Disclaimer : He-Ta-Li-A punya mama Himaruya kok! *digaplok..
Warning : OOT, OC, OOC, Just for fun, Typo(s), Mangandung hal-hal yang sekiranya membuat anda tidak nyaman (paan, seh?-") Entah apa yg mau gw lakuin dengan fic ini, pasrah...-"
Udahlah, langsung cekidot
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Ini bukan soal Toris yang hampir loncat dari atap cuma gara-gara Natalia yang udah gak masuk seminggu, ataupun soal Feliks dan Raivis yang dengan senang hati memakai rok dan menggegerkan seisi sekolah seminggu yang lalu, ini soal harga diri, Irunya Aku tak tahan dengan semua penyiksaan ini. Kumohon, maukah kau membantu kami?" Pinta Eduard penuh harap, tak sengaja memegang tangan Irunya erat.
Deg! "Ah, maafkan aku, EduardAku tak bisa, orangtuaku melarangku mendekati Ivan-chan karena urusan keluarga. Maaf, aku tak dapat membantumu" Jawab Irunya. Wajahnya memerah, segera ia melepas genggaman Eduard dan pergi meninggalkannya sendirian di lorong sekolah.
"Tidaaaakk!" Bagai iklan di TV, sepertinya Eduard sudah ketularan virus narsisnya Gilbert, Eduard tak dapat merelakan kepergian Irunya, dia jatuh tersungkur diatas lantai lorong sekolah yang dingin. (wuaallaay poll -_-) Tak ada harapan lagi..
"Woi, minggir. Loe ngalangin jalan gue! Mau mati, hah?!" Seorang cowok, dengan gaya sok cool-nya, menginjak kepala Eduard dengan sengaja. Senyum lebarnya ditujukan pada Eduard. Kakak kelas 3 yang terkenal paling galak, ketua geng, Andi Joko Indo.
"Aaahh, bang Ako ma-maafkan aku!" Mohon Eduard sambil berlutut dihadapannya, dia tidak mau cari gara-gara sama si Ako ini, dia masih sayang sama nyawanya.
"Hoo.. Nurut toh.. Loe gak asik" Ako jalan dengan sok-nya melewati Eduard yang hampir jantungan. Eduard menghela napas lega, dia masih punya kesempatan buat pergi ke cafe favoritnya dan gak jadi santapan lezat si Ako. Tapi kebahagiaannya hanya terjadi sesaat. si Ako berhenti tiba-tiba, mendekati Eduard dan berbisik ditelinganya, "Pergi ke halaman belakang sekolah setelah pulang, atau semua koleksi gadget loe yang jadi korbannya. hihi..." Ako kembali berbalik arah dan melanjutkan jalannya meninggalkan Eduard yang sekarang benar-benar jantungan. Dugaannya salah, dia takkan bisa pergi ke cafe favoritnya setelah ini dan selamanya.
-o0o-
Esoknyaa...
Tak ada perubahan yang berarti di kelas 2-A. Hanya pasangan baru itulah yang mesra-nya makin menjadi-jadi. Kirana lama-lama iri dengan kemesraan pengantin semi jadi itu.
"Oi, Malon jelek. kok gue lama-lama iri ya ama dua orang ga jelas itu" Ucap Kirana meletakkan kepalanya diatas meja.
"Wut? Loe iri ama mereka, don?! Loe udah gila apa, ya? Mau gue anterin ke RSJ sekarang?" Ucap Razak kaget mendengar ucapan Kirana.
"Iiih.. Bukan itu yang gue maksud! Gue jadi keinget ama abang-abang gue, Bang Andi ama Bang Adit. Kadang kalo dirumah, Bang Andi langsung nyerang gitu aja ke Bang Adit. Mirip banget ama 2 insan gila di kelas kita" Lanjut Kirana.
"hii... Jangan ngomongin abang loe lah, donRazak merinding sendiri.
"Kalo gitu darimana sisi irinya, Kirana-chan?" Sahut Irunya.
"Udahlah, lu pada kagak ngerti perasaan gue!" Ucap Kirana malas dan kembali ke posisi tidurnya yang lelap. Razak dan Irunya hanya geleng-geleng kepala, palingan Kirana lagi pms. makanya perkataannya makin ngelantur kemana-mana.
Seisi kelas terdiam, entah apa yang lagi nyambet mereka. Guru killer, Berwald-sensei masuk dan membawa seorang perempuan, yang mungkin adalah murid baru lagi.. Dia cantik, Rambut pirang berikat kuncir kuda, postur tubuh tinggi dan berkacamata. Perempuan asal Estonia itu memperkenalkan dirinya, semuanya terpana, kecantikannya melebihi perempuan biasa. Tipe wanita dewasa. Mungkin ini adalah hal yang tak mungkin, tapi itulah kebenarannya.. Eduard berubah jadi cewek, iya.. cewek beneran!
"Perkenalkan, aku Edith von Bock, murid pindahan. Salam kenal.." Ucapnya memperkenalkan dirinya dengan elegan. Para cowok gelagapan, nyawa mereka sudah sampai ke surga sekarang.
"Edith Silahkan duduk disebelah Nikolai. Semua, pelajaran dimulai!" Ucap Berweld-sensei menatap khas seisi kelas. Edith berjalan ke bangkunya, dia melempar senyum kearah Ivan, Ivan sendiri tersipu. Nikolai yang melihatnya geram dan hampir melempar Edith dengan buku sejarah setebal 10 cm kalau saja Berweld-sensei tak berdeham padanya.
"Psst.. Malon.. Gue ngerasa aneh deh ama anak baru itu.." Bisik Kirana. Razak cuma angguk-angguk setuju.
"Kita liat aja situasinya nanti.. Moga-moga aja gak terjadi apa-apa.." Doa Razak.
"Fuuh.. Berjalan lancar toh.. Seru nih.. Dek Nes, Jadiin ini pertunjukan yang asik, ya? Hihi..." Cowok sok cool yang sukanya bolos sekolah berjalan meninggalkan pintu kelas 2-A.
-o0o-
Istirahat.. =
"Nikolai, boleh minta waktunya sebentar?" Pinta Edith.
"Aahh.. Maaf ya, aku mau makan siang dengan onii-chan tercintaku.." Jawab Nikolai sambil merangkul tangan Ivan yang sudah tak bernyawa itu. Dan tentu, para fujoshi dan fudanshi setia tak lupa meliput perkembangan sang objek.
"Hoo.. kau tak mau yaa.. Gawat kalau begitu.." Edith dengan senyumannya yang tak biasa memegang erat tangan Nikolai dan menariknya keluar dari kelas. Nikolai terlihat berusaha melepas genggaman itu. Tapi percuma saja, usahanya sia-sia. Genggaman Edith terlalu kuat. Seisi kelas kembali melongo melihat apa yang baru saja terjadi. Tak ada yang bisa melawan Nikolai sebelumnya, ini keajaiban dunia!
"Aahh~ Honey-ku! Cih, bagaimana bisa aku kalah dengan Nikolai sialan itu.." Ucap Francis geram.
"Oy, bukannya loe udah mati ya kemaren, nape idup lagi, dasar hidung belang. Malon, bener deh ada yang gak beres. temenin gue yok!" Lagi-lagi, untuk yang kesekian kalinya, Kirana menepuk pundak Razak yang sedang makan nasi lemaknya, tunggu.. kayak, Deja vu?
"Uhuk-uhuk.. Woi, Indon! Loe mau bunuh gue berapa kali!" Dan untuk kesekalian kalinya juga, Razak tersedak gara-gara sentuhan secara sengaja dari sang Nesia. Nesia tak peduli dan langsung menarik brutal tangan Razak, dan membawanya mengikuti Edith dan Nikolai yang baru saja pergi. Sebagai penjaga keharmonisan hubungan Nikolai dengan Ivan, dia tak bisa membiarkan orang ketiga (maksudnya Edith) merusak hubungan antara keduanya (Tunggu, sejak kapan Nesia berubah jadi fujoshi begini!). Tapi langkahnya segera terhenti, setelah suara lelaki dengan aksen Inggris itu terdengar di telinganya
"Eh, kalian.. Aku juga ikut! Eh, ini bukan karena aku penasaran dengan hubungan Edith dan Nikolai! Aku hanya tidak ada kerjaan!" Yak, inilah! Tsundere dari sang Arthur keluar, sobat-sobat! Uhuy, sepertinya Arthur sedang ehemjatuhehemcinta pada Edith yang membuat para fans Arthur dilarikan semua ke rumah sakit. Kirana hanya tersenyum dan mengangguk. Dia menemukan topik hot untuk dibicarakan dengan klien-klien gossip-nya nanti (dasar tukang gosip--").
-o0o-
Edith menghentikan langkahnya tepat setelah ia mendorong Nikolai ke dalam ruang olahraga. Nikolai jatuh dengan kerasnya, kepalanya menatap meja yang mengakibatkan pendarahan disekitar kepalanya.
Tanpa berkata-kata, Edith tersenyum pada Nikolai dan segera menutup pintu dengan keras, tak lupa ia menguncinya. Edith sang tersangka, melangkah dengan damai.
"Hei, teman-teman.. Apa yang kalian lakukan disini?" Sayang seribu sayang, Kirana, Razak, dan Arthur yang sejak tadi mengintip dibalik pohon ketahuan sendiri oleh Edith. Edith kembali tersenyum terhadap ketiganya. Ketiganya membeku ditempat, Edith mengulang pertanyaannya lagi, "Hei, jawab aku.. Apa yang kalian lakukan disini? Nguntit, ya?"
"Ti-Tidaak! Kami hanya jalan-jalan. Bukankah sebaiknya kita segera kembali? Ya kan, Arthur?" Razak memberi kode pada Arthur.
"Oh, benar sekali, zak.. Ya kan, Kirana?" Lanjut Arthur.
"Edith loe apain si Nikolai?" Tanya Nesia dengan datarnya, tak peduli muka pucat pasi Arthur dan Razak yang mati-matian mencoba kabur. Edith menatap tajam Kirana. Kirana balik menatap Edith, keduanya menciptakan suasana tegang sesaat.
"Haha... Nikolai? Nikolai udah pergi kok daritadi. Kau salah lihat, mungkin? Sudahlah, ayo kita kembali ke kelas" Edith kembali tersenyum, merangkul keras pundak Kirana, membawanya pergi menuju kelas. Arthur dan Razak yang sedaritadi gemetaran langsung kabur mendahului mereka ke kelas. Kirana terhenyak, rangkulan Edith terlalu kuat untuknya. 'Dia cewek apa cowok sih? Bener deh, ada yang gak beres ama ni anak'
-o0o-
Dia benar-benar tidak nyaman. Entahlah, ada sesuatu yang menjanggal. Dia terusng mengganti posisi duduknya dan memainkan penanya. Hatinya tak tenang. Yao yang disebelahnya terganggu dengan tingkah anehnya.
"Aiyaahh.. Ivan, ada apa denganmu, aru?" Yao teman setianya menunjukkan kepeduliannya pada Ivan yang tak tenang, yang memang selalu tak tenang, dan akan selamanya tak tenang itu jika adiknya tak muncul dalam kehidupannya yang tak tenang. Tapi wujud ketidak tenangnya kali ini, sangatlah berbeda dengan wujud-wujud ketidak tenangnya yang sebelumnya. Yang jika tidak ditenangkan maka akan menjadi ketidak tenangan yang mendalam yang artinya adalah munculnya ketidak tenangan sejati. Dan apabila ketidak tenangan sejati ini muncul, maka ketidak tenangan dari ketidak tenangan Ivan akan berubah menjadi ketidak tenangan yang sangat lama. Sehingga dia akan mengalami ketidak tenangan di kehidupan tidak tenangnya.(yo dawg.. heh :v) *jotosed
"Ehmm... Yao, kau melihat adikku?" Tanya Ivan sedikit khawatir.
"Hm? Adikmu? Natalia, aru? Aku tak melihatnya, aru? Bukankah dia sudah seminggu ini tidak masuk kelas, aru?
Jawab Yao bingung.
"Ah, bukan. Maksudku Nikolai. Apa kau melihatnya?" Ivan memperjelas pertanyaannya.
"Eh, ka-kalau Nikolai.. Aku juga tak melihatnya, aru.. Maaf, aru.." Jawab Yao. 'Tapi tunggu, aru.. Ivan menyebut Nikolai sebagai adiknya, aru?! Bukankah itu berarti dia... telah mengakuinya, aru?' Batin Yao panik.
"Nikolai tadi bolos sekolah, waktu istirahat aku ingin mengembalikan dompetnya yang jatuh. Tapi setelah itu dia berkata padaku bahwa dia ingin bolos hari ini. Maafkan aku tak dapat menghentikannya, Ivan..." Suara gadis itu tak lain dan tak bukan adalah suara Edith. Wajahnya memperlihatkan ekspresi menyesal.
Ivan terpana, terasa degupan keras dari jantungnya, mukanya memerah melihat ekspresi wajah itu, wajah yang peduli padanya.
"A-Ahh... Terima kasih, Edith.. Kau tak harus menahannya" Jawab Ivan agak segan.
"Syukurlah kalau begitu, kukira kau akan marah.." Balas Edith dengan senyuman.
'Tunggu Ivan, kau langsung cari yang lain, aru?! Hei, jangan cari selingkuhan dihadapan Nikolai, aru.. Ga-Gawat kalau sampai Nikolai tahu soal ini, aru!' Batin Yao khawatir dengan Ivan. Sejak kapan Yao jadi sepeduli ini terhadap Ivan?#Masih_menjadi_misteri~
"Psstt.. Malon.. Ivan kayaknya suka, deh.. ama tu Hulk. Mana tu Hulk tadi bohongin kita lagi. Bener-bener gak beres ini mah.." Bisik Kirana ke Razak. Kirana makin serius menguping mereka.
"Ah, Ivan.. Aku ingin mengatakan sesuatu. Maukah kau pergi ke depan ruang olahraga ketika pulang.. Ah, aku tak memaksa.. Tapi kuharap kau datang" Edith kembali tersenyum pada Ivan. Ivan hanya mengangguk malu, mimpi apa dia semalam?
"Ah! Bener deh, zak! Kita harus ikutin mere-"
"Ikutin siapa, Kirana-san?" Sakura-sensei yang habis kesabarannya menjewer keras seorang murid asal Indonesia. Seorang yang udik, norak, dan suka buat onar, tapi anehnya populer, yang sekarang takdirnya
adalah berdiri satu kaki di lorong kelas. Haah... Bahkan di sekolah internasional pun hukumannya seperti ini~ (Kirana*Killing author*)
'Malon sialan, kenapa dia gak ingetin gue tadi! Tapi, apa yang direncanakan gadis itu? Pokoknya jangan sampai lengah.. Merepotkan saja' (kalo repot ngapain ngurusin masalah orang, bego *killed*)
Pojok story:
Arthur : (Meluk kaki) hxhdhbdh.. *gumam gak jelas*
Alfred : A-Arthur.. Kamu kenapa? (sedikit takut)
Arthur : Jangan pernah dekati Edith, Alfred. Jangan pernah..
Alfred : ???
TBC?
Fuaahh... Akhirnya setelah lama hanya bisa jadi reader ke upload juga lanjutan fanfic yang makin aneh ini.. Tapi status [Hiatus] tak dapatku lepas.. maafkan!
Terima kasih pada para pembaca yang masih mau setia baca lanjutan cerita absurd ini yang akhirnya semakin absurd juga.. T_T
Semoga fic ini dapat menghibur kalian dan semoga cepat selesai.. Jadi bisa lanjutin yang sebelah..
Jangan lupa tulis REVIEW kalian, ya!
"Karena setiap review-an kalian akan sangat berarti bagi sang author" -Salam Heta!-
