#3 Crime
"She is a Bouquet of Lavender"
.
Disclaimer
© Masashi Kishimoto
.
Pair
Sasuke. U & Hinata. H
Slight others
.
Warnings
AU, OoC (I need it for the way of plot), typo[s], etc
.
Coklat Abu Presents
.
Ʈhe Ðark Ƒairy (The Dark Fairy)
.
"Lavender-sama!" Neji tergopoh-gopoh menghampiri sang mungil yang menderap langkah tepat di hadapan pintu kamarnya.
Sosok yang namanya disebut melirik datar ke arah samping. Memapah dua pasang lavender untuk saling temu dalam sebuah simpul kontak. "Neji-nii, tidak perlu seformal itu. Ini di luar jam tugas."
"Ah, maafkan saya," pemuda tampan yang tahun ini menginjak kepala dua tersebut membungkuk sejenak. "Ada kabar untuk Anda. Saya tengah menyeleksi calon pengganti untuk 'dia' dan Tokuma. Saya harap Anda bersedia memercayakan calon pengganti pada saya."
Sang dewi lavender membuka pintu kamarnya, tersenyum setipis mungkin, dan menjawab, "Aku mengerti."
BLAM …
Pintu pun kembali tertutup sudah. Neji tak tersinggung meski beberapa detik yang lalu ia cukup tak digubris oleh sang atasan yang merangkap sepupunya itu—yang hanya menelan sebaris klausa datar atas usahanya yang rela berlari-lari sepanjang koridor kediaman Hyuuga yang tak dapat dikatakan berjarak pendek. Sebuah ritual sehari-hari mendapati Hinata dalam pribadi kristal es yang beku. Pemilik codename Taube itu telah cukup banyak paham akan kondisi yang memaksa Hinata untuk berlaku sedemikian rupa. Namun, tetap, Neji tahu bagaimana Hinata beberapa tahun yang lalu. Seorang gadis lugu nun baik hati yang bahkan tak akan tega membunuh semut sekalipun, dan pahatan pribadi Hinata yang sekarang begitu membuatnya iba.
Haruskah waktu menadirkan sang gadis pada hitam dunia?
Gegap gempita meledak seketika sesaat di gerbang utama Konoha Gakuen pasca dua manusia pemilik Adam apple temurun dari Bugatti Veyron. Ada gula ada semut, ada dua pemuda tampan tentulah pula mengundang serbuan para gadis yang antusias dan terjun langsung menjadi penggemar sang pemuda.
Dua pemuda yang tampak kontras sebagai simbolisis siang-malam tak acuh. Instrumen sorai kekaguman selalu mereka dapatkan dimanapun mereka berada, dan itu membuat mereka terbiasa akan fenomena banjir penggemar tersebut. Wajah tampan serta bidang tubuh atletis adalah alasan utama untuk muasalnya.
"Dobe!" Pemuda dengan balutan kulit putih pucat berpadu hitam eksotis dari semurai dan iris matanya sedikit merasa risih akan kehadiran sang sahabat di sisi kiri. Ia, Sasuke, tak pernah menyangka bahwa harinya menjalani misi akan diisi pula oleh eksistensi Naruto, sang sahabat, yang ramai oleh ceria pembawaannya. Semacam kejutan? Mungkin. Karena yang ia tahu, pemuda pirang cerah tersebut mendadak menjemputnya ke kediaman Uchiha. Memerintah untuk lebih kiat berbenah diri menuju sekolah barunya. "Kenapa kau ada di sini? Setahuku, profesimu hakim. Sejak kapan kau banting stir menjadi detektif, eh?"
Sang hakiki dari lensa mata samudera hanya mengabsen deretan giginya di depan wajah Uchiha muda. Penangkal sempurna untuk sebuah pukulan telak yang ingin sekali Sasuke layangkan saat ini juga. "Tak ada salahnya, 'kan, membantu sahabat. Lagipula mencari jejak organisasi hebat lebih mendebarkan dibanding memaku diri di kursi pengadilan dan mengetuk-ngetuk meja dengan palu."
"Tapi, ini bukan permainan, Dobe. Salah-salah nyawamu taruhannya."
"Hei," pemuda jabrik menghentikan langkah seraya memajang air muka yang digelimangi keseriusan sementara pemuda raven mengadopsi henti langkahnya beberapa saat kemudian. Tepat ketika jarak mereka terpaut sedikit jauh, generasi Uzumaki termuda menandaskan, "Jika taruhan menjadi nyawanya, justru aku akan semakin tertarik untuk mengupas kasus besar ini. Aku tak akan membiarkanmu bertindak gegabah seperti saat itu—"
"—Naruto," sorot pandang Sasuke sontak mendingin, "tak usah bahas itu lagi."
Seiring dengan vonis ucapan dari Sang Uchiha, bel tanda masuk berdering. Membuat mereka serta merta tergesa menuju ruang kepala sekolah.
Mengabaikan segala pekik dari kaum Hawa.
"ASTAGA! HINATA! PIPIMU KENAPA?" Sakura menjadi panik saat Hinata datang pada saat bel telah berdering dengan aksesoris plester luka yang menempel di pipi kirinya.
Ino dan Temari bahkan spontan menubruk setiap siswa yang menjegal langkah mereka menuju jarak terdekat dengan Hinata. Sang gadis bertopeng dusta tersenyum. "Kemarin sore aku dicakar kucing peliharaanku."
Tiga gadis silih lempar pandangan, mengerti bahwa ada suatu hal yang ditutupi kebenarannya oleh yang bersangkutan. Hinata memang kerap kali berbohong. Namun, kebohongan inilah yang adanya tercium pekat. Tentu saja, mengingat bahwa sang gadis begitu mudah berbaur dengan hewan, dan tak pernah mencentang angka luka hasil asusila dari makhluk hewani.
Sakura yang cerdas memutar logika. "Aaah, aku tahu. Kucing yang mencakarmu kemarin sore adalah kucing menyebalkan dengan seifuku dan make up. Benar, bukan?"
Ino dan Temari kini yang terjerat kemelut bingung. Hingga mereka ikut mencerna ucapan Sakura dan berhasil menyimpulkan sesuatu.
"APA? MAKSUDMU SENPAI-SENPAI MENYEBALKAN ITU?" Temari mengangkat kepalan tangan penuh kegeraman. "Biar kurusak wajah cantik mereka dengan tinjuku!"
Hinata dibuat kalang-kabut oleh reaksi sahabatnya yang cepat meledak itu. Sigap, ia menarik lengan Temari. Meyakinkan pula kepada tiga sahabatnya bahwa ia baik-baik saja, dan sama-sekali tidak mempersoalkan kejadian saat ia dibuli oleh sekumpulan gadis binal.
"Luka tak perlu dibalas luka," Hinata menggenggam tangan tiga sahabatnya. "Yang terpenting aku punya sahabat yang dapat membuatku melupakan persoalan tersebut."
Sakura, Ino dan Temari terpana. Hinata yang berbesar hati memang menjadi ciri utama yang membedakan betapa berbedanya Hinata dengan gadis lain. Meski mereka tak tahu wujud lain dari Hinata dalam kegelapan. Toh, Sang Lavender memang serius dengan apa yang ia ucapkan. Ketiga sahabatnya dapat membuat ia melupakan jati diri pahit yang harus ia terapkan dalam kehidupannya. Sebuah penetralisir dari racun hidup yang kian waktu kian menggerogoti jiwa murninya yang enggan jatuh dalam puruk kehidupan.
Empat sahabat terseret momen mengharukan hingga seorang pria berjenggot merasuk ke ruang kelas dengan seorang pemuda di sisi kanannya.
Ia menepuk tangan, instruksi agar para pelajar berkenan mengakar di kursi selama jam KBM berlangsung.
"Anak-anak," suara baritone-nya mengisi ruang kelas. "Bapak membawa seorang teman baru untuk kalian. Nah, Uchiha, cepat masuk!"
Komando yang diserukan membuat seorang pemuda jelmaan Venus de Milo yang gagah tanpa tuna melangkah masuk. Kembali mengumbar sorai kagum dari siswi-siswi yang mendadak ribut.
"Tenang sebentar, anak-anak!" Pukulan di meja mengheningkan suasana. "Dia adalah Uchiha Sasuke. Pindahan dari Oto Gakure. Sebenarnya ada dua siswa pindahan dari Oto hari ini. Hanya saja siswa satunya ditempatkan dalam kelas yang berbeda. Bapak harap kalian dapat menjadi rekan yang baik untuknya."
Di antara orientasi yang disampaikan Asuma-sensei, tak ada satu katapun yang lolos dari gendang telinga Hinata yang kini duduk sembari menelengkupkan kedua tangannya di atas meja. Meski demikian, sejujurnya pikiran sang gadis tengah melambung entah kemana. Ia kini paham mengapa pemuda tersebut berkata seolah mereka akan berjumpa kembali. Karena teridentifikasi faktanya bahwa mereka memang akan intensif bertemu selama satu minggu via sekolah. Dimulai hari ini.
Langit malam bertemu gemerlap salju. Oniks dan lavender pasi bertubrukan. Sang semurai indigo menundukkan kepalanya, menentang adanya sumbu antara lensanya dengan lensa sang pemuda. Bukan karena rasa malu, melainkan suatu kecurigaan.
Hinata merasa ada tekanan kuat dalam diri sang pemuda untuk hidupnya setelah ini. Meski spesifikasinya belum ia telaah dengan jelas. Namun, ia menjamin bahwa kini perasaannya tidak tenang. Seolah sang pemuda adalah ancaman untuknya. Ya, ia sanggup merasakannya hanya dengan berpandangan dengan dia, Uchiha Sasuke.
Sakura memandang tajam pemuda raven yang kini tengah dikerubungi gadis-gadis, sementara Ino dan Temari mengipasi diri mereka dengan sebuah buku sebagai media alternatif pengganti kipas asli.
Istirahat kini ruang kelas mereka menjadi sesak dengan sebab yang tak perlu dipertanyakan. Kehadiran kumbang jantan itulah yang menarik kumbang betina genit untuk mendekat, dan itu membuat kelas mereka terasa sesak oleh siswi yang rela berjejalan hanya demi mendekat pada sang idola yang tak lain adalah Uchiha Sasuke.
"Aku tidak mau tahu, yang jelas aku benci pemuda itu!" Sakura berdecih, diikuti dengan anggukkan Ino pertanda ia menjadi pihak affirmative di sini.
"Benar~ dia membuat kelas ini terasa panas oleh kerumunan siswi-siswi~"
"Aku ingin pemuda pantat ayam itu pergi dari sini!" Serapah keluar dari mulut Temari, menyambung gerutuan dua sahabatnya yang lain.
Hinata yang hanya terdiam tak menimpali atau barang kali tergelitik sedikit saja untuk menyumbang suara. Ia pernah ditolong sang pemuda. Jadi, bagaimanapun ia tak mungkin mencelanya. Ia bukan gadis sekurang ajar itu pada pahlawan yang telah sudi menolongnya.
Terlebih, Hinata ingin memastikan satu hal. Yakni, kecurigaannya pada sang pemuda yang tak kunjung mendapat penyelesaian.
SREK!
"SASUKEEE~"
Alunan nada tenor berpadu serak basah membahana dari arah pintu kelas. Pelakunya sudah barang tentu pemuda tampan nan ceria yang kini melambaikan tangannya tinggi-tinggi pada sang sahabat. Siapa lagi? Ya, Uzumaki Naruto. Ialah penyuara dari alunan-alunan nyaring barusan. Kehadirannya yang ternyata diikuti oleh barisan gadis-gadis seperti halnya Sasuke, memaksimalkan kepadatan dalam ruang kelas tersebut.
"SASUKE, DENGAR!" Sang pirang bicara dengan suara kencang ketika ia telah berada di samping Uchiha muda, "RAMEN DI SEKOLAH INI BENAR-BENAR LEZAT! TADI AKU BOLOS PELAJARAN KEDUA DAN PERGI KE KANTIN UNTUK MEMESAN LIMA MANGKUK RAMEN! TAPI, KARENA KURANG, JADI AKU BERMAKSUD MENGAJAKMU KE KANTIN ITU SEKARANG—"
—BRUAKKK!
Suara gebrakkan tiba-tiba dari arah meja tempat dimana para primadona Konoha Gakuen berkumpul menyita perhatian seketika. Termasuk Naruto yang entah sedari kapan menjadi bungkam dan memilih memorsir perhatian pada sang gadis yang barusan menghantamkan tinjunya di meja tak berdosa itu.
"BERISIK!" Gadis bersurai lolipop menuntaskan amarah yang sedari tadi diredamnya, "AKU INGIN MENIKMATI WAKTU ISTIRAHAT DENGAN DAMAI! KEMUDIAN SEORANG PEMUDA UCHIHA DATANG DAN MERUSAK KEDAMAIAN ITU!"
"KEMUDIAN …," jemari telunjuk Sakura mengarah kepada Naruto, "SEORANG PEMUDA RAKUS DATANG DAN MEMBUAT RUANG KELAS INI SEMAKIN MENYESAKKAN!"
Tak terima dikatai rakus, Naruto mencondongkan tubuhnya ke arah sang gadis yang tak terlalu jauh dari jangkauannya, "Ini bukan sekolahmu, Nona! Jadi aku bebas melakukan apapun yang kumau!"
"OH, YA? INIPUN BUKAN SEKOLAHMU, BAKA!"
"APA? DASAR PEREMPUAN BERTENAGA RAKSASA!"
"PIRANG TIDAK SOPAN!"
"PERMEN KARET CEREWET!"
"SOK TAMPAN!"
"SOK CANTIK!"
Belum sempat Sakura memberi serangan balasan kembali, telapak tangan Hinata telah mendarat menutupi mulut sang gadis cantik namun kuat tersebut. Sang raven pun tampak memahami keadaan dan bergegas menarik siluet Naruto untuk beranjak dari sana setelah sebelumnya ia membungkuk sedikit sebagai pertanda maaf—yang entah kenapa ditujukan justru kepada Hinata yang sama-sekali tak memiliki andil dalam kekisruhan ini. Sang pemilik iris lavender turut membalas anggukkan sang pemuda yang usai kepergiannya, kontan membuat ruangan luput dari sesak.
"Hah! Mood-ku rusak karena dua pemuda itu! Terlebih karena pemuda pirang itu! Aku tidak suka pemuda bodoh seperti dia! Menyebalkan!" Sakura menggerutu sembari melangkahkan kaki ke dekat jendela kelas. Menyibak tirai yang menutupi pemandangan indah di baliknya, pepohonan rimbun.
Ino dan Temari angkat bahu lalu menyusul Sakura, berniat menenangkan amarah sang gadis yang tengah meluap-luap.
Sang dewi pendusta hendak melangkahkan kaki mengekori sahabat-sahabatnya jikalau irisnya tak bersimpangan dengan sebuah benda tipis yang nyaris menjadi landasan kakinya. Sebuah kartu. Lengan mungil Hinata terulur untuk meraih benda tipis berbentuk kartu tersebut.
Sorot sang gadis yang lembut berganti dengan kilat kebekuan. Seringai kecil terpampang misterius di wajah manisnya.
Kartu di tangannya adalah kartu identitas Sasuke. Kartu yang rupanya menguak perkara mengapa ia merasa curiga kepada sang pemuda tanpa sebab yang jelas.
Jadi begitu, ya … kulayani jika kau ingin mengusut organisasi milikku … kupertaruhkan nama "Lavender"-ku … Detektif …
Senja hari. Setelah segala tetek bengek di siang hari, Hinata sama-sekali tak terlibat perbincangan dengan sang pemuda pindahan dari Oto hingga saat pelajaran usai, dan murid-murid beranjak ke rumahnya masing-masing. Benak sang dewi tersesat tengah dipenuhi oleh tumpukan rencana yang selama jam pelajaran ia susun sedemikian rupa. Sebuah bendera perang ia akan kibarkan dalam waktu dekat. Menjerat pemburu yang berniat memangsa ia beserta anggotanya. Akan ia salami jabat tangan penanda perang dimulai dengan tangan terbuka, dengan perang yang terbuka pula. Pun ia berani bertaruh bila ia akan memenangkan pertarungan ini.
Suasana kelas telah lengang. Sang gadis bersurai indigo berniat menata kembali tamannya yang sempat dirusak sehingga ia terpaksa menunda jam pulangnya lebih lama. Yang berbeda adalah bahwa kali ini ada sosok pemuda tampan yang juga berada di sana. Wajahnya yang datar namun sarat akan kepanikan yang disembunyikan begitu lihai mau tidak mau membuat Hinata terkikik puas dalam hati dari sisi gelapnya.
"Mencari ini?" Hinata menyodorkan kartu tersebut kepada sang pemuda yang ditanggapi oleh kecanggungan.
"Kau … sempat melihat data di kartu ini?"
Kembali, ia angguk kepalanya demi sebuah gesture "iya".
Sang detektif muda terdiam, mendecih kecil, sebelum akhirnya menarik pergelangan tangan Hinata untuk sebuah kecupan singkat di bibir.
"Rahasiakan dari yang lain …," sang pemuda bergegas meninggalkan ruang kelas dengan Hinata yang masih termangu tanpa gerakan berarti.
Sepertinya, ia harus menunda rencananya untuk kembali menata taman petang ini. Karena ia merasa ia akan limbung dan jatuh pingsan tak lama lagi bila berlama-lama berada di sekolah dan mengingat rekaman ulang kejadian barusan yang berlangsung secepat kilat.
Peluru yang meluncur begitu pesat dari pelatuk yang tergenggam erat di jemari mungil Hinata dengan sukses meraih titik target tepat di tengah. Suatu kemampuan dari sang pemimpin yang tak boleh diremehkan sama-sekali. Demi sebuah misi yang ia tajukan sebagai "Misi Melupakan Kecupan Sasuke Tadi", sepulangnya dari sekolah, gadis berperangai ganda itu lekas-lekas melanglang ke ruang latihan tembak. Konsentrasi yang semula berpusat pada adegan kecupan kini dapat disubstitusi oleh titik fokus yang menjadi dasar tembak-menembak.
Dua jam, dan ia rasa itu telah cukup hingga sebuah ketukan membuat ia meletakkan pelatuknya di atas meja.
"Masuk."
Surai-surai panjang itu menari dengan gemulai, mencitrakan betapa mempesona pemiliknya yang kini tengah berjalan. Neji, atau sebut saja Taube. Ia melenggang ke dalam ruang latihan dengan pakaian kasual yang jarang ia kenakan. Dengan aksen peluh di sekitar leher sang pemuda yang membuatnya terlihat sensual.
"Saya membawa dua orang terpilih itu, Lavender-sama."
Mendengar laporan Neji, sang puteri kegelapan duduk di atas singgasana yang terletak di pusat ruang latihan dengan angkuh. Disilangkan kaki serta tangannya untuk memerlihatkan betapa kokohnya ia sebagai seorang pemimpin meski gender membatasi.
"Wah, wah," suara yang amat Hinata kenal terdengar, "aku memang merasa selama ini sosokmu selalu mempesona. Aku merasa kau itu lain dari gadis normal sebayamu. Tetapi, tidak aku sangka bahwa kau sehebat ini, Hinata. Ah, maksudku, Lavender-sama."
Lavender Hinata membulat sejenak. Namun, ia tahu, ia harus mengatasi keterkejutannya di balik topeng angkuh yang ia kenakan. "Kau …. "
Sang Lavender memang tak mengenali sosok pemuda satunya. Namun, ia teramat familiar dengan sosok pemuda tampan yang kini membungkuk hormat di hadapannya.
"Inilah bawahanmu yang baru, Lavender-sama. Mereka satu sekolah dengan Anda. Jadi, akan sangat mudah bagi mereka untuk melindungi Anda dari ancaman tikus-tikus itu." Neji menarik nafas, dan menyerukan dengan lantang, "Mulai hari ini kalian akan mengabdi kepada Lavender-sama dan organisasi. Berjanji melaksanakan misi dengan baik tanpa kesalahan. Kupercayakan pengamanan Lavender-sama pada kalian … Akasuna no Sasori."
"Baik," pemuda bersemurai merah bernama Sasori berlutut.
Neji lalu menggerakkan dagunya pada seorang pemuda yang lalu ikut berlutut patuh seperti halnya Sasori di hadapan Hinata. "Sabaku no Gaara!"
"Baik …. "
To Be Continued
