"Hai cantik, rupanya kelas kita bersebelahan ya," sapa seorang namja dengan nada menggoda, yang Luhan kenal sebagai teman setimnya yang berwajah menyebalkan kemarin.

"Benar-benar kebetulan yang menyenangkan," kata Luhan sambil tersenyum, padahal dalam hati menggerutu habis-habisan.

"Namaku Henry. Kemarin kita belum sempat berkenalan secara langsung, iya kan?" kata namja itu lagi sambil mengulurkan tangannya.

"Luna—Xi Luna" Luhan menyambut uluran tangan namja itu, dan sialnya namja bernama Henry itu sepertinya tidak berniat melepaskan tangan Luhan. Sambil tersenyum aneh dan menggenggam tangan Luhan, Henry terus menatap wajah cantik Luhan.

"Er—bisa kau lepaskan tanganku?"

Henry melepaskan tangan Luhan sambil nyengir. "Ah—maaf, aku terlalu bahagia bisa menggenggam tangan bidadari cantik sepertimu."

Luhan benar-benar ingin muntah jika terus menerus bersama namja menyebalkan ini dan segala rayuan bodohnya.

"Baiklah Henry-ssi, aku mau masuk kelas dulu," pamit Luhan berusaha menghindari Henry, tapi Henry dengan cekatan memblokir pintu kelas Luhan dengan tangannya.

"Hei, kenapa buru-buru? Bel masuk masih lama, aku kan masih ingin mengobrol denganmu, princess," rayu Henry lagi. Siapa saja tolong Luhan yang tengah mati-matian menahan mual di perutnya karena rayuan bodoh Henry.

"Kau beruntung sekali tahu, bisa masuk tim dengan mudah, biasanya si bocah berwajah besi itu susah sekali menerima orang baru dalam tim, apalagi kau yeoja—"

"Yah—mungkin karena menurutnya aku memiliki kemampuan," kata Luhan percaya diri..

"Atau karena kau sangat cantik—" Henry mulai lagi dengan rayuannya. "Aku dulu sering melihatmu sih, tapi aku tidak tahu kalau dari jarak dekat kau secantik ini."

Luhan hanya memutar bola matanya, sudah malas menanggapi Henry.

"Pokoknya dalam seminggu ini kau harus berusaha keras, aku akan jadi orang yang berada di garis depan untuk mendukungmu masuk tim," oceh Henry berapi-api. Luhan hanya tersenyum kikuk.

Bel masuk berbunyi.

Luhan menghela nafas lega. "Baiklah, kali ini bel masuk benar-benar sudah berbunyi"

Henry menyingkir dari pintu kelas Luhan dengan berat hati. "Ehm—boleh tidak aku meminta sesuatu hal?" tanya Henry sebelum beranjak menuju kelas XII-2, kelasnya.

"Apa itu?" tanya Luhan sedikit curiga.

"Mulai saat ini panggil aku oppa" kata Henry sambil agak malu-malu.

Luhan nyaris membenturkan kepalanya ke tembok, frustasi dengan namja bodoh didepannya ini, mereka sama-sama namja dan mereka seumuran. Tapi ia menyuruh Luhan memanggilnya oppa? Sungguh menggelikan dan lebih ke arah menjijikan sebenarnya.

"Er—tapi kita seumuran Henry-ssi" Luhan berusaha menjawab setenang mungkin.

Henry menggaruk tengkuknya dengan kikuk. "Iya sih, tapi aku akan sangat bahagia kalau kau mau memanggilku oppa, karena aku—"

"—menyukaimu!" teriak Henry sambil berlari ke kelasnya.

Luhan sweatdrop. Sungguh ia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya sekarang antara kasihan, tidak tega, dan sedikit jijik pada Henry. Tapi sudahlah, anggap saja yang Henry sukai adalah Luna, bukan dirinya.

.

.

.

.

.

Saat Luhan masuk kelas, anak-anak kelas XII-1 tengah ramai membicarakan sesuatu. Tapi semuanya terdiam ketika ia masuk. Luhan tidak ambil pusing dan segera duduk disamping Sulli.

"Oppa, kau serius mau masuk tim sepakbola?" bisik Sulli sesaat setelah Luhan duduk.

"Tentu saja, kau tahu sendiri kan aku suka bermain bola."

Tiba-tiba seorang yeoja berkacamata menginterupsi obrolan mereka.

"Luna-ya, kau benar-benar ikut tim? Maksudku selama ini setahuku kau tidak pernah tertarik dengan hal-hal berbau namja seperti itu?" tanya yeoja itu menginterogasi.

"Itu karena kalian tidak tahu saja—"

"Ah—atau jangan-jangan kau masuk tim untuk mendekati Oh Sehun? Benar begitu?" tanya yeoja itu penuh selidik. Luhan menghela nafas lelah, ia menatap Sulli untuk meminta bantuan.

"Yang benar saja Mirae-ya! Luna itu sudah punya pacar di London sana. Dia suka sepakbola gara-gara sering melihat pacarnya itu bermain bola," bela Sulli. Yeoja bernama Mirae itu hanya terdiam mendengar jawaban Sulli yang cukup masuk akal.

Luhan menatap Sulli dengan tatapan penuh terima kasih. Ia lelah menjelaskan ini itu kepada semua orang. Menjadi yeoja sungguh menyebalkan.

"Oppa, sebaiknya kau jangan dekat-dekat dengan Oh Sehun, kau bisa dihajar oleh semua fans fanatiknya—" bisik Sulli memperingatkan.

"Arrasseo, lagipula dia sepertinya bukan orang yang asik untuk dijadikan teman," jawab Luhan.

"TEMAN-TEMAN MOHON PERHATIANNYA SEBENTAR!" suara sang ketua kelas menginterupsi. "Hari ini pelajaran olahraga kita adalah renang, jadi kita segera ke kolam renang setelah bel ganti pelajaran nanti berbunyi."

Jantung Luhan seperti berhenti seketika. Renang? Bisa ketahuan penyamarannya kalau ia memakai baju renang yeoja dan bagian tubuh vitalnya terlihat. Dan bagaimana pula dengan rambut dan dada palsunya?

"Sulli, bagaimana ini?" bisik Luhan meminta bantuan.

"Tenang oppa, kau bisa berpura-pura sedang datang bulan kan?" bisik Sulli sambil mengedip dan mengacungkan jempolnya.

"S-sedang apa?" tanya Luhan bingung.

"Menstruasi oppa," bisik Sulli lagi.

Luhan menatap Sulli tak percaya, itu sungguh ide brilian tapi benar-benar menyakiti harga dirinya. Dia yang notabene seorang ssangnamja harus pura-pura sedang menstruasi? Luhan ingin mati saja.

.

.

.

.

.

.

Luhan duduk di kursi samping kolam renang dengan beberapa teman sekelasnya yang juga sedang berhalangan betulan, mendengarkan obrolan mereka dengan bosan.

"Hei cantik, kebetulan sekali—ah bukan kebetulan tapi sepertinya ini takdir," tiba-tiba suara tidak asing menyapanya. Luhan menengok dan tebakannya benar—Henry tengah menatapnya sambil tersenyum tidak jelas.

"Henry-ssi kenapa bisa disini?" tanya Luhan basa-basi.

"Sepertinya kelas kita digabung, dan ada kelas X juga disana," jelas Henry. Luhan menatap sekeliling, dan ternyata benar, ada lebih banyak orang berdatangan ke kolam renang. Dan sekilas ia melihat Oh Sehun.

"Ehm—Sehun itu sekelas denganmu ya?" tanya Luhan sambil memperhatikan Sehun dari jauh.

"Eh? Dia itu kelas X, princess" kata Henry, agak terkejut mendengar pertanyaan Luhan.

APA?

Jadi namja tengil yang selama ini terus merendahkan dirinya itu hanya bocah yang lebih muda darinya? Bahkan dia tidak pernah memanggilnya hyung—ah maksudnya noona. Luhan sangat kesal.

"Kau kenapa tidak ikut berenang? Pasti sangat menyenangkan melihatmu dengan pakaian renang," kata Henry genit.

"Tamu bulanan perempuan," jawab Luhan malas.

"Ah—pantas saja daritadi kau sewot padaku" Henry sok menyimpulkan.

Aku sewot karena kau memang menyebalkan pabbo, rutuk Luhan dalam hati.

"Baiklah aku kesana dulu, see you later, princess," kata Henry sambil melempar flying kiss, membuat teman-teman Luhan yang berada disampingnya terkikik. Luhan hanya melempar pandangan ke arah lain dengan jengkel.

"Kau tampaknya sangat akrab dengan Henry," suara lain menginterupsi Luhan, suara dingin dan angkuh yang tidak asing—Oh Sehun.

"Memangnya kenapa?" jawab Luhan tanpa melirik Sehun yang berdiri disampingnya.

"Kau tidak sedang berusaha merayu semua orang di tim agar kau bisa masuk kan?" tuduh Sehun dengan nada menyebalkan.

Luhan menengok dengan gusar. "Kenapa sih kau selalu berburuk sangka pada orang?"

"Bukan berburuk sangka, tapi itu kenyataan kan? Kemarin Minseok hyung, sekarang Henry, besok siapa lagi yang akan kau rayu?" kata Sehun sambil mendecih meremehkan.

Luhan benar-benar ingin menenggelamkan bocah ini sekarang juga, tapi sebelumnya ia ingin menghajar wajah datar dan angkuhnya sampai babak belur.

Saat Luhan hendak membalas kata-kata Sehun peluit dari sang guru olahraga berbunyi, Sehun kembali ke pinggir kolam renang sambil melempar pandangan meremehkan pada Luhan. Sialan, batin Luhan geram.

Selama pelajaran renang Luhan hanya memperhatikan teman-temannya dengan bosan, sesekali juga harus menanggapi Henry yang melambaikan tangannya dengan semangat dari pinggir kolam renang. Ia juga beberapa kali menangkap Sehun tengah berbicara dengan yeoja sewot yang ditemuinya di parkiran tempo hari. Yeoja itu sepertinya sekelas dengan Henry. Dan anehnya beberapa kali yeoja itu tampak menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Luhan berusaha mengacuhkannya.

Peluit berbunyi lagi. Mereka diizinkan istirahat selama 15 menit. Dan saat itu Sulli tergopoh-gopoh menghampiri Luhan.

"Aduh, kenapa kau tadi mengobrol dengan Oh Sehun, bisa berakibat fatal tahu," desis Sulli dengan tampang khawatir.

"Memangnya kenapa sih?" tanya Luhan tak mengerti. Dan tadi juga ia tidak mengobrol, kata mengobrol terlalu hangat untuk menggambarkan pembicaraan mereka tadi.

"Tadi Irene melihat kalian, biasa gawat urusannya," kata Sulli serius.

"Memang dia itu siapa sih? Dari awal bertemu aku sudah sebal padanya—"

"Sebal pada siapa omong-omong?" sebuah suara memotong perkataan Luhan. Yeoja dengan rambut ber-highlight pink berdiri di depan Luhan dengan tatapan mengintimidasi.

Luhan menatapnya malas. "Ada urusan apa?"

"Aku ingin bicara denganmu," kata Irene dengan nada sedikit meninggi. Ia menarik tangan Luhan, yang mengikutinya dengan ogah-ogahan. Diiringi dengan tatapan Sulli yang luar biasa cemas.

Di sudut kolam renang yang agak sepi, Irene menghentikan langkahnya.

"Jadi—kau berusaha merayu Sehun, begitu?"

"Tidak," jawab Luhan jujur. Tapi bukan Irene namanya jika percaya begitu saja.

"Lantas kenapa kalian mengobrol dengan begitu mesra tadi? Dan bahkan kau juga ikut klub bola? Sungguh menggelikan!" cecar Irene berusaha menyudutkan Luhan.

"Tadi kami tidak mengobrol, asal kau tahu. Dan aku mengikuti klub bola karena aku ingin, bukan karena Sehun—"

"PEMBOHONG!" teriak Irene, memotong perkataan Luhan yang sebenarnya sepenuhnya jujur itu.

"Terserah kau saja, tapi memang begitu kenyataanya," Luhan mengakhiri pembicaraan dan hendak pergi ketika Irene menarik bajunya dan—

—mendorongnya ke kolam renang.

"YA! Apa yang kau lakukan!" teriak Luhan berang dari dalam kolam renang. Sialan, bisa-bisa ia ketahuan kalau begini. Luhan menutupi bagian dadanya dengan panik, dan untung saja rambut palsunya masih bertengger pada tempatnya.

Belum sempat ia melontarkan omelan pada Irene, tiba-tiba ia merasa sebuah tangan merengkuhnya dan membawa Luhan pada gendongannya.

Apa? Gendongan?

Oh Sehun—menggendongnya keluar dari kolam renang, sementara Luhan masih sibuk menyilangkan tangan didepan dadanya.

"Sehun-ah apa yang kau lakukan!" kali ini Irene yang berteriak berang. Sehun hanya melewatinya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Irene terus berteriak memanggil Sehun sambil menghentak-hentakkan kakinya tapi namja itu tetap mengacuhkannya.

"Ehm—kau bisa turunkan aku disini," kata Luhan kikuk.

"Kau membawa pakaian olahraga kan? Aku akan mengantarkanmu ke kamar mandi, dan mengambilkan pakaian olahragamu di loker," kata Sehun tanpa mempedulikan permintaan Luhan.

Luhan merona.

Astaga, kenapa aku merona begini? Dia kan juga namja? Sadar Xi Luhan sadar! Luhan mengomeli dirinya sendiri dalam hati.

"Er—terima kasih" kata Luhan sambil menunduk.

"Tidak usah dipikirkan, lagipula salahku kau jadi seperti ini," kata Sehun, dengan nada kembali dingin. "Tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian."

Luhan mengangguk paham. Tentu saja Sehun melakukan ini karena ia merasa bersalah. Tiba-tiba Luhan merasa bodoh karena mengira Sehun menolongnya karena mungkin namja itu menyukainya.

Xi Luhan bodoh! Ingat kau itu straight! Lagi-lagi inner Luhan merutuk.

"Ehm—yeoja tadi pacarmu?" tanya Luhan, yang kemudian merutuki dirinya lagi kenapa ia harus menanyakan hal semacam itu.

"Bukan—tapi kami sudah kenal dari kecil, ayahku dan ayahnya berteman," jelas Sehun. Entah kenapa ia merasa harus menjelaskan ini pada Luhan. Padahal jika orang lain yang bertanya ia tidak pernah merasa hal itu penting untuk dibicarakan.

"Ah, begitu rupanya," kata Luhan lega. Hey Luhan, kenapa kau harus lega?

"Tapi sepertinya dia menyukaimu—"

"Lantas kenapa? Kau cemburu?" goda Sehun, tetap dengan wajah datarnya, tapi dalam hati ia tertawa melihat ekspresi Luhan.

"E-eh? Ti-tidak tentu saja tidak," jawab Luhan tergagap sambil merona imut.

Sehun menurunkan Luhan di depan ruang ganti wanita.

"Kau masuklah dulu, aku ganti baju dulu baru mengambilkanmu pakaian ganti, tidak mungkin kan aku keluar dengan pakaian ini?" kata Sehun setengah bercanda. Luhan baru sadar kalau Sehun hanya memakai celana renangnya, ia merona lagi.

Luhan mengomeli dirinya lagi yang terus-menerus merona seperti yeoja. Padahal yang dipunyai Sehun sama seperti miliknya kan? Hanya saja lebih besar—mungkin?

"Ba-baiklah," kata Luhan sambil melesat masuk ke ruang ganti.

"Xi Luhan, kuasai dirimu, kau itu straight, seratus persen straight!," gumam Luhan sambil menatap dirinya di cermin ruang ganti. "Ah sial, gara-gara benda ini hidupku jadi runyam begini" gumamnya lagi sambil memegang dada palsunya yang untungnya masih baik-baik saja.

.

.

.

.

.

"Hei princess, kau baik-baik saja kan?" tanya Henry khawatir, saat Luhan baru saja keluar dari ruang ganti wanita.

"Aku baik, tenang saja."

Saat Luhan dan Henry tengah berbincang, Sehun keluar dari ruang ganti pria, setelah kembali memakai pakaian renangnya. Pandangan Luhan dan Sehun bertemu, tapi tatapan Sehun kembali dingin kali ini, Luhan sungguh tak mengerti. Luhan hendak menyapa Sehun tapi namja itu buru-buru pergi menuju kolam renang.

"Sebenarnya ada apa antara kau dan Sehun, princess?" tanya Henry penasaran.

"Hah? Tentu saja tidak ada apa-apa," Luhan tak habis pikir dengan pertanyaan Henry.

"Tapi tadi dia menggendongmu segala, aku cemburu tahu," kata Henry sambil memanyunkan bibirnya, berlagak kesal. Luhan bingung hendak berekspresi apa.

"Sudah kembali ke kolam renang sana, sudah hampir habis jam istirahatnya," kata Luhan mengalihkan pembicaraan.

"Baiklah baiklah, kau kembali ke kelas saja princess, aku tak ingin nenek sihir itu menjahatimu lagi," kata Henry, Luhan hanya terkekeh mendengar kata 'nenek sihir' yang menurutnya pas juga untuk menggambarkan yeoja menyebalkan itu.

"Arrasseo, aku kembali ke kelas," kata Luhan akhirnya. Henry melambai dengan semangat ke Luhan yang hanya dibalas cengiran oleh Luhan. Jengah juga lama-lama dipanggil princess, itu benar-benar melukai harga dirinya sebagai pria manly.

.

.

.

.

.

Sepulang sekolah Luhan kembali berkumpul dengan anggota klub sepakbolanya. Sejak awal menginjakkan kaki di lapangan dengan seragam bolanya, Henry sudah mengekorinya dan memujinya cantik. Sementara Sehun terus menghindari kontak dengannya, Luhan bingung sendiri sebenarnya apa sih salahnya?

"Hari ini aku boleh ikut bermain kan?" tanya Luhan setelah berhasil menghampiri Sehun akhirnya.

"Kau melihat permainan kami saja dulu," jawab Sehun tanpa menatap Luhan, fokus membetulkan sepatunya.

Luhan menurut kali ini, tidak mau memancing keributan dengan Sehun, lagipula tadi namja ini sudah berbuat baik padanya kan?

Tapi niat Luhan untuk tidak membuat keributan malah dikacaukan oleh Sehun, namja itu dengan semena-mena menyuruh Luhan mengambil minuman, dan bolak balik dari pinggir ke tangah lapangan berkali-kali. Selain itu jika bola out cukup jauh Luhan yang bertugas mengambilnya. Ia dijadikan semacam pembantu umum disini, Luhan benar-benar kesal.

"Kapten, kenapa kau menyuruh-nyuruh dia seperti itu? Dia kan yeoja, kasihan dia," Henry akhirnya buka suara, tidak tega princess-nya diperlakukan seperti itu.

"Semua orang yang mau masuk klub harus tahan banting, yeoja atau namja sama saja," kata Sehun dingin.

Henry mendengus sebal, meninggalkan kapten menyebalkannya dan berlari ke arah Luhan yang tampak kepayahan di pinggir lapangan.

"Princess, kau tidak apa kan?"

"Tidak apa, sudah sana kau kembali ke lapangan, nanti kena omel," jawab Luhan sambil sedikit terengah.

"Tapi aku salut padamu, sebagai yeoja kau sangat tangguh, princess jjang!" hibur Henry sambil mengangkat kedua jempolnya. Luhan hanya terkekeh.

Henry segera kembali ke lapangan, menyadari dirinya sedang ditatap dengan tatapan membunuh sang kapten. Sepeninggal Henry, Luhan merasa kepalanya pusing, beberapa kali Minseok menanyakan apa dirinya baik-baik saja. Luhan menjawab ia tak apa karena tidak ingin Minseok khawatir. Tapi sepertinya ia benar-benar tidak baik-baik saja karena matanya mulai berkunang-kunang.

"PRINCESS!" teriakan Henry membuat semua orang menoleh ke arah Luhan yang tergeletak pingsan. Semuanya berlari ke arah Luhan, termasuk Sehun.

"Princess, sadarlah!" teriak Henry sambil membawa kepala Luhan ke pangkuannya.

"Biar aku membawanya ke ruang kesehatan," kali ini Sehun bersuara.

"Tidak biar aku saja!" tukas Henry.

Sehun menatap tajam Henry, yang membuat namja itu mengkerut, kemudian menyerahkan Luhan pada Sehun yang kemudian menggendongnya menuju ruang kesehatan.

"Kurasa mereka berdua cukup serasi," ucap Minseok sambil tersenyum.

"Tentu saja tidak!" bantah Henry sebal.

"Wajah mereka saja agak mirip, mungkin mereka berjodoh," kata Minseok lagi dengan enteng tanpa mempedulikan Henry yang berekspresi ingin menelannya hidup-hidup.

"Hari ini latihan kita sudahi sampai sini saja," lanjut Minseok, diikuti dengan bubarnya satu-persatu anggota tim.

"Aku akan menyusul princess," kata Henry lagi berapi-api.

"Jangan terlalu berharap kalau tidak ingin kecewa—" Minseok memperingatkan, Henry hanya men-deathglare-nya kemudian berlari pergi menyusul princess-nya.

"—karena dia namja," gumam Minseok pelan.

.

.

.

.

.

.

Makasih yaaa buat yang udah follow, fav, review, bikin saya jadi semangat nulisnya :))

*bow*