©Park Jihyun125

Cast :

Kim Jongin, EXO

Genre :

Family, Brothership, Angst, Hurt/Comfort, Romance

Rated : T

Warning!

Typo(s), bad plot, bored, OoC,

Disclaimer :

All Cast belong to God and themselves. I just own this plot story.
And Hyunn
ie not editable.

Thank's to :

ayumKim, watasiwadjie, sayakanoicinoe, shinmitaeyou, octa1810, Eli TeKaje, thiefhanie. Fhaa,
ayu, guest (3), shin jih hyun, taoris, Silviana, faustina, chiintyaabella, DhinaExo,
adilia. Taruni. 7, HMRin, faomori

DONT BE PLAGIATOR!

DONT COPY!

DONT BE SILENT READER!

.

.

Enjoy Reading!

Little note : Untuk Chap ini kai munculnya cuma sedikit oke?


-ooOoo-


Disebuah ruangan bercat putih, tergolek lemah seorang namja dengan beberapa luka kecil di kedua tangannya. Jangan lupakan lebam yang terpatri indah di ujung mata sebelah kiri, tengah tertidur pulas tak memperdulikan orang-orang disekitarnya yang begitu ribut. Kim Luhan, namja yang menjadi korban pemukulan dari orang tak dikenalnya, perlahan membuka mata yang terasa memberat. Setelah mengerjapkan mata beberapa kali, ia memandang kesegala penjuru kamar.

Hanya ada D.o, Si kembar berisik, Lay, dan juga Suho. Jangan lupakan Chen yang berada disamping ranjangnya yang tengah memakan camilan dengan tangan yang terinfus.

"Kau sudah bangun Ge? Kenapa tidurnya lama sekali? Apa ini sakit?" runtutan pertanya dilontarkan oleh Chanyeol yang melihat Hyung tertua setelah Xiumin membuka matanya.

TUKK

"AWWW... appo Ge, kau bangun-bangun menjitak kepalaku sakit tau" keluh Chanyeol mengusap kepalanya yang baru dihadiahi jitakan sayang dari sang Gege.

Luhan hanya memutar bola matanya malas, lalu dengan tenaganya ia berusaha duduk diatas ranjang, mengingat ia terluka tak terlalu parah.

"Salah sendiri kau menyentuh lukaku Bodoh" ucap Luhan setelah berhasil duduk dibantu D.o, sedangkan Chanyeol hanya mengerucutkan bibirnya ber-aegyo ria.

"Yakk... Percuma kau ber-aegyo seperti itu, tidak cocok sama sekali. Kau justru berkali-kali lipat mirip dengan Dobi hahaha... Benarkan Chen?" ucap Baekhyun tetawa dengan salah satu tangannya memegang perut.

"Thats right Baekki Hyung, Hahahaha..."

Suara tawa dari kedua adiknya tak terlalu dipusingkan oleh Luhan. Apalagi kini perdebatan mulut antara Baekhyun dan Chen dengan Chanyeol justru membuat orang yang mendengarkannya sakit kepala. Namun sekali ia hanua terdiam, dan terdiam entah apa yang dipikirkannya memandang kearah luar jendela.

"kau baik-baik saja ge?" tanya Suho menatap Luhan khawatir.

Lay dan D.o tampaknya tidak terlalu peduli, dan lebih memilih mendengarkan lagu bersama. Chanyeol, Chen dan Baekhyun hanya tertawa dan mengejek satu sama lain, sepertinya perdebatan ini tidak akan terhenti.

"aku baik-baik saja Suho, Hanya terluka kecil" ucap Luhan tersenyum sekilas...

DEGG

Luhan dengan gerakan refleks memegang dada tepat kearah Jantungnya. Mengapa jantungku terasa sakit? Batin Luhan mengerutkan dahinya bingung. Seketika matanya melebar ketika memutar ulang memorinya.

"Suho, mana dia?" tanya Luhan dengan nada panik membuat susana yang awalnya ribut pun menjadi hening.

"Suho hyung kan disebelahmu ge?" ucap Lay mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti.

"Dia... dia dimana? Apa dia baik-baik saja?" tanya Luhan dengan nada sedikit meninggi sambil menggoyangkan tangan Suho.

Namun yang didapatnya hanya tatapan tanda tak mengerti.

"Dia? dia maksudmu itu siapa Luhan ge?" tanya D.o yang jujur saja membuat ia tambah pusing.

CKLEKK

"kau sudah bangun Lu?" tanya Xiumin yang baru tiba dengan Kris dan Tao dibelakangnya menenteng satu kantong plastik besar di tangan kanannya.

"beritau aku, dimana dia? Apa dia baik-baik saja?" bukannya menjawab, Luhan kembali bertanya namun menatap Xiumin yang baru tiba.

"ada apa dengan Luhan?" tanya Kris pada Baekhyun yang berada disampingnya.

"molla, dari tadi dia terus menyebut dia dan dia. Aku tak mengerti" ucap Baekhyun mengangkat bahunya diangguki Chanyeol sang kembaran.

"Dia... Maksudku, dia... Kim Jongin apa kalian melihatnya dibawa bersamaku dan Chen ke Rumah Sakit?"

PRANGG

"tumben sekali kau mengkhawatirkannya Gege bahkan menyebut namanya. Apa orang itu memukul kepalamu terlalu keras?" ucap Chen sedikit tertawa yang terdengar terpaksa, karena ia sepertinya juga merasakan sesuatu yang tak beres. Apalagi jantungnya berdetak terus menerus, tepat ketika Luhan bertanya tentang 'dia', Kim Jongin.

Masih ia ingat dengan jelas, ketika seseorang yang membuat dirinya dan Luhan ke Rumah Sakit, orang itu memegang sebuah balok dan mengarahkan ke Luhan, mungkin itu penyebabnya ia berbicara ngawur. Dan setelah itu kegelapan menyelimutinya.

"cihh... Kenapa membicarakan orang itu? Orang menjijikkan yang mencintai sesama jenis, membuatku ingin muntah. Dan untuk apa dia ke Rumah Sakit?" sahut Tao kembali dengan mulut pedasnya meski tak terasa perasaan aneh kini memenuhi jantungnya, namun ia lebih memilih untuk tidak memperdulikannya.

"Berhenti memanggilnya seperti itu Tao, dia terluka parah dan harus dibawa ke Rumah Sakit" ucap Luhan yang terdengar marah menatap Tao dengan pandangan yang sulit diartikan.

"ada apa denganmu Lu? Bukankah kita semua disini tidak ada yang menyukainya? Termasuk kau, tapi kenapa kau memarahi Tao padahal ia selalu berkata hal itu" ucap Xiumin membela Tao dengan mengerutkan dahinya bingung.

"Aku... Entahlah, aku merasa..."

"Ckk... Hanya karena orang pungut itu kau memarahi magnae kita seperti itu, Lu ge" ucap Baekhyun memotong ucapan Luhan.

"BERHENTI BERKATA DIA ANAK PUNGUT KIM BAEKHYUN" teriak Luhan yang entah mengapa tiba-tiba terbawa emosi mendengar ucapan Baekhyun mengenai 'anak pungut'.

Baekhyun yang diteriaki seperti itu, tentu saja terkejut. Dan ini untuk pertama kalinya mereka melihat Kim Luhan, orang yang lebih memilih diam daripada berteriak-teriak karena marah, melakukannya hari ini. Didepan mereka semua, Luhan marah karena panggilan Baekhyun yang sering mereka panggil dengan sebutan itu.

"Suho, ajak yang lain keluar. Aku ingin berbicara bertiga dengan Kris, bawa juga Chen" ucap Xiumin flatface meski suara nadanya terdengar lembut.

"kenapa kami harus keluar?" tanya D.o tidak terima.

"aku tak mau keluar Ge" ucap Lay menyilang kedua tangannya didepan dada.

"Keluar" kali ini nada yang digunakan Xiumin membuat mereka mau tak mau nurut.

Lay segera mengambil kursi roda, dan membantu Suho menduduki Chen ke Kursi roda. Luka pada kakinya yang diperban membuat Chen sedikit kesulitan berjalan, dan lebih memilih duduk di kursi roda.

BLAAM

Setelah pintu tertutup, ruangan ini menyisakan 3 orang didalamnya dalam keadaan hening hingga Kris membuka suara.

"Kau sungguh aneh Han, what's wrong with you?" ucap Kris menyenderkan punggung tegapnya ke dinding kamar.

"aku tak gila jika kau beranggapan seperti itu, entahlah... Aku hanya merasa sedikit kasihan dengannya" ucap Luhan menatap keduanya.

"apa yang dia lakukan padamu?" tanya Xiumin masih dengan tampang flatfacenya.

"dia... Menggantikanku terkena pukulan. Jika aku yang terkena mungkin aku sudah mati dan tidak bisa menyelesaikan alat buatan Appa. Aku... Melihat darah terus keluar dengan derasnya dari kepalanya dan... Dari sana aku merasa kasihan dengannya" ucap Luhan meneteskan setetes krystal bening dari matanya.

Xiumin dan Kris berpandangan sejenak, tak biasanya Luhan meneteskan airmata. Bahkan saat kedua orangtua mereka, Luhan lebih memilih mengurung diri dikamar dan menangis sendirian dalam keadaan lampu dimatikan.

"dengarkan aku Luhan. Meski dia menyelamatkanmu, atau mengorbankan dirinya untukmu. Dia pasti memiliki tujuan, dan kau tak boleh berlaku seperti ini. Jika aku jadi kau, aku mungkin akan bersyukur meski masih marah padanya karena dia telah membunuh orang tua kita. Lagipula, meski dia mati, tetap tidak ada gunanya" ucap Kris panjang lebar menyilangkan tangan di dadanya dan tampak berpikir.

"Dan Luhan, seperti kata Mr. Lau sahabat Appa dan Eomma, Jongin... Bukanlah adik kandung kita" ucap Xiumin penuh penekanan meski ia merasa sedikit tak nyaman telah berkata seperti itu. Tapi mau tak mau, suka tak suka ia harus melakukannya.


-ooOoo-


"kau tak apa? Sudah baikkan?" tanya seorang namja berkulit seputih susu pada sosok yang tengah terbaring lemah diranjang miliknya.

Namja itu mengangguk perlahan meski agak sulit, mengingat perban yang melilit kepalanya dengan darah y6ang merembes membuat kepalanya terasa pusing.

"mengapa kau melakukan hal bodoh itu hm? Apa kau ingin aku menangis ketika tau kau tak akan selamat? Atau hanya luka kecil yang membuatmu terluka?" ucap seseorang yang ternyata adalah Sehun menggenggam tangan sosok lainnya yang ternyata adalah Jongin.

"tentu aku tak mau membuat seseorang yang menjadi sebagian dari hidupku menangis karenaku. Tapi bagaimanapun dia adalah Hyungku Sehunnie dan aku harus menyelamatkannya dari mereka" jelas Jongin dengan nada lembutnya tersenyum meski masih tampak wajahnya yang amat pucat.

"me-reka?" tanya Sehun membulatkan matanya menatap Jongin tak percaya.

"kurasa... sudah saatnya aku tak bersama keluargaku juga dirimu" ucap Jongin menghela nafasnya membuat uap putih samar di musim dingin.

"Tidak, aku tak akan biarkan kau pergi. Aku tidak mau" ucap Sehun menggelengkan kepalanya tak setuju dengan ucapan sang Namjachingu.

"Sehunnie... tapi kau bisa dalam ba-..."

"AKU TAK PEDULI. JIKA PERLU AKU AKAN MENYAMAR MENJADI DIRIMU DAN MENYERAHKAN DIRIKU" Teriak Sehun yang membuat Jongin tak mampu untuk tak meneteskan air matanya.

"Se-Sehunnie hiks..."

"aku berjanji akan memberikan apapun untuk menyelamatkanmu, dan aku akan membuatmu berbahagia. Hal yang selalu kau inginkan akan kukabulkan asal... kau bahagia hiks... Mengapa kau yang paling menderita hiks? Mengapa harus kau? Mengapa tidak aku saja yang menderita hiks..? Mereka... keluarga macam apa mereka? Apa mereka..."

GREEBB

"sudahlah... aku tak apa Sehunnie. Uljimma eo?" belum Sebun menyelesaikan ucapannya, Jongin langsung menarik Sehun kedalam pelukannya dan mengelus rambut Sehun menenangkannya yang tengah menangis meski tak dipungkiri dirinya juga menangis.

"TAPI KAU SEDANG APA-APA JONGINIE" teriak Sehun lagi melepaskan pelukannya, membuat Jongin membulatkan matanya mendengar hal itu.

"kau... sudah tau?" tanya Jongin dengan pandangan mata kosong.

Bukannya menjawab, Sehun justru memeluk Jongin erat melhat keadaannya yang jujur menyayah hati kecilnya.

"Aku akan menjagamu, aku akan bersamamu kau tak perlu khawatir" ucap Sehun menenangkan meski air mata terus mengalir dengan deras dari kedua matanya.

Namun... Jongin tetap terdiam, tak membalas pelukan Sehun maupun menjawabnya, hanya siratan mata yang kosong ditampilkannya.

~ooOoo~

Jongin terdiam, menatap sendu awan yang bergerak bebas diluar sana. Hanya dibatasi oleh kaca, dengan jelas ia mampu melihat bagaimana awan itu tampak bahagia, menyatu dengan awan lain hingga membentuk awan yang lebih besar. Tak kuasa ia menghela nafas, kembali. Sehun telah pergi untuk bersekolah meninggalkan dirinya yang terkurung dikamar luas minim prabotan ini. Tak mungkin, dengan keegoisannya ia meminta Sehun untuk tak bersekolah dan menemaninya? Tentu saja tidak, mana mungkin ia melakukan hal itu.

Dengan sedikit menyentaknya kasar, jarum infus yang menusuk kulit tannya terlepas begitu saja. Tak begitu mengindahkan bagaimana darah itu menetes perlahan-lahan, sedikit demi sedikit hingga membentuk gumpalan di lantai yang dingin.

Perban yang melilitpun ia lepas, membuangnya beserta kapas yang menutup luka di kepala akibat pukulan itu. Syukur, itulah kata yang tepat ia lontarkan lantaran luka dikepalanya itu tertutupi oleh rambut hitam miliknya sehingga luka itu tidak terlalu menonjol. Dengan bersusah payah, dan tenaga yang tersisa ia beranjak dari tempat tidur sang kekasih, menuju keluar.

"Kau mau kemana Jongin-a? Bukankah kau masih sakit?" suara merdu menyapa telinganya begitu ia sampai di anak tangga paling bawah.

Senyuman sedikit terulas begitu melihat siapa pemilik suara, sang hyung dari Sehun Cho Kyuhyun. Kyuhyun adalah saudara sedarah beda ibu dengan Sehun. Namja berparas tampan dengan tubuh tinggi, berkulit putih pucat seperti sang adik, berhidung mancung itu adalah sebagian dari kemiripan mereka berdua. Hanya bibir, mata dan rambut yang membedakan mereka. Terkadang, muncul rasa iri dalam benak Jongin.

Ia yang se-Ayah dan se-Ibu tidak bisa akur seperti Sehun dan Kyuhyun yang berbeda Ibu. Meski hanya pertengkaran kecil yang meliputi keduanya, namun dibalik itu ada rasa kasih sayang satu sama lain antara keduanya. Dan ia menginginkanya ah... Tidaj lebih baik ia diakui saja sudah cukup meski tak dapat terelaki jauh dilubuk hatinya paling dalam rasa ingin disayangi memenuhinya.

"aku ingin pulang, Hyung. Sudah beberapa hari ini aku disini, takutnya yang lain... Mengkhawatirkanku" ucap Jongin tersenyum kecut ketika mengatakan hal yang jujur saja ia ragu itu kenyataan.

Kyuhyun yang mendengar itu, melihat Jongin -awalnya menatap layar psp- yang masih pucat.

"kau yakin? Apa perlu kuantar?"

"tak perlu, aku bisa sendiri hyung. Aku pergi" tolak Jongin cepat ketika Kyuhyun menawarkan dirinya menemaninya.

Dengan cepat meski tubuh terasa lemas, ia berjalan keluar rumah Sehun menuju rumahnya yang terlihat sepi. Berjalan tertatih tatih, menuju rumah yang tepat disebelah rumah Sehun lalu terdiam menatap rumah besar yang menapung dirinya selama belasan tahun. Rumah yang menjadi saksi dari kekejaman keluarganya terhadap dirinya, tempat dimana ia dengan tubuh mungilnya melihat kedua orang tuanya terbunuh. Dan jujur, jika orang lain yang merasakan seperti yang dialaminya, mereka bisa saja bunuh diri atau menangis meraung-raung hingga tak mampu berbicara. Tapi... Lihat Jongin, bahkan untuk menangis saja ia tidak bisa bahkan ia tak mengenal... Apa itu menangis?

Dengan langkah ragu, ia mendorong ganggang pintu dan..

BYUURR

"akh..."

"HAHAHAHAHA..."

Suara gelak tawa menyambut kedatangan Jongin dengan air yang dicampur es membasahi tubuhnya. Tak ayal, membuat dirinya meringis lantaran luka yang masih belum mengering terguyur air es, dan apa ini? Asin? Apa di air itu dicampur garam? Rasa Nyeri dan perih yang menusuk menjalar ke seluruh bagian kepalanya, membuat ia meredamnya dengan menggigit bibir bawahnya sekuat yang ia mampu.

"HAHAHAHA... Bagaimana? Kami perhatian bukan? Menyambut kedatanganmu dengan air es Hahahahaha" suara tawa Baekhyun menggema di rumah itu.

Jongin masih terdiam, menunduk dengan mata terpejam dan menhgigit bibir yang mulai meneteskan darah, tak jauh beda denganmenahan rasa sakit dikepalanya. Sungguh, ini sangat menyakitkan.

"aku pikir kau tak kembali lagi, setelah 3 HARI KABUR dari RUMAH. Dasar ANAK PUNGUT" sindir Lay dengan menekan beberapa kata.

"Gege, kenapa berkata seperti itu? Dia bukan anak pungut ge, tapi... DIA ANAK PUNGUT DAN PEMBUNUH" ucap D.o memperbaiki 'panggilan' dari Lay untuk Jongin.

Perlahan Jongin membuka matanya yang terpejam, lalu mengernyitkan dahinya bingung. Anak pungut? Pembunuh? Maksud mereka... Apa? Ribuan pertanyaan muncul begitu saja dalam benak Jongin.

"Kau pasti bertanya-tanya bukan? Tentang maksud kami? Kau sudah cukup umur untuk tau hal ini, kalau sebenarnya KAU BUKAN SAUDARA KANDUNG KAMI. KAU HANYA SAMPAH YANG DIANGKAT ORANG TUA KAMI KARENA KEBAIKANNYA, DAN MEMBUNUHNYA SETELAH KAU MENDAPAT APA YANG KAU INGINKAN. DASAR MENJIJIKKAN" ucap Kris dengan mata memandang rendah dan jijik ke Jongin.

DEGG

DEGG

BRUKK

GREEB

"JONGIN-AH, Gwaencanha? APA YANG KALIAN LAKUKAN PADANYA?"

.

.

.

.

.

.

.

.


END


Oke, ini sebenarnya cuman ditambah aja bagian akhirnya aja. Soalnya, kalo mo lanjut chap 4 biar para reader aja yang lanjutin pakai khayalannya sendiri. Takutnya, ntar hancur lagi ffnya. Jugaan kalo misalnya Hyunnie buat endnya nggak sesuai ntar pada demo lagi. Kagak mau ah Hyunnienya, oke ini Di END ya? SEE YOU NEXT FF *KABUUUR

May review again?

DON'T BE A DARk READER !