Ch. 3: An Answer


(Sebulan kemudian, Vongola Headquarter)

Sudah sebulan berlalu sejak liburanku di Taiwan bersama Tsunayoshi. Dua hari kedepan waktu liburan kami itu dihabiskan dengan jalan-jalan bersama, karena ternyata Tsunayoshi lumayan bisa jalan. Kami mengunjungi tempat-tempat wisata disana, mencoba makanan China di berbagai tempat, membeli oleh-oleh, dan lain-lain. Tapi Tsunayoshi sama sekali tidak menjawab pernyataan cintaku.

...bahkan saat kami berpisah di bandara, dia tidak memberiku pelukan atau ciuman. Kalau aku mau melakukannya, Chrome si Mist Guardian Tsunayoshi selalu membuat ilusi untuk menipuku.

...bukannya aku tidak tahu kalau itu ilusi sih... yaa, kurasa Tsunayoshi memang butuh waktu untuk soal ini.

Tapi satu bulan tanpa menghubungiku sama sekali kan keterlaluan.

Karena itu, saat aku mendapat jam istirahat, aku langsung menyuruh Vito untuk menyetir ke Vongola Headquarter.

Dan sekarang, disinilah aku berada. Di dalam ruang tamu yang megah di Vongola HQ. Menunggu kedatangan Tsunayoshi tercinta yang katanya masih sibuk dengan pekerjaan. Segelas teh sudah disediakan untukku. Sedangkan Vito... dia hanya kusuruh untuk mengantarku saja. Lalu menjemputku saat aku sudah selesai disini. Dia menganggukkan kepalanya, sudah enam tahun dia terus melayaniku, tapi tanpa ekspresi dan emosi. Hanya menyanggupi tugas saja. Yaa, aku tidak pernah mempermasalahkan sifatnya yang seperti robot sih.

BRAK!

Pintu ruang tamu dibuka. Kutolehkan kepalaku ke arah pintu dengan senyum terlampir di mulutku, tapi yang masuk bukan Tsunayoshi. Orang lain. Pria. Lumayan tinggi. Sepertinya melebihiku sedikit. Rambut dan bola matanya hitam, tatapan matanya tajam. Dengan intuisiku, bisa kurasakan dia seorang yang suka bertarung. Dia berjalan mendekatiku... tapi ternyata berbelok ke arah rak tempat menaruh koran-koran harian.

"Eng... selamat siang." Sapaku sambil tersenyum.

"...ya." balasnya pendek. Hm, kenapa rasanya dia mirip seseorang ya? Gaya bicaranya yang pendek dan... aura membunuhnya. Meski tipis, tapi tetap bisa kurasakan. Dia sedikit mirip orang yang kukenal, sayang aku lupa siapa.

Setelah melihat sekilas koran-koran itu, dia merapihkannya kembali dan langsung menatapku, "Siapa kamu dan ada urusan apa kamu disini?"

Aku tersenyum, "Borgia Decimo, Giotto del Borgia. Aku datang untuk menemui Tsu-, Vongola Decimo."

"Apa urusanmu menemui Boss kami?"

"Urusan pribadi." Jawabku masih sambil tersenyum, "Boleh aku tahu siapa kamu?"

"Aku tidak suka memperkenalkan diriku pada orang lain yang tak jelas urusannya mencari Boss kami."

"Kan sudah kujawab. 'Urusan pribadi'."

"Aku tidak bisa menerima jawaban seabstrak itu."

"Oh?"

"Heh. Kami korosu, Herbivo—"

BRAAAKK!

Pintu ruang tamu dibuka, padahal baru saja pemuda itu memasang kuda-kuda untuk menyerangku. Aura membunuhnya berangsur-angsur lenyap ketika melihat orang yang membuka pintu itu. Aku juga melihatnya dan langsung tersenyum.

"Lama tak berjumpa Tsunayo-"

"Hibari-san!" pekik lelaki yang muncul di pintu itu. Tsunayoshi. Boss ke-10 keluarga Vongola. Orang yang belum menjawab pernyataan cintaku. Garis bawahi yang terakhir tadi.

Dia segera melangkahkan kakinya mendekati pria itu, lalu berbicara dalam bahasa... Jepang? Untung saja aku bisa bahasa Jepang.

"Kapan kamu kembali kesini?" tanya Tsunayoshi dalam nada kuatir.

...cih. harusnya kamu menyapaku dulu, Tsunayoshi.

"Baru saja." Jawab 'Hibari-san' pendek.

"Lalu bagaimana dengan tugasmu di Jepang? Kudengar kamu terluka? Kamu tidak apa-apa Hibari-san?"

Oh. Pantas Tsunayoshi cemas.

"Aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil. Omong-omong... siapa dia?" 'Hibari-san' menatapku tajam.

"Ah, dia ini—" Tsunayoshi memakai bahasa Italia, "Perkenalkan, Boss kesepuluh keluarga mafia Borgia, Giotto del Borgia. Dia... ehh... kenalanku."

Hanya 'kenalan'mu sajakah setelah kita berciuman dan melakukan seks berkali-kali, Tsunayoshi?

"Lalu, Giotto, dia ini Hibari Kyouya. Cloud Guardianku."

Oh...

"Selamat siang Hibari." Sapaku ramah, "Senang berkenalan denganmu."

Karena jarak kami berdiri cukup jauh, tentu aku tidak mengulurkan tanganku. Tapi Hibari sama sekali tidak tersenyum padaku.

"Aku pergi, Herbivore." Katanya dalam bahasa Jepang lalu berjalan menjauhi Tsunayoshi.

"E-eh? Iya. Hati-hati Hibari-san."

"Aku bukan bayi yang harus kau perhatikan."

Lalu sosoknya yang seperti serigala kesepian pun hilang dari ambang pintu.

"...aku tidak tahu kamu punya banyak panggilan oleh Guardianmu." Kataku dalam bahasa Jepang.

"Ah ya... begitulah. Haha— KAMU BISA BAHASA JEPANG?"

"Bisa. Kenapa?" aku sedikit kaget dengan reaksi Tsunayoshi.

"...tidak... hanya sedikit kaget saja..." Tsunayoshi menghela napas.

"Tadi kamu sudah tahu kalau Hibari sudah pulang?"

"Iya. Begitu aku dapat kabar, aku langsung kemari dari ruang kerjaku."

"...sedangkan aku tamumu, tidak kau hiraukan ya..."

"Bukannya tidak kuhiraukan. Tapi maaf, aku memprioritaskan keluargaku."

"Oh begitu."

Hening sejenak. Aku terduduk di kursi sofa. Tsunayoshi diam saja. Kemudian dia berjalan ke sofa di depanku lalu duduk.

"Sekarang aku istirahat dulu dari pekerjaanku sebagai boss. Jadi ada perlu apa kamu, tamuku?"

Aku melebarkan mataku sambil menatapnya, "Jadi sebagai Sawada Tsunayoshi, kamu memprioritaskan tamumu?"

"Kedatanganmu kemari kan bukan urusan pekerjaan Giotto." Dia tersenyum padaku.

Mendengar jawabannya, aku tertawa kecil, "Ya. Aku ada 1-2 hal yang mau kubicarakan denganmu Tsunayoshi."

"Apa itu?" dia sedikit memiringkan kepalanya dan menatapku bingung.

...imut.

"Sudah satu bulan sejak pertemuan kita di Taiwan dan kunyatakan perasaanku padamu..."

Kulihat Tsunayoshi bergidik sedikit.

"Aku mencintaimu Tsunayoshi. Bagaimana denganmu?"

Kulihat matanya melebar dan perlahan, wajahnya memerah.

...manis.

"E-eh... A-aku... perasaanku..." ucapnya gagap.

...lucu sekali.

"...aku sudah tidak marah karena secara sepihak kamu memaksaku... melakukan hubungan badan, tapi aku hanya tidak suka karena kamu melakukannya tanpa ijinku."

Dia sedikit menundukkan kepalanya.

"Lalu, soal hubungan kita..."

Kutajamkan telingaku.

"Kurasa... di-dicoba dulu tidak apa-apa..." katanya dengan wajah yang sangat merah. Aku langsung tersenyum padanya.

"Baiklah sayangku."

"Pa-panggil nama sajalah! Jangan pakai kata-kata aneh!"

"Itu bukan kata-kata aneh kok. Tapi kata-kata cinta..."

"Uuuuh! Iya deh terserahmu, sekarang apa maumu? Urusanmu kan sudah selesai. Memang kamu tidak mau kembali kerja?"

"Aduh. Dingin sekali Tsunayoshi ini. Ya, yang penting aku sudah dapat kepastian tentang hubungan kita."

"...kenapa kamu bisa terus tersenyum seperti itu sih...?" tanya Tsunayoshi.

"Mungkin itu kelebihan pribadiku."

"...ya sudahlah. Sudah jam 1 siang. Kamu tidak kembali ke pekerjaanmu?" tanya dia.

"Eh? Kamu segitu inginnya berpisah denganku?" kutanya balik sambil mengerutkan keningku.

"A-" mulutnya menganga. Dia membuang napas sebentar, "Iya. Karena kita sama-sama sibuk."

...itu sedikit sakit... meski dia benar.

"Baiklah kalau begitu." Kukeluarkan handphoneku dari saku celana lalu kutelepon Vito, memberi tahunya kalau aku sudah selesai. Lagi-lagi dibalasnya dengan frase yang sama, "Baik. Giotto-sama."

"Kamu mau mengantarku nanti?" kutanya Tsunayoshi.

"Tentu saja. Sebagai Boss Vongola tentunya." Jawab dia. Kenapa aku merasa dia menekankan bagian 'boss'nya ya?

"Kenapa tidak sebagai kekasih saja? Sekarang kan kita pasangan?"

...

Perlahan, segaris kemerahan muncul di pipi Tsunayoshi. Alisnya berkerut. Tangannya dikepalkan, dia menatapku dengan tatapan kesal.

Kamu tetap terlihat imut, sayangku...

"Baiklah kalau kamu tidak mau. Disini saja." Ucapku.

"Hah? Disini?"

"Iya, salam perpisahannya," aku tersenyum lebar... kok dia malah mengambil langkah mundur ya? "Bukan yang aneh-aneh kok. Disini saja." Lanjutku sambil menunjuk pipi kananku.

Tsunayoshi menghela napas, "Baiklah. Di pipi ya." Dia berjalan mendekatiku.

Kami berdiri berhadapan, pipinya merona lagi. Tapi lalu dia mulai menjinjitkan kakinya, matanya pun perlahan-lahan menutup. Dengan lembut, Tsunayoshi mengecup pipiku.

"..."

"...boleh aku memelukmu?" tanyaku.

"Hah? Bo-boleh..." jawabnya sedikit ragu.

Aku langsung melingkarkan lenganku di punggungnya.

"Gi-Giotto- aku tidak bisa bernapas!" kata Tsunayoshi kepayahan. Sepertinya aku terlalu erat memeluk tubuh mungil dia.

"Maaf." Sedikit kulonggarkan pelukanku.

Terdengar ketukan di pintu. Tsunayoshi langsung membalikan badannya dan kulepas pelukanku.

"Ma-masuk." Katanya sambil berjalan maju. Kuikuti saja dia dari belakang.

Seorang wanita berpakaian serba hitam membuka pintu itu.

"Decimo-sama, jemputan untuk Borgia Decimo-sama sudah tiba."

"Oh, baik. Terimakasih Chiara," Tsunayoshi membalikan badannya melihatku, "Mari saya antar, Borgia Decimo." Senyuman bisnis dilontarkannya.

"Ya. Vongola Decimo." Kutanggapi akting bisnisnya.

Sesaat, dia tersenyum padaku. Aku bingung kenapa dia selalu bisa tersenyum lembut seperti itu. Ya, rasanya berbeda sekali dengan aku yang sebenarnya. Kami berjalan bersama keluar dari ruang tamu, wanita yang bernama Chiara itu menutup pintu. Sambil berjalan, aku dan Tsunayoshi membicarakan beberapa hal tentang bisnis. Mendekati pintu utama Vongola Headquarter, aku mengubah topik pembicaraan.

"Kamu sudah pernah ke Thailand?"

"Belum. Kenapa?" tanya Tsunayoshi.

"Kuharap kita bisa berlibur bersama disana, entah dalam waktu dekat ini atau kapan." Kataku sambil tersenyum nakal.

Ekspresi wajah Tsunayoshi langsung berubah. Wajahnya memerah.

"Ka-kamu jangan bercanda!" dia memukul pundakku pelan.

"Aku tidak bercanda kok," kubungkukkan badanku sedikit, kemudian aku berbisik padanya, "Nanti malam kutelpon."

Wajahnya memerah lagi.

"Nah, terimakasih sudah mengantarku sampai sini, Vongola Decimo." Ucapku sambil tersenyum.

"Ah... iya. Sama-sama Borgia Decimo. Sampai jumpa di lain waktu."

Aku membalikan badanku dan melihat ke arah mobil lamborghini hitam di depanku. Vito sudah berdiri dan membukakan pintu untukku. Aku berjalan memasuki mobil itu. Setelah duduk dengan aman, Vito menutup pintu. Kulihat dia sedikit membungkukkan badan ke arah Tsunayoshi. Setelah itu barulah dia berjalan ke arah pintu pengemudi. Tak lama, Vito segera mengendarai mobil ini dan keluar dari kediaman Vongola HQ.

(Di tengah perjalanan)

"Bagaimana dengan Vongola Decimo, Boss?" tanya Vito.

"Yah... dia itu sama sekali tidak sadar kalau aku punya maksud tersembunyi mendekati dia. Sungguh orang yang sangat polos di dunia mafia." Jawabku sambil tertawa.

"Begitu. Sampai kapan Boss mau melakukan sandiwara ini?"

"...sampai semua tujuanku tercapai."

"Semoga hal itu segera terjadi."

"...'semoga' ya..."

Aku tidak suka kata 'semoga'. Kalau semuanya cepat terjadi, aku tak'kan bisa menikmati semua permainan ini. Aku ingin memanfaatkan kegunaan Vongola Decimo dalam dunia bisnis mafia perlahan-lahan. Dengan manis dan kejam. Menghisap seluruh kegunaannya...

"Vito,"

"Ya Boss?"

"...hal ini akan jadi semakin menarik."


.

ternyata aku lebih menikmati membuat segreto utk beberapa waktu ini... tapi swap sensation bakal aku update bulan depan kok... doain aja smoga cepet di update... hehe.

review please? arigatoo xD