Balasan review ch 2 :
Aikaa-chan;hai juga, dewisetyawati411;hahaha gampang ketebak ya? semua pernyataan kamu hampir bener semua, lho… iya semoga nanti jadi penulis handal beneran, aaamin… wah, kamu juga UAS? Semoga lancar, ya! deidaratamvanjualpetasan;makasih, liat aja nanti ada mereka atau enggak :v yoshimura arai;semoga kamu tetep penasaran ya… sampai fic ini tamat :3 daunilalangkuning;aku harap kamu bener bisa panggil aku 'fe' lho… sebenarnya sasu cuma iseng makan itu apel, tapi… tapi apa hayoo? Tapi waktu dia makan itu apel ada yang ga beres sama tubuhnya, ya gitu deh. Jadi dia bilang sama saku buat jangan makan apel itu, dan sasu pingsan deh, bangunnya dicium aku wkwkwk, jawabannya ada di chap ini… mungkin?, mizutania46;iyaw apelnya emang buat saku, ehm… jawabannya ada di balasan review buat daunilalangkuning :v, saku baper gak ya? pantengin aja terus, wkwkwk 1;ni next-nya, aku berharap kamu bisa manggil namaku lho… kirara967;sasu ga ooc kan? Naruto, dia… baca aja ya. ni kelanjutannya wkwkwk piss ^v^)v rinda kuchiki;wah bener, nama kita hampir sama, jangan2 kita jodoh heheheh *okeakumasinormalkok d3rin;iya ni sasu ga waspadaan, mungkin dia lagi laper belum sarapan hehehe :v :3 ana assalwa;ni kelanjutannya, daebak;gimana? Ni uda aku usahain kilat lho, aoi yukari;iya, tonton aja lagi hehehe, makasih ya applessian;makasih ya, sampe greget gitu. Aku aja yang ngetik bayangin sasu kek gitu sampe kebawa mimpi lho… wkwkwk :D. makasih Applessian, aku akan semangat uas nya biar cepet updet B) kekekekkk guest;kamu emang guest, makasih uda dibilang bagus :v simcool;oke, ini uda aku lanjutin. Semoga suka lightflower22;mungkin uda ada, untuk lebih lanjut lagi mendingan kamu ikutin terus fic ini, wkwkwk promosi :3:v hikari;makasih atas saran yg kamu kasi buat aku. ehm.. gini, seperti yg aku bilang dich1, aku sengaja bikin beberapa scene hampir mirip bahkan sama (aku ga plagiat), namanya aja terinspirasi. jadi kamu tunggu aja fic ini sampe selese ya :v:D, Semangat! Qwerty;hyaaaa… hahahahaha (ketawa keji) walau kamu belum baca ch 2, tapi itu ga berarti buatku yang penting kamu uda review cayang :3 (maksa dikit gapapa ya qwerty a.k.a gnf)
.
.
.
Naruto milik Masashi Kishimoto, saya hanya meminjam beberapa karakter dan tidak mengambil keuntungan apapun dari fic ini
A/n: fic ini terinspirasi dari anime Akagami no Shirayukihime (bagi yang belum tahu anime tersebut, silakan tanya mbah google), long fic, OOC, OC, typos, tidak baku, ada beberapa OC,
Chap ini aku persembahkan untuk ucapan ulang tahun yang telat banget buat DinatanayaCK dan DuditA. Maafin aku yang telat, aku persembahkan ini untuk kalian. Happy birthday! Kalian adalah sahabatku yang paling aku sayangi #pelukeratdina #pelukeratdudit
ENJOY!
…
…
…
SNOW WHITE WITH THE PINK HAIR
…
…
…
Sekarang Sakura berada di dalam sebuah kereta kuda. Sebuah kereta kuda yang amat bagus nan indah. Bagian luar maupun bagian dalam kereta terdapat ukiran rumit yang sangat indah. Desain dalam kereta terlihat lebih mewah karena sentuhan kain beludru yang melapisi beberapa bagian. Penutup jendelanya pun terbuat dari kain yang Sakura yakini terbuat dari kain sutra. Tak ada kata yang bisa mewakili kata kemewahan untuk mendeskripsikan kereta itu. Sayang seribu sayang, kereta kuda yang membawanya bukan untuk pergi melancong ke Inverno. Ataupun mengantarkannya pergi jauh untuk melarikan diri. Melainkan membawanya kehadapan Pangeran tunggal pewaris tahta Kerajaan Estate. Pangeran Naruto.
Sakura meremas tas selempang yang berada dipangkuannya. Betapa setianya, tas itu menemani Sakura selama perjalanan melarikan diri. Sampai dia bertemu dengan Sasuke. Sasuke? Bagaimana keadaannya sekarang? Semua ini terjadi karena dirinya. Andai saja Sasuke tak melemparkan belati dan menolongnya. Pastinya sekarang dia sudah berada di rumahnya bersama Kakashi dan Ino. Sakura menghela napas. Setelah dia menemui Pangeran Naruto, Sakura akan meminta obat penawar untuk Sasuke.
"Sayang sekali, bukan nona Haruno yang memakannya. Ternyata salah sasaran." Ucap utusan itu dengan senyum yang sangat menyebalkan bagi Sakura.
Ino masih berdiri menghadang Utusan itu. Kini seluruh pedangnya telah diarahkan ke depan menghadap utusan itu. "Apa yang kau inginkan?" tanya Ino. Nadanya begitu tenang saat bertanya kepada utusan itu berbanding terbalik dengan apa yang Sakura rasakan. Jantungnya bahkan tak henti-hentinya berdetak dengan sangat kencang dibalik rongga dadanya. Dia takut, sangat takut. Tetapi dia lebih takut jika keadaan Sasuke memburuk. Obat penawar. Ya, obat penawarnya pasti ada pada utusan itu.
"Dimana obat penawarnya?" / "Aku menginginkan gadis itu," ucap Sakura berbarengan dengan jawaban sang Utusan.
Sakura berdiri ke samping Ino. "Dimana obat penawarnya? Kau menginginkan diriku, bukan? Kau bisa membawaku ke hadapan Pangeran tetapi berikan dia obat penawarnya dahulu. Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua."
Utusan itu terkekeh mendengar permintaan Sakura. "Pangeran pasti akan sangat kecewa mendengar ini," ucapnya entah pada siapa. "Sekalipun aku punya obat penawarnya. Aku tak akan memberikannya semudah kau memintanya, Nona."
"Singkirkan pedangmu dari hadapanku, Nona. Ini urusanku dengan nona Sakura."
Dengan sekali gerakan utusan itu melempar pedang Ino hingga ke sudut ruangan. Utusan itu mendekati Ino yang masih siaga tanpa adanya senjata yang bisa diandalkan olehnya kini. Ino berjalan mundur dengan perlahan ketika utusan itu semakin dekat dengannya. Tiba-tiba, pedang yang menjadi senjata utusan itu terpental jauh. Kakashi berdiri menghadang utusan berbadan besar itu di depan Ino. Ujung pedang Kakashi menempel dileher sang utusan yang kemudian mengikuti serangan Kakashi dengan menempelkan sebuah belati keleher Kakashi. Mereka berdua―Kakashi dan Utusan itu― sama-sama terdiam memandang tajam satu sama lain dengan senjata yang menempel dimasing-masing leher mereka.
"Hentikan! Berhenti disana!" Sakura berteriak. Dia tak mungkin tega melihat Kakashi dan Ino yang sedang terdesak apalagi sampai terluka karena dirinya. Ditambah Sasuke yang masih terbaring disampingnya. "Aku akan ikut denganmu. Tapi dengan satu syarat―" utusan itu menarik kembali belatinya. "―berikan penawarnya kepada mereka."
"Hm? Syarat?" utusan itu terkekeh pelan mendengarnya. Dia terlihat tak gentar dengan pedang tajam Kakashi yang berada dilehernya. Yang mungkin saja sewaktu-waktu dapat menebas lehernya. Dia melirik benda mengkilat yang menempel dilehernya, "Singkirkan benda ini terlebih dahulu dari leherku."
"Kakashi-san, tarik kembali pedangmu. Kumohon,"
"Sakura…" ucap Kakashi meyakinkan.
"Ini demi obat penawar untuk Sasuke."
Mendengar itu, Kakashi menarik perlahan pedangnya dan memasukkannya kembali ke sarungnya. Dia melihat Sakura yang berjalan mendekati pria berbadan besar di depannya itu. "Biarkan Ino bersamamu," ucap Kakashi.
Sakura menggeleng, "Tidak, aku tidak bisa. Kau membutuhkan Ino disampingmu, Kakashi-san. Aku akan baik-baik saja," ucap Sakura berhenti disamping utusan itu. "Jaga Sasuke, aku akan segera membawa penawarnya agar Sasuke bisa pulih seperti sebelum dia memakan apel milikku."
Utusan itu menarik Sakura menuju kereta kuda yang telah menunggunya di depan rumah Kakashi. Sebelum ia keluar dari rumah Kakashi, ia melihat Sasuke yang masih terbaring dengan wajah yang pucat. "Maaf…"
"Hey! Cepat turun, kita sudah sampai."
Sakura terlonjak kaget ketika utusan yang tadi duduk di depannya telah turun dari kereta. Kesadarannya seakan telah terkumpul kembali menjadi satu. Dia melihat jendela kecil yang ada di samping kereta. Bangunan megah yang tebuat dari batu hitam menyambut pandangan Sakura. Sebuah logo kebanggaan Kerajaan Estate terukir ditengah pintu masuk sebuah rumah mewah yang dekat dengan perbatasan Estate dan Inverno. Logo bergambar seekor rubah dengan ekor berjumlah sembilan yang melingkari sembilan buah bola berwarna emas. Dia telah sampai di rumah singgah milik Pangeran Naruto yang berada di perbatasan Estate dan Inverno.
Sakura turun dari kereta dibantu utusan yang bersamanya. Ia mengedarkan pandangan melihat rumah mewah yang ada di depannya itu.
"Persiapkan dirimu, Nona." Bisik sang utusan kepada Sakura.
Sakura menelan ludahnya dengan susah payah ketika mendengar ucapan utusan itu. Dia mulai berjalan mengikuti sang utusan seraya membenarkan hoodienya. Sakura mencoba mempersiapkan dirinya menghadapi sang Pangeran Kerajaan Estate.
.
-fe-
.
"Pagi yang indah untuk menyambut seorang gadis yang tertidur didalam peti matinya,"
Ia tersenyum diujung ucapannya, tersenyum dengan amat senangnya. Matanya terpejam menikmati hembusan angin yang menerpa wajah tan-nya. Jubah dengan degradasi warna jingga dan merah itu berkibar pelan tertiup angin. Dia sungguh tidak sabar menunggu hadiah yang akan datang sebentar lagi.
"Pangeran," panggil sebuah suara yang amat dia kenal sejak dia berumur lima tahun.
Dia menunggu sang Pengawal pribadinya untuk bicara lebih lanjut dalam diam. "Gadis itu telah tiba." Ucap sang Pengawal. Naruto tersenyum mendengarnya, tentu saja hadiah yang dikirim olehnya telah diterima si gadis merah jambu itu. Semua rencana yang telah dia buat akan berjalan dengan amat lancar. Ya, amat lancar sebelum dia mendengar kelanjutan dari penjelasan sang pengawal.
"Hadiah itu…―" Kozuki menatap punggung Pangerannya itu. "―salah sasaran Pangeran."
Naruto berbalik, berjalan maju menuju pengawalnya berdiri. Alisnya menukik tajam setelah mendengar hal yang tidak ingin ia dengar itu. "Bagaimana bisa?" tanya Naruto tepat dihadapan pengawalnya itu.
"Dia akan segera datang, tanyakan itu padanya nanti." Jawab Kozuki.
Naruto memalingkan wajahnya ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Seorang prajurit masuk kemudian membungkuk memberi hormat kepada Naruto. Selang beberapa lama, Hideki―bawahan Kozuki yang bertugas menjemput gadis merah jambu itu― masuk bersama seorang gadis dengan kerudung yang menutupi kepalanya. Hideki membungkuk hormat pada Pangeran dan atasannya itu.
"Nona Haruno Sakura. Si gadis berambut merah jambu, calon istri Pangeran Naruto." Ujarnya lantang.
Naruto menatap gadis yang ada di depannya itu. Pandangannya menilai dari ujung kepala hingga kaki Sakura. "Buka penutup kepalanya," titah Nruto pada Hideki.
Hideki menarik hoodie Sakura. Sakura mendongak ketika hoodie yang dipakainya terlepas. Dia menatap Pangeran Naruto tepat dimatanya, seolah menantangnya. Dia menekuk kakinya memberi hormat pada Pangeran Kerajaan Estate itu. Pandangannya tak pernah putus melihat Pangeran Naruto yang sedang menilai dirinya dari ujung kakinya hingga ujung kepalanya. Tepat saat Pangeran Naruto melihat wajah dan rambutnya, Sakura tersenyum tipis.
"Hahahahahahaha…" Naruto tertawa hingga matanya menyipit, "Jadi, kau benar-benar punya rambut berwarna merah jambu?" ucapnya mengatur tawa yang masih tersisa.
Sakura mengernyit mendengar tawa keras dari Pangeran Kerajaan Estate itu. Dia tertawa seolah rambut Sakura adalah sebuah lelucon terlucu diseluruh penjuru dunia. "Seperti yang Anda lihat, Pangeran." Jawab Sakura dingin.
"Jaga nada bicaramu, nona." Desis pria besar yang menjadi utusannya itu.
Sakura mengabaikan peringatan Hideki, ia maju sampai berjarak lima langkah dari penerus tahta Kerajaan Estate itu. "Dimana obat penawar untuk racun yang Anda masukkan kedalam apel-apel itu, Pangeran?"
"Hohoho, tenanglah Sakura. Ini bukanlah situasi yang baik untuk hubungan kita selanjutnya." Naruto menyeringai, ia melirik Kozuki untuk meninggalkan ruangan ini bersama bawahannya. Naruto membutuhkan sebuah privasi untuk berbincang kecil pada calon istrinya kelak. Kozuki dan Hideki membungkuk mengundurkan diri meninggalkan mereka berdua.
Naruto melangkah mendekati Sakura. Dia menilai Sakura sambil berjalan mengelilinginya. Rambut merah jambunya benar adanya seperti yang ia dengar dari Kozuki. Matanya yang berwarna hijau menambah nilai tersendiri bagi Naruto dan… tinggi badan gadis musim semi ini sesuai dengan putri-putri raja yang pernah Naruto dengar dari ibunya. Naruto menjentikkan jarinya yang membuat Sakura terlonjak. Naruto menyimpulkan penilaiannya terhadap Sakura, gadis ini sangat sempurna untuk dijadikan calon istri.
"Jadi, bagaimana bisa kau tidak memakan hadiah dariku?" nada suara Naruto berubah serius.
Mata Sakura menyipit mendengar pertanyaan Pangeran Naruto. Jadi memang benar, Pangeran Naruto-lah yang telah mengirim apel yang mengandung racun itu kepadanya. "Berikan aku obat penawarnya. Lalu aku akan menjawab pertanyaan Anda."
"Heee? Lalu siapa yang memakan apel merah itu?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Pangeran berambut pirang yang identik berwarna kuning terang itu. Sakura melangkah mundur, dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Kemudian menunjukannya kehadapan sang Pangeran. "Berikan saya penawarnya sebelum orang yang memakan apel beracun ini mengalami hal yang tidak diinginkan, Pangeran."
"Hebat!" Sakura mengernyit mendengar ucapan sang Pangeran Inverno yang terlihat antusias ketika melihat apel yang telah dimakan oleh Sasuke. "Benar-benar hebat, hanya dengan satu gigitan saja bisa melumpuhkan seseorang. Mungkin bisa dijadikan sebuah senjata yang ampuh untuk melawan para pemberontak." Tangan Naruto mengelus dagunya pelan seraya tersenyum yang Sakura anggap seperti senyum seekor rubah. "Tetapi… masih sangat disayangkan bukan kau yang memakannya, Sakura."
Sakura tak mengerti jalan pikiran pemuda yang sebentar lagi akan dinobatkan sebagai raja beberapa tahun lagi. Sikapnya yang terkadang seperti anak-anak dan tiba-tiba bisa saja berubah menjadi seorang Pangeran yang berwibawa dengan semua darah kebangsawanan yang terkandung didalam darahnya. Bodoh sekaligus cerdik. Kombinasi yang aneh. Ya ampun! Bagaimana bisa dia dapat menemukan banyak keanehan disekitarnya akhir-akhir ini? Sepertinya memang arti kata normal sudah menjauhinya ketika dia lahir. Lihat saja warna rambutnya yang begitu jarang dimiliki kebanyakan orang. Bukan, bukan jarang lagi memang hanya dirinya-lah yang punya, jika ayahnya tidak masuk kedalam hitungan keanehan lainnya.
Cukup basa-basinya dia harus meminta obat penawar untuk Sasuke sebelum racun itu tersebar semakin luas ditubuh Sasuke. "Berikan saya penawarnya, Pangeran." Sakura terus mengulang kalimat ini sedaritadi tetapi tak ada gerak-gerik Pangeran Naruto akan memberikannya penawar. "Utusan Anda telah berjanji pada saya untuk memberikan penawarnya, jika saya ikut bersamanya untuk menemui Anda. Tepati janji utusan Anda, Pangeran Naruto."
"Benarkah? Dia menjanjikan seperti itu?" Naruto tampak berpikir seraya berjalan bolak-balik. Sikapnya seperti anak kecil, kata Sakura dalam hati melihat perilaku Pangeran berambut pirang kuning itu. Ugh, mendengar kombinasi warna rambut sang Pangeran membuat Sakura menahan geli menyadari keanehan lain yang datang dihadapannya.
Naruto berhenti berjalan kemudian menghadap Sakura. Dia memasang wajah yang sangat serius yang bisa ia pasang diwajahnya itu, "Biarkan aku tanyakan hal ini kepada Hideki. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau pasti berbohong." Naruto menyeringai dengan wajah rubahnya.
Sakura menahan kesabaran yang masih bisa dia tahan agar tak meledak sewaktu-waktu. Dia masih punya etika bagaimana bersikap didepan seorang anggota keluarga kerajaan apalagi seorang Pangeran. Sakura melihat setiap tingkah yang ia lihat dari Pangeran Naruto. Dia terus mengamati sampai Pangeran Naruto berhenti di depan pintu ganda yang tampak mengkilat. Ia dapat melihat seringaian tipis dari wajah sang Pangeran sebelum membuka pintu itu dan Sakura menekuk tajam kedua alisnya ketika melihatnya.
Matanya membulat ketika Pangeran Naruto membuka pintu yang langsung dihadang sebuah pedang mengkilat yang menempel dileher Pangeran. Semua pikiran tak jelas berseliweran dipikirannya, bagaimana jika seseorang itu adalah pembunuh bayaran yang diperintah untuk membunuh Pangeran Naruto atau para pemberontak yang berada di perbatasan Estate-Inverno. Dia pernah mendengar para pemberontak ketika seorang pemuda yang ingin menjadi prajurit di Kerajaan terluka tangannya karena sayatan pedang. Lalu bagaimana dengan nasibnya? Mengapa begitu banyak kejadian menegangkan akhir-akhir ini? Bahkan umurnya belum genap delapan belas tahun. Ya Tuhan tolonglah hamba-Mu ini…
Naruto tercekat, tangannya seketika memegang gagang pedang yang berada dipinggangnya. Dia melirik tajam kearah orang yang dengan beraninya menodongkan senjatanya apalagi ini dilehernya. Dia adalah seorang Pangeran dan orang ini dengan tak tahu dirinya menantang seorang Naruto. Matanya menyapu lorong yang seharusnya ada prajurit yang berjaga dan juga Kozuki serta bawahannya yang besar itu―Hideki― di depan pintu ruangannya. Alangkah terkejutnya dia melihat Hideki yang berbadan besar telah terkapar di lantai bersama para prajuritnya. Sontak dia mencari pengawal pribadinya yang tak tahu dimana. Dia merasa terdesak sekarang, orang ini pasti bukan seseorang yang bisa diremehkan olehnya.
"Siapa kau?" Naruto bertanya kepada orang yang ia tidak ingin menduganya sebagai seorang pemberontak. Karena hanya itu yang terlintas dipikirannya ketika melihat pakaian yang dikenakan oleh orang ini.
Kaki Sakura semakin bergetar melihat Pangeran Naruto yang perlahan mundur. Pedang yang menempel dileher Pangeran Naruto terlihat sangat tajam. Reflek Sakura ikut mundur, tangannya meremas tali tas selempangnya dengan sangat erat berharap dia dapat menyalurkan rasa takut yang dirasakannya. Dia melihat orang yang menodongkan pedangnya kepada Pangeran Naruto.
"S-Sasuke…" suaranya bergetar ketika menyebut namanya.
Sasuke menyeringai ketika Sakura menyebut namanya, "Hn."
"K-kau sadar?" entah itu sebuah pertanyaan atau Sakura sedang meyakinkan dirinya bahwa Sasuke ada disini. Ia pun tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Sakura masih mencerna apa yang baru saja dilihatnya. Matanya semakin membulat saat Kakashi dan Ino masuk ke dalam ruangan ini. Apakah mereka akan menyelamatkan Sakura dari sini? Tidak, tentu saja tidak. Tidak mungkin mereka datang untuk menyelamatkannya. Pasti Sasuke hanya ingin meminta obat penawarnya. Mereka telah berbaik hati menolongnya dengan menginap di rumah Kakashi saja Sakura sangat bersyukur. Dia takkan mengharap lebih kali ini.
"Sakura, kau baik-baik saja?" Ino berjalan dengan tenang mendekatinya. Ia seolah tak melihat aksi Sasuke yang tengah menempelkan ujung pedangnya dileher Pangeran Naruto. Sakura menggeleng.
Mereka mengenal Sakura dan Sakura pasti bagian dari mereka, pikir Naruto melihat Ino yang bertanya kepada Sakura. "Jadi, kau sudah merencanakan ini? Membuatku tersudut tanpa bisa berbuat apa-apa? Licik sekali Sakura, aku tak tahu bahwa kau adalah salah satu pemberontak ini." Naruto mendengus dengan keras. "Ah, aku mengerti sekarang. Kau kabur hanya untuk meminta bantuan para pemberontak ini?"
Seolah tidak terima dengan ini semua. Naruto menarik pedangnya dan mulai menyerang pria yang menodongkan pedangnya ke leher Naruto.
Sakura terlonjak dari tempatnya ketika Pangeran Naruto mulai mengayunkan pedangnya. Dia langsung menyerang Sasuke tanpa ampun. Hampir saja Sasuke kehilangan pedangnya karena serangan bertubi-tubi dari Naruto. Tetapi dengan mudah dia dapat mengendalikan adu pedangnya bersama Naruto. Sasuke terlihat sangat lihai mengayunkan pedangnya. Yang Sakura lihat, Sasuke hanya menagkis serangan dari Pangeran Naruto tanpa sekalipun menyerang balik Naruto.
"Kami tidak bisa disamakan dengan para pemberontak dari Kerjaanmu, bodoh." kata Sasuke datar seraya memutar pedangnya yang membuat pedang Naruto terpental jauh ke kaki Kakashi. Sedangkan, Kakashi dengan sigap menahan pedang Naruto yang terpental dilantai dengan kakinya.
Naruto mengangkat kedua tangannya, pertanda bahwa ia telah menyerah. Wajahnya tak bisa lagi menutupi ekspresi ketakutan. Dia mundur beberapa langkah ketika Sasuke berjalan maju seraya menghunuskan pedang kearahnya. "Kau akan dihukum mati jika kau berani melukaiku," ancam Pangeran Estate itu. Dan Sasuke hanya mendengus pelan. Bibirnya melengkung menampilkan sebuah seringai disana.
"Kau yang seharusnya dihukum mati karena mencoba meracuni seorang pangeran, Pangeran." Kali ini Sakura dibuat bingung dengan perkataan Kakashi. Apa maksudnya meracuni 'seorang pangeran'?
"Pangeran? Siapa yang 'seorang pangeran'?" Naruto bertanya seolah mewakili pertanyaan yang ada dipikirannya.
Bukannya menjawab Sasuke dengan cepat memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Kemudian dia mengangkat pedangnya kepada Naruto. Naruto melihat simbol yang tertera digagang pedang milik Sasuke. Naruto menahan napas menyadari simbol kipas dengan seekor naga yang melingkari sisi lengkung simbol kipas itu. Inverno, itu adalah lambang dari Kerajaan Inverno. Yang berarti…
"Pangeran kedua Kerajaan Inverno, Uchiha Sasuke." Sasuke memperkenalkan dirinya dengan datar. Dia terlihat sangat berkharisma, pikir Sakura yang mendadak merasa bahwa wajahnya memanas.
"Anda bisa dihukum seumur hidup di penjara bawah tanah karena telah berusaha meracuni anggota keluarga Kerajaan Inverno, Pangeran. Dan hukum kami tak mengenal siapa yang melanggar hukum tersebut. Saya rasa Anda sudah mengetahuinya dari pelajaran antar kerajaan." Kakashi menyipitkan matanya melihat reaksi Pangeran Estate yang kini tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tersenyum dibalik maskernya.
Sekarang Sakura merasa kepalanya berputar. Banyak hal yang dia hadapi beberapa jam kebelakang. Pangeran Naruto yang mengetahui keberadaannya, Sasuke yang makan apel beracun yang dikirim oleh Pangeran Naruto, dan kini satu fakta yang masih dicerna dengan lamban didalam kepalanya. Sasuke adalah seorang Pangeran dari Inverno.
.
-fe-
.
Sasuke meminum pelan obat penawar yang tadi diberikan Naruto. Dia tak pernah melihat wajah Pangeran Estate yang tampak sangat terdesak dan tersudut. Dengan mudahnya mereka―ia, Kakashi, dan Ino― tadi melumpuhkan para prajurit yang berjaga. Bahkan dia sangat menikmati beradu pedang dengan Naruto. Dan dengan mudahnya dia mengalahkan Pangeran Uzumaki itu. Sasuke meletakkan botol yang tadi berisi penawar racunnya di atas meja. Dia melihat Sakura yang sedari tadi terdiam di tempatnya duduk dari sudut matanya.
"Kau masih berpikiran bodoh," ucap Sasuke. "Aku kira sebelas tahun tidak bertemu denganmu aku akan mendapat hal yang luar biasa darimu. Nyatanya kau semakin bodoh dengan pikiran dan semua sikapmu, Pangeran Uzumaki."
Naruto mendelik mendengar ucapan Sasuke yang begitu tajam ditelinganya. "Jangan sombong Uchiha."
"Mungkin jika aku mati karena racunmu itu. Gencatan senjata antara kerajaan kita jadi terdengar sia-sia."
"Aku tidak peduli."
Sakura menegang di tempatnya duduk. Mendengar ucapan Sasuke maksudnya Pangeran Sasuke membuatnya semakin takut. Mungkin tidak secara langsung Sakura membuat Pangeran kedua Inverno memakan apel yang mengandung racun itu. Tapi secara tidak langsung dia hampir saja membuat dua kerjaan berperang. Sakura menggigit bibir bawahnya. Dia tidak akan tahu bahwa melarikan diri karena tidak mau menikah dengan seorang Pangeran akan membuat masalahnya semakin membesar. Hidup memang sulit untuk dilalui, dia mengambil napas dalam.
Sakura melihat Sasuke, setelah diamati dengan seksama. Seperti yang pernah ia sebutkan di rumah Kakashi panggilan untuk Sasuke. Sasuke adalah seorang bangsawan, bangsawan yang congkak. Lihatlah caranya berbicara, bertutur kata, dan pembawaannya. Semua sikap dan sifat yang ada pada Sasuke memang menjurus seperti seorang bangsawan. Jadi dia mungkin tak akan heran ataupun terkejut mengetahui kalau Sasuke adalah seorang Pangeran Kerajaan Inverno.
"Kau yakin dengan tawaran menikah dengannya?" tanya Sasuke. Wajahnya sangat datar dan tatapan matanya yang tajam mengarah kepada Sakura.
"A-aku…" Sakura menunduk. Dia merasa sangat kecil berada diantara kalangan orang-orang berada. Dia duduk dengan gelisah, tanagnnya meremas satu sama lain. "Maaf…" hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Mereka duduk mengelilingi sebuah meja yang terbuat dari porselen yang cantik. Sakura tak berani melihat Pangeran Naruto yang pasti sedang menatapnya dengan tajam. Padahal saat pertemuan yang pertama Sakura bahkan punya keberanian hingga menembus langit. Tetapi sekarang, seolah-olah keberanian yang tadi ia miliki hilang dengan perlahan. Dia sadar bahwa ia hanyalah rakyat biasa yang beruntung akan dilamar oleh penerus Kerajaan, namun sayangnya Sakura tak mengingikan hal itu. Mungkin jika bukan gadis yang ingin Pangeran Naruto bukan dirinya yang mempunyai warna rambut yang aneh, mungkin gadis itu akan sangat bahagia. Hidup di sebuah Kastil yang mempunyai banyak makanan juga pelayan. Semua orang menginginkannya. Ya, hampir semua orang karena Sakura bukan termasuk kedalam orang-orang itu.
"Maaf jika saya lancang Pangeran Uzumaki. Bukankah sudah jelas bahwa nona Sakura tidak ingin menikah dengan Anda bahkan sepertinya dia belum menjawab lamaran Anda, Pangeran." Kali ini Ino membuka suaranya. "Bahkan Sakura kabur hingga ke wilayah Inverno. Kami bertemu dengannya di Hutan Perbatasan." Sakura melihat Ino yang tersenyum kepadanya. Dia tak menyangka Ino akan membelanya.
"Huh! Tahu apa kalian? Ini urusanku dengan gadis itu. Urusi saja urusan kalian. Terserah padaku apa yang ingin aku lakukan, lagipula gadis merah jambu itu adalah rakyatku." Naruto mengucapkannya dengan memandang tajam Sasuke. "Bukankah kau sudah mendapatkan penawarnya, jadi silakan pergi dari rumah singgahku."
Ada kilat kemarahan terpantul dari mata Sasuke. Dari dulu Inverno dan Estate memang takkan pernah bisa berdamai. Sasuke tak tahu akan bagaimana Kerajaan Estate jika dipimpin oleh Pangeran Pirang itu. Memang tidak salah jika Sasuke masih menganggap Naruto bodoh. Dulu maupun sekarang pemuda pirang itu tetap sama seperti anak kecil yang pernah ia temui duabelas tahun lalu.
"Sejak dia menginjakkan kakinya ke wilayah Inverno. Itu berarti dia adalah salah satu dari rakyatku." Dengan nada dingin Sasuke menatap mata biru milik Naruto. "Dan rakyatku mempunyai hak untuk menolak apa yang ditawarkan kepada mereka."
Sakura menatap Sasuke, dia kembali dibuat terkejut dengan ucapan Sasuke. Sakura menjadi salah satu rakyat Inverno. Bahkan pertemuan pertamanya dengan Sasuke, Sakura dianggap sebagai penyusup. Sakura tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Bisakah ia berharap bahwa mereka datang ke rumah singgah Pangeran Naruto untuk menyelamatkannya?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued
A/n:
Rasanya aku pengin teriak sampe suara serak. Akhirnya bisa updet (ambil napas, buang napas). Ugh, aku ga tahu chap ini masih bisa dibilang bagus atau enggak. Dengan segala sisa-sisa kewarasan yang masih tersisa akibat UAS yang berlebih (hampir dua minggu, OMG!), akhirnya aku bisa nerusin cerita ini. Semoga kalian masih suka, yah *nyengirkuda
Makasi untuk yang review dan fave juga follow cerita aku, aku seneng banget lho ^0^)/
Read and Review?
Sekali lagi tinggalkan jejak kalian dan ketik apa yang ada dipikiran kalian saat baca chap ini (sesingkat apapun review kalian). Komen atau kritik boleh aja, pastinya dikasi solusi ya biar aku ga pusing nyari solusinya hehehehe ~,~)v karena review kalian adalah semangat ku untuk terus melanjutkan cerita ini, wakakakakakaka *plak
Rinandafe
10.21 pm, 08/12/2016
