Konichiwa... Mina-san, gak sangka kalo pertarungan chapter 1 kemarin banyak yang suka... kebanyakan masuk di emailq sih ^^ (yang merasa, lho)...makasih yang dah mau komen and review...Arogatou...
Aku emang rencana update kilat, coz takut nek inspirasiq ilang...=.=a
Ok mina-san...Happy reading!*.*
.
.
SHACKLES
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing : NejiSasu, NaruSasu
Genre : Romance and Hurt/Comfort
Warning! : BL, Shounen-ai, Shoujo, OOC, death chara, AU
'
.
Chapter 2
.
.
.
.
.
Shinigami Tobirama terus menarik cakra negatif Juubi dan memakannya, lalu Shinigami Minato mengambil cakra positif. Juubi meraung merasakan tubuhnya menyusut karena cakranya dihisap paksa. Apalagi Madara yang menahan sakit luar biasa, dengan membentuk segel tangan dia mulai membuat Juubi memberontak. Melihat pemberontakan Juubi, Hashirama kembali mengeluarkan Mokuton naga-naga kayu membelenggunya. Naruto dan Neji segera berlari, melompat menuju Juubi.
Dari atas Naruto membentuk Rasensuriken kembali, menyerang tepat di tubuh Madara.
"Rasakan ini, brengseekk!" Naruto hampir saja mengenai tubuh Madara jika saja ekor Juubi tidak menamenginya.
Neji membentuk segel tangan. Berlahan dari sekeliling tubuhnya, muncul air bercahaya biru keperakan. Jutsu Elemen air seperti milik Tobirama, tapi berbeda. Neji mengarahkan jutsunya menuju bawah tubuh Juubi, membuat banjir.
"Elemen air, duri kematian." bersamaan dengan ucapan jutsu Neji, air itu bergelombang dan membentuk duri-duri es runcing raksasa, menusuk ke tubuh Juubi dari bawah.
"GGRRUUAAAKKHH!"
Juubi meraung hebat. Duri-duri es Neji berhasil menusuk perutnya hungga menembus ke punggung, mengeluarkan banjir darah.
Naruto terkaget, 'Sejak kapan Neji menguasai jutsu elemen air?' batinnya melirik Neji.
Para Kage dan para Ninja gabungan juga terkejut, jutsu elemen air Neji hampir setara dengan Nadaime. Sejak kapan Neji bisa mengendalikan elemen air selain jutsu dengan Byakugan dari Klan-nya?
Tsunade, Sakura, Kakashi, dan teman-teman Konoha lainnya segera menoleh kepada Gay, selaku Jounin pembimbing Neji dulu. Tapi yang mereka dapat adalah wajah yang sama terkejutnya dengan mereka saat ini.
"Gay, apa kau tahu tentang jutsu elemen air Neji?" tanya Tsunade.
Jounin berambut hitam mangkuk itu menelan ludah, "Maaf Tsunade-sama, aku bahkan baru tahu jika Neji bisa melakukan jutsu itu. Selama ini dia tidak pernah menunjukkannya." jawabnya.
Mendapat jawaban itu, Tsunade menatap Hyuuga Hiashi yang didampingi kedua putrinya, Hinata dan Hanabi. "Apa anda tahu?"
Hiashi menggeleng, "Tidak, setahuku tidak ada penguasa jutsu elemen air di Klan kami. Apalagi gulungan jutsu air. Kami semua tidak tahu tentang ini." Hinata dan Hanabi mengangguk.
"Kau tahu tetua Hyuuga, jutsu elemen air bocah itu hampir setara dengan Nadaime di sana. Sepanjang yang aku tahu hanya Nadaime yang bisa mengendalikan elemen air terhebat di dunia Ninja. Kau beruntung." kata Raikage.
"Benar, dia hebat juga bisa merahasiakan jutsu-nya selama ini." tambah Mizukage tersenyum.
"Hahaha...Kelihatannya kau harus memberi perhatian khusus pada para ninja muda Konoha lainnya. Mungkin masih banyak ninja berbakat seperti dia, Hokage." tutur Tsucikage tertawa.
"Haah aku tahu itu..." desah Tsunade kesal.
Gay, Ten Ten, dan Lee tersenyum mendengarnya.
Kembali ke arena pertarungan dalam kekkai raksasa yang dibangun Shodaime Hokage. Setelah serangan yang dilancarkan Neji barusan, mampu membuat gerakan Juubi melemah. Hashirama menambah belenggu Mokuton naga kayunya di tubuh Juubi.
Tobirama melirik Neji yang memunggunginya tak jauh darinya. "Hooi, jounin muda."
Merasa dipanggil, Neji menoleh menemukan Tobirama yang menatapnya. Dia mengangkat sebelah alisnya menanggapi tanpa bicara.
"Elemen airmu mengalir cakra Yin dan Yang aliran Hyuuga, setahuku tidak ada pengendali cakra air di Klan itu. Dari mana kau mempelajarinya?" tanya sang Nadaime.
Neji terdiam sesaat, "...aku menemukan gulungan jutsu elemen air dan es di negeri kabut, lalu aku juga menemukannya di gudang perputakaan Hokage. Aku mulai mempelajarinya sekitar 4 tahun lalu dan mengembangkannya."
Naruto terkejut "Tapi aku tidak pernah tahu tentang kau yang mempalajari jutsu itu?"
"Sekarang bukan saatnya membahas itu, ada musuh yang harus kita kalahkan segera." ujar Neji mengelak.
Madara menggeram kesakitan, tubuhnya serasa di cabik-cabik. "KUBUNUUH KALIAANN!"
Juubi memberontak keras, mengalirkan cakranya yang tersisa ke naga-naga kayu yang membelenggunya. Kemudian menghancurkannya. Juubi bergerak melepas tusukan duri es Neji, dan berhasil. Dengan menggeram keras, Juubi mengibaskan ekornya, siap menerjang mereka.
Minato dan Tobirama tidak bisa menahan gerakan Juubi terpaksa melepas tarikan cakranya, hingga membuat Shinigaminya selesai menghisap cakra. Naruto dan Hashirama berlari berlawanan, Naruto ke kiri dan Hashirama ke kanan. Neji kembali merapalkan segel tangan elemen airnya. Menciptakan gelombang air besar menyerang target. Juubi tertubruk gelombang air Neji, terseret menjauh ke belakang. Hashirama mengeluarkan Mokutonnya, membentuk tombak-tombak besar mencoba menghujamkannya ke tubuh Juubi. Tapi Juubi bisa menggelak dengan menembakkan peluru bijuu. Naruto melompat ke atas disusul Sasuke di belakangnya.
"Apa yang kau lakuakan, Teme?!" teriak Naruto menoleh Sasuke di sebelahnya. Harusnya pemuda raven itu belum mampu bergerak lebih jauh karena lukanya.
Sasuke mengabaikan pertanyaan Naruto, dia mengeluarkan Chidorinya. "Satukan dengan Rasensuriken-mu Dobe! Jadikan ini serangan terakhir!" balasnya.
Naruto tidak membuang waktu lagi. Segera dia membentuk Rasensuriken dan mengarahkannya ke Chidori Sasuke mempersatukannya. Menghasilkan Rasensuriken berkilat listrik biru. Mereka turun ke bawah menyerang tubuh Madara dari depan.
Madara membentuk segel tangan, mengendalikan Juubi membentuk Bijuudama raksasa. Bersiap menghadapi serangan Naruto dan Sasuke. Juubi menembakkan Bijuudama-nya, disambut dengan serangan Naruto dan Sasuke. Rasensuriken-Chidori bertubrukan dengan Bijuudama. Saling adu kekuatan di udara. Naruto menambah kekuatannya dengan cakra Kyuubi agar tidak kalah dari peluru hitam raksasa itu. Berlahan Bijuudama hitam itu terkikis dan menghilang, membentuk jalan terbuka bagi Naruto dan Sasuke menjatuhkan Rasensuriken-Chidori-nya langsung ke tubuh Juubi dan Madara.
"NNGGGRRRAAAHHHH!"
Raung Juubi luar biasa terkena serangan itu. Tubuh Juubi menggelepar, mengibaskan kesepuluh ekornya keras. Madara yang terkena langsung, tidak bisa membuat tameng cakra. Di sela-sela serangan itu, Madara memanggil jutsu Mokuton tanpa segel tangan. Dari dalam tanah basah yang diinjak Juubi muncul banyak sulur kayu. Menyerang Naruto dan Sasuke dari belakang. Tidak menyadari, serangan itu sukses menembus tubuh Naruto dan Sasuke tanpa pertahanan.
"Naruutooo!"
"Sasuukee!"
Minato dan Juugo berteriak. Neji membentuk jutsu mengalirkan airnya ke batang sulur kayu Madara. Kemudian membekukan dan menghancurkannya. Dengan gesit, Hashirama dan Juugo berpindah menangkap tubuh Naruto dan Sasuke yang jatuh dari ketinggian.
Dapat dilihat oleh mereka, Naruto terluka di dada kiri dan perutnya. Dia terbatuk darah hebat, merasakan jantungnya yang sepertinya tertembus tadi. Sasuke juga terbatuk darah, lukanya bertambah di kaki paha kanan dan bahu kanannya.
Minato dan Tobirama yang berlahan berubah jadi debu karena efek Shinigami, menghampiri mereka disusul Neji. Minato merendahkan tubuhnya, menggenggam tangan putranya erat.
"Naruto bertahanlah...!" teriak Minato meminta.
Naruto hanya merintih kesakitan. Matanya terpejam erat. Dia tidak mampu menjawab panggilan samar dari Minato yang terdengar di telinganya.
Neji kembali menghujamkan duri-duri es raksasa ke tubuh Juubi telak. Dibantu Hashirama mengeluarkan benteng kayu raksasa menahan Juubi bergerak lebuh jauh.
"Dengan ini kau berakhir Madara..." gumam Hashirama sambil membentuk segel tangan.
Dari bawah tanah yang diinjak Juubi, muncul pentagram berpedar ungu bertulis bahasa kuno. Berputar berlahan. Kemudian dari pentagram itu muncul sulur-sulur hitam. Bergerak mengikat cepat tubuh Juubi, dan menariknya paksa masuk ke dalam pentagram.
"Apa...hh..yang kau lakukan...Hashi...?" tanya Madara tersenggal kesakitan.
Berlahan tubuh Hashirama berubah jadi debu, dia tersenyum menjawab, "Aku akan membawamu bersamaku, ke dunia yang damai tanpa kekacauan..." Hashirama melirik para Kage dan ninja-ninja gabungan di luar kekkai. "Sejarah kita akan diteruskan oleh mereka..." gumamnya berganti menatap Naruto dan Sasuke yang terbaring lemah dari kejauhan.
Sasuke bisa merasakan tubuhnya mulai kaku, nafasnya tidak beraturan. Pandangannya mulai menggelap ketika dirasa jantungnya berdebar keras. Disela-sela kesakitannya, dia dapat merasakan kehangatan yang mengalir berlahan ke tubuhnya. Menggerakkan kepalanya ke samping berlahan, dia samar melihat wajah Neji yang menatapnya. Neji menggenggam tangan kirinya erat.
"Bertahanlah Sasuke, sebentar lagi..." kata Neji. Dia mencoba mengalirkan cakranya ke tubuh Sasuke.
Walau tidak jelas, Sasuke dapat melihat ekspresi sedih, sakit, dan kekhawatiran terpahat di wajah Neji. Dia juga bisa melihat sepasang mata lavender indah itu berair. Tangan Sasuke terlalu lemah untuk membalas genggaman itu.
Berlahan dia mengalihkan pandangannya ke Naruto yang terbaring di sampingnya. Dilihatnya mata Naruto terpejam, nafasnya mulai melemah.
"Naruto!" Minato terus memanggil Naruto, tidak peduli pada tubuhnya yang berlahan jadi debu.
Sasuke mencoba menggerakkan tangan kanannya meraih tangan kiri Naruto. Dengan lemah akhirnya dia bisa meraih tangan itu. Sasuke tidak menyadari orang di sampingnya yang memandang dengan sedih dan terluka ketika melihat Sasuke melakukan hal itu.
Sasuke memejamkan mata, mungkin inilah akhirnya. Tapi tidak, ketika Sasuke membuka matanya kembali dia memasuki dunia hitam yang gelap tanpa cahaya.
.
.
.
.
.
Sasuke berdiri di tempat gelap yang asing baginya. Tubuhnya bersih tanpa darah dan luka. Dia menoleh ke kanan-kirinya. Tidak ada apa-apa. Hanya kegelapan pekat sepanjang mata memandang.
"Di mana...?" tanyanya.
"Kau ada di duniaku..."
Sasuke terkejut mendengar jawaban suara berat asing di telinganya. Dengan waspada, dia memandang ke depan. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya. Tubuhnya diselimuti cahaya putih, dikelilingi kelopak bunga yang berputar berlahan. Pria itu berambut putih panjang dan memakai jubah panjang dengan kalung Tomoe hitam.
"...Siapa kau?"
"Kau bisa memanggilku Rikudo Sennin."
Sasuke terkejut, Bagaimana bisa seorang legenda pendiri dunia Ninja muncul di hadapannya?
"Kau bercanda.. Rikudo Sennin sudal mati berabad-abad lalu!" elak Sasuke tidak percaya.
Sang pria yang mengaku dirinya Rikudo Sennin itu tersenyum, "Yah.. wajar kau tidak percaya..." Pria itu terkekeh kecil, "Aku meninggalkan sebagian cakraku di tubuh Juubi, agar aku bisa bicara dengan orang yang membawa darah dagingku,"
Sasuke menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti. Walau dia tidak percaya, tetap saja dia mendengar apa yang dibicarakan orang tua itu.
Mendapat respon itu, Rikudo meneruskan, "Kau keturunan Klan Uchiha, pengendali kekuatan mata Sharingan. Kau membawa darah Uchiha keturunanku."
"Bagaimana kau tahu aku dari Uchiha?" tanya Sasuke kembali.
"Karena kedua anakku adalah Senju dan Uchiha." Jawab Rikudo. "Aku muncul dalam dirimu berkat aliran cakra kita yang sama. Dengan bangkitnya Juubi aku tahu apa yang terjadi pada dunia Ninja saat ini."
"Kau datang untuk apa?"
"Membantumu..."
Sasuke menyerngitkan alisnya, menatap tajam. "Membantu? Sayangnya kau terlambat. Juubi sudah mati dan menghilang tadi. Kau juga pasti tahu itu."
Sang legenda Ninja itu tersenyum kembali, "Bukan... aku datang menawarkan sesuatu padamu."
Sasuke terdiam, menunggu pria itu melanjutkan perkataannya.
"Kau tidak ingin pemuda pirang yang menjadi wadah Jinchuuriki Kyuubi itu mati, 'kan?"
Sasuke melebarkan matanya terkejut. "Kenapa kau...?"
"Sudah kubilang cakra kita sama, jadi aku bisa membaca aliran cakramu beserta hatimu." Rikudo menjawab. "Aku akan mengabulkan keinginanmu...sebagai balasan karena kalian telah mengalahkan Juubi dan menyelamatkan dunia ini."
Merasa keinginannya akan terkabul, Sasuke menjawab cepat. "Kalau begitu selamatkan dia! akan kuberikan apapun, bahkan mata dan nyawaku!"
Rikudo terdiam sesaat, "Antusias sekali. Kenapa? Apa artinya dia bagimu...?"
"Karena Naruto pantas mendapatkannya. Dia adalah cahaya penyelamat kami."
"...Kau mengelak, ya. Aku tanya artinya dia bagimu, Uchiha Sasuke."
Sasuke terdiam kembali, menundukkan wajahnya, "...Apakah aku harus menjawabnya?"
"...Tidak juga, aku sudah tahu. Tapi mungkin memang lebih baik kau mengatakan padanya agar dia menjadi orang pertama yang mendengarnya." Rikudo menjelaskan.
Sasuke mengangkat wajahnya, memandang tajam pria itu kembali. "Kalau begitu lakukanlah!"
"...Ada syaratnya..." Rikudo tersenyum tenang.
"Apa?! Sudah kubilang akan kuberikan apapun!" teriak Sasuke tidak sabar. Jika dia membuang waktu lebih lama lagi, mungkin Naruto tidak akan kembali.
"...Berikan Jantungmu padanya..."
Jantung?, "...Apa itu cukup?"
Rikudo melebarkan matanya sedikit, terkejut kecil. Tidak lama dia kembali tersenyum. "Kau benar-benar berniat mati untuknya ya..."
"Karena dia berharga untukku..." Jawab Sasuke mantap. Mata Onyxnya berkilat tajam kesungguhan. Dia sudah mengambil keputusan.
Rikudo Sennin menghela nafas, "Sebenarnya sebagai keturunan Uchiha terakhir, aku ingin kau hidup sempuna. Tapi jika memang itu keinginanmu dan itu satu-satunya jalan, akan kukabulkan."
Rikudo mengangkat tangan kanannya. Dari telapak tangan itu muncullah cahaya kehijauan.
"Aku akan mengambil jantungmu untuk kuberikan padanya. Kau tidak akan mati. Kau tetap bisa hidup karena masih punya jiwa dan energi kehidupan. Hanya saja umurmu tidak akan sampai 30 tahun..." terang Rikudo. "Atau lebih tepatnya aku akan 'mengambil'-mu saat jiwa dan energi kehidupanmu sudah habis."
"Aku bisa hidup tanpa Jantung?"
Cahaya hijau dari tangan Rikudo menghilang. Sebagai gantinya Sasuke merasakan panas dan sakit yang seperti tertusuk di dada tempat jantungnya berada. Ketika Sasuke membuka bajunya, dia bisa melihat tato berbentuk 9 Tomoe hitam melingkar tergambar di kulitnya.
"Itu adalah tanda bahwa kau mahkluk yang mustahil hidup, jantungmu ada di tubuh bocah pirang itu. Setelah waktu habis aku akan membawamu pergi menuju dunia 'atas'." jelas Rikudo.
Berlahan muncul cahaya menyelimuti tubuh Sasuke, membawanya menghilang berlahan.
"Kita akan berjumpa lagi."
.
.
.
.
.
"Cepat Siapkan Tandu! Bawa yang terluka ke tenda medis!" teriak Gaara memerintah ninja lain melakukan tugasnya.
Setelah kekkai runtuh para Kage dan ninja gabungan lainnya berhasil masuk. Para Kage diserahi tanggung jawab penuh, untuk mengurus Naruto dan Sasuke beserta kekacauan paska perang berakhir oleh Shodaime, Nadaime, dan Yodaime Hokage sebelum menghilang sepenuhnya bersama Juubi dan Madara.
"Narutoo! Sasuke! Bertahanlah!" Sakura berteriak. Dia dan Tsunade mengalirkan cakra bantuan ke tubuh Naruto, dibantu Ino yang mengalirkan cakra ke tubuh Sasuke yang didampingi Neji.
"Cepat siapkan tempat untuk membantu Haruno-san mengobati mereka!" teriak Mizukage.
"Tsunade-sama!"
"Kita perlu cakra tambahan! Bagaimana dengan Sasuke?!" Tsunade menoleh Ino yang mengurus Sasuke.
"Sasuke juga, keadaannya kritis!" jawab Ino.
"Percuma...Kita harus segera membawa mereka ke tenda medis, untuk penanganan khusus." ujar Tsunade.
Para Anbu Konoha segera datang, mengangkat tubuh Naruto dan Sasuke lalu membawanya ke tenda medis. Teman-teman dari Konoha beserta Hokage segera mengikuti mereka. Para Kage lain dan Ninja gabungan mengurus kekacauan paska perang serta memberi kabar pada desa mereka, bahwa mereka menang dan perang dunia Ninja berakhir.
Neji masih tinggal di tempat itu, dia memandang teman-temannya yang mengikuti Naruto dan Sasuke dari kejauhan. Sebelah tangannya terkepal erat, hingga buku-buku jarinya menancap di kulit telapak tangannya. Dia menggigit bibir bawahnya. Rasa perih di hatinya tidak kunjung padam, sungguh sakit.
"Apa yang kau lakukan, Sasuke...?"
.
.
.
.
.
Kawasan tenda medis yang terlindung oleh lebatnya hutan itu sangat ramai. Banyak orang-orang yang terluka dirawat disana. Ditambah para ninja medis yang mondar-mandir untuk mengobati pasiennya. Para Jounin dari gabungan berbagai desa yang tidak terluka menjaga di sekeliling kawasan itu. Mencegah jika masih ada musuh yang ingin menyerang. Walau perang selesai belum tentu ketegangan itu berakhir.
Seperti halnya yang terjadi di sebuah tenda besar yang berada di dalam kawasan itu. Teman-teman dari Konoha duduk menunggu. Menunggu dengan gelisah, cemas dan khawatir. Bagaimana keadaan kedua pemuda itu saat ini? Itulah yang ada di dalam benak mereka sekarang.
Di ruangan yang sama dengan tenda itu, terbaring dua tubuh yang saling bertolak belakang di dua ranjang berbeda. Naruto dan Sasuke. Wajah mereka berdua sangat pucat, hidung dan mulut mereka terdapat selang bantuan pernafasan. Tubuh mereka penuh luka yang sekarang ditangani oleh Tsunade dan Sakura, dibantu Shizune dan Ino.
Tsunade terus mengalirkan cakra pada tubuh Naruto, sedang Shizune memilih mengobati lukanya. Hokage cantik itu memfokuskan cakranya di dada kiri pemuda rubah, sempat dirasakannya jantung Naruto berdetak lemah karena tertembus tadi. Dia menggigit bibirnya dari dalam. Ada kemungkinan Naruto tidak selamat, tapi dia tidak mau pesimis. Tsunade akan tetap mencoba menyelamatkannya.
Sakura dan Ino mengobati Sasuke. Sasuke terluka parah hampir di sekujur tubuhnya, mulai dari bahu kiri dan kanannya, dada, perut, paha kaki kanan dan kaki kirinya. Sungguh keajaiban bila Sasuke selamat dari keadaannya sekarang, itulah harapan Sakura dan Ino. Ketika tangan Sakura berpindah ke dada Sasuke, matanya terbelalak lebar.
"Tidak, tidak mungkin..."
Ino menoleh mendengar suara Sakura yang bergetar lirih. "Ada apa Sakura?"
"Ino, cepat ambilkan alat kejut jantung. Sekarang!" teriak Sakura.
Mendengar nada mutlak Sakura, Ino segera mengambil alat itu. membawanya ke samping Sakura secepatnya. Tsunade dan Shizune terkejut. Jika alat itu sampai keluar berarti...
"Sakura, apa yang terjadi pada Sasuke?!" tanya Tsunade agak tinggi.
"Aku tidak merasakan jantungnya berdetak Tsunade-sama! Tidak sama sekali!" jawab Sakura panik sambil menyiapkan alat kejut jantungnya.
"Sakura, biar aku ambil alih Sasuke! Kau dan Ino bantu Naruto memulihkan cakra dan lukanya disini!" perintah Tsunade.
Tsunade dan Shizune berpindah menggantikan posisi Sakura dan Ino sekarang. Sakura dan Ino melaksanakan tugasnya untuk melanjutkan pemulihan Naruto. Benar, ketika tangan Tsunade meraba dada Sasuke, dia tidak menemukan sedikitpun detak jantung di sana. Merasa frustasi, dia mengambil alat kejut jantung dan meletakkannya di dada Sasuke.
"Ayolah bocah Uchiha...jangan mati!" geram Tsunade, sambil berkali-kali menghujamkan alat itu. "Naruto membutuhkanmu...!"
Shizune yang mengalirkan bantuan cakra menggigit bibir bawahnya. Luka di tubuh Sasuke sangat parah, tapi samar-samar dia merasakan cakra asing yang mengalir di tubuh pemuda itu. Cakra positif, 'Cakra siapa ini?' tanyanya dalam hati.
.
.
.
.
.
Sementara di tempat bekas peperangan terjadi, yang masih terlihat kacau dan hancur, Neji berdiri di sana. Pemuda berambut coklat gelap panjang terikat yang tubuhnya sedikit terluka itu berdiri sendirian. Dia masih berdiri di tempat terbaring Sasuke tadi. Wajah tampannya tertunduk menatap tanah.
Berlahan dirasakannya tetesan air menusuk kulitnya yang tertutup pakaian, dia menengadah beralih menatap langit mendung. Menyambut ribuan jarum air yang turun sedang membasahi bumi. Hujan. Membuat tubuhnya basah kuyub.
"...Kau masih di sini rupanya." ujar suara yang akrab di telinganya menyapa dirinya.
Neji menoleh, mendapati sepupu perempuan yang setahun di bawahnya berdiri sambil membawa payung tradisional, mencegah hujan membasahinya.
"...Kenapa kau di sini?... Harusnya kau menunggui Naruto di tenda sekarang.." tanya Neji.
Hinata terdiam sesaat, "Kau juga harusnya menunggu Sasuke, 'kan? Nii-san?"
Neji terdiam, hingga hening menyelimuti mereka berdua. Hanya suara hujan yang terdengar mengiringi keheningan itu.
"...Aku tidak tahu..."
Hinata terdiam menunggu.
"...Aku tidak tahu apakah aku harus menunggunya, selagi orang yang ingin kutuggui itu tidak menyadari perasaanku..." jawabnya bergumam.
Hinata tahu, bagaimana perasaan pemuda di depannya ini. Pasti campur aduk. "...Walau begitu setidaknya dia tahu keberadaanmu di sisinya...Neji-nii..."
Neji tersenyum sendu pada sepupunya, "... kau gadis yang kuat.."
"Karena aku sudah mengalaminya bertahun-tahun..." Hinata tersenyum menghampiri Neji, bermaksud memayungi pemuda yang terlihat putus asa itu. "Ayo kita kembali... mereka perlu dukungan kita..." lanjutnya.
Neji tersenyum menutup mata. Dia mulai berjalan mengikuti Hinata di sampingnya, menuju tempat di mana Naruto dan Sasuke berada.
.
.
.
==========TBC==========
.
.
.
Yoosh! Chapter ini selesai... lebih sedikit dari yang lalu ...apakah seru? Jelek? Nggantung?
Hehehe Gomen ne aq kurang bisa menggambarkan keadaan...^^"
Review please! :3
.
.
