GOT7's Fanfiction.
Cast :
1) TOP (SEME) GOT7's JB. GOT7's Jackson ;
2) BOTTOM (UKE) GOT7's Junior/ Jie / Jinyoung. GOT7's Mark.
3) Other Cast from EXO's members.
Caution : Yaoi. Shounen Ai. I set the boylove in this story as a normal life. I told you before you read this story. So, enjoy it or leave it if you don't like ^^
~RIDK~
Sepulangnya Mark dari sekolah baru Jaebum, ia langsung pergi ke kafe Flight Log bersama Kyungsoo setelah sebelumnya mampir sebentar ke apartemennya untuk berganti baju. Mark memang tipikal orang yang risih memakai seragam di luar sekolah, ia tak nyaman jika sekolahnya dibawa-bawa jika kebetulan ia mendapat masalah di luar sekolah saat ia memakai seragam sekolahnya. Begitupun Kyungsoo, ia sudah membawa baju ganti karena kemarin malam ia sudah berjanji untuk menemani Lay melakukan pemotretan. Lay adalah model majalah remaja, meskipun ia tak pernah menjadi cover majalah, tapi foto dirinya akan muncul setiap bulannya di berbagai kolom dalam majalah yang mengontraknya secara eksklusif. Biasanya Kris yang menemani Lay, tapi kali ini Kris tak bisa menemani Lay karena Kris bilang ia ada urusan, dan Lay tak tahu itu urusan apa.
Maka setelah kurang lebih setengah jam Kyungsoo menemani Mark di kafe, ia pamit kepada Mark untuk menemani Lay.
"Mark, bolehkah aku pergi duluan? Lay sudah menungguku karena hari ini Kris tak bisa menemaninya melakukan pemotretan."
Tanya Kyungsoo hati-hati, karena sebenarnya yang saat ini sangat membutuhkannya adalah Mark, bukan Lay. Sayangnya, ia sudah berjanji pada Lay, dan dia tak suka mengingkari janjinya.
"hmm, tak apa Kyung.. pergilah."
Mark memberi ijin pada Kyungsoo diiringi senyum manis, meskipun yang Kyungsoo lihat adalah senyum yang dipaksakan.
"oiya, Mark. Kris tak bisa menemani Lay karena ia sedang bermain bilyard dengan Jaebum dan Kai. Dan Lay tak tahu ini, jangan beri tahu Lay, ya?"
"Oke."
Kyungsoo mengatakan itu pada Mark karena Lay adalah orang yang manja dan sensitif. Akan terjadi masalah jika ia tahu alasan Kris tak bisa menemaninya karena Kris lebih memilih pergi dengan teman-temannya.
Kyungsoo adalah yang paling bisa diandalkan oleh para 'top' untuk menangani para 'botttom'. Kyungsoo bisa menangani Mark saat Jaebum tak bisa menangani Mark sendirian, dan Kyungsoo bisa menenangkan dan menemani Lay saat Kris tak ada di samping Lay. Mark sudah memahaminya, dan ia tak marah atas posisi Kyungsoo yang dianggap paling istimewa dibanding Mark dan Lay, karena Kyungsoo memang yang memiliki sikap paling dewasa di antara mereka bertiga.
Dan sepeninggalan Kyungsoo dari kafe, Mark melamun sendirian.
Namun lamunannya buyar seketika saat ia mendengar ada orang yang bernyanyi dengan suara lembutnya dan terdengar menyedihkan, apalagi diiringi dengan ekspresi wajah dan lagu yang melankolis sehingga Mark merasa bahwa penyanyi itu memahami perasaannya. Setidaknya ia tak merasa sendirian saat mendengar suara penuh kesedihan itu.
Mark mendengarkan hiburan akustik itu sambil melamun, hingga ia tak menyadari bahwa penampilan penyanyi itu sudah selesai. Ia terus berkutat dengan pikirannya yang kemana-mana.
Di sisi lain, setelah Jinyoung –penyanyi di kafe tempat Mark berada sekarang- selesai bernyanyi penuh penghayatan selama satu jam, ia mendapat tepuk tangan meriah dari para pengunjung kafe, bahkan ada beberapa dari mereka yang terharu karena nyanyian Jinyoung.
Terima kasih untuk Jackson yang telah membuat Jinyoung sangat menghayati lagu-lagu patah hati yang ia nyanyikan barusan.
Setelah mengucapkan terima kasih dengan cara membungkuk sembilan puluh derajat, tanpa sengaja mata Jinyoung menangkap sosok orang yang ia lihat di sekolahnya tadi sore.
'bukankah itu orang yang bernama Mark?'
Jinyoung bertanya dalam hatinya, kemudian ia melihat Mark dengan seksama. Dan setelah itu ia merasa minder. Bagaimana bisa ia dibandingkan dengan Mark yang sangat cantik, elegan, lembut,dan berkelas seperti itu? Bahkan oversized sweater berwarna peach yang Mark pakai itu terlihat sangat cocok di tubuh Mark yang langsing sehingga menambah keimutan Mark berkali-kali lipat, sedangkan kalau dia yang memakai mungkin dia akan terlihat seperti roti bantal, menurutnya.
Arrrgh! Kalau begini mana mungkin ia bisa bersaing dengan Mark? Mana mungkin Jackson bertahan dengannya jika godaannya adalah seseorang yang memiliki pesona kuat seperti itu?
Jinyoung benar-benar merasa hopeless saat ini.
Ingatan Jinyoung kembali ke kejadian tadi sore di gerbang sekolah, dimana ia mendapati Jackson gugup hanya karena melihat Mark itu.
Ia ingin bertanya pada Mark tentang hubungan apa yang terjadi antara dia dan Jackson, tapi ia terlalu takut atas jawaban apa yang akan dikemukakan oleh Mark.
Maka Jinyoung memilih pergi dari kafe itu setelah hati dan pikirannya berperang, dan dimenangkan oleh hatinya. Hatinya mengatakan untuk pergi saja daripada melihat Mark yang akan membuatnya semakin merasa kecil.
~RIDK~
Keesokan harinya, Jinyoung berangkat sekolah dengan lunglai. Ia tak bisa tidur nyenyak semalam, karena ia terus memikirkan apa hubungan antara pacarnya dengan Mark, mengapa orang secantik Mark dianggap tak menarik oleh Jaebum, mengapa ia merasa minder hanya dengan melihat Mark. Pikiran-pikiran seperti itu terus membuat Jinyoung frustasi sehingga ia tak bersemangat untuk bersekolah hari ini.
Apalagi ia pasti akan bertemu dengan Jackson, dan tak menutup kemungkinan bahwa dia juga akan bertemu Jaebum kalau pria menemuinya. Ah, sepertinya Jinyoung terlalu percaya diri mengenai Jaebum!
"Jie!"
Tapi faktanya, tebakannya memang benar.
Belum sampai masuk ke dalam kelas, Jaebum sudah menghampirinya.
Lebih tepatnya memanggilnya dengan suara mengagetkan. Terlebih memanggil nama panggungnya. Dia benar-benar terlihat seperti fanboy jika memanggilnya dengan nama itu.
"Ada apa? Kenapa pagi-pagi kesini?"
Tanya Jinyoung malas untuk dia menyembunyikan keterkejutannya. Ia ingin merubah image–nya agar terlihat cool di mata Jaebum sehingga ia tak dilecehkan seperti kemarin.
"O. Apa kau bipolar?"
Jaebum bertanya dengan random-nya, dan itu membuat Jinyoung tambah pusing.
"Memangnya kenapa sih?!"
Jinyoung mulai sebal karena Jaebum berhasil memperburuk mood-nya yang memang sudah tidak baik sejak kemarin.
"Kemarin kau cerewet, sekarang kau pendiam, tapi baru saja kau galak. Kau ini bipolar atau sedang patah hati?"
Jaebum menggoda Jinyoung, dan itu membuat wajah Jinyoung merah padam. Bagaimana bisa Jaebum menebak dan tebakannya sangat tepat?
"Ya aku bipolar, jadi pergilah dari sini Jaebum-ssi."
Jinyoung menjawab pertanyaan dengan senyuman lebar yang dibuat-dibuat dan dimanis-maniskan kemudian setelahnya ia mendecak sambil melotot.
Dan Jaebum hanya mengendikkan bahunya kemudian pergi dari koridor kelas Jinyoung tanpa pamit.
Ya, sebenarnya kalimat terakhir yang dikatakan Jaebum kepada Jinyoung tadi bukanlah godaan yang tiba-tiba melintas di otaknya saja. Dia sudah merencanakannya semenjak ia melihat Jinyoung memasuki gerbang sekolah dan menuju ke kelasnya, ia memang berniat untuk mengetahui suasana hati Jinyoung yang sebenarnya saat ini, dan tebakannya benar, Jinyoung sedang patah hati.
Jaebum adalah orang yang sangat tanggap akan keadaan yang sedang terjadi, saat ia mengobrol dengan Mark kemarin di gerbang sekolah, ia melihat sepintas ada Jackson dan juga Jinyoung sedang mengawasi mereka. Maka ia menduga bahwa ada sesuatu antara Jackson dan Mark meskipun ia tak tahu itu apa, yang pasti hal itu berhasil membuat Jinyoung terlihat menyedihkan hingga pagi ini.
Bingo! Jinyoung dan Jackson hanya belum tahu Jaebum itu orang yang seperti apa.
~RIDK~
Jackson yang merasa bersalah karena kemarin membuat Jinyoung marah, berniat untuk pergi kelas Jinyoung, namun langkahnya terhenti saat ia melihat Jinyoung dan Jaebum sedang mengobrol. Dan dari ekspresi Jinyoung, ia yakin Jinyoung masih dalam mood yang buruk. Tapi, kali ini ia tak tahan didiamkan lama-lama oleh Jinyoung, karena sekarang ada sesuatu yang membuat posisinya di hati Jinyoung terancam. Jaebum. Ya, entah mengapa Jackson merasa bahwa Jaebum adalah orang yang patut ia waspadai.
Dan setelah Jaebum pergi, Jackson melakukan aksinya membujuk Jinyoung.
"Baby!"
Jackson berteriak. Dan Jinyoung tak peduli.
Ia bahkan membuka buku pelajaran, padahal belajar di kelas bukanlah gayanya. Dia hanya sangat malas meladeni Jackson untuk saat ini.
Tapi bukan Jackson namanya kalau menyerah begitu saja.
"baby.. baby~~ kau masih marah?"
"..."
Jinyoung masih setia memandang –hanya memandang- buku pelajaran yang dibukanya.
"baby.. kenapa kau marah?"
Saat mengucapkan pertanyaan seperti itu, tiba-tiba Jackson teringat sesuatu.
Mark.
Ya, Jinyoung marah karena Jackson menyebut nama Mark.
"baby, apa kau marah karena aku menyebut nama Mark kemarin?"
Jinyoung mulai mengantisipasi apa yang akan Jackson sampaikan selanjutnya. Pengakuan atau kebohongan.
"ayolah baby~ Mark itu temanku waktu aku masih di sekolah menengah pertama~"
Jackson mulai merengek. Dan ia tak akan berhenti merengek sebelum Jinyoung memperhatikannya. Dan Jinyoung sangat malas apabila menjadi pusat perhatian karena masalah percintaan –tidak elit- seperti ini.
Jadi meskipun Jinyoung masih kecewa dan masih sangat penasaran dengan kejadian kemarin, akhirnya ia mengambil tindakan—
" baiklah aku maafkan. Kembalilah ke kelasmu."
-Memaafkan Jackson dengan berat hati.
Dia tersenyum pada Jackson.
Senyum yang dihiasi kekecewaan dan ketidakpercayaan.
Tapi ternyata Jackson tak peduli. Ia terlalu girang karena sudah mendapatkan maaf dari kekasih tercintanya.
Maka setelah ia mencuri ciuman di pipi kanan Jinyoung, ia langsung melarikan diri dari kelas Jinyoung karena ia akan menerima pukulan jika tak buru-buru kabur. Jinyoung itu sangat malu melakukan skinship di tempat umum. Begitu!
~RIDK~
Jinyoung memaafkan Jackson.
Itu tandanya Jinyoung benar-benar menyukainya.
Dan ia harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Mark.
Harus.
Tapi tidak sekarang.
Ia harus memastikan dulu sesuatu.
Ia harus mengakui perasaannya yang dulu pada Mark dan mendengar jawaban dari Mark tentang perasaan Mark yang dulu padanya.
Setelah itu ia akan merasa lega.
Karena selama ini ia tak punya kesempatan untuk mengungkapkan segalanya pada Mark, sehingga membuatnya seperti terbelenggu oleh masa lalu, yang membuatnya belum bisa menyerahkan seluruh perasaannya pada Jinyoung hingga sekarang.
Ia menyayangi Jinyoung, tapi ia rasa perasaan itu tak sekuat perasaannya pada Mark dulu.
Maka ia harus menemui Mark dan meluruskan segalanya.
~RIDK~
Mark kesepian. Sekarang ia pulang sekolah sendiri karena Jaebum sudah pindah sekolah.
Ia kesepian, karena Kris pasti langsung menuju sekolah Lay untuk menjemput sang putri yang manja. Kyungsoo sudah pulang duluan dengan Kai. Kyungsoo bilang, kali ini ia ingin pulang berdua dengan Kai, jadi Mark tak boleh mengganggunya.
Ck. Tetap saja Kyungsoo mengutamakan Kai diatas segalanya, termasuk rela mengacuhkannya yang sedang bersedih hanya untuk pulang bersama Kai. Mark hanya bisa menarik napas pasrah. Sopirnya tak bisa langsung menjemputnya, karena ban mobilnya pecah dan tak membawa cadangan, maka Mark harus sabar menunggu hingga ban mobilnya selesai diganti setelah sebelumnya diderek.
Mark hanya terlalu malas untuk naik taksi. Dan tidak mau naik bus.
Mengharapkan Jaebum untuk menjemputnya?
For the god sake! Mark berani taruhan atas segala harta warisannya, Jaebum tak mungkin melakukannya. Karena Mark paham, bagi Jaebum, jemput-menjemput adalah masalah sepele. Dan ia tak mau membuat Jaebum tambah marah karena masalah 'sepele' seperti ini lagi.
Maka Mark memutuskan untuk menunggu di kafe, setelah selama setengah jam mondar mandir di lobi sekolah hanya untuk memutuskan kemana ia akan pergi saat ia sendirian seperti ini.
Dengan berpikir selama setengah jam, Mark akhirnya hanya pergi ke kafe depan sekolahnya. Konyol!
Setibanya ia di kafe, ia memesan vanilla milkshake dan akan memilih tempat duduk saat pandangannya tak sengaja bertemu dengan seseorang yang sama sekali tak asing baginya.
'Jackson? Kenapa dia disini'
Mark ingin menghindar, tapi belum sempat ia melangkah,Jackson sudah lebih dulu sampai di hadapannya dan mengajaknya duduk bersama.
Mark akhirnya menyerah. Ia pikir lebih baik ia tak menghindari Jackson lagi. Toh sekarang ia sudah punya Jaebum. Lagipula, sepertinya perasaan sukanya pada Jackson sudah hilang, menurutnya.
Sedangkan Jackson, ia setengah mati menahan kegugupannya karena berhadapan dengan Mark.
Dia memang sengaja datang ke sekolah Mark hari ini, karena ia ingin menyelesaikan semuanya. Tapi sesampainya di sekolah Mark, ia tak memiliki keberanian untuk berhadapan dengan Mark, maka ia memutuskan untuk menunggu di kafe depan sekolah Mark, dengan harapan bahwa Mark akan datang ke kafe.
Dan harapannya terkabul.
Jangan tanya mengapa Jackson tahu dimana Mark sekolah. Dari seragam yang dipakai Mark kemarin saja Jackson sudah tahu.
"hai, Mark."
Jackson membuka obrolan dengan canggung.
Ia gugup.
Dan Mark heran.
Ini tidak seperti Jackson yang dulu, Jackson yang atraktif dan hiperaktif sekarang menjadi orang yang gugup dan terlihat seperti orang yang salah tingkah. Ah! Yang benar saja!
"ya, Jackson?"
Mark tak membalas sapaan Jackson. Tapi satu kalimat yang diucapkan Mark serasa membunuh syaraf pergerakannya sehingga ia merasa lemas seketika.
Tapi, akhirnya Jackson menjawab di tengah kegugupanya.
"err.. Mark. Aku sengaja kesini."
Jackson mengatakan itu sambil menunduk. Ia tak kuat menatap Mark terlalu lama, karena ia bisa mati lemas jika menatap wajah Mark yang begitu cantik dan mempesona.
Dan karena wajah itulah, ia lupa pada Jinyoung.
Dan lupa tujuannya datang kesana –untuk sementara-.
"maksudmu?"
Mark tak tahu harus seperti apa menanggapi Jackson, Mark memang bukan orang yang banyak bicara, jadi lawan bicaranya harus yang mendominasi pembicaraan, sehingga membuatnya nyaman, seperti Jaebum misalnya, oh, dan Jackson yang dulu.
"a-aku ingin bertemu denganmu dan mengatakan sesuatu."
Akhirnya! Jackson berhasil menyampaikan tujuannya datang menemui Mark.
"apa?"
Mark masih irit bicara, ia merasa canggung. Apalagi ini di depan sekolahnya, bagaimana kalau ada yang melaporkan pada Jaebum bahwa ia bersama pria lain disaat Jaebum tak ada di sampingnya?
Akhirnya Jackson bisa menguasai dirinya setelah beberapa menit berjuang menahan diri dari pesona seorang Mark Tuan.
"Mark, apakah kau pacar Jaebum?"
"iya. Kau sudah mengenalnya?"
"kami satu jurusan meskipun beda kelas."
"oh."
Mark hanya ber-oh-ria menanggapi jawaban Jackson. Ia tak tertarik. Lagipula kenapa Jackson membicarakan Jaebum? Apa dia menyukai Jaebum? Bukankah mereka sama-sama memiliki aura yang kuat sebagai 'top'?
"err, Mark, aku mengenal Jaebum karena kemarin Jaebum mengatakan kalau ia tertarik pada pacarku di depan mataku sendiri."
Akhirnya Jackson mengingat Jinyoung dan mengakui bahwa ia sudah punya pacar. Dan mengatakan bahwa Jaebum tertarik pada pacarnya. Apa maksudnya?
"kau sudah punya pacar?"
Jackson tersentak.
Shit! Mark keceplosan. Kenapa tiba-tiba ia gagal fokus? Kenapa ia menanyakan sesuatu yang seharusnya tak perlu ia ketahui? Seharusnya ia mencari tahu mengenai Jaebum. Ya, mengenai Jaebum, pacarnya.
"err.. maksudku, Jaebum pacarku, apa kau yakin bahwa yang kau maksud adalah Jaebum pacarku atau Jaebum yang lain?"
Mark tersenyum kikuk. Pertanyaan bodoh. Harusnya ia terlihat cemburu. Agar Jackson tak curiga.
Tapi kenapa ia tak cemburu saat ia mendengar bahwa Jaebum menyukai orang lain? Apakah ia sudah menyiapkan diri sebelumnya karena ia sudah menebak bahwa hal seperti ini pasti akan terjadi?
Meskipun ia tak cemburu, tapi ia tetap tak terima.
"iya, aku dengar kemarin dia juga menyebut namamu sebagai pacarnya.. jadi—"
'setidaknya jaebum masih ingat kalau aku masih pacarnya'
Batin Mark, kemudian ia memotong pembicaraan Jackson.
"Jackson, aku tak suka Jaebumku tertarik pada orang lain, dan kau harusnya juga tak suka jika pacarmu itu disukai oleh Jaebum. Lalu kenapa kau malah datang kesini dan tidak melindungi pacarmu dari Jaebum, huh?"
"memangnya saat ini pacarmu sedang bersama siapa kalau kau ada disini menemuiku?"
Mark menghasut Jackson. Ini juga untuk memastikan perasaannya. Karena ia tak merasa cemburu saat mengetahui Jaebum tertarik pada orang lain, maka ia ingin tahu bagaimana perasaannya jika Jackson lebih mementingkan kekasihnya daripada dirinya yang sengaja Jackson temui.
"o-oh, benar juga!"
Jackson memukul kepalanya sendiri sambil tersenyum kikuk. Seolah-olah ia menyesali keputusannya menemui Mark. Tapi sebenarnya ia tak menyesal, hari ini ia benar-benar ingin bicara dengan Mark. Hanya dengan Mark. Tak ada Jinyoung untuk hari ini.
"Jack, aku mau pulang dulu."
Mark tak bisa lama-lama bersama Jackson. Ia takut jika jatuh ke lubang yang sama dan tak bisa keluar lagi. Menyukai Jackson –lagi-. Ia tak mau karena Jackson bukanlah tipenya. Jauh dari tipe idealnya. Karena sekarang Mark sedang berpacaran dengan tipe idealnya –Jaebum- maka ia tak ingin hubungannya runtuh hanya karena kehadiran seorang Jackson.
"tunggu. Mark, biar aku antar kau pulang."
"kulihat tak ada seorang pun yang menjemputmu." Tambahnya.
Bagaimana ini? Mark ingin pulang dan segera tidur, tapi sopirnya tak kunjung menjemputnya, maka hanya ada satu cara-
"hanya untuk kali ini, Jack."
Jackson sumringah. Mendadak ia merasa sangat bahagia saat Mark menerima ajakannya untuk pulang bersama.
Dan Mark, entah mengapa melihat Jackson tersenyum lebar seperti itu, mau tak mau membuatnya ikut tersenyum kecil. Hatinya menghangat. Tapi ia segera menepis semua itu. Ia kembali ke mode semula. Cuek.
~RIDK~
Jackson mengatakan akan pulang sendiri karena akan menyelesaikan urusannya, dan itu membuat Jinyoung sedikit kesal.
"baru saja dimaafkan tapi aku ditinggal pulang sendirian. Ish.. menyebalkan!"
Jinyoung mengumpat dalam hati sambil berjalan menuju halte bus.
Tapi sebelum ia keluar dari gerbang sekolah, ia lagi-lagi dihadang oleh pria sok keren bernama Im Jaebum itu. Sigh!
"mau kemana, Jie?"
"pulang."
Jawab Jinyoung ketus.
"aku punya tawaran yang lebih bagus."
Jaebum tersenyum cerah memamerkan deretan giginya yang rapi.
"apa?"
Jinyoung menanggapi Jaebum sambil tetap berjalan menuju halte sehingga mau tak mau Jaebum harus mengikutinya.
'Kau benar-benar sulit jie. Dan membuatku semakin tertantang.'
Batin Jaebum tersenyum bahagia sambil ia mengikuti langkah Jinyoung.
"ikut aku dan kukenalkan kau pada dunia baru."
"mwo?"
"ayo!"
Akhirnya Jaebum memaksa Jinyoung dengan menarik tangannya dan membawanya ke dalam mobilnya. Hari ini Jaebum membawa mobil sendiri, karena biasanya memang ia menyetir sendiri. Kemarin ia diantar sopir karena ia belum tahu situasi jalan menuju sekolah barunya, dan ia tak mau mengambil resiko untuk terlambat di hari pertamanya sekolah.
"kau mau membawaku kemana sih?"
Jinyoung bertanya dengan kesal setelah ia duduk dengan manis di dalam mobil Jaebum.
"ke teman-temanku. Kau akan kukenalkan pada mereka."
Jawab Jaebum sumringah tanpa menatap Jinyoung karena sekarang ia sedang mengendarai mobilnya.
"kau mau memperkenalkanku pada temanmu? Memangnya aku pac—"
"sudah kulbilang aku tertarik padamu."
Potong Jaebum mantap dan itu membuat Jinyoung membeku seketika.
Dasar Jaebum brengsek! Beraninya membawa seseorang yang sudah punya pacar dan mengenalkannya pada orang-orang yang dekat dengan pacarnya sendiri. Ugh!
~RIDK~
"akan kukenalkan kalian pada seseorang, datang ke Starbucks jam 5. Mark tak perlu tahu."
Jaebum mengirim itu kepada empat temannya. Dan empat orang itu tak berhenti mengumpat karena Jaebum membuat mereka harus membohongi dan meninggalkan Mark sendirian di sekolah.
Dan disinilah mereka, menunggu Jaebum di kafe dengan rasa penasaran.
Tapi rasa penasaran mereka seketika menguap saat Jaebum datang bersama seseorang yang asing, dan terlihat biasa saja, menurut mereka.
"hey what's up!"
Jaebum melakukan hi-five dengan satu persatu temannya sebelum dia memperkenalkan Jinyoung.
"oiya, ini yang akan kukenalkan pada kalian, namanya Jie."
"Jie?"
Tanya Kyungsoo dengan wajah datarnya.
Jinyoung yang merasa bahwa mereka merasa aneh dengan nama panggungnya akhirnya memperkenalkan dirinya sendiri.
"anneyong haseyo.. namaku Park Jinyoung."
Jinyoung memperkenalkan diri sendiri dengan membungkuk sembilan puluh derajat, lalu memberikan lirikan sadis pada Jaebum. Dan Jaebum hanya nyengir kuda, lalu—
"Jie, mereka berempat temanku. Kalau kau menggoda pria tinggi itu maka orang yang berlesung pipit itu akan membunuhmu. Kalau kau menggoda pria berkulit tan itu, maka orang bermata bulat itu akan menyerangmu."
'ish apa dia tak punya cara yang lebih sopan untuk memperkenalkan orang?'
Batin Jinyoung. Ia heran dengan cara ajaib Jaebum memperkenalkan teman-temannya.
"aish yang benar saja? Aku tak akan membunuh orang, Bum!"
Celetuk Lay.
Ia tak terima jika orang yang baru dikenalnya akan takut padanya karena ia disangka pembunuh. Aish, Lay.. kau sangat polos.
Dan Jaebum lagi-lagi tersenyum tanpa dosa.
Lalu Kris menyelamatkan situasi.
"sudah, sudah. Perkenalkan aku Kris, dan yang berlesung pipit ini pacarku, namanya Lay, oh ya dia tak tega membunuh, kok."
Kris berhenti sejenak, lalu mengedipkan mata pada Lay. Lay tersenyum malu-malu.
"dan pria tan ini panggil saja namanya Kai, dan mata bulat itu namanya Kyungsoo. Senang berkenalan denganmu, Park Jinyoung-ssi."
Kris mengakhiri perkenalannya dengan baik dan itu membuat Jinyoung lega. Rupanya otak teman-teman Jaebum masih waras. Tak seperti Jaebum yang absurd, menurutnya.
Oh tunggu, Jinyoung merasa sedikit terganggu dengan tatapan seseorang. Tatapan mata Kyungsoo. Si mata besar itu menatapnya seolah-olah ingin menyerangnya saat itu juga. Dan itu membuat Jinyoung sedikit takut dan tak nyaman.
~RIDK~
Jackson mengantar pulang Mark dengan menaiki motor sport-nya. Karena itulah, mau tak mau Mark harus berpegangan pada pinggang Jackson agar ia tak jatuh. Karena Mark sama sekali tak terbiasa naik motor, maka ia merasa bahwa hanya berpegangan pada pinggang Jackson saja akan sangat beresiko, ia merasa sangat takut jika terjatuh. Maka ia memeluk Jackson dari belakang demi keselamatan dirinya.
Dan tindakan sederhana dan refleks itu berhasil membuat jantung Jackson berdetak sangat cepat hingga badannya gemetaran. Untung saja, ia bisa mengendalikan motornya, sehingga mereka tak jatuh karena 'serangan' dadakan dari Mark itu.
Jackson hanya diam saja meskipun gugup. Mark tetap cuek dengan skinship intim yang ia lakukan kepada Jackson.
Sesampainya di apartemen Mark, Jackson tak langsung pulang. Ia masih diam terpaku di atas motornya. Sampai Mark hilang dari penglihatannya, Jackson baru tersadar dan memukul mukul dadanya sambil tersenyum salah tingkah.
"bodoh, kau bodoh. Kenapa kau tak bisa menolak perasaan itu lagi? Kan sudah kubilang untuk melupakannya, kenapa sekarang kau malah berdetak semakin cepat daripada dulu? Bodoh!"
Ya. Jackson sedang 'berbicara' dengan jantung dan hatinya yang tak bisa diajak kerjasama. Jackson memang bodoh saat jatuh cinta. Tapi kebodohannya ini rasanya lebih ekstrim daripada dulu.
Tapi, lalu Jackson menyadari sesuatu.
Jinyoung.
Malam ini ia belum menghubungi Jinyoung sama sekali setelah meminta Jinyoung pulang sendirian tadi sore.
Lalu cepat-cepat ia mengambil handphonenya lalu menelepon Jinyoung.
Tapi tak diangkat. Dan itu membuat Jackson bingung. Ia berkali-kali mencoba menghubungi Jinyoung tapi tetap tak ada tanggapan.
Jackson kelabakan.
Dan perilakunya itu ternyata diawasi Mark dari balik jendela apartemennya.
Mark menghela napas berat.
Mark bingung.
'Jadi, perasaanmu sudah berubah Jack?'
Harusnya ia kan bersikap biasa saja. Tak perlu kecewa jika Jackson tak mengistimewakannya karena Jackson sendiri yang mengatakan kalau ia punya pacar. Dan itu adalah pasti, jika Jackson mengutamakan pacarnya di atas segalanya.
Mark memahaminya. Tapi sebagian hatinya merasa tak rela jika Jackson memperlakukan seseorang sebegitu istimewanya, melampaui perlakuannya saat melakukan pendekatan pada Mark dulu.
Mark merasa iri pada pacar Jackson.
Maka Mark ingin bertemu dengan pacar Jackson.
Dan ia tahu bagaimana caranya.
~RIDK~
Mark menunggu di dalam apartemen Jaebum. Ia bisa masuk karena ia mengetahui password apartemen Jaebum.
Jaebum belum pulang, dan ia malas melakukan apapun.
Maka ia hanya tiduran dengan posisi duduk di sofa ruang santai.
Dan setelah beberapa lama, ada sebuah lengan yang menyelinap masuk ke belakang leher Mark. Dan itu pasti Jaebum.
Sikap Jaebum memang selalu manis saat mereka akur seperti ini. Maka dari itu Mark sangat bimbang. Apa benar Jaebum tak memiliki perasaan apapun padanya jika sikapnya saja selalu semanis ini.
Hah! Menebak seperti ini selalu membuat Mark frustasi.
Maka yang bisa ia lakukan hanyalah menghamburkan diri ke dalam pelukan Jaebum dan menenggelamkan wajahnya di dada Jaebum.
Dada bidang itu selalu membuat Mark terbuai.
"sudah lama?"
Jaebum membuka percakapan.
"hmm"
Mark menjawab pertanyaan Jaebum dengan singkat namun nyaman. Membuat Jaebum tersenyum.
"kau mau menginap?"
"hmm"
"apa kau begitu merindukanku, huh?"
".."
Mark tak menjawab. Hanya mengangguk di dada Jaebum.
Jaebum kemudian mengelus rambut Mark dengan lembut membuat mark semakin terbuai.
Tapi kemudian Mark ingat tujuannya datang kesana.
"Jaebum-a, bolehkah besok aku datang ke sekolahmu?"
"memangnya mau apa?"
Tanya Jaebum santai.
"hanya untuk melihat-lihat saja."
"boleh."
Mark senang. Akhirnya langkah pertamanya berhasil.
Tapi sayangnya Mark tak tahu bahwa Jaebum sudah mengantisipasinya.
Ia mengijinkan Mark karena ia ingin tahu hubungan apa yang terjadi antara Jackson dan Mark.
Dan rupanya ia tak perlu susah payah, karena Mark datang dan menawarkan dirinya sendiri.
Jaebum memang sangat tertarik pada Jinyoung dan penasaran setengah mati padanya, tapi Mark adalah pacarnya, dan ia sedikit tak terima jika pacarnya diam-diam menjalin hubungan dengan pria selain dirinya, karena itu akan mencoreng harga dirinya.
~RIDK~
Jackson frustasi karena tak bisa menghubungi Jinyoung, ia mengotak atik kontak di ponselnya hingga ia menemukan sebuah nama.
Mark Tuan.
'Masih bisakah nomornya dihubungi?'
Karena semenjak ia lulus sekolah menengah pertama dulu, ia sama sekali tak menghubungi Mark. Ia malu. Dan juga minder.
Namun tanpa sadar, dia memencet tombol dial dan ternyata masih ada nada sambung.
Dan saat ini, ponsel Mark sengaja diatur dalam mode diam, dan Mark hanya meletakkan di sembarang tempat.
Lebih tepatnya di nakas samping sofa yang memungkinkan Jaebum untuk mengetahui nama si pemanggil jika ada panggilan masuk ke ponsel.
Dan akhirnya ada panggilan masuk.
'Jackson Wang'
'Mark menyimpan nomor Jackson. Sebenarnya ada apa di antara mereka berdua?'
Jaebum tak mengangkat panggilan itu, dan juga tak memberitahu Mark yang tengah asyik menonton film dengan masih bersandar di dada Jaebum.
Jaebum membiarkannya.
Dan itu membuat Jackson merasa sedikit frustasi.
'Apa aku benar-benar tak penting bagimu Mark?'
To Be Continued..
Terima kasih untuk yang udah review, fav, follow, and read.
Mian belum bisa balas satu satu :*
Sincerely,
.
-Salvia Im-
