"Sasuke, aku ingin tahu, siapa gadis yang akan kau perkenalkan padaku," ujar Mikoto. Lembut dan lugas.
Lagi-lagi Sasuke tidak berkesempatan bertemu ayahnya. Kenapa sih, Fugaku selalu lembur dan pulang malam? Padahal dia sendiri adalah pemimpin perusahaan—dan pria itu selalu banyak kesibukan.
"Hinata Hyuuga," jawab Sasuke. Diselipkannya pulpen ungu ke dalam saku jinsnya.
Mikoto mengerutkan alis sejenak, mengingat-ingat, kemudian mengangkat bahu. "Kapan kau akan memperkenalkannya pada kami?"
"... Aku tidak tahu. Dia baru saja pindah sekolah di Suna."
Sesaat ada keheningan yang janggal.
"Sasuke, Sasuke. Wanita itu butuh kepastian. Begini saja. Kapanpun kau akan memperkenalkannya, bawa dia ke mari. Pindah sekolah bukan masalah," Mikoto menghela nafas.
Sasuke mengangguk.
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
Photo!
a sequel?
Naruto © Masashi Kishimoto
WARNING: Ide nggak masuk akal, alur belepotan, ending nggak jelas dan
warning ini nggak menjelaskan banyak hal
ALURNYA BELUM JELAS!
Malam ini, Neji menginap di rumah Hiashi sebelum akhirnya pergi ke stasiun mengambil jurusan Tokyo. Dia akan melanjutkan kuliah. Mereka bertiga ada di meja makan, merasa canggung satu sama lain.
Hinata mendorong piringnya menjauh. Keadaannya sangat... sangat sangat sangat tidak nyaman. Tentu saja Hanabi dan Neji memandangnya seolah mereka sedang makan malam dengan orang asing. Ia seratus persen berharap bahwa ini hanya mimpi. Besok Hinata akan bangun dan mendapati ia masih menjadi perempuan dan yang kemarin-kemarin hanya mimpi.
"Kenapa?" tanya Hanabi tiba-tiba.
Hinata terkejut. Ternyata sedari tadi gadis itu melamun. Dan sedari tadi Hanabi dan Neji memandangnya.
"T-tidak apa-apa," jawab Hinata seadanya.
Sewaktu menyiapkan diri untuk suapan berikutnya, nafsu makannya menghilang. Hinata meninggalkan ruang makan dan buru-buru menghampiri kamar tidurnya—menyambar sweater putihnya. Ia mau meninggalkan rumah untuk beberapa menit, meskipun udara di luar sangat dingin. Beberapa hari lagi musim gugur tiba. Masa bodoh apa cowok biasa memakai sweater longgar—yang biasa dipakai cewek—atau tidak.
"Mau ke mana?" tanya Hanabi lagi begitu melihat kakaknya berjinjit meraih kunci rumah di rak kaca paling atas.
"Jalan-jalan... S-sebentar saja," jawab Hinata. Dipakainya sweater dan digenggamnya kunci rumah erat-erat. Hanabi mengangkat bahu, sambil membawa tiga piring kotor ke bak cuci piring. Neji juga menoleh padanya. Heran.
Cowok bermata lavender pucat itu melangkah ke depan pintu rumah dan membuka kuncinya. Ia melangkah keluar rumah. Seperti ada kertas yang terinjak kakinya...
Hah?
Hinata tertegun. Sebuah amplop kiriman pos.
Dipungutnya amplop putih itu dan dibacanya alamatnya. Untuk Hyuuga Hinata... Dan dibaliknya, tertulis sempurna dari Haruno Sakura, berikut alamat lengkapnya.
Surat dari sekolah, yang disampaikan lewat perantara Sakura-chan, mungkin? Sebentar. Itu tidak mungkin. Jadi apa? pikirnya. Tanpa pikir panjang, Hinata merobek amplop itu.
Glek.
Apa-apaan...
Keringatnya menitik. Wajahnya memerah.
Ini... foto ini... Kapan mereka mengambilnya?
Hinata menelan ludah. Dari mana Sakura mendapatkannya? Ingatan Hinata teresonansi ke waktu itu. Waktu...
"..."
Sasuke mengecup keningnya. Harusnya itu kenangan—manis, tentunya—yang disimpan untuk dirinya sendiri, bukannya jadi objek fotografi. Kenapa bisa... Kenapa bisa ada seseorang yang menangkap momen itu?
Dimasukkannya foto itu kembali ke amplopnya, sebelum menemukan catatan di balik foto itu. Tulisan yang ia kenali sebagai tulisan Sakura. Hmm. Bukannya Sakura pernah naksir Sasuke?
'Dan mereka hidup bahagia selama-lamanya... :)
Hinata, maaf ya baru mengembalikan foto ini setelah beberapa bulan. Aku benar-benar lupa. Oh iya, sejujurnya aku nggak rela ngembaliinya. Soalnya ini KAWAII EXPERT! Hampir aja Sasori-kun masukin ini ke T*UMBLR!'
—cheers, Sakura :)
... dan catatan kecil ini sukses membuat Hinata sweatdrop. Kapan persisnya Sakura mengambil gambar ini? Ugh, dia jadi malu sendiri. Dan apa itu, sufiks '-kun' untuk Sasori?
Dijejalkannya foto beserta amplopnya ke dalam saku sweater-nya dan menghirup udara dingin menjelang musim gugur, keluar komplek rumah besar Hyuuga dan berjalan-jalan. Sedikit bintang berbinar-binar di langit malam.
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
Sebuah restoran Italia berdiri di kejauhan, berpendar lampu terang yang senada dengan keadaan di sekelilingnya. Kota di malam hari kelihatan... menakjubkan, seperti traffic light yang banyak jumlahnya. Spanduk iklan, toko-toko dan kafe—tempat hang out sempurna untuk malam Minggu.
Ia sudah menghilang dari rumah selama hampir setengah jam; keluar kompleknya dan berjalan menyusuri trotoar sampai tiba-tiba sudah ada di pusat keramaian. Kota seolah tidak pernah tidur, bahkan meskipun menjelang musim gugur. Di malam Minggu akan lebih ramai lagi. Segerombolan anak-anak junkies berkumpul di kafe berkelas, sambil menenggak sake.
Mungkin penilaiannya terlalu berlebihan.
Hinata memasuki restoran tersebut, dan bau daging serta roti panggang langsung menerpa hidungnya. Ia belum pernah memasuki restoran yang menjual makanan luar sebelumnya. Dekorasi cantik bernuansa putih menguasai tempat itu. Beberapa pasangan remaja makan malam romantis di situ.
Hinata memerah. Jadi remaja yang datang sendirian ke tempat semanis ini tidak mudah.
Hinata memilih tempat duduk yang paling dekat dengan kaca—keadaan di luar restoran langsung terlihat dari partisi transparan tersebut. Apa mungkin sebentar lagi Neji dan mobilnya datang mencarinya? Atau mungkin juga tidak.
"Vuoi ordinare qualcosa? Nessun ordine, non sedersi."
Hinata terlonjak. Seorang wanita berkaki jenjang, berseragam maid (seperti yang ada di kartun-kartun), dan membawa nampan serta pulpen tiba-tiba sudah ada di hadapannya, alisnya menaut tinggi. Sudah berapa lama ia melamun? Pasti sudah lama.
Kenapa restoran ini tidak merekrut warga lokal saja? pikirnya panik. Kenapa wanita ini tidak berbahasa Inggris saja?
"Vuoi ordinare qualcosa?" wanita itu mengulangi.
Skak mat. Hinata tidak tahu satu pun makna kata-kata yang wanita itu ucapkan.
"Kira-kira maksudnya, 'akan memesan atau hanya duduk di sini?'" seseorang menyentuh bahunya.
Hinata terkejut, berbalik ke belakang, seketika terhenyak. Ia mendongak. Di belakangnya berdiri Sasuke Uchiha—cowok bermata onyx dengan rambut berwarna raven di kepalanya menatap lurus ke dalam mata lavender pucat Hinata.
"Sasuke kenapa—"
Sasuke memotong pertanyaan Hinata dan menarik bangku di hadapan cowok itu—yang memang hanya pas untuk dua orang—dan menunjuk sesuatu di daftar menu. "Voglio questo," katanya datar. Kemudian memberikan daftarnya pada cowok di hadapannya.
Hinata nyaris tidak memercayai penglihatannya. Hampir semua makanan dalam daftar menu mempunyai nama yang Hinata-tidak-tahu-cara-mengejanya. Dari foto-fotonya sih kelihatan enak. Setengah menyerah, Hinata berkata, "apa yang Sasuke pesan saja."
Sasuke berbicara lagi pada pelayan itu, kemudian si pelayan mengangguk dan mulai mencatat, mengulangi pesanan mereka, kemudian mengatakan sesuatu yang pasti artinya 'tunggu sebentar', dan langsung pergi lagi. Sepatu hak tingginya berketuk-ketuk meninggalkan mereka.
Kenapa Sasuke ikut memesan makanan? Memangnya dia bakal makan semeja dengannya, apa?
"Kenapa Sasuke—"
"Jangan masuk restoran Italia kalau tidak mengerti bahasa Italia, Hyuuga-san," potong Sasuke. Ada sindiran dalam perkataannya.
Hinata menunduk. "Terima kasih sudah membantuku memesan makanan, Sasuke-kun."
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
"Apa?" tanya Sasuke. Ekspresi wajahnya agak terkejut.
"Apa?" jantung Yoru seakan melompat di tempatnya. Apa tadi itu? Sasuke-kun? Mana mungkin Yoru memanggil Sasuke dengan panggilan seperti itu?
"Maaf, maksudku... Sasuke. Terima kasih, Sasuke."
Sasuke memandangnya, makin curiga, cowok ini datang di saat Hinata menghilang dan sikapnya seperti perempuan. Berjalan anggun, memainkan jari, terbata-bata, bahkan memerah. Dia terkesan.
"Kenapa S-Sasuke bisa ada di sini?" tanya Yoru yang kembali rileks. Sasuke membuang muka. Memandang kelap-kelip keramaian kota dari partisi kaca transparan.
"Aku hanya jalan-jalan," jawabnya datar.
Keheningan menyelimuti mereka berdua sampai pelayan membawakan pesanan mereka, well, pesanan Sasuke, sih. Dua porsi bistik sapi dan dua gelas tiramisu. Sasuke menarik piringnya, baru akan mengambil pisau dan garpunya, sebelum melihat Yoru kebingungan sambil memegang pisau di tangan kiri.
"Jangan bilang kau tidak bisa menggunakan pisau dan garpu," katanya sinis.
"T-tidak," celetuk Yoru polos.
Dengan sabar Sasuke mengajarkan cara memakai pisau dengan benar. Garpu harus dipegang di tangan yang mana, cara memotong daging dengan rapi, dan untuk tidak menaruh siku di atas meja selama makan. Yoru tersenyum dalam hati. Buat apa mendatangi restoran Italia kalau ujung-ujungnya cuma memesan bistik? Tapi, mungkin jenis tiramisu yang mereka pesan hanya ada di tempat ini.
Setelah Yoru bisa menggunakan pisau dan garpu dengan benar, Sasuke baru mau menyentuh makanannya. Ciri-ciri gentleman. Andai yang diajarinya itu perempuan, pikir Yoru setengah sinis. Yoru memakan bistiknya sampai tinggal seperempat bagian. Enak.
"Terima kasih," katanya untuk kesekian kali.
Tanpa sadar, ia tersenyum manis pada Sasuke. Yoru tidak bisa mengontrolnya—senyum itu menguasai wajahnya dan ia menyerah. Sasuke mengernyit—pura-pura tidak peduli, meskipun...
—senyumannya mirip senyum Hinata.
Detak jantung Sasuke—sialnya—menjadi lebih cepat dari sebelumnya.
Sebuah sedan hitam berhenti di depan restoran dan seorang pemuda 20 tahunan keluar dari dalamnya. Yoru menoleh ke arah kaca. Seperti dugaannya. Dari pintu sebelah kursi pengemudi, keluar seorang gadis berumur 12 tahun.
Neji dan Hanabi. Yoru agak menyesal memilih tempat duduk yang paling kelihatan dari luar.
"Hinata, pulang."
Tiba-tiba, Neji sudah ada di belakangnya, mencengkeram bahu Yoru dengan tangannya yang besar. Yoru panik. Neji tidak boleh memanggil dengan nama aslinya di hadapan Sasuke.
"Ayo, Nee-san," bujuk Hanabi yang ada di sebelah Neji.
Sasuke mengerutkan kening. Panggilan untuk perempuan...
"Neji-nii—n-namaku Yoru, b-bukan Hinata," kata Yoru cepat-cepat, gemetaran. Ia bangkit dari kursinya. "Terima kasih, Sasuke." Mengingat Sasuke yang tidak suka dipanggil 'Sasuke-san'. "Neji-nii, aku... harus bayar pesananku dulu."
Neji menggeleng dan setengah menyeret adik sepupunya ke meja kasir, membayar pesanannya, kemudian membawa Yoru ke mobil. Mengantarnya pulang. "Harusnya kau bilang ke mana kau mau pergi. Bukannya meninggalkan rumah sampai jam 9."
Yoru melambai pada Sasuke di balik kaca mobil. Meskipun Sasuke tidak melihatnya.
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
Hyuuga mansion
Ah, seharusnya itu hanya percobaan refreshing, bukannya... kencan.
Hinata berbaring di tempat tidurnya dan mengingat seluruh kejadian di restoran Italia tadi. Semua itu lumayan... manis. Andaikan Neji tidak datang dan mengacaukan segalanya. Ia malu sekali karena tidak bisa bahasa Italia, menggunakan pisau untuk makan malam, dan bertingkah layaknya cowok normal yang tidak pernah salting di hadapan sesama cowok. Meskipun ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba bisa ada Sasuke di situ, atau alasannya keluyuran malam-malam begini.
PR Matematika! celetuknya dalam hati. Tadi pagi, gurunya memberikan tugas Matematika yang harus dikumpulkan besok. Refleks, Hinata mengulurkan tangannya meraih-raih ransel hitamnya. Ia mencari tempat pensilnya. Tidak ada. Ia mencari lagi. Tidak ada.
"Ketinggalan di mana, ya?" gumamnya panik.
Di loker mejaku?
Malam ini, Hinata meminjam pulpen Hanabi untuk mengerjakan PR Matematikanya. Ia lupa bahwa ia menyimpan sesuatu yang penting di dalamnya. Pulpen ungu kesayangannya, yang jelas-jelas milik Hinata—bukan Yoru.
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
Keesokan harinya
Sasuke berjalan menuju kelas XII-A diiringi cewek-cewek yang ingin memberikan hadiah Valentin telat untuknya, atau yang masih menyimpan harapan padanya. Semenjak Sasuke digosipkan berpacaran dengan Hinata, fans-fans-nya agak surut karena takut dibilang tukang rebut pacar orang. Setelah Hinata dikabarkan mengikuti program pertukaran pelajar, fans-fans itu berdatangan lagi.
"Ohayou, Sasuke-kun," panggil seseorang di belakangnya.
Sasuke menoleh. Berharap agar seseorang itu Hinata, tapi...
Ternyata Karin.
"Hn," gumamnya singkat.
"Sasuke-kun, pulang sekolah ada acara, nggak? Temani aku ke perpus kota, ya?"
Sasuke masa bodoh. Kakinya tetap terayun tanpa memedulikan Karin yang masih mengejarnya. Toh ia tidak bisa menghindari cewek fanatik ini. Karin 'kan satu kelas dengannya.
"Sasuke-kun, mau ya? Plis..."
"Ajak orang lain saja," kata Sasuke datar tanpa menoleh.
Skak mat. Satu-kosong. Bisa bicara apa cewek itu sekarang?
"Karena aku maunya sama Sasuke-kun."
Ugh!
Sasuke menghela nafas kasar. "Maaf. Tidak bisa."
"Besok? Atau—"
"Tidak. Terima kasih."
Karin tidak menyerah. Dia menangkap bahu Sasuke, melingkarkan tangannya di seputar leher Sasuke untuk mencegahnya berjalan lebih jauh. Ditatapnya Sasuke dengan tatapan memelas.
"Kenapa, sih?" tanyanya kesal. "Kenapa Sasuke-kun selalu menjauh setiap kudekati?"
Sasuke tidak menjawab. Satu sama.
"Sasuke-kun menyukai cewek yang seperti apa?" tanya Karin lagi—lebih agak memelas dari sebelumnya. "Apa aku kurang cantik—atau aku harus pintar basket?"
"Tidak," jawab Sasuke tenang.
"Jadi—"
"Kejar laki-laki lain saja," potong Sasuke datar. Ia melepaskan bahunya dari pegangan Karin dan kembali berjalan.
Karin berlari mengejarnya. Tiba-tiba ia meraih lengan Sasuke, kemudian memeluk tubuhnya erat-erat.
"Tapi aku cuma suka dengan Sasuke-kun!" jeritnya perlahan. Beberapa orang di sekeliling mereka menoleh. "Kenapa sih, Sasuke-kun tidak mengerti hal itu dari dulu?"
Yoru sudah sampai di sekolah dan ia muncul dari gerbang utama. Sambil merapikan ujung seragamnya yang berantakan ia berjalan mendekati pusat perhatian. Langsung melihat Sasuke yang dipeluk Karin dari belakang. Pipinya memanas. Jantungnya memburu.
Sasuke-kun... Karin?
"Masalahnya bukan ada padamu tapi ada padaku," Sasuke melepaskan diri dari jajahan Karin dan menjauh beberapa langkah. Karin tersentak ke belakang. "Karena—aku... masih punya Hinata," lanjutnya datar.
Kerumunan di sekeliling mereka mulai berbicara dalam suara pelan. Yoru sikut sana-sini, agar bisa bergabung di dalamnya demi melihat lebih jelas. Sasuke melihatnya, sekilas, dan ia merasa wajahnya seolah terbakar. Ia tidak tahu apa sebabnya.
Sewaktu melihat mereka berpelukan seperti itu...
Seperti ada yang rusak dan marah di dalam hatinya.
Seperti ada yang—tunggu dulu. Hinata?
"Apa sih lebihnya cewek itu?" tanya Karin lagi, setengah pada dirinya sendiri, setengah pada dunia di sekelilingnya. Nadanya setengah menggerutu. "Dia sudah tidak sekolah di sini lagi... Hinata cuma cewek canggung, penggugup dan nggak bisa melakukan hal dengan benar. Bahkan motret objek aja nggak becus!" ejeknya. Yoru terkejut, lalu menunduk. Sebulir air mata menggenang di bulu matanya.
PLAK!
Sasuke berjalan menjauhi Karin dan menuju kelas XII-A dengan tenangnya. Salah. Ia sama sekali tidak tenang. Tidak boleh ada yang mengejek Hinata-nya. Sekalipun Hinata memang canggung dan penggugup, tapi Hinata adalah miliknya. Meskipun sekarang gadis itu terpisah jarak dengannya sekalipun.
Telapak tangannya masih panas sehabis menampar Karin. Sasuke tidak tega juga menyakiti perempuan. Bisa-bisa ia terjerat poin-poin itu lagi.
Karin berlari ke kamar mandi perempuan untuk memuas-muaskan tangisannya. Sasuke sudah menduganya. Tapi ia melihat seseorang lain yang juga ikut menangis. Yoru berlari dari arah kerumunan menuju kelas XII-A, dan langsung duduk di kursinya, dengan wajah bersimbah air mata.
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
Aduh! Sial! Harusnya ia tidak menangis!
Yoru menegakkan kepalanya dari meja dan cepat-cepat menghapus bulir-bulir air matanya. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dihadapinya. Satu: kenapa dia menangis. Dua: kenapa seorang cowok menangis.
Bukan perkataan tajam Karin yang menyakiti hatinya, meskipun—jujur—itu membuatnya agak tersinggung. Tapi mendengar Karin mengungkapkan perasaannya yang semua orang sudah tahu dan melihat dia bisa seenaknya memeluk Sasuke sementara di sini ia harus mati-matian menjaga penyamarannya, semuanya sangat... menyulut emosi Yoru yang sebelumnya tidak pernah terbakar.
"Wajahmu masih basah."
"Huwaah!"
Hinata terkejut. Sang cowok bermata onyx sudah duduk di sebelahnya. Ekspresi wajahnya biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Ini sih, ciri-ciri psiko—maksudnya—pria berdarah dingin.
Cowok bermata lavender pucat itu nyaris terjungkal ke belakang. Untung kelas ini punya fasilitas kursi yang punya sandaran.
"Aku t-tidak menangis, kok," geleng Hinata, terkejut mengetahui ucapannya terdengar lebih cempreng di saat otaknya masih sibuk meredam tangisan agar berhenti. "Aku... baik-baik saja."
Sasuke mengulurkan tangannya dan menekan pipi Hinata dengan ibu jarinya. Hinata terkejut. "Ini air mata, kan?" komentarnya pelan, tertegun.
"Ngg... a-aku kelilipan."
Dia tahu itu alasan pasaran, semua orang yang mendengarnya juga tahu bahwa itu bohong untuk menutupi jawaban 'ya'. Sasuke menyipit memandangnya. Ia pasti juga berpendapat hal sama.
Sasuke tidak berkomentar lagi.
Pelajaran pertama adalah Sejarah—yang dikenal tujuh turunan sebagai pelajaran penyebab kantuk. Baru setengah jam saja sudah membuat murid sekelas bosan. Seperduabelas sudah jatuh tertidur dan langsung diperingati Asuma-sensei, dengan penggaris 50 cm andalannya.
Hinata menemukan tempat pensilnya di loker meja, tapi satu pulpen ungu secara ajaib menghilang. Ia bisa menuduh piket kemarin yang mencuri pulpennya—tapi yang mana? Ada lima anak yang berkemungkinan sama besar di sini.
Di bangku paling dekat dengan guru, sesekali Karin melirik Sasuke hampa. Dia kira dengan membuat Hinata jauh-jauh dari Sasuke maka ia punya kesempatan besar mendapatkan pangeran impiannya. Sasuke juga tidak pernah kelihatan serius menjalani hubungan seperti itu, hubungan apapun itu.
Karin mendapatkan ramuan itu dari lemari kaca Orochimaru—bukan mendapatkan sih, lebih tepat mencurinya. Ada label 'tidak untuk dikonsumsi' dan 'cairan berbahaya' di botolnya, tapi dituangkan juga cairan itu ke dalam botol minumannya. Sehari sebelumnya, Orochimaru pernah membicarakan botol berlabel bahaya itu di kelasnya.
"Efek bila terminum belum pasti. Yang jelas, cairan ini hanya untuk kepentingan penelitian. Begitu pula untuk cairan-cairan kimia lainnya."
"Kemungkinan bila terminum... akan ada perubahan dalam tubuh yang besar. Sangat besar, malah. Biasanya dalam proses perubahan itulah dapat mengakibatkan kematian bagi peminumnya."
Seisi kelas mendesis ngeri sewaktu mendengar Orochimaru-sensei menjelaskan panjang lebar. Saat itu Karin melirik Hinata yang masih menjadi teman sebangkunya dan tahu apa yang harus dilakukannya. Mungkin Karin akan dikutuk klan besar Hyuuga, tapi demi Sasuke, apapun akan ia lakukan. Dan ternyata... Hinata tidak mati. Dia masih bisa pindah sekolah ke Suna untuk... menghindari seseorang, barangkali?
Sialan!
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
Yoru sangat ingin menanyakan sesuatu kepada Sasuke yang duduk di sampingnya ini. Tapi ia ragu. Takut dicurigai.
Frasa 'masih punya' memiliki arti seolah kita dihambat pacaran dengan orang lain karena kita masih punya dia yang terikat hubungan dengan kita. Apa benar artinya Sasuke hanya mempermainkannya waktu itu? Tidak benar-benar niat memacari Hinata?
"Sasuke," bisik Yoru pelan.
"Bom atom zaman sekarang berkekuatan 30 kali lebih kuat dari berpuluh-puluh tahun yang lalu. Bayangkan seberapa luas jangkauan kerusakan yang bisa dihasilkan."
Sasuke tidak mendengarnya, ketika Asuma mengeraskan volume suaranya agar mata kelompok anak-anak yang hobinya tertidur selama jam sejarah itu tetap terbuka.
Hari ini, keajaiban kecil menghampiri dirinya. Nada suaranya naik sekitar satu atau setengah oktaf! Sewaktu masih seumur Hanabi dia pernah mengikuti kursus vokal—dan dia belajar tingkatan-tingkatan suara manusia masa pubertas dan dewasa. Sopran, mezzosopran, alto... tenor, bariton, bass. Nada suara manusia bisa dimanipulasi—seperti pria penyanyi bersuara sopran atau sebaliknya. Sekarang, suaranya semakin mirip...
... kembali menjadi perempuan!
Ia menyadarinya ketika berbicara sambil menangis di hadapan Sasuke. Tidak, dia masih lebih mirip laki-laki. Apa ada sebab-sebab tertentu yang menyebabkan suara manusia berubah? Latihan terus menerus dan kerusakan pada pita suara. Tapi... ia tidak pernah melatih suaranya semenjak keluar dari kursus vokal tiga tahun lalu.
Terus, karena apa?
Kalau Yoru sudah bisa mengumpulkan keberaniannya, ia akan menanyakannya pada Orochimaru-sensei (dengan mengabaikan tampang horror sang guru Kimia sekaligus Biologi tersebut, tentu saja). Apa perempuan yang berganti jenis kelamin menjadi laki-laki bisa kembali menjadi perempuan dan sebagainya. Atau ia harus mengikuti operasi tertentu?
Rekonstruksi dada, sambung rambut, rekonstruksi...
Tidak. Gen dalam tubuhnya akan tetap berjenis kelamin pria. Suaranya tetap suara laki-laki, dan ia tidak bisa hamil seperti perempuan lainnya. Serangkaian operasi buatan manusia tidak bisa mengembalikannya menjadi perempuan.
Pikiran Yoru kembali melayang saat Karin memelu—lupakan, Yoru benci mengingat-ingatnya. Diliriknya Sasuke di sebelahnya. Sasuke meliriknya kembali. Yoru terkejut, kemudian buru-buru memalingkan muka.
"S-Sasuke."
"Hn." Sasuke merespon. Yoru kembali terkejut. Sasuke mendengar panggilannya, menoleh ke arahnya, bahkan menyentuh bahunya.
"Perkataanmu waktu... waktu i-itu... Apa... kau menyukai Karin?" akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya.
Sasuke menoleh kembali ke depan kelas. "Tidak," jawabnya singkat.
"Ngg—l-lalu... kenapa waktu itu kau... kau menyebut nama Hinata?" tanya Yoru lagi. Aneh membicarakan tentang dirinya sendiri dengan Sasuke, tapi paling tidak Sasuke tidak mengetahui siapa sebenarnya lawan bicaranya. Pacarnya sendiri—kalau Sasuke menganggap Hinata pacarnya.
Pandangan cowok bermata onyx itu berubah menerawang. Yoru tidak melihat semburat merah tipis di pipi Sasuke ketika nama Hinata disebut.
"A-apa... dia pacarmu?" PLUK! Rona merah matang sukses menghampiri wajahnya ketika menanyakan hal itu.
"Ya. Tapi itu bukan urusanmu. Kau cuma anak baru."
Pikiran Yoru terhempas kembali ke realitas. Sasuke melihatnya sebagai Yoru yang baru masuk beberapa hari lalu, baru kemarin, malah. Tentu saja menurut etika ia tidak boleh menanyakan masalah cinta seseorang terlalu berlebihan.
Yoru memandang mata Sasuke dalam-dalam, berusaha menyadarkannya.
Ini aku, Sasuke-kun. Aku bukan Yoru. Aku Hinata. Hinata tidak pergi. Jadi, Sasuke-kun tidak boleh berpacaran dengan Karin atau penggemarmu yang lain. Lihat aku yang sebenarnya, Sasuke-kun. Tolong.
"Sasuke-kun," panggil Yoru lagi. Sasuke menoleh.
"Apa?"
Tuh, kan. Keceplosan lagi.
"M-maksudku Sasuke," ralat Yoru cepat-cepat. "Kapan-kapan... Eh—besok... sepulang sekolah, bisa ikut d-denganku sebentar, tidak?" pintanya. Yoru sadar permintaannya ini terdengar sangat janggal. Karena Sasuke menyipit padanya, seperti ular menilai mangsa.
"Untuk apa?" tanyanya datar.
"Untuk..." Yoru menunduk menyembunyikan wajah memerahnya. "Ada sesuatu yang... aku ingin b-bicarakan."
Malah terdengar semakin mencurigakan.
"Hn," gumam Sasuke seraya mengangguk.
Yoru mendesah lega dalam hatinya. Sewaktu memandang mata Sasuke dalam-dalam tadi, ia sadar apa yang menyebabkan ia begitu marah melihat Karin memeluk Sasuke, atau penggemar-penggemar perempuan berebutan mendekati cowok itu. Yoru cemburu terhadap Karin. Ia...
Aku... mencintai Sasuke sejak dulu, tapi...
—kenapa aku baru menyadarinya sekarang?
Tapi sekarang sudah terlambat. Ia tidak akan punya kesempatan mengatakan itu pada Sasuke.
"Maaf, kalau kulihat," cetus Sasuke tiba-tiba. Yoru menoleh. Sasuke menatap mata lavender-nya dalam-dalam. "Kau mirip Hinata."
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
to be continued
*) Voglio questo = aku mau ini.
pengennya sih chap 3 lebih panjang dari ini tapi takut kebanyakan karakter o.o (mungkin) selanjutnya updatenya jadi agak cepet.
terima kasih untuk segala masukan dan dukungannya QwQ *nangis haru*
tapi sindrom 'nggak akan bisa bikin fict yang bagus lagi' alias Gloomy Sunday Syndrome saya masih belum ilang-ilang... TT^TT
oke, kata-kata sama: saya bener-bener butuh kritik saran selain dari step-onii-chan yang cuma bisa komentar "gimana kalo kamu jadi karakter si x? ekspresinya gimana?" dan sukses bikin saya berbenah ulang sebelum ngepublish chap 3.
ulva-chan; karena saya perlu bikin Hiashi nggak terlalu 'menghalangi' jalan cerita (?) jadi... maaf kalo lumayan ooc, ya ._. pokoknya dibikin netral aja.
oke, jadi saya boleh keep fict ini, kan? c:
Hizuka Miryuki; oh? kalo nggak salah ide cerita kek gini amat sangat terlalu pasaran TT_TT
oke, udah saya apdet! :)
YamanakaemO; uhm, uhm, reaksi Sasuke hmm... *lirik-lirik draft*
udah diapdet x)!
2) mohon maaf lahir batin juga :D emang gak niat terlalu masuk akal kok (o.O) yeah, tapi udah berusaha dikait-kaitin dikit lah ama pengetahuan Biologi yang saya tau.
mm... panggil apa aja boleh XD
S.Y; O_o mirip hanakimi ya...
._.
tapi saya nggak niat plagiat kok ._.v bahkan nggak keingetan HanaKimi (betul nggak tulisannya?)waktu nulis ini o.0
malah keingetan komik My Girl meskipun alur dan ide cerita sangat-sangat jauh diluar fict ini.
oh, atlet Indo (tenis) cewek berubah jadi cowok emang ada, saya pernah baca di majalah. sekarang orangnya udah agak tua sih.
apdeted (?)!
.
masih ada yang mau review? ._.
