Yang terpenting adalahh.. MAAF kalu banyak TYPO! *bow

Kuroko no basuke bukan milik saya

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Saya mah minjem tokohnya aja

"kau tahu [name]? kau bisa 'mencoba'nya denganku jika kau mau."

Mana bisa aku percaya begitu saja.

"perlu kubuktikan kalau aku sudah ahli dalam hal 'itu'? atau kau perlu sesuatu yang lebih meyakinkan dari perkataanku barusan?" ia menyilangkan tangan di depan dada. Kepalanya terangkat tinggi. Sedang ia masih memandangku dengan alis teragkat.

Bahagia itu sederhana. Sama seperti makan roti melon.

"jangan rakus-rakus." Sebuah suara menyahut datar. Aku menoleh pada sumber suara. Betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dia…

"Midorima-san?"

Alis manusia berambut hijau lumut itu tertaut.

"bagaimana bisa kau tahu namaku, nodayo."

"…nodayo?" aku membeo sambil menelengkan kepala.

kini salah satu alisnya naik. Ia membetulkan letak kacamata. "itu ciri khasku. Ada masalah?"

"oh tidak tidak. Aku hanya terkejut. Ciri khasmu unik sekali. Aku suka!" senyumku merekah. Melihat wajah Midorima membuat hatiku tenang. Apalagi baunya itu, segar sekali. aku sudah bilang, kan? Meski sedikit tercium asam keringat, tetap saja menyegarkan.

"ha? Kau bicara ap—"

"[name]." suara lain menyahut.

Aku baru akan membayar bungkusan rotiku ketika sosok kecil bertubuh boncel itu muncul. Sudahku katai kecil, boncel pula :v jahat sekali aku ini.

"kelihatannya kau tidak senang melihatku." Ia menyilangkan tangan di depan dada. Tatapan teduhnya hilang enyah kemana. Malah menatapku dengan mata menyipit seakan dia meng-adili-ku.

Setidaknya menurutku begitu.

"mana bekalmu, [name]?" Akashi makin meng-intimidasi-ku dengan tatapan dinginnya.

"di tas,"

"kenapa tidak kau makan?"

"aku tidak suka,"

O-oy, aku tidak melakukan apa-apa, oke? Lalu apa-apaan matamu itu!

"pstt.. berani sekali anak itu membentak Akashi-sama! Hidoii."

"iiihh.. tidak tahu diri!"

Aku mendengus kesal ketika beberapa gadis berbisik keras. Mana ada bisik-bisik sekeras itu! Aku membatin kesal.

"nee.. Akashi-san, kamu mau makan bekalku?" kalau sudah begini, cara paling efektif adalah..

NYOGOK.

"aku tidak level makanan murahan."

GAH!

Mulutku sukses menganga. Ini bukan Akashi yang tadi pagi menawariku belajar!

"pede sekali!" entah kenapa, mulut ini bicara sendiri. Padahal sudah ku usahakan agar dia tetap diam. Kalau begini aku hanya bisa membisu karena tatapan manusia itu makin menyeramkan. Apa ini? Akashi marah padaku?

"ikut aku [name]. sebaiknya pembelajaranmu kumulai sekarang. Tidak ada waktu sampai besok tiba."

"ha? Nggak nggak! Aku gak mau! Kalo besok ya besok. Kamu kan janjinya besok! Bukan sekarang." aku refleks berbahasa Indonesia. Untuk apa aku pakai bahasa jepang jika Akashi mengerti bahasa Indonesia.

Mulanya aku nggak percaya. Apa lagi ketika aku baca tulisannya i.

Note:

sebagai tetangga, aku akan mengajarimu bersosialisasi. Akan ku ajari kau dengan bahasamu.

Helloooww.. siapapun nggak akan percaya! Terutama aku! Masalahnya adalah, dia pakai kalimat Indonesia. INDONESIA!

Dia nihon-jin (orang Jepang) O-rang Je-pang! Asli!

please, mana mungkin dia punya skill bahasa Indonesia.

"kubilang ikut aku."

Aku mundur selangkah.

Suaranya sedatar papan gilas. Ekspresinya tak terlihat main-main. Hal itu sukses membuatku gentar. Maka aku segara mengekornya setelah membayar lunas tumpukan rotiku. Asal tahu saja, aku tidak suka nunggak utang.

"chotto matte [name]."

Oh, aku lupa masih ada Midorima di sini.

"kenapa kau bisa kenal Akashi?" di dahinya terdapat kerutan. Membuatnya terlihat sedikit lebih dewasa.

"kami teman sekelas."

"…"

Kenapa mendadak diam?

Dia mau mengikuti motto hidupku kah?

Diam adalah emas.

"kusarankan kau menjauh dari Akashi. Dia di besarkan di keluarga yang jauh berbeda denganmu. Bahkan aku juga. Tidak seharusnya kau menjalin hubungan dengannya." Midorima terdengar kesal.

"tapi bukankah kalian sama-sama dari kalangan elite?"

"ya, tapi keluargaku tidak se-istimewa keluarga Akashi."

Mereka benar-benar dari keluarga konglomerattt! Sekolah macam apa ini? Aku tidak percaya aku bisa masuk sini—meski sebenarnya tidak ingin. Sekarang aku teringat maksud gadis-gadis itu saat mereka mengatakan bahwa mereka beruntung.

"benarkah? Ah gawat. Nanti cerita padaku lagi ya, sekarang aku harus menyusul dia. Jaa nee.. Midorima-san."

Kususul anak itu secepat kubisa, dan disinilah aku.. duduk bersandar pada tembok sambil merelakan akashi tidur di pangkuanku.

Jangan tanya kenapa hal ini bisa terjadi. Karena tidak ada yang tidak mungkin!

Nyatanya ini betulan. Orang itu benar tidur di pangkuanku. Aku bahkan bisa dengar dengkurannya. Ia tampak pulas. Badannya miring ke samping, sehingga aku tak bisa melihat wajahnya.

Masalahnya sekarang, bel masuk sudah berbunyi. Bukannya pulang ke kelas, dia malah beralasan pada guru sedang ke UKS. Padahal sesungguhnya dia—maksudku kami—tengah berada di atap sekolah. Tempat paling terlarang.

Aku pun harus rela 'meminjamkan' pahaku sebagai bantalan sebagai bayaran atas usahanya. Cih, usaha macam apa? Kita saja belum mulai belajar! Lagipula, perjanjiannya adalah besok.

"[name],"

Dengkuran akashi tergantikan oleh panggilan.

"hm?"

"kau benci padaku?"

Aku harus jawab apa?

"…tidak ada alasan untuk benci padamu, akashi-san."

"benar juga, sulit membenci orang baik sepertiku."

GAHH!

Pede sekali.

"mau bicara pakai bahasa Indonesia denganku?" inilah yang dia tawarkan padaku tadi pagi.

"bukankah aku sudah bilang akan memberimu waktu seminggu?"

"…"

"benar juga," dapat kurasakan ia tersenyum. Meski tak terlihat, aku bisa memastikan hal itu. Akashi bergerak sedikit. Kini kepalanya mengarah padaku. Posisi tubuhnya pun berubah.

"hanya seminggu, Akashi-san." Kupasang wajah se-serius mungkin. Namun detik berikutnya tertawa cekikikan, geli atas perbuatanku barusan.

"kau tahu, [name]? boku wa anata no koto itsumo egao ni shitai."

"Akashi-san! Pakai bahasa Indonesia! Ingat perjanjian kita?" sesungguhnya aku tak begitu mengerti maksud perkataannya. Dia ingin membuatku tersenyum? Benarkah itu?

"tentu, [name]." ia kembali berbalik memunggungiku.

"akashi-san kamu mau sampai kapan di sini?"

"minimal pulang sekolah."

"kalo ketahuan guru? Mau tanggung jawab?"

Akashi berbalik lagi, bahkan ia sampai bangun dari pangkuanku. Kemudian ia mencengkram bahuku kuat. Seakan aku benda paling berharha.

"tenang saja, aku sudah alasan pada guru piket." Tatapannya kembali melembut. Selembut saat pertama kami bertemu.

DEG

Detak jantungku seakan berhenti. Di tatap dengan mata seindah rubi, Juga seteduh rerimbunan pepohonan membuatku sesak nafas. Aku tak sanggup menerima tatapan seperti itu!

Hari beranjak sore. Bel pulang sekolah telah lama berdentang. Akashi masih pulas di pangkuanku. Tampaknya ia tak terganggu.

"akashi-san? Sudah sore kamu nggak mau pulang?" aku menggoyang punggungnya sedikit. Takut dia tersinggung.

Tak ada respon.

"akashi-san?"

Aku menggoyang bahunya sedikit keras.

"sebentar lagi, [name]. sudah lama aku tidak tidur senyenyak ini." Aku langsung membisu manakala ia menggesekkan kepalanya pada pahaku selayak kucing.

Ya Ampun! Lihat wajah bangun tidurnya itu! Rasanya seperti ada sesuatu yang menggelitik dalam perutku.

"akashi-san!"

"panggil aku seijurou."

"ha?"

"ini pelajaran pertamamu. Bukankah sudah kubilang akan kumulai hari ini juga?"

Dahiku berkerut. Terkadang aku bingung pada perubahan sikap Akashi. Di satu sisi dia baik, kekanakan, usil, jail, lemut, eh lembut, dan berbudi pekerti luhur. Sangat menampakkan bahwa dia dari kalangan orang elite. Tapi disisi lain dia …

"kau berpikir macam-macam tentangku ya [name]?"

ASTAGA! Aku lupa Akashi sedang menatap mataku!

Tak ada gunanya berbohong. Pikirku sambil memejamkan mata. Tak ingin lelaki itu membaca pikiranku lebih jauh lagi.

"y-yaa.. aku hanya berpikir, mungkin kau punya 2 kepribadian.. em.. mungkin." Aku menggigit bibir, takut akashi makin marah padaku. Sesungguhnya aku tak mau kejadian beberapa jam lalu terulang.

"aku orang yang lembut, sama seperti perkiraanmu. Tapi aku akan marah jika sesuatu berharga milikku di usik orang lain. Aku orang paling egois di dunia. Aku bahkan bisa membunuh jika di perlukan… Doushita? Kau takut padaku setelah aku bercerita seperti itu?"

Takut?

Aku justru merasa kasihan.

Dia tidak akan begitu tanpa alasan jelas. Pasti telah terjadi sesuatu sehingga menyebabkan dia memiliki 2 kepribadian begini.

"nee.. aka—"

"seijurou."

"baiklah, seijurou. Kamu mau jadi temanku?" kalimat itu meluncur mulus. Suatu saat nanti, meski terpuruk, aku ingin bisa ada di dekatnya, mendukung dia agar tak melakukan tindak kriminal. Bisa saja, suatu waktu dia kehilangan kesadaran lalu membunuh orang. Lagi pula aku selalu sendirian.

"kau tahu rasanya di kurung dalam sangkar?"

aka—, maksudku seijurou— tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Aku diam tak menanggapi. Tepatnya menunggu kelanjutan kalimat itu. Namun tak ada satu kata pun keluar bahkan setelah 2 menit menunggu.

"selama ini aku hidup dalam sangkar. Tempat yang kusebut rumah, sudah bukan rumah lagi untukku. Aku merasa tak di anggap. Dimana pun aku berada, mereka selalu menatapku dengan tatapan sama. Aku adalah seorang penerus keluarga Akashi. Hmph, aku sampai muak mendengar namaku sendiri."

Ekspresiku belum berubah. Ia menghela nafas berat. Beban yang di pikulnya pastilah berat. Ia hidup dan besar dalam keluarga 'istimewa' seperti pernyataan midorima. Keistimewaan yang di lihat dari sudut pandang orang lain merupakan suatu anugrah. Tapi tidak. Aku tahu benar hal itu. Aku juga pernah merasakannya.

Baik dianggap istimewa, atau..

Terkurung dalam sangkar...

Aku tahu betul bagaimana rasanya.

"ibuku sakit." Ia melanjutkan. Kurasakan pahaku panas karena hembusan nafasnya. Kemudian, basah karena… air mata?

"sei.."

"mungkin waktunya tak banyak. Dia wanita paling berharga di hidupku. Aku tak bisa kehilangannya."

Kembali setetes air mata membasahiku. Itu pasti sangat sulit untuknya.

"kau tahu, sei.. setiap masalah pasti ada hikmah didalamnya. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu saat nanti pasti kamu akan berterima kasih karena masalah itu pernah ada di hidupmu. Dengan begitu kamu bisa menjalani hari sambil mengenang kejadian yang telah lalu tanpa sedikitpun menyesalinya."

Aku tersenyum. Menepuk kepala seijurou lembut. Dia tak akan melihat senyum ini, tapi aku yakin dia bisa merasakan bahwa aku ikut menyemangatinya, tentu dengan caraku sendiri.

"aku pernah menyesal karena sekolah di sini. Sampai tadi, kupikir lebih baik pulang ke Indonesia. Namun pada akhirnya aku memutuskan akan tetap di sini. Setidaknya sampai aku lulus. Hehe.."

Sei menoleh. Matanya sedikit sembab.

Tepat setelah aku berpikir demikian, ia memalingkan wajah.

"ahaha.. malu karena ku katai matamu sembab?"

"kau tak berhak berkata begitu."

"jangan belaga tsundere.." tsundere adalah tipe paling menggemaskan menurutku. Dia tahu aku benar, tapi dia mengelak.

"berjanjilah kamu tidak akan membunuh orang, ya sei." Aku bermaksud bercanda, tapi tatapan sei berubah drastis.

"aku akan membunuh siapapun yang berani menyakitimu. Siapapun."

Tooo beee continueeee..

Wkwkwkwk.. teringat perkataan seseorang yang tak bisa di sebutkan namanya.. :v

Aku harus bilang apa? Fic inii.. entahlah.. BAZENG sekaliii….!

Yang bikin aja ampe ketar ketir nulisnyaaa..
Akashi-kunnnn… 3

Well.. gimana? Lanjut? Hapus? *ih sayang banget mau diapus.. mending kalian review aja biar dilanjutt.. X3 /*bunuh authorrrrrr/*dihajar massa/*rame-rame ngelempar author ke got Nyahahahahahaha.. yak sekian..

Maaf untuk beberapa pihak! karena belum memuaskan kalian, terima kasih pada para readers sudah rela meluangkan waktu bagi fic abal2 inii.. lup u all.. /3/

Mind to

Re-vi-ew? :3