Tao mengedip-ngedip lucu, lalu berkacak pinggang dan sepasang matanya melirik kesebelas pemuda lain yang masih memberikan perhatiannya. Tak lama kemudian, ia tersenyum, lalu tertawa kecil hingga matanya yang sipit semakin sipit, lalu bertepuk tangan riang persis seperti anak kecil setelah sebelumnya menjentikkan jarinya, pertanda jika ia mendapat pencerahan tiba-tiba. Tingkahnya itu membuat pemuda-pemuda lainnya merasa gemas (terlebih Yifan), heran dan penasaran.
"Tapi sebelumnya, aku ingin salah satu dari mereka berenam dan salah satu dari kita berenam menunjuk wakil masing-masing, karena ini pertarungan satu lawan satu. Baru setelah itu, aku akan menjelaskan pertarungan macam apa yang cocok dengan syarat-syarat mainnya, bagaimana..?"
Semua saling melirik anggota gengnya masing-masing. Merautkan wajah bingung dan mengedikkan bahu selain mencibir sebelah bibirnya—masing-masing tidak mengerti akan apa yang sedang Tao sembunyikan dibalik wajah kekanakkannya yang tersenyum. Sebagian dari mereka hanya mendengus dan menatap datar Tao, lalu berdecak, dan Sehun yang tidak tahan dengan keheningan penuh aura kebingunganpun menunjuk Tao dengan muka penuh waspada.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan, panda?"
"Hem?" Tao menoleh sedikit kearah Sehun tanpa memamerkan bola matanya. Aura gelap mulai menguar dibalik tubuhnya, membuat Kyungsoo dan Yixing yang berjarak lumayan dekat dengan Tao harus menjaga jarak karena merasa seram. "apa maksudnya dari 'apa yang kau rencanakan, panda..?', tuan kekurangan pigmen? Ah-ha-ha-ha."
Sehun berdecak lirih, sejujurnya ia merasa takut dengan senyuman manis Tao yang berbanding terbalik dengan aura gelapnya, aura gelap yang seakan ingin mencekik lehernya karena berani memanggil si empunya dengan nama binatang (padahal memang nyatanya mempunyai kemiripan 11-12). Jadi, sebelum memang Tao akan benar-benar mencekik lehernya, ia hanya diam berjalan mundur ke belakang tubuh Joonmyun, mencari perlindungan secara tidak langsung.
Tao yang menjadi hal itu hanya mendengus mencemooh, begitu juga dengan orang-orang lain di sana, terutama Luhan yang langsung memberikan penilaian dengan jempol terbalik pada Sehun dengan seringai menyebalkan.
Dan tak lama kemudian, mengingat bahwa dirinya sedang ditunggu oleh kesebelas orang lain, kembali Tao menyingkirkan rasa sebalnya dengan berkata: "Aku tidak merencanakan apapun yang dituduhkan Sehun, sama sekali tidak! Aku hanya ingin memberikan saran pertarungan apa yang cocok dengan aturan tetek-bengek yang diberikan Yixing ge dan Kyungsoo ge, itu saja! Terserah kalian mau melakukannya atau tidak, aku tidak peduli!"
"Ah. Baiklah-baiklah," Yixing berusaha meredam emosi si bocah panda. "aku mendengarkan—kami semua mendengarkan. Tapi sebelumnya, seperti yang Tao inginkan, masing-masing dari kubu harus diwakili satu orang untuk bertarung. Jadi, siapa yang mau mencalonkan diri—"
"—Aku saja!" Xiumin menyela Yixing, membuat pemuda berlesung pipit itu mendengus kecil. Ia tidak suka jika ucapannya disela, tapi berhubung situasinya berbeda, maka ia diam dan memakluminya.
"Kau yakin, gege?" tanya Baekhyun.
Xiumin mengangguk dan ia bersidekap layaknya orang bijak. "Ya, aku mau! Toh, mungkin kalau aku yang mewakilkan kubu kita, kubu tetangga akan menunjuk si gigi pagar (Yifan: "ya-ya-ya. Terus saja kau hina gigi cantikku, bakpau berjalan!) sebagai wakilnya. Kami 'kan musuh bebuyutan dan musuh abadi satu sama lain!" mendengar itu, Baekhyun hanya pasrah.
Selain memang kenyataannya demikian, memang siapa lagi yang mau dan tahan adu bacot dengan Wu Yifan, si ketua kubu sebelah..? Anggap saja pertarungan kali ini hanyalah pertarungan antar ketua kubu seperti yang sudah-sudah, benaknya berkata.
Tapi, tidak demikian dengan kubu Yifan. Semua orang di kubu itu setuju dengan memilih sang ketua sebagai perwakilan untuk melawan Xiumin, kecuali Joonmyun.
Joonmyun, dibalik kacamatanya yang berkilat-kilat misterius, sepasang iris hitam kecoklatan itu berkilat-kilat licik, terutama ketika ia melihat sebuah peluang tak diduga yang terbuka lebar di hadapannya. Maka dari itu, sambil melirik Jongdae yang sedang bercengkrama dengan ponsel pintarnya, ia menyela ucapan Jongin yang hendak memberitahukan jika Yifan yang akan menjadi wakil di kubu mereka: "Hei, Yifan. Apa kau tidak bosan berkelahi dengan ketua kubu sebelah..?"
"Maksudmu..?" Yifan menoleh ke belakang. Begitu juga anak-anak lainnya. "Jangan bilang kalau kau ingin mencalonkan diri untuk melawan anak itu..?"
"Wah, kau hebat bisa memahami maksudku secepat itu! Tapi sayang sekali, tebakanmu salah, bung!"
"Jadi..?" tanya Jongin dan Sehun tidak sabaran. Mereka terlalu penasaran, kalau bukan Yifan yang melawannya, lantas siapa lagi..? mereka sendiri saja tidak mau, Joonmyun bilang kalau tebakan Yifan tentang dirinya yang mencalonkan diri adalah salah. Lalu..?
Belum sempat semua orang terhanyut dalam pra-duga, Joonmyun dengan santainya merangkul pundak Jongdae yang berjengit kaget. Dan belum sempat Jongdae mengomelinya karena menganggu kesibukannya bersama sang ponsel pintar, Joonmyun berkata dengan lantang sambil melirik jahil pada Xiumin:
"Bukan aku yang mewakili kubu ini untuk melawan kubu sebelah, tapi Jongdae!"
Jongdae melotot, semua melotot, termasuk Xiumin yang bahkan jika mereka berjarak dekat dengan pemuda manis itu, mereka akan mendengar jika ia terpekik juga. Yifan awalnya terkejut, tapi begitu ia berhasil melihat kilat-kilat penuh rencana tak terduga di keping kembar Joonmyun, pemuda tinggi menjulang tersebut bersedia mengikuti alur permainan sang ketua osis. Maka, menyeringailah pemuda tampan blasteran itu, lantas mengangguk kecil yang respon tersiratnya dimengerti sang ketua osis.
"Baiklah, aku setuju. Kalau begitu, yang melawan kubu sebelah bukan aku, tapi Kim Jongdae."
Ketika senja bersiul kecil sambil menggembala gumpalan awan-awan, ketika dedaunan melayang jatuh ke tanah karena disentil nakal angin malam yang sejuk, ketika matahari mengintip malu-malu di ujung langit oranye kemerahan, saat itulah sang hidup, sang waktu, dan sang dewi cinta saling berkonspirasi untuk menyatukan kedua insan yang saling jatuh cinta diam-diam.
.
.
The Battle of High School
.
Screenplays!ChenMin and!others
.
Akai Momo
.
I don't own anything, except storyline
.
T+
.
Yaoi/ BL/ Be eL/ Boys Love/ Alternative Universe!High School with much baby typo
.
No like, don't read!
.
Summary!::
Langit senja yang ramah. Lapangan halaman belakang sekolah. Dua geng terkenal di sekolah. Dua ketua geng yang sama-sama keras kepala dan sangat keras kepala. Satu solusi—solusi teramat-sangat-gila.
.
.
1] Halo. Panggil aku Akai atau Momo.
2] Lama tidak bersua, benar? Ah-ha-ha-ha. Maafkan aku, tapi aku menunggu mood untuk melanjutkan ff ini, dan sekaranglah saatnya.
3] Ngomong-ngomong, bolehkah aku meminta izin dari kalian untuk menambah satu chapter lagi? Plis. Supaya hints Chenmin-nya lebih greget. Plis. Boleh, ya? ;_;
4] Maafkan aku jika ada perubahan pendeskripsiannya, ya, kawan. Love you.
5] RnR for update soon, please!
.
.
Chapter 3 of 4 "Wait, What?!"
.
.
Butuh waktu limabelas menit lewat duapuluhenam detik untuk berdebat diantara mereka, terutama Jongdae yang melemparkan penolakan terus menerus disertai wajah dan gerak tubuh yang seolah ingin menerjang Joonmyun untuk mengigitnya. Seandainya kedua tangannya tidak dipiting Sehun dan Jongin, dan itu membuatnya semakin kesal. Joonmyun hanya dia dan bersidekap, menatapnya dengan pandangan menantang dan sirat mata: kamu-akan-berterima-kasih-padaku-nanti-Jongdae-ah.
Sementara Yifan hanya melongo idiot, mungkin merasa malu karena ulah bar-bar salah satu teman segengnya (terutama Jongdae yang menjerit histeris persis seperti perempuan yang ketakutan saat bertandang ke rumah hantu, ketika Joonmyun dengan seenak udel menjadikannya perwakilan lawan tanding), dan juga sangat jengkel. Ia tidak akan lupa, jika permasalahan rebutan penguasaan halaman belakang sekolah ini selesai, lelaki muda itu akan memberi Jongdae kultum bijak dan hukuman ampuh. Mungkin dengan menyuruh Jongdae memakai maid suit dengan stoking berjaring dan menari Troublemaker bersama Joonmyun akan membuat Jongdae jera, begitu pikirnya dengan wajah mesum yang kental.
Sisanya, Chanyeol, hanya tertawa terbahak-bahak dengan suara persis om-om haus belaian gadis remaja, membuat beberapa anggota geng sebelah menukikkan alis mereka dan berjalan mundur teratur, terutama Baekhyun. Salah satu lelaki berparas ayu itu berbisik, berkata bahwa suara tawa Chanyeol benar seperti om-om haus belaian gadis remaja, seperti yang dibayangkannya. Dan hanya dibalas gumaman setuju dari Luhan dan Minseok.
Yixing, Kyungsoo dan Tao hanya melihat dengan anteng, memilih untuk diam cantik, sampai kemudian setelah dibisiki wewejangan misterius dari sang ketua osis dan ketua gengnya, akhirnya Jongdae mengalah. Ia berjalan di samping Yifan dengan tidak bersemangat, menggerutu-gerutu, lalu menghembuskan nafas berat. "Baiklah," katanya sambil melirik tidak rela kearah belakang, kearah Joonmyun yang memamerkan kedua jempolnya diudara, memberi semangat dengan ekspresi seolah sedang menertawakan kesialannya diam-diam. "baiklah, aku akan menjadi perwakilan dari kubu ini."
Minseok berjengit, lalu matanya berkaca-kaca gelisah. Hendak mulutnya membuka dan menyuarakan bahwa ia ingin mengundurkan diri, ketika Luhan dengan tidak sabarnya tertawa melengking dan mendorong kasar dirinya ke depan, nyaris saja menubruk jatuh Jongdae jika Minseok tidak mengerem tubuhnya dengan baik.
Lelaki muda berpipi tembam lucu itu mendengus, mengabaikan tatapan acuh tak acuh yang dilayangkan Jongdae, yang dengan hebatnya nyaris membuatnya salah tingkah. Luhan brengsek!
"Akhirnya setelah Jongdae dengan memalukan dirinya sendiri berteriak nyaring menolak usulan sang ketua osis tercinta," akhirnya Luhan berhenti tertawa. "aku tidak tahu apa yang kalian wejangkan kepada dia," Luhan menunjuk Jongdae dengan jari telunjuk rampingnya. "tapi aku mencium aroma jika akan ada sesuatu yang menarik tak lama lagi. Serius."
"Sudah kuduga!" jerit Minseok tiba-tiba. "Aku tidak tahu apa itu, tapi aku yakin kalian membuat suatu rencana yang licik, benar? Dan mungkin korban empuknya adalah aku!" Minseok menunjuk dirinya sendiri dengan dramatis. "dan mungkin memang korban yang paling empuk adalah aku! Jadi, aku mengundurkan diri dan memilih Baekhyun melakukannya!"
"Kamu tidak bisa begitu!" Jongdae, Joonmyun, dan Baekhyun dengan serempak menolak. Cukup mengejutkan Minseok karena Jongdae tampaknya yang bersuara paling keras akan keputusan pengunduran dirinya.
Maka, begitu Jongdae mengetahui jika ia lepas kendali, ia berdeham untuk melenyapkan kegelisahannya dan berkata dengan nada bak motivator sejati. "Maksudku, kamu sudah mencalonkan diri bahkan sebelum waktunya, kami memaklumi itu. Tapi jika kamu mengundurkan diri bahkan tanpa kita persilahkan, kami tidak bisa memberi izin." Katanya semakin membuat Minseok gelisah.
"Hei, jika kamu mengundurkan diri, artinya kami menang dan kamu berhasil membuat malu dirimu sendiri, juga anak-anak gengmu. Kamu juga akan membuat kami meragukan pujian-pujian bahwa kamu adalah ketua geng yang pantas untuk dielu-elukan sementara kamu cukup pengecut dan gampang menyerah bahkan sebelum mulai berperang." Jongdae berusaha memancing emosi dan perhatian Minseok, dan ia pikir itu cukup berhasil ketika Minseok menunjukan raut wajah tidak suka atas ucapannya. "aku tidak peduli, selain aku hanya ingin menyelamatkan harga dirimu, Minseok. Aku baik, benar?"
"Baik untamu?! Panggil aku sunbae, bocah kotak!"
"Baiklah, sunbae montok."
"Kurang ajar! Kalau begitu," Minseok menghentakkan kakinya, melangkah maju dan mendekati Jongdae, hingga mereka hanya terpisah jarak dengan masing-masing satu langkah kaki kecil saja. Minseok mencondongkan tubuhnya dan berkacak pinggang, kini dahi mereka saling bercumbu mesra dan masing-masing deru nafas yang hangat dan wangi seolah menggoda wajah sang lawan pandang. "Aku tidak jadi mengundurkan diri, dan akan kupastikan bahwa kamu menyesal telah berkata kurang ajar, sekaligus menantangku."
Seringai kecil tercipta di wajah rupawan Jongdae, dan lelaki itu menyadari jika Minseok merona tipis. Oh, ada apa ini?, batinnya tergelitik melihat bahasa tubuh salah tingkah sang lawan. Ia tidak ingin berharap, namun tentu saja akan selalu berpikiran positif akan tanda-tanda tubuh lucu Minseok tersebut. Bolehkah?
Mereka tidak menyadari seringai licik Joonmyun dan Luhan di belakang sana, tidak menyadari raut wajah kejut milik Yifan-Kyungsoo-Yixing dan Tao, dan tidak menyadari juga ekspresi penuh penasaran yang dilukiskan oleh Sehun-Chanyeol-Baekhyun- juga Jongin. Bahkan mengabaikan langit jingga yang kini terdapat sapuan kuas imajiner berwarna ungu tua kehitaman, dengan sebuah bulan sabit menggantung indah diantara awan-awan senja berwarna kelabu muda.
Baik Jongdae maupun Minseok lebih tertarik memindai wajah lawan pandang masing-masing, mengingat bagaimana bentuk wajah rupawan yang berhasil membius mereka untuk selalu mencari keberadaannya di keramaian. Tidak lupa menyusuri tiap-tiap sesuatu yang melekat di permukaan wajah mereka, seperti sepasang mata penuh kilau-kilau menakjubkan yang berhasil menghipnotis satu sama lain setiap mencuri pandang, dan sebuah hidung indah yang membuat mereka tergelitik untuk mencubit pucuknya dengan gemas, dan juga sepasang pipi yang sepertinya ingin sekali untuk dinodai dengan kecupan-kecupan ringan penuh candu, hingga sebuah bibir yang selalu menggoda mereka untuk mencium penuh cinta barang sejenak. Atau paling tidak, mengucapkan kata-kata manis yang tulus, hingga membuat mereka merona dan merasa ingin terbang memetik bintang-bintang di angkasa untuk sang tercinta.
Jongdae dan Minseok mengakui diam-diam, jika apa yang mereka lihat saat ini membuat perut mereka tergelitik dan menghangat, bahkan terasa seperti ada letupan-letupan menggembirakan berwarna merah muda manis, merah delima indah dan merah keunguan cantik—warna khas untuk seseorang yang dijatuhkan dengan telak oleh sesuatu istimewa yang bernama cinta. Dan mereka menyukai sensasi ajaibnya. Sangat menyukainya.
Terlarut cukup lama, sampai akhirnya Tao berdeham meminta perhatian yang tidak diindahkan oleh Jongdae dan Minseok. Tapi lelaki jangkung itu acuh tak acuh, setelah pada akhirnya ia berkata dengan seringai kecil yang seksi begitu mengetahui bahwa reaksi Jongdae dan Minseok selanjutnya bahkan sesuai dengan dugaannya. Berjengit, menoleh kearahnya dengan raut wajah syok luar biasa, disertai rona merah menyala yang menjalar hingga ke sepasang telinga mereka.
Begitu juga dengan reaksi berlebihan Luhan dan Baekhyun yang menjerit histeris tidak percaya, Chanyeol yang lagi-lagi tertawa dengan suara awkward-nya, Yifan-Joonmyun-dan Jongin yang bersiul-siul nakal, Sehun-Kyungsoo dan Yixing yang hanya melotot lebar—sangat mengerikan terutama Kyungsoo.
.
.
.
"Baiklah, karena masing-masing kubu sudah memiliki perwakilan, akan aku beritahu pertarungan macam apa yang harus mereka lakukan, yaitu: pertarungan ala Oscar Fish, sebuah pertarungan yang dilakukan oleh sepasang ikan dengan menggunakan bibir masing-masing. Saling membentur-benturkan bibir hingga salah satu dari mereka terluka dan memutuskan untuk menyerah.
Atau lebih mudahnya, kalian berdua bertarung dengan menggunakan bibir alias harus berciuman, hingga salah satu dari kalian mengaku menyerah telak.
Bagaimana? Pertarungan yang berbeda, tidak menghabiskan banyak tenaga dan memiliki perbandingan kemampuan yang netral, benar..?"
"Tunggu—APA?!"
.
.
.
To Be Continued
