Chapter 3

Naruto, dkk punya Masashi Kishimoto

Gaahina

Rated T

Romance and

family

Story pure for Jhino

Happy reading

Sepasang kaki kecil berlari setelah keluar dari burung besi raksasa ke arah Akita, salah satu bandara di Jepang.

"Hyung! Jhino hyuuuung!tunggu aku hyuuuung!", seru si bungsu Sabaku pada saudara kembarnya membuat langkah sang kakak terhenti seketika.

"Omo!Jhilo!", pekik Jhino dan langsung berlari ke arah dongsaengnya.

"Mianhe Jhilo...mianhe dongsaeng. Hyung lupa. Jongmal mianhe ne?", Jhino mengelus surai dongsengnya karena saking senang sampai di Jepang dia sempat melupakan adik, ayah dan juga ajusshinya.

"uhm.. gwaenchana hyung.", Jhiro tersenyum manis.

"Aigo! Ana-anak appa akur sekali." Goda Gaara sambil menggendong Jhiro dan Jhino.

"aish! Appa, kita tak pelnah beltengkal." Jhino cemberut, sedangkan Jhiro menyamankan kepalanya dibahu ayahnya yang kekar dan nyaman itu.

"hahahaha... arra-arra. Kalian memang jagoan kesayangan appa." Gaara mencium kedua surai anaknya.

"Gaara ayo kita ke dalam, disini dingin. Pasti keluargamu sudah lama menunggu." Ucap kiba.

"Ne.", jawab Gaara singkat.

Mereka pun masuk kedalam bandara dengan hati yang riang. Sudah 5 tahun mereka tak pernah menginjakkan kaki disana, terlebih sikembar yang merasa asing. Ya maklum saja, si kembar hanya lahir saja di Jepang kemudian mereka ikut sang ayah ke Korea.

"nee-san, bagaimana Gaara sekarang ya?, tanya Kankurou, kakak laki-laki Gaara.

"entahlah.. yang pasti dia berubah, kankuro." , jawab si sulung, Temari.

"ah! Itu dia! Itu Gaara, anata! Itu anak bungsu kita!", seru kakura, istri Sabaku No Rei sambil mencengkram lengan baju sang suami.

"iya sayang. Itu memang dia. Dia yang dulu berbeda dengan yang sekarang.", balas Rei, sambil mengusap-usap tangan istrinya.

Ya, Gaara yang sekarang berbeda dengan Gaara yang dulu. Gaara yang suka mabuk, perokok, rambut merah acak-acakan, penampilan seperti geng motor, susah diatur, cuek, dan malas bekerja ketika di kantor ayahnya, bahkan dia mentato dahinya dengan tulisan kanji "ai" hingga ayahnya berang dan memukulnya.

Tapi Gaara sekarang berbeda, berpenampilan, rapi, rambut merah yang pendek dan klimis belah pinggir sehingga memperlihatkan dia seorang eksekutif muda yang sangat tampan. Ditambah lagi lingkar hitam matanya, menunjukkan bahawa dia bekerja keras mengembangkan Sabaku corp di Korea. Yang paling mengesankan adalah dia menggendong sikembar yang sedang bergurau dengannya. Ya, Gaara sekarang sudah berubah dewasa dan menjadi ayah yang baik untuk kedua anaknya membuat orang tuanya, dan kedua kakaknya terharu. Bagi mereka ini pemandangan yang indah dimana Gaara begitu senang dan gembira bersama anak-anaknya.

"Gaara!", Rei memanggil anaknya.

"ah, itu harabeoji, halmeoni, ajusshi dan ajumma, sayang. Kaja, kita kesana." Ucap Gaara menurunkan sikembar.

"Gaara...kaa-san merindukanmu ..hiks..", kakura memeluk anaknya dengan isak tangis.

"aku juga merindukan kaa-san dan tou-san." Gaara membalas pelukan ibunya dan tersenyum kepada ayahnya yang mengelus kepala Gaara.

"ap-appaaa." Jhiro memanggil Gaara dengan manja.

"aigo! Appa lupa nak. Kemari chagi..perkenalkan diri kalian pada harabeoji, halmeoni, ajusshi dan ajumma nak." Ucap Gaara sambil mendorong lembut sikembar lebih dekat dengan keluarga besarnya, tapi sayangnya mereka langsung bersembunyi di belakang kaki sang appa.

"annyeonghaseyo...jeoneun Sabaku No Jhino imnida." Jhino membungkukkan badannya sebentar kemudian tersenyum tipis.

"an-annyeonghas-haseyo...je-jeoneun Sabaku No Jhiro im-imnida." Ucap Jhiro terbata-bata sambil membungkukkan badannya lalu menyembunyikan mukanya di kaki ayahnya. Perkenalan diri sikembar membuat semuanya orang tua dan kedua kakak Gaara tertegun.

"kyaaaa..." pekik sikembar tiba-tiba, karena tubuh Jhino dan jhiro diangkat oleh kakek dan pamannya.

"Halabeoji!" pekik Jhino kaget di susul pekikan Jhiro "Jusshi!". Namun mereka semua tertawa melihat tingkah laku sikembar yang lucu.

"sebaiknya kita pulang, ibu kiba sudah memasak makanan yang enak untuk kita." Ucap Temari sambil mencium pipi Jhiro membuat sang empu memerah lucu.

"benar, aku sangat merindukan masakan kaa-san. Ayo Gaara." Ajak Kiba yang sangat merindukan orang tuanya.

Seminggu kemudian

Perempuan rambut indigo duduk di teras kediaman Hyuuga, melihat tanaman bunga yang tumbuh bermekaran. Musim semi yang indah, seindah hatinya yang berbunga-bunga karena belahan jiwanya kembali. Ya, Gaara dan kedua anaknya sudah kembali dari Korea seminggu lalu, namun dia belum bisa menemui mereka karena mereka karena kondisinya lemah dan sakit-sakitan, akibat depresi yang ia alami, yaitu penyesalan yang teramat dalam begitu bodohnya dia meninggalkan suami dan anaknya hanya demi seorang Sasuke yang hanya ingin balas dendam dan mencintai hartanya.

Flashback on

" hiks..ke-kenapa kau lakukan ini, sasuke-kun?hiks..",air mata Hinata mengalir deras, hatinya sakit.

"hahahaha, aku hanya butuh hartamu Hinata sayang. Dari dulu aku tak pernah mencintaimu Hinata, aku mencintai Sakura, tapi sayangnya Sasori lebih dulu menikahinya. Oleh karena itu aku pura-pura mencintaimu untuk menghancurkan hidupmu.", sasuke menjawab dengan wajah datar.

"apa?kalau kau mencintai sakura, kenapa tidak kau rebut saja dia dari Sasori?kenapa justru aku yang kau hancurkan, sasuke?!" hinata mulai emosi.

"Gara-gara demi kau, Sakura mengalah, dia tahu kalau sahabatnya yang bodoh ini mencintaiku. Selain itu juga Sasori adalah sepupu Gaara. Itu sebabnya aku lebih mudah menghancurkan hubungan kau dan Gaara. Lagipula perusahaan Hyuuga mulai bangkrut, karena sebagian besar uang dan saham perusahaanmu sudah aku alihkan keperusahaanku dengan kontrak perjanjian kerjasama kita yang kau tanda tangani itu.", jelas Sasuke dengan seringai di sudut bibirnya yang menyeramkan.

"kau!kau brengsek Sasuke! Kau brengsek!" teriak Hinata.

Flashback off

Hinata menangis pilu mengingat semua yang telah terjadi sambil meremas baju di dadanya, begitu sakit yang ia rasakan. Kehilangan suami dan kedua anaknya, beruntung keluarga Sabaku menolong perusahaan keluarganya dari kebangkrutan, karena Sabaku No Rei masih mengganggap Hiashi Hyuuga sahabatnya dari kecil. Setelah mengetahui Sasuke menghianatinya, Hinata ke rumah keluarga Sabaku untuk meminta maaf pada suaminya tapi sayang semua terlambat karena Gaara dan kedua anaknya sudah tinggal di Korea karena kebodohan yang ia perbuat malah di tanggung oleh Gaara apalagi kedua anaknya yang baru lahir. Hinatapun menceritakan semuanya yang sebenarnya terjadi kepada Keluarga Sabaku dan mengatakan bahwa dia belum menyerahkan surat perceraian itu ke pengadilan. Hinata juga memohon agar mereka kembali, namun ditolak halus oleh mertuanya karena sudah terlanjur memberikan hukuman pada Gaara. Hingga jalan satu-satunya adalah menunggu mereka kembali sampai Gaara berubah dewasa dan baik.

Sebuah tangan membelai rambut hinata, membuat dirinya mendongak menatap orang itu, " Temari-nee..hiks", ucapnya masih menangis.

"aku menjengukmu hinata-chan. Kenapa kau menangis?" ucap temari sambil mengusap air mata Hinata dengan lembut.

"sakit temari...hiks...hatiku masih sakit...hiks... aku ingin bertemu...hiks..dengan suami dan anak-anakku nee-san...hiks.", hinata memeluk temari.

"Sabar Hinata... kau harus sembuh dulu. Kau harus pulih..dengarkan aku hinata." Temari memegang kedua bahu Hinata ,"kau harus kuat, jangan lemah. Kau hanya perlu menyembuhkan hatimu Hinata. Apa kau mau suami dan anak-anakmu melihat kamu seperti ini? Hm?", lanjut Temari dengan lembut di sambut gelengan kepala dari Hinata.

"good! Itu baru adik iparku yang cantik. Ohya, apa kau mau mendengarkan ceritaku tentang mereka, adik iparku?" goda Temari dan sekali lagi disambut dengan anggukan dari Hinata.

"baiklah, akan aku ceritakan tentang mereka, jadi dengarkan baik-baik." Ucap temari sambil membenarkan duduknya.

"Gaara sekarang berbeda dengan yang dulu lho. Dia lebih tampan dan dewasa, bahkan dia sangat nyaman dengan status 'ayah' dengan dua anak kembar identik itu. Ohya sikembar itu bernama Jhino dan Jhiro, hinata-chan.". mendengar dua nama itu Hinata langsung membulatkan mata.

"hahaha, wajahmu lucu Hinata, iya..iya aku tau nama Jhino dan Jhiro itu kan kau yang memberikannya dan Gaara mengabulkannya. Ponakanku mirip sekali dengan Gaara, rambutnya dan wajahnya, sedangkan mata mereka berwarna ungu pucat dan pipinya chubby seperti dirimu, Hinata. Mereka pintar sekali bahkan aku bilang mereka genius. Permainan piano Jhiro begitu mengesankan, sangat indah permainan pianonya. Sedangkan Jhino menjadi populer di sekolah karena jago karate, dan satu hal lagi mereka sekarang di bangku sekolah dasar padahal masih berumur 5 tahun.", temari mencerikan dengan semangat.

"Gaara-kun hebat, bisa merawat dan membesarkan mereka dengan sangat baik. Ak-aku sangat bahagia mendengarnya, nee-shan. Aku sekarang mulai bersemangat untuk menemui mereka nee-san. Akan secepatnya pulih.", hinata tersenyum bahagia dan mulai merasa bersemangat untuk hidup.

"tapi kau jangan berharap kalau sikembar akan memanggilmu dengan sebutan kaa-san, lho." Ucap Temari sukses membuat Hinata terpuruk.

Dalam hati Hinata berkata' aku memang tak pantas dipanggil kaa-san oleh anak-anakku sendiri. aku lah yang buang mereka, bahkan aku pernah sempat ingin membunuh mereka. Ibu macam apa aku ini?!'

"hei, hinata, jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu dong tentang anak-anakmu. Memang mereka memang tidak akan memanggilmu 'kaa-san' tapi ' eomma' karena setelahir mereka tinggal di Korea selama 5 tahun. hehehehe." temari terkekeh.

Mendengarkan hal itu Hinata menjadi lega," aku kira mereka benci padaku, nee-san."

"Ah..itu tak akan terjadi. Karena Gaara selalu menceritakan hal-hal yang baik tentangmu. Yang jelas Gaara sudah berubah menjadi lebih baik sekarang dan anak-anakmu juga baik. Ketika kau bertemu dengannya, kau akan bangga ada mereka hinata-chan." Jelas temari dengan senyum manisnya.

"iya nee-san, dan aku kan memulihkan hatiku secepatnya. Arigatou nee-san sudah mau menceritakan mereka padaku. Aku kini menjadi lebih semangat lagi." Kata Hinata dengan senyum yang mengembang dan wajah yang cerah.

" baiklah Hinata, aku rasa sampai disini dulu ya. Aku harap secepatnya pulih dan menemui ya Hinata.", kata Temari sambil menggenggam erat tangan Hinata dan dibelas anggukan kepala dan senyuman dari hinata.

TBC