Jeon Jungkook menggerutu kecil. Ramalan cuaca salah. Benar-benar salah. Apanya yang cuaca cerah sepanjang hari? Sejak kapan badai berpetir ini disebut cerah?
Jungkook merapatkan jaketnya masih dengan bibir yang mengerucut sebal. Ia tidak membawa payung, dan terjebak di halte. Pagi tadi—Jungkook berani bersumpah—langit terlihat sangat bersih dan biru. Siapa yang menebak kalau sore ini hujan benar-benar mengguyur Seoul dengan derasnya?
Ini belum waktu pulang orang-orang, jadi jalanan lenggang dan halte bus sangat sepi sekarang. Hanya ada Jungkook sendirian yang berdiri sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Ia sedang ada di halte dekat kampus, berencana pulang ke apartemen Seokjin namun terhalang hujan. Jungkook menghela napas lelah, ingin rasanya menelepon Namjoon untuk menjemput. Tunangan kakaknya itu pasti mau disuruh menjemputnya menggunakan mobil, tapi Jungkook sedikit tidak tega. Ia sudah menyakiti Namjoon dengan memilih tinggal bersama mereka daripada tinggal sendiri di apartemen yang sudah dipilihkan Namjoon—belum dibeli, hanya saja Namjoon sudah mencarikannya apartemen pribadi.
Jungkook masih ingat gerutuan Namjoon, bahkan pria itu mengurung diri di kamar sepanjang siang. Tapi akhirnya dikalahkan dengan rasa lapar dan masakan Seokjin. Mengingatnya membuat Jungkook ingin tertawa.
"Wah, deras sekali!"
Jungkook berjengit kaget ketika mendapati seseorang berlari menuju ke arahnya, ikut berteduh di bawah halte yang sama dan menarik napas dengan terengah-engah.
Tenggorokan Jungkook terasa tercekat.
"Taehyung-hyung?"
.
.
PAPILLON
.
Kim Taehyung & Jeon Jungkook
.
CHAPTER 2
.
I still can't believe it
All of this seems like a dream
Don't try to disappear
- Butterfly -
.
Jimin menatap Taehyung lama. Karena pertanyaan Jungkook kemarin, ia bahkan rela pindah tempat duduk menjadi di depan sendiri. Di samping Taehyung—yang bahkan sama sekali tidak peduli dengan keberadaannya. Entah karena lelaki itu memang menghindarinya, atau dia suka dengan mata kuliah manajemen proyek ini. Jimin bahkan menghabiskan hampir seluruh waktunya hanya untuk memandangi Taehyung, berharap lelaki itu akan menoleh ke arahnya.
Begitu dosen yang mengajar keluar, Taehyung barulah membalik badannya menghadap Jimin. Matanya menatap tidak suka. "Apa sih, Jimin? Kau pikir tidak risih apa dilihati terus begitu?"
Jimin tersenyum lebar, ia tidak peduli dengan Taehyung yang bersikap sok marah—tentu saja, Taehyung tidak pernah marah padanya. Tidak pernah dan tidak boleh.
"Jungkook menanyakanmu kemarin."
"Oh?" respon Taehyung seadanya. "Tentang aku yang keluar dari klub?"
Jimin berkedip heran. "Bagaimana kau tahu? Kau cenayang!?" serunya. Lupa kalau Taehyung memang cenayang.
"Aku bisa membaca isi otakmu, Jiminie." Taehyung mengendikkan bahunya, ia merapikan buku-bukunya dan bersiap untuk pulang. "Kau tidak pulang, sayang?"
Jimin bergidik, total jijik dengan panggilan Taehyung yang ditujukan padanya. "Ew, kau homo."
Taehyung memutar kedua bola matanya malas dan menyentil dahi Jimin kuat-kuat. "Kau yang homo," gumamnya. "Apa Yoongi-hyung akan menjemputmu lagi?"
Jimin mengabaikan ejekan Taehyung dan mengangguk antusias, tangannya mengusap bekas sentilan Taehyung—sakit, tapi tidak apa-apa. Mendengar nama Yoongi saja sudah bisa membuat rasa sakitnya hilang dalam sekejap. "Yoongi-hyung berjanji akan menemaniku makan barbecue hari ini."
"Gendut."
"Biarin," Jimin menjulurkan lidahnya.
Taehyung diam-diam tersenyum tipis melihatnya. Jimin memang banyak berubah ketika berpacaran dengan Yoongi—sebenarnya perubahannya sudah dimulai sejak ia mengenal pria pucat itu, tapi akhir-akhir ini memang perubahan itu terlihat sangat jelas.
Kemudian, mereka keluar kelas bersama. Tidak ada rangkulan seperti biasa. Taehyung berjalan dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana. Jimin sendiri sibuk dengan ponselnya, ia berjalan di belakang punggung lebar Taehyung, menghindari tabrakan dengan orang lain.
"Hujan, Jim."
Jimin menghentikan langkahnya begitu Taehyung berbicara. Ia mendongak dan benar, sudah mulai gerimis kecil. Melihat bagaimana langitnya yang gelap, sepertinya hujan akan semakin deras. "Kau membawa mobil?" tanyanya.
Taehyung menggeleng. "Mobilku di bengkel. Bannya bocor satu dan satunya meledak."
Jimin tergelak. "Meledak?"
"Aku mencoba memompanya. Lalu meledak."
Wow.
Jimin berdeham, seharusnya ia tidak terkejut ketika mendengar Taehyung melakukan hal-hal di luar nalar manusia seperti itu. "Mau bareng? Kita bisa menunggu Yoongi-hyung—"
"Dan menjadi kacang di antara kalian? Tidak, terima kasih." Taehyung mendengus. Ia membuka jaketnya yang cukup tebal dan mengangkatnya di atas kepala dengan dua tangan. "Aku ke halte saja. Dadah, Jimin!"
Jimin memandang punggung Taehyung yang mulai menjauh. Disusul dengan semakin banyaknya debit air yang turun. "Dasar. Kalau mau menghindar dariku jangan terang-terangan begitu, dong."
.
.
Jungkook memainkan jarinya, gugup luar biasa. Matanya melirik ke arah Taehyung yang berdiri, berjarak kurang dari satu meter di sebelah kanannya. "Hyung?"
"Hai, Jungkook-ah!" Taehyung menyapanya ringan, ia melempar senyuman kotak yang sehangat biasanya. Membuat tubuh Jungkook beku dan otaknya kosong seketika. "Apa kabar?"
Jungkook ingin menghindari pertanyaan itu dan melempar pertanyaan lain, pertanyaan dengan kata mengapa—namun ditahannya. Ia sadar posisinya. Jungkook tahu dimana ia sedang berpijak sekarang. "Aku baik. Hyungie apa kabar? Apakah sibuk sekali?" Ia berganti bertanya, sekedar basa-basi. Bahkan rasanya percakapan ini tidak lebih berat dari ucapan 'cuacanya bagus hari ini'.
"Aku berhenti dari klub melukis, Jungkook-ah." Taehyung berujar tanpa isyarat, mengabaikan pertanyaan Jungkook yang seolah memang tidak ada harganya. Suara hujan yang deras sedikit mengaburkan suara berat Taehyung, laki-laki itu tersenyum samar, tanpa melihat ke arah Jungkook. "Kau sudah tahu, kan?" tanyanya, seolah mengerti bahwa Jungkook tidak bisa membalas pernyataan yang sebelumnya.
Jungkook mengangguk dengan gerakan, tidak peduli kalau Taehyung tidak bisa melihatnya. Hal itu dilakukannya semena-mena karena ia tidak berani bertanya atau pun membuka mulut, ia takut mendengar suaranya sendiri. Ia takut mengakui bahwa suaranya pasti akan terdengar hancur sekarang.
Keheningan menelan keduanya. Masing-masing menyelami pikirannya sendiri, sibuk menerka apa yang harus ditanyakan dan apa yang harus dijelaskan. Suara rintik hujan seakan membuat segalanya semakin buruk. Mereka memang tidak berniat beranjak pergi, meski suasana canggung masih menemani, tapi tidak ada satupun beranjak ketika bus kota berhenti tepat di hadapan mereka.
"Aku tidak bisa melukis lagi, Kookie-ah," Taehyung berucap ketika bus akhirnya melaju pergi dari hadapan. Suaranya serak dan tercekat, ia seolah-olah meminta diselamatkan, entah dari apa, entah dari siapa. Tapi, nada suara itu menghilang dengan cepat, ketika Taehyung—akhirnya—menoleh ke arah Jungkook dan tersenyum lebar, nada suaranya kembali riang, "Kau bisa datang dan melukis. Mereka akan menerimamu dengan tangan terbuka."
Jungkook tersenyum kecut. "Kau yang mengajakku bergabung, Hyung," lirihnya, bahkan Jungkook sendiri tidak yakin apakah Taehyung mendengar itu atau tidak. Dadanya berdenyut sakit, tapi ia mengabaikan hal itu. Ia menatap ke dalam mata Taehyung dan mencoba menyelami pikiran lelaki itu. Tapi—tatapannya, kosong.
"Jungkook-ah."
"Ya, Hyung?" Jungkook mengerjap, sedikit banyak terkejut karena Taehyung memanggilnya dengan nada yang begitu ringan seakan tanpa beban.
"Kau mau menemaniku sebentar?"
.
.
Tempat bermain—timezone.
Di luar ekspetasi Jungkook, Taehyung membawanya kemari. Mereka masuk ke salah satu pusat pembelanjaan di kota, melewati toko-toko begitu saja. Taehyung dengan cepat melangkah masuk dan melewati orang-orang yang berlalu-lalang.
"Ayo, Jungkook!" Taehyung menarik tangan Jungkook dengan semangat.
Dan begitu mereka sampai di tujuan, kedua mata Taehyung semakin terlihat berbinar senang. Jungkook pun menelan kembali pertanyaannya tentang—mengapa, dia biarkan serangkaian rasa penasaran itu jatuh tertelan ke dasar tubuhnya. Karena senyuman Taehyung, berhasil membuatnya lupa.
"Kau ingin main yang mana dulu?"
"Yang kalah beli es krim?" Jungkook menantang. Senyuman Taehyung menular padanya, dia memang suka tantangan dan ingin mengajak Taehyung untuk sesekali masuk ke dunianya.
Taehyung sepertinya senang akan tawaran Jungkook, mata pria itu mengerling ke arah Jungkook dengan penuh percaya diri. "Bagaimana kalau traktir makan malam?"
"Setuju."
Mereka berdua mencoba berbagai jenis permianan. Balapan mobil (yang dimenangkan Taehyung), tembak-tembakan (kali ini Jungkook yang menang), dance (Jungkook lagi), memukul sarung tinju (Taehyung—tapi Jungkook merengut tidak terima dan beralasan bahwa pukulannya meleset)—dan berbagai mainan lainnya. Mereka berakhir seri setelah memainkan sepuluh permainan berbeda.
"Ini yang terakhir?" tanya Jungkook, berdiri di depan mesin permainan melempar bola basket. Mata bulatnya menatap Taehyung yang masih bersemangat, lelaki itu menggusak rambutnya sendiri, menyingkirkan poni yang dikiranya mengganggu. Jungkook menahan napas—Taehyung terlihat sangat tampan. Terlalu sempurna.
Bagaimana Tuhan bisa memahat wajah manusia dengan begitu sempurna? Jungkook menggigit bibir bawahnya. Total tidak mengerti mengapa seakan-akan wajah itu bisa begitu bersinar.
"Ayo, tekan tombolnya, Jungkook-ah!"
Jungkook berjengit, buru-buru menekan tombolnya. Dan akhirnya pertandingan terakhir mereka dimulai.
.
.
Jungkook mengerang kesal, bibirnya mencebik tidak suka dan kedua tangan terlipat rapi di depan dada. Matanya menatap dua mangkuk ramen dengan tatapan memicing tidak suka.
"Ayolah, Jungkook," Taehyung terkikik di hadapannya, tangannya memegang sumpit dan mulai mengambil ramen-nya dengan wajah sumringah. "Membeli dua mangkuk ramen tidak akan membuatmu bangkrut, kan?"
Iya.
Jungkook kalah.
Maka dari itu mereka berdua kini duduk santai di dalam salah satu restoran Jepang, memesan ramen dan dua kaleng minuman bersoda. Lucu sekali mendapati kenyataan bahwa Taehyung sangat tergila-gila dengan minuman itu, bahkan ia merekomendasikan sekaleng cola pada Jungkook dan menceritakan bahwa rasanya begitu enak.
Oh, astaga, siapa yang tidak tahu rasa minuman bersoda, memangnya?
Kenyataan bahwa Taehyung sedang menikmati makanannya sekarang membuat Jungkook kembali ingat bahwa ia masih mengkhawatirkan lelaki itu. "Hyung, apa yang kau lakukan akhir-akhir ini?" Jungkook memberanikan diri bertanya, berusaha agar nada suaranya tidak terdengar mengadili.
Taehyung menyeruput ramen-nya dan menatap Jungkook dengan sepasang mata hitamnya. "Oh? Aku membantu klub jurnal membuat beberapa artikel."
Jungkook mengangguk.
"Kau sendiri, sudah menemukan apa yang akan kau lakukan?"
Jungkook menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Aku buruk dalam berteman dengan orang-orang baru," gerungnya pelan. Ia menarik sumpitnya dan mulai memakan makanannya.
Taehyung tertawa pelan. Jungkook memang sedikit pemalu, dulu ketika mereka ditinggal oleh Yoongi dan Jimin saja, Jungkook tidak berhenti membuntutinya kemana pun ia pergi. Jungkook akan menggeleng ketika Taehyung ingin izin untuk mengurus sesuatu bersama beberapa panitia acara, dan berakhir ikut bersama.
"Kuliahmu bagaimana?"
"Aku baru mengenal dua orang di kelasku," Jungkook mengerucutkan bibirnya. "Aku benar-benar tidak pandai dalam mengingat nama…"
Taehyung lagi-lagi tertawa. "Tidak apa-apa, Kookie, kau akan terbiasa dan akan mendapatkan banyak teman nantinya."
Mata Jungkook berbinar sennag mendengar ucapan Taehyung. "Seperti Taehyungie-hyung?"
Ekspresi wajah Taehyung menggelap selama beberapa sekon sebelum akhirnya senyuman lebar itu terukir dengan begitu janggal. "Ya, seperti Hyung!"
.
.
Jungkook menunggu Taehyung di salah satu bangku keramik di sana. Ia membaca satu per satu pesan yang masuk ke dalam groupchat kelasnya, membahas praktek individu. Mereka memang beberapa kali diajarkan cara bernyanyi tanpa diiringi musik, dan minggu depan adalah tes pertama mereka untuk itu. Sedangkan tugas lainnya adalah memainkan alat musik secara individual.
Baiklah, Jungkook menghela napasnya, ia memang menyukai musik, tapi ia tidak tahu kalau musik bisa serumit ini. Ia dipaksa harus bisa bernyanyi di depan publik. Padahal dulu ia tidakk pernah memiliki keberanian untuk itu.
"Hei, Jungkook."
Jungkook mendongak karena terkejut. Dan begitu dagunya terangkat, ia langsung berhadapan dengan es krim cokelat yang terlihat lezat. Ternyata itu Taehyung, membawakan es krim untuknya.
"Apa ini, Hyung?"
"Es krimmu, tentu saja? Kau ingin ditraktir es krim, kan, tadi?"
Jungkook mengerjap, antara tidak percaya dan terlalu terkejut, ia mengambil es krim itu hati-hati dan ia pun sadar bahwa Taehyung sendiri juga sedang memakan es krimnya, stroberi.
"Terima kasih."
Taehyung mengangkat bahunya. Menandakan bahwa itu bukan apa-apa. Ia yang seharusnya berterima kasih pada Jungkook karena sudah mau menemaninya tanpa syarat. Lalu mendadak, Taehyung ingin lebih egois dari ini. Matanya memandang Jungkook yang sibuk memakan es krimnya, bahkan lelaki manis itu tidak sadar kalau ujung bibirnya sudah dipenuhi dengan cokelat, tapi bukan itu yang ada di pikiran Taehyung.
"Jungkook -ah."
"Ya, Hyung?"
Taehyung merutuki mulutnya sendiri, yang memanggil nama Jungkook tanpa ia sendiri mengerti untuk apa.
"Apa—" Taehyung memutar otak untuk menemukan kalimat tepat yang harus segera ia lontarkan, "—apa kau mau mampir sebentar ke rumahku?"
.
.
"Permisi," Jungkook masuk ke dalam kediaman Kim dengan raut wajah canggung luar biasa. Ia belum pernah main ke rumah orang lain—selain ke keluarga Jimin yang memang sudah sangat dekat dengannya. Jungkook sedikit terkejut ketika mendapati rumah Taehyung yang ternyata sangat sepi.
"Orang tuaku akan pulang nanti malam. Mungkin sekitar jam sepuluh," beritahu Taehyung. "Duduklah. Akan aku ambilkan minum."
Jungkook menahan lengan Taehyung yang sudah bersiap untuk melangkah menuju dapur. "Sebentar, Hyung."
"Ada apa, Jungkook?"
"Itu—" Jungkook menatap salah satu lukisan yang dipajang apik di ruang tamu, tatapannya sulit dijelaskan, dan Taehyung berusaha abai dengan hal itu. "—gambarmu, Hyung?"
Taehyung menatap lukisan yang ditunjuk Jungkook. Sebuah abstrak yang dipenuhi dengan warna-warna pelangi. "Bukan," jawab Taehyung singkat.
Jungkook kemudian melepaskan genggamannya pada lengan Taehyung dan berjalan mendekati lukisan tersebut, sedangkan Taehyung langsung melengos pergi mengambil minum. Keluarga Taehyung tergolong keluarga yang lebih dari cukup, membeli lukisan untuk menghiasi ruang tamu mereka bukanlah hal yang aneh, begitu pikir Jungkook.
Tapi, Jungkook seakan-akan tahu kalau lukisan itu bukan dari hasil membeli. Jungkook menatap lukisan itu cukup lama. Di ujung terdapat judul yang ditulis dengan tinta hitam, 'nae mujigae'. Pelangiku.
Jungkook menatap lukisan itu lagi setelah membaca judul. Lantas ia menyadari sesuatu hal yang janggal.
Pelangi itu, tidak memiliki warna ungu di dalamnya.
.
.
to be continued.
Author's :
Astaga, akhirnya selesai juga chapter ini. Penuh perjuangan. Menulis di antara rasa stress yang mencekik:') Tapi tidak apa-apa, saya agak masokis kok.
Jujur saja, setelah dipikir-pikir lagi, ff ini akan mengalami perubahan dari ide awal (sedih). Awalnya ini akan sangat sederhana, tapi sepertinya ff ini akan rumit dengan sendirinya. Kenapa saya ini plin-plan sekali ya:'))
Semoga bisa saya tamat kan saja lah ff ini, meskipun sampai sekarang gak tahu bagaimana ending-nya nanti. Hahaha /ga/
Untuk sekarang, nikmati saja kesan sok misterius dari Taehyung. Lama-lama juga akan terbongkar, kok. Semoga kalian yang membaca ff ini sabar menunggu update ya. Karena prediksi saya ini akan slow-update.
Balasan review :
KimLiyaa : Semua yang review saya notice, kok:') Terima kasih sudah mau mampir dan membaca. Semoga suka dengan chapter dua ini ya;))
iymyhzxx : Halooo;)) Wah, kamu membaca ini setelah UN? Apa kabar sekarang? Semoga hasil UN kamu memuaskan ya;) Dan terima kasih banyak sudah mau menyempatkan diri mampir di ff ini. Iya—ini hurt tapi gak akan sedih-sedih banget (mungkin). Terima kasih sudah mengingatkan soal typo:')) Semoga saya sempat ngecek ulang dan memperbaiki! Ini sudah dilanjut, semoga suka ya!
MinPark : Halo lagi! Astaga, kamu menyempatkan diri membaca ini saja saya sudah senang:') Oh, oh, tebakanmu boleh juga. Memang Jungkook bisa baca apa makna di lukisan Taehyung, tapi apakah dia memang bisa membaca Taehyung secara keseluruhan ya nanti? Dan—yeay, ini sudah lanjut lagi! (akhirnya) Semoga chapter ini bisa mengobati chapter kemarin yang sedikit hurt, ya~
quiteumess : ASTAGA—jadi, jadi, jadi, kamu selama ini adalah reader yang tak ternotice!? /ga/ Ehm—oke, saya hanya antusias. Terima kasih banyak karena sudah mau membaca ff SUGA dan berlanjut ke ff ini. Saya kemarin mau menyertakan special thanks buat semua yang fav/follow/review, tapi males. Hehe /jahat emang/ Tapi saya senang sekali kamu akhirnya menampakkan diri(?) di ff ini. Dan—jujur saja, konflik di ff SUGA itu sebagian dari kisah nyata, saya sendiri ragu nulisnya karena takut feel-nya hilang saking bingungnya menjelaskan. Tapi syukurlah kalau ternyata ff itu baik-baik saja:') /apasih/
DAN INI SUDAH DILANJUT, YESHH. (senang sendiri) Semoga suka ya dengan chapter ini, saya mencoba membuat Vkook yang manis. Tapi sepertinya genre hurt masih mendominasi;)
Btw, maaf sekali kalau saya sedikit fail dengan kapal Vkook ini:')) Akhir-akhir ini saya tergila-gila dengan Bottom!Taehyung. Tolong pukul saya:) Bahkan saya suka VMin dengan top!Jimin. Kenapa ini terjadi pada saya:') ((nasib penyuka segala kapal ya begini)) ((nasib OMTP))
Last, review please?
14 Mei 2018
