"Merlin" Ucapnya frustasi. Dia melempar bukunya yang biasanya selalu bisa membuat segala beban yang dipikulnya hilang. Tapi kali ini otaknya terlalu lelah untuk mencerna semua permasalahan yang datang bertubi-tubi padanya. Dia memutuskan untuk menonton film Civil War dari Marvel yang sangat disukainya setelah The Avengers dan film yang lainnya. Merasa tidak pas tanpa segelas cokelat panas ekstra marsmallow favoritnya dan popcron keju yang dibuat dadakan olehnya, Hermione meletakan laptopnya di meja depan sofa merah beludru yang menghadap langsung pada satu-satunya perapian di apartmentnya itu.
"Bodo amat dengan apa yang dikatakan si merah Stadfield! Witch Hunter? Tidak peduli!" Rutuknya. Yang dipikirkannya saat ini adalah bersenang-senang melupakan sejenak kepenatan yang dilandanya. Hei, tinggal berapa hari lagi menuju ujian semester? Dia bahkan belum mengerjakan tugas dari Prof. Hatake! Meskipun dia tahu 100% akan mendapatkan nilai A, tapi tetap saja si Hatake itu juga tidak akan segan-segan untuk memberikan nilai C.
Suara letupan popcron menyadarkan lamunannya. Dengan riang, dia membawa secangkir cokelat panas ekstra marsmallow favoritnya dan juga tupperware berisi popcron keju yang wanginya mengundang selera. Kini ruang santai apartment miliknya akan menjadi bioskop kecilnya.
Hermione tertegun melihat apa yang ada di hadapannya, meskipun begitu dia tidak sampai menjatuhkan minuman dan makanan yang kini berada di tangannya. Dia cukup waras untuk tidak bertindak berlebihan seperti di drama-drama Korea favorit Hinata yang membuatnya mendengus entah berapa kali. Meskipun harus diakui olehnya, dia diam-diam ngefans berat dengan Lee Min Ho. Lupakan hal tersebut, kembali pada permasalahan awal,
"Apa yang kau lakukan di rumahku, Malfoy?" Suara Hermione membahana dalam ruangan mini miliknya itu. Sedangkan sang empunya nama hanya meliriknya sekilas dan kembali fokus pada laptop milik Hermione.
"Hei itu tidak sopan!" Hermione dengan kesal menaruh makanan dan minumannya di meja sebelum merebut laptop miliknya dari genggaman si pemuda pirang. Draco tertawa puas melihat ekspresi terkejut Hermione, "KAU—" Geram Hermione.
"Well, Granger, aku tidak pernah mengira kau menyimpan banyak sekali koleksi foto banci dalam laptopmu. Aku hanya membantu laptopmu terbebas dari virus—"
"—VIRUS?! Merlin! Foto-foto Min Ho bukanlah virus, MALFOY!"
"Aku tidak peduli. Menurutku itu tidak ada bedanya dengan virus yang mampu merusak mata, terutama yang kau jadikan wallpaper-mu." Kali ini Hermione menatap wallpaper yang baru disadarinya telah berubah. Jika ini adalah anime, atau komik, mungkin diujung jidatnya sudah muncul gurat kekesalan yang sangat jelas. Sayangnya ini bukan anime atau komik.
"Keluar!" Ucap Hermione tajam. "Apa?" tanya Draco tidak percaya,
"Kurasa teligamu masih berfungsi, Malfoy! Kubilang KELUAR!" Tapi Draco tidak bergeming. Dia diam ditempat memperhatikan Hermione yang kini telah masuk kedalam kamarnya bersama laptop berlambang buah apel tergigit berwarna silver. Draco menghela napas kesal, "Bukan ini tujuanku kemari, Granger." Ucapnya pelan nyaris tidak bersuara sambil mendudukan diri di sofa beludru.
Draco benar-benar tidak paham dengan dirinya itu. Tujuan awalnya dia ingin bertemu dengan gadis itu, mengobrol kecil tanpa pertengkaran, tapi sepertinya hal itu sangat mustahil. Selalu saja berakhir dengan pertengkaran.
Draco mengambil popcron yang berbau keju itu dan melahapnya. "Enak juga." Ucapnya.
.
.
.
You're Granger
[Happy Reading]
.
.
.
Tokyo, 23 Desember 2008
Hermione menatap langit gelap di luar sana. Akan ada hujan lebat hari ini. Dia menenggelamkan kepalanya dalam lipatan kaki panjangnya yang ditekuk. Sekali lagi ingatannya menerawang pada kejadian tadi sore yang menghebohkan apartmentnya, bayangkannya saja sosok yang sangat dihindarinya tiba-tiba berada dalam ruangan miliknya tengah mengobrak-abrik laptop miliknya. Lebih parahnya lagi menghapus semua koleksi foto artis favoritnya! Tentu saja Hermione marah!
Hari ini dia tidak keluar sama sekali, juga tidak menghiraukan berbagai pesan masuk di handphone apple miliknya lewat media sosialnya baik itu LINE, KakaoTalk, BBM, PATH, atau yang lainnya. Dia tidak mau peduli untuk sehari ini. Hermione menghela napasnya pelan.
Suara seseorang yang memasuki jaringan floo miliknya tidak menggubris Hermione dari duduknya. Masih memeluk lututnya, dia mendongakan kepalanya untuk menatap sinis lelaki jangkung berambut pirang platina yang setiap waktunya mulai mengusik ketenangan milik Hermione. "Bawa saja kembali popcronmu dan juga cokelat panasmu itu. Aku tidak bernapsu memakannya." Ucap Hermione tajam. Draco mengusap telinganya mendengar nada tajam itu, tapi bukan Draco namanya jika dia tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Seorang Malfoy tidak pernah diajarkan untuk mengalah terutama pada seorang darah lumpur—Muggle-Born maksudnya. Draco mendekati Hermione dan menarik tangan lemas yang memeluk kedua lutut itu kasar membuat sang empunya tangan tersentak,
"Apa maumu, Malfoy?!" Hermione sedikit berteriak ketika dia berdiri tepat hanya beberapa centi wajahnya dengan wajah Draco yang memang lebih tinggi darinya. Draco menyeringai, "Aku mau kau!" Ucap Draco lantang. Draco mendekap tubuh Hermione, mendekatkan wajahnya untuk kemudian mencium rakus bibir lembut perempuan yang selama ini selalu menghantui pikiran dan hatinya. Jantung mereka berdegup kencang, tapi Hermione masih waras untuk 'meladeni' ciuman paksa dari Draco. Dia mendorong keras bahu Draco meskipun itu tidak berhasil sama sekali, justru Draco semakin mengeratkan pelukannya dan memperdalam ciumannya meskipun berulang kali lidahnya meminta ijin untuk masuk tapi Hermione tidak lekas membukanya. Alternatif lain, Draco menggigit bibir bawah Hermione cukup kasar,
"Akh—" Rintihan Hermione memberikan akses untuk Draco menerobos memasukan lidahnya kedalam mulut Hermione, mengabsen satu persatu gigi rapi yang dulu pernah dibuatnya menjadi besar itu. Merasa pasokan udara menipis Draco melepaskan ciumannya meskipun enggan melakukanya. Tamparan keras mengenai wajah Draco. "Berengsek!" Desis Hermione.
"Ckckck, ayolah Granger, kau menolak cokelat dan popcron pemberianku. Ciuman ini sebagai tanda terima kasihku untuk cokelat dan popcron yang kau berikan padaku tadi sore." Draco membiarkan Hermione yang masih mematung, dan kemudian menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk miliknya. "Owh Granger jangan bilang kalau itu ciuman pertamamu?" Ejek Draco. Wajah Hermione berubah menjadi semerah rambut Weasley dan itu entah kenapa membuat perut Draco serasa dikelilingi oleh ribuan kupu-kupu. "Jadi benar?" Tanya Draco takjub. Dia tidak percaya akan mendapatkan ciuman pertama seorang Hermione Granger.
"KELUAR DARI RUMAHKU FERRET SIALAN!"
BRAK!
Hermione menutup pintu kamarnya dengan sangat kencang diakhiri dengan tawa kencang pula dari seorang Draco Malfoy. "Manis." Ucapnya pelan sambil memegang bibirnya sendiri, entah kenapa kali ini mood-nya 100 kali lipat lebih baik dari sebelumnya. Draco mengeluarkan tongkat sihir miliknya, menyihir cokelat panas dan popcorn miliknya itu untuk tetap hangat sebelum dikonsumsi oleh gadis yang sudah diklaim di dalam hatinya itu.
Sudut bibirnya terangkat membentuk lekukan senyum yang sangat manis, Draco tersenyum untuk yang pertama kalinya selain untuk kedua orangtuanya.
"Goodnight, Mione." Gumamnya sebelum menghilang dalam jaringan floo.
.
.
.
Hari ini tepat satu hari sebelum natal tiba. Kampusnya telah libur dari tanggal 23 kemarin sebelum masuk minggu depan untuk menjalani ujian semesternya. Hermione berencana untuk ke Australia hari ini tapi dia tidak punya uang cukup untuk membeli tiket pesawat, dan juga untuk penginapan di sana. Menyedihkan memang, tapi dia benar-benar ingin mengunjungi makam kedua orangtuanya. Hermione menguap pelan. Semerbak wangi popcron menyapanya di pagi hari yang dingin ini. Seketika wajahnya memerah mengingat kejadian semalam. Dia kembali menyentuh bibirnya, "Oh shit Malfoy!" Rutuknya, tapi segelas cokelat panas dengan marsmallow itu benar-benar menggodanya. Ternyata Malfoy menyihir makanan dan minumannya itu untuk tetap hangat. Gumam Hermione tidak mau terlalu peduli tapi dia tetap meminumnya hingga tandas. Kegilaannya terhadap cokelat panas tidak dapat terelakan.
.
.
Berendam air hangat dengan aroma lavender benar-benar menajakannya. Kulitnya terasa selembut sutra dan juga wanginya sangat nyaman. Hermione tersenyum senang. Sekarang dia berencana untuk membeli beberapa sayuran dan juga daging ke supermarket di lantai 1 apartmentnya. Dia tidak membutuhkan mantel bulu kalau untuk berjalan-jalan di sekitar apartmentnya.
Suara pintu di depan apartmentnya ikut terbuka ketika dia membuka pintunya. Wajah dingin stoic pemuda di depannya membuatnya memutar kedua bola matanya. "Granger." Ucap Sasuke.
Ck, Witch Hunter, eh? Ejek Hermione dalam hatinya. "Apa, Uchiha? Mau merusak pagiku?" Sasuke hanya mengendikan bahu tidak peduli. "Kau sudah merusak pagimu sendiri, Granger. Jangan menyalahkan orang lain." Hermione mendengus, "Bagus sekali, apa kepalamu terbentur sesuatu, Uchiha? Sejak kapan kau berbicara pajang dalam satu tarikan napas, eh?" Pancing Hermione tapi sepertinya Sasuke tidak tertari sama sekali. Dia hanya menyeringai, "Kau peduli?" setelahnya, Sasuke meninggalkan Hermione yang mematung.
Bagaimanapun rasa penasaran dalam dirinya lebih menggerogotinya. Setidaknya dia harus lebih banyak tahu tentang seseorang yang 'mengincarnya' itu. Jika benar Sasuke berniat untuk membantainya, maka Hermione harus memastikannya sendiri bukan dari mulut orang yang belum dikenalnya.
"Tunggu Uchiha—" Teriak Hermione, berlari untuk mensejajarkan langkahnya dengan Sasuke. Tanpa diduga olehnya, Sasuke berhenti, menunggunya. "Hn?" Gumamnya ambigu. Tapi entah mengapa sepertinya Hermione sudah sangat mengerti dengan kata ambigunya itu, "Kau mau ke Supermarket?" tebak Hermione. "Hn." Jawab Sasuke tidak mengelak ataupun membenarkan.
"Kebetulan sekali. Aku juga ada keperluan yang harus dibeli." Mereka berjalan beriringan menuju lift. Bunyi dentingan lift, dan beberapa orang keluar dari dalam sana. Seorang lelaki berambut platina menatap terkejut melihat Hermione yang berdiri di depan lift.
"Granger." Ucapnya pelan. Hermione tidak menghiraukan Draco. Dia berjalan untuk memasuki lift sebelum tangannya ditarik keluar oleh Draco. "Tidak bisakah kau tidak menghiraukanku, Granger!" Hermione meringis, "Aku tidak punya urusan denganmu, Malfoy." Draco tidak menghiraukan hentakan tangan dari Hermione. Dia tetap memegang erat tangan gadis tersebut yang kini mulai memerah. Dentingan lift yang menandakan sudah ditutup tidak membuat Draco melepaskan gengamannya. "Akh—" Hermione kembali meringis dan menatap tangannya,
"—Lepaskan. Dia ada urusan denganku." Draco memalingkan wajahnya untuk menatap sang empunya suara. Dingin dan dalam, wajahnya 'pun tidak mengeluarkan ekspresi sama sekali. Draco menatap sinis Sasuke, "Urusanmu dengannya itu termasuk urusanku juga!" Desis Draco tajam.
"Malfoy kau ini apa-apaan!" Kali ini Draco melepaskan tangannya, Hermione mengusap-usap tangannya yang kini sedikit ada memarnya. "Ayo Sasuke sebelum keburu siang." Ucap Hermione pelan. Sasuke mengangguk dan mereka menghilang dibalik lift yang kini kembali menutup.
"SIALAN!" Rutuk Draco menonjok dinding di belakangnya. Tidak memperdulikan lengannya yang kini mulai terasa ngilu.
"You're Granger, you're mine." Ucapnya pelan bagai mantra tersendiri untuk membuatnya tenang.
.
.
"Kau berhutang padaku, Granger." Sasuke mendorong troli yang akan digunakannya untuk mengisi kebutuhan dapur miliknya diikuti Hermione yang sama-sama mendorong troli di sampingnya. "Aku tahu, Uchiha." Hermione menghela napas pelan. Dia mengernyitkan alisnya ketika Sasuke berhenti di tempat buah-buahan. Dia mengambil banyak sekali buah tomat. "Kurasa kita punya kesukaan yang sama, Uchiha." Gadis berambut cokelat ikal lembut itu mengambil beberapa tomat, jauh lebih sedikit dibanding milik Sasuke. "Apa? Kau tahu, uangku tidak akan cukup untuk membeli keperluan yang lainnya jika membeli tomat sebanyak yang kau beli." Ucap Hermione kesal saat Sasuke menatapnya seperti itu.
Tapi Sasuke tidak menjawab Hermione sama sekali. Mereka kembali mengitari isi supermarket untuk mengisi keperluan dapurnya masing-masing.
.
.
"Totalnya 100ribu yen." Ucap kasir saat memberikan belanjaan milik Hermione, "Pakai kartu kreditku." Jawan Sasuke enteng. Sang kasir hanya mengangguk dan mengambil kartu kredit milik Sasuke.
"Apa-apaan kau! Aku bisa membayarnya sendiri, Uchiha!" Hermione berucap histeris ketika lift mereka sampai pada lantai tempat di mana kamar apartmentnya berada. "Sama-sama." Jawab Sasuke sekenannya. Hermione tersipu malu, "Y-ya terima kasih Uchiha tapi—" Sasuke menatap kedua bola mata cokelat Hermione dalam. "—Jangan menatapku seperti itu!" Hermione segera masuk kedalam apartmentnya dan menggumamkan kata 'Alohomora' untuk menguncinya.
"Merlin! Kenapa si Uchiha itu—"
"Sudah cukup bersenang-senangnya, Granger?" Hermione menghempaskan tubuhnya di sofa beludru merah miliknya tidak menghiraukan laki-laki yang kini memunggunginya dan menatap cuaca di luar sana. Hermione memijat pelipisnya, "Tahukah kau, Granger, sifatmu seperti wanita jalang yang berganti pasangan setiap waktunya!" Napas Hermione tercekat, apa katanya? Matanya memanas,
"Jaga ucapanmu, Malfoy!" Draco mendekati Hermione dan memegang rahang Hermione kasar, "Jaga kelakuanmu, Darah-Lumpur! Meskipun kau bermain-main dengan lelaki sesama muggle, kau tetap berdarah lumpur!" Tangan Hermione hendak menampar pipi mulus Draco tapi tangan pemuda itu lebih lihai dan menariknya kedalam dekapannya sebelum melumat kasar bibir Hermione.
Tendangan di perutnya berhasil membuat Draco melepaskan tangan dan ciumannya. "Kau tahu, Malfoy, aku memang Darah-Lumpur dan sampai kapanpun status darahku akan berada jauh di bawahmu, para Darah-Murni! Tapi, aku tidak pernah bersifat seperti wanita jalang yang berganti pasangan setiap waktunya! Pulanglah, Malfoy dan jangan lagi menginjakan kakimu di apartementku, apartment seorang Darah-Lumpur. Aku lelah, jangan mengangguku." Hermione mengambil belanjaannya dan menaruhnya di dapur. Tidak menghiraukan keberadaan Draco yang kini mematung, menyadari kesalahannya,
"Granger aku—" Hermione memasuki kamarnya meninggalkan Draco dalam penyesalannya.
.
.
Bersambung
Hallo, selamat malam. Mohon maaf untuk update-nya yang telat. Kesibukanku dalam menyiapkan berkas-berkas untuk daftar ulang ke kampus benar-benar membuatku frustasi. Bayangkan saja, sekolahku tidak mau untuk mengganti skala nilaiku yang 0-10 ke 10-100! Ah sudahlah, kok malah curhat ya? Hhehe..
Terima kasih untuk yang masih setia mengikuti alur ceritanya. Kritik dan sarannya ditunggu di kolom review ya, terima kasih :)
Salam hangat
Meris shintia
