New chapter is coming!
Thanks buat yang udah me-read, mem-follow, mem-fav! Dan terutama yang sudah me-review: WbQueen, AN Narra, Yuki ChibiHitsu-chan, Shioreinz, Guest, dan myuu! Two thumbs up! *grin
Tak lama-lama lagi, selamat membaca!
P.S: tinggalkan jejak anda di kotak review, please!
Chapter 3
Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa tak ada kebaikan yang dibawa dalam setenggak minuman keras. Sepertinya pepatah itu memang benar adanya. Minuman keras itu tidak baik untuk kesehatan. Tak perlu dijelaskan disini; ini bukanlah essai kesehatan. Minuman keras juga berdampak negatif pada perilaku. Tak perlu diuraikan, ini bukanlah jurnal sosiologi-psikologi. Yang jelas, jika kau sudah tahu bahaya yang ditimbulkan – bacalah buku dan internet, sobat – jangan pernah mencoba melakukannya. Kau tidak perlu mengalaminya dan mengalami penderitaan yang sama dengan mereka.
Penderitaan macam apa?
Merusak organ dalam tubuhmu adalah sesuatu yang buruk. Dan, merusak harga dirimu adalah sesuatu yang lain.
Bagaimana bisa?
Sekelompok pria bertubuh besar dan berwajah sangar yang kesadarannya sembilan puluh persen dibawah kendali minuman keras terkapar dan babak belur di lantai kedai kecil di salah satu sudut Distrik 32, yang kesemua pengunjungnya menatap orang yang bertanggung jawab atas itu dengan tak percaya. Seorang anak laki-laki yang sepertinya baru beranjak remaja berdiri di antara tubuh-tubuh tak berdaya itu dengan ekspresi datar. Ia baru saja membereskan sepuluh pria dewasa yang anggota paling kecilnya adalah tiga kali besar tubuh anak itu hanya dengan tangan kosong. Entah karena refleks dan kemampuan beladiri si anak yang kelewat bagus atau sepuluh berandalan itu yang kelewat mabuk, tidak ada yang tahu. Tak bisa dipungkiri, mereka akan mendapat pelajaran bagus setelah ini; jangan menenggak anggur dan membuat masalah atau seseorang yang kau remehkan akan mematahkan hidungmu.
Toushiro menoleh ke arah si wanita pelayan yang menatap para berandalan dan dirinya dengan tatapan sangat kaget.
"Maaf untuk kekacauan ini, Nyonya," kata Toushiro datar.
"Ah! Ini, ini," Fujimoto buru-buru mengeluarkan kantong uangnya dan memberikan sejumlah keping kan ke tangan si wanita, "untuk ganti rugi yang kami timbulkan. Maafkan kami, Nyonya." Dengan agak ragu Fujimoto menatap atasannya, "Ayo kita pergi."
Toushiro mengangkat sebelah alisnya; tapi toh ia setuju dengan Kursi Ketiganya itu. memberi bungkukan sopan ke si wanita, ia lalu mengikuti Fujimoto keluar kedai. Namun, saat ia berada di ambang pintu, Toushiro menoleh, "Saya sarankan anda melaporkan mereka pada shinigami penjaga yang ada di Distrik ini. Mereka akan memastikan berandalan itu tak bertingkah lagi."
"A-ah, ya, te-tentu saja," sahut wanita itu gugup.
Dan Komandan Divisi 10–yang–sedang–dalam–penyamaran itu pun pergi.
"Siapa bocah itu?" tanya seseorang, memecah keheningan yang muncul sejak penghajaran para berandal itu usai. Pertanyaan itu tak ada yang bisa menjawabnya.
"Eng, Komandan?" ujar Fujimoto pelan, membuka percakapan dengan ragu. Saat itu mereka sudah tidak lagi di daerah pemukiman. Mereka memutuskan untuk menyusun rencana penyelidikan di dalam hutan kecil di dekat daerah itu.
"Hn?" hanya itu sahutan Toushiro.
"Apa yang tadi itu tidak apa-apa?" tanya Fujimoto.
"Tentu saja. Jangan cemas soal kerugiannya; itu tanggung jawabku."
Fujimoto meringis. Bukan soal ganti rugi yang menjadi tujuan pembicaraannya. Sudah jadi aturan tak tertulis bahwa setiap komandan akan membayar kerugian yang ditimbulkan dalam kasus di dalam divisinya, tak membebankannya pada divisinya. Dan kali ini, penggantirugian atas lima meja yang rusak parah, beberapa botol sake berikut beberapa-yang-lebih-banyak dari cangkir sake-nya yang pecah karena komandan kecilnya itu memutuskan untuk sedikit melemaskan ototnya bukan hal berat untuk diselesaikan dengan beberapa keping kan.
Sama sekali bukan soal ganti ruginya. Lagipula gaji komandan jauh lebih besar dari perwira sepertinya, jadi itu bukan, sekali lagi, bukan masalah besar. Dan Fujimoto tahu betul bahwa Komandan Hitsugaya tahu apa yang dimaksudkannya. Ayolah, dia bicara dengan si jenius!
Toushiro mengerling sekilas, mendapati ekspresi Kursi Ketiga-nya yang tercabik antara putus asa dan geli. Ia menghela napas. "Dan jangan cemas tentang tindakanku tadi. Aku juga sudah mengirim pesan untuk shinigami Divisi 10 yang sedang patroli di sini. Bagaimanapun juga Distrik 32 termasuk Distrik yang dibawah pengawasan dan perlindungan Divisi 10. Keamanan para konpaku menjadi tanggung jawab kita, entah ancamannya adalah para hollow ataupun konpaku yang lainnya."
Fujimoto mengerjap berkali-kali, seakan tak mempercayai apa yang barusan di dengarnya. Namun sedetik berikutnya ia baru menyadarinya. Lebih dari dua dekade ia mengenal Toushiro Hitsugaya, sebelum dan sesudah ia menjadi seorang komandan, ketelitian, kecermatan, dan dedikasinya pada tugasnya masih saja sama.
Sepertinya ia tak perlu mengkhawatirkan apapun.
"Jadi, Komandan, selanjutnya ke mana?" tanya Fujimoto dengan suara lebih ringan.
Di tengah persiapan pernikahan yang rumit, Harry mendapati Mrs Weasley merencanakan pesta ulang tahunnya yang ketujuh belas. Ini, tentu saja membuat Harry merasa tidak enak.
"Saya tidak ingin keramaian," kata Harry segera. "Sungguh, Mrs Weasley, makan malam biasa saja sudah cukup… Itu hari sebelum pernikahan…"
Mrs Weasley menatap Harry dengan prihatin, lalu memberinya senyum hangat, "Baiklah kalau kau yakin, Nak. Tapi bagaimana jika kita mengundang Remus dan Tonks, dan Hagrid?"
"Itu akan menyenangkan sekali," kata Harry, tersenyum ragu, "Tapi tolong jangan repot-repot."
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa… sama sekali tidak repot, Nak."
Harry tahu Mrs Weasley benar memaksudkannya. Jika dia mengatakan itu tidak merepotkannya, maka beliau memang sama sekali tak menganggap hal ini sebagai hal yang menyita waktu ataupun tenaganya. Tapi bukan berarti Harry bisa melepasnya begitu saja. Ia menyesali bahwa ulang tahunnya justru membebani Mrs Weasley.
Tidak hanya itu. Ia merasa keberadaannya membuat semuanya harus menanggung tekanan dan penderitaan yang dia miliki selama tujuh belas tahun hidupnya. Ini lebih dari sekedar membuatnya merana.
Sebuah siluet tampak memanjang di lantai kusam koridor kosong di lantai tiga sebuah apartemen. Sungguh suasana yang bertolak belakang dengan hingar bingar ibu kota Jepang di banding salah satu sudut Kota Tokyo ini. Terdengar langkah kaki gontai mengiringinya, baru berhenti ketika sosok itu tiba di depan salah satu pintu. Jelas bahwa itulah tujuannya. Sosok itu merogoh tasnya, mencari-cari sesuatu sementara tangan lainnya memegangi setumpuk buku tebal. Namun, usahanya terinterupsi oleh sederet nada dari saku jaketnya. Mengutuk pelan, ia memilih mengambil benda yang menjadi asal suara; sebuah ponsel.
"Apa?" gerutunya.
"Apa begitu caranya menjawab telepon teman lama?" terdengar suara seorang perempuan dari sana, nadanya setengah geli setengah mencela.
"Mungkin. Memangnya kenapa?"
"Galak betul, Ichigo. Kau ada di mana?"
Ichigo Kurosaki mendengus, "Di depan pintu apartemen. Aku baru pulang, Rukia."
"Baru pulang? Jam segini? Ngapain kau?" suara di seberang sana, milik Letnan Divisi 13 terdengar ingin tahu. "Patroli?"
Ichigo mengerling sekilas ke ponselnya. Jam di sudut layar menunjukkan pukul setengah sepuluh, cukup larut, memang. "Kuliah malam. Ada praktikum tadi dan aku juga ke perpustakaan kota."
"Oh. Ternyata anak kuliahan ini makin sibuk, ya."
Si rambut jingga mengernyit, "Kalau kau menelepon cuma untuk menggerecokiku lagi mending kututup sa –"
"Ck, anak kuliahan ini juga makin sensi, ternyata. Baiklah aku langsung saja, nanti anak kuliahan jadi bad mood."
"Rukia," keluh Ichigo.
Didengarnya tawa kecil shinigami pertama yang ditemuinya itu, membuat kernyitan di antara alisnya makin dalam, "Oke, oke. Tadi aku mampir ke tempatmu, tapi kau tidak ada. Tadi pagi aku ke Inggris sama Renji..."
Mata Ichigo melebar. "Kau – apa?!"
"Ya, ya. Aku diminta Komandan Hirako untuk membantunya menemui kontak kita dengan Dunia Sihir."
"Kau ketemu Harry?" tanya Ichigo segera.
"Oh, ya. Tentu saja. memang itu tujuannya, kan? Dia oke, kalau itu yang kau tanyakan. Yang lainnya sepertinya juga begi –"
Kata-kata Rukia terpotong oleh sebuah teriakan. Suara Rukia tenggelam sejenak oleh rentetan suara tak jelas.
"Oh, maaf, Ichigo," ada sedikit ketergesaan di suaranya yang akhirnya terdengar lebih jelas, "aku sedang buru-buru. Aku cuma mau beritahu, tadi Harry titip surat pada kami. Aku taruh suratnya di bawah pintumu. Sudah dulu, ya. Sampai nanti."
Dan hubungan terputus.
Ichigo menatap layar ponsel yang padam, mengerjap.
"Che. Dasar." Ichigo memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan menarik kunci apartemennya. Pintu terbuka. Meski baru diterangi lampu jalan di luar sana, ia bisa melihat sebentuk amplop kekuningan tergeletak setengah meter dari pintu. Ia menyalakan lampu, lalu menutup pintu di belakangnya. Membungkuk rendah, ia mengambil amplop perkamen itu, familiar dengan teksturnya yang tak sehalus kertas dan bau kulit samar.
"Sudah lumayan lama," seringainya tipis.
Ichigo mengeyakkan diri di atas sofa di ruang tengah, buku-buku tebalnya dibiarkannya bertengger di atas meja kopi. Agak tak sabar, ia merobek amplop itu dan menarik surat di dalamnya. Ia mengenali tulisan rapi dan kecil-kecil Hermione Granger.
Dear Ichigo,
Bagaimana kabarmu? Kami benar-benar berharap kau baik-baik saja, juga keluargamu, dan teman-temanmu. Kami benar-benar minta maaf karena kami tak memberitahukan apapun sejak awal musim panas lalu. Keadaannya benar-benar di luar kendali. Dan sekarang sulit untuk menghubungi orang luar, entah dengan burung hantu atau yang lainnya. Dan kemudian Rukia dan Renji tiba-tiba saja datang ke The Burrow! Kami jadi ingat yang seharusnya kami lakukan dan kami tahu kalau kami bisa mempercayai mereka untuk memberitahumu apa yang terjadi. Yah, mempercayai orang jadi hal sulit sekarang.
Aku yakin kau tahu soal keanehan yang terjadi belakangan ini. Rukia juga memberitahu kami kalau dementor bergentayangan di mana-mana, bahkan sampai ke Jepang. Oh! Aku harap tidak ada hal serius yang terjadi! Kau tahu mereka bisa jadi sangat mengerikan! Dan inilah yang harus kami beritahukan.
Kau-Tahu-Siapa sudah bergerak aktif.
Dia memang bergerak dalam bayangan, tapi pengikutnya terang-terangan menunjukkan agresi mereka. Dia melepas makhluk-makhluk kegelapan ke berbagai tempat – salah satunya dementor itu. Aku tahu terdengar konyol memintamu melakukan ini, tapi berhati-hatilah. Apapun bisa terjadi.
Dan soal yang ingin kami beritahukan, yah, hal besar terjadi di akhir tahun ajaran lalu. Kepala Sekolah Dumbledore wafat...
Otak Ichigo serasa macet membaca empat kata terakhir yang baru dibacanya. Kakek Tua itu sudah meninggal? Ichigo menunduk ke suratnya lagi.
...Begitu juga dengan Sirius...
Apa?!
... Ada beberapa Pelahap Maut yang berhasil menerobos masuk ke Hogwarts di akhir tahun ajaran lalu. Beberapa anggota Orde memang berjaga di Hogwarts. Tidak ada anak-anak yang jadi korban, untunglah. Tapi para Pelahap Maut itu bergerak sembunyi-sembunyi, kami tak menyadari sampai semuanya terlambat. Profesor Dumbledore jatuh dari Menara Astronomi setelah dihantam Kutukan Kematian oleh Snape. Dan Sirius juga, dibunuh Bellatrix Lestrange.
Pantas saja mereka tidak menyuratinya. Kematian dua orang yang bisa dibilang berperan penting dalam kehidupan Harry jelas menyita perhatiannya yang dipenuhi duka.
Kami tahu harusnya kami mengabari kalian tentang berita sepenting ini. Kami sungguh minta maaf karena kami tak mengatakan apa-apa. Setelah kematian Dumbledore dan Kau-Tahu-Siapa makin memperjelas kekuasaanya, sangat riskan untuk melakukan banyak hal, termasuk mengirim burung hantu ke luar negeri. Neville dan Luna juga kami beritahu, dan mereka mengerti (Neville sepertinya keberatan sekali. Dia sepertinya senang menyurati kalian)
Ichigo menyeringai. Lebih dari senang, malah. Surat Neville Longbottom selalu panjang. Tulisannya kurus, tak seperti yang membuat, dan dia bukan Hermione.
Tapi karena kami bisa mengontakmu, kami sekalian menitipakan salam untukmu, teman-temanmu, dan keluargamu (Kami juga membuat surat lain untuk Toushiro, kok). Aku yakin mereka juga akan mengatakan hal yang sama.
Ada banyak hal yang ingin kami ceritakan pada kalian, tapi surat rasanya tidak akan cukup. Kami benar-benar minta maaf karena kami tidak bisa memberitahumu dengan ini.
Sekarang kami semua ada di The Burrow. Rumah keluarga Weasley sekarang jadi markas sementara Orde Phoenix. Kami tak bisa gunakan Grimmauld Place, soalnya Snape tahu tempatnya dan bukan tidak mungkin dia akan mendatangi tempat itu. Bisa bahaya jika dia dengan Kau-Tahu-Siapa sendiri dengan antek-anteknya datang waktu kami semua ada di sana. Kami memindahkan Harry dari rumah pamannya beberapa waktu lalu. Bukan hal mudah, karena Pelahap Maut juga berjaga di Little Whinning. Kami kehilangan Mad-Eye Moody.
Astaga, berapa banyak penyihir yang dikenalnya yang tewas?!
Sepertinya surat ini jadi pembawa kabar duka, ya? Sekali lagi, maaf ya. Tapi kami tak hanya memberitahukanmu soal itu. Di The Burrow cukup sibuk sekarang. Kakak tertua Ron, Bill, akan menikah awal Agustus ini, dengan Fleur Delacour. Kami pernah ceritakan padamu, tentang perwakilan dari Beauxbatons di Turnamen Triwizard di tahun keempat kami. Rukia bilang kau cukup sibuk dengan kuliahmu, beruntung sekali. Kau tidak perlu ikutan mempersiapkan pernikahan yang lebih ribet dari membereskan Grimmauld Place. Mrs Weasley membuat kami bekerja – Ron bilang – lebih parah dari peri rumah.
Meskipun demikian, kami akan senang jika kau bisa datang. Mrs Weasley juga ingin Rukia dan Renji tinggal waktu mereka kemari. Sayang, sepertinya mereka terburu-buru. Dan sepertinya Toushiro juga sibuk, mereka bilang dia ada misi penting. Kami mengerti jika kalian tidak bisa datang nanti, tapi doakan acaranya bisa lancar, ya. Semoga kuliahmu juga lancar. Dan semoga keadaan sulit ini bisa segera berakhir.
Jaga dirimu baik-baik.
Harry, Ron, dan Hermione.
PS: Kami sangat mengerti jika kau tidak membalas surat kami. Kami juga tidak bisa menelepon jika kami ada di teritori sihir.
Ichigo menghela napas. Perkamen ditangannya sekarang ditatapnya dengan pandangan kosong.
Dumbledore sudah meninggal. Begitu juga Sirius. Dan Moody. Akan ada banyak lagi yang akan gugur bagi mereka yang melawan Lord Voldemort. Ia sendiri ingin sekali segera ke Inggris. Ia tidak tahu seberapa banyak bantuan yang bisa ia berikan, tapi paling tidak ia bisa berada di samping teman-teman penyihirnya. Ia cukup tahu kenapa Rukia dan Renji dikirim ke The Burrow, dan ia ingin tahu apa keputusan yang akan diambil Gotei 13.
Ichigo menghembuskan napas berat, menyandarkan diri di punggung sofa sambil mengusap wajahnya. Ada alih kekuasaan antar penyihir di belahan lain dunia. Dan di sini ia berkutat dengan diktat, jurnal ilmiah, buku setebal bata, dan rutinitas praktikum medis. Bukan bermaksud untuk menyesal, tapi ia merindukan ledakan adrenalin ketika ia ditengah pertempuran dengan Zangetsu di tangannya.
Ichigo melirik surat trio penyihir itu lagi, teringat sesuatu. Bersama surat itu, selembar kartu undangan terlampir. Seringai tipis mengembang di wajahnya.
"Pernikahan William Arthur Weasley dan Fleur Isabelle Delacour, eh?"
Mr dan Mrs Weasley mengatakan pada Harry bahwa ulang tahun ke tujuh belas bagi penyihir adalah hal yang penting. Tak hanya tentang bebasnya penyihir dari Jejak Sihir yang membuat mereka dimonitor oleh Kementerian Sihir, usia tujuh belas akan menjadi fase dimana seorang penyihir telah siap memikul tanggung jawab sebagai penyihir dewasa di dalam komunitas sihir. Mendengar hal itu membuat Harry tak bisa menolak kebaikan hati keluarga Weasley padanya untuk membuat pesta kecil di malam sebelum pernikahan sama sekali. Hal terbaik yang dia lakukan hanyalah menerimanya, dan juga menerima hadiah dari semua yang hadir di malam itu.
Meskipun, kehadiran Rufus Scrimgeour dalam pesta itu sama sekali di luar perkiraan siapapun. Sang Menteri Sihir itu datang untuk menyerahkan benda-benda wasiat yang diwariskan Albus Dumbledore kepada Harry, Ron, dan Hermione. Sayangnya, kunjungan Menteri Sihir yang merupakan mantan Kepala Departemen Auror itu berakhir tidak menyenangkan. Scrimgeour tak senang pada keterus terangan Harry yang mengkritik caranya menjalankan komunitas sihir, bagaimana ia menutup-nutupi kebenaran akan pergerakan Voldemort dari khalayak yang lebih berhak mengetahui hal itu daripada siapapun.
Namun, memikirkan konflik kecil dengan Menteri Sihir bukan hal menyenangkan, apalagi jika mereka punya sebuah acara besar di esok hari. Harry setuju dengan pendapat Ron bahwa itu bukan hal penting untuk dibahas, termasuk menerka-nerka apa maksud Dumbledore memberi mereka benda-benda warisan yang unik, jika kemungkinan akan ada pembunuhan tripel yang brutal oleh ibu mempelai pria yang bisa sedikit mengurangi kegembiraan pernikahan.
Maka pukul tiga sore harinya, mereka semua sudah siap menyambut tamu undangan. Khusus untuk Harry, mereka memutuskan bahwa menyamar adalah pilihan terbaik untuk membuatnya ada di sana. Jadilah ia menyamar dengan bantuan Ramuan Polijus dosis besar sebagai seorang remaja berambut merah dari desa setempat, Ottery At Catchpole, yang sehelai rambutnya dicuri oleh Fred. Identitasnya berubah dari Harry Potter menjadi Barny Weasley. Mengkamuflasenya sebagai salah satu kerabat Weasley adalah ide yang bagus, karena kerabat Weasley ada banyak sekali sehingga tidak ada yang akan repot-repot mengecek silsilah keluarga di dalam pesta seperti ini.
Harry menatap berkeliling. Para penyihir dengan jubah pesta warna-warni dan aksesoris unik bergaya eksentrik sudah mulai memenuhi tempat duduk yang disediakan di bawah kanopi. Dekorasi pernikahan tanpa cela menghiasi tiap sudut, hasil kerja keras sepanjang musim panas.
Harry mengerling sekilas pada Hagrid yang suara besarnya berkali-kai menyerukan permohonan maaf. Melihat sekitar lima kursi kurus yang sekarang teronggok seperti kumpulan korek api keemasan, Harry menduga bahwa si setengah rakasasa salah menempati kursi. Ia sendiri bergegas kembali ke pintu masuk, melihat Ron sedang menghadapi penyihir pria berdandan paling atraktif di antara tamu undangan.
"Xenophilius Lovegood," katanya sambil menjabat tangan Ron.
Ah, ayahnya Luna, ternyata.
Luna sendiri baru tiba beberapa saat kemudian. Seperti biasa, gadis itu entah bagaimana tahu kalau si rambut merah yang dihadapinya adalah Harry dalam penyamaran. Ia menyapa ramah Harry, sebelum dengan bersemangat menunjukkan jarinya yang sedikit berdarah karena digigit jembalang.
"Beruntung sekali!" seru Mr Lovegood takjub. "Ludah jembalang sangat bermanfaat! Luna sayang, jika kau merasakan ada bakat yang berkembang mulai hari ini – barangkali dorongan tak terduga untuk menyanyi opera atau berdeklamasi dalam bahasa duyung - jangan ditahan! Kau mungkin telah dianugerahi bakat oleh para Gernumbli!"
Ron mendengus tawa sementara Harry berdeham, tak tahu harus berkata apa. Luna dan ayahnya sudah berjalan ke kursi mereka, dipandu oleh George yang menyeringai usil. Harry curiga si kembar memiliki rencana yang berhubungan dengan toko lelucon sihir dan jembalang.
"Itu sesuatu yang baru, sepertinya."
Terdengar suara berat yang familiar di belakang Harry dan Ron, membuat keduanya serentak menoleh. Baru saja memasuki pintu, sosok jangkung Ichigo Kurosaki berdiri di sana, tersenyum lebar pada mereka. Tak seperti penyihir di sekitarnya yang mengenakan jubah pesta berwarna cerah, si rambut jingga mengenakan setelan tuksedo hitam keren dan dasi biru-perak. Ia masih tampak sama dengan terakhir kali Harry melihatnya; lebih tinggi dari Ron, lebih berotot dari Charlie. Mata hazelnya masih terlihat ramah dan hangat meski alisnya nyaris menyatu. Hanya rambut jingganya tampak sedikit lebih panjang.
"Ichigo!"
Senyum shinigami pengganti itu melebar sambil ia mengangkat tangannya, "Yo!"
"Kami tidak tahu kau akan datang!" seru Ron sambil tertawa-tawa, menjabat tangannya keras-keras sementara Hermione tersenyum cerah dan Harry masih tercengang.
"Yah, kalian bilang tidak perlu membalas suratnya dengan burung hantu atau telepon, jadi aku sendiri yang akan membalasnya," cengir Ichigo. "Sedikit membujuk ayahku agar mau mengurus Senkaimon dan izin sehari di kampus tidak akan membunuhku, kan?"
"Astaga," bisik Hermione sambil melempar tatapan mencela. Ichigo hanya menyeringai sementara Harry menyalaminya dengan riang dan Ron masih terkekeh.
Kedatangan tak diduga Ichigo memang mengejutkan, namun bukan berarti tak diterima. Justru ia disambut gembira, membuat keributan kecil. Si kembar Weasley berteriak gembira dan merangkulnya seperti teman lama. Hagrid bahkan terisak kecil, menepuk bahu Ichigo keras saking senangnya sampai nyaris membuatnya jatuh menghantam pilar penyangga di depannya.
"Toushiro tidak ikut?" tanya Lupin yang baru saja menyambutnya bersama Tonks.
"Ah, tidak. Benar kata Rukia, dia sedang sibuk. Malah aku tidak ketemu dengannya waktu aku ke Seireitei. Ayahku bilang dia sedang pergi misi ke Distrik 32 Rukongai. Mungkin surat kalian belum sampai ke tangannya," tambah Ichigo dengan nada meminta maaf.
"Sayang sekali," gumam Hermione agak kecewa, namun kemudian ia tersenyum. "Tapi sungguh, senang bertemu kau lagi, Ichigo."
"Ichigo?"
Si rambut jingga menoleh. Dilihatnya Mr Weasley dan Mrs Weasley yang bersiap menunggu acara dimulai tampaknya tertarik oeh keramaian kecil yang dibuat karena kedatangannya. Keduanya tersenyum cerah padanya; Mr Weasley menjabat tangannya dan Mrs Weasley mengecup pipinya.
"Kau baik sekali mau datang, Nak," kata Mrs Weasley berseri-seri.
"Bukan apa-apa, Mrs Weasley. Terima kasih sudah mengundang saya."
Ichigo menjawab dengan ringan tentang kabarnya setelah beberapa waktu tak bertemu teman-teman penyihirnya. Sebelum Mr Weasley mulai menanyakan tentang apa itu stetoskop, seorang penyihir pria tua bertampang muram dengan rambut seputih kapas mendatangi Mr Weasley, mengatakan bahwa acara akan segera dimulai. Mr dan Mrs Weasley pun undur diri bersiap mendampingi upacara pernikahan kedua mempelai. Hermione menarik Ichigo untuk duduk di kursi bersamanya, Harry, dan Ron.
Ichigo belum pernah menghadiri upacara pernikahan, tapi untuk pengalaman pertama, baginya ini cukup impresif. Ia yakin pernikahan biasa tidak akan menampilkan kanopi berwarna putih dari kanvas berhiaskan balon keemasan yang mendengungkan musik indah. Dan ini bahkan belum acara utama.
Prosesi pernikahan berlagsung lancar dan khidmat – selaan paling keras hanyalah Hagrid yang membersit hidung dengan saputangan selebar taplak meja dengan bunyi keras seperti terompet. Bill dan Fleur sudah resmi menyandang status suami dan istri, bersamaan dengan balon-balon keemasan yang meletus dan melepaskan burung cendrawasih, lonceng-lonceng mungil keemasan yang bernyanyi dan berdenting merdu. Kemudian, seluruh hadirin berdiri, sementara kursi-kursi melayang menyingkir ke pinggir dan lelehan emas menyebar di lantai, memberi ruang dansa yang dimulai oleh pengantin baru.
"Keren," puji Ichigo sungguh-sungguh.
Sayangnya, pesta pernikahan itu berakhir bencana. Ketika kegembiraan baru berlangsung beberapa jam, seekor kucing liar berwarna keperakan seakan terjatuh begitu saja dari kanopi di lantai dansa yang dipenuhi tamu undangan, yang seketika membeku karena terkejut atas kemunculan patronus itu. Begitu suara dalam dan berat Kingsley Shacklebolt terdengar dan memberitahukan kejatuhan Kementerian Sihir dan datangnya Pelahap Maut ke tempat itu, itulah awal bencananya.
Harry tak bisa berpikir lebih jernih saat itu. dengan begitu banyak hal yang masuk ke dalam pikirannya. Kementerian jatuh? Itu berarti kematian Scrimgeour, bukan? Dan Voldemort dan antek-anteknya berhasil menguasai mereka sepenuhnya, bukan? Dan jika mereka datang kemari, itu berarti dia bermaksud menangkap Harry? Bagaimana dengan keluarga Weasley? Bagaimana dengan tamu undangan yang saat itu berada di sini?!
Yang Harry lihat di tengah keramaian dan kepanikan di sekitarnya hanyalah ia yang memegang tangan Hermione dengan erat dalam ketakutan dan kecemasannya. Gadis itu membuatnya tersadar bahwa ia masih berada di lantai dansa yang mulai kacau; Hermione memanggil-manggil Ron dengan putus asa, nyaris menangis.
"Sini!"
Harry melihat Ichigo menarik tangan Hermione yang memegang tas manik-maniknya ke bagian tepi tenda. Tak mengenakan jubah pesta membuatnya bisa bergerak dengan jauh lebih gesit. Shinigami pengganti itu menerobos para penyihir yang panik dan luncuran mantra di sekitar mereka, membimbing mereka ke bagian tepi, didekat altar. Tampak Ron berdiri di sana, ekspresinya tegang.
"Aku rasa yang datang bukan Kementerian, tapi Pelahap Maut yang datang kemari memburu kalian," kata Ichigo segera, suaranya berhasil mengalahkan desis mantra dan jerit para tamu, mungkin karena ia berdiri di dekat mereka
"K-kami tahu," ujar Hermione gemetar.
"Kalau begitu kalian harus pergi," katanya tegas.
"Tapi –"
"Pergi, Harry!" seru Lupin, yang baru saja menangkis kilatan kutukan yang meluncur ke arahnya. Tapi Harry masih digelayuti kecemasan dan kebimbangan yang amat sangat. Bagaimana ia bisa melarikan diri sementara ia ingin berada di sini, melindungi semuanya?!
"Bagaimana denganmu?" tanya Ron, menatap Ichigo dengan bingung.
Tapi Ichigo mendorong mereka, mencabut tongkat sihir eboni-nya dari sakunya dan menyeringai, "Pelahap Maut itu perlu diajari sedikit tentang sopan santun! Pergi!"
Hermione menyambar tangan Harry dan Ron, dan ber-Apparate pergi, meninggalkan kilatan mantra yang ditembakkan salah satu Pelahap Maut, namun berhasil ditangkis oleh Ichigo.
Si rambut jingga meluncurkan beberapa kutukan lain pada wajah-wajah yang tak dikenalinya sebagai anggota Orde atau tamu undangan. Cukup mudah. Pilih saja target yang tidak pakai jubah norak dan mencolok – pasti itu Pelahap Maut. Tak hanya mengandalkan tongkat sihirnya, Ichigo yang sudah mengetahui beberapa mantra kidou sukses menggunakannya pada beberapa lawannya. Juga beberapa teknik karatenya.
"Whoa, Ichigo –" terdengar suara Tonks yang baru saja meluncurkan Kutukan Ikat Tubuh Sempurna yang kena telak ke salah satu Pelahap Maut, menatap Ichigo dengan seringai lebar ketika si rambut jingga menendang lawannya sampai ke seberang tenda. "ada tujuh meter tuh!"
Belum sempat Ichigo membalas kata-kata Metamorphmagus itu, salah satu Pelahap Maut ber-Apparate tepat di belakangnya. Refleks, Ichigo meninjunya tepat di ulu hatinya. Tapi terpicu adrenalinnya, ia menggunakan reiatsu-nya tanpa sadar, membuat lawannya itu terlempar karena kuatnya tenaganya sampai jatuh tepat di atas kue pengantin, mematahkan meja di bawahnya, bahkan membuat ceruk sedalam dua senti di bawah tubuh musuhnya yang tak bergerak seketika.
"Ingatkan aku untuk tidak mengacau di hari pernikahannya," kata Fred pada saudara kembarnya yang ternganga.
Untuk beberapa saat, penglihatan Harry – dan ia yakin begitu pula dengan kedua sahabatnya – hanya ada kegelapan yang berputar cepat di sekitarnya. Jarak dan waktu seakan menghimpit mereka, menjauhi The Burrow menuju tempat baru… menjauhi para Pelahap Maut dan barangkali Lord Voldemort sendiri…
"Kita ada di mana?" Harry mendengar suara Ron berkata.
Harry merasa sudah aman untuk membuka matanya.
"Tottenham Court Road," sahut Hermione terengah, sementara Harry memandangi jalan di sekitarnya yang ramai dipenuhi orang-orang. "Ayo cari tempat untuk kita ganti pakaian."
"Bagaimana kita bisa ganti pakaian? Kita tidak bawa apa-apa!" kata Ron dengan ekspresi seakan meragukan kewarasan Hermione.
"Aku bawa semua yang kita perlukan," kata Hermione segera, menggoyangkan tas tangan manik-maniknya yang kecil. "Kita perlu bergerak…"
Mengabaikan tatapan geli ataupun kikikan dari orang-orang yang melewati mereka – ketiganya masih memakai jubah pesta, mereka terus berjalan. Hermione memimpin mereka berbelok di jalan kecil, di bawah perlindungan gang remang-remang. Kemudian, Hermione mulai merogoh tas tangan kecilnya.
"Mantra Perluasan Tak-Terdeteksi," ujar Hermione menjelaskan, menyadari tatapan heran dari Harry dan Ron. "Mantra rumit untuk membuat objek menjadi wadah yang bisa menampung apapun dengan kapasitas luar biasa. Semua yang kita butuhkan sudah kumasukkan ke sini; buku, pakaian, beberapa alat sihir."
Hermione menarik keluar pakaian untuk Ron, Jubah Gaib untuk Harry, serta mantel untuk dirinya sendiri. Setelah berganti pakaian dan memastikan Harry tersembunyi sempurna di balik Jubah Gaibnya, mereka kembali bergerak, mendiskusikan tempat yang akan menjadi tujuan mereka. Hermione menolak ide pergi ke Leaky Cauldron dan Grimmauld Place, yang menurutnya tempat yang terlalu mencolok dan mencurigakan.
Tapi konfrontasi dengan dua Pelahap Maut di sebuah kafe membuat mereka harus segera mencari tempat perlindungan. Tak ada pilihan lain yang bisa menjadi alternatif kecuali Grimmauld Place nomor dua belas. Walau enggan, Hermione terpaksa menerima ide itu. setelah membuat kedua Pelahap Maut tak berkutik karena Modifikasi Memori, mereka bertiga ber-Apparate di depan pintu depan rumah keluarga Black.
Ia tak menyukai rumah yang menyimpan kenangan almarhum walinya. Tapi, untuk kali ini ia berharap rumah itu bisa memberi mereka apa yang mereka butuhkan. Ia tahu betul itu tak akan bertahan lama, seperti pewarisnya yang terakhir yang tak lama memberinya perlindungan.
