Copyright © 2015 by Happyeolyoo

All rights reserved

.

.

Warning! FF ini punya alur yang sangat panjang dan lambat, author sengaja membaginya dalam beberapa chapter. FF ini akan berakhir pada chap 4. Namun chapter yang dipublish bisa jadi merupakan alur lanjutan dari chapter sebelumnya (read: Chapter 1A or etc). Pastikan untuk siap membaca dengan sabar.

Are you ready for it?

Here we go ..

.

.

Sick Beat of Mr. Collector

Genre : Drama, Romance

Rate : T+

Pairing : HunHan as Maincast. With other Exo Members as well.

Chapter : 1C

Warning : Genderswitch. Miss typo(s). Alur Lambat

Disclaimers : Saya hanya meminjam nama dari mereka untuk menemukan inspirasi dan membaginya dalam bentuk karya sastra. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang sedikit melebihi ambang batas wajar. Hargai kerja keras author dengan mengklik tombol review dan tulis beberapa tanggapan. Muak dengan cast atau plot cerita? Just click a close button on your web browser, guys. Wanna chitchat? Click on PM button. Don't bash any cast or other, please.

Summary : Luhan tidak pernah membayangkan jika dirinya akan mendapat pernyataan cinta dari hoobaenya di kelas menari, Oh Sehun. Ingin menolak, tetapi nyatanya dia tidak sanggup. Oh Sehun ada di depannya, siap untuk menciumnya. Tetapi Luhan tidak bisa menerima hal itu begitu saja. Berhubungan dengan Oh Sehun membuatnya menjadi lebih ahli dalam membuat rahasia; Luhan terpaksa menyembunyikan hubungannya dengan Oh Sehun dari dua sahabat baiknya: Baekhyun dan Kyungsoo. Dua minggu setelahnya, Luhan dikejutkan oleh fakta baru yang dibawa oleh Kyungsoo. Suatu fakta yang luput dari perhatiannya, yang menyeret Luhan menuju lubang sakit hati hingga memaksanya untuk melakukan hal di luar batas—hanya untuk Oh Sehun.

BGM : Hurt by EXO

Ketika Sehun sudah menutup pintu kamar Luhan dan suara perbincangan empat orang di meja makan itu tidak terdengar lagi, Luhan segera menarik diri dari pelukan Sehun dan memberengut penuh protes. Sehun segera merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih lembut, terkekeh lagi menertawakan tingkah kekasihnya.

Perubahaan raut wajah serta mood yang cepat sekali, Luhan sampai kagum dengan Oh Sehun. Pemuda itu benar-benar berbakat menjadi seorang aktor.

"Kau marah?"

Luhan memutar bola mata ketika mendengarnya. "Tanyakan pada diri sendiri jika kau benar-benar ingin tahu, Oh Sehun," geramnya lantas berjalan ke arah ranjang. Tidak mau punya urusan dengan satu-satunya cowok yang berhasil membuatnya badmood. Seharusnya malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan; makan malam dengan sahabat-sahabatnya, wine, dan semua canda itu. Kalau saja cowok-cowok itu tidak datang, mungkin malam ini akan menjadi waktu berkualitas baginya—malam bagi cewek untuk berbincang.

Pikirnya, semua akan berjalan normal walau Luhan tahu Kai dan Chanyeol akan datang. Tetapi semuanya jadi kacau-balau setelah Kyungsoo mengatakan suatu kenyataan yang asing beginya. Lalu ditambah dengan kenyataan-kenyataan lain; terkesan begitu berantai hingga membuatnya pusing setengah mati.

Oh Sehun yang merupakan playboy sialan.

Oh Sehun yang punya kepribadian ganda.

Oh Sehun yang baru putus dengan pacar terakhirnya sekitar tiga minggu lalu.

Dan Oh Sehun yang baru dihubungi oleh pacar terakhirnya.

Sepertinya Luhan harus menuliskan fakta-fakta itu di buku diarinya agar dia bisa mendapat skor A plus setelah berhasil mengumpulkan tepat seratus fakta suatu hari nanti. Semua tentang Oh Sehun. Menyakitkan sekali. Luhan sampai tidak habis pikir. Apalagi ketika dia memikirkan suatu nama; Wendy. Dalam pikirannya, menari-nari sesosok perempuan cantik yang didefinisikannya sebagai Wendy; berambut panjang, wajah oval dengan mata bulat serta hidung mungil, bibir tipis menggemaskan, tubuh yang oke, dan ..,

Sekiranya Luhan terlalu cemburu. Well, dia ingin tahu apa hubungan Sehun dengan si Wendy itu sekarang. Namun pikirnya, dia memang berhak tahu karena statusnya adalah pacar sah Oh Sehun. Sedangkan Wendy, gadis itu menduduki status mantan kekasih dan levelnya jelas berbeda dengan Luhan. Pemikirannya yang seperti itu membuatnya urung untuk bertanya secara langsung ke Sehun.

Ya-ya. Luhan tidak akan bertanya. Lagi pula dia sudah malas berhadapan dengan Oh Sehun hari ini. Pemuda itu mengacuhkannya sepanjang makan malam. Sehun benar-benar tidak punya niat untuk memberi tahu sahabat-sahabatnya tentang hubungannya dengan Luhan.

"Keluar saja, Sehun," Luhan mengatakannya dengan nada enggan.

"Kau marah," itu pernyataan, dari Sehun. Nadanya masih biasa, tidak ada penekanan khusus yang menandakan simpatinya. "Ini sudah dua minggu sejak kita menjalin hubungan ini dan sekarang adalah kali pertama kau marah padaku," katanya saat melihat Luhan berhasil meraih ranjang. "Kau imut sekali," dia terkekeh tanpa beban.

"Ya, ya. Lucu sekali," Luhan menyibak selimut dan masuk ke dalamnya. Tidak mau peduli dengan apa yang ditertawakan oleh Sehun. Rasa enggan sudah meranggas habis selera humornya. "Cepat keluar atau rencanamu untuk terus menyembunyikan hubungan kita bisa terbongkar," tubuhnya terduduk di depan sandaran ranjang, kakinya tertekuk.

Sehun hanya tersenyum miring, pandangannya berputar dan memerhatikan keadaan kamar Luhan yang mungil namun cantik, didominasi oleh warna pink yang girly serta kekanakan. Boneka hello kitty dan pororo memenuhi almari besar di suatu sudut, sedangkan dindingnya dipenuhi stiker dengan bentuk yang serupa dengan boneka-boneka itu. Ada jam dinding serta beker, bentuknya sama-sama hello kitty. Permadani di bawah ranjang itu juga .., astaga, pororo. Semuanya serba hello kitty dan pororo, bahkan selimut dan sarung bantalnya. Ternyata pacarnya yang imut itu semacam maniak hello kitty dan pororo. Dia sudah memacari seorang infantil, menarik sekali.

Pandangan Sehun kembali jatuh pada raut Luhan yang tampak bete. Ingin menghampiri dan mencubit pipi tirus Luhan kuat-kuat tetapi akal sehatnya melarangnya keras. Di luar masih ada teman-temannya yang masih waras, bisa saja mereka tiba-tiba masuk saat dia melakukan hal itu pada Luhan. Dia terlalu malas menanggapi pertanyaan. "Apa kau tidak ingin bertanya tentang suatu hal kepadaku?" tanyanya sambil menenggelamkan telapaknya tangannya pada saku jeans.

Luhan membuang pandangan ketika bawah sadarnya meneriakkan kata playboy serta cowok berengsek, mengabaikan hal itu dan malah menatap hal lain agar perasaannya bisa dikendalikan selagi Sehun ada di ruangan ini. Jari-jarinya melengkung mencengkeram ujung selimutnya erat-erat. Dia serius tidak mau bicara lebih jauh dengan Sehun. "Silakan keluar."

Sehun mengedik seolah tidak peduli. "Aku tidak akan menjelaskan apa pun selagi kau tidak mau bertanya," tubuhnya berbalik dan meraih knop pintu. "Ucapan teman-temanku, kuharap kau tidak terlalu memikirkannya," katanya sebelum melewati pintu dan keluar dari sini.

Lalu Luhan menangis. Air mata mengalir tanpa alasan dari dua sudut matanya, perasaannya serasa diremas oleh tangan absurd yang menyebalkan. Dewi batin sekaligus bawah sadarnya sedang bertengkar hebat dengan menjeritkan nama Sehun; penuh pro-kontra yang membingungkan. Kontradiksi yang tidak bisa dimengerti oleh Luhan. Afeksinya mengatakan ya tetapi kesan proteksinya mengatakan tidak.

Fakta-fakta baru telah masuk dalam daftar memorinya, tersimpan dengan baik di sebuah laci pikiran di otaknya. Luhan bisa mengingat semua yang dikatakan Kyungsoo, Baekhyun, Kai, atau pun Chanyeol. Topik yang mereka bicarakan tentang Sehun tetap sama; mengarah pada kata playboy dan pada akhirnya malah mengaitkan salah satu mantan kekasih Sehun yang tiga minggu lalu diputuskannya.

Tiga minggu lalu. Itu berarti, seminggu setelah Sehun putus dengan si Wendy sialan itu, pemuda itu berhasil merayu Luhan dengan kalimat-kalimatnya. Tepat seminggu setelah Sehun resmi menjadi lajang, dia melirik Luhan dan melancarkan aksinya; menawarkan diri untuk mengantar Luhan pulang. Dan perbincangan tentang perasaan itu akhirnya berhasil menjadi awal hubungan mereka.

Luhan mengira jika hubungannya dengan Sehun akan berjalan seperti kisah yang lain. Tetapi nyatanya tidak. Pemuda itu malah memaksanya untuk melakukan backstreet. Terus memaksa dan memaksa hingga Luhan tidak bisa menolak lagi. Toh Luhan sudah jadi pacarnya. Kalau dia bilang tidak, rasa-rasanya itu bukan kemungkinan yang bagus.

Lagi pula, kenapa Sehun tidak ingin memberitahu semuanya?

Mungkin dia takut pacarnya yang lain tahu, dewi batinnya mengatakannya di tengah isak tangis sambil melukis senyuman penuh remeh yang mengejek Luhan. Ketakutan tiba-tiba menyerbu dirinya, menendang-nendang keoptimisannya untuk terus memeluk Sehun dalam batas teritorinya dengan status pacaran. Tetapi ..,

Tetapi ..,

Oh!

Luhan baru menyadari jika dia salah mencari cowok. Di awal hubungan mereka, Luhan memang sempat berangan-angan untuk mengecap kebahagiaan yang lebih dahsyat dengan Oh Sehun. Walau mereka pacaran backstreet, setiap mereka bertemu dalam sebuah janji, Sehun akan memanjakannya dengan perhatian yang memabukkan. Mula-mula Luhan tidak terlalu keberatan dengan status backstreetnya. Namun setelah hari ini, ketika dia mendapat perilaku acuh sepanjang waktu dari Oh Sehun, dia mulai merasakan tekanan.

Bagus. Kiranya Oh Sehun itu seorang pangeran berkuda putih dengan jubah kebanggan yang siap menggiring Luhan ke singgasananya. Lalu memberitahu semua orang bahwa Sehun sudah menemukan satu puteri yang akan menjadi pendampingnya, yaitu Xi Luhan yang luar biasa.

Luhan terlalu kekanakan. Bahkan mimpinya nyaris menyerupai sebuah dongeng yang sering diperagakan oleh barbie. Dongeng fantasi yang tidak pernah nyata. Barangkali suatu saat akan datang seorang peri dengan sayapnya, atau putri duyung. Entahlah. Buat saja semuanya menjadi lebih tidak masuk akal lagi.

Hubungannya dengan Sehun memang tidak masuk akal. Ditambah dengan fakta-fakta itu. Pasrahkan saja semuanya pada Tuhan. Luhan sudah tidak punya kekuatan untuk berpikir lebih keras. Rasa-rasanya semua sudah buntu. Dia terjebak dalam sebuah labirin perasaannya.

Luhan menarik selimutnya semakin ke atas, menyembunyikan seluruh tubuhnya lalu meringkuk seperti bayi. Bahunya menggigil akibat tangisnya yang tidak bisa ditahan, geramannya muncul lalu disusul degukan memalukan yang terdengar berkali-kali. Rasa lelah hinggap di sekujur tubuhnya, memaksanya untuk segera merilekskan diri agar bisa tertidur.

Dia berharap, besok setelah pesta perayaan hubungan Kyungsoo dan Kai, Sehun sudah tidak ada di apartemen ini.

OoOoO

Luhan merasakan pergerakan lain di sekitar tubuhnya, lalu sesuatu yang berat melintang di sekitar dadanya. Hembusan nafas berat jatuh di sekitar tengkuknya, lalu ada yang mengendus antusias di sana—gerakannya nyaris sama seperti anjing pudle milik sepupunya. Samar-samar gendang telinganya menangkap geraman halus, begitu membakar hasrat ingin tahunya ketika kulitnya merasakan sentuhan nyata dari ujung jari. Ada dua kaki panjang yang mengait-ngait kakinya di bawah, mencoba menyelip susah payah tetapi Luhan tidak mengizinkannya. Kelopak matanya masih terpejam sempurna karena dia menganggap jika itu mungkin saja Kyungsoo yang berniat untuk bergabung tidur dengannya. Tetapi saat tengkuknya merasakan hisapan nyata di suatu titik, kelembapan membakar yang diikuti oleh belaian dari benda lembek tidak bertulang, Luhan bergidik dan tergoda untuk membuka kelopak mata walau dia enggan melakukannya.

Kepalanya merunduk, pandangannya menemukan sepasang lengan yang dibalut kulit seputih susu melingkar tepat di depan dadanya. Dan pemilik lengan berkulit albino itu memang sedang menghisap lehernya! Menggelikan sekali. Luhan meneleng ringkas dan cepat, matanya membeliak menemukan wajah Sehun yang dipenuhi binar aneh terselip dalam tengkuknya. Bibir pemuda itu bergerak di atas kulit lehernya, menciptakan fraksi aneh yang membuatnya meradang.

"Sehun!" Luhan nyaris menjerit, tetapi dia berhasil menggigit bibir dan mencegahnya. Tubuhnya menggeliat tidak nyaman ketika hisapan Sehun di tengkuknya terasa semakin kuat dan tidak terbantahkan. Desir aneh mengalir menuju aliran darahnya, mendidih dan siap meledak dalam keinginan yang tidak pernah dirasakannya. Tangannya bergerak mencoba melepaskan diri, kungkungan Sehun terlalu kuat. Dia sampai tersenggal tidak berdaya. "Hentikan!" ujarnya penuh waspada.

Sehun tidak gentar dengan protes yang dilayangkan Luhan, hisapannya terasa semakin dalam untuk beberapa detik. Decap manis sukses dikecap oleh lidahnya, menimbulkan rasa puas dalam batin. Luhan terus memberontak hingga membuatnya merasa terganggu. Akhirnya dia memutuskan untuk melepaskan tengkuk Luhan sambil menjilat bibirnya yang tampak mengilat basah. Matanya yang sayu menatap wajah gelisah Luhan di depannya. "Hai, Sayang," cengirnya tanpa rasa bersalah.

Luhan melirik penuh antisipasi ke arah pintu kamarnya kendati jantungnya berdentum dengan tempo tidak beraturan. "D-dimana yang lain?"

"Mereka teler," Sehun meletakkan kepala di bantal dan tampak setengah mengantuk.

Luhan mendelik tidak terima. "Kau tidak bisa tidur di sini!" tubuhnya bangkit dan bertumpu pada sikunya yang tertekuk, berusaha menghindar dari Sehun yang juga setengah teler di samping tubuhnya.

Seharusnya malam ini Luhan bisa tidur tenang. Setelah dia menangis lama sekali akibat memikirkan hubungannya dengan Sehun, dia didera oleh rasa lelah dan kantuk luar biasa. Pikirnya, semua akan baik-baik saja saat dia terbangun di lain hari—dengan bubuhan sinar matahari yang hangat, suasana apartemennya yang hening, bau harum dari masakan Kyungsoo, dan pikiran yang lebih tenang. Ya. Dia berpikir jika dirinya akan mendapatkan kejutan semacam itu pada esok hari.

Bukan .., bukan malah dibangunkan oleh Oh Sehun yang setengah teler!

"Sehun, please," mohonnya sambil menggoyang pundak kiri Sehun. "Kau harus keluar dari kamarku. Kyungsoo bisa saja bangun dan memergoki kita," ujarnya takut-takut. Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika Kyungsoo benar-benar memergoki Sehun tidur di ranjangnya; mungkin gadis itu akan mengamuk. Luhan tidak punya keberanian untuk menceritakan hubungannya dengan Oh Sehun. Saat ini bukanlah waktu yang tepat. Beberapa waktu yang lalu dia masih mendengar kutukan Kyungsoo terhadap Sehun. Dan jika malam ini dia mengatakan yang sejujurnya, Kyungsoo akan kecewa.

"Sehun," Luhan berucap dengan nada berbisik penuh nada permohonan.

Sehun tidak menaruh peduli dengan protes yang dilontarkan oleh Luhan, tubuhnya tidak gentar kendati tangan mungil Luhan berusaha mengangkatnya dari ranjang ini.

"Jangan bikin masalah dan cepat keluar!" Luhan mencoba menendang Sehun, kakinya bergerak mendorong pemuda itu dengan sekuat tenaga. Sedikit demi sedikit, tubuh Sehun berhasil tergeser.

"Bukankah .., kau tidak ingin hubungan kita diketahui semua orang?" tanyanya saat Sehun berusaha mengacuhkannya. Dia menghela nafas panjang-panjang sebelum mengucapkan sesuatu. Kalimat yang lebih tegas. "Kalau kau terus di sini, kau akan menjadi pihak yang menghancurkan rencanamu sendiri!"

Tanpa diduga, Sehun tiba-tiba bangkit dan tangannya meraih dua pergelangan tangan Luhan, mencengkeramnya erat dengan salah satu telapak tangannya dan meletakkannya di atas kepala Luhan. Gadis itu menjerit protes, tetapi Sehun tampaknya tidak peduli lagi. Binar matanya tampak membara oleh kemarahan, seolah kesabarannya sudah habis karena kekeras kepalaan Luhan barusan. Sehun memutar posisi mereka hingga dia berada di atas Luhan, tampak begitu berkuasa dan siap untuk menjadi pengendali. Luhan mengeram marah demi melakukan pemberontakan, tetapi itu sia-sia.

"Diamlah selagi kau bisa diam, Luhan," Sehun mengatakannya dengan nada mengeram marah, menuai raut penuh ketakutan di wajah Luhan. "Aku tidak suka setiap kali kau mencoba protes tentang hubungan kita yang terlindung dari orang-orang lain."

Luhan menggigit bibir. "Apa maksudmu dengan terlindung?" matanya memanas dan perlahan-lahan pandangannya mengabur. Semua yang sudah ditampung dalam otaknya tentang Oh Sehun kembali berkelebat. Perasaan sedih menghujam dadanya. Air mata serasa akan tumpah dari matanya yang terasa panas.

"Kau ingin menjadi pahlawan dalam hubungan kita?" Luhan menyipitkan kelopak mata, tetapi air matanya tidak menetes. "Pantas kau ingin menjalani backstreet. Kau ingin kembali dengan mantan pacarmu?"

Bibir Luhan yang bergetar hebat sulit sekali untuk dikendalikan. Tetapi gadis itu mencoba untuk terus mengucapkan apa yang bercokol dalam otaknya. "Jika saja kau tidak datang ke acara makan malam ini, mustahil aku tahu tentangmu. Kau—kau yang merayuku seminggu setelah putus dengan pacar terakhirmu. Kau yang—"

"Lalu sekarang, kau ingin mengatakan jika kau menyesal?!" Sehun tidak bisa mengendalikan nada suaranya, menghasilkan suara bentakan yang cukup keras hingga mampu membuat Luhan menitikkan air mata. Pemuda itu melukis raut tidak terima, diiringi alur nafas berantakan yang sarat kemarahan. Dari tadi dia sudah diam demi mendengarkan Luhan, tetapi nyatanya itu terdengar begitu memuakkan.

Luhan terlalu bertele-tele. Kesimpulannya, Luhan ingin mengatakan jika dia sudah menyesal menjadi pacar Sehun.

Dan hal itu berakhir pada Luhan yang menangis dengan begitu memilukan. Perasaannya sebagai wanita memberi bermacam-macam persepsi. Pemikiran yang paling negatif memberikan suatu argumen menyakitkan. Bahwasana Sehun mungkin sudah bosan dengannya; karena itu Sehun mampu mengatakan hal yang sedemikian rupa kepadanya. Persis seperti yang dikatakan Kyungsoo beberapa jam lalu; Sehun akan segera meninggalkan ceweknya jika bajingan itu sudah merasa bosan. Akal sehat Luhan sudah bersembunyi dan meringkuk di belakang sofa, tidak mau membantu memberikan tanggapan cerdas untuk dilontarkan kepada Oh Sehun. Yang dilakukannya malah meneteskan air mata, terus menerus.

"Cari saja cewek lain untuk ditiduri," Luhan berhasil menemukan lidahnya dan malah mengatakan hal sedemikian rupa hingga membuat Sehun membeliak kaget. Kepala Luhan menggeleng, perasaan sakit datang menghujam jantung-perasaannya. Matanya terpejam erat-erat sebab merasa tidak sanggup menatap wajah Sehun lagi. "Sehun, please. Aku tidak mau sakit hati lagi seperti dulu," isaknya.

Luhan kedengaran lucu. Sehun sampai merasa lemas karena lelucon yang satu ini. Melihat Luhan yang menangis, sisi laki-lakinya membentak dirinya sendiri. Dia sudah berpengalaman membuat cewek menangis. Tetapi entah mengapa kali ini rasanya terlalu menyakitkan. Luhan tidak boleh menangis karena dirinya.

"Tinggalkan saja," Sehun berhasil melunakkan nada bicaranya, mengangkat sebelah tangannya dan menghapus jejak air mata memuakkan di pipi Luhan. Dia berdesis penuh rasa bersalah, mengeryit ketika mulutnya bisa melontarkan kalimat itu. "Aku yang sudah jatuh terlalu jauh. Sebelum kau lebih terluka karena perasaanku," dua manik mata cokelat Sehun yang sebening kristal es menatap tepat ke arah Luhan. Kendati pilihan itu berkecamuk, dia tidak bisa membiarkan Luhan terus merasa sakit hati. Dia sudah memutuskan suatu pilihan. Opsi yang mungkin bisa membuat Luhan mengecap kebahagian lain; kendati itu bukan darinya.

Sehun mengedip sekali lalu memandang manik Luhan lekat-lekat. "Kau bisa meninggalkan aku."

Dan Luhan semakin merengek setelah mendengar hal itu.

Sehun bangkit namun dia merebahkan diri tepat di sisi tubuh Luhan, memeluk gadis rapuh itu dan menyandarkannya di dada. Lengan berototnya melingkar di pundak Luhan yang bergetar, memeluk begitu protektif sarat kenyamanan nyata. "Semua salahku, Luhan. Aku yang memulainya duluan."

Kelopak mata Sehun terpejam ketika merasakan pukulan kepalan tangan Luhan di rusuknya. "Seperti kata Chanyeol dan Kai, aku berengsek," ujarnya tanpa kebohongan. "Aku tidak bisa jadi cowok baik seperti yang kau impikan. Aku terlalu jauh dari angan-anganmu tentang cowok baik-baik yang bisa mengajakmu kencan biasa."

Luhan menyerah pada protesnya dan akhirnya memilih untuk menerima pelukan hangat dari Sehun yang selalu diidamkannya. Wajahnya terbenam sempurna di dada bidang Sehun, menangis lagi setelah mendengar apa yang dikatakan Sehun padanya. Lidahnya terlalu kelu untuk berucap, karenanya Luhan hanya menangis sambil mencoba merapatkan tubuh mereka.

"Aku sudah siap untuk terluka," Sehun berucap lagi sambil mengelus punggung sempit Luhan dengan jemarinya, memberi manuver singkat yang menenangkan di sana. Perasaannya bisa merasakan ketenangan saat penciumannya menghirup harum shampo di rambut Luhan. Tangannya terus bergerak menyalurkan impuls yang bisa membuat perasaan Luhan menjadi lebih baik. "Kau bisa meninggalkan aku kapan pun kau mau," ujarnya dengan nada rendah. "Sekarang, tidurlah," nada suaranya merendah. "Sayang."

TBC

End of Chap 1

UNAS sudah selesai! /dancing inthe rain/ Doain semua hasilnya memuaskan, UNAS serta SNMPTNnya ya, teman-temaaan~~

Dan, akhirnya chap satu udah selesai /lap keringat/ dan .., dan .., aku udah punya ff baru lagi lhoo yang siap diposting~ /uhuhu/ HunHan as always, and KrisTao. Bakal diposting kalo ff yang ini udah selesai. Jadi, ditunggu yaaa ..

Chap dua yang penuh konflik udah ngintip nih. Langsung baca chap ini, review, dan aku bakal posting chap 2 secepatnyaa~~ /bow/

Xoxo.