Copyright © 2015 by Happyeolyoo

All rights reserved

.

.

Library

Genre : Romance, Drama

Rate : T

Pairing : HunHan as Maincast.

Length : Threeshoot

Chapter : 3/3

Warning : Genderswitch. Miss typo(s).

Disclaimers : The cast is belonged to God, their parents, and their company. All text here is mine. Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari cerita ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin dari penulis.

Summary : Akhir pekan selalu identik dengan liburan, 'kan? Tapi untuk minggu ini, Luhan harus pergi ke perpustakaan demi mendapatkan buku referensi untuk tugasnya yang nyaris mendekati deadline. Dia pergi ke perpustakaan swasta tapi nyatanya tidak mendapatkan buku yang dibutuhkannya. Yang ada malah Luhan yang jatuh cinta pada penjaga perpustakaan. Bayangkan saja, jatuh cinta pada penjaga perpustakaan.

BGM : .. Is it OK? by F(x)

Sudah berhari-hari Luhan dipusingkan oleh masalah pribadinya yang berhubungan dengan Oh Sehun. Sekarang, dia lebih banyak diam di dalam kamar, lalu akhirnya menangis tersedu-sedu. Untuk yang pertama kali dalam seumur hidup, Luhan benar-benar merasa malu untuk bertemu orang lain.

Oh, memangnya Luhan itu gadis seperti apa?

Seorang gadis tidak tahu diri yang jatuh cinta seenaknya pada seorang cowok keren yang sudah memiliki kekasih. Hampir selama dua minggu penuh, Luhan melancarkan aksi pendekatannya dengan mengunjungi perpustakaan itu hampir setiap hari. Bayangkan saja, hampir setiap hari. Dan di tiap malamnya, mereka berdua selalu berkirim pesan hingga larut malam. Dan mengakhirinya dengan ucapan selamat tidur serta satu emoticon peluk; yang pasti akan terbawa hingga ke mimpi.

Luhan mengingat semua yang sudah dilakukannya terhadap Sehun. Dan lagi-lagi, dia tidak sanggup membendung air matanya. Bantalnya yang sudah sering basah karena air mata, kali ini menjadi penyumbal mulutnya agar tidak mengeluarkan isakan. Namun tetap saja, Xiumin bisa mendengar semua racauan Luhan. Lalu, wanita berpipi tembam itu akan masuk dengan membawakan bubur kacang merah kesukaan Luhan.

"Ada apa sih, Lu?" Xiumin bertanya dengan sabar saat mengetahui sahabatnya sedang menangis lagi. Bokongnya duduk di pinggir ranjang Luhan yang seprainya sudah kusut. "Coba ceritakan padaku dong."

Luhan menggeleng. "Aku cuman sedih, Xiuxiu," kata Luhan sambil mendeguk memilukan. Ingusnya mengalir deras dari lubang hidungnya. Air mata menetes dari dagunya. "Aku sedih sekali. Kenapa aku bisa seperti itu?"

"Seperti itu bagaimana?"

Lagi-lagi Luhan menggeleng. "Xiuxiu, bolehkah aku mendapatkan pelukanmu?"

"Oh, deer. Kau boleh mendapatkannya kapan pun kau mau," Xiumin merentangkan dua lengannya sehingga kini dia menangkap Luhan dalam pelukannya yang hangat dan menjanjikan. Dia membiarkan Luhan menangis lagi di dadanya, tidak peduli jika ingus Luhan akan mengotori kausnya. Telapak tangan Xiumin bergerak membelai punggung Luhan dengan penuh kelembutan. "Apa pun masalahmu, kau tidak boleh terus menangis dan terpuruk. Kau masih punya jalan yang panjang untuk dilalui, Lu. Jangan mudah menyerah begitu saja."

"Aku tahu, Xiu. Tapi, kali ini terlalu berat dan memalukan," kata Luhan di tengah isak tangisnya.

"Memangnya apa yang sudah kau lakukan, huh?"

"Aku tidak bisa mengatakannya, terlalu memalukan," ujar Luhan dengan nada lemah. Lalu dia mendongak dan mencoba menatap Xiumin dengan matanya yang basah. "Bisakah kau membantuku?"

"Tentu, Lu. Katakan, apa yang harus kulakukan untuk membantumu."

Luhan menoleh memandang setumpuk buku yang ada di nakas; buku-buku yang dipinjamnya dari perpustakaan itu. Seketika, dia merasakan remasan menyakitkan di dada ketika bayangan wajah Sehun berkelebat dalam benak. "Tolong kembalikan buku-buku itu ke perpustakaan, ya? Aku tidak bisa mengembalikannya."

OoO

"Tapi buku-buku itu dipinjam atas nama Xi Luhan, Nona," Sehun mengerutkan alis ketika seorang wanita tembam tiba-tiba datang ke perpustakaan dan menyodorinya beberapa buku. Wanita itu mengatakan jika ingin mengembalikan buku-buku itu, dan Sehun hanya mengangguk dan mengecek semuanya. Hingga akhirnya, dia tahu jika buku-buku yang dibawa wanita itu adalah buku-buku yang dipinjam Luhan.

Si cewek aneh yang tiba-tiba menghilang selama dua minggu belakangan. Tidak menghilang, sih. Luhan hanya tidak pernah datang kemari lagi semenjak kunjungannya yang terakhir; yang meninggalkan sebuah kotak bekal di rak dan nyatanya ada surat yang terselip di pembungkusnya. Tertulis; 'Untuk Oh Sehun'.

"Ya, buku-buku itu memang dipinjam atas nama Xi Luhan," kata cewek tembam itu. "Dan Luhan memintaku untuk mengembalikannya padamu."

Kenapa sih dengan gadis mungil itu, sampai-sampai meminta temannya untuk mengembalikan buku? Seharusnya, Luhan datang sendiri kemari.

"Maaf, tapi sang peminjam harus mengembalikannya sendiri, Nona," kata Sehun, begitu tegas. Sebenarnya, itu bukan peraturan perpustakaan ini. Tapi mau bagaimana lagi. Hal yang bisa dilakukannya untuk membuat Luhan kembali adalah dengan mengatakan hal seperti itu. Berbohong sedikit tidak apa-apa.

"Kenapa bisa begitu?" Xiumin mengerutkan dahi. "Kau 'kan cuman perlu mencatat semuanya, lalu aku tanda tangan menggantikan Luhan, dan semuanya beres. Kenapa malah menyebutkan peraturan tidak masuk akal seperti itu?"

"Nona, kalau peraturannya memang seperti itu, mau bagaimana lagi?" Sehun ikut ngotot. "Sang peminjam tidak bisa menyuruh pihak ketiga untuk mengganti tanda tangannya di buku jurnal pengembalian."

"Astaga, menggelikan sekali," kata Xiumin. Diam-diam, Sehun membenarkan umpatannya barusan. "Tidak bisakah kau menolongku? Untuk kali ini saja? Biarkan aku yang mengembalikannya?"

"Tidak bisa, nona. Maaf. Aku cuman pekerja di sini."

"Tapi keadaan Luhan yang seperti itu tidak memungkinkannya untuk datang kemari hanya demi mengembalikan buku."

Sebelah alis Sehun terangkat setelah mendengar apa yang baru dikatakan cewek tembam di hadapannya. Keadaan Luhan yang seperti itu? Sesuatu yang serius seperti baru saja menimpa Luhan, jadi gadis itu sampai kesulitan untuk berjalan menapaki aspal. Persepsi tidak bertanggung jawab yang melibatkan wajah Luhan dan kata kecelakaan mulai mengacaukan sistem berpikir Sehun.

"M-memangnya, apa yang terjadi pada Luhan?" Sehun bertanya, menimbulkan kerut-kerut dalam di dahi Xiumin.

Xiumin nyengir saat menyadari jika dia sudah membuat satu orang asing merasa khawatir karena kalimatnya barusan. "Dia hanya sedang terpuruk, entah karena apa. Dia tidak bisa meninggalkan apartemen karena selalu merasa sedih."

"Selalu merasa sedih?"

"Semacam itulah," kata Xiumin. "Jadi, apakah kau bisa membantuku?"

OoO

Sebenarnya, Sehun tidak pernah dibuat sampai kepikiran seperti ini oleh seorang cewek. Sebelumnya sih memang begitu. Tapi setelah dia bertemu Xi Luhan, gadis yang semula dianggapnya aneh karena selalu berbicara gagap, semua pertahanannya sebagai cowok yang cuek hancur tidak berbekas.

Setidaknya, memang kenyataannya seperti itu. Sehun tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekati Luhan saat gadis itu berkunjung ke mari. Karena semakin dia mencoba menahan diri, maka semakin cepat pula pergerakannya menghampiri Luhan. Sesederhana itu. Terkadang, tindakannya memang tidak selaras dengan keinginannya.

Cinta pada pandangan pertama memang bullshit. Sehun sering sekali mengatakan hal itu tapi sekarang, dia terkena imbasnya. Karena sekiranya, dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Luhan. Dan akhirnya, dicampakkan dengan amat tidak jelas seperti sekarang.

Pintu disentak oleh seseorang sehingga bunyi denting loncengnya sungguh membuat Sehun terkejut setengah mati. Kepalanya sampai menoleh secara kilat menatap daun pintu itu; lalu raut sebal tiba-tiba terlukis di wajahnya.

"Kenapa kau selalu cemberut, Sehunhun-ie?" Cewek yang baru masuk ke perpustakaan, meluncur begitu cepat menghampiri Sehun. "Apakah kau salah makan?"

"Ada apa kemari?" Sehun bertanya dengan nada cukup sewot.

Yang ditanya, malah mengembungkan pipi. Dia jadi teringat tujuan utamanya datang kemari. "Dobi itu membuatku takut."

Bagus. Sehun sudah dipusingkan dengan masalahnya sendiri. Dan sekarang, cewek ini baru menceritakan masalahnya. "Kalau cari teman curhat, jangan datang padaku dong. Aku 'kan sedang sibuk."

"Sibuk apanya?" Kali ini, ganti cewek itu yang merasa sebal. "Kau hanya duduk di sini, sekali-kali mengetik dan menulis. Hanya itu saja. Apa bisa dikatakan sibuk?"

Sehun memutar bola mata. "Kali ini, apa lagi yang sudah kau perbuat? Mematahkan lengan pacarmu?"

Si cewek menggeleng imut. "Aku tidak melakukan apa-apa pada tubuhnya. Cuman, tadi pagi, aku tidak sengaja membuang kertas partitur lagunya."

"Huh," Sehun nyaris tertawa setelah mendengarnya. Bisa dibayangkan seberapa menyeramkan Park Chanyeol saat marah karena kertas partiturnya yang dianggap emas itu dibuang oleh pacarnya sendiri. "Kalian pasti akan putus," kata Sehun.

"Sehuuun, jangan mendoakanku sampai seperti itu. Jangan jadi adik yang jahaat," katanya setengah merajuk—dan setengah lagi ingin menangis. "Aku 'kan sedang tertimpa musibah. Jadi setidaknya, kau harus menolongku."

"Tidak mau," Sehun berkata saat bunyi lonceng terdengar lagi. Kemudian, lidahnya yang selentur lintah, yang akan mengucapkan banyak sekali kata-kata buruk pada kakak tirinya mendadak menjadi kaku. Dia mengedip-ngedip lucu ketika gadis yang baru menyentak pintu berjalan pelan-pelan menghampirinya. Ada sebuah kantung kertas yang pegangannya dicengkeram erat-erat oleh jemari mungil milik gadis mungil itu. "Pergilah, Baek. Aku punya kerjaan."

Yang dipanggil Baek, langsung cemberut karena tahu jika Sehun memberikan senyuman terbaiknya pada gadis mungil yang muram itu.

"Hai, Lu. Sudah lama tidak bertemu. Kau kemana saja?" Sehun bertanya saat Luhan berhenti tepat di samping Baekhyun. Tangan Luhan yang sekurus ranting menyerahkan kantung kertasnya ke arah Sehun. "Kau mau mengembalikan buku?"

Luhan mengangguk—tanpa susah-susah mengucapkan sepatah kata atau pun menatap Sehun.

Sehun jadi merasa aneh kalau Luhan hanya diam saja seperti ini. "B-baiklah. Biar kucek, ya."

Baekhyun memerhatikan perubahan air muka Sehun dan gadis muram itu; terus memerhatikan selama beberapa saat lalu dia mendekati Sehun. "Hun, aku punya ide cemerlang," katanya dengan nada berbisik-bisik; yang pikirnya tidak akan bisa didengar oleh penyewa buku di sampingnya, tapi kalimatnya bisa didengar dengan mudah oleh Luhan atau pun Sehun. "Apa aku perlu menggiringnya ke .., ranjang?"

Ada setitik rona merah yang muncul di pipi Luhan ketika gendang telinganya ditembus oleh suara cempreng wanita itu. Tangannya yang mungil mencengkeram erat pinggiran meja.

Sedangkan Oh Sehun, yang tadinya sibuk menulis apa saja yang perlu ditulisnya ke jurnal, kini menoleh menatap cewek bermata sipit itu. Dengan tatapan berang penuh ancaman. "Mau kuadukan pada ayah dan ibu, ya?"

Ayah dan ibu? Akal sehat Luhan menyahut tidak mengerti.

"Habis, aku sudah hilang akal. Chanyeol terlalu menakutkan kalau sedang marah," Baekhyun mencicit penuh rasa takut. "Aduh, aku harus bagaimana?"

"Semenakutkan Park Chanyeol, dia tetap akan luluh pada cewek manja dan cerewet sepertimu, Baek,"

"Oh, eh?" Baekhyun tiba-tiba mendapat pencerahan. Peringai penuh kekalutan tiba-tiba tersingkir dari wajahnya. "Chanyeol memang paling lemah kalau sudah dirayu dengan aegyo .., ku."

Sehun hampir muntah saat mendengar kata ganti kepemilikan di kalimat Baekhyun barusan. "Kalau begitu, rayu saja. Tapi jangan dibawa sampai ke ranjang. Aku bersumpah akan mengadukanmu pada ayah dan ibu jika kau ketahuan tidur dengan Park Chanyeol."

"Eiih, kau tidak boleh melakukan itu," Baekhyun melakukan gerakan tinju main-main ke lengan Sehun. "Kau tahu, terkadang aku merasa bahagiaaa sekali memiliki adik tiri sepertimu, Sehun-aaah. Nah, aku harus pergi untuk merayu Park Chanyeol sebelum dia datang sendiri kemari dan membunuhku. Pay-pay, darling."

Sehun memandang jijik ke arah punggung Baekhyun yang baru saja melewati pintu kaca perpustakaannya. Kepalanya menggeleng-geleng dengan gerakan lemah, lalu dia kembali fokus pada apa yang dikerjakannya. "Maaf, ya. Saudaraku memang sedikit aneh."

Semenjak interaksi antara dua saudara tiri itu berakhir, Luhan tidak mengerti kenapa tiba-tiba ada gelombang air mata yang mencucuk matanya. Dari tadi, dia sudah berhasil untuk berakting tegar. Tapi setelah cewek imut yang dideklarasikan sebagai saudara oleh Sehun itu pergi dari sini, mendadak celah sempit dan sensitif di dada Luhan serasa ditendang oleh kaki-kaki kasar yang besar. Luhan tidak mengerti apa yang tengah dirasakannya. Yang jelas untuk saat ini, Luhan ingin menangis lagi; dan menyusun rencana untuk mendekati Sehun.

Sialan, Luhan ingin menangis karena terlalu lega.

"Kau kena denda karena terlambat mengembalikan buku selama enam belas hari hari, ya," Sehun menumpuk buku-buku itu menjadi satu, mengarahkan pandangannya tepat ke arah Luhan. "Dendanya lima ribu won."

Sehun mengerutkan dahi ketika mendapati pergerakan aneh dari bibir Luhan. Gadis itu menggigit belah bibirnya yang memerah, mencoba menyembunyikan getarnya yang samar. "Lu, kau tidak apa-apa?"

"T-tidak apa-apa kok," kata Luhan sambil menyerahkan uang lima lembar seribuan ke arah Sehun. "Sudah, ya."

"Tunggu, kau belum tanda tangan."

Luhan membubuhkan tanda tangan di jurnal yang diserahkan Sehun, dengan tangan yang menggigil hebat. Sehingga hasil tanda tangannya pun kelihatan seperti gumpalan yang dibuat oleh ceker ayam.

"Kau tidak apa-apa? Serius?" Sehun bertanya lagi.

Sebelum Luhan berhasil mengatakan jawabannya, tahu-tahu ada setetes air mata yang jatuh dan menjatuhi kertas jurnal itu. Dengan gerakan buru-buru, Luhan berusaha menghapus jejak air mata di pipi serta kertas jurnal itu.

"Lu, kau kenapa? Kenapa kau menangis?" Sehun keluar dari bilik teritorinya demi menghampiri Luhan. Tanpa sungkan, pemuda itu malah mengungkung pipi Luhan dengan telapaknya dan memaksa gadis itu mendongak. Ulu hatinya serasa ditonjok saat mendapati banyak sekali air mata di pelupuk Luhan. "Siapa yang membuatmu menangis?"

"B-bukan kau kok," kata Luhan seraya berusaha menarik diri, tapi tindakannya sia-sia. Sehun tidak melepaskan pipinya begitu saja. "Aku cuman ingin menangis."

"Hah?" Sehun mengerjap tidak habis pikir. "K-kenapa bisa begitu?"

"Kalau aku ingin ya ingin," ucap Luhan keras kepala.

Dada Sehun mengembang karena dia mengisi paru-parunya dengan udara sebanyak-banyaknya. Dua tangannya bertelekan pada pinggang sementara kedua bibir tipisnya mengerut maju. Pandangannya tampak semakin intens saat memerhatikan wajah Luhan.

"Selama ini kau kemana saja?" Sehun bertanya dengan nada penuh selidik.

Luhan mencoba menghindari tatapan Sehun, memandang apa saja yang bisa dipandang oleh matanya. Asal bukan wajah Oh Sehun. Sial, cengkeram Sehun pada pipi Luhan terasa semakin memabukkan.

"Kan bukan urusanmu," kata Luhan, cari aman.

"Kau menghindariku? Kenapa?"

"Tidak," Luhan menjawab dengan cepat, seolah dia bisa kehilangan banyak poin jika kehilangan kesempatan untuk menjawab. "A-aku mana pernah menghindarimu."

"Lalu kenapa kau tidak membalas pesan chat-ku? Dan kenapa kau mengirim temanmu untuk mengembalikan buku-buku itu?"

"Aku punya alasan untuk itu."

"Apa alasannya?"

Luhan jadi ingin menangis lagi saat Sehun berusaha memojokkannya dengan kalimat pertanyaan. Tapi kalau terus dipandang seperti ini, mana bisa Luhan menangis tersedu-sedu dan membiarkan ingusnya meleleh? Wajahnya saat menangis terlalu jelek. Dan Luhan tidak mau Sehun punya memori mengenai wajahnya yang tengah menangis.

"Katakan, Luhan. Kuharap kau bisa berterus terang."

Luhan sedang bertarung melawan dewi batin serta akal sehatnya. Jantungnya juga mengambil peran dengan menabuhkan debar yang tidak beraturan. Semakin cepat dan cepat. Kedua telapak tangan Luhan tergulung kuat-kuat.

"Sehun-ah," panggil Luhan dengan nada yang lebih stabil. "Sebenarnya, apa yang kau .., maksudku, menurutmu aku ini cewek seperti apa?"

Kedua alis Sehun melengkung tajam. "Maksudmu?"

"Jangan marah, ya. Tapi, aku .., sebenarnya, aku .., suka padamu, Sehun."

Sehun mengerjap tidak mengerti. Bukankah topik perbicangan mereka adalah mengenai 'Kenapa Luhan menangis'? dan kenapa Luhan malah ..,

Menyatakan perasaan?

Apakah Luhan baru saja menyatakan perasaan? Kepada Sehun?

Sialan. Sehun sampai merasa bingung dengan apa yang baru terjadi padanya. Semuanya memang membingungkan. Oke. Memang seperti itu. Tapi kalau Luhan mengungkapkan perasaannya pada Sehun, Sehun bisa menerimanya kok.

"K-kalau kau mau marah, tidak apa-apa kok. Aku bisa mengerti," kedua pelupuk mata Luhan dipenuhi oleh air mata. Bibirnya mengerucut imut seolah minta dicium. "P-perasaanku memang terlalu lancang. Jadi aku bisa—"

Luhan urung menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya karena tiba-tiba saja ada sebuah bibir yang menangkap bibirnya. Manik rusa Luhan membola karena terkejut, jantungnya malah dipukul habis-habisan oleh keterkejutan saat mendapati wajah Oh Sehun yang begitu dekat dengannya.

Oh Sehun yang menciumnya. Sehun yang membungkam bibirnya. Sebentar lagi, Luhan akan meledak menjadi bongkahan kecil yang menjijikkan karena dia kesulitan mengendalikan perasannya. Sengatan-sengatan yang berasal dari pergerakan bibir Sehun di bibirnya, menggeliat dan menyebar dengan kecepatan tinggi ke seluruh tubuh Luhan. Semua yang sempat disimpan dalam laci ingatannya, tiba-tiba menghilang tanpa bekas. Dan bayang-bayang mengenai ciuman yang sedang dilakukannya memenuhi otaknya. Terlalu banyak.

Ciuman ini ..

"Aku tidak pernah menyangka jika hari di mana kau akan mengatakan hal itu akan datang begitu cepat," Sehun mengatakannya saat dia menyudahi acara ciumannya. "Tentang kau yang menyukaiku."

Luhan menggulung telapaknya kuat-kuat ketika dia menyadari jika belah bibir Sehun mengilap dipenuhi air liur. Mungkin saja ada air liurnya yang tertinggal di sana. "L-lalu .., p-perasaanmu bagaimana?"

"Sudah jelas, 'kan?" Sehun nyengir lebar sampai matanya menyipit. "Kalau aku menciummu, berarti aku menyukaimu."

"Benarkah?" Sorot menyilaukan muncul secara berkala di manik mata Luhan. Ada binar harapan yang begitu besar di sana. "Kau menyukaiku?"

"Siapa yang tidak tertarik jika hampir setiap hari didatangi oleh cewek cantik dan diperhatikan diam-diam dari celah rak buku?"

Luhan merona. "K-kau tahu aku memerhatikanmu?"

"Tentu saja. Semua orang pasti juga tahu."

Seulas senyuman terbit di bibir Luhan yang basah. "K-kukira cewek sipit yang datang kemari tadi adalah pacarmu, jadi aku sempat patah hati dan .., menyuruh Xiumin pergi mengembalikan buku-buku yang kupinjam," dia menjelaskan tanpa disuruh—dengan melukis raut imut yang sangat menggemaskan.

"Cewek tadi? Byun Baekhyun?" Sehun mencoba memastikan siapa yang dimaksud oleh Luhan barusan. Dia mendesah tidak suka ketika mendapati anggukan kepala dari Luhan. "Dia saudara tiriku, Lu."

"Aku tahu," Luhan malah melingkarkan lengannya di sekitar pinggang Sehun. "Karena itu aku menangis lagi karena terlalu senang."

"Dasar," Sehun kembali mengecup bibir Luhan dan meninggalkan bunyi kecupan sensual di sana. "Untung kau mau datang kemari. Kalau kesalah pahaman itu terus berlanjut, apa yang akan terjadi pada kita berdua, huh?"

Luhan merona hebat ketika dia mendapat hujaman bibir dari Sehun. "K-kalau aku tidak datang, seharusnya kau yang datang padaku."

"Sudah kupikirkan kok," Sehun tersenyum lebar. "Tapi berhubung kau sudah datang dan aku sudah menciummu, jadi kita pacaran mulai hari ini."

Kembang api baru saja disulut dan meledak dalam dada Luhan ketika Sehun selesai mengatakan hal itu. Mendadak dia jadi ingin memeluk Sehun, memeluknya erat, dan menciumnya.

Seperti sekarang. Luhan yang memeluk Sehun erat, lalu mencium tepat di bibir pemuda itu. Luhan mendapatkan balasan yang cukup agresif dari bibir Sehun, membuatnya linglung karena tidak pernah merasakan sensasi meledak-ledak saat dicium seorang cowok. Luhan sampai harus mencengkeram erat-erat sisi pundak Sehun demi memastikan agar tubuhnya tidak merosot jatuh.

Suara denting pintu terdengar menyentak lalu suara cempreng terdengar setelahnya, "Oh Sehun! Sembunyikan aku dari .., oh, astaga!"

Seketika Luhan mendorong dada Sehun agar menjauh, ciuman itu selesai dalam persekon detik. Si cowok musang menoleh menatap ke sumber suara dengan tatapan penuh rasa marah, tapi yang ditatap hanya nyengir lebar.

"Aduh, aku mengganggu sesi ciumanmu, ya. Maaf, Sehun. Tapi ini mendesak. Tolong sembunyikan aku dari Park Chan—aaaaaah!"

Baekhyun tidak sempat melanjutkan kalimatnya yang panjang karena pada saat itu, Chanyeol masuk ke perpustakaan dan menyeret gadis itu keluar. Sehun yang dimintai tolong, hanya melukis seringai puas saat Park Chanyeol berpamitan padanya untuk membawa Baekhyun pergi dari sini.

"Saudaramu .., tidak apa-apa?" Luhan bertanya penuh nada prihatin saat melihat Baekhyun dipaksa masuk ke dalam mobil sedan oleh seorang cowok tinggi.

"Tidak apa-apa," Sehun mengedikkan bahu. "Jangan pedulikan mereka. Urusan kita belum selesai."

END

Ada yang mau cekek Baekhyun? Wkwk gue suka banget sama karakter baekhyun di sini yaampuun :3 Chanyeol yang arogan dan .., /kenapa malah bahas Chanbaek yang nyempil semenit di sini -_-/ btw, yeaah .. beginilah endingnya. Absurd tapi .., well, i hope you like it {}

Thanks banget yaaa buat para readers yang udah mau nyempatin waktu buat baca+review buat chap satu dan dua. Selalu menanti komentar-komentar kalian lho u.u so keep review, ya guys ..

See you soon in my next fic~

Xoxo.