Kutunggu Kau di Menara Biru, jam tiga sore. Hari Rabu kau bisa? Aku mengenakan terusan selutut berwarna putih, menunggumu di sisi mercusuar—Sakura Haruno.

Kutunggu Kau

Naruto © Masashi Kishimoto

SasuSaku FanFiction

Enjoy!

.

.

.

"Kenapa?"

Sialan, aku tertangkap basah. Dengan sikap waspada yang berlebihan kuletakkan gelas teh tawarku sambil membuang muka ke arah lain sewajar mungkin. Tenanglah, kau sudah melakukan hal seperti ini ribuan kali sebelumnya.

"Kau melihat hujan?" Gadis berambut biru panjang itu turut melihat apa yang baru saja kulihat sepersekian menit barusan, seolah ada hal yang menarik yang ia lewatkan. "Atau ada yang kau pikirkan?"

...

Dia bisa membaca pikiranku sepertinya.

"Tidak," kataku seraya mengambil pena sewajar mungkin dan mulai menulis. Berusaha menghiraukan usikan dari otakku yang terus saja ingin memandang ke arah jalanan.

"Kurasa kau memang memikirkan sesuatu," gumaman gadis di hadapanku ini sungguh membuat jantungku beberapa kali berhenti. Baru kali ini ada orang yang berhadapan denganku, tapi masih bisa sepeka ini.

Aku mengangkat kepalaku, menyembunyikan ekspresiku sudah biasa. Yang tersulit adalah menyembunyikan ekspresi mataku ini dengan baik. Aku tidak terbiasa apalagi kalau sampai ada yang sudah berhasil membacanya. Rasanya topengku retak.

"..." Sebenarnya aku bukan tipe lelaki yang banyak bicara, hanya dengan tatapan mata atau perkataan singkat saja otomatis orang-orang akan menyelesaikan pertanyaan mereka tentangku dengan persepsi mereka sendiri.

Nyatanya, tidak berlaku untuk yang satu ini.

.

.

.

"Oi, Teme! Ada pesan lagi dari cewek, tuh! Sakura Haruno. Katanya dia menemukan kartu namamu di bawah meja!"

Aku menghela napas dalam hati.

Pertama, ini hari kedua sejak aku mengganti nomor teleponku. Ini sudah yang kedua belas kalinya aku mengganti nomor.

Kedua, si Dobe berteriak seolah jarakku berada satu kilometer jauhnya dari posisinya. Padahal jelas-jelas dia berada tiga meter di sisi kanan.

Ketiga, aku malas mengurusi hal seperti ini. Jadi tidak kurespon saja teriakannya dan meneruskan menulis laporanku yang tiada pernah ada habisnya ini.

"He, boleh tidak kalau aku yang membalas pesan ini? Pura-pura pakai namamu gitu." Kudengar ia bertanya antusias sekaligus nekat. Kenapa nekat? Karena hal yang ia lakukan bisa berakibat buruk bagi semuanya.

Mari kita berandai sejenak.

Andai Naruto membalas pesan perempuan itu dan akhirnya mereka saling suka, bisa gawat juga akhirnya. Karena perempuan itu hanya tahu kalau yang membalas pesannya selama ini adalah aku, kan? Kalau sampai perempuan itu tahu kalau yang selama ini bertukar pesan dengannya adalah Naruto, apakah masih sama perasaannya?

Kuberi tahu, perempuan itu tidak bisa ditebak maunya apa. Trust me, aku sering mengalaminya.

Tapi berbeda dari pengandaianku, aku malah berkata, "Terserah," lalu bangkit menuju lemari pendingin. Kulirik sahabat dekatku dari jaman antah-berantah itu bersemangat mengetikkan sesuatu di layar ponsel.

Hah, biarlah. Bukan urusanku juga.

.

.

.

Sejak saat itu, Naruto-dobe tidak pernah lepas dari ponselku barang satu detikpun. Kecuali saat ia ingin ke toilet, kurebut paksa ponselku agar tidak tercemar oleh tangan baunya nanti.

Yang jadi masalah bukan ponselku yang tidak lepas dari tangannya, tapi lebih ke sikap Naruto-dobe akhir-akhir ini. Ia jadi aneh, tertawa-tawa, senyum-senyum tidak jelas, mengerutkan alis seolah ia bisa melihat bayangan perempuan itu di layar ponselku.

"Sinting," komentarku saat mendapatinya terkikik-kikik geli. Bukan masalah sebenarnya dia mau terkikik atau tertawa bergulingan, asal jangan mengganggu ketenanganku.

"Biarin," jawabnya cuek, mengetikkan sesuatu ke dalam ponsel dan tersenyum-senyum persis seperti orang gila.

Dalam hati, aku sedikit penasaran.

Siapa perempuan yang bisa membuat Naruto-dobe menjadi gila?

Sehebat itukah dia?

Lalu pertanyaan itu terjawab beberapa jam sesudahnya. Saat itu sahabat laknatku sudah pulang—kuusir paksa karena mengganggu—dan aku mulai fokus pada PR-ku yan masih banyak ini.

Drrrrt ... Drrrttt ...

Kulirik sekilas, ponselku bergetar dan berkedip beberapa kali. Tidak kupedulikan, aku menulis lagi.

Drrrt ... Drrrttt ...

Satu lagi pesan masuk. Kali ini tanganku gatal untuk membuka pesan itu. Apa dari perempuan yang telah membuat dobe gila?

Ada dua pesan, satu dari operator dan satu lagi dari kontak yang bernama Cherry. Nama yang aneh. Cherry? Buah ceri?

Maaf aku mengganggu lagi, tanganku gatal ingin mengetik pesan ini.

Kudengar kau punya banyak tugas akhir-akhir ini?

Jangan terlalu lelah dan memaksakan diri, ya Makan atau minumlah sesuatu yang hangat, jangan lupa berdoa. God Bless You.

Aku menaikkan alis. Tangaku tanpa sadar mengetikkan suatu balasan singkat setelah beberapa menit mematung di depan pesan tersebut.

Hmm. Kau juga.

Sebenarnya, apa yang terjadi denganku?

.

.

.

From: Cherry

Apa kau sudah bangun? Jangan lupa sarapan dan makan siang ya

.

.

To: Cherry

Hmm. Kau juga.

.

.

From: Cherry

Apa makanan kesukaanmu kalau boleh tahu?

.

.

To: Cherry

Tomat.

.

.

From: Cherry

Kutebak kau suka yang asam?

.

.

To: Cherry

Tahu dari mana?

.

.

From: Cherry

Hanya menebak Tomat yang paling enak, bukankah yang rasanya asam? :D

.

.

To: Cherry

Kalau kau, apa makanan kesukaanmu?

.

.

From: Cherry

Aku suka puding XD rasanya enaaaak sekali. Kurasa aku bisa mengabiskan sepuluh puding sendirian :9

Aku kurang suka tomat, tapi tidak benci juga. Aku pernah tersedak satu buah tomat besar dan nyaris sekarat karena itu. X_X

Ingin sekali aku menjedukkan kepalaku ke tembok berulang kali saat pesan terakhir ini kukirimkan. Sungguh, ini bukan pesan seorang Uchiha. Lagi pula, ini kali pertama aku menuliskan pertanyaan pada pesan singkat yang sama sekali tidak membahas hal yang penting.

Jangan salahkan aku, salahkan jemariku yang mengetik tanpa sadar dan tanpa kumau. Lagi pula pertanyaannya kadang memang membuatku tertarik membahasnya lebih lanjut.

Sebenarnya apa yang terjadi padaku?

Ah, aku tak tahu.

.

.

.

Lalu semuanya mengalir begitu saja tanpa kusadari. Dan ketika aku tahu, semuanya sudah tidak dapat dikendalikan lagi.

From: Cherry

Kutunggu Kau di Menara Biru, jam tiga sore. Hari Rabu kau bisa? Aku mengenakan terusan selutut berwarna putih, menunggumu di sisi mercusuar—Sakura Haruno.

Sialan, apa yang harus kulakukan sekarang?

Aku menerima pesan ini tiga menit sebelum si bodoh itu mengambil alih ponsel ini dari tanganku. Terlihat perubahan wajahnya dari ceria hingga bermetamorfosis menjadi suram ; sesuram-suramnya.

"Oi Temeeeeeeee ..." panggilnya putus asa-hopeless. Nada bicaranya terdengar muram.

Aku tidak menoleh, karena jika aku menoleh, apapun yang terlihat di wajahku—dan sedatar apapun wajah ini—sama sekali tidak akan menutupi apa-apa dari si bodoh yang sedikit pintar ini.

"Kau mau menemui Sakura Haruno untukku? Pleaaaseeeeee!" katanya berharap. "Dia ingin bertemu hari Rabu jam tiga sore di Menara Biru dan ..."

"Urusi saja masalahmu sendiri."

Lidah bodoh. Mulai sekarang aku mengadakan permusuhan dengan lidahku sendiri karena sudah bertindak tidak sesuai kehendakku.

"..."

Pukulannya di kepalaku sedetik yang lalu bahkan tidak terasa sebagai sesuatu yang menyakitkan. Yang menyakitkan justru di tempat yang lain—jauh dari pada itu.

Si bodoh dan lidah bodoh ini sama bodohnya denganku.

Bodoh, gadis itu mengajak bertemu karena aku juga meladeninya sebelumnya. Betapa bodohnya.

.

.

.

Menara Biru, jam lima lebih sepuluh menit. Terlambat dua jam sepuluh menit.

Aku sampai setelah berhasil terpeleset tiga kali, jatuh satu kali dan jungkir balik—hampir. Terima kasih untuk Hinata yang menyadarkanku—kuharap Dobe akan segera sadar perasaan gadis itu padanya.

Mataku menoleh ke arah mercusuar, mencari-cari secara acak, berharap ada seseorang di sana yang memang sedang menunggu. Dan benar saja.

Ada seorang gadis di sana, berambut merah muda, menggunakan jaket dan terusan putih. Wajahnya sendu menatap langit yang muram seperti dirinya.

Dan ada sahabat bodohku juga di sana, nampak bodoh dengan gestur tubuhnya yang aneh berusaha mengajak bicara gadis itu.

Apakah perempuan itu yang menungguku sejak dua jam sepuluh menit yang lalu?

Kenapa ia masih menunggu padahal hujan sudah turun?

Lalu kulihat gadis merah muda itu tersenyum, berkata sesuatu dan Dobe berlari kecil bersamanya menuju sebuah cafe di sisi barat.

"..."

"Dik, hujan sudah turun." Seseorang memanggilku dari belakang. Aku menoleh dan mendapati nelayan tua sedang membereskan jaringnya dan menatapku bingung. "Berteduhlah, sebentar lagi akan datang yang lebih deras lagi."

"..."

Aku mengangguk, tapi sama sekali tidak bergeming dari tempatku. Benar saja, beberapa detik setelahnya hujan turun lebih deras dan yang kutahu, aku berjalan menjauh dari Menara Biru itu.

Ini kali pertama kulihat seseorang mau menantiku begitu lama. Walau tanpa kepastian, tanpa jawaban, ia datang dan menunggu. Tidak seperti kebanyakan orang yang akan pergi ketika tidak ada jawaban maupun kepastian hingga sekian lama.

Kalau aku perempuan dan aku adalah dia, aku pasti akan menangis di sana, walau sebenarnya aku tidak terlalu yakin akan hal itu.

Ia menunggu di bawah hujan, seorang diri dan tanpa balasan yang jelas. Tapi ia hanya diam, menatap langit dengan tatapan yang sulit diartikan.

Kudongakkan kepalaku, hujan menghujami wajahku. Kungadahkan tanganku menampung tetesan air yang jatuh.

Mungkin, itu air matanya.

.

.

.

Sasuke's PoV—END

^ apa ini? DX

Pertama kali—kurasa—aku bikin Sasuke's PoV secara penuh :O ah, aneh banget deh DX

Fic ini sebenarnya sudah dari tahun lalu, sekitar bulan Agustus, hanya saja aku masih ragu dengan ceritanya. Lalu akhirnya di bulan agustus tahun ini aku buka dan baca lagi. Dengan sedikit edit kata dan typo, akhirnya kuberanikan diri mempublish-nya DX semoga suka ya~

Terima kasih untuk semua pembaca, reviewer, concriter dan semuanya yang sudah memberikan inspirasi dan kebahagiaan buatku aku harap kalian mau menuliskan kesan dan pesan di kotak review lagi ya! Aku tunggu :D

Review?

Karikazuka