.
.
.
.
.
"Drabbes of Our Daily Life"
Chapter 3 : Brother in Law
Rate : T
Romance, Friendship, Family, Humor
Kagerou Project doesn't belong to me, it belongs to Shizen no Teki-P.
.
.
.
.
.
"Tadaima!" kata Ayano dengan riang.
"Okaeri onee-chan," kata Kido yang kemudian menatap orang yang dibawa kakak angkatnya itu ke rumah mereka, "oh, halo Shintaro."
"Yo Kido, maaf mengganggu," kata Shintaro.
"Aku mengundangnya makan malam ke sini karena tidak ada orang di rumahnya, dan daripada dia sendirian di rumah, lebih baik dia ke sini," kata Ayano.
"Dia yang memaksaku," kata Shintaro.
"Habisnya, Shintaro pasti langsung membuka komputernya kalau tidak kuajak ke sini."
"A-apa salahnya kalau aku membuka komputerku?"
"Kebiasaan hikkineetmu akan muncul dan kau akan mengacuhkanku selama berhari-hari."
Shintaro langsung terdiam seribu kata.
Tiba-tiba pintu kamar yang berpapankan 'Girls' Room' terbuka dan menampilkan sosok seorang Kozakura Mary.
"Ah, Ayano-chan sudah pulang," panggil Mary, "Shintaro, selamat datang."
"Aku pulang, Mary-chan," tanya Ayano sambil mengelus kepala Mary, "bagaimana harimu?"
"Sepanjang hari ini... A-aku hanya membuat bunga kertas, tapi baru sedikit..."
"Kalau begitu, nanti malam aku akan membantumu membuatnya," kata Ayano.
"U-uhm, arigatou Ayano-chan. Seto belum pulang?" tanya Mary.
"Hmm? Biasanya dia selalu pulang agak malam kan?" tanya Ayano.
"Kemarin dia sudah berjanji padaku untuk pulang cepat," kata Mary sambil memainkan rambutnya.
"Kano mana?" tanya Shintaro.
"Aku menyuruhnya berbelanja bahan makanan, tapi..." kata Kido.
"Tapi?" tanya Shintaro.
"SUDAH 2 JAM DIA TIDAK KEMBALI!" teriak Kido.
Dan tepat saat itu juga pintu rumah terbuka lebar, Kano Shuuya berdiri di sana sambil menenteng tas belanjaan dengan wajah yang berseri-seri.
Melihat sosok pemuda berambut blonde itu, Kido langsung mengambil gunting yang berada di dekatnya.
"Ta-da-i- WH-WHOAAAA! Hampir saja kau membunuhku dengan gunting itu, Tsubomi!"
"Ke mana saja kau?! Aku hanya memintamu membelikan bahan-bahan untuk kari, dan kau tidak kembali selama 2 jam!" teriak Kido sambil menonjok perut Kano.
"I-ittai... Lalu, apa Tsubomi merinduka- UAGH!"
Kido menonjok lagi perut Kano untuk kedua kalinya.
"Kano Shuuya, kau benar-benar ingin mati?" tanya Kido.
"Kalau aku mati karena dipukul olehmu, aku tidak keberatan, karena pukulan Tsubomi adalah tanda cintany- Aduh! Ampun Kido, maafkan aku! Aku hanya bercanda," teriak Kano sambil tertawa walau Kido mencubit pinggangnya.
"Kalau kau begini terus, lama-lama kau bisa benar-benar mati, Kano," kata Shintaro.
"Tidak apa-apa kok, Kano kan masochist," kata Mary sambil tersenyum.
Shintaro memandang Mary sambil termenung.
"Bagaimana bisa gadis berwajah malaikat ini punya pemikiran seperti itu... Dunia memang penuh misteri."
"Shuuya, sini berikan tas belanjaannya, hari ini aku yang buat makan malamnya," kata Ayano.
"Onee-chan, hari ini giliranku kan?" kata Kido mengingatkan.
"Hari ini spesial, karena ada Shintaro di sini," kata Ayano sambil tersenyum.
Awalnya Shintaro tidak mengerti kata-kata Ayano, namun butuh beberapa detik untuk memproses kalimat tersebut. Tak lama kemudian, wajah Shintaro memerah dan ia memalingkan wajahnya.
"Se-sesukamu saja," kata Shintaro.
"Baiklah, aku akan langsung memasak, kalian santai saja dulu," kata Ayano dan bergegas pergi ke dapur sambil menenteng tas berisi berbagai macam bahan makanan untuk membuat kari.
Setelah Ayano telah menghilang dari antara mereka berempat, ketiga orang lainnya memandang Shintaro.
"Ayano-chan sangat menyukai Shintaro, ne?" kata Mary.
"A-apa?!"
"Onee-chan bahkan sampai mengundangmu untuk makan malam hari ini," kata Kido.
"Hei Shintaro," panggil Kano.
"Ha?"
"Sepertinya kami harus membiasakan diri dengan fakta bahwa kaulah yang akan menjadi kakak ipar kami di masa depan," kata Kano.
Shintaro memalingkan wajahnya, berusaha menutupi wajahnya yang memerah. Di saat itulah, pintu rumah kembali terbuka.
"Tadaima," kata Seto.
"Okaeri Seto!" kata Mary yang bergegas memeluk Seto.
"Kau pulang cepat hari ini?" kata Kano.
"Dia sudah janji pada Mary untuk pulang lebih awal," kata Kido.
"Oh, halo Shintaro-san. Kau datang hari in- kau sakit? Wajahmu memerah hebat," kata Seto.
"Wajahnya begitu karena onee-chan," kata Kido.
"Eh? Maksudmu?"
"Lupakan kata-katanya!" kata Shintaro.
"Hei, hei, Seto, apa menurutmu Shintaro akan menjadi kakak ipar kita?" tanya Kano sambil memperlihatkan cengiran khasnya.
"Oi Kano, stop!" teriak Shintaro dengan wajah yang memerah.
