Disclaimer : ya! saya! #duaghh
A/N : lagi bingung mo ngomong apa, cepet sembuh buat ffn aja deh..
Warning : AU, OC, semoga enggak OOC & typo. para chibi bertebaran :D (Ucapkan selamat tinggal sementara untuk pada bangkotan, di chapter ini banyakan chibi :3)
-Cute Little Brother & Sister-
Chapter III
Kembali ke hari baru, dan itu artinya, kehidupan di tempat penitipan anak milik Switzerland kembali ramai seperti biasa. Para kakak mengantarkan adik-adik mereka untuk menjalani kehidupan—sengsara dengan sedikit makanan—menyenangkannya disana. Dan bagi Norway dan Ice, ini akan menjadi hari pertama mereka tinggal disini. Sayang sekali Denmark tidak bisa mengantar mereka berdua dan hanya menitipkan amplop dengan sejumlah uang untuk Switzerland. Netherlands pun ketempuan sehari menjadi baby sitter sejak kemarin, meski ia sudah mengancam akan menyumpal mulut Denmark penuh dengan ganja saat ia pulang nanti.
Lagi-lagi Switzerland menyambut tamu-tamunya dengan tampang masam. '5 hari bersama bocah-bocah tolol penganggu Liech. Hmm… sabar Swiss, uang mereka banyak…'
"satu…dua…tiga… " Switzerland menghitung anak-anak yang berkeliaran kesana kemari. Pandangannya terpaku pada dua anak asing, ia tidak pernah melihat kedua anak itu sebelumnya.
"Siapa…."
"Titipan dari Denmark. Norway 8 tahun dan Iceland 5 tahun. " kata Netherlands memotong pertanyaan Switzerland seraya menyodorkan amplop yang dititipkan padanya kemarin. Switzerland menyambar amplop itu dan segera menghitung isinya. "Ok. Akan kutambah 2 kasur lagi." Ia kemudian mendengus 'tambah 2 anak lagi, huh.'
Para lelaki coretsetengahbayacoret muda itupun pergi kerja ke tempatnya masing-masing. Switzerland masih menatap uang di dalam amplop yang baru saja ia terima, sambil memperhatikan anak-anak yang masih lari-larian berkejaran satu sama lain. Sepertinya ada yang kurang…
"Mana anak tukang ngiler itu?" Tanya Switzerland pada anak-anak yang lewat dihadapannya.
Seorang anak menghentikan langkahnya, "America? A..aku tidak tahu, mungkin England telat membawanya kesini." Katanya sedikit terbata-bata.
"Siapa kau?" tanya Switzerland curiga.
"A..ku Canada…hiks…aku…Ca..Canada…" Canada sesengukan, menutupi setengah wajahnya dengan boneka Beruang yang selalu dibawanya. Kalau tidak salah, nama beruang itu Kumacchi.
Switzerland tidak mau ambil pusing. Yah, baguslah ia tidak perlu lagi membersihkan kasur America yang selalu basah—oleh ilernya, terkadang ompol juga—saat anak itu bangun, dan Indonesia juga tidak perlu bertengkar sampai jambak-jambakan rambut dengan saudaranya, Malaysia.
'BRAKK!'
"Swiss! Ini anak-anak! Titip seperti biasa!" seru England yang muncul dari balik pintu dengan…
4 anak.
"2 anak itu…."
"Nanti sore kujelaskan! Titip dulu, aku telaaaaaaaaaattt…Bye!" England langsung pergi begitu mengucapkan kata-kata terakhirnya.
'America dan Malaysia tetap ada, tambah 2 anak lagi… Mimpi buruk.' pikir Switzerland seraya memperhatikan dua anak titipan England yang lainnya. Apa England mengadopsi adik baru? Dasar orang kaya kurang kerjaan.
Satu anak lelaki dan satunya lagi perempuan. Yang perempuan manis sekali, matanya berwarna violet kebiruan dan ada pita berwarna putih di rambut pirangnya yang panjang, ia memakai gaun berwarna biru. Sedangkan yang laki-laki mempunyai warna mata violet teduh, wajahnya sedikit mirip dengan anak perempuan disampingnya—kemungkinan besar adik-kakak—hanya saja hidungnya sedikit lebih besar, ia memakai syal dan membawa-bawa pipa kran, entah untuk apa.
Российская Федерация /Russia (9 tahun)
Hobi : Berteman dan tersenyum :)
РэспублікаБеларусь/Belarus (7 tahun)
Hobi : Kakak
"Paman Swissss! Akuu kangeeennn!" seru America yang langsung menerjang Switzerland dan menempel di kaki kanannya.
Switzerland kaget dan menggerakkan kakinya dengan ganas, berusaha menyingkirkan America yang melekat seperti lem. "Heh! Lepass! Lepaaaasss!"
Oke, ini aneh.
1. Kenapa America tiba-tiba berubah alay seperti ini?
2. Dan kenapa wajah Malaysia terlihat sangat-amat-pucat-sekali?
"Kamu belum mati toh, Lay?" tanya Indonesia dari belakang Malaysia.
Malaysia menatap Indonesia lekat-lekat, sedetik, dua detik, tiga detik… dan wajahnya pun berubah menjadi seperti ini (TAT).
"Kakaaaaaakk…." Serunya tragis sambil memeluk Indonesia. Baiklah, Indonesia kaget. Ini pertama kalinya sejak lahir ia dipanggil kakak oleh Malaysia.
"Lain kali…hiks…lain kali, kalo England mau masak lagi aku kabur ke tempat kakak aja yaaa…. Phuleaaaaseee…." Mata Malaysia berkaca-kaca, sebentar lagi airmata akan menetes ke kedua pipinya. Sedikit merendahkan diri lebih baik daripada harus mati dengan tidak elegan karena keracunan masakan England.
"I..iya deh…" jawab Indonesia ragu. Ia membayangkan seberapa mematikannya masakan England.
Switzerland mengerti situasinya sekarang. Ia melirik America yang masih melekat di kakinya. "Mau makan?" tanyanya kemudian.
America mendongak, tersenyum senang dan mengangguk dengan cepat. Ternyata Switzerland masih punya hati meski sedikit. Beruntung ia pernah jadi korban masakan England sebelumnya, sehingga mengerti perasaan orang lain yang ikut menjadi korban juga. Biarpun jatah makan yang dibuatnya selalu sedikit, setidaknya rasa dijamin.
Liechtenstain memandang ke sekeliling, ada 4 anak baru yang dititipkan disini. Ia ingin sekali berkenalan dengan mereka. Tapi, Liech bingung harus mulai darimana. Anak baru yang bernama Russia itu tampaknya sudah mendapatkan beberapa teman, ia cepat akrab dengan orang lain. Tapi kenapa Romano dan Canada yang dirangkulnya gemetar seperti itu ya? pikir Liechtenstain tidak mengerti. Sedangkan adik Russia—Belarus, sepertinya tidak tertarik bermain dengan yang lain selain kakaknya, sedaritadi mereka asyik kejar-kejaran.
"Hei! Belarus! Kembalikan pisau itu! Aku mau masaaakk!" Switzerland misuh-misuh dan berteriak dari dapur karena kegiatan masaknya yang tertunda.
"Ummh…" pandangan Liechtenstain akhirnya mengarah pada kakak beradik yang satu lagi. Norway dan Ice masih belum bergerak dari tempatnya semula, mereka asyik menggambar dalam diam di atas kertas gambar dengan menggunakan crayon yang telah disediakan Switzerland. Melihat kedua anak yang sama-sama pendiam itu, Liechtenstain memberanikan diri untuk mendekat. Bukan berarti ia tidak suka dengan anak yang berisik macamnya America, Romano dan Korea. Mungkin sesama pendiam akan lebih nyaman berteman dengan orang yang pendiam juga.
"Ha..halo…" sapa Liech. Norway dan Ice mendongak bersamaan.
"Hmm…" Norway mengangguk pelan dan kembali berkutat dengan gambarnya. Gambar orang-orangan sawah bertampang bodoh dengan rambut berantakan, disamping gambar itu ia tulis 'anko uzai'.
"Hai…" jawab Ice malu-malu. Iceland mengulurkan tangannya untuk bersalaman, namun saat Liech mengulurkan tangannya, tiba-tiba Korea menyambar tangan Liech, "Ayo ikut main, da ze!"
대한민국/Republic of Korea (6 tahun)
Hobi : itu asli Korea! da ze! (mengucapkan kalimat semacam itulah...)
"Ta..tapi…"
"Norway dan Ice juga! Ayo ikut main bersama kami!" Taiwan menarik Norway dan Ice dengan kedua tangannya.
台灣/Taiwan (6 tahun)
Hobi : bermain bersama kakak
"Tidak. Aku tidak tertarik." Jawab Norway cepat.
"Hei! Kau yang namanya Norway ya? wajahmu setipe sama Hongkong! Hahaha!" America mengabaikan perkataan Norway sebelumnya. Norway melirik anak yang dipanggil Hongkong.
香港 /Hong Kong (6 tahun)
Hobi : berdagang (?)
"Ice juga setipe! Lihat, kalu kita jejerkan mereka bertiga…" Indonesia menarik dan menjejerkan ketiga anak itu, "Taraaa! Jadi deh trio muka datar! Wahahahaha!" Hongkong, Norway dan Iceland mendelik pada Indonesia. Walaupun bukan Indonesia yang super bebal, siapapun tidak akan ada yang sadar sih kalau wajah mereka bertiga sama sekali tidak berubah ekspresi seperti itu.
"Kurasa kalau Japan masuk jadi anggota keempat masih cocok tuh. Hehe." Malaysia menambahkan.
Japan menggelengkan kepalanya, "Aah.. aku…tidak…"
日本国/Japan (6 tahun)
Hobi : belajar
"Ayooo! Jadi main petak umpet enggak nih?" tanya Seychelles yang sudah menunggu daritadi.
"Oke! Ayo main! Pokoknya aku yang jadi Hero nya ya!" seru America.
Hongkong berjalan dengan tenang, "Terserah. Asal jangan aku yang jadi setannya."
"Nah, karena kau Hero-nya berarti kau yang jaga." Tunjuk Malaysia pada America.
"Eeehhh? Kok gituuuu?" America memajukan bibirnya.
"Hero yang menjaga perdamaian dunia. Iya kan kawan-kawan?" Indonesia meminta penguatan dari teman-temannya, dan segera dijawab dengan serempak, "IYAAAAA!"
"Uhm…aku jadi malu, hahaha…" America menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "Baiklah! Serahkan padaku! Biar Hero yang jaga! Ayo kalian semua ngumpeeett!"
"Waaaii!" Anak-anak yang lain pun berlarian mencari tempat sembunyi saat America menutup matanya dan mulai berhitung.
"1…2…3…5…. Emm…10….20….100….abis itu berapa ya?"
"Nah, sekarang cerita. Anak siapa itu? Jangan bilang kau mengadopsi anak lagi." Switzerland yang menerima telepon dari England sore itu langsung menuju ke permasalahan.
"Bukan begitu, Swiss. Itu adik kandungnya kenalanku. Tadi pagi ia titipkan padaku. Karena aku juga sibuk, maka kuputuskan dititip padamu saja."
England menyesap teh pagi harinya dengan tenang. Waktu menunjukkan pukul 6 pagi, masih banyak waktu sebelum ia mengantar Malaysia dan America kembali ke tempat penitipan anak.
"Hei, America, Malaysia, kalian benar-benar tidak mau ikut minum teh? Ada camilan juga lho."
"Eng..enggak deh. Makasih kak England. Aku mau nunggu tukang mie ayam lewat aja."
"Mana ada mie ayam lewat pagi-pagi begini, Lay." jawab England santai.
"Yang lewat emang bukan mie ayam kak, tapi tukang mie ayam bawa gerobak mie ayam. Mana bisa mie ayam jalan-jalan?"
England mengerutkan keningnya. 'Terserah deh.' Begitu kira-kira kata-kata yang ia sampaikan melalui ekspresi wajahnya. "Mana America?"
"Di kamar mandi, sakit perut."
"Hah? Jangan-jangan dia kebanyakan makan?"
"Enggak, justru sebaliknya."
"Maksudmu apa, Lay?"
"Enggak apa-apa kok."
'TOK TOK TOK'
"A..anu… permisi… apa England nya ada?"
'BOING'
'suara ini….' England mendongakkan kepalanya dan mendapati seorang perempuan berambut pirang. "Ukraine?"
Україна / Ukraine (25 tahun)
Pekerjaan : Sedang mencari pekerjaan baru
Hobi : Merajut
"Ma..maaf tiba-tiba mengganggu. A..aku cuma mau menitipkan mereka sementara, boleh?" 'BOING' Ukraine memperkenalkan kedua adiknya yang ia gandeng, Russia dan Belarus.
"Memangnya kenapa?" tanya England penasaran.
"A..aku…hiks… AKU JATUH MISKIN DAN TIDAK BISA MEMBIAYAI MEREKA LAGI! TOLONG AKU ENGLAND, TOLONG AKUUU TOLOOONG HUHUHUHUHUHU…" 'BOING' 'BOING' 'BOING'
"U..uk…ukraine… te..tenang. Coba duduk dulu." England mencoba mempertahankan nada bicaranya yang berwibawa saat Ukraine menggoncang tubuhnya.
Ukraine bercerita sambil terus mengalirkan airmatanya. Sejujurnya ia tidak rela berpisah dengan Russia dan Belarus yang manis, tapi keadaan yang memaksanya. England akhirnya setuju untuk membiayai Russia dan Belarus sampai keadaan ekonomi Ukraine membaik kembali.
"Nah, jadi begitulah cerita lengkapnya." Terang England.
Switzerland menghela napas panjang, "Kau tahu tidak? Berkat kau menitipkan 2 anak lagi, sekarang ada 4 anak baru di tempat penitipanku."
"Err.. yah…tapi kan kau dapat uang lebih banyak, kan?"
"Kau pikir mudah mengatur 15 anak? Heh!"
'PRANGG!' "Hey! Korea! Berhenti memecahkan piring!" teriak Switzerland.
"Enggak sengaja, oom." jawab Korea tanpa rasa bersalah.
"Siapa suruh sembunyi di rak piring? ! Pindaaahh! Dan jangan panggil aku oom! Aku masih muda!"
"Yeaaahh! Korea ketahuan!" America berteriak girang.
'PLAK!' Malaysia menepuk keras paha kakaknya, "Aduh! Apaan sih, Lay?"
"Nyamukk!"
"Heh! Berani bohong ya? ya? Biar bisa mukul aku ya? haaahh? Nih!" Indonesia balik memukul.
'PLAK PLOK BRAK DES DUESH!'
"Nih! Nih! Rasain! Rasaain!"
Malaysia mencubit keras pipi Indonesia dengan kedua tangannya dan Indonesia menjambak-jambak rambut adiknya.
"Heh! STOP!" teriak Switzerland lagi.
"Indonesia sama Malaysia ketahuaaann! Hahahaha!" America berteriak lagi.
"Kita bahas lain kali saja, tampaknya kau sedang sibuk." Kata England dari ujung telepon. Switzerland mematikan teleponnya tanpa mengatakan apa-apa.
Switzerland berusaha keras memisahkan keributan antar saudara itu, saat…
"Kakaaaaakk! Ayo kita nikaaaahhhh!"
"Hiiii! Pergiiiiiiiiii…. Jangan mendekaaatt!"
"Belarus! Sudah kubilang berkali-kali jangan pakai pisau dapur!" Switzerland memijat-mijat kepalanya yang mulai pening. Tampaknya ia harus segera mencari pengasuh tambahan. Mengurus kelimabelas begundal ini memang tidak mungkin dilakukan sendirian.
See you in the next chapter :3
pasti pada males baca bacotan author (saya cuma mau bilang, agak malu pas nulis boing2 itu), oke seperti biasa langsung kritik & saran lewat review saja :D
yang jelas rikues keluarga Ukraine-Russia-Belarus udah dikeluarin :D Chapter selanjutnya saya keluarin yang udah di rikues juga, cuma belum sempet dikeluarin :3
oooooohhhh bikin fic dengan banyak karakter itu pusing minta ampuunn T_T
