NARUTO BELONG PAKDE KISHI

JUST WANT YOU

OOC, ABAL,ANEH,GAK NYAMBUNG,GAJE.

Sudah sepuluh hari ini Hinata tak masuk sekolah setelah kejadian penyobekan kertas ujiannya, untungnya hari penyobekan kertas ujian itu adalah hari terakhir ujian. Jadi Hinata tak perlu memikirkan tentang remidi, ah, kecuali mata pelajaran yang di robek oleh Anko-sensei atau mungkin tidak.

Tidak ada yang mencarinya hanya ketua kelas yang mencarinya, itupun hanya untuk keformalan dia sebagai ketua kelas.

Tapi ada seseorang yang sedikit merasa kehilangan dengan ketidak hadiran si Hyuuga itu, siapa lagi kalau bukan si Namikaze Naruto atau yang biasa para murid perempuan sebut si pangeran.

Naruto sedikit merasa kesepian dengan ketidak hadiran Hinata, kesepian karna mainannya yang menghilang.

.

Festival sekolah sebentar lagi akan berlangsung, kelas Naruto akan membuka stan makanan tradisional jepang yang mengharuskan semua murid dikelas itu mengenakan pakaian tradisional jepang.

Dan inilah kesempatan bagi para siswi dikelas itu untuk tebar pesona dengan para siswa, untung-untung bisa mendapatkan sang Pangeran sombong yang begitu memikat atau si Pangeran es yang begitu menggoda atau mungkin si Pangeran tidur jenius tapi terlihat begitu menarik, ah, atau mungkin Pangeran-Pangeran yang lainnya mungkin! Siapa yang tahu bukan!.

Festival sekolah akan berlangsung besok, semua sibuk untuk menghias kelas mereka, ada juga yang menghias tempat klub, berlatih drama, band dan lain sebagainya untuk persiapan besok.

GREKK

Suara pintu tergeser terbuka yang membuat semua orang reflek melihat kearah pintu yang tergeser itu dan memperlihatkan murid yang sudah dua minggu ini absen dengan alasan yang tak jelas.

"Wah~ siapa ini yang akhirnya menunjukan wajah jeleknya!" entah mengapa Naruto langsung merasa begitu bersemangat saat tau siapa yang membuka pintu itu tadi.

Berjalan santai menuju gadis yang sangat dia nanti kehadirannya selama dua minggu ini.

"Malaikat!" sebut Naruto dengan nada mengejeknya tepat didepan wajah Hinata.

"Yo! Namikaze, apa kabar! Sepertinya kau terihat begitu merindukanku" kata Hinata dengan menunjukan tatapan menantangnya.

"Tentu! aku sangat merindukanmu!"

"Aku merasa sangat tersanjung, Terima kasih Namikaze!" ucap Hinata yang nadanya dibuat manja.

"Cih! Kau tau, apa kau tak merasa kasihan pada kami! Kami bekerja keras untuk mempersiapkan festival ini tapi kau malah berleha-leha dirumahmu itu dan kau tak membantu apapun, kau suka membantukan?"

Hinata hanya bisa diam, karna yang di katakan Naruto memang benar, dia tak membantu apapun untuk persiapan festival ini karna ke absenannya selama dua minggu ini.

"Hyuuga! Lihatlah wajah kelehan mereka, apa kau tak kasihan!"

Hinata melihat teman satu kelasnya satu persatu, mereka memang terlihat kelehan. Hinata merasa bersalah karna tak membantu apapun.

"Apa yang bisa kubantu!" jawaban Hinata membuat seringai Naruto semakin lebar.

BINGO

"Kau tau! Kami lelah mencari meja yang cocok untuk besok, kami juga lelah membuat hiasan untuk menghias kelas ini dan kami_

"Langsung keintinya Namikaze!" potong Hinata, karna dia sudah tau maksud dan tujuan Naruto dari perkataannya itu.

"Ah~ Maaf! Aku lupa kalau kau tak suka basa-basi"

"Pasang semuannya ini dengan benar, sendirian" imbuh Naruto dengan nada dinginnya yang terdengar kejam.

"Bagaimana, Hyuuga? Kau suka membantu orang yang kesusahan bukan!"

"Baiklah!" jawab Hinata menyesal karna dia tak bisa membantu teman-temannya mempersiapkan festival sekolah kemarin. Dia sudah merepotkan banyak orang. Ibunya tak pernah mengajarkan itu padanya.

Padahal jika Hinata tau, semuanya tak peduli jika Hinata mau membantu atau tidak. Bahkan mereka juga tak peduli, Hinata ada atau tidak. Inilah yang dinamakan perasaan yang bertepuk sebelah tangan. Menyakitkan saat kau tau. Jadi lebih baik kau tidak tau.

"Wah~ Sepertinya kita memang memiliki seorang Malaikat disini" kata Naruto sambil menyeringai senang karna umpanya berhasil dimakan oleh buruannya dengan mudah.

Senangnya bermain dengan Hyuuga bodoh ini!.

"Baiklah! Semuanya dengar! jangan ada yang sampai membantu si Malaikat Hyuuga ini jika kalian tak ingin berurusan denganku!" teriak Naruto untuk memperingatkan semuanya.

"Kalian semua boleh pergi sekarang! Biarkan si Hyuuga ini mengerjakan tugasnya!"

Semua orang pergi dari kelas itu dan menyisakan dua orang disana yaitu Naruto yang memandang tajam kearah Hinata.

Hinata mulai mengerjakan tugasnya untuk menata kelasnya dengan tema Jepang Tradisional itu.

"Kau tidak pergi?" tanya Hinata pada Naruto yang duduk diatas bangku sambil bersidekap melipat tangannya.

"Aku akan melihat kerjamu, Hyuuga! Aku takut kau malah membuat kekacauan disini, merusak semuanya dan membuat kelas kita gagal merayakan festival ini"

"Aku tidak akan melakukan itu! Mana mungkin aku membuat kelas kita batal mengikuti festival yang sudah dinantikan oleh banyak orang, kau terlalu khawatir, Namikaze!" jawab Hinata sambil mengangkati meja kelas yang biasa mereka buat belajar.

.

.

.

Hari sudah gelap, Hinata baru hampir menyelesaikan semua pekerjaanya dan Naruto sudah meninggalkan Hinata sejak tadi, mengatakan pada Hinata jika dia ingin muntah karena berlama-lama satu ruangan dengan Hinata. Siapa juga yang menyuruhnya berlama-lama dengannya, dasar aneh, pikir Hinata, saat Naruto mulai melangkah pergi meninggalkannya tadi

Bintang berkelip indah dilangit tanpa awan diatas sana. Berkelip seolah sedang mengoda siapapun yang melihatnya malam ini.

Hinata sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, kelasnya benar-benar terlihat berbeda sekarang, meja khas restoran tradisional jepang sudah tersusun dengan rapi lengkap dengan dinding yang penuh dengan hiasan yang menambah keindahan kelas itu. Semuanya sudah selesai tinggal menanti hari esok.

Hinata berjalan menyusuri terotoar menuju rumahnya. Mendongak keatas untuk melihat pemandangan malam di musim panas yang terlihat indah itu.

Meresapi setiap angin yang berhembus menerpa wajah kelelahannya itu, merasakan rileksasi yang diberikan oleh angin yang berhembus lembut malam ini.

"Aku juga ingin merayakan festival pertamaku disana!" gumam Hinata yang berhenti ditengah jembatan yang berada dijalan itu sambil memegang batas jembatan itu. Melihat air sungai yang arusnya tak terlalu deras.

.

.

.

Festival sekolah tengah berlangsung, hari ini adalah pembukaan festival dan festivalnya akan berakhir dihari kelima dengan acara puncaknya adalah pesta dansa disertai dengan penutupan festival. Ini sekolah orang elit jadi acaranya juga elit.

Banyak acara yang berlangsung hari ini dan juga banyak pengunjung yang datang untuk melihat festival disini, bahkan ada dari sekolah lain yang datang berkunjung. Alasan mereka datang kemari adalah untuk merasakan bagaimana rasanya berada di sekolah elit yang dikelilingi oleh orang-orang elit.

.

Dikelas 10-9 semua orang tengah menatap kagum dengan hasil kerja orang yang sering mereka abaikan yang begitu rapi ini, padahal dia bekerja sendiri, bagaimana dia melakukannya, pikir mereka semua minus Naruto, Sasuke dan Shikamaru.

"Kau sedang menunggunya!" tanya Sasuke yang mengenakan hakama biru dongkernya yang berdiri disamping Naruto mengenakan hakama orangenya.

Mereka terlihat begitu mempesona dimata para gadisemwanita emmm entahlah, yang ada disana. Semua orang sudah memakai pakaian Tradisional jepang mereka juga sudah membuka stan mereka, tinggal menunggu para pelangan datang saja.

"Aku akan membuatnya menjadi badut untuk mempromosikan stan kita" jawab Naruto datar.

Dia sudah merancang sebuah rencana besar untuk Hinata semalaman, bahkan dia sampai rela tidur jam setengah empat hanya untuk membuat rencana licik ini dan rencana-rencana lainnya. Naruto sudah merancang semuannya dengan rapi, tapi apa ini, dia belum datang.

'Kau menantangku, Hyuuga!' batin Naruto kesal.

"Dia mungkin kelelahan karna kerjanya yang rapi ini"

"Dia hanya ingin kabur dariku, Teme" ucap Naruto geram, kapan si Hyuuga itu akan datang, pikir Naruto.

"Benarkah! Tapi kurasa dia tak akan datang!" kata Sasuke sambil menunjuk kearah jam yang diikuti Naruto melihat kearah yang ditunjuk Sasuke, jam sudah menunjukan pukul 9.37. Dia tak akan datang Naruto.

"Sialan" Naruto merasa usahanya itu sia-sia. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang tak menghargai usaha kerasnya itu.

Saat mereka berdua sedang asik berbisik-bisik, mereka diganggu dengan perkataan seseorang yang membuat Naruto kembali mengeram kesal karna mengingat usahanya yang sia-sia itu.

"Kita memerlukan seseorang untuk mempromosika stan kita" ucap ketua kelas, Koyuki.

"Apa ada yang mau melakukannya?" tanya Koyuki pada teman-temannya.

"Naruto mau melakukannya" semua orang menoleh kearah orang yang baru saja berucap dan juga Naruto yang berada disamping orang itu.

"Teme!" teriak Naruto sepontan yang tak terima dengan keputusan sepihak sahabat Ravennya itu.

"Naruto mengatakan dia ingin menjadi promotor untuk stan kita tadi" ucap Sasuke sambil menyeringai, senangnya mengerjai sahabat Dobenya ini.

"Kau" Naruto sudah akan melayangkan protesnya tapi harus ditelan bulat-bulat karena Koyuki sudah berada dihadapannya dengan tangan yang saling bertautan. Gaya memohon dengan wajah berbinar.

"Kau benar-benar mau melakukannya Naruto-kun?" tanya Koyuki. Jarang-jarang si Pangeran ini mau melakukan hal yang merepotkan.

"Aku_

"Dia mau" perkataan Naruto dipotong cepat oleh Sasuke. Naruto langsung mendelik kearah Sasuke seolah-olah mengatakan 'seenaknya saja kau', seperti itulah.

"Awas kau, Teme!" gumam Naruto sambil menatap tajam Sasuke yang dibalas dengan seringai mengejek oleh Sasuke.

"Baiklah kalau begitu, tapi kita butuh satu orang lagi untuk menemanimu, Naruto-kun"

"Siapa yang mau menemani Naruto-kun untuk menjadi promotor bersamanya?" tanya Koyuki. Semua murid perempuan sudah akan mengajukan diri mereka sendiri, tapi mereka kalah cepat dengan seorang perempuan berambut Bable Gum yang digilai oleh banyak siswa laki-laki disekolah ini baik itu satu angkatan maupun para senpai. Siapa lagi kalau bukan, Haruno Sakura.

"Biar aku yang melakukannya" katanya lembut, sambil menunjukan senyum manisnya.

"Ah, baiklah Sakura-chan, kau akan menemani Naruto-kun untuk mempromosikan Stan kita"

"Dan ini adalah brosurnya, kalian bisa memberikan ini pada para pengunjung di gerbang utama" imbuh Koyuki sambil menyerahkan brosur pada Sakura dan Naruto.

"Baiklah" jawab Sakura sambil tersenyum.

"Ah, dan satu lagi, kau bisa menjadi penyambut untuk para pelangan kitakan, Sasuke-kun?" sekarang giliran Sasukelah yang mendapatkan jatah kerjanya.

"Apa?" Sasuke tak salah dengarkam, apa tadi? Penyambut para pelangan maksudnya penerima tamu itu berarti dia harus tersenyum dan mengatakan 'selamat datang' dengan nada lembut, apa ketua kelas ini mau mati.

"Penerima tamu, kau taukan?. Semua sudah mendapatkan tugasnya masing-masing tinggal kau saja yang belum mendapat bagian kerja, Sasuke-kun, dan kita membutuhkan orang untuk menyambut pelangan kita". Kata Koyuki menerangkan

"Selamat menikmati bagianmu itu, Teme" kata Naruto sambil menyeringai, mengejek Sasuke balik yang mengejeknya tadi.

"Kau" Naruto segera pergi sebelum Sasuke menendangnya yang sudah mengambil ancang-ancang untuk Sasuke menendang bokong Naruto.

"Kau harus tersenyum lebar untuk membuat pelangan kita merasa nyaman, ya Sasuke-kun" kata Naruto yang segera berlari karena Sasuke yang mau melemparkan Getanya kearah Naruto.

Sayup-sayup Sasuke bisa mendengar tawa keras dari Naruto.

"Awas kau, Dobe!"

.

"Bukankah ini menyenangkan!" kata Sakura pada Naruto sambil memberikan brosur ditangan mereka kepada para pengunjung difestival itu.

"Maksudmu" tanya Naruto tak mengerti dengan perkataan gadis disampingnya ini.

"Bukankah kita seperti kencan!" kencan? Membagikan brosur seperti ini dia anggap kencan, ya ampun.

"Apa kau suka gaya kencan seperti ini?" Naruto benar-benar tak mengerti dengan pemikiran para wanita, pemikiran mereka sangat aneh.

"Bukan! Maksudku adalah bukankah kita seperti sepasang kekasih yang terjebak karena harus mengembang tugas dari ketua seperti dalam novel-novel percintaan"

"Kau suka drama picisan seperti itu"

"Begitulah" Begitulah? Naruto benar-benar tak tau arti kata Begitulah yang Sakura maksud. Kenapa wanita sangat suka bermain-main dengan kata-kata. Kenapa tak langsung keintinya saja, YA atau TIDAK.

"Em! Naruto!"

"Hm"

"Saat acara penutupan festival, maukah kau berdansa denganku?" tanya Sakura malu-malu.

"Baiklah" jawab Naruto enteng.

"Benarkah?" tanya Sakura sekali lagi, mencoba memastikan jika yang dia dengar itu benar.

"Hmm, aku mau berdansa denganmu saat penutupan festival ini, Sakura! Kau dengar" jawab Naruto sambil menghadap kearah Sakura dan sedikit mengeraskan suaranya.

Dan Sakura hanya bisa tersenyum malu bercampur senang saat Naruto menerima ajakannya untuk berdansa bersama nanti dipenutupan festival sekolah besok.

TBC