A NARUTO FICT

BY NAMIKAZE MUTIARA HANA

I WILL BE YOUR MAN

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: Namikaze Minato & Uzumaki Kushina

Genre: masih dengan Romance, tragedy, dll

Warning: lebih aneh, ga je, typos, de el el

DON'T LIKE DON'T READ


RenCaggie: Pasti dong. Happy Reading ya. Arigatou untuk reviewnya :D

Aika Licht Youichi : Hu'uh galau mulu nih :P Arigatou untuk reviewnya :D

Shisui Namikaze Deandress Chan: Huhuhu ngayal banget ya ni author. haha Arigatou untuk reviewnya :D

AzuraCantlye : hehe, saya juga sama baru tahu. Arigatou untuk reviewnya :D

kyukouzumaki: nih saya kasih deh yang lebih panjang :p Arigatou untuk reviewnya :D

minkyoo uchiha : iya ini udah di mulai nih konfliknya. Arigatou untuk reviewnya :D

U. Icha-chan :hehe iya. Arigatou untuk reviewnya :D

Nitya-chan : chapter tiga update. gomen kelamaan :p arigatou untuk reviewnya :D

dan makasih juga untuk silent reader! :)

Okey Happy Reading ya Reader-san!


"Karena takdir seorang geisha hanya menjadi selir, atau tidak menikah"

"Aku harap kalian tidak mengenal apa itu cinta. Bukan aku egois, namun aku tak ingin kalian merasakan apa yang aku rasakan dulu. Mungkin memang takdir seorang geisha hanya menjadi selir atau tidak menikah"

Kata-kata itu terus terdengar di telinganya.

.

.

"Sepertinya aku akan menolaknya Mikoto-chan"

"Kau jangan langsung mengambil keputusan begitu Kushina. Fikirkan lagi baik-baik" Mikoto memegang pundak sahabatnya itu. Ia mencoba menenangkannya.

"Ya aku merasa kau benar. Takdir seorang geisha hanya menjadi selir, atau tidak menikah" suara Kushina terdengar berat.

"Shina-chan, kita pergi ke taman yuk!Ya setidaknya itu akan sedikit menenangkanmu. Aku simpan dulu makanan dan kimono ini. Tunggu sebentar!" Mikoto berdiri membawa makanan dan kimononya. Ia berjalan segera menuju rumah mereka. Kushina hanya melihat pundak sahabatnya itu lalu ia kembali menenggelamkan lagi wajahnya dengan memeluk erat lututnya.

.

.

"Maksudmu apa memberitahu para media itu tentang hubungan kita? Aku tidak pernah ingin bertunangan denganmu" Minato cukup berteriak keras pada seorang wanita cantik di hadapannya. seluruh pengunjung cafe yang mendengar teriakannya melihat ke arah meja mereka. Namun Minato tak memperdulikannya. Gara-gara wanita di depannya, ia terus saja di kejar oleh para wartawan yang ingin meminta konfirmasi dirinya. Minato kini berpakaian serba tertutup juga memakai kacamata hitam. Wanita itu hanya terdiam sambil memperhatikan pengunjung yang melihat ke arah mereka.

"Kau bisa tidak mengecilkan suaramu itu? Kita bicara di mobil" wanita itu menarik tangan Minato. Mereka akhirnya sampai di dalam mobil milik pemuda itu.

"Kau kenapa sih? Ini kan memang keinginan kedua orang tua kita" sahut wanita itu dengan nada tinggi. Kana malu sekali dengan makian Minato di cafe barusan.

"Keinginan kedua orang tua kita?" Minato mengenyitkan dahinya.

"Ya, dan aku hanya ingin menuruti kedua orang tuaku!" wanita itu memalingkan wajahnya dari Minato.

"Dengarkan aku Kana" Minato memegang pundak wanita itu. Menyuruhnya untuk menatap kembali blue shapirenya. "Kita sudah membicarakan ini lama. Kau sendiri yang habis-habisan akan menolak perjodohan ini. Tapi, kau sendiri yang mengingkarinya. Aku tidak percaya!" Minato menatap tajam pada wanita itu. Kacamatanya kini sudah di buka. Wanita itu terlihat seperti ingin menangis.

"Aku sudah menganggapmu sebagai sahabatku sendiri. Tapi ternyata aku salah. Kau pengingkar janji" lanjutnya sambil mengalihkan pandangannya. Ia begitu kecewa terhadap wanita yang ada di sampingnya.

"Aku melakukannya karena aku menyukaimu Minato" lirih Kana. Tak terasa air matanya ikut mengalir melewati pipinya. Ia begitu kaget dengan sifat Minato yang berubah 180 derajat padanya.

"Menyukaiku?" Minato kembali mengenyitkan dahinya. "Aku tak mengerti kenapa kau bisa begitu" Minato mengacak-ngacak rambutnya. Permasalahan ini semakin rumit. Di tambah lagi dengan repotnya ia dalam mengurusi perusahaannya. Cukup sudah membuat pemuda itu merasakan frustasi.

"Ya aku menyukaimu Minato. Aku ingin bersamamu" wanita itu terisak. Minato yang melihatnya sungguh tidak tega. Dia paling tidak suka melihat wanita menangis di hadapannya.

"Sudahlah Kana. Hentikan tangisanmu" kata Minato tanpa menoleh ke arah wanita itu. Kana menghapus air matanya.

"Aku sudah memberitahu dunia bahwa kau adalah kekasihku. Kau harus jadi tunanganku Minato. Kumohon" Kana memegang tangan kekar milik Minato. Minato hanya diam masih tak melirik Kana.

"Kau egois!" Minato menepis pegangan Kana. Ia merasa bersalah karena telah sedikit berbuat kasar pada wanita itu. Tangis wanita itu kembali pecah.

"Aku minta maaf. Jangan membenciku Minato" Kana menggigit bibir bawahnya. Ia menyesal telah berbuat ceroboh. Minato pasti saat ini sangat membencinya.

"Tapi kumohon Minato. Jangan memintaku untuk mengatakan itu sekarang" lanjut Kana sambil kembali memegang tangan Minato.

"Baiklah, aku maafkan kau. Tiga bulan lagi kau harus mengatakannya pada media itu. Akan ku pegang omonganmu Kana" Minato melirik wanita yang ada di sampingnya. Ia merasa sedikit lega dengan penuturan wanita itu.

"Baik, tapi aku ingin kau jujur padaku Minato. Apa kau mempunyai perasaan padaku Minato?" Kana menatap penuh harap pada lelaki yang sangat ia cintai. Memang, pada awalnya dialah yang menentang habis-habisan mengenai perjodohan itu. Mereka awal saling mengenal pula saat ada pertemuan keluarga mereka di Amerika. Dan ternyata Minato adalah senior Kana di kampusnya. Tapi, dengan seiring waktu yang berlalu, wanita itu jatuh hati pada Minato. Minato selalu menolongnya dalam keadaan apapun. Kebaikan Minatolah yang membuatnya buta terhadap cinta.

"Aku hanya menganggapmu sebagai sahabat. Tidak lebih. Dan aku saat ini hanya ingin sendiri. Kau jangan menggangguku" ucap minato sambil perlahan melepas pegangan tangan Kana. "Maaf" lanjutnya.

"Apa aku benar-benar tidak mempunyai kesempatan? Aku bisa menjadi apa yang kau inginkan? Apa aku kurang cantik? Apa saja akan kulakukan sampai kau mau membuka hatimu untukku?" wanita itu kini mencoba menahan tangisannya. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan lelaki yang ia cintai.

"Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu. Kau juga tidak bisa memaksakan hatiku untuk membalas cintamu. Aku sudah mencintai orang lain" kata minato sambil sedikit tersenyum. Pria itu tiba-tiba terbayang sosok yang membuatnya selalu tidak bisa tidur. Geisha itu sudah benar-benar mencuri hatinya.

Kana syok mendengar penuturan Minato. Wanita itu tak menyangka bahwa ada gadis lain yang berhasil merebut hati orang yang ia cintai.

"Kau bercanda. Kau berkata seperti itu agar aku tak mengharapkanmu lagi kan?" Kana mengalihkan pandangannya. Hatinya terasa pilu.

"Apa aku terdengar seperti sedang bercanda? Sudahlah Kana. Kau itu cantik. Banyak yang ingin menikah denganmu. Kau bisa memilih mereka. Bukan aku" Minato memperlihatkan senyuman menawannya pada Kana. Kana cukup terperangah melihatna. Wanita itu selalu terkesima saat Minato memperlihatkan senyumannya. Matanya yang berwarna biru jernih, semakin menambah kekagumannya pada lelaki yang menurutnya sempurna. Tapi setelah sadar, Kana kembali mengalihkan pandangannya.

"Kau jahat. Antar aku pulang sekarang"

"Kau adalah sahabatku. Tetaplah menjadi sahabatku" kata Minato sambil mengacak-ngacak rambut Kana. Kana yang sedari tadi cemberut mulai kembali dengan senyumannya.

"Maafkan aku telah bersikap kasar padamu. Aku harap kau tidak mengecewakanku lagi Kana" lanjut Minato sambil menyalakan mobilnya.

"Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada tertolaknya cinta seorang wanita pada lelaki yang ia cintai. Tapi, jika pilihannya aku tidak pernah bisa memilikimu namun aku masih bisa tetap berada di sisimu, aku lebih memilih itu daripada aku memilikimu tapi kau akhirnya membenciku" Kana menatap Minato dengan senyumannya. Wanita itu akhirnya memahami bahwa cinta memang tak harus memiliki.

"Arigatou Kana-chan" Minato kembali memperlihatkan senyumannya yang menawan. Akhirnya, satu masalah telah ia selesaikan.

Xxx

Mikoto segera masuk ke dalam rumahnya. Ia melihat Tsunade sedang asik menonton televisi. Mikoto mendongkak sebentar untuk melihat apa yang sedang di tonton oleh senseinya.

"Kau sudah pulang Mikoto" tanya Tsunade yang menyadari kedatangan muridnya. Mikoto kaget dengan pertanyaan itu.

"Su-sudah sensei. Maafkan aku" Mikoto membungkukan badannya. Ia merasa tidak sopan karena lupa memberi salam. Tsunade masih belum mengalihkan pandangannya dari televisi itu.

"Kau coba lihat kemari" perintah Tsunade pada Mikoto. Mikoto yang mendengarnya lalu menghampiri senseinya itu. Matanya kembali membulat ketika melihat tayangan Minato dengan salah satu penyanyi terkenal di jepang yaitu. Kana Nishino.

"Pria itu bukannya yang kemarin Kushina layani?" tanya Tsunade sambil melirik Mikoto. Mikoto hanya menganggukan kepalanya mengiyakan.

"Kalau begitu bagus. Aku ingin Kushina menikah dengan pemuda itu supaya hutangku cepat terlunasi" kata Tsunade sambil mengepalkan tangan kanannya. Mikoto yang mendengarnya sweetdrop.

"Sensei punya hutang?" tanya Mikoto. Tsunade hanya menganguk-nganggukan kepala.

"Ya rumah ini belum lunas semuanya. Sudah beberapa tahun tapi masih saja belum terbayarkan. Ah sudah lah. Itu memang tugasku" Tsunade mengusap pipinya yang masih tampak kencang. "Kau sudah berbelanjanya Mikoto. Kushina mana?"

"Sudah Tsunade-sensei. Kushina menunggu di luar. Aku dan Kushina sekarang akan langsung pergi ke taman. Kami akan melihat momiji" Mikoto tersenyum. "Sensei mau ikut dengan kami?"

"ah tidak! Kalian pergi saja. Aku merasa tidak enak badan"

"baiklah sensei" mikoto berlari ke dapur untuk menyimpan stok makanan lalu berlari ke kamarnya untuk menyimpan kimono baru miliknya. "Kami pergi dulu. Ittekimasu"

"Ittarashai. Jangan pulang terlalu sore"

"Baik sensei" Mikoto lalu berlari keluar dari rumah itu.

xxx

"Shina-chan" suara Mikoto meleburkan lamunannya. Mereka berdua kini telah berada di sebuah taman dengan pohon-pohon momiji yang tertata rapih. Taman itu terlihat sangat indah. Di pergantian musim gugur ke musim dingin, orang jepang memang terlihat senang berjalan-jalan menikmati perubahan warna daun-daun itu.

"Apa Mikoto-chan?" suara Kushina terdengar serak. Mikoto hanya tersenyum melihatnya.

"Kau ini Shina-chan. Galau terus" Mikoto tersenyum geli. Kushina hanya mengenyitkan dahinya.

"Kau ini Mikoto. Aku sedang sedih kau malah seperti itu" Kushina memanyunkan bibirnya. Mikoto memang tidak pandai menghiburnya di saat seperti ini.

"Hehe maaf maaf. Ya kau tenang saja Shina-chan. Kalau dia memang jodohmu, dia pasti takan kemana. Seperti kata orang tentang benang merah itu" kata Mikoto sambil menatap keindahan taman itu. Kushina hanya tertegun mendengarnya.

"Baru kali ini aku merasa seburuk ini" Kushina menutup wajahnya. "Lalu untuk apa aku marah dattebane? Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Kenapa mesti marah?" pertanyaan yang di ajukan untuk dirinya sendiri.

"Mungkin itu yang dinamakan cemburu" celetuk Mikoto dengan polosnya. Maklum saja, mereka berdua sama sekali belum mengenal apa itu cinta.

"Cemburu? Aku merasa cemburu padanya? Hah itu aneh. Aku baru pertama kali bertemu dengannya lalu aku bisa merasa cemburu? Sungguh tidak masuk akal" gerutu Kushina yang membuat Mikoto tersenyum geli.

"Cinta memang tidak masuk di akal Shina-chan. Cinta itu tak berlogika. Mungkin saja kau memang di pertemukan dengan jodohmu makanya kau seperti itu?" Mikoto menggaruk-garuk rambutnya. Ia bingung bagaimana agar sahabatnya itu tidak galau lagi.

"Dia jodohku? Dia kan seorang direktur yang pastinya kaya raya. Dan kau tau, aku hanya gadis miskin. Ibaratnya seperti aku ingin memeluk bulan" Kushina memperlihatkan wajah lesuhnya.

"Kau jangan berkata seperti itu Kushina" nada bicara Mikoto meninggi. "Walaupun kita miskin, kita masih punya pekerjaan. Kita punya keahlian. Kita ahli dalam bidang seni. Dan walaupun kita hanya sebagai geisha, kita masih punya harga diri. Dan bukan mustahil bila kita suatu saat nanti mendapatkan seorang suami yang dapat membahagiakan kita. Aku yakin takdir kita memang berbeda dengan Tsunade-sensei" Mikoto menahan perkataannya. Ia terlalu melampiaskan emosinya. Mikoto berusaha untuk tidak terisak.

"Mikoto-chan" Kushina tak dapat menahan kembali tangisannya. Ia memeluk sahabatnya itu. "Maafkan aku!" lirihnya sambil terisak di pundak Mikoto.

"Maafkan aku juga. Aku tidak bermaksud untuk menyentakmu. Perbedaan status bukan menjadi penghalang cinta. Aku tidak suka kau berkata seperti itu. Memangnya kalau kita miskin, kita tidak berhak untuk bahagia? Apakah orang miskin harus terus merasakan penderitaan? Tidak Kushina. Selagi kau mau menggapai kebahagiaan itu, kau pasti akan mendapatkannya" Mikoto membalas pelukan sahabatnya lalu melepaskannya.

"Arigatou Mikoto-chan" kata Kushina sambil menghapus air matanya. Mikoto hanya menyeka sedikit air matanya. Mikoto senang, Kushina terlihat lebih baik.

"Ayo kita berkeliling taman ini" ajak Mikoto yang sudah berdiri sambil memberikan tangan kanannya pada Kushina. Kushina menganggukan kepala lalu mereka berdua menikmati momoji.

xxx

I'm so lonely, broken angel
I'm so lonely, listen to my heart

Terdengar nada dering dari handphone milik Minato. Minato sejenak memarkirkan mobilnya lalu mengangkat teleponnya.

"Hallo"

"Hallo. Pak, ada yang mesti kita bicarakan"

"Ada apa kakashi? Aku sedang di jalan"

"Maaf pak. Tapi ini sangat penting. Segera ke kantor pak"

" Ya baik-baik. Aku akan segera kesana. Paling satu jam lagi"

"Terimakasih pak. Saya tunggu" komunikasi itu terputus. Minato kembali menjalankan mobilnya.

"Siapa yang meneleponmu?" tanya Kana dengan pandangan menyelidik.

"Kakashi. Kau cemburu dia meneleponku? Haha" Minato tertawa melihat tingkah sahabat wanitanya itu. Kana hanya memanyunkan bibirnya.

"Tentu saja tidak. Kalau yang meneleponmu itu wanita, baru aku cemburu" ketus Kana membuat Minato masih ingin tertawa mendengarnya.

"Kalau wanita itu ibuku kau masih mau cemburu?" goda Minato sambil menyiku pelan tangan Kana. Wanita itu hanya tersenyum malu.

"Aku akan mengantarkanmu pulang" Minato memacu mobilnya kencang membuat wanita itu berteriak.

"Minatoo! Pelan sedikit" kata Kana memohon pada Minato. Tapi pria itu tidak menggubrisnya.

"Tenang saja. Aku sudah mahir"

Kurang lebih lima belas menit kemudian mereka telah sampai di depan kediaman Kana Nishino. Wanita itu menarik nafasnya.

"Kalau kau mau mati, jangan pernah membawaku" kata Kana sambil melepas sabuk pengaman. Adrenalinnya cukup terpacu. Wanita itu membuka pintu mobil.

"Maaf, aku buru-buru. Sampaikan salamku pada ibumu. Sampai jumpa" Minato kembali memacu mobilnya. Kana masih berdiam diri sampai mobil itu menghilang dari pandangannya.

Xxx

"Shina-chan shina-chan" kata Mikoto sambil menyiku tangan Kushina. Kushina menoleh pada sahabatnya itu.

"Ada apa Mikoto-chan?"

"Lihat, pria itu begitu menarik perhatianku" kata Mikoto sambil menunjuk seorang lelaki yang sedang duduk di bawah pohon sambil membaca buku.

"Yang itu? Aku rasa dia terlalu misterius" kata Kushina sambil mencoba menyelidik. Wajah pria yang di maksud Mikoto begitu dingin.

"Dia tampan Shina-chan" suara Mikoto terlalu kencang membuat pria itu melirik ke arah mereka berdua. Mikoto dengan refleks menutup mulutnya lalu bersembunyi di belakang badan Kushina. Kushina hanya terbengong melihat tatapan sinis dari lelaki itu.

"Kau ini Mikoto" kata Kushina dengan suara sepelan mungkin.

"Maafkan aku Kushina. Apa yang harus kita perbuat" kata Mikoto masih dengan menyembunyikan tubuhnya. Mikoto merasa jantungnya begitu berdebar.

"Gawat! Lelaki itu menghampiri kita tebane. Apa kita lari saja?" kata Kushina panik. Lelaki itu semakin dekat berjalan ke arah mereka.

"Aku tidak tahu. Jantungku berdebar Shina-chan" kata Mikoto yang terdengar gugup. Kushina menelan ludah.

"Kalian berdua berisik sekali" kata pria itu pada Kushina.

"Ma-maafkan kami. Kami akan pergi" Kushina membungkukan badannya lalu membalikan badannya. Begitupula dengan Mikoto.

"Tunggu dulu. Kalian berdua ini kenapa? Apa aku terlihat aneh?" kata pria itu sambil melihat dirinya sendiri. Kushina segera menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidak, kata temanku kau tampan" ujar Kushina membuat Mikoto mencubit pinggangnya. Pria itu tertegun mendengar perkataan Kushina.

"Temanmu? Mengapa dia berdiri di belakangmu?" tanya pria itu membuat Mikoto sweetdrop. Jantungnya berdebar kian cepat.

"Dia hanya malu tebane. Mikoto, kau jangan membuatku malu" kata Kushina dengan pelan namun masih terdengar oleh sahabatnya itu. Mikoto dengan enggan keluar dari persembunyiannya. Wajahnya tertunduk malu.

"Jadi ini temanmu?" kata pria itu sambil memberikan jabat tangan pada Mikoto. "namaku Fugaku" pria itu sedikit tersenyum.

"Namaku Mikoto" gadis berambut hitam kebiru-biruan itu membalas jabat tangan dari pria bernama Fugaku. Jantungnya seakan berhenti saat tatapan mereka berdua bertemu. Kushina yang merasa di acuhkan akhirnya memberhentikan lamunan mereka berdua.

"ekhem" Kushina mendehem. Fugaku dan Mikoto akhirnya melepaskan jabat tangan mereka yang cukup lama. Mereka berdua terlihat kikuk.

"Namaku Kushina. Ya tak apalah jika itu tak penting. Mikoto, ayo kita pulang" ketus Kushina. Mikoto yang mendengarnya hanya tersenyum ke arah sahabatnya itu dan juga pada Fugaku.

"Senang berkenalan denganmu. Saya dan Kushina permisi. Maaf jika kami mengganggumu" kata Mikoto dengan lembut.

'sepertinya, Mikoto sudah bisa mengontrol perasaannya tebane' ujar Kushina dalam hati. Mikoto membungkukan badannya dan di ikuti Kushina. Mereka berdua berbalik badan hendak pulang ke rumah mereka.

"Kalau kau butuh, aku selalu berdiam disini di waktu sore" kata pria itu sedikit berteriak. Mikoto yang mendengarnya membalikan tubuhnya lalu tersenyum manis. Ia kembali melanjutkan langkahnya menjauhi pria itu.

Xxx

Minato akhirnya sampai di depan kantonya. Ia segera memakirkan mobilnya. Lalu berjalan menuju ke dalam kantornya yang terlihat sepi.

"Kemana orang-orang? Apa Kakashi mempermainkanku?" Katanya masih dengan berjalan menelusuri kantor yang cukup besar itu. "Sebaiknya aku meneleponnya"

"Sial handphonenya malah mati" Minato akhirnya sampai di depan ruangannya. "Seperti ada yang aneh" kata Minato sambil membuka ruangannya dan

"Surprise!" ternyata semua pegawainya ada di ruangan itu. Minato hanya terbengong dengan kejutan mendadak itu.

"Aku rasa ini bukan hari ulang tahunku" kata Minato sambil masuk ke dalam ruangannya. Ia melihat Kakashi yang juga ada di dalam ruangan tersebut. Pria berambut perak itu menghampirinya.

"Selamat Pak. Perusahaan ini akhirnya dapat diselamatkan. Terimakasih karena berkat anda, kami semua masih bisa bekerja" kata Kakashi dengan mengajak bersalaman pada Minato. Minato masih dengan terbengong.

"Aku tidak percaya. Tapi aku senang jika memang itu terjadi. Mana kulihat laporannya?" Minato membalas jabat tangan Kakashi. Empat pria bule yang kemarin menemaninya menghampiri dirinya dan juga Kakashi sambil membawa sebuah berkas.

"Congratulations sir!" kata salah seorang pria bule itu sambil menyerahkan berkas itu. Minato menyambutnya dengan senyuman lalu membaca isi berkas itu. Matanya membulat melihat angka penjualan yang semakin membaik. Perusahaan yang bergerak dalam pembuatan perangkat laptop itu berhasil melewati target penjualan mereka.

"Semuanya berkat anda, Mr. Shenley, M.r Anderson, Mr. Rene dan Mr Laire" kata Kakashi menyalami satu persatu dari keempat bule itu. Minato tersenyum sumringah.

"Whatwe aregoingto that place again?" tanya Mr. Rene pada Minato. Minato menggeleng-gelengkan kepalanya.

"No, I'm too tired today. You guys have fun. I'll pay you later" kata Minato sambil tersenyum.

"Yah masa pimpinannya ga ikut sih" sahut Obito yang satu divisi dengan Kakashi.

"I'm so sorry. But thanks for all your hard work. I am very pleased with this achievement. I hope that going forward, we can do better. This all is not thanks to me, Mr. Shenley, , Mr. Rene and Mr. Laire. But this is our blessing all!" Minato memberikan tepuk tangan untuk semuanya. Semuanya terlihat terharu. Kakashi lalu memeluk pimpinannya itu.

"Anda yakin tidak akan bergabung bersama kami?" tanya Kakashi. Minato kembali menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak. Maafkan aku. Have fun you all!" teriak Minato yang membuat seisi ruangan berteriak kesenangan. Pria itu akhirnya keluar di antar oleh Kakashi menuju mobilnya.

"Hati-hati di jalan Pak!" kata Kakashi sambil membungkukan badannya pertanda hormat. Minato hanya membalasnya dengan senyuman lalu ia masuk ke dalam mobil. Tak berapa lama, mobil itu berlalu dari pandangan Kakashi.

.

.

"Leganya hatiku. Akhirnya perusahaan itu bisa di selamatkan juga" kata Minato berbicara sendiri. "Nanti sajalah aku beritahu Tou-san" lanjutnya sambil bersenandung. Ia lalu mengambil handphonenya untuk menelepon seseorang.

"Hallo, Tsunade-san. Ini aku Minato. Pelangganmu yang kemarin. Malam ini tepat jam delapan aku ingin hanya Shina pergi ke rumahku"

"Maaf Minato-san, kami sedang libur untuk hari ini"

"Ayolah, aku sedang butuh dia"

"Hmmm. Baiklah. Harganya sedikit berbeda dari yang kemarin"

"Tak masalah. Aku rasa sebaiknya ia berdandan sebagai geisha di rumahku saja. Biar tidak terlalu merepotkan"

"Baiklah. Tolong beritahu alamatmu"

"Akan aku kirim pesan. Sudah yah. Aku tunggu" Minato memutuskan komunikasi itu. Ia lalu mengetik pesan alamat rumahnya lalu mengirimnya. 'Hari ini aku hanya ingin merayakannya bersama Shina. Hanya berdua' katanya dalam hati.

Xxx

"Aku tidak percaya tipemu seperti itu" Kushina memperlihatkan cengirannya. Mikoto hanya tersenyum.

"Dia itu lucu sekali. Fugaku" kata Mikoto sambil mengusap pelan tangannya.

"Kau sepertinya jatuh cinta pada pemuda bermuka dingin itu? Kau ini tak seperti biasanya menghadapi pria begitu gugupnya" mereka berdua kini sedang berjalan menuju rumahnya.

"Entahlah. Aku juga tidak mengerti. Apa ini yang kau rasakan Shina-chan?" Mikoto menatap wajah sahabatnya. Kushina terlihat berfikir.

"Aku juga tidak tahu Mikoto-chan. Mungkin saja" kata kushina sambil tersenyum. Mereka berdua akhirnya sampai di depan rumah mereka. Terlihat Tsunade sepertinya sudah menunggu kepulangan mereka.

"Tadaima" sahut Mikoto dan Kushina bersamaan.

"Pkaerinasai" jawab Tsunade. "Mikoto, segeralah kau siapkan makan malam untuk kita" perintah Tsunade. "Dan kau Kushina, aku ingin berbicara padamu"

"Baik" jawab Mikoto langsung masuk ke dalam rumah. Kushina lalu duduk di hadapan senseinya.

"Ada apa Tsunade-sensei?" tanya Kushina penasaran.

"Kushina, aku minta maaf. Malam ini, ada pelanggan yang meminta kedatanganmu" kata Tsunade sambil meminum ocha.

"Pelanggan? Hmm baiklah sensei" Kushina agak sedikit kecewa namun apa daya itu memang tugasnya.

"Pelanggan meminta agar kau merias wajah dan memakai kimono di rumahnya"

"Baik sensei. Jam berapa aku kesana? Apa aku pergi sendirian?" tanya Kushina pada senseinya.

"Ya kau pergi sendiri dan kau harus sudah berada disana tepat jam delapan. Kau tidak boleh mengecewakanku"

"Baik sensei"

Xxx

"Rumahnya cukup jauh tebane" kata Kushina sambil melihat alamat yang di berikan senseinya. Kushina kini sedang menunggu sebuah bis malam. Ia memakai jaket tebal dan juga celana jeans sambil membawa tas yang berisi perlengkapannya. Tak lama kemudian ada sebuah mobil Mewah melintas di depannya.

"Selamat malam. Saya di perintah tuan untuk mengantarkan anda ke rumahnya. Silahkan" kata pria yang kira-kira berusia tiga puluh tahunan itu sambil membuka pintu mobil bagian belakang. Kushina terbengong melihatnya.

"Ma-maaf. Kau tidak berbohong kan?" kata Kushina dengan tatapan tidak percaya.

"Tentu saja tidak. Apa anda lupa dengan saya?" tanya pria itu tersenyum ramah. Kushina akhirnya memincingkan matanya berusaha mengingat siapa pria yang ada di hadapannya kini.

"Kau itu supir pelangganku yang kemarin?"

"Betul, mari!" kata pria itu kembali mempersilahkan Kushina untuk segera masuk ke dalam mobil.

"Hmm baiklah" Kushina akhirnya mau menaiki mobil tersebut. Mereka kini berlalu.

.

.

Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah minimalis namun tetap terlihat elegan. Salah satu security membuka pagar tinggi dan mobilpun masuk ke dalam. Kushina cukup terpukau dengan keindahan arsitektur rumah itu. Perpaduan seni jepang dan juga barat.

"Mari saya antar ke dalam" sapa salah seorang security dengan ramah. Kushina hanya mengikuti pria itu. Ternyata nampak dari luar, rumah itu memang terlihat minimalis, tapi jika sudah masuk ke dalam, rumah itu cukup luas. Sampailah mereka di depan sebuah pintu kamar. Pria itu menggeser pintu dan terlihat seorang pemuda yang sedang menyiapkan minuman. Kushina mengenali pria itu dan matanya terbelalak tak percaya. Seketika itu pula jantungnya berdegup sangat kencang. Minato masih memakai pakaian kerjanya. Pria berambut pirang itu menoleh ke arah Kushina lalu tersenyum.

"Ayo masuklah. Kau tak perlu sungkan" kata Minato sambil meletakan kembali minuman itu. Kushina dengan enggan masuk ke dalam.

"Kau lebih cantik jika tidak memakai topeng itu" kata Minato memperhatikan wajah Kushina yang polos tanpa make up sedikitpun. Kushina menundukan kepalanya. Ia merasa malu mendengar pujian itu.

"Aku ingin kau seperti ini saja" lanjut pria itu. Namun Kushina menolaknya.

"Maaf, aku menjual jasaku sebagai seorang geisha yang mempunyai harga diri. Bukan sebagai wanita panggilan" ketus Kushina membuat kaget Minato. Namun, Minato tetap dengan senyuman menawanna.

"Siapa yang bilang bahwa kau wanita panggilan?" pertanyaan Minato membuat Kushina bingung. Gadis itu terdiam.

"Baik baik. Kau boleh memakai kimonomu. Tapi ku mohon jangan pakai topeng itu. Aku janji tidak akan memberitahu Tsunade-san. Aku lebih suka dengan wajahmu seperti itu" Minato sampai membungkuk di hadapan Kushina. Kushina akhirnya luluh juga.

"Baiklah, jadi dimana aku harus mengganti pakaian?" Kushina melepaskan pegangan Minato pada tangannya. Minato yang mendengarnya tersenyum sumringah.

"Pintu itu adalah kamarku. Kau bisa memakainya" ujar Minato. Kushina langsung menuju apa yang di tunjukan Minato dan memasukinya.

Minato menunggu gadis itu sambil memainkan jari-jarinya di gelas minum wine. Ia telah menyiapkan semuanya untuk wanita itu. Sepuluh menit kemudian, wanita itu keluar dari kamar Minato. Ia kini tela berganti pakaian dengan kimono berwarna violet dengan paduan hitam serta corak bunga yang indah. Minato terperangah melihat gadis itu. Kushina segera duduk di samping Minato.

"Apa aku harus menari seperti kemarin?" tanya Kushina sambil mengambil kipas yang ada di tasnya.

"Tidak perlu. Sekarang giliranku untuk menghiburmu" kata Minato dengan cengirannya. Kushina hanya mengerutkan keningnya. 'Pelanggan yang aneh' batinnya dalam hati.

"Maksudmu?"

"Kau duduk saja disitu" Minato lalu mematikan televisi datar miliknya lalu ia menyalakan musik player miliknya. Terdengar suara yang berdentum-dentum. Minato berdiri di hadapannya. Bersiap untuk melakukan dance di hadapan wanita itu.

I'm so lonely, broken angel
I'm so lonely, listen to my heart

Tubuh pria itu mulai mengikuti irama musik. Menari memang hobinya sejak kecil. Iapun pernah mengecap sekolah seni setelah lulus Sma. Namun sayang, kesukaannya itu di tentang oleh ayahnya. Karena sifat Minato yang penurut, akhirnya ia keluar dari sekolah seni dan masuk ke universitas yang di kehendaki ayahnya. (nb dari author: pokoknya bayangin aja dah Minato nari sesuai lagu itu. Author membebaskan reader-san untuk berkhayal. Pokoknya, siwon aja lewaattt)

Man dooset daram
Be cheshme man gerye nade
Na, nemitoonam
Bedoone to halam bade

Kushina yang melihat Minato nge-dance modern hanya bisa takjub. Gerakan tari minato sangat enerjik. Di tambah lagi dengan wajah minato yang tampan, membuat wanita manapun yang melihat ia sekarang pasti akan berteriak histeris. "Kyaaa! kereenn tebanee!" teriak Kushina membuat Minato menoleh pada gadis itu lalu tersenyum.

I'm so lonely, broken angel
I'm so lonely, listen to my heart
One and only, broken angel
Come and save me, before I fall apart

To har jaa ke bashi kenaretam
Taa aakharesh divoonatam
To to nemidooni ke joonami
Bargard pisham

I'm so lonely, broken angel
I'm so lonely, listen to my heart
One and only, broken angel
Come and save me, before I fall apart

La la leyli la la leyli la laaa...

I'm so lonely, broken angel
I'm so lonely, listen to my heart
One and only, broken angel
Come and save me, before I fall apart

Di akhir lagu, Minato menarik tangan Kushina untuk berdiri disampingnya. Minato lalu memeluk tubuh gadis itu.

La la leyli la la leyli la laaa...

Kushina kaget dengan perlakuan Minato. Minato mengajak Kushina untuk berdansa dengannya. Kedua tangan Minato memegang pinggul Kushina. Lagu kini berganti dengan lagu dari Richard Marx, Now and Forever. Kushina terbawa suasana yang di ciptakan pria itu.

Whenever I'm weary

From the battles that rage in my head

You make sense of madness

When my sanity hangs by a thread

I lose my way, but still you

Seem to understand

Now and forever

I will be your man

Sometimes I just hold you

Too caught up in me to see

I'm holding a fortune That Heaven has given to me

I'll try to show you

Each and every way

I can Now and forever

I will be your man

Now I can rest my worries

And always be sure

That I won't be alone, anymore

If I'd only known you were there

All the time All this time

Until the day the ocean

Doesn't touch the sand

Now and forever I will be your man

"Now and forever I will be your man" bisik Minato di dekat daun telinga Kushina. Wajah Kushina memerah seketika mendengar kata-kata pria itu. Namun dalam hitungan beberapa detik, Kushina akhirnya sadar. Ia melepaskan pegangan dari Minato.

"Kau tidak bisa berbicara seperti itu. Kau milik orang lain" Kushina menatap nanar pada Minato. Ia sungguh tidak tahan dengan perasaannya saat ini. Perlakuan Minato padanya membuat ia mabuk cinta.

"Aku takan pernah mau bertunangan dengan wanita yang tidak aku cintai" Minato menatap tajam pada Kushina. Wajah mereka semakin dekat.

"Memangnya kau mencintaiku?" tanya Kushina sambil membalas tatapan pria itu. Minato semakin mendekat ke arahnya. Kushina merasa terpojok dan ia tidak bisa melangkah mundur lagi karena ada tembok di belakangnya. Minato mengunci tubuh wanita itu dengan mengapit kepala Kushina dengan kedua tangannya.

"Aku mencintaimu. Aku benar-benar gila karenamu" Minato merapatkan tubuhnya pada wanita itu. Ia perlahan mendekatkan bibirnya pada bibir Kushina. Kushina tiba-tiba teringat dengan pelanggannya dulu yang pernah berbuat seperti itu. Namun, dengan tenangnya ia sering terlebih dahulu memukul si pria dan membuatnya pingsan. Tapi entahlah Kushina tidak bisa melakukan itu pada Minato. Ia pasrah menerima ciuman pertamanya dan 'cup' bibir mereka bertemu. Jantungnya makin berdebar kencang. Dengan refleks, tangan Kushina memegang kepala Minato seakan tidak ingin moment itu berakhir.

Debaran jantung Minato kian cepat. Bibir kushina yang lembut membuat ia menikmati ciuman pertamanya. Baru kali ini, ia bisa seberani itu memperlakukan wanita. Perlahan, Minato melepas ciuman itu lalu tersenyum menawan di hadapan Kushina.

.

.

Mereka berdua terdiam. Sedikit canggung setelah adegan ciuman itu. Kini mereka telah duduk di meja rendah. Minato menuangkan wine ke dalam gelas untuk Kushina.

"Aku lebih suka wine daripada sake" kata Minato sambil meminum wine yang ada di gelasnya. Kushina menatap pria itu. Ia merasa kikuk. Gadis itu akhirnya meminum wine yang di tawarkan Minato.

"Apa pernyataan cinta pertamaku tak terbalas?" tanya pria itu pada Kushina.

"Aku tidak tahu. Aku merasakan perasaan yang aneh" gadis itu menunduk. "Kau bilang akan memberi waktu padaku satu minggu lagi?"

"Aku tidak sabar" jawab Minato sambil menggaruk-garuk rambutnya. "Aku sangat senang untuk hari ini. Kana setuju untuk memberitahu media bahwa aku dan dia tidak akan bertunangan. Lalu perusahaanku kondisinya kian membaik. Dan aku ingin merayakannya bersamamu" Minato menatap lembut pada Kushina. Gadis itu masih terlihat kikuk.

"Apa kau tidak malu menyatakan cinta pada gadis sepertiku? Aku ini kan seorang geisha. Lalu aku tidak cantik dan aku rasa aku tidak pantas denganmu" ujar Kushina sambil tertunduk. Rambut panjangnya yang terurai sedikit menutupi wajahnya.

"Mengapa aku harus malu? Kau lebih cantik daripada Kana. Kau tidak bisa menanyakan mengapa aku bisa mencintaimu karena itu adalah persoalan hati yang tidak ada jawabannya"

"Tapi ini terlalu cepat tebane" Kushina kembali menatap mata blue saphire milik Minato.

"Aku seharusnya menyalahkanmu Shina. Karena kau terlalu cepat mencuri hatiku" Minato kembali dengan senyumannya yang menawan.

"Maaf, aku tidak bisa menjawabnya sekarang" Kushina memalingkan wajahnya dari Minato. Minato tertegun mendengarnya.

"Tidak apa-apa. Kalau kau menolaku, aku akan menjadi gila. Dan jika aku gila, aku akan menyalahkanmu"

"kau tidak bisa memaksaku" nada suara Kushina sedikit meninggi.

"Aku bisa merasakan bahwa kau memiliki perasaan yang serupa denganku. Setelah ku pikir-pikir, seorang geisha sepertimu pasti akan melayani pria lain. Dan, aku tidak ingin itu terjadi" Minato menggenggam tangan kanan Kushina.

"Menikahlah denganku. Jadikan aku satu-satunya lelaki pilihanmu. Aku berjanji akan membahagiakanmu. Aku berjanji akan melindungimu" Minato meletakan genggaman itu di dadanya. Matanya menatap Kushina penuh harap. Kushina kaget bukan kepalang dengan ajakan seseorang yang baru ia kenal kemarin. Hatinya ingin sekali mengiyakan tapi tertahan di mulutnya.


huhuhu akhirnya selesai juga.

mohon reviewnya reader-san :D