. Bukan karena ia takut. Tapi ia tak ingin terjebak lebih jauh ke dalam mata Onyx Sasuke.

'Sial, matanya indah sekali,' batin Sakura. Dadanya bergemuruh hebat.

Hening.

Hening.

Ujung katana Sasuke makin menekan leher Sakura. Sakura hanya diam saja. Meskipun dalam hatinya ia merutuki pemuda tampan keturunan adam ini.
Mereka saling bungkam. Enggan melantunkan suara sehalus sutra mereka masing-masing. Mereka saling bertatapan dengan sengit, saling lempar deathglare andalan mereka. Tak ada yang membuka suara sampai-

GRIIK

-Sebuah suara mengintrupsi kegiatan 'unik' mereka. Kepala berlainan warna itu menolehkan kepala mereka ke arah suara tersebut.
Mata indah mereka mendapati seorang gadis yang sedang menorehkan mata pisaunya ke sebuah dinding yang catnya sudah mulai terkelupas. Penampilan gadis itu bisa dibilang aneh. Rambut indigo acak-acakan, baju tidur berwarna putih, bola mata hitam hampa dan kaki jenjangnya yang tak terlapisi alas kaki.

"Haii~" suara semerdu lantunan Harpa menyapa indra pendengaran sepasang anak Adam dan seorang anak Hawa.

Manik zambrud Sakura membelalak lebar. Bagaimana tidak? Di situ terdapat Hinata Hyuuga, teman sekelasnya yang pendiam sekarang berubah menjadi err- mengerikan.

Sakura tak ambil pusing. Ia hanya diam saja tak mau mengambil masalah dengan gadis cantik keturunan Hyuuga tersebut. Sasuke yang berada di depan Sakura mengernyitkan dahi heran mendapati perubahan mimik wajah gadis itu. Walaupun tak begitu kenatara.

"Hyuuga," desis Naruto, memecah keheningan diantara mereka berempat.

"Kau mengenalnya, Dobe?" Tanya suara baritone nan merdu itu.

"AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN!" Teriak Hinata dalam mode kehilangan kesadaran.

Mata berlainan warna mereka mebelalak kaget saat, melihat lengan mulus Hinata mulai terayun ke atas. Memperlihatkan mata pisaunya yang berkilau di timpa cahaya bulan.

TRING!

Pisau Hinata beradu dengan katana milik Naruto, menimbulkan suara dentingan dari 'alat kematian' yang memekakkan telinga.
Naruto melompat ke samping, menghindari pisau Hinata yang terus menerus mengacung ke arahnya.

"Kalian sedang apa? Cepat bantu aku!" Teriak Naruto kepada Sasuke dan Sakura yang terpaku pada pertempuran Naruto dan Hinata.

"Tch."

"Menyebalkan."
Kedua pasang anak adam dan hawa itu mengambil posisi siaga. Dengan Katana Sasuke dan samurai Sakura yang mengacung tegak.

"BUNUH! BUNUH! BUNUH!" Pekik Hinata kesal, melihat tingkah 'sok Sasuke dan Sakura.
Hinata berlari mengampiri Sakura, menampilkan kilatan mata hitamnya yang dikuasai nafsu membunuh. Sakura mengepalkan tinjunya erat, kedua kaki jenjangnya membuat kuda-kuda.

"HYAAA!"

DUAGH!
Sakura menendang dada Hinata dengan kekuatan sedang. Tubuh Hinata terpental jauh. Sasuke dan Naruto tercengang melihat aksi Sakura.

"Tch, menyebalkan." Ucap Hinata sambil mengusap permukaan bibirnya yang berdarah akibat ulah Sakura tadi. Ia bangkit berdiri, bersiap menerjang pemuda berambut raven yang berada radius 10 meter dari tempatnya berdiri. Hinata menatap Sasuke lekat-lekat. Mengeluarkan tatapan kebencian nan membunuh.

"Apa?" Balas Sasuke me-rolling eyesnya.

"Kau, bersiaplah untuk mati!" Ucap Hinata tajam mengacungkan katanannya-yang entah didapatnya dari mana- di depan muka tampan Sasuke.

DUAGH!

Sasuke melakukan tendangan memutar kepada Hinata, telak mengenai pipi mulus Hinata. Dan membuat Hinata terpental lagi. Namun lebih jauh.

"Hei Teme, dia wanita," protes Naruto tak terima akibat perlakuan kasar Sasuke ke Hinata.

"Tertarik, huh?"

"Mungkin," jawab Naruto memamerkan senyuman aneh andalannya.

"Pertarungan akan dimulai!" Peringat Sakura kepada duo Dobe-Teme yang sedang asik berdebat.

Mereka mulai memencar dan mengambil kuda-kuda.
"Bersiaplah," ucap Sasuke menunjukkan seringai iblis rahasianya.

.

.
Pertarungan mereka berlangsung sengit. Mereka cukup seimbang.
Fajar mulai menyingsing. Dan kesadaran Hinata belum kembali sepenuhnya kembali.

Duaagh

Sakura menonjok pipi kiri Hinata sekuat tenganya. "Itu hukuman dariku, karena menampar pipiku. Cih!" Protes Sakura tak terima karena pipi kirinya di tampar Hinata menggunakan kekuatan penuh.

Hinata bangkit berdiri. Namun sebelum sepenuhnya ia berdiri tengkuknya sudah di pukul Naruto oleh sebuah balok yang entah di dapatnya darimana.
"Cukup sudah. Matta ashita."

DUK

Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Naruto sebelum Hinata kehilangan kesadaran.

"Fiiuuhh… Yang tadi hampir saja.." ucap Naruto seraya mengusap keningnya yang penuh keringat.

Suasana pun hening kembali, Sakura yang sudah tak betah dengan keheningan ini pun bersuara , "Hei, selanjutnya apa?"

Dua pasang mata itu menoleh ke asal suara yang berasal dari gadis gulali itu. Naruto berpikir sejenak, ia kembali melihat gadis indigo yang terkapar di tanah. 'Kalau di tinggal kasihan juga ya? Oke! Akan ku bawa dia ke tempat ku untuk sementara waktu'

"Untuk sementara waktu, akan ku bawa gadis Hyuuga ini ke tempat ku."

"Hm? Baiklah, jaga gadis itu baik- baik." Sakura berpesan kepada Naruto.

"Hn? Kau punya hubungan khusus dengannya" Kali ini Sasuke bersuara.

"Hanya sebatas teman di sekolah"

Sasuke mengangguk atas jawaban Sakura. Sesaat kemudian tubuh mungil Hinata sudah ada digendongan Naruto. Naruto membopong Hinata dengan bridal style.

"Kau tidak mau ikut, Cherry?" ajak Naruto, Sakura hanya menatap bingung.

"Ikut? Masih Jauh kah? Aku cukup lelah hari ini."

"Tidak, tidak jauh" jawab Sasuke.

"Hhhh.. Baiklah. Lagi pula kalau pulang, tak ada yang membukakan pintu untuk ku"

"Oke! Ayo!" Naruto dengan lincah melompat melewati tembok di ikuti Sasuke dan Sakura.

.

.

.

- TO BE CONTINUED -

A/N : Haloow minna! ^^. Maaf kalo updetnya laaamaaaa~ banget! Soalnya kita sibuk banget, mana PR numpuk lagi! Nyebelin deh pokoknya :

Oh iya soal last episode itu, kita sebenernya ingin nulis episode sebelelumnya bukan episode terakhir, gomenne.

Thanks ya buat yang udah ripiu…

Ero Biy, Yuuki Aika Uchiha, Anon, BlueHaruchi Uchiha.

Akhir kata,

Review please