Apa mungkin aku telah jatuh cinta padamu?
.
Can We Become Together?
Naruto and the characters © Masashi Kishimoto
Well, enjoy!
"..ke..suke..Uchiha Sasuke!"
"buuh..uhukk..uhukk..Apa yang kau lakukan Gaara?! Jangan berteriak di telingaku seperti itu!"
Gaara mengambil tempat kosong disebelah Sasuke, kemudian mendaratkan pantatnya. "Aku sudah memanggilmu dari tadi tapi kau tak menyahut," ujarnya sambil memandang Sasuke yang masih sibuk mengelap jas sekolahnya, yang kena tumpahan jus tomat gara-gara dia tersedak.
"Tidak biasanya kau melamun." Gaara mengalihkan perhatiannya ke atas, menatap helaian sakura yang jatuh dari dahan pohon. Pohon sakura besar di halaman belakang sekolah memang tempat favoritnya untuk bersantai di jam istirahat seperti sekarang.
Sasuke melirik salah satu sahabatnya yang minim ekspresi sama seperti dirinya—tapi mungkin tak sama lagi untuk akhir-akhir ini. Sasuke kembali menghadap ke arah rerumputan kosong didepannya. Entah kenapa belakangan ini dia semakin sering teringat oleh sosok pria muda berambut pirang itu. Dan anehnya, setiap kali memikirkan si pirang dia merasa dadanya sedikit sesak. Hhh.
"Sasuke, kau sedang jatuh cinta?" tanya Gaara dengan mimik datar. Untung saja Sasuke tak sedang makan atau minum apapun, bisa dipastikan dia akan tersedak lagi kalau itu terjadi.
"Kenapa kau tanya seperti itu?" ujarnya setenang mungkin.
"Kau jadi sering melamun dan tiba-tiba menghela nafas dengan wajah memerah, mirip seorang gadis yang tak bisa berhenti memikirkan pujaan hatinya, jadi benar kau sedang jatuh cinta?" Gaara masih saja mempertahankan intonasi dan ekspresi datarnya.
Sasuke diam sesaat, lalu mendengus. "Aku tak tahu," jawabnya lirih.
Kalau dari kecil Gaara diberi les khusus untuk berekspresi, mungkin saat ini dia sudah menertawakan sahabatnya itu. Setahunya pemuda yang menyandang nama Uchiha Sasuke ini tak pernah ragu dengan semua perasaan, tindakan atau semua masalah yang dihadapinya. Tapi lihat dia sekarang, mirip seperti gadis yang sedang dilema saja. Menggelikan.
"Itu semakin menguatkan pendapatku kalau kau memang sedang jatuh cinta."
"Hn," ujar Sasuke sambil memalingkan wajahnya. Sepertinya saat ini Ia tak berniat—atau tak mampu—mengelak pendapat Gaara.
Tak lama Sasuke bangkit dari posisi duduknya, kemudian seringai samar terbentuk di bibirnya. "Aku kembali ke kelasku dulu."
"Um"
"Tidak ada pesan untuk Neji tersayang? Mungkin aku bisa menyampaikannya," goda Sasuke.
"Sial kau Uchiha," jawab Gaara dengan pipi sedikit memerah.
"Oh, atau kau mau tukar kelas denganku?" tanya Sasuke dengan muka datar.
"Urusai, cepat pergi sana!"
Sasuke makin menyeringai melihat ekspresi sahabatnya itu. "Jaa," ujarnya pelan sambil melangkahkan kakinya menjauhi Gaara.
Dan seringai Sasuke langsung lenyap tergantikan oleh wajah memerahnya ketika ia teringat bahwa sebentar lagi adalah waktunya mata pelajaran bahasa Inggris, yang berarti dia harus bertemu dengan si pirang, Uzumaki Naruto.
.
.
Seorang guru muda yang dikenal dengan nama Uzumaki Naruto terlihat sedang semangat menjabarkan rumus sebuah tenses di depan kelas, berkebalikan dengan salah seorang muridnya yang kelihatan depresi di samping jendela.
'A..apa ini, apa yang sedang terjadi padaku...ukh,' pikir Sasuke frustasi sambil sesekali melirik guru bahasa Inggrisnya di depan kelas. "Sasuke, kau sedang jatuh cinta?" tiba-tiba pertanyaan Gaara terngiang di telinganya.
'Gaara sialan, kenapa dia bertanya seperti itu'
"Uchiha." Sebuah suara dari depan kelas mengalihkan pikirannya. 'Di-dia memanggilku!' jerit Sasuke dalam hati.
"Yes, Sensei?" sahut Sasuke sambil berusaha menenangkan perasaanya.
"Read page 32, Story number 1, pharagrap 3 please"
Sasuke berdiri dan mulai membaca bukunya. "In winter season, she met with the tinker and she was falling in lo-" mendadak Sasuke teringat lagi oleh pertanyaan Gaara tadi. Dan tiba-tiba dia merasa lidahnya kelu untuk mengucapkan kata love itu.
Sasuke mencoba lagi membaca deretan kata yang ada dibukunnya, "Falling in lo-" "in lo-"
Naruto dan beberapa murid mulai mengalihkan perhatiannya kearah Sasuke yang masih mencoba melanjutkan kalimat yang ada dibacaan, termasuk Neji yang duduk di sebelah Sasuke.
"Falling in love, kan? Sasuke?" ujar Neji yang bermaksud membantu menyelesaikan kalimat Sasuke.
Wajah Sasuke mendadak memerah kemudian berkata dengan setengah berteriak kearah Neji, "Bukan! Belum tentu aku falling in love! Tapi aku juga tidak tahu apa yang.." Sasuke segera sadar dan menghentikan perkatannya ketika melihat wajah heran semua murid kelas 2-3 plus tatapan takjub Neji Hyuuga. 'Gah, apa yang kubicarakan!' teriak Sasuke dalam hati.
Tanpa Sasuke sadari Naruto sudah berdiri di samping meja Neji—yang terletak di sebelah meja Sasuke. "Apa Kamu sedang sakit Uchiha? Wajahmu sedikit memerah."
"Saya tidak apa-apa Sensei, sumimasen," ujar Sasuke sambil membungkuk hormat kepada Naruto.
Tuk. Naruto memukulkan ujung bukunya pelan kepuncak kepala Sasuke. "It's fine," ujarnya sambil tersenyum. "Take a seat Uchiha, okay next, Aburame," lanjut Naruto sambil berjalan ke depan kelas lagi.
Sasuke menghela nafasnya panjang setelah merasa nyaman duduk di kursinya, kemudian dia segera sadar kalau dari tadi Neji masih saja memandangi dirinya, seolah Sasuke adalah objek yang sangat menarik untuk diamati—atau memang seperti itu kenyataanya.
"Apa? Jangan memandangiku seperti itu Hyuuga, menjijikkan," ujar Sasuke pelan.
"Ho ho, sepertinya ini makin menarik," bisik Neji kepada dirinya sendiri.
"Hn? Kau bilang apa?"
"Tidak ada, jangan pedulikan aku"
"Hn" gumam Sasuke sambil mengalihkan perhatiannya kearah buku di depannya.
.
.
Sasuke melirik kearah jam tangannya, waktu sudah hampir menunjukkan pukul setengah enam sore. Sekolah usai hampir 3 jam yang lalu, tapi sekarang Ia malah terjebak di lab sains yang berada di gedung 3 sekolah. Hatake Kakashi, guru fisikanya meminta bantuannya untuk membersihkan dan menata ulang seluruh ruang lab. Dan sialnya sang guru malah pergi karena—katanya—ada urusan penting.
Ia menatap kearah kaca jendela di ruangan itu, langit sudah berubah menjadi jingga gelap di luar sana. Kemudian Ia melihat ke sekeliling ruangan. "Akhirnya selesai juga," katanya lega.
Setelah meletakkan alat kebersihan di tempatnya Ia segera bergegas pulang.
Suasana gedung 3 sekolah sangat sepi saat itu, dan langit di luar sana sudah menggelap. Lampu-lampu di gedung 3 memang tidak pernah dihidupkan jika sudah malam. Hanya ada cahaya dari luar atau gedung sebelah yang samar-samar menyinari sebagian koridor di gedung 3.
.Tap
Terdengar suara kaki dari ujung lorong di depan Sasuke. Sasuke menyipitkan matanya. Tapi cahaya dari luar gedung tidak membantu sama sekali. Akhirnya Ia menghentikan langkahnya, menanti sosok itu datang.
.
.
Halo minna~ gomen update-nya lambaat sekali, i can't online on pc nor update via phone orz /kamungomongapa
Maunya saya jadikan satu chapter, tapi karena rasanya kepanjangan jadi saya jadikan dua chapter dan saya update sekaligus. Hehe/janganketawa.
