f I Love You Too (REMAKE)

Written by : Rieyo / Rie Nakamaru

Remake by : The Silmarill2196

Pair : Lee Jeno x Hwang Renjun

This story is belong to Rie Nakamaru and This story I dedicated to myself.

.

.

.

Chapter II

DATE

Pukul 7 hanya tinggal 15 menit lagi, tapi aku sama sekali belum memeprsiapkan diri. Aku masih menggunakan tshirt dan celana pendekku. Aku berbaring di sofa di depan televisi, memainkan remote TV memindahkan channel, sementara pikiranku tidak disana. Aku jelas tidak lupa dengan janjiku pada Renjun beberapa hari yang lalu tentang menonton (kencan) kami malam ini, tapi masalahnya mendadak aku seperti disadarkan. Aku seolah menolak untuk pergi, mengutuki diriku sendiri kenapa aku membuat janji berkencan dengan seorang laki-laki di malam mingg? Apakah aku benar-benar terlihat tertekan karena aku terlalu lama jomblo? Apa aku semenyedihkan ituuntuk keluar di malam minggu dengan seorang lelaki walaupun secara sadar aku tahu bahwa Renjun bukanlah lelaki biasa? Dia adalah lelaki yang sudah aku akui sebagai kekasihku sendiri. Ini gila, tapi kenapa aku baru menyadarinya? Lalu, apa yang sudah kulakukan di kampus kemarin?

"Aish!" aku melemparkan remote tv keatas bantal besar dibawah. Aku kemudian mengambil bantal yang menyangga kepalaku dan menutupkannya ke wajahku. Aku bingung diantara ingin dan tidak ingin pergi.

"Ada apa denganmu?!" sebuah bantal terlempar ke wajahku. Aku cepat menyingkirkannya dan melihat senyum meledek dari Yoojin Noona.

"Apa-apaan itu Noona!" gerutuku sambil membetulkan posisi dudukku.

"Aku perhatikan, kau sedang bingung dari tadi," Ujar Yoojin Noona sambil tersenyum lucu. Dia mengambil remote tv yang kulempar, lalu mulai menggati-ganti channel di televisi.

"Noona, kau tidak pergi kemana-mana?" tanyaku, tak menggubris ucapannya barusan.

"Tidak," jawabnya tanpa melepas pandangannya dari televisi.

"Tidak pergi berkencan dengan Seongwoon Hyung?"

"Seongwoon dan teman-teman kantorku akan datang kemari, kita akan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan kenaikan jabatan Seongwoon. Kau tidak kemana-manakan?"

Yoojin Noona akhirnya menatapku.

"Waah.. akan ramai sekali rumah ini..." komentarku

"Jangan pergi kemana-mana, kau diam saja dirumah dan ikut pesta ini" Yoojin Noona tersenyum manis sekali dan berusaha untuk membujukku – tapi aku cepat tersenyum kecut. Aku tahu dia punya maksud tertentu.

"Noona ingin aku mengikuti pesta agar ada orang yang bisa kau perintah," Cetusku.

Senyum Yoojin Noona terlihat lebih malu

"Setidaknya kau ikut makan-makan dan senang-senang, Jeno-aah~"

Aku menghela nafas dan terpaku begitu melihat jarum panjang jam dinding yang terpasang ditembok atas belakang televisi, sudah menunjukan angka 6. Pukul 7 lewat 30 menit. Aku sudah setengah jam terlambat dai waktu yang ku janjikan dengan Renjun. Dadaku berdebar kencang, aku makin tak karuan.

Apa aku lebih baik benar-benar tak pergi dan menjebak diriku bersama teman-teman kantor Yoojin Noona...lagi? sudah beberapa bulan ini malam mingguku hanya dirumah. Kadang mengobrol dengan Seongwoon Hyung atau teman-teman Yoojin Noona yang datang kerumah, bermain komputer sendiri dikamar, atau sekedar hang-out bersama teman-teman tim basket ku.

Tidak ada kencan. Belum.

Dan sekarang kesempatan itu baru datang lagi walaupun bersama Renjun – yang notabene adalah seorang lelaki. Astaga, kenapa aku menjadi sangat rumit seperti ini? Padahal minggu yang lalu sendiri yang menyerahkan diri pada Renjun untuk mencoba menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Akupun berdiri dari dudukku dan melempar bantal ke atas sofa. Yoojin Noona memandangku, bingung.

"Aku ada acara penting, Noona," Ucapku

"Mwo? Kau kan tidak punya kekasih, Lee Jeno?" Sahut Yoojin Noona dengan kejam.

"Memangnya jika ada acara penting, harus selalu dikaitkan dengan kekasih?" kataku.

"Lalu kau pergi dengan siapa? Aigoo Jeno-ah, kau harus berhenti bermain dengan anak-anak klub basketmu dimalam minggu. Bisa-bisa kau tidak tergoda dengan perempuan, kau bisa jadi seorang Gay!" katanya tiba-tiba menasehatiku. Aku agak tidak memperdulikannya meski kata-kata 'gay' cukup untuk menusuk hatiku.

"Aku masih muda, Noona.. Jalan hidupku masih panjang. Kapan-kapan aku akan mencari wanita untuk kujadikan kekasih." sahutku.

Dengan acuhnya aku berlalau meninggalkan ruang tengah menuju kamarku di lantai 2. Aku tak mau memperpanjang obrolan, sudah tak ada waktu.

.

.

.

Aku cepat-cepat mencari pakain yang enak untukku pakai malam ini, setelah bebrapa saat, aku mengecek ponselku sebentar. Ada sekitar 5 panggilan tak terjawab dan 3 pesan singkat, semunya dari Hwang Renjun yang menanyakan apakah kami jadi pergi. Sengaja aku tak membalasnya dan lebih memilih untuk bersiap-siap. Baru saja aku hendak memakai jaketku, dan merapikan sedikit rambut depanku, suara Yoojin Noona terdengar memanggilku dari bawah. Dengan menggerutu aku menyambar kunci motor dan dompetku lalu segara turun.

"Wae Noonaaa~aku sedang buru-bu– " kalimatku terhenti sendiri begitu aku melihat Yoojin Noona sedang bersama dengan seseorang di ruang tengah.

Hwang Renjun?

"Ada seseorang yang mecarimu" sahut Yoojin Noona yang tak perduli dengan keterkejutanku. Dia malah tersenyum aneh.

"O-oh Renjun-ah, mianhae.. tadi aku.."

"Gwenchana, kau sudah siap? Kajja!" potong Renjun sambil tersenyum "Noona, kita pergi." Kata Renjun pula pada Yoojin Noona.

"Geurae~ Jangan pulang terlalu malam. Nanti datang lah lagi kesini. Akan ada pesta barbeque dan kupastikan acaranya hingga larut malam," sahut Yoojin Noona.

"Jangan! Kita harus pulang larut malam. Yoojin Noona hanya membutuhkan orang untuk diperintah ini-itu," aku menyambar tangan Renjun dan menariknya agar cepat- cepat pergi dari hadapan Yoojin Noona.

"Yyaa Lee Jeno!" jawab Yoojin Noona kesal. Aku hanya mencibirnya dan Renjun malah tertawa dan cepat membungkuk sopan pada Yoojin Noona.

"Kau membawa mobilmu?" aku tersadar begitu aku melihat sebuah mobil berwarna hitam terparkir didepan pagar rumahku.

"Eoh. Aku tak punya motor."

"Jadi, kau mau naik motorku atau—"

"Kau bisa mengendarai mobil?" potong Renjun.

"Eo – eoh .."

"Kita pakai mobilku." Ucap Renjun sambil melemparkan kunci mobilnya padak. Aku yang masih agak tercengang, bisa menangkap kunci mobil yang Renjun lemparakan kepadaku. Akupun terpaksa kembali lagi kedalam rumah untuk menyimpan kembali kunci motorku.

"Kau dijemput oleh seorang pria manis dimalam minggu. Apakah dia pacarmu Lee Jeno?" Tanya Yoojin Noona mengagetkanku.

"Kenapa Noona berkata seperti itu?" Tanyaku sedikit kaget karena Yoojin Noona menanyakan hal itu.

"Anniya, dia hanya terlalu manis untuk seukuran anggota klub basket." Ucapnya.

Aku tidak menghiraukan pertanyaan nya dan malah menarik nafasku sebelum membuka pintu keluar, lalu berbalik sebentar untuk sekedar memberikan senyum manis saja pada kakak sepupuku.

.

.

.

"Mianhaeyo, Jeno-ah.. Aku datang ke dengan tiba-tiba kerumahmu,"

Renjun membuka percakapan, begitu aku menjalankan mobil keluar dari kompleks perumahan tempat tinggalku. Entah rasanya sudah berapa kali Renjun mengtakan maaf padaku sejak kami memulai hubungan kami. Rasanya semua kalimat yang ingin dia ucapkan selalu diawali dengan kata 'Maaf'.

"Anniya, tenang saja Renjun-ah. Ah, kenapa kau bisa tahu alamat rumahku?" sahutku, aku memang cukup terkejut melihatnya bisa berada di rumahku, karena sebelumnya aku tak pernah mnegajak Renjun ke rumahku.

"Itu.. aku minta maaf Jeno-ah, aku sudah lama tahu alamat rumahmu."

Aku menoleh pada Renjun sekilas sebelum kembali terfokus pada jalan.

"Maksudmu..?"

"Aku pernah mengikutimu pulang sampai rumahmu. Hanya sekali tapi aku masih ingat" Jelas Renjun cepat.

Aku terpana dalam hati. Gila! Renjun bahkan pernah menjadi Stalkerku? Aku bahkan tak menyangka ada seseorang (tepatnya seorang lelaki) yang memendam perasaaan padaku seperti ini.

"Kau..marah padaku?" Tanya Renjun setelah beberapa saat aku belum berkomentar

"Eoh, anniya." Aku melihat padanya sebentar sambil tersenyum

Dan aku kehilangan kata lain. Aku kembali berpikir, 'Ini nyata Jeno-ah'. Tadi saja aku sudah dihadapkan pada pertanyaan penuh prasangka dari kakak sepupuku, meski terkesan bercanda dan tidak penuh keyakinan – namun tetap saja, suatu hari pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan semakin banyak menghampiriku. Bukan saja yang bertanya, mungkin akan menjadi gunjingan. Apa aku siap?

Ketika mobil melewati sebuah jalanan yang cukup ramai dan banyak kendaraan yang terparkir dipinggirannya, aku ikut menepikan mobil milik Renjun disana.

"Kenapa kita berhenti disini? Dimana kita akan menonton film?" tanya Renjun bingung, ia melihat kesekeliling dan jelas-jelas kita masih jauh dari salah satu bioskop yang akan kami datangi.

"Kita mkan dulu" kataku singkat.

"Eoh? Bukannya kita akan menonton telebih dahulu baru stelah itu kita makan?"

"Ahh shirreo. Aku ingin makan terlebih dulu. Seafood disini sangat lezat, Renjun-ah"

"Lalu, jam berapa kita akan menonton?

"Bisa jam berapa sajakan? Midnight juga aku tidak masalah" Jawabku santai.

"Midnight? Maldo andwae, Jeno-ah. Aku harus pulang sebelum jam 11 malam"

Aku menghentikan tanganku yang baru akan membuka pintu mobil, lalu memandang ke arahnya.

"Jadi kau tak bisa menemaniku sepanjang malam?" Renjun menggelengkan kepalanya pelan.

"Kenapa?" Aku bertanya lagi, sedikit menekan.

"Aku memang tak bisa – "

"Jika kau tak bisa menemaniku sepanjang malam, lalu kenapa kau dengan mudahnya menyatakan perasaanmu kepadaku?! Kenapa kau dnegan mudanhnya mengatakan kau menyukaiku? Kau belum tahu bagaimana aku. Hanya karena kau pernah sekali membuntutiku pulang, itu bukan berarti kau tahu banyak tentangku" potongku tiba-tiba panjang lebar. Entah kenapa pikiranku kembali kalut seperti beberapa saat lalu. Aku lupa maksudku sendiri menerima perasaan Renjun dan bersedia menjadi kekasihnya. Ok, sebut aku labil atau apapun. Tapi ini tidak semudah yang kita lihat, kita ucapkan dan kita bayangkan. Perasaanku terombang-ambing. Renjun memandangku, tampak shock.

"Wae? Kau berubah pikiran? Aku tak sebaik kau pikirkan bukan? Aku tidak sama dengan lelaki lain yang pernah menjadi kekasihmu, yang bisa memahami pikiran dan perasaanmu. Aku bisa memahami perasaan wanita, dan bagiku kau yang sekarang ini sedang rewel, aku tak bisa mentolelirnya. Lelaki tak sepantasnya rumit sepertimu." Mulutku seperti meracau, mengeluarkan unek-unek dalam benakku dengan sendirinya. Ini adalah kalimat yang seharusnya tidak kuucapkan di depan Renjun.

Benar, kami adalah sepasang laki-laki. Kami sudah seharusnya menjadi mahluk yang simple dan tidak ambil pusing dengan hal apapun, tapi lelakipun memliki perasaan. Dan sedetik kemudian aku baru tersadar, aku mungkin menyinggung perasaan Renjun.

Sial!

"Aku minta maaf. Baiklah kita makan saja lebih dulu" Kata Renjun akhirnya dengan suara agak pelan. Dia mengalah. Dia pasti masih shock, aku jadi tak enak. Tapi aku gengsi untuk mnearik kata-kataku.

"Aku tak mengerti padamu" cetusku lagi. Renjun berhenti untuk membuak pintu setelah meleoas Safe-belt nya.

"Apa?"

"Kenapa kau menyukaiku?"

"Aku juga tak mengerti.."

"hah?"

"Kenapa kau mau menerima perasaanku dan mau menjadi kekasihku?"

Sial! Sial!

Renjun memandangku langsung di mata dengan pertanyaanya yang menohokku. Sialan!

Aku bermaksud membuatnya sulit tapi malah aku yang dipersulit olehnya? Tidak. Sebenarnya aku sendiri yang membuat diriku sendiri dalam kesulitan. Bodoh!

"Jika dari awal kau sudah merasa ragu dan terpaksa, kenapa kau melanjutkan hubungan ini? Kenapa seolah-olah kau memberikanku harapan, hm?" Renjun berbicara lagi.

"Hubungan ini baru berjalan seminggu dan malam ini adalah kencan pertama kita, jika kau baru terpikirkan bahwa hal yang kita lakukan adalah kesalahan dan kau sebenarnya tidak menginginkannya, sebaiknya kita sudahi saja hubungan ini."

Kami terus saling memandang pada beberapa saat tertentu. Aku kehilangan kata-kata diotakku. Sungguh. Dan aku baru menyadarinya sekarang. Betapa dia sangat tampan sehingga dia terlihat cantik. Rambut halusnya yang selalu rapi, tampak jatuh menutupi sebagian keningnya.

Dia memakai pakaian kasual yang tak pernak kulihat ketika dikampus. Dia memakai t-shirt abu dengan jaket baseball yang terlihat menenggelamkan tubuh mungilnya. Sangat menggemaskan. Ini adalah gaya darinya yang tak pernah aku tahu. Selama dikampus, aku hanya melihat dia memakai kemeja polos. Dan wangi seperti bayi itu menghampiri hidungku lagi lalu menggodaku – menenangkanku. Hingga sebuah pikiran telintas dipikiranku...

Aku tidak ingin kehilangan Renjun. Belum..

"Jangan berbicara sembarangan," aku bergumam dan mengalihkan pandanganku dari wajah manisnya.

"Aku tak berbicara sembarangan. Aku serius! Aku tak mau memaksa!"

Aku tersadar. Sepertinya ini adalah kali pertama Renjun meninggikan suaranya ketika berbicara denganku. Sejak dulu, Hwang Renjun yang kukenal dan kulihat tidak pernah meninggikan suaranya ketika berbicara dengan siapapun itu – sekalipun dia sedang marah. Entah kenapa, mendengar dia meninggikan suaranya ketika berbicara – apalagi denganku, malah membuatku tak nyaman. Itu artinya dia sedang pada kondisi diatas marah. Dan aku merasa aku tidak di specialkan olehnya. Ayolah, baru seminggu semua ini dimulai dan malam ini adalah kenan pertama kami. Ada apa denganku?!

"Kau tidak pernah memaksaku. Cukup! Aku seperti ini bukan berarti aku ingin mengakhiri hubungan kita. Aku hanya masih merasa bingung dan hilang arah. Aku tidak pernah memiliki seorang kekasih pria sebelumnya.." sahutku akhirnya, penuh elakkan. Renjun menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya di kursi jok mobil

"Aku tahu jika kau belum per – "

"Sudahlah!" Potongku sambil mengacak rambutku dan membenturkan kepalaku ke sandaran kursi. Aku menyimpan lengan diatas mataku. Astaga! Kepalaku mendadak pusing.

"Maafkan aku Jen – "

Renjun kembali mencoba minta maaf. Suaranya sudah kembali menurun dan tidak seperti sedang mempertahankan diri. Kali ini aku mendengar suara Renjun ku. Renjun ku? Sejak kapan aku jadi posesif padanya?

"Kau tak usah minta maaf terus!" sentakku lagi sambil memandangnya agak tajam.

"Lalu kau inginkan aku seperti apa?"

"Aku inginn kau untuk tidak berbicara sembarangan lagi. Aku tidak terpaksa, Ok?"

"Tapi yan terlihat adalah, kau tidak nyaman dengan semua ini, Jeno-ah. Kita baru memulai semua ini dalam waktu seminggu, sebelum harapanku semakin banyak padamu, kita bisa – "

"Memang apa yang kau harapkan dariku, eoh? Kau pikir suatu hari kita bisa menikah? Itu yang kau harapkan?" sergahku. Sinis lagi. Renjun menarik nafas, lalu mengusap wajahnya berusaha menenangkan diri. Dia mungkin tak ingin terpancing oleh emosiku yang tidak jelas. Tapi tiba-tiba dia tertawa pelan, sambil menutup bibirnya. Perlahan aku juga jadi memudarkan wajah masamku.

"Aku paham karena mungkin ini masih baru untukmu. Tapi sikapmu yang labil dan cepat berubah itu.. sangat membuatku kesal"

Aku terdiam saja. Renjun berhenti tertawa, tapi senyuman masih terulas dibibir tipisnya.

"Kau mengatakan kau menginginkannya, tapi kau bertingkah seperti tidak menginginkanya. Geurrae, karena kau mengatakan kau tidak mau mengakhiri hubungan kita, aku akan mencoba memahami kelakuan anehmu ini.."

"Aku straight, Renjun-ah." Sahutku akhirnya dengan nada datar.

"Jelas ini masih aneh dan aku tak bisa menerima hal ini begitu saja."

"Oke, yeah.. You WERE straight, Lee Jeno."

Dia menekankan nada were dikalimatnya. Itu berarti dulu aku straight dan sekarang sudah tidak lagi. Menyebalkan! Tapi aku tak dapat memungkirinya. Aku tak tahu bagaimana aku harus membantahnya, karena aku sendiri yang sudah mengiyakan. Itu akan seperti aku menjilati ludahku sendiri.

Renjun tiba-tiba bergerak ke arahku, setelah sebelumnya menyentuh rambut depanku. Aku cepat mengantisipasi dengan melihat padanya, dan agak memundurkan wajahku. Dia pasti mencoba mencuri kesempatan untuk menciumku seperti yang dilakukannya padaku tempo hari. Kami memang berada di dalam mobilnya yang tak akan terlihat oleh orang lain dari luar, tapi rasanya tidak boleh.. hanya saja...

"Aww!" Aku yang tanpa sadar barusan malah memejamkan kedua mataku, mendapatlan cubitan keras yang tak aku duga di pahaku. Aku membuka mata dan melihat wajah puas Renjun.

"Ada apa denganmu? Sakit, kau tahu?!" protesku, sambil mengusap-ngusap pahaku yang tadi Renjun cubit.

"Rasakan" Kata Renjun cuek, dan tertawa mengejek.

"Jadi, kita langsung menonton, atau makan terlebih dulu?" tanyanya pula. Suasana menegangkan tadi perlahan mencair. Dia bisa mengendalikan keadaan dimana tadi aku sedang berkata sinis dan tak menyenangkan padanya. Apa itu artinya dia bisa mengendalikanku juga? Bagaimana bisa?

"Kita menonton saja terlebih dahulu." Jawabku.

"Wae? Bukannya kau ingin kutemani sepanjang malam hingga pagi menjelang?"

"Kau sendiri yang mengatakan padaku kau harus pulang sebelum jam 11 malam."

"Aku pikir kau tak mau mengerti"

Aku menatapnya sebelum menyalakan mesin mobil. Dia sudah berusaha mengerti tentan aku yang masih labil dengan semua ini, kenapa aku tak mau mengerti tentang dirinya? Walaupun dia laki-laki juga sepertiku, walaupun aku ragu dengan apa yang sedang kucoba lakukan, walaupun aku masih takut membayangkan bagaimana reaksi orang begitu mengetahui semua hal ini, walaupun aku mungkin hanya memanfaatkan keberadaannya... Relationship is still a relashionship.

"Aku ingin menjadi kekasih yang baik. meskipun sperti ini, aku tidak pernah menyia-nyiakan siapapun yang sedang menjadi pasanganku." Kataku mantap. Renjun tersenyum.

"I Keep your words." Katanya pula.

Well..

.

.

.

Dibioskop bisa ditebak, dimalam minggu seperti ini jelas banyak sekali pasangan. Benerapa diantaranya berpegangan tangan. Tak ada yang salah dan tampak risih karena mereka pasangan wanita dan pria, dan itupun adalah hal yang ku lakukan bersama dengan keksahihku dulu – wanita tentu saja. Sedangkan sekarang, aku berdua dengan Renjun hanya seperti tak lebih dari sepasang teman – yang mungkin dimata orang-orang adalah dua orang lelaki muda dan tampan yang tidak mempunyai kekasih untuk diajak menonton film ke bioskop di malam minggu.

How pathetic.

"Kau sering menonton dengan mantan kekasihmu?" tanyaku begitu kami sedang duduk di depan studio, menunggu pintunya terbuka. Memang masih ada sekitar 30 menit lagi.

"Eum. Kau juga?"

"Eoh. Tapi jika aku menonton dengan teman-teman sesama lelaki, aku tidak pernah berdua. Pasti dengan beberapa orang."

Renjun menganggukan kepalanya.

"Kalau begitu, kau menonton film berdua saja dengan kekasihmu?"

"Geurreomnyo!"

"Jadi ini adalah pertama kalinya kau menonton berdua dengan teman priamu?"

"Cheongdabs!"

Renjun memandangku lekat..

"Apakah aku hanya teman bagimu?" Bisiknya tiba-tiba. Aku merasakan wajahku tiba-tiba mneghangat.

Disekeliling kami banyak sekali orang, dan aku berharap tak ada seorangpun yang mencuri dengar. Ah, aku nyaris lupa aku disini hanya berdua dengan seorang lelaki untuk menonton film. Justru karena lelaki itu bukan lelaki biasa, bukan sekedar temanku, tak seharusnya aku membandingkan dengan keadaan dulu.

"Kau... Siapa ya?" Goda ku.

Sebuah tonjokan kecil, Renjun lancarkan ke bahuku, dia tersenyum gemas. Aku membalas dengan mengacak rambut depannya yang halus. Kami jadi asik bercanda hingga pintu teater terbuka.

.

.

.

Jangan bertanya kapan terakhir kali aku pergi menonton dengan kekasihku ke bioskop. Sejka kuliahku memasuki tahun ke 3, aku mulai benar-benar tak memikirkan wanita. Aku putus dengan kekasih terakhirku secara baik-baik. karena dia memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar negeri dan kami memilih untuk putus, hubungan jarak jauh tidak terlalu meyakinkan. Jadilah sekarang aku seperti seorang amatir yang sperti baru pertama kali melakukan kencan di bioskop. Aku dan Renjun mendapat tempat yang sedikit mojok dibarisan cukup atas, dan masalahnya, dibelakang dan juga sebelahku semuanya adalah pasangan yang berdua-duaan. Aku merasa jengah, seharusnya kau memilih tempat paling depan saja, tanpa harus peduli dengan pasangan-pasangan yang mungkin berencana untuk berbuat mesum disana.

"Wae geurae, Jeno-ah?" Bisikan lembut Renjun menyentakkan aku yang masih melirikkan kepalaku kesana-kemar setelah lampu teater dimatikan karena film akan segera dimulai.

"huh? A – anniya." Jawabju, juga agak berbisik.

Tangan Renjun masih tersimpan diatas tanganku, hingga tak sadar aku merasa kaku sendiri karena tidak bisa menggerakkan tangan kiriku. Aku hanya memakai tangan kanan ku untuk minum dan makan. Beberapa menit film diputar, (kami memlihi film thriller, hingga nyari tidak ada adegan yang membuat tertawa.), suasana yang awalnya cukup hening disekitarku , mulai berulah. Pasangan disebelahku sedang asik berbisik-bisik dan mengeluarkan suara aneh. Begitu juga dengan pasangan yang ada dibelakangku. Jika saja aku sedang menonton dengan pasanganku (wanita) yang dulu, mungkin aku juga tidak akan menghiraukan keadaan sekitar dan malah akan sibuk dengan pasanganku. Tapi sekaranmg situasinya lain, aku tak tahu apakah ide bagus jika aku harus berbuat macam-macam pada Renjun. Kepalaku akupun menoleh padanya.

Dalam gelap, dengan sedikit cahaya dari screen, aku bisa melihat Renjun sedang meminum minumannya. Aku juga bisa melihat wajah tampanya (yang cenderung cantik) dari samping dengan agak jelas, bibirnya yang tipis, lekuk hidung bangirnya dan pipinya yang mulus. Aku menggerakkan tanganku yang berada dibawah tangannya, berpindah keatas. Perlahan aku menyusupkan jemariku adiantara jemarinya hingga jemari kami saling terkait. Dia bereaksi dengan melihat jemari kami yang bertautan. Samar, aku bisa melihat dia tersenyum, lalu mengembalikan pandangannya kearah screen. Aku makin mendekatkan duduk ku, menjadi lebih condong kesebelahnya, hingga hidungku dapat mencium aroma wangi khasnya yang seperti bayi. Wajahku perlahan agak menurun, hingga sejajar dengan lehernya, dan wangi itu semakin memabukkanku. Aku sedang menenangkan diri dengan memejamkan mata dan menghirup wangi dari tubuhnya, ketika tiba-tiba Renjun menoleh hingga hidungnya mengenai hidungku. Kami berpandangan beberapa detik dalam gelap.

"Kau mengantuk?" Tanya Renjun berbisik lagi, aku membenarkan duduk ku hingga kepalaku tak lagi sejajar dengannya.

"Anni.."

"Aku kira kau mengantuk.."

"Jika aku mengantuk, aku boleh tidur di pundak mu kan?" Tanya ku sok manis.

"Geuromnyeo.."

Tanpa banyak bertanya lagi aku cepat-cepat menyandarkan kepalaku di pundaknya, walaupun aku harus sedikit merendahkan duduk ku. Aku mendengar Renjun tertawa pelan.

"Jadi kau mengantuk?" Bisiknya

"Sedikit.." Elakku. Memamg sekedar alasan, karena aku ingin menyandarkan kepalaku di pundaknya, mencium wangi tubuhnya sepuasku. Namun memang aku tidak puas, setelah beberapa saat aku menyandarkan kepalaku di pundaknya, dan Renjun kembali fokus menonton, aku malah terus memandanginya. Memperhatikan lekuk rahangnya yang tampak manis dilihat di kegelapan seperti ini.

Aku makin mendekatkan wajahku, mengecupkan bibirku dirahangnya, didagunya, naik ke bibirnya - dan saat itu Renjun menoleh padaku. Mata kami bertemu beberapa detik, sebelum kemudia terpejam.

Aku menciumnya...

.. Di bibir.

To be Continue...

Randomchatterbox

Hallo..

Makasih udah mau ikutin fiksi ini.

Buat kalian yang udah mau baca.. Makasih banyak yaa udah mau mampir dan bacaa..

Buat kalian yang udah mau baca+Review+Favorit+Follow... sayang kalian banget (Cium satu satu).

Love

The Silmarill2196

(19 November 2017)